Namaku Tarsih, lengkapnya Tarsih Julini. Umurku kini 42 tahun, tapi karena selalu kurawat tubuhku maka masih tampak segar. Aku termasuk perempuan yang berasal dari sebuah desa di Karawang. Aku menikah dengan Amri pada usia 22 tahun, suamiku kini telah berusia 51 tahun, ia seorang yang termasuk sukses sehingga mampu menghidupiku lebih dari cukup. Hingga saat ini kami belum dikaruniai anak. Entah, mungkin karena itu pula maka suamiku jadi sering selingkuh. Meskipun pada awalnya sembunyi-sembunyi, akhirnya aku tahu sejumlah pacar-pacar suamiku.
Awalnya memang sangat menyakitkan, tapi lama kelamaan aku tak ambil peduli lagi. Aku tak mau ambil pusing soal Amri dengan pacar-pacarnya. Yang menggelisahkan, adalah kenyataan ia jadi jarang menghampiriku, bahkan pada empat bulan terakhir ini ia sama sekali tak menyentuhku. Padahal awal perkawinan kami termasuk harmonis dan selalu hangat dalam percintaan.
Aku sendiri amat menikmati seluruh pengalaman percintaan dengan Amri, karena itu pula aku tak pernah sungkan untuk melayani segala keinginan Amri karena aku memang menyukainya. Sebagai perempuan kampung bahkan dari Amri-lah kemudian jadi tahu berbagai gaya dalam melakukan hubungan sex.
Ya, sekali lagi, aku akhirnya tak peduli dengan pacar-pacarnya suamiku, tapi yang paling menyedihkan adalah keengganannya menyetubuhiku lagi. Padahal tubuhku nyaris tak ada yang berubah, sejak diperawani oleh Amri aku masih tetap langsing. Atas saran Amri pula aku rajin mengikuti fitness dan mengikuti kegiatan olahraga lainnya. Bahkan dibanding dulu waktu perawan, payudaraku kini termasuk besar.
Tetangga dan beberapa kenalanku sering bilang aku ini sexy, terutama ketika mereka memperhatikan payudara dan pantatku yang tergolong besar. Wajahku pun rasanya masih tetap sebagai bunga di kota B, yaitu kota tempat tinggalku sekarang. Malah karena aku kian matang, aku pun tahu sebetulnya banyak laki-laki yang suka melirikku. Sejauh ini aku tak pernah menggubris mereka, di lain pihak sebagai perempuan dari kampung aku masih tetap cenderung pemalu.
Sampai suatu ketika, terjadilah perubahan pada diriku yang amat luar biasa. Inilah kisahnya, sebuah kisah nyata yang betul-betul terjadi pada diriku, kisah yang membawaku ke berbagai petualang sex yang mengasyikan.
*****
Sore itu seusai fitness aku pulang bersama Linda yang menumpang di mobilku, di tengah jalan Linda memutuskan untuk ikut ke rumahku.
"Untuk sekadar minum juice sambil membuang rasa penat," katanya.
Tentu saja aku tak menolak, bahkan gembira sebab pasti seperti biasanya kalau pulang sendiri begitu tiba akan langsung disergap sepi.
Begitu tiba di rumah, setelah parkir kami langsung menuju beranda di belakang yang menghadap kolam renang ukuran kecil. Tubuh masih berkeringat sisa fitness tadi, Linda merebahkan diri di kursi malas dan aku di kursi di depan sebuah meja bulat yang berpayung besar. Segera kupanggil Komar, pembantuku, untuk membuatkan dua gelas juice tomat kesukaan kami.
Begitu Komar pergi, aku segera melepas pakaianku hingga tinggal baju senamku yang melekat ketat di tubuhku. Begitu pula Linda, ia melepas kancing-kancing bagian depan pakaian terusannya, tidak melepasnya melainkan masih dalam posisi berbaring ia membukanya lebar-lebar. Maka tampak terbukalah kini tubuh Linda yang hanya tertutup CD supermini dan BH yang hanya menutup separo buahdadanya. Ia memejamkan mata menikmati kesantaiannya. Diam-diam dan tak biasanya, mataku memandang dan menikmati keindahan tubuh Linda. Saat itulah Komar datang mengantarkan dua gelas minuman, dan karena tahu majikannya sedang santai maka ia pun segera dengan malu-malu kembali lagi ke dalam rumah.
Aku meneruskan memandangi tubuh Linda, tiba-tiba muncul dorongan keinginan yang kuat sekali untuk meraba tubuh Linda yang masih tergolek. Dasar pemalu, aku tak berani menghampirinya melainkan hanya meraba tubuhku sambil membayangkan sedang meraba-raba Linda. Tangan kiriku kueluskan di atas paha yang masih tertutup pakaian senam yang ketat, sementara tangan kananku mengelus payudaraku yang juga masih tertutup baju senam. Terus terang, di saat-saat kesepian ditinggal Amri, sesungguhnya aku sering melakukan ini sendirian. Tapi saat ini sambil memandangi Linda, sungguh perasaanku amat lain, ada rangsangan yang jauh lebih hangat dan tentu saja tidak lagi dalam perasaan sepi.
Saking minimnya CD Linda, kulihat ada bulu-bulu kemaluannya yang keluar dari pnggir-pinggir CD-nya. Dengan menatapnya, timbul keinginan untuk melihat dalam keadaan sepenuhnya telanjang. Saat itu pula kuselipkan tangan kananku ke balik baju senamku, karena tak memakai BH maka langsung jari telunjuk dan jari tengahku menyentuh puting-puting susuku yang ternyata sudah mengeras. Menyusul kemudian tangan kiriku lewat lobang pakaian di bagian perutku, nyelip masuk merogoh langsung ke arah kemaluanku. Kuraba-raba bulu-bulu kemaluanku sambil membayangkan bahwa yang kuraba adalah bulu-bulu kemaluan Linda. Ada perasaan geli dan bergejolak rangsangan luar biasa ketika jariku mulai menyentuh bagian atas bibir kemaluanku, saat itu pula tak tahan lagi aku menjepit puting susuku sambil meremas-remas payudara kiriku.
Tak tahan lagi, jari-jari tangan kiriku pun terus meluncur sampai di celah memekku yang ternyata sudah terasa basah. Aku menggosok-gosoknya dengan lembut di sana. Dengan agak susah karena terhimpit baju senam yang ketat, celah memekku itu sedikit aku rekahkan hingga kujumpai kelentitku. Jempolku dengan lembut menggosok-gosok kelentit, sementara dua jari telunjuk dan jari tengahku sedikit kumasukan ke dalam memek, setelah itu secara simultan aku maju-mundurkan; dua jari keluar-masuk sementara jempolku tetap menggosok kelentit.
"Ohh.. emhh..," tak tahan lagi aku melenguh lembut, sementara tangan kananku kian ganas meremas payudaraku bergantian dari kanan ke kiri.
"Ohh.. ahh..," saking nikmatnya maka tanpa sadar lenguhanku keluar agak keras.
Aku sama sekali tak tahu kalau Linda terbangunkan oleh suaraku. Ia sedikit membuka matanya kemudian mengintip apa yang sedang kulakukan. Karena tidak tahu dan karena nafsuku sudah kian naik, maka kocokan di memekku dan remasan tangan di buahdada-ku pun kian ganas. Dua jariku kian dalam melesak di memekku terus keluar-masuk, keluar-masuk, keluar-masuk.. Ahh.. Dan untuk masuk lebih dalam lagi, maka aku harus sedikit merunduk, dengan begitu dua jariku seluruhnya tenggelam, kujepitkan memekku hingga dinding-dinding dalamnya meremas jari-jariku. Saat merunduk itu pula, Linda yang dari tadi ngintip mulai bereaksi.
Dengan jempolnya ia kait BH mininya ke bawah hingga sekaligus buahdada-nya terbebaskan. Ketika aku balik lagi bersandar di kursi sambil tak melepaskan jariku yang tertanam di memek, kini kulihat Linda pun sedang meremas-remas buah-dada telanjangnya. Sebelah tangannya lagi pun tenggelam lewat pinggir CD supermini-nya, hingga tersingkap dan terpampang jelaslah jarinya yang tertanam di memeknya itu. Ohh.. aku malah bahagia dan tidak malu-malu lagi melihat pemandangan itu, dan kini jadi tahulah bahwa Linda pun sesungguhnya mengikuti seluruh adeganku.
"Linda, ohh.. ka.. kamu.. di.. diam-diam.. oh.." tak sanggup kuteruskan kalimatku untuk menyapa Linda, gairah kenikmatan mengubur kata-kataku yang berganti lenguhan-lenguhan. Tapi Linda rupanya tahu maksudku.
"Ya.. ya.. teruskan Teh Tarsih.. aku pun terangsang melihatmu.. teruss kocok memekmu dengan jarimuu.. ohh kita sama-samaa..teruss.. ya.. ya.. dari tadi aku lihat.. kamu gatel, yaa.. kamu pengen dientott..," kata Linda yang juga sambil terengah-engah.
"Be.. betul Linda.. akuu.. pengen dientot pake kontoll.. sudah empat bulan memekku kedinginanan Lindaa..," kataku sambil agak aneh juga karena sebelumnya tak pernah mengeluarkan kata-kata cabul di hadapan orang lain.
"Aku juga, aku ingin kontol gede yang keras menggenjot memekku.. ohh," desah Linda sambil terus kian ganas memaju-mundurkan jarinya di memeknya.
Melihat gelagat yang kian panas, aku pun jadi tak malu-malu lagi menghampiri Linda. Sambil jongkok kuhampiri langsung memeknya yang sedang mengentot jarinya sendiri. Sungguh terjadi aliran listrik rangsangan yang luar biasa ketika pertama kali kusentuhkan jariku di sana. Semula ada gerakan Linda yang mau mencabut jarinya, tapi kutahan agar tetap tertanam di sana. Linda pun mengerti kemudian melanjutkan kocokan di memeknya sendiri. Aku pun lebih mendekat lagi, kepalaku merunduk menghampiri gundukan munggil dan ternyata bibirnya cukup tebal itu.
Dengan jariku sedikit kubantu menguakan lagi CD-nya hingga semakin jelas benda merangsang itu tampil di hadapku. Celah memeknya pun kurekahkan lagi hingga kelentitnya tak terhalang lagi, langsung kuhampiri dan kujilati tepat di kelentitnya yang ternyata sudah menggumpal begitu keras. Terlihat jelas pula jari atau pun dinding luar bibir memeknya sudah begitu basah oleh cairan licin yang keluar dari dalam memeknya. Linda menggelinjang sambil mendesah nikmat ketika kelentitnya kujilat.
"Ahh.. sshhss.. ohh.. teruss.. enakk.. terus jilati di situ," desahnya.
Sambil terus kujilati, aku bilang padanya, "Kita teruskan di dalam saja, yuk, Linda..," ajakku.
"I.. i.. iyaa, aku pun pengen segera melihat Teh Tarsih bugil.. aku ingin sekali nyedot puting susu buah dada Teh Tarsih yang besar dan merangsang ituu.. Ohh, tapi teruskan dulu menjilat di situu," jawab Linda sambil tak lepas-lepasnya mengentotkan jari di memeknya sendiri.
Tanpa sepengetahuan kami, ketika seluruh adegan itu terjadi ternyata Si Komar ngintip di balik pohon sambil ngocok kemaluannya. Kami pun akhirnya beranjak menuju kamar, Komar yang belum sampai di puncak klimaks terlihat kecewa. Dari arah belakang ia mengendap mengikuti kami ke kamar. Saking bernafsunya, kami lupa menutup pintu kamar melainkan langsung naik ke ranjang dan saling melucuti sisa pakaian kami.
Kini tubuhku sudah telanjang bulat, begitu pula Linda. Kedua buahdada-ku yang besar langsung menjadi sasaran emutan Linda. Seperti bayi, ia begitu menikmati sedotan di buah-dadaku. Aku pun merasa bahagia sekali menerima sedotannya, maka kulakukan serangan balik dengan menggerayangi memek Linda yang kini sudah sepenuhnya telanjang. Jariku tak mengalami kesulitan untuk langsung melesak di memeknya yang sedari tadi sudah banjir cairan licin.
"Ahh..," desah Linda dengan mulut yang masih tersumbat puting susuku ketika jariku mulai tertanam di memeknya.
Diam-diam tangan Linda pun ternyata mencari-cari sasaran di memekku dan terasa menemukan lobangnya dan "Slepp.." jarinya pun melesak di lobang hangat memekku.
"Ohh..," desahku ketika jarinya tenggelam dan langsung dikocokannya.
Setelah sekitar tujuh menit kami dalam posisi berdiri di atas lutut sambil saling mencium mulut dan payudara masing-masing, otomatis tanpa kata-kata kami beralih posisi ke posisi 69. Linda menindihku dengan mengarahkan memeknya tepat di mukaku. Kini betul-betul memeknya itu tepat di hadapan, kelihatan masih begitu ranum, maklum Linda masih berumur 24 tahun dan belum lagi kawin. Tapi melihat kelihaiannya saat ini menggarapku, aku yakin Linda sudah sangat berpengalaman di tempat tidur.
"Oohh.. ahh.. uhh..," jeritku tiba-tiba ketika kurasakan Linda menyedot-sedot kelentitku begitu ganas, sementara jarinya dengan gerakan kian cepat menyodok-sodok lobang memekku. Aku pun dalam posisi terlentang melakukan serangan yang sama, kuusahakan jari-jariku bisa masuk sedalam-dalamnya di memek Linda. Agak sulit, tapi kuusahakan pula agar bisa menjilat-jilat dan menyedot-sedot kelentitnya.
"Aaiiyy.. ohh.. uhh.. sedapnyaa.. Teh Tarsih, teruss.. terus.. jangan berhentii.. kayaknya Linda sudah mau sampai puncakk. Ohh.. lobang memek Teh tarsih pun sudah basah sekali.., aku isap-isap cairannya.. asyikk.. dan licin sekali.. basah sekali Teh Tarsihh," jerit dan kicau Linda dengan pantat bergoyang-goyang.
"I.. i.. yaa, Lindaa.. Teh Tarsih pun rasanya sudah hampir keluarr.. Kocok teruss.. ohh aahh.. ohh aahh.. ohh aahh.. teruss.. sayangg.. sedott teruss di keelleennittnyaa.. ohh.. Linda.. saya keluarr.. Ohh, nikmatt," aku betul-betul mencapai puncak orgasme.
Maka aku pun segera seperti memiliki tanggungjawab untuk mengantar Linda mencapai puncak kenikmatannya. Segeralah saya melakukan apa yang telah diberikan Linda kepadaku. Kocokan jariku di memeknya kupercepat, dengan sekali berguling kini tubuhku berada di atas tubuh Linda, dengan begitu maka aku lebih mudah lagi untuk menggigit-gigit kelentitnya dengan gemas.
"Ohh.. Teh Tarsihh.. enak sekalii.. ohh aahh.. ohh aahh.. ohh aahh..," desahnya seirama genjotan jariku di memeknya, "Terus.. Teh Tarsih teruss.. jangan berhenti.. entot terus.. ohh aahh.. ohh aahh.. ohh aahh.. ohh..," akhirnya lenguhan panjang terdengar begitu keras, Linda mencapai orgasme ditandai tubuhnya yang tadi tegang kini melemas dan pasrah tak berdaya. Kami pun akhirnya terlentang di ranjang mengenang kenikmatan yang baru saja teralami.
Masih tanpa sepengetahuan kami, Komar ternyata meneruskan kegiatan mengocok kontolnya sendiri di balik pintu kamar yang terbuka. Meskipun tak terlalu dekat, ia bisa melihat adegan kami dengan leluasa, termasuk dengan jelas mendengarkan ocehan dan lenguhan kami. Dengan bantuan ludahnya yang berkali-kali diulaskan ke tangannya ia mengocok kontolnya yang sudah super tegang, hingga mengalami orgasme bersamaan dengan orgasmenya Linda. Tak ayal spermanya berceceran di mulut pintu kamarku. Setelah itu Komar cepat-cepat berlalu karena mungkin takut ketahuan.
Sementara sambil melepas lelah dengan tubuh kami yang masih telanjang, Linda memilin-pilin puting susuku.
"Susu Teh Tarsih ini merangsang sekali.. aku pun ingin punya susu sebesar ini," katanya dengan gemas.
"Ah, kamu ini Linda..," jawabku merasa tersanjung.
"Betul, Teh Tarsih.. pantat dan memek Teh Tarsih pun asyik sekali," kata Linda pula.
"Ah, nggak begitu, buktinya Amri meninggalkanku," kataku merendah.
"Itulah anehnya.. memek, pantat, dan payudara sebegini bagus, kok ditinggal begitu saja?" tanya Linda.
"Eh, apa Linda sudah sering main dengan sesama perempuan?" tanyaku penasaran.
"Yaa.. Teh Tarsih ini ketinggalan zaman.. Kawan-kawan kita di fitness sudah semuanya mengalami ini.. tapi kami sama-sama masih menikmati pula hubungan kelamin dengan laki-laki. Istilahnya bi-sex, Teh Tarsih," jelas Linda.
"Bi-sex, jadi main dengan perempuan OK dan dengan laki-laki pun OK?" tanyaku masih dengan nada bloon.
"Ya, begitu, malah pernah dilakukan secara bersamaan," jawab Linda cepat.
"Main dengan laki-laki sekaligus dengan perempuan? Oh, kayaknya asyik.. aku sih yang begini saja baru pertama.. gimana bisa begitu, Linda?" tanyaku semakin penasaran.
"Wah, dengan tubuh Teh Tarsih yang masih sintal sih gampang saja, sebentar keluar pun akan didapat pasangan.. malah bisa lebih dari satu. Buktinya Si Lily yang gemuk itu, hampir tiap minggu ganti-ganti pasangan..," jawab Linda dengan santainya.
"Si Lily teman kita yang Chinese yang baik hati itu?" tanyaku dengan perasaan semakin ketinggalan zaman.
"Betul, eh, Teh Tarsih mau coba? Kalau mau saya antar?" tanya Linda.
