Navigation


RSS : Articles / Comments


Tampilkan postingan dengan label Cerita Seks Daun Muda. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita Seks Daun Muda. Tampilkan semua postingan

Farewell to Diana

22.34, Posted by admin, No Comment

Setengah tahun berlalu setelah malam nikmat bersama Diana dan Sinta, seiring dengan waktu dan kesibukan kuliah, perasaanku berangsur-angsur mulai normal kembali. Tak terasa akhirnya tiba saatnya berpisah dengan Diana, gadis yang kuanggap kakakku sendiri, dia telah diwisuda dan bersiap-siap akan kembali ke kota asalnya di Pontianak. Dua tahun lebih aku telah dekat dengannya sehingga perpisahan ini terasa cukup berat bagiku. Sebenarnya nasib Diana ini agak menyedihkan, ketika SMA kelas 2 ayahnya meninggal dunia, dia hidup bersama ibunya yang membuka restoran di kotanya, untunglah kakaknya sudah mendapat pekerjaan bagus di Singapore sehingga kehidupan mereka sekarang cukup baik dan cukup baginya untuk biaya kuliah di salah satu PTS favorit di Jakarta.

Setelah pacarnya lulus dan ke luar negeri, tinggal dia sendirian, sifatnya yang dingin membuatnya kurang banyak teman selain aku, Sinta, Vivi, dan beberapa orang lainnya. Siang itu itu, aku ke kamarnya ingin memberikan bingkisan kecil sebagai kenang-kenangan. Pintu kamarnya sedikit terbuka dan dia sedang bicara melalui HP-nya, setelah aku masuk dia mengisyaratkan agar aku menutup kembali pintu kamar. Kutunggu hingga dia selesai berbicara, nada pembicaraannya agak tidak enak, kupikir pasti dia sedang ribut dengan pacarnya.

“Eh Le, nggak kuliah kamu?” tanyanya begitu mematikan HP.
“Udah kok Ci, baru aja pulang hari ini kuliah cuma sampai jam 10 kok, yah sekalian pulang kuliah beliin ini buat Cici, terima yah Ci, ini dari gua dan Vivi,” jawabku sambil menyerahkan bungkusan kecil padanya.
“Aduh, thanks banget Le, jadi ngerepotin nih, boleh dibuka sekarang nggak?”
“Jangan Ci, mending entar aja di pesawat atau di rumah Cici, biar penasaran gitu.”
“Le, Cici juga ada permintaan terakhir, kamu mau bantu Cici kan,” katanya.
“Kita kan sudah seperti saudara gini Ci, kalau ada apa-apa ngomong aja, gua pasti sebisa mungkin ngebantu!”
“Eh, tapi itu pintunya tolong ditutup rapat dulu dong anginnya masuk nih, kalau perlu kunci saja dulu!”

Entah mengapa meskipun agak heran kuturuti juga perkataannya. Begitu pintu kukunci, kurasakan dia memelukku dari belakang dan mengelus dadaku.

“Leo, kamu ingat kan malam ketika menyelamatkan Cici dari bajingan?” tanyanya mesra.
“Inget.. inget dong.. eh.. apa, jadi maksud Cici, Cici mau melakukan itu lagi?”
Belum habis rasa kagetku elusannya di dada merambat turun ke bagian vitalku yang masih tertutup celana.
“Ci jangan gitu, gua kan nggak enak nih!” kataku malu-malu mau.
Lalu dia menggandengku ke meja belajarnya, sebenarnya dalam hati aku sudah tidak enak, namun apa daya nafsu berkata lain, dia duduk di kursi dan menyuruhku tetap berdiri. Tanpa omong apa-apa lagi langsung dipelorotkannya celana pendekku sehingga benda dibaliknya yang sudah mengeras menyembul di hadapan wajahnya.
“Le, tolong ya, ini kan hari terakhir Cici di sini, Cici cuma minta ini saja sebagai kenangan, kamu mau kan?” sebelum aku mengiyakan dia langsung menjilati buah kemaluanku kemudian dimasukkannya batang kemaluanku ke mulut mungilnya dan diemut-emut. Aku hanya bisa merem melek saja menikmati permainan mulutnya. Senjataku tidak dapat seluruhnya masuk ke mulut mungilnya, karena cukup besar (17 cm ketika menegang). Dia sepertinya lebih lihai daripada saat pertama “ML” denganku dulu. Sentuhan bibir dan lidahnya, serta ludahnya yang hangat sungguh mendatangkan kenikmatan tersendiri, apalagi ketika kurasakan ujung kemaluanku yang sensitif menyentuh tenggorokannya.

Selama lebih dari 15 menit lebih benda itu tidak dilepaskan dari mulutnya, kini aku mulai mencapai klimaks, aku mengerang sambil menggigