Navigation


RSS : Articles / Comments


Tampilkan postingan dengan label Cerita Lesbian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita Lesbian. Tampilkan semua postingan

Kisahku Dengan Sepasang Lesbi

21.21, Posted by admin, No Comment

Ini adalah kisah nyata, namun saya tidak akan menceritakan secara rinci, karena saya tidak mau seseorang yang kenal dengan salah satu pribadi yang ada di dalam cerita ini dapat mengetahuinya.

Sebenarnya peristiwa ini terjadi di tahun 1997, saat itu usia saya sudah 23 tahun. Saya mengalami percintaan dengan sepasang lesbi, sebut saja Rina (23 tahun) dan Rini (21 tahun). Saat itu aku baru kenal dengan Rina di lokasi syuting sebuah film percintaan yang kebetulan aku menjadi pemeran utama prianya bersama 3 pemeran utama wanita yang salah satunya Rina itu. Berhubung karena dua pemeran utama wanita lainnya sudah punya pacar dengan sering datang ke lokasi syuting, hal ini menjadikanku lebih akrab dengan Rina.

Kami sering bicara tentang apa saja kecuali relationship. Sampai suatu hari, di saat kami sedang berduaan di kamar rias, aku berhasil mengarahkan pembicaraan tentang seks. Namun dia tidak banyak bercerita, hanya banyak bertanya dari apakah aku pernah berhubungan seks, berapa banyak, dengan berapa orang, pernah ‘jajan’, sampai gaya yang kusuka.

Sampai suatu hari, dia mengajukan pertanyaan yang membuatku bingung.
“Di, aku perlu bantuan kamu, tapi kamu bisa pegang rahasia nggak..?”
Aku pun langsung mengangguk, karena pikiranku sudah kotor saja. Dan ternyata benar, dia mengajakku berkencan dengan syarat aku harus 100% mengikuti gaya permainan yang diinginkannya. Dan di sore harinya saat kami berdua harus menunggu jadwal berikutnya di malam hari, Rina langsung mengajakku mencari motel terdekat dengan menggunakan mobilnya.
“Pake mobilku aja yah Di..?” pintanya.
Dan aku bilang, “Enaknya kamu aja deh, Rin.”

Kami pun langsung meluncur ke salah satu motel di Jakarta dekat lokasi syuting, namun yang membuatku kaget, begitu sampai di garasi dia langsung membuka bagasi dan mengeluarkan dua gulung kain putih.
Melihat wajahku yang kebingungan, dia bertanya, “Kamu ngga berubah pikiran, kan..?”
Singkat kata, aku pun sudah berbaring di tempat tidur hanya menggunakan CD, dan dalam keadaan kedua tangan dan kaki terikat dengan kain yang dibawanya tadi. Dia pun tanpa buang banyak waktu langsung membuka seluruh bajunya, tinggal BH dan CD yang berwarna biru muda berenda-renda yang masih menempel di tubuhnya.

Kemaluanku yang memang sudah tegang sejak di perjalanan seakan ingin mencuat keluar dari CD. Namun anehnya, dia tidak menyentuhku sama sekali, hanya memainkan kedua payudaranya dan mendesah sendiri. Tidak lama kemudian dia mencopot BH-nya, dan waauuw.., bentuk payudaranya indah sekali (saya tidak tahu ukurannya, karena memang bagi saya bentuk lebih utama daripada ukurannya).
Dia pun terus memainkan kedua payudaranya, lalu berkata pelan, “Sekarang saatnya laki dipake perempuan.”

Aku hanya diam, dan akhirnya kupejamkan mata, karena itu yang dia minta dari awal, kupikir akan kuikuti saja permainannya. Dia pun mulai meraba dan mengelus seluruh tubuhku dan meremas-remas kemaluanku, agak sakit sebenarnya tapi tidak kuperlihatkankan agar dia dapat menikmati sepuasnya. Beberapa menit berlalu, aku pun menikmatinya, dan akhirnya kudengar seperti suara CD yang dilepaskan, dan dia pun semakin menaiki tubuhku. Karena penasaran, aku pun mulai sedikit membuka mata, kulihat dia menyodorkan kemaluannya di depan wajahku, dan memintaku menghisapnya. Aku pun menghisapnya tanpa rasa jijik, karena aku hanya menemukan aroma harum kemaluan wanita yang terjaga kebersihannya.

Beberapa saat kemudian, terdengar dari mulutnya yang dari tadi diam seribu bahasa desahan, dan kemaluan Rina sudah sangat basah sekali, bukan karena ludahku, tapi pasti karena dirinya sudah sangat terangsang. Namun kurasakan ada benda dingin menempel di pahaku, ternyata Rina hendak menggunting CD-ku, mungkin karena sulit melepaskan dalam keadaan aku terikat kuat begini. Kemaluanku yang sudah agak pegal karena dari tadi tegang terus, kini agak lega karena sudah tidak tertahan CD lagi. Rina pun langsung menempelkan ujung barangku di depan kemaluannya, dan kali ini terdengar desahannya lebih keras dan lebih lepas lagi.

Perlahan tapi pasti, Rina mulai menurunkan pantatnya, dan memasukkan barangku lebih dalam lagi. Kenikmatan yang amat sangat yang kurasakan ini seakan tidak ingin kukeluarkan barangku dari kemaluannya. Dia pun sambil mendesah dengan nafas yang terengah-engah terus menekan hingga habis barangku ditelan kamaluannya.

Walau dalam keadaan terdiam, aku dapat merasakan kehangatan dan denyut kenikmatan di dalam kemaluannya. Lalu Rina pun mulai mengangkat sedikit pantatnya, dan mulai menggoyang-goyang, semakin lama semakin kencang namun bukan kenikmatan tapi sakit yang kurasakan, barangku seakan mau patah. Gerakannya hanya berlangsung semenit, Rina langsung roboh terkulai lemas mencapai klimaksnya, dan banyak sekali cairan yang keluar dari kemaluannya yang seakan tidak melakukan hubungan seks selama bertahun-tahun.

Rina langsung berdiri, melepaskan barangku, dan langsung menuju kamar mandi tanpa memperdulikan aku yang belum mencapai orgasme. Lagipula pikirku aku tidak akan mencapai klimaks dengan cara yang menyakitkan tersebut.

Beberapa saat kemudian, Rina kembali dari kamar mandi dan membersikan barangku dengan handuk yang sudah dibasahi dengan air hangat dan dalam keadaan diriku masih terikat. Dia mulai menciumiku dan seluruh tubuhku tanpa satu centi pun yang terlewat, dan kini dia menghisap barangku dengan kuat sekali seakan ingin ditelannya sampai habis. Beda sekali Rina yang tadi dengan yang sekarang penuh kehangatan, walaupun dia belum melepaskan ikatanku. Dia memperlakukanku lebih halus dan lebih merangsang, namun tampaknya kali ini dia sangat bernafsu dan ingin segera memasukkan barangku ke dalam kemaluannya. Tanpa susah payah barangku pun telah masuk, dan kali ini sangat basah kurasakan di dalam kemaluan Rina. Dia pun langsung menaikkan dan menurunkan pantatnya, manggoyangnya berputar-putar.

Saat itu hanya kenikmatan tiada tara yang kami rasakan berdua, dan hanya dalam waktu 2 menit Rina sudah mencapai klimaks dan jatuh tergeletak di dadaku. Dan Rina segera menggunting ikatanku, dan memintaku segera menyetubuhinya.
“Hajar aku Di, siksa aku sampai pingsan..!” katanya sambil membuka lebar-lebar kedua kakinya hingga tampak kemaluannya yang sangat merah dan basah berlendir.
Aku pun langsung menyetubuhinya dalam keadaan telentang, tengkurap (doggy), miring dan kedua kaki disilangkan.

Rina pun mencapai orgasme dalam setiap gaya tersebut, sampai akhirnya aku sudah tidak sanggup menahan kenikmatan.
Kuberitahu Rina bahwa aku akan keluar, dia pun berkata, “Iya Di, keluarin.., keluarin yang banyak, aku juga mau keluar nih..! Ohh Aldi, aku sayang kamu..”
Aku pun mempercepat genjotanku, tapi herannya Rina sudah orgasme tapi aku belum walaupun sudah kurasakan di ujung barangku. Dan sekitar tiga menit kemudian, barulah aku menyemburkan sperma yang menyemprot sampai tujuh kali. Ohh, memang ini salah satu orgasme-ku yang terbaik.