Ingat lagi kepada kesepianku yang berlarut berbulan-bulan, tentu saja ajakan Linda ini membuatku bergejolak meski terasa teramat menegangkan.
"Aku berselingkuh dengan laki-laki lain?" demikian pertanyaanku berulang-ulang muncul di kepala. Tapi sementara itu pula aku tak bisa memungkiri kebutuhan dan dorongan sexualku yang sudah tak tertahankan lagi.
"Boleh juga, sih!" jawabku singkat.
"Nah, kalau mau kita atur, deh.. tenang saja.. dijamin kita akan main dengan laki-laki yang clean.. aku pun nggak mau sembarangan Teh Tarsih," tegas Linda.
Setelah itu kami bergegas mandi bersama-sama di kamar mandi yang ada di kamarku. Berias sedikit, memakai lagi pakaian, dan segera meninggalkan kamar untuk memulai perburuan. Tiba di mulut pintu, kakiku yang belum bersepatu menginjak lendir cairan kental. Begitu dicolek kami pun segera tahu bahwa itu adalah cairan sperma yang belum mengering. Aku dan Linda saling pandang dan sempat risih, tapi kemudian tertawa cekikikan. Segera pula aku bisa menduga bahwa itu spermanya Komar. Ini akan menjadi cerita tersendiri, sementara ini aku sudah tidak sabar lagi ingin menjalani petualangan bersama Linda.
Tamat
Lihat Koleksi Bugil Lengkap..
Tampilkan postingan dengan label Masturbasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Masturbasi. Tampilkan semua postingan
Diantara Dua Kenikmatan
17.58, Posted by admin, No Comment
Mungkin ada baiknya apabila aku memperkenalkan diriku terlebih dahulu. Namaku Ivy, aku adalah seorang gadis berusia 19 tahun yang tinggal di kota Bandung. Ini adalah untuk pertama kalinya aku menulis artikel, jadi mohon maaf apabila tulisanku disini masih kacau.
Aku akan menceritakan salah satu pengalaman pribadiku yang tidak pernah terlupakan seumur hidupku. Mungkin apabila aku dikatakan lesbi agak kurang tepat, karena selama ini aku masih tertarik dengan pria. Tapi ada satu keanehan dalam sifatku yang terkadang terangsang ketika melihat sesama jenis, apalagi apabila ia memakai baju yang ketat, atau baju yang sedikit transparan.
Aku memiliki seorang kekasih yang berinisial W. Aku menjalin hubungan dengannya sejak bangku SMA. Hubunganku dengannya sebenarnya belum terlalu jauh. Paling jauh kami hanya melakukan petting dengan masih mengenakan pakaian dalam. Tapi dalam hal yang satu ini seringkali aku tidak terpuaskan. Kekasihku selalu 'keluar' sebelum aku sempat mengalami orgasme.
Singkat cerita, aku menjadi bosan dan mulai mencari-cari pelampiasan. Pada awalnya, ketika suatu malam, kekasihku baru saja pulang dari rumahku setelah kami melakukan petting. Dan seperti biasanya, Ia sudah 'keluar' sebelum sempat aku mengalami orgasme. Malam itu aku begitu kesal. Sampai akhirnya ketika aku sedang tidur-tiduran, dan perasaan itu datang kembali. Horny yang amat sangat. Tanpa kusadari, aku memulai berfantasi tentang hubungan seksual bersama seorang pria kekar, yang begitu jantan dan dapat membuatku orgasme sampai berkali-kali.
Tanpa kusadari tanganku mulai meremas-remas buah dadaku sendiri. Aku sangat terangsang saat itu. Aku sendiri sebenarnya tidak menginginkan untuk bermasturbasi, tetapi dorongan itu sangat kuat, aku hanya merasakan sebuah kenikmatan baru. Sambil terus berfantasi, aku mulai membuka baju kaosku sampai aku hanya menggunakan BH dan celana dalam saja (aku mempunyai kebiasaan hanya memakai kaos tanpa celana apabila aku sedang berada di rumah). Aku meremas-remas, mengelus-elus lembut payudaraku, sambil sesekali memainkan puting susuku. Nafasku mulai tak teratur, tangan kananku mulai bergerak ke bawah, menelusuri perutku, lalu berhenti sebentar di daerah pusarku, lalu memainkannya sebentar, lalu kulanjutkan lagi kebawah, mengelus-elus lembut bagian kemaluanku yang masih tertutup celana dalamku yang berwarna putih dan terbuat dari katun itu. Aku merasakan rangsangan yang belum pernah kurasakan sebelumnya sekalipun dengan kekasihku sendiri.
Setelah bermain cukup lama di atas celana dalamku, aku mulai meraba-raba masuk ke dalam celana dalamku. Kuelus lembut rambut-rambut halusku yang selama ini rajin kucukur. Kumainkan klitorisku yang sejak tadi sudah menonjol. Kurasakan kelembaban kemaluanku yang sedari tadi sudah terangsang. Aku menggesek-gesekkan jariku di klitorisku. Sampai tubuhku bergetar tak karuan. Ketika aku mulai memainkan bibir kemaluanku, begitu terkejutnya aku ketika tiba-tiba pintu kamarku dibuka dengan cepat, dan ternyata sahabatku yang berinisial S. Betapa terkejut dan malunya aku saat itu karena pada saat itu aku sedang dalam posisi terlentang di tempat tidur dengan hanya menggunakan celana dalam dan bra yang sudah tersingkap, ditambah posisi tangan kananku yang berada di dalam celana dalamku sendiri. Begitu juga S, ia hanya berdiri kaku dan tak berkata sepatah kata pun.
S adalah seorang gadis bertubuh ideal, sampai kadang-kadang aku iri dengan tubuhnya itu. Pinggulnya yang besar, buah dadanya yang ideal (34B) dengan tinggi tubuh sekitar 160 cm, perut langsing. Cukup membuat iri para gadis yang melihatnya.
Setelah beberapa detik kami saling membisu, akhirnya ia memecahkan suasana dengan senyum nakalnya sambil berkata, "Lagi Ngapain Vy?"
Aku hanya dapat menjawab dengan terbata-bata, "Eng.. ngg.. ngga ngapa-ngapain kok.."