Setelah itu kami pun bersama-sama ke kamar mandi untuk bilas, dan kami pun berpelukan erat dan melakukannya lagi di wastafel kamar mandi. Sambil berdiri, kusenderkan Rina di tembok, lalu sambil berjalan menuju sofa, dan berakhir disana. Dan mungkin karena lengkungan sofa, hingga membuat barangku terbenam seluruhnya mentok yang kurasakan di ujung anuku, dan kulihat Rina pun menggeliat dan menggelinjang hebat disana.

Saat kembali ke lokasi syuting, kami tidak langsung turun dari mobil, karena katanya ada masalah penting yang ingin dibicarakannya denganku. Akhirnya Rina mengaku bahwa temannya Rini yang pernah datang ke lokasi syuting itu adalah pasangan lesbinya. Mereka sudah berpacaran selama sebelas bulan. Rina yang katanya sempat membenci laki-laki, lebih dulu membujuk Rini yang pernah ditiduri pacarnya sekali untuk membuktikan cintanya sebelum cowok itu berangkat sekolah di luar negeri, dan ternyata disana dia punya cewek lain. Dalam hati aku berkata, masih ada saja cewek yang dapat dibohongi dengan cara begitu.

Rini pun berhasil dibujuk Rina untuk tidak menyukai laki-laki lagi, dan mereka sepakat untuk menjadi sepasang kekasih. Dan Rina meminta bantuanku yang dianggapnya tepat untuk meyakinkan ke Rini bahwa berhubungan seks dengan laki-laki tidak sesakit yang pernah Rini rasakan pertama kali sebelumnya.

Dan sampailah suatu hari di kamar Rina, Rini dalam keadaan terikat dengan mulut tersumbat rapat dengan alasan Rina ingin mencoba suasana baru, dan Rini menurut saja. Padahal aku masuk dan membuat Rini merasakan kenikmatan berhubungan seks yang sesungguhnya.

Setelah Rini sudah dalam keadaan terikat kuat, Rina keluar meninggalkan kamar. Aku pun langsung masuk dan menutup pintu kamar dengan rapat. Dapat kulihat ada pancaran kaget dan takut pada wajah dan tatapan mata Rini, aku pun iba dan tidak tega melihatnya, tapi kepalang basah dan aku sudah berjanji kepada Rina untuk menolong mereka untuk berhubungan kembali dengan laki-laki. Aku pun bertekad dalam hati bahwa aku harus berhasil. Aku berpikir tidak mungkin berhasil dalam hubungan pertama, karena dia baru sekali melakukan hubungan seks, dan itu sudah lama berlalu, tentu lubang kemaluannya sudah rapat kembali.

Dengan wajah ketakutan, Rini memperhatikan setiap gerak-gerikku, dan membuatku sedikit gerogi. Aku pun mulai mengusap-usap kakinya dan bagian dalam pahanya, lalu kucium kering (tanpa lidah) seluruh tubuhnya. Rini yang tadinya meronta-ronta hingga pergelangan tangan dan kakinya agak memerah mulai mengurangi pemberontakannya, entah karena sakit, capek atau dia tahu kalau aku tidak bermaksud menyakitinya. Sambil kucium, kuremas pelan payudaranya dan kulepas BH-nya.

Kuperhatikan bulu halusnya mulai berdiri, kupikir aku mulai dapat meningkatkan seranganku. Kumainkan payudaranya dengan dua jari tangan kiriku, sedangkan tangan kananku mulai mengelus kemaluan Rini dari luar CD-nya. Aku pun sempat terperangah mendapatkan putingnya yang mulai mengeras. Bertambah sedikit keyakinanku bahwa segalanya akan berjalan lebih mudah dari yang kubayangkan pertama. Setelah kugesekkan jari-jariku di belahan pangkal pahanya, kulihat cairan vagina Rini mulai becek dan tembus di CD-nya. Aku pun memberanikan diri menyelipkan jariku untuk meraih klitorisnya, dan seperti yang kubayangkan sebelumnya, ternyata memang Rini sudah terangsang habis.

Karena lupa minta gunting sama Rina, dengan susah payah kutarik putus CD Rini. Dan kuperhatikan nafas Rini mulai tidak teratur, dadanya bergerak naik turun dengan cepat. Kujilati kemaluan Rini dan kuhisap klitorisnya secara terpisah (cara ini kudengar dari pembicaraan orang dewasa waktu saya masih SMP, katanya disebut Indian Style).

Pantat Rini bergerak naik turun, sekarang bukan hanya dadanya, tapi seluruh tubuhnya bergetar dengan kuat. Tidak lama kemudian keluar cairan hangat dari dalam kemaluan Rini, dan getaran tubuhnya melemah. Kini kuhisap kering payudaranya, namun saat kutatap matanya Rini memejamkan matanya, padahal aku tahu kalau dia selalu mencuri kesempatan untuk menatapku. Kuusap lagi kemaluannya dan kupijat-pijat kecil di sekitar pangkal pahanya, dan ternyata tanpa membutuhkan waktu lama, Rini mulai menikmati sentuhan-sentuhanku di tubuhnya.

Kini mulutku kembali bergerilya di selangkangannya, dengan menjilat dan menghisap klitorisnya secara terpisah. Ketika kurasakan tubuh Rini mulai bergetar lagi, kupikir inilah saatnya memasukkan barangku tanpa Rini harus merasakan sakit. Aku pun bangun dan siap untuk menggagahinya. Dan ketika barangku sudah di mulut kemaluan Rini, kulihat Rini masih dalam keadaan terbungkam mulutnya menggelengkan kepalanya dengan pelan, tapi kemudian dia memejamkan matanya lagi dan membuang wajah. Aku pikir ini penolakan basa-basi, langsung kuhujamkan barangku ke dalam kemaluan Rini tanpa hambatan yang berarti. Dan mulai kumaju-mundurkan barangku, tapi kurasakan vagina Rini sangat basah dibandingkan dengan Rina.

Dan dalam waktu yang singkat, aku langsung merasakan bahwa aku akan orgasme.
Dengan santainya kukatakan pada Rini, “Rin, aku mau keluar..”
Kulihat Rini menggelengkan kepalanya lagi, dan aku benar-benar tidak tahu maksudnya apa, tapi ada bekas air mata mengalir yang belum dilap, dan aku tidak tahu kapan keluarnya, namun tubuh Rini mulai bergetar lagi dan sepertinya dia mencapai klimaks berbarengan dengan aku. Aku tidak tahu apa aku terlalu bernafsu hingga permainan yang, “sebenarnya” hanya berlangsung sekitar tiga menit. Namun saat kucabut, aku masih melihat lendir kemerah-merahan bercampur darah yang keluar dari kemaluan Rini.

Aku keluar kamar, dan mendapatkan Rina yang sedang menunggu dengan wajah cemas.
Rina pun bertanya, “Gimana Di, sukses..? Rini gimana..?”
Kubilang lumayan tapi memang harus dua kali baru sempurna. Aku pun pamit untuk segera kembali ke kamar. Aku mulai menciumi Rini lagi yang masih dalam keadaan terikat dan mulut tersumpal. Namun karena kurasakan barangku sudah mengeras, langsung saja kutempelkan kepala barangku ke vagina Rini, lalu kugesekkan di klitoris dan sekitarnya, Rini pun tampak kegelian.

Kami sempat terkaget karena pintu kamar tiba-tiba terbuka, dan Rina masuk ke dalam, mungkin karena melihat tidak ada tanda-tanda marah atau kebencian di mata Rini. Rina membuka sumpalan mulut Rini dan mereka pun berciuman. Namun hanya sebentar, dan Rina melepaskan ikatan Rini. Rina mendorongku hingga tidur telentang, lalu mulai mengulum penisku, dan Rina melakukannya dengan sangat baik. Tanpa disuruh, Rini menibanku dan mulai menciumi bibirku, kami pun berciuman. Dan Rina melepaskan kulumannya, lalu memanggil Rini agar memasukkan penisku dangan menjongkokiku.

Dengan bantuan, Rina memegang pinggul Rini, mengangkat dan menurunkannya lagi sehingga gerakannya menjadi teratur, mereka pun berciuman lagi. Tidak lama kemudian Rini mencapai klimaks dan jatuh terbaring di sebelahku.
Rina segera menghampiri dan berkata, “Aldi, giliranku kapan..?”
Tanpa menunggu jawabanku, Rina langsung melebarkan kangkangannya, dan melesakkan penisku ke dalam vaginanya yang hangat merangsang dan basah itu.

Setelah Rina selesai, kemudian Rini lagi, lalu terakhir ditutup dengan Rina. Selesai sekitar jam sebelas malam, kami keluar untuk beli makan di mobil, lalu kembali ke rumah Rina yang memang tinggal sendiri di Jakarta, dan kami bertiga melakukannya lagi sampai jam setengah empat pagi tapi sulit saya ceritakan disini.

Diantara beberapa pengalaman saya, ini adalah cerita yang cukup berkesan bagi saya, dan patut untuk dibagi bersama pembaca lain. Saya menulis ini juga karena tergerak setelah membaca pengalaman-pengalaman lainnya yang dibagikan kepada pembaca. Untuk Rina dan Rini, maaf kalau waktu itu aku sempat menghilang (ganti nomer handphone), karena punya pacar yang cemburuan, tapi kalau sampai membaca cerita ini, tolong email aku. Kalau mungkin kita dapat bernostalgia lagi.

Tamat
Lihat Koleksi Bugil Lengkap..

Aku dan Chintya

18.10, Posted by admin, No Comment

Setelah percumbuanku dengan tante Layla dan tante Dewi, aku ingin melakukannya lagi. Aku berharap kedua tante tersebut datang lagi ke rumahku pada saat sepi. Harapanku tinggal harapan sampai pada pertengahan bulan Mei tahun 2000 lalu aku melakukannya lagi, meskipun bukan dengan tante Layla dan tante Dewi. Aku melakukannya lagi dengan temanku sendiri yang bernama Chintya.

Saat itu aku, Chintya dan beberapa teman yang lain mengadakan kegiatan camping di sebuah lereng gunung. Setelah mendirikan tenda, aku dan Chintya mencari air sekalian mandi di sungai yang berada beberapa meter ke bawah dari tempat camping itu. Kami berdua sama-sama memakai celana jeans dan kaos oblong putih sambil berkalungkan handuk.

Waktu itu aku sudah lupa dengan kejadian yang kuceritakan di "AKU DAN TANTE-TANTE". Aku ingat lagi ketika Chintya terjatuh masuk ke air. Pakaiannya basah sehingga bagian dalam tubuhnya kelihatan. Dia memakai BH hitam. Aku terangsang dengan keadaannya. Aku lalu menolongnya dan pura-pura terjatuh tepat di hadapannya. Dia lalu mencipratkan air ke tubuhku. Kuajak dia mandi sekalian dan diapun mau. Dia lalu naik ke atas batu dan melepas kaos dan celananya. Kemudian dia duduk bersimpuh dan mengambil sabun yang ada di saku celananya. Posisiku waktu itu berada di belakangnya. Aku semakin terangsang melihatnya hanya memakai pakaian dalam sedang menyabuni tubuhnya.

Aku cepat-cepat melepas pakaianku dan kusisakan CD-ku, kuhampiri dia dan dari belakang aku melepas BH-nya. Dia tidak menolak ketika tanganku mengambil sabun dari tangannya. Aku lalu menyabuni kedua payudaranya yang sama besar dengan punyaku dari belakang sambil meremasnya. Dia membalikkan tubuhnya. Aku jadi leluasa menyabuni tubuhnya. Rupanya dia merasa aku tidak adil. Ketika aku meremas payudara kirinya dia mengambil busa sabun yang ada di payudara kanannya kemudian diusapnya kedua payudaraku. Aku memotong sabun itu dan kuberikan potongannya ke Chintya. Sekarang kami saling menyabuni kedua payudara. Kuberanikan diri mencium bibirnya. Dia membalasnya dengan lembut.

Perlahan-lahan sambil kucium, dia kurebahkan di atas batu dan kuratakan sabunnya ke seluruh tubuhnya bagian atas sampai busanya hilang. Demikian juga dengan apa yang dilakukan pada tubuhku. Sekarang tubuh kami berdua sudah kering dari busa dan kutindih dia sehingga kedua payudara kami saling menempel. Kami terguling dan posisi Chintya sekarang di atasku. Dia lalu berdiri dan cepat-cepat aku dari belakang memeluknya. Aku mendesah ketika kedua payudaraku menempel di punggungnya. Tanganku meremas kedua payudaranya dan turun ke bawah masuk ke dalam CD-nya. Tetapi dia kurang suka dengan sikapku ini sehingga dia menarik tanganku kembali dan melepaskan diri dari pelukanku.

Dia kemudian turun ke air dan kuikuti dia. Kuajak dia melanjutkan permainan yang tertunda di dalam air. Dia tidak mau dan mendorongku. Aku tidak memaksanya. Ketika dia mandi aku juga mandi. Sendiri-sendiri. Malamnya, dia tidur berdua setenda denganku. Kebetulan malam itu dinginnya sampai ke tulang. Meskipun kami sudah memakai pakaian hangat plus berselimutan. Ketika itu kami tidur saling berhadapan.

Aku terbangun dan pikiran gilaku muncul lagi. Kusingkirkan selimut. Kemudian perlahan-lahan kuturunkan retsliting jaketnya. Aku kaget dia ternyata hanya memakai BH di dalamnya. Dia rupanya terbangun juga dan tidak menolak ketika kulepas jaketnya. Bahkan dia melepas jaketku sehingga kedua payudaraku yang tadi kututupi jaket sekarang sudah telanjang. Dia melentangkanku dan dihisapnya kedua payudaraku bergantian. Aku merasakan kehangatan. Mulutnya kemudian naik dan mencium bibirku sambil dia melepas BH-nya. Aku lalu meremas kedua payudaranya begitu juga dengannya. Kemudian di tidur di atasku dan berpelukan.

Kami bergulingan ke atas ke bawah sampai kami tidak merasakan kedinginan lagi bahkan berkeringat. Vaginaku mulai basah sehingga ketika dia di bawahku aku lalu duduk dan melepas retsliting celananya. Dia mendorong tubuhku sehingga aku terjatuh dan langsung dipeluknya sambil dia berkata bahwa dia tidak mau bertindak lebih jauh lagi. Aku memakluminya dan kami akhirnya tidur berpelukan sampai pagi dan tidak merasakan dingin lagi. Keesokan harinya rombongan kami pulang kembali ke kota.

Beberapa hari kemudian, aku yang tidak dapat menahan nafsu untuk bercumbu lagi datang ke tempat kostnya. Kulihat di balik kaos putih tipisnya dia tidak mengenakan BH. Kutanya kenapa dia tidak memakai BH. Dia menjawab bahwa BH-nya basah semua. Kesempatan ini tidak kusia-siakan. Aku duduk mendekatinya dan kuremas kedua payudaranya. Dia mendesah yang kusambut dengan ciuman di bibirnya. Dia mendorongku dan memintaku untuk tidak kurang ajar. Aku takut dia akan menjerit dan terdengar dari luar kamar kostnya. Tapi dia kelihatanya juga kasihan padaku. Sambil dia melepas kaosnya dia mengijinkanku mencumbunya untuk yang terakhir kalinya.

Dia lalu tidur dan aku mulai melepas seluruh pakaianku. Ketika aku ingin melepas CD, dia melarangnya. Aku turuti larangannya. Kemudian kucium bibirnya sambil kuremas kedua payudaranya. Dia juga meremas kedua payudaraku dan salah satu tangannya kemudian turun ke bawah ke pantatku dan diremasnya pantatku. Aku disuruhnya berdiri dan dia dari belakang memelukku dan tangan kirinya meremas kedua payudaraku bergantian sedangkan tangan kanannya masuk ke CD-ku. Jarinya masuk ke vaginaku yang sudah basah serta mengocok vaginaku perlahan-lahan.

Dia kemudian berlutut di hadapanku dan melepas CD-ku. Dijilatinya vaginaku yang sudah basah. Salah satu tanganku menekan kepalanya dan tanganku yang satunya lagi meremas kedua payudaraku sendiri bergantian. Aku mendesah berkali-kali ketika jarinya mengocok vaginaku sambil dijilatinya cairan yang keluar dari vaginaku. Mulutnya kemudian naik ke atas dan menghisap kedua payudaraku sedangkan kedua tangannya melepas CD-nya sendiri.