Dia hanya membalas ucapanku dengan tersenyum nakal sambil menghampiri tubuhku yang sedang terlentang dan setengah telanjang. Tanpa berkata apa-apa ia mulai mengelus-elus buah dadaku.
Aku sempat tersentak kaget tapi ia berkata, "Santai aja, tadi belom puas ya?"
Aku pada awalnya masih risih ketika ia memulainya, tapi entah mengapa aku hanya diam saja keenakan menerima elusan-elusannya itu. Ia mulai membuka BH-ku dan mulai mencium lembut kedua buah dadaku. Tidak lama kemudian aku sudah terangsang dibuatnya, nafasku mulai tak teratur.
Setelah beberapa menit ia mencium dan menjilati kedua buah dadaku, ia mulai membuka celana dalamku. Ia mulai menjilati mulai dari ibu jari kakiku, naik terus ke betis, ke paha, sampai pangkal pahaku. Menerima perlakuannya itu aku benar-benar terangsang. Badanku mulai gelisah, bergerak ke kiri-kanan mengimbangi jilatan-jilatannya. Ia berhenti sejenak, lalu ia berdiri dan mulai membuka pakaiannya. Ketika itu pula aku melihat kedua buah dadanya yang putih kencang, dan puting susunya yang berwarna coklat muda. Seketika itu juga tanpa kusadari aku jadi tambah terangsang. Terlebih-lebih ketika ia membuka celana dalamnya. Oh, yang kurasakan pada saat itu darahku berdesir dari jantungku menuju kemaluanku yang membuat kemaluanku terasa berdenyut-denyut dibuatnya.
Setelah selesai membuka seluruh pakaiannya, ia kembali naik ke atas tempat tidurku dan kembali menjilati pangkal pahaku sambil sesekali meremas payudaraku. Lalu ia mulai menjilati bibir kemaluanku yang membuatku seperti tersetrum arus listrik, badanku mulai mengejang kenikmatan. Ia menjilati bibir kemaluanku cukup lama sampai ia akhirnya mulai menjilati klitorisku sambil sesekali menggigit kecil klitorisku yang membuatku berkelonjotan.
Setelah agak lama Ia mulai mencoba memasukkan jarinya ke dalam lubang kewanitaanku yang sudah basah itu. Ia memutar-mutar jari tengahnya di mulut liang kewanitaanku beberapa kali sampai akhirnya ia memasukkan jari tengahnya ke dalam liang kewanitaanku dengan perlahan. Leguhan kenikmatan pun keluar dari bibir tipisku. Ia mulai menggerak-gerakkan jari tengahnya maju-mundur dengan irama yang semakin lama semakin cepat. "Ahh.." suara desahan kenikmatan pun tak kuasa kubendung untuk keluar dari bibirku ini. Semakin dalam ia memasukkan jarinya ke liang kewanitaanku, semakin tak kuasa diriku menahan kenikmatan itu sampai akhirnya seluruh tubuhku seperti dialiri suatu hawa kenikmatan yang berpusat pada vaginaku dan menjalar ke seluruh tubuhku. Jeritan yang tertahan disertai tubuh yang menggelinjang kenikmatan hanya dapat kutahan dengan memagut bibir tipisku sambil mencengkram erat bed cover ranjangku. Sungguh suatu perasaan yang sangat luar biasa. Aku hanya terkulai lemas walaupun dalam hati kecil ini masih mengharapkan untuk yang selanjutnya.
Melihat diriku sudah mencapai orgasme, S pun mulai mengarahkan tanganku ke arah buah dadanya yang putih mulus itu. Aku pun langsung menyambutnya dengan elusan-elusan lembut di sekeliling puting susunya, secara perlahan-lahan kuusap, terus ke arah tengah buah dadanya, sampai akhirnya kuusap lembut kedua puting susunya yang sudah menegang sedari tadi. Kukulum kedua jari telunjukku, kubasahi dengan ludahku, lalu kuteruskan memberikan stimulasi di kedua puting susunya. Leguhan yang keluar dari bibirnya semakin membuatku terangsang untuk memberinya stimulasi yang lebih hebat. Lalu aku pun duduk tepat di depannya dan mulai menjilati daun telinga kirinya sambil tetap kedua tanganku memberikan stimulasi di kedua buah dadanya. Kujilat sambil sesekali kugigit-gigit kecil daun telinganya, sambil terus turun ke arah leher, pundak, lalu ke tengah-tengah antara kedua buah dadanya, lalu menuju ke arah buah dadanya yang sebelah kiri. Kujilat terus sampai menuju puting susunya. Lalu aku berhenti di sana, kujilat, kumainkan lidahku di sana sambil sesekali kuhisap dan kugigit-gigit kecil.
Tubuhnya pun mulai terlihat berkeringat, gerakan-gerakannya semakin gelisah sambil menggigit bibir bawahnya, suara leguhan dan desahan pun tak urung keluar dari bibirnya itu. Setelah itu aku menuju ke arah buah dadanya yang sebelah kanan, kulakukan persis sama seperti ketika kustimulasi buah dadanya yang sebelah kiri. Setelah cukup lama lidahku pun mulai bergerak turun ke arah perutnya yang langsing dan putih mulus, terus ke bawah sampai ke pusarnya. Lalu kujilat-jilat pusarnya yang mengakibatkan tubuhnya semakin berkeringat dan berkelonjotan. Dari pusar aku meneruskan lidahku ke bawah, ke arah kemaluannya. Kujilat lembut rambut-rambut kemaluannya, lalu lidahku kuarahkan ke pangkal pahanya. Kucium-cium lembut pangkal pahanya yang membuatnya kegelian. Kusentuh dengan jariku bibir kemaluannya yang sudah basah oleh cairan pelumas yang dikeluarkan oleh vaginanya akibat rangsangan-rangsangan yang tadi kuberikan. Kugesek-gesekkan jariku di sana. Leguhan yang keluar dari bibirnya pun semakin menjadi-jadi mengimbangi semakin banyaknya pula cairan yang keluar dari kemaluannya.