Setelah itu mulutnya naik ke atas lagi dan mencium bibirku yang juga kubalas dengan jilatan lidah. Sedangkan kedua vagina kami yang basah saling menempel. Tangannya menekan pantatku sehingga kami berpelukan sambil berciuman, berjilat-jilatan, kedua payudara dan vagina saling menempel ditambah dengan jarinya yang keluar masuk ke pantatku yang kubalas dengan jariku yang juga keluar masuk ke pantatnya. Aku tidak mengira Chintya akan sejauh ini. Aku menikmatinya sampai beberapa menit sampai kami terkulai lemas.

Demikian pengalamanku bercumbu dengan Chintya meskipun kemudian dia tidak mau lagi bercumbu denganku.

Tamat
Lihat Koleksi Bugil Lengkap..

Perempuan Kampung

18.06, Posted by admin, No Comment

Namaku Tarsih, lengkapnya Tarsih Julini. Umurku kini 42 tahun, tapi karena selalu kurawat tubuhku maka masih tampak segar. Aku termasuk perempuan yang berasal dari sebuah desa di Karawang. Aku menikah dengan Amri pada usia 22 tahun, suamiku kini telah berusia 51 tahun, ia seorang yang termasuk sukses sehingga mampu menghidupiku lebih dari cukup. Hingga saat ini kami belum dikaruniai anak. Entah, mungkin karena itu pula maka suamiku jadi sering selingkuh. Meskipun pada awalnya sembunyi-sembunyi, akhirnya aku tahu sejumlah pacar-pacar suamiku.
Awalnya memang sangat menyakitkan, tapi lama kelamaan aku tak ambil peduli lagi. Aku tak mau ambil pusing soal Amri dengan pacar-pacarnya. Yang menggelisahkan, adalah kenyataan ia jadi jarang menghampiriku, bahkan pada empat bulan terakhir ini ia sama sekali tak menyentuhku. Padahal awal perkawinan kami termasuk harmonis dan selalu hangat dalam percintaan.

Aku sendiri amat menikmati seluruh pengalaman percintaan dengan Amri, karena itu pula aku tak pernah sungkan untuk melayani segala keinginan Amri karena aku memang menyukainya. Sebagai perempuan kampung bahkan dari Amri-lah kemudian jadi tahu berbagai gaya dalam melakukan hubungan sex.
Ya, sekali lagi, aku akhirnya tak peduli dengan pacar-pacarnya suamiku, tapi yang paling menyedihkan adalah keengganannya menyetubuhiku lagi. Padahal tubuhku nyaris tak ada yang berubah, sejak diperawani oleh Amri aku masih tetap langsing. Atas saran Amri pula aku rajin mengikuti fitness dan mengikuti kegiatan olahraga lainnya. Bahkan dibanding dulu waktu perawan, payudaraku kini termasuk besar.
Tetangga dan beberapa kenalanku sering bilang aku ini sexy, terutama ketika mereka memperhatikan payudara dan pantatku yang tergolong besar. Wajahku pun rasanya masih tetap sebagai bunga di kota B, yaitu kota tempat tinggalku sekarang. Malah karena aku kian matang, aku pun tahu sebetulnya banyak laki-laki yang suka melirikku. Sejauh ini aku tak pernah menggubris mereka, di lain pihak sebagai perempuan dari kampung aku masih tetap cenderung pemalu.
Sampai suatu ketika, terjadilah perubahan pada diriku yang amat luar biasa. Inilah kisahnya, sebuah kisah nyata yang betul-betul terjadi pada diriku, kisah yang membawaku ke berbagai petualang sex yang mengasyikan.
*****
Sore itu seusai fitness aku pulang bersama Linda yang menumpang di mobilku, di tengah jalan Linda memutuskan untuk ikut ke rumahku.
"Untuk sekadar minum juice sambil membuang rasa penat," katanya.
Tentu saja aku tak menolak, bahkan gembira sebab pasti seperti biasanya kalau pulang sendiri begitu tiba akan langsung disergap sepi.
Begitu tiba di rumah, setelah parkir kami langsung menuju beranda di belakang yang menghadap kolam renang ukuran kecil. Tubuh masih berkeringat sisa fitness tadi, Linda merebahkan diri di kursi malas dan aku di kursi di depan sebuah meja bulat yang berpayung besar. Segera kupanggil Komar, pembantuku, untuk membuatkan dua gelas juice tomat kesukaan kami.
Begitu Komar pergi, aku segera melepas pakaianku hingga tinggal baju senamku yang melekat ketat di tubuhku. Begitu pula Linda, ia melepas kancing-kancing bagian depan pakaian terusannya, tidak melepasnya melainkan masih dalam posisi berbaring ia membukanya lebar-lebar. Maka tampak terbukalah kini tubuh Linda yang hanya tertutup CD supermini dan BH yang hanya menutup separo buahdadanya. Ia memejamkan mata menikmati kesantaiannya. Diam-diam dan tak biasanya, mataku memandang dan menikmati keindahan tubuh Linda. Saat itulah Komar datang mengantarkan dua gelas minuman, dan karena tahu majikannya sedang santai maka ia pun segera dengan malu-malu kembali lagi ke dalam rumah.
Aku meneruskan memandangi tubuh Linda, tiba-tiba muncul dorongan keinginan yang kuat sekali untuk meraba tubuh Linda yang masih tergolek. Dasar pemalu, aku tak berani menghampirinya melainkan hanya meraba tubuhku sambil membayangkan sedang meraba-raba Linda. Tangan kiriku kueluskan di atas paha yang masih tertutup pakaian senam yang ketat, sementara tangan kananku mengelus payudaraku yang juga masih tertutup baju senam. Terus terang, di saat-saat kesepian ditinggal Amri, sesungguhnya aku sering melakukan ini sendirian. Tapi saat ini sambil memandangi Linda, sungguh perasaanku amat lain, ada rangsangan yang jauh lebih hangat dan tentu saja tidak lagi dalam perasaan sepi.
Saking minimnya CD Linda, kulihat ada bulu-bulu kemaluannya yang keluar dari pnggir-pinggir CD-nya. Dengan menatapnya, timbul keinginan untuk melihat dalam keadaan sepenuhnya telanjang. Saat itu pula kuselipkan tangan kananku ke balik baju senamku, karena tak memakai BH maka langsung jari telunjuk dan jari tengahku menyentuh puting-puting susuku yang ternyata sudah mengeras. Menyusul kemudian tangan kiriku lewat lobang pakaian di bagian perutku, nyelip masuk merogoh langsung ke arah kemaluanku. Kuraba-raba bulu-bulu kemaluanku sambil membayangkan bahwa yang kuraba adalah bulu-bulu kemaluan Linda. Ada perasaan geli dan bergejolak rangsangan luar biasa ketika jariku mulai menyentuh bagian atas bibir kemaluanku, saat itu pula tak tahan lagi aku menjepit puting susuku sambil meremas-remas payudara kiriku.
Tak tahan lagi, jari-jari tangan kiriku pun terus meluncur sampai di celah memekku yang ternyata sudah terasa basah. Aku menggosok-gosoknya dengan lembut di sana. Dengan agak susah karena terhimpit baju senam yang ketat, celah memekku itu sedikit aku rekahkan hingga kujumpai kelentitku. Jempolku dengan lembut menggosok-gosok kelentit, sementara dua jari telunjuk dan jari tengahku sedikit kumasukan ke dalam memek, setelah itu secara simultan aku maju-mundurkan; dua jari keluar-masuk sementara jempolku tetap menggosok kelentit.
"Ohh.. emhh..," tak tahan lagi aku melenguh lembut, sementara tangan kananku kian ganas meremas payudaraku bergantian dari kanan ke kiri.
"Ohh.. ahh..," saking nikmatnya maka tanpa sadar lenguhanku keluar agak keras.
Aku sama sekali tak tahu kalau Linda terbangunkan oleh suaraku. Ia sedikit membuka matanya kemudian mengintip apa yang sedang kulakukan. Karena tidak tahu dan karena nafsuku sudah kian naik, maka kocokan di memekku dan remasan tangan di buahdada-ku pun kian ganas. Dua jariku kian dalam melesak di memekku terus keluar-masuk, keluar-masuk, keluar-masuk.. Ahh.. Dan untuk masuk lebih dalam lagi, maka aku harus sedikit merunduk, dengan begitu dua jariku seluruhnya tenggelam, kujepitkan memekku hingga dinding-dinding dalamnya meremas jari-jariku. Saat merunduk itu pula, Linda yang dari tadi ngintip mulai bereaksi.
Dengan jempolnya ia kait BH mininya ke bawah hingga sekaligus buahdada-nya terbebaskan. Ketika aku balik lagi bersandar di kursi sambil tak melepaskan jariku yang tertanam di memek, kini kulihat Linda pun sedang meremas-remas buah-dada telanjangnya. Sebelah tangannya lagi pun tenggelam lewat pinggir CD supermini-nya, hingga tersingkap dan terpampang jelaslah jarinya yang tertanam di memeknya itu. Ohh.. aku malah bahagia dan tidak malu-malu lagi melihat pemandangan itu, dan kini jadi tahulah bahwa Linda pun sesungguhnya mengikuti seluruh adeganku.
"Linda, ohh.. ka.. kamu.. di.. diam-diam.. oh.." tak sanggup kuteruskan kalimatku untuk menyapa Linda, gairah kenikmatan mengubur kata-kataku yang berganti lenguhan-lenguhan. Tapi Linda rupanya tahu maksudku.
"Ya.. ya.. teruskan Teh Tarsih.. aku pun terangsang melihatmu.. teruss kocok memekmu dengan jarimuu.. ohh kita sama-samaa..teruss.. ya.. ya.. dari tadi aku lihat.. kamu gatel, yaa.. kamu pengen dientott..," kata Linda yang juga sambil terengah-engah.
"Be.. betul Linda.. akuu.. pengen dientot pake kontoll.. sudah empat bulan memekku kedinginanan Lindaa..," kataku sambil agak aneh juga karena sebelumnya tak pernah mengeluarkan kata-kata cabul di hadapan orang lain.
"Aku juga, aku ingin kontol gede yang keras menggenjot memekku.. ohh," desah Linda sambil terus kian ganas memaju-mundurkan jarinya di memeknya.
Melihat gelagat yang kian panas, aku pun jadi tak malu-malu lagi menghampiri Linda. Sambil jongkok kuhampiri langsung memeknya yang sedang mengentot jarinya sendiri. Sungguh terjadi aliran listrik rangsangan yang luar biasa ketika pertama kali kusentuhkan jariku di sana. Semula ada gerakan Linda yang mau mencabut jarinya, tapi kutahan agar tetap tertanam di sana. Linda pun mengerti kemudian melanjutkan kocokan di memeknya sendiri. Aku pun lebih mendekat lagi, kepalaku merunduk menghampiri gundukan munggil dan ternyata bibirnya cukup tebal itu.
Dengan jariku sedikit kubantu menguakan lagi CD-nya hingga semakin jelas benda merangsang itu tampil di hadapku. Celah memeknya pun kurekahkan lagi hingga kelentitnya tak terhalang lagi, langsung kuhampiri dan kujilati tepat di kelentitnya yang ternyata sudah menggumpal begitu keras. Terlihat jelas pula jari atau pun dinding luar bibir memeknya sudah begitu basah oleh cairan licin yang keluar dari dalam memeknya. Linda menggelinjang sambil mendesah nikmat ketika kelentitnya kujilat.
"Ahh.. sshhss.. ohh.. teruss.. enakk.. terus jilati di situ," desahnya.
Sambil terus kujilati, aku bilang padanya, "Kita teruskan di dalam saja, yuk, Linda..," ajakku.
"I.. i.. iyaa, aku pun pengen segera melihat Teh Tarsih bugil.. aku ingin sekali nyedot puting susu buah dada Teh Tarsih yang besar dan merangsang ituu.. Ohh, tapi teruskan dulu menjilat di situu," jawab Linda sambil tak lepas-lepasnya mengentotkan jari di memeknya sendiri.
Tanpa sepengetahuan kami, ketika seluruh adegan itu terjadi ternyata Si Komar ngintip di balik pohon sambil ngocok kemaluannya. Kami pun akhirnya beranjak menuju kamar, Komar yang belum sampai di puncak klimaks terlihat kecewa. Dari arah belakang ia mengendap mengikuti kami ke kamar. Saking bernafsunya, kami lupa menutup pintu kamar melainkan langsung naik ke ranjang dan saling melucuti sisa pakaian kami.
Kini tubuhku sudah telanjang bulat, begitu pula Linda. Kedua buahdada-ku yang besar langsung menjadi sasaran emutan Linda. Seperti bayi, ia begitu menikmati sedotan di buah-dadaku. Aku pun merasa bahagia sekali menerima sedotannya, maka kulakukan serangan balik dengan menggerayangi memek Linda yang kini sudah sepenuhnya telanjang. Jariku tak mengalami kesulitan untuk langsung melesak di memeknya yang sedari tadi sudah banjir cairan licin.
"Ahh..," desah Linda dengan mulut yang masih tersumbat puting susuku ketika jariku mulai tertanam di memeknya.
Diam-diam tangan Linda pun ternyata mencari-cari sasaran di memekku dan terasa menemukan lobangnya dan "Slepp.." jarinya pun melesak di lobang hangat memekku.
"Ohh..," desahku ketika jarinya tenggelam dan langsung dikocokannya.
Setelah sekitar tujuh menit kami dalam posisi berdiri di atas lutut sambil saling mencium mulut dan payudara masing-masing, otomatis tanpa kata-kata kami beralih posisi ke posisi 69. Linda menindihku dengan mengarahkan memeknya tepat di mukaku. Kini betul-betul memeknya itu tepat di hadapan, kelihatan masih begitu ranum, maklum Linda masih berumur 24 tahun dan belum lagi kawin. Tapi melihat kelihaiannya saat ini menggarapku, aku yakin Linda sudah sangat berpengalaman di tempat tidur.
"Oohh.. ahh.. uhh..," jeritku tiba-tiba ketika kurasakan Linda menyedot-sedot kelentitku begitu ganas, sementara jarinya dengan gerakan kian cepat menyodok-sodok lobang memekku. Aku pun dalam posisi terlentang melakukan serangan yang sama, kuusahakan jari-jariku bisa masuk sedalam-dalamnya di memek Linda. Agak sulit, tapi kuusahakan pula agar bisa menjilat-jilat dan menyedot-sedot kelentitnya.
"Aaiiyy.. ohh.. uhh.. sedapnyaa.. Teh Tarsih, teruss.. terus.. jangan berhentii.. kayaknya Linda sudah mau sampai puncakk. Ohh.. lobang memek Teh tarsih pun sudah basah sekali.., aku isap-isap cairannya.. asyikk.. dan licin sekali.. basah sekali Teh Tarsihh," jerit dan kicau Linda dengan pantat bergoyang-goyang.
"I.. i.. yaa, Lindaa.. Teh Tarsih pun rasanya sudah hampir keluarr.. Kocok teruss.. ohh aahh.. ohh aahh.. ohh aahh.. teruss.. sayangg.. sedott teruss di keelleennittnyaa.. ohh.. Linda.. saya keluarr.. Ohh, nikmatt," aku betul-betul mencapai puncak orgasme.
Maka aku pun segera seperti memiliki tanggungjawab untuk mengantar Linda mencapai puncak kenikmatannya. Segeralah saya melakukan apa yang telah diberikan Linda kepadaku. Kocokan jariku di memeknya kupercepat, dengan sekali berguling kini tubuhku berada di atas tubuh Linda, dengan begitu maka aku lebih mudah lagi untuk menggigit-gigit kelentitnya dengan gemas.
"Ohh.. Teh Tarsihh.. enak sekalii.. ohh aahh.. ohh aahh.. ohh aahh..," desahnya seirama genjotan jariku di memeknya, "Terus.. Teh Tarsih teruss.. jangan berhenti.. entot terus.. ohh aahh.. ohh aahh.. ohh aahh.. ohh..," akhirnya lenguhan panjang terdengar begitu keras, Linda mencapai orgasme ditandai tubuhnya yang tadi tegang kini melemas dan pasrah tak berdaya. Kami pun akhirnya terlentang di ranjang mengenang kenikmatan yang baru saja teralami.
Masih tanpa sepengetahuan kami, Komar ternyata meneruskan kegiatan mengocok kontolnya sendiri di balik pintu kamar yang terbuka. Meskipun tak terlalu dekat, ia bisa melihat adegan kami dengan leluasa, termasuk dengan jelas mendengarkan ocehan dan lenguhan kami. Dengan bantuan ludahnya yang berkali-kali diulaskan ke tangannya ia mengocok kontolnya yang sudah super tegang, hingga mengalami orgasme bersamaan dengan orgasmenya Linda. Tak ayal spermanya berceceran di mulut pintu kamarku. Setelah itu Komar cepat-cepat berlalu karena mungkin takut ketahuan.
Sementara sambil melepas lelah dengan tubuh kami yang masih telanjang, Linda memilin-pilin puting susuku.
"Susu Teh Tarsih ini merangsang sekali.. aku pun ingin punya susu sebesar ini," katanya dengan gemas.
"Ah, kamu ini Linda..," jawabku merasa tersanjung.
"Betul, Teh Tarsih.. pantat dan memek Teh Tarsih pun asyik sekali," kata Linda pula.
"Ah, nggak begitu, buktinya Amri meninggalkanku," kataku merendah.
"Itulah anehnya.. memek, pantat, dan payudara sebegini bagus, kok ditinggal begitu saja?" tanya Linda.
"Eh, apa Linda sudah sering main dengan sesama perempuan?" tanyaku penasaran.
"Yaa.. Teh Tarsih ini ketinggalan zaman.. Kawan-kawan kita di fitness sudah semuanya mengalami ini.. tapi kami sama-sama masih menikmati pula hubungan kelamin dengan laki-laki. Istilahnya bi-sex, Teh Tarsih," jelas Linda.
"Bi-sex, jadi main dengan perempuan OK dan dengan laki-laki pun OK?" tanyaku masih dengan nada bloon.
"Ya, begitu, malah pernah dilakukan secara bersamaan," jawab Linda cepat.
"Main dengan laki-laki sekaligus dengan perempuan? Oh, kayaknya asyik.. aku sih yang begini saja baru pertama.. gimana bisa begitu, Linda?" tanyaku semakin penasaran.
"Wah, dengan tubuh Teh Tarsih yang masih sintal sih gampang saja, sebentar keluar pun akan didapat pasangan.. malah bisa lebih dari satu. Buktinya Si Lily yang gemuk itu, hampir tiap minggu ganti-ganti pasangan..," jawab Linda dengan santainya.
"Si Lily teman kita yang Chinese yang baik hati itu?" tanyaku dengan perasaan semakin ketinggalan zaman.
"Betul, eh, Teh Tarsih mau coba? Kalau mau saya antar?" tanya Linda.
Ingat lagi kepada kesepianku yang berlarut berbulan-bulan, tentu saja ajakan Linda ini membuatku bergejolak meski terasa teramat menegangkan.
"Aku berselingkuh dengan laki-laki lain?" demikian pertanyaanku berulang-ulang muncul di kepala. Tapi sementara itu pula aku tak bisa memungkiri kebutuhan dan dorongan sexualku yang sudah tak tertahankan lagi.
"Boleh juga, sih!" jawabku singkat.
"Nah, kalau mau kita atur, deh.. tenang saja.. dijamin kita akan main dengan laki-laki yang clean.. aku pun nggak mau sembarangan Teh Tarsih," tegas Linda.