Setelah agak lama jariku kugesek-gesekkan bibir kemaluannya, dengan suaranya yang mendesah, ia pun memintaku untuk menjilati liang kewanitaannya. Tanpa berpikir panjang, aku pun mulai menjilati bibir kemaluannya walaupun saat itulah untuk pertama kalinya aku menjilat bibir kemaluan seorang wanita. Leguhan dan desah nafasnya semakin memburu. Lalu dengan kedua jariku, kutarik lipatan vaginanya ke atas sampai dapat kulihat klitorisnya yang berwarna pink itu, lalu kujilat-jilat dan kuhisap lembut. Tetesan keringatnya pun semakin membasahi tubuh indahnya itu.
Lalu ia menarik tubuhku dan mengajakku untuk membentuk posisi 69 dengan posisiku yang berada di atas. Terus terang, pada saat menstimulasinya kemaluanku pun sudah sangat basah akibat terangsang hebat, walaupun ini adalah untuk pertama kalinya aku berhubungan dengan sejenis. Sambil menjilati klitorisku ia memasukan jari tengahnya ke dalam liang kemaluanku yang sudah basah itu dan menggerak-gerakkan jarinya maju-mundur. Menerima perlakuan itu membuat diriku pun tidak mau kalah dan terus menstimulasi kemaluannya semakin hebat.
Tak lama kemudian tubuhnya terlihat mengejang menandakan orgasmenya telah tiba. Ia menghentikan kegiatannya menstimulasi kemaluanku dan mendekap pinggulku erat sambil meremas kedua pantatku disertai leguhan panjang nikmat dari bibirnya. Dengan nafas yang masih terengah-engah lalu ia menyuruhku mengganti posisi membentuk posisi menyerupai huruf X, dimana kemaluan kami bertemu di tengah-tengah. Kami pun seakan telah terbiasa dengan posisi tersebut mulai menggerak-gerakkan pinggang kami hingga kemaluan kami saling bergesekan satu sama lain. Sensasi rasa yang ditimbulkannya sangat luar biasa. Nafas kami berdua semakin memburu mengimbangi gesekan-gesekan di kemaluan kami yang semakin lama semakin cepat. Posisi ini kami lakukan sambil ia menjilat-jilat telapak kakiku, lalu ia pun mengisap-isap jari-jari kakiku yang menambah rangsangan di tubuhku.
Setelah sekitar 10 menit kami dalam posisi itu, aku pun berteriak dengan nafas yang terengah-engah dan memberitahukannya bahwa aku sebentar lagi keluar karena aku merasakan kemaluanku seperti berdenyut-denyut. Ia pun membalas dengan menjawab bahwa ia pun sebentar lagi akan keluar dan mengusulkan untuk mengeluarkannya bersama-sama. Dalam hitungan detik tubuh kami menggelinjang secara bersamaan tersengat hawa kenikmatan yang menjalar di tubuh kami berdua sampai akhirnya kami berdua terkulai lemas di atas ranjangku dengan nafas terengah-engah dan ranjang yang membasah terkena keringat kami berdua.
Setelah nafas kami mulai normal, dengan tubuh masih telanjang ia memeluk lembut tubuhku lalu mengecup bibirku dengan lembut, lalu setelah itu ia mengecup keningku sambil berkata, "Vy, kamu hebat! makasih ya.."
Cukup lama kami tiduran sambil berpelukan sampai akhirnya ia memutuskan untuk menelepon rumahnya dan memberitahukan bahwa ia akan menginap di rumahku. Malam itu kami tidur bersama di bawah satu selimut tanpa mengenakan selembar benang pun di tubuh. Sampai sekarang pun ia masih sering menginap di rumahku dan kami pun sering melakukannya dengan berbagai posisi dan variasi. Pernah juga S datang dan membawa sebuah dlido (penis mainan) yang bervibrator sepanjang 20 cm dengan diameter 3 cm dan kami pun sempat bermain-main dengan alat itu. Sekarang ini sudah sekitar 2 minggu kami tidak berkomunikasi lagi. Ia sibuk dengan kegiatannya sendiri dan begitu juga denganku.
Tamat
Lihat Koleksi Bugil Lengkap..
Aku akan menceritakan salah satu pengalaman pribadiku yang tidak pernah terlupakan seumur hidupku. Mungkin apabila aku dikatakan lesbi agak kurang tepat, karena selama ini aku masih tertarik dengan pria. Tapi ada satu keanehan dalam sifatku yang terkadang terangsang ketika melihat sesama jenis, apalagi apabila ia memakai baju yang ketat, atau baju yang sedikit transparan.
Aku memiliki seorang kekasih yang berinisial W. Aku menjalin hubungan dengannya sejak bangku SMA. Hubunganku dengannya sebenarnya belum terlalu jauh. Paling jauh kami hanya melakukan petting dengan masih mengenakan pakaian dalam. Tapi dalam hal yang satu ini seringkali aku tidak terpuaskan. Kekasihku selalu 'keluar' sebelum aku sempat mengalami orgasme.
Singkat cerita, aku menjadi bosan dan mulai mencari-cari pelampiasan. Pada awalnya, ketika suatu malam, kekasihku baru saja pulang dari rumahku setelah kami melakukan petting. Dan seperti biasanya, Ia sudah 'keluar' sebelum sempat aku mengalami orgasme. Malam itu aku begitu kesal. Sampai akhirnya ketika aku sedang tidur-tiduran, dan perasaan itu datang kembali. Horny yang amat sangat. Tanpa kusadari, aku memulai berfantasi tentang hubungan seksual bersama seorang pria kekar, yang begitu jantan dan dapat membuatku orgasme sampai berkali-kali.
Tanpa kusadari tanganku mulai meremas-remas buah dadaku sendiri. Aku sangat terangsang saat itu. Aku sendiri sebenarnya tidak menginginkan untuk bermasturbasi, tetapi dorongan itu sangat kuat, aku hanya merasakan sebuah kenikmatan baru. Sambil terus berfantasi, aku mulai membuka baju kaosku sampai aku hanya menggunakan BH dan celana dalam saja (aku mempunyai kebiasaan hanya memakai kaos tanpa celana apabila aku sedang berada di rumah). Aku meremas-remas, mengelus-elus lembut payudaraku, sambil sesekali memainkan puting susuku. Nafasku mulai tak teratur, tangan kananku mulai bergerak ke bawah, menelusuri perutku, lalu berhenti sebentar di daerah pusarku, lalu memainkannya sebentar, lalu kulanjutkan lagi kebawah, mengelus-elus lembut bagian kemaluanku yang masih tertutup celana dalamku yang berwarna putih dan terbuat dari katun itu. Aku merasakan rangsangan yang belum pernah kurasakan sebelumnya sekalipun dengan kekasihku sendiri.