Setelah itu kami bergegas mandi bersama-sama di kamar mandi yang ada di kamarku. Berias sedikit, memakai lagi pakaian, dan segera meninggalkan kamar untuk memulai perburuan. Tiba di mulut pintu, kakiku yang belum bersepatu menginjak lendir cairan kental. Begitu dicolek kami pun segera tahu bahwa itu adalah cairan sperma yang belum mengering. Aku dan Linda saling pandang dan sempat risih, tapi kemudian tertawa cekikikan. Segera pula aku bisa menduga bahwa itu spermanya Komar. Ini akan menjadi cerita tersendiri, sementara ini aku sudah tidak sabar lagi ingin menjalani petualangan bersama Linda.

Tamat
Lihat Koleksi Bugil Lengkap..

Ibu - Ibu.....

17.57, Posted by admin, No Comment

Awal mula dari cerita ini adalah ketika saya baru saja tinggal di sebuah daerah perumahan yang relatif baru di daerah pinggiran kota - maaf, nama daerah tersebut tidak saya sebutkan mengingat untuk menjaga nama baik dan harga diri keluarga terutama suami dan kedua anak saya.
Saya tinggal di situ baru sekitar 6 bulanan. Karena daerah perumahan tersebut masih baru maka jumlah keluarga yang menempati rumah di situ masih relatif sedikit tetapi khusus untuk blok daerah rumah saya sudah lumayan banyak dan ramai. Rata-rata keluarga kecil seperti keluarga saya juga yaitu yang sudah masuk generasi Keluarga Berencana, rata-rata hanya mempunyai dua anak tetapi ada juga yang hanya satu anak saja. Sudah seperti biasanya bila kita menempati daerah perumahan baru, saya dengan sengaja berusaha untuk banyak bergaul dengan para tetangga bahkan juga dengan tetangga-tetangga di blok yang lain.

Dari hasil bergaul tersebut timbul kesepakatan di antara ibu-ibu di blok daerah rumahku untuk mengadakan arisan sekali dalam sebulan dan diadakan bergiliran di setiap rumah pesertanya. Suatu ketika sedang berlangsung acara arisan tersebut di sebuah rumah yang berada di deretan depan rumahku, pemilik rumah tersebut biasa dipanggil Bu Soni (bukan nama sebenarnya) dan sudah lebih dulu satu tahun tinggal di daerah perumahan ini daripada saya. Bu Soni bisa dibilang ramah, banyak ngomongnya dan senang bercanda dan sampai saat tulisan ini aku buat dia baru mempunyai satu anak, perempuan, berusia 8 tahun walaupun usia rumah tangganya sudah 10 tahun sedangkan aku sudah 20 tahun. Aku menikah ketika masih berusia 22 tahun. Suaminya bekerja di sebuah perusahaan swasta dan kehidupannya juga bisa dibilang kecukupan. Setelah acara arisan selesai saya masih tetap asyik ngobrol dengan Bu Soni karena tertarik dengan keramahan dan banyak omongnya itu sekalipun ibu-ibu yang lain sudah pulang semua.
Dia kemudian bertanya tentang keluargaku, "Jeng Mar. Putra-putranya itu sudah umur berapa, sih, kok sudah dewasa-dewasa, ya?" (Jeng Mar adalah nama panggilanku tetapi bukan sebenarnya) tanya Bu Soni kepadaku. "Kalau yang pertama 18 tahun dan yang paling ragil itu 14 tahun. Cuma yaitu Bu, nakalnya wah, wah, waaaaaaa.....aaah bener-bener, deh. Saya, tuh, suka capek marahinnya." "Lho, ya, namanya juga anak laki-laki. Ya, biasa lah Jeng." "Lebih enak situ, ya. Anak cuma satu dan perempuan lagi. Nggak bengal." "Ah, siapa bilang Jeng Mar. Sama kok. Cuma yaitu, saya dari dulu, ya, cuma satu aja. Sebetulnya saya ingin punya satu lagi, deh. Ya, seperti situ." "Lho, mbok ya bilang aja sama suaminya. Eeee...siapa tahu ada rejeki, si putri tunggalnya itu bisa punya adik. Situ juga sama suaminya 'kan masih sama-sama muda." "Ya, itulah Jeng. Papanya itu lho, suka susah. Dulu, ya, waktu kami mau mulai berumah tangga sepakat untuk punya dua aja. Ya, itung-itung mengikuti program pemerintah, toh, Jeng. Tapi enggak tau' lah papanya tuh. Kayaknya sekarang malah tambah asik aja sama kerjaannya. Terlalu sering capek." "O, itu toh. Ya, mbok dikasih tau aja kalau sewaktu-waktu punya perhatian sama keluarga. 'Kan yang namanya kerja itu juga butuh istirahat. Mbok dirayu lah gitu." "Wah, sudah dari dulu Jeng. Tapi, ya, tetep susah aja, tuh. Sebenernya ini, lho, Jeng Mar. Eh, maaf, ya, Jeng kalo' saya omongin. Tapi Jeng Mar tentunya juga tau donk masalah suami-istri 'kan." "Ya, memang. Ya, orang-orang yang sudah seperti kita ini masalahnya sudah macem-macem, toh, Bu. Sebenarnya Bu Soni ini ada masalah apa, toh?" "Ya, begini Jeng, suami saya itu kalo' bergaul sama saya suka cepet-cepet mau rampung aja, lho. Padahal yang namanya istri seperti kita-kita ini 'kan juga ingin membutuhkan kenikmatan yang lebih lama, toh, Jeng." "O, itu, toh. Mungkin situ kurang lama merayunya. Mungkin suaminya butuh variasi atau model yang agak macem-macem, gitu." "Ya, seperti apa ya, Jeng. Dia itu kalo' lagi mau, yang langsung aja. Saya seringnya nggak dirangsang apa-apa. Kalo' Jeng Mar, gimana, toh? Eh, maaf lho, Jeng." "Kalo' saya dan suami saya itu saling rayu-merayu dulu. Kalo' suami saya yang mulai duluan, ya, dia biasanya ngajak bercanda dulu dan akhirnya menjurus yang ke porno-porno gitulah. Sama seperti saya juga kalo' misalnya saya yang mau duluan." "Terus apa cuma gitu aja, Jeng." "O, ya tidak. Kalo' saya yang merayu, biasanya punya suami saya itu saya pegang-pegang. Ukurannya besar dan panjang, lho. Terus untuk lebih menggairahkannya, ya, punyanya itu saya enyot dengan mulut saya. Saya isep-isep." "Iiiii....iiih. Jeng Mar, ih. Apa nggak jijik, tuh? Saya aja membayangkannya juga udah geli. Hiiiii............." "Ya, dulu waktu pertama kali, ya, jijik juga, sih. Tetapi suami saya itu selalu rajin, kok, membersihkan gituannya, jadi ya lama-lama buat saya enak juga. Soalnya ukurannya itu, sih, yang lumayan besar. Saya sendiri suka gampang terangsang kalo' lagi ngeliat. Mungkin situ juga kalo' ngeliat, wah pasti kepengen, deh." "Ih, saya belon pernah, tuh, Jeng. Lalu kalo' suaminya duluan yang mulai begimana?" "Saya ditelanjangi sampai polos sama sekali. Dia paling suka merema-remas payudara saya dan juga menjilati putingnya dan kadang lagaknya seperti bayi yang sedang mengenyot susu." , kataku sambil ketawa dan tampak Bu Soni juga tertawa. "Abis itu badan saya dijilati dan dia juga paling suka menjilati kepunyaan saya. Rasanya buat saya, ya, enak juga dan biasanya saya semakin terangsang untuk begituan.
Dia juga pernah bilang sama saya kalo' punya saya itu semakin enak dan saya disuruh meliara baik-baik." "Ah, tapi untuk yang begituan itu saya dan suami saya sama sekali belum pernah, lho, Jeng. Tapi mungkin ada baiknya untuk dicoba juga, ya, Jeng. Tapi tadi itu masalah yang situ dijilatin punyanya. Rasa enaknya seperti apa, sih, Jeng." "Wah, Bu Soni ini, kok, seperti kurang pergaulan aja, toh." "Lho, terus terang Jeng. Memang saya belon pernah, kok." "Ya, geli-geli begitulah. Susah juga untuk dijelasin kalo' belum pernah merasakan sendiri." Lalu kami berdua tertawa. Setelah berhenti tertawa, aku bertanya, "Bu Soni mau tau rasanya kalau gituannya dijilati?" "Yah, nanti saya rayu, deh, suami saya. Mungkin enak juga ya." Ucapnya sambil tersenyum. "Apa perlu saya dulu yang coba?", tanyaku sambil bercanda dan tersenyum. "Hush!! Jeng Mar ini ada-ada aja, ah", sambil tertawa. "Ya, biar tidak kaget ketika dengan suaminya nanti. Kita 'kan juga sama-sama wanita." "Wah, kayak lesbian aja. Nanti saya jadi ketagihan, lho. Malah takutnya lebih senang sama situ daripada sama suami saya sendiri. Ih! Malu' akh.", sambil tertawa. "Atau kalo' nggak mau gitu, nanti saya kasih tau gimana membuat penampilan bulu gituannya biar suaminya situ tertarik. Kadang-kadang bentuk dan penataannya juga mempengaruhi rangsangan suami, lho, Bu Soni." "Ah, Jeng ini." "Ee! Betul, lho. Mungkin bentuk bulul-bulu gituannya Bu Soni penampilannya kurang merangsang. Kalo' boleh saya lihat sebentar gimana?" "Wah, ya, gimana ya. Tapiiiii.......ya boleh, deh. Eh, tapi saya juga boleh liat donk punyanya situ. Sama-sama donk, 'kan kata Jeng tadi kita ini sama-sama wanita." "Ya, 'kan saya cuma mau bantu situ supaya bisa usaha untuk punya anak lagi." "Kalo' gitu kita ke kamar aja, deh. Suami saya juga biasanya pulang malam. Yuk, Jeng." Langsung kita berdua ke kamar Bu Soni. Kamarnya cukup tertata rapi, tempat tidurnya cukup besar dan dengan kasur busa.
Di dindingnya ada tergantung beberapa foto Bu Soni dan suaminya dan ada juga foto sekeluarga dengan anaknya yang masih semata wayang. Saya kemudian ke luar sebentar untuk telepon ke rumah kalau pulangnya agak telat karena ada urusan dengan perkumpulan ibu-ibu dan kebetulan yang menerima suamiku sendiri dan ternyata dia setuju saja. Setelah kita berdua di kamar, Bu Soni bertanya kepadaku, "Bagaimana Jeng? Kira-kira siap?" "Ayolah. Apa sebaiknya kita langsung telanjang bulat aja?" "OK, deh.", jawab Bu Soni dengan agak tersenyum malu. Akhirnya kita berdua mulai melepas pakaian satu-persatu dan akhirnya polos lah semua. Bulu jembut Bu Soni cukup lebat juga hanya bentuknya keriting dan menyebar, tidak seperti miliku yang lurus dan tertata dengan bentuk segitiga ke arah bawah. Lalu aku menyentuh payudaranya yang agak bulat tetapi tidak terlalu besar, "Lumayan juga, lho, Bu." Lalu Bu Soni pun langsung memegang payudaraku juga sambil berkata, "Sama juga seperti punya Jeng." Aku pun minta ijin untuk mengulum kedua payudaranya dan dia langsung menyanggupi. Kujilati kedua putingnya yang berwarna agak kecoklat-coklatan tetapi lumayan enak juga. Lalu kujilati secara keseluruhan payudaranya. Bu Soni nampak terangsang dan napasnya mulai memburu. "Enak juga, ya, Jeng. Boleh punya Jeng saya coba juga?" "Silakan aja.", ijinku. Lalu Bu Soni pun melakukannya dan tampak sekali kalau dia masih sangat kaku dalam soal sex, jilatan dan kulumannya masih terasa kaku dan kurang begitu merangsang. Tetapi lumayanlah, dengan cara seperti ini aku secara tidak langsung sudah menolong dia untuk bisa mendapatkan anak lagi. Setelah selesai saling menjilati payudara, kami berdua duduk-duduk di atas tempat tidur berkasur busa yang cukup empuk. Aku kemudian memohon Bu Soni untuk melihat vaginanya lebih jelas, "Bu Soni. Boleh nggak saya liat gituannya? Kok bulu-bulunya agak keriting. Tidak seperti milik saya, lurus-lurus dan lembut." Dengan agak malu Bu Soni membolehkan, "Yaaa.....Silahkan aja, deh, Jeng." Aku menyuruh dia, "Rebahin aja badannya trus tolong kangkangin kakinya yang lebar." Begitu dia lakukan semuanya terlihatlah daging vagina yang memerah segar dengan bibirnya yang sudah agak keluar dikelilingi oleh jembut yang cukup lebat dan keriting. Mmmmm....cukup merangsang juga penampilannya. 'Ku dekatkan wajahku ke vaginanya lalu aku katakan kepada Bu Soni bahwa bentuk kemaluannya sudah cukup merangsang hanya saja akan lebih indah pemandangannya bila jembutnya sering disisir agar semakin lurus dan rapi seperti miliku.