Setelah bermain cukup lama di atas celana dalamku, aku mulai meraba-raba masuk ke dalam celana dalamku. Kuelus lembut rambut-rambut halusku yang selama ini rajin kucukur. Kumainkan klitorisku yang sejak tadi sudah menonjol. Kurasakan kelembaban kemaluanku yang sedari tadi sudah terangsang. Aku menggesek-gesekkan jariku di klitorisku. Sampai tubuhku bergetar tak karuan. Ketika aku mulai memainkan bibir kemaluanku, begitu terkejutnya aku ketika tiba-tiba pintu kamarku dibuka dengan cepat, dan ternyata sahabatku yang berinisial S. Betapa terkejut dan malunya aku saat itu karena pada saat itu aku sedang dalam posisi terlentang di tempat tidur dengan hanya menggunakan celana dalam dan bra yang sudah tersingkap, ditambah posisi tangan kananku yang berada di dalam celana dalamku sendiri. Begitu juga S, ia hanya berdiri kaku dan tak berkata sepatah kata pun.
S adalah seorang gadis bertubuh ideal, sampai kadang-kadang aku iri dengan tubuhnya itu. Pinggulnya yang besar, buah dadanya yang ideal (34B) dengan tinggi tubuh sekitar 160 cm, perut langsing. Cukup membuat iri para gadis yang melihatnya.
Setelah beberapa detik kami saling membisu, akhirnya ia memecahkan suasana dengan senyum nakalnya sambil berkata, "Lagi Ngapain Vy?"
Aku hanya dapat menjawab dengan terbata-bata, "Eng.. ngg.. ngga ngapa-ngapain kok.."
Dia hanya membalas ucapanku dengan tersenyum nakal sambil menghampiri tubuhku yang sedang terlentang dan setengah telanjang. Tanpa berkata apa-apa ia mulai mengelus-elus buah dadaku.
Aku sempat tersentak kaget tapi ia berkata, "Santai aja, tadi belom puas ya?"
Aku pada awalnya masih risih ketika ia memulainya, tapi entah mengapa aku hanya diam saja keenakan menerima elusan-elusannya itu. Ia mulai membuka BH-ku dan mulai mencium lembut kedua buah dadaku. Tidak lama kemudian aku sudah terangsang dibuatnya, nafasku mulai tak teratur.
Setelah beberapa menit ia mencium dan menjilati kedua buah dadaku, ia mulai membuka celana dalamku. Ia mulai menjilati mulai dari ibu jari kakiku, naik terus ke betis, ke paha, sampai pangkal pahaku. Menerima perlakuannya itu aku benar-benar terangsang. Badanku mulai gelisah, bergerak ke kiri-kanan mengimbangi jilatan-jilatannya. Ia berhenti sejenak, lalu ia berdiri dan mulai membuka pakaiannya. Ketika itu pula aku melihat kedua buah dadanya yang putih kencang, dan puting susunya yang berwarna coklat muda. Seketika itu juga tanpa kusadari aku jadi tambah terangsang. Terlebih-lebih ketika ia membuka celana dalamnya. Oh, yang kurasakan pada saat itu darahku berdesir dari jantungku menuju kemaluanku yang membuat kemaluanku terasa berdenyut-denyut dibuatnya.
Setelah selesai membuka seluruh pakaiannya, ia kembali naik ke atas tempat tidurku dan kembali menjilati pangkal pahaku sambil sesekali meremas payudaraku. Lalu ia mulai menjilati bibir kemaluanku yang membuatku seperti tersetrum arus listrik, badanku mulai mengejang kenikmatan. Ia menjilati bibir kemaluanku cukup lama sampai ia akhirnya mulai menjilati klitorisku sambil sesekali menggigit kecil klitorisku yang membuatku berkelonjotan.
Setelah agak lama Ia mulai mencoba memasukkan jarinya ke dalam lubang kewanitaanku yang sudah basah itu. Ia memutar-mutar jari tengahnya di mulut liang kewanitaanku beberapa kali sampai akhirnya ia memasukkan jari tengahnya ke dalam liang kewanitaanku dengan perlahan. Leguhan kenikmatan pun keluar dari bibir tipisku. Ia mulai menggerak-gerakkan jari tengahnya maju-mundur dengan irama yang semakin lama semakin cepat. "Ahh.." suara desahan kenikmatan pun tak kuasa kubendung untuk keluar dari bibirku ini. Semakin dalam ia memasukkan jarinya ke liang kewanitaanku, semakin tak kuasa diriku menahan kenikmatan itu sampai akhirnya seluruh tubuhku seperti dialiri suatu hawa kenikmatan yang berpusat pada vaginaku dan menjalar ke seluruh tubuhku. Jeritan yang tertahan disertai tubuh yang menggelinjang kenikmatan hanya dapat kutahan dengan memagut bibir tipisku sambil mencengkram erat bed cover ranjangku. Sungguh suatu perasaan yang sangat luar biasa. Aku hanya terkulai lemas walaupun dalam hati kecil ini masih mengharapkan untuk yang selanjutnya.