Lalu kusentuh-sentuh daging vaginanya dengan tanganku, empuk dan tampak cukup terpelihara baik, bersih dan tidak ada bau apa-apa. Nampak dia agak kegelian ketika sentuhan tanganku mendarat di permukaan tititnya dan dia mengeluh lirih, "Aduh, geli, lho, Jeng." "Apa lagi kalo' dijilat, Bu Soni. Nikmat, deh. Boleh saya coba?" "Aduh, gimana, ya, Jeng. Saya masih jijik, sih." "Makanya dicoba.", kataku sambil kuelus salah satu pahanya. "Mmmmm.....ya, silakan, deh, Jeng. Tapi saya tutup mata aja, ah." Lalu kucium vaginanya sekali, chuph!! "Aaa...aah.", Bu Soni mengerang dan agak mengangkat badannya. Lalu kutanya, "Kenapa? Sakit, ya?" Dia menjawab, "Geli sekali." "Saya teruskan, ya?" Bu Soni pun hanya mengangguk sambil tersenyum. Kuciumi lagi vaginanya berkali-kali dan rasa geli yang dia rasakan membuat kedua kakinya bergerak-gerak tetapi kupegangi kedua pangkal pahanya erat-erat. Badannya bergerinjal-gerinjal, pantatnya naik turun. Uh! Pemandangan yang lucu sekali, aku pun sempat ketawa melihatnya. Saya keluarkan lidah dan saya sentuhkan ujungnya ke bibir tititnya berkali-kali. Oh! Aku semakin terbawa napsu. Kujilati keseluruhan permukaan vaginanya, gerakanku semakin cepat dan ganas. Oh, Bu Soni, vaginamu nikmaaaaa...aaat sekali. Aku sudah tak ingat apa-apa lagi. Semua terkonsentrasi pada pekerjaan menjilati titit Bu Soni. Emmmm....Enak sekali. Terus kujilati dengan penuh napsu. Pinggir ke tengah dan gerakan melingkar. Kumasukan lidahku ke dalam celah bibir vaginanya yang sudah mulai membuka. Ouw! Hangat sekali dan cairannya mulai keluar dan terasa agak asin dan baunya yang khas mulai menyengat ke dalam lubang hidungku. Tapi aku tak peduli, yang penting rasa vagina Bu Soni semakin lezat apalagi dibumbui dengan cairan yang keluar semakin banyak. Kuoleskan ke seluruh permukaan tititnya dengan lidahku. Jilatanku semakin licin dan seolah-olah semua makanan yang ku makan pada saat acara arisan tadi rasanya tidak ada apa-apanya. Badan Bu Soni bergerinjal semakin hebat begitu juga pantatnya naik-turun dengan drastis. Dia mengerang lirih, "Aaaaa.......ah, eeeee...eekh, eeee...eekh, Jeee.....eeeng, auw, oooo....ooooh. Emmmmm....mmmh. Hah, hah, hah,.....hah." Dan saat mencapai klimaks dia merintih, "Aaaaaa....... aaaaaa....... aaaaa.....aaaaa....aaaaah." Cairan vaginanya keluar agak banyak dan deras. OK, nampaknya Bu Soni sudah mencapai titik puncaknya. Tampak Bu Soni terlentang lemas dan 'ku tanya, "Bagaimana? Enak? Ada rasa puas?" "Lumayan enak, Jeng. Situ nggak jijik, ya." "'Kan sudah biasa juga sama suami." Kemudian aku bertanya sembari bercanda, "Situ mau coba punya saya juga?" "Ah, Jeng ini. Jijik 'kan.", sembari ketawa. "Yaaa....mungkin belon dicoba. Punya saya selalu bersih, kok. 'Kan suami saya selalu mengingatkan saya untuk memeliharanya." Kemudian Bu Soni agak berpikir, mungkin ragu-ragu antara mau atau tidak. Lalu, "Boleh, deh, Jeng.
Tapi saya pelan-pelan aja, ah. Nggak berani lama-lama." "Ya, ndak apa-apa. 'Kan katanya situ belum biasa. Betul? Mau coba?" tantangku sembari senyum. Lalu dia cuma mengangguk. Kemudian aku menelentangkan badanku dan langsung 'ku kangkangkan kedua kakiku agar terlihat tititku yang masih OK punya. Tampak Bu Soni mulai mendekatkan wajahnya ke vaginaku lalu berkata, "Wah, Jeng bulu-bulunya lurus, lemes dan teratur. Pantes suaminya selalu bergairah." Aku hanya tertawa. 'Tak lama kemudian 'ku rasakan sesuatu yang agak basah menyentuh tititku. Kepalaku 'ku angkat dan terlihat Bu Soni mulai berani menyentuh-nyentuhkan ujung lidahnya ke memekku. Kuberi dia semangat, "Terus, terus, Bu. Saya merasa enak, kok." Dia hanya memandangku dan tersenyum. Kurebahkan lagi seluruh tubuhku dan kurasakan semakin luas penampang lidah Bu Soni menjilati titit saya. Oh! Aku mulai terangsang. Emmm.....mmh. Bu Soni sudah mulai berani. Oooooo.....oooh nikmat sekali. Sedaaa...aap. Terasa semakin lincah gerakan lidahnya, 'ku angkat kepalaku dan kulihat Bu Soni sudah mulai tenggelam dalam kenikmatan, rupanya rasa jijik sudah mulai sirna. Gerakan lidahnya masih terasa kaku, tetapi ini sudah merupakan perkembangan. Syukurlah. Mudah-mudahan dia bisa bercumbu lebih hebat dengan suaminya nanti. Lama-kelamaan semakin enak. Aku merintih nikmat, "Emmmm....mmmh. Ouw. Aaaaa....aaaah, aaaaa......aaaah. Uuuuu......uuuuh. Te.....te....rus. Teruuuu.....uuus." Bibir memekku terasa dikulum oleh bibir mulut Bu Soni. Terasa dia menciumi tititku dengan napsu. Emmm.....mmmh, enaknya. Untuk lebih enak Bu Soni kusuruh, "Pegang dan elus-elus paha saya. Enak sekali Bu." Dengan spontan kedua tangannya langsung mengayunkan elusannya di pahaku. Dia mainkan sampai pangkal paha. Bukan main! Sudah sama layaknya aku main dengan suamiku sendiri. Terlihat Bu Soni sudah betul-betul asyik dan sibuk menjilati memekku. Gerakan ke atas-ke bawah melingkar keseluruh vaginaku.
Seolah-olah dia sudah mulai terlatih. Kemudian 'ku suruh dia untuk menyisipkan lidahnya ke dalam memekku. Dahinya agak berkerut tetapi dicobanya juga dengan menekan lidahnya ke lubang di antara bibir memek saya. Aaaaa.....aaakh! Nikmat sekali. Aku mulai naik untuk mencapai klimaks. Kedua tangannya terus mengelus kedua pahaku tanpa henti. Aku mulai naik dan terasa lubang tititku semakin hangat, mungkin lendir memekku sudah banyak yang keluar. Akhirnya aku pun mencapai klimaks dan aku merintih, "Aaaaaa.......aaaaah, uuuuuuh". Sialan Bu Soni tampaknya masih asik menjilati sedangkan badanku sudah mulai lemas dan lelah. Bu Soni pun bertanya karena gerak kaki dan badanku berhenti, "Gimana, Jeng?" Aku berkata lirih sambil senyum kepadanya, "Jempolan. Sekarang Bu Soni sudah mulai pinter." Dia hanya tersenyum. 'Ku tanya kembali, "Bagaimana? Situ masih jijik nggak?" "Sedikit, kok.", jawabnya sembari tertawa, dan akupun ikut tertawa geli. "Begitulah Bu Soni. Mudah-mudahan bisa dilanjutkan lebih mesra lagi dengan suaminya, tetapi jangan bilang, lho, dari saya." "Ooo..., ya, ndak, toh, Jeng. Saya 'kan juga malu. Nanti semua orang tahu bagaimana?" "Sekarang yang penting berusaha agar putrinya bisa punya adik. Kasihan, lho, mungkin sejak dulu dia mengharapkan seorang adik." "Ya, mudah-mudahan lah, Jeng. Rejeki akan segera datang. Eh! Ngomong-ngomong, Jeng mau nggak kalo' kapan-kapan kita bersama kayak tadi lagi?" "Naaaa........., ya, sudah mulai ketagihan, deh. Yaaaaa, itu terserah situ saja. Tapi saya nggak tanggung jawab, lho, kalo' situ lantas bisa jadi lesbian juga. Saya 'kan cuma kasih contoh aja.", jawabku sembari mengangkat bahu dan Bu Soni hanya tersenyum. Kemudian aku cepat-cepat berpakaian karena ingin segera sampai di rumah, khawatir suamiku curiga dan berprasangka yang tidak-tidak. Waktu aku pamit, Bu Soni masih dalam keadaan telanjang bulat berdiri di depan kaca menyisir rambut. Syukur kejadian ini tak pernah sampai terbuka sampai aku tulis cerita yang aneh dan lucu ini. Soal bagaimana kemesraan Bu Soni dan suaminya selanjutnya, itu bukan urusan saya tetapi yang penting kelezatan titit Bu Soni sudah pernah aku rasakan. Dari kawasan perumahan di pinggiran kota.

Tamat
Lihat Koleksi Bugil Lengkap..