Melihat diriku sudah mencapai orgasme, S pun mulai mengarahkan tanganku ke arah buah dadanya yang putih mulus itu. Aku pun langsung menyambutnya dengan elusan-elusan lembut di sekeliling puting susunya, secara perlahan-lahan kuusap, terus ke arah tengah buah dadanya, sampai akhirnya kuusap lembut kedua puting susunya yang sudah menegang sedari tadi. Kukulum kedua jari telunjukku, kubasahi dengan ludahku, lalu kuteruskan memberikan stimulasi di kedua puting susunya. Leguhan yang keluar dari bibirnya semakin membuatku terangsang untuk memberinya stimulasi yang lebih hebat. Lalu aku pun duduk tepat di depannya dan mulai menjilati daun telinga kirinya sambil tetap kedua tanganku memberikan stimulasi di kedua buah dadanya. Kujilat sambil sesekali kugigit-gigit kecil daun telinganya, sambil terus turun ke arah leher, pundak, lalu ke tengah-tengah antara kedua buah dadanya, lalu menuju ke arah buah dadanya yang sebelah kiri. Kujilat terus sampai menuju puting susunya. Lalu aku berhenti di sana, kujilat, kumainkan lidahku di sana sambil sesekali kuhisap dan kugigit-gigit kecil.
Tubuhnya pun mulai terlihat berkeringat, gerakan-gerakannya semakin gelisah sambil menggigit bibir bawahnya, suara leguhan dan desahan pun tak urung keluar dari bibirnya itu. Setelah itu aku menuju ke arah buah dadanya yang sebelah kanan, kulakukan persis sama seperti ketika kustimulasi buah dadanya yang sebelah kiri. Setelah cukup lama lidahku pun mulai bergerak turun ke arah perutnya yang langsing dan putih mulus, terus ke bawah sampai ke pusarnya. Lalu kujilat-jilat pusarnya yang mengakibatkan tubuhnya semakin berkeringat dan berkelonjotan. Dari pusar aku meneruskan lidahku ke bawah, ke arah kemaluannya. Kujilat lembut rambut-rambut kemaluannya, lalu lidahku kuarahkan ke pangkal pahanya. Kucium-cium lembut pangkal pahanya yang membuatnya kegelian. Kusentuh dengan jariku bibir kemaluannya yang sudah basah oleh cairan pelumas yang dikeluarkan oleh vaginanya akibat rangsangan-rangsangan yang tadi kuberikan. Kugesek-gesekkan jariku di sana. Leguhan yang keluar dari bibirnya pun semakin menjadi-jadi mengimbangi semakin banyaknya pula cairan yang keluar dari kemaluannya.
Setelah agak lama jariku kugesek-gesekkan bibir kemaluannya, dengan suaranya yang mendesah, ia pun memintaku untuk menjilati liang kewanitaannya. Tanpa berpikir panjang, aku pun mulai menjilati bibir kemaluannya walaupun saat itulah untuk pertama kalinya aku menjilat bibir kemaluan seorang wanita. Leguhan dan desah nafasnya semakin memburu. Lalu dengan kedua jariku, kutarik lipatan vaginanya ke atas sampai dapat kulihat klitorisnya yang berwarna pink itu, lalu kujilat-jilat dan kuhisap lembut. Tetesan keringatnya pun semakin membasahi tubuh indahnya itu.
Lalu ia menarik tubuhku dan mengajakku untuk membentuk posisi 69 dengan posisiku yang berada di atas. Terus terang, pada saat menstimulasinya kemaluanku pun sudah sangat basah akibat terangsang hebat, walaupun ini adalah untuk pertama kalinya aku berhubungan dengan sejenis. Sambil menjilati klitorisku ia memasukan jari tengahnya ke dalam liang kemaluanku yang sudah basah itu dan menggerak-gerakkan jarinya maju-mundur. Menerima perlakuan itu membuat diriku pun tidak mau kalah dan terus menstimulasi kemaluannya semakin hebat.
Tak lama kemudian tubuhnya terlihat mengejang menandakan orgasmenya telah tiba. Ia menghentikan kegiatannya menstimulasi kemaluanku dan mendekap pinggulku erat sambil meremas kedua pantatku disertai leguhan panjang nikmat dari bibirnya. Dengan nafas yang masih terengah-engah lalu ia menyuruhku mengganti posisi membentuk posisi menyerupai huruf X, dimana kemaluan kami bertemu di tengah-tengah. Kami pun seakan telah terbiasa dengan posisi tersebut mulai menggerak-gerakkan pinggang kami hingga kemaluan kami saling bergesekan satu sama lain. Sensasi rasa yang ditimbulkannya sangat luar biasa. Nafas kami berdua semakin memburu mengimbangi gesekan-gesekan di kemaluan kami yang semakin lama semakin cepat. Posisi ini kami lakukan sambil ia menjilat-jilat telapak kakiku, lalu ia pun mengisap-isap jari-jari kakiku yang menambah rangsangan di tubuhku.
Setelah sekitar 10 menit kami dalam posisi itu, aku pun berteriak dengan nafas yang terengah-engah dan memberitahukannya bahwa aku sebentar lagi keluar karena aku merasakan kemaluanku seperti berdenyut-denyut. Ia pun membalas dengan menjawab bahwa ia pun sebentar lagi akan keluar dan mengusulkan untuk mengeluarkannya bersama-sama. Dalam hitungan detik tubuh kami menggelinjang secara bersamaan tersengat hawa kenikmatan yang menjalar di tubuh kami berdua sampai akhirnya kami berdua terkulai lemas di atas ranjangku dengan nafas terengah-engah dan ranjang yang membasah terkena keringat kami berdua.
Setelah nafas kami mulai normal, dengan tubuh masih telanjang ia memeluk lembut tubuhku lalu mengecup bibirku dengan lembut, lalu setelah itu ia mengecup keningku sambil berkata, "Vy, kamu hebat! makasih ya.."
Cukup lama kami tiduran sambil berpelukan sampai akhirnya ia memutuskan untuk menelepon rumahnya dan memberitahukan bahwa ia akan menginap di rumahku. Malam itu kami tidur bersama di bawah satu selimut tanpa mengenakan selembar benang pun di tubuh. Sampai sekarang pun ia masih sering menginap di rumahku dan kami pun sering melakukannya dengan berbagai posisi dan variasi. Pernah juga S datang dan membawa sebuah dlido (penis mainan) yang bervibrator sepanjang 20 cm dengan diameter 3 cm dan kami pun sempat bermain-main dengan alat itu. Sekarang ini sudah sekitar 2 minggu kami tidak berkomunikasi lagi. Ia sibuk dengan kegiatannya sendiri dan begitu juga denganku.
Tamat
Lihat Koleksi Bugil Lengkap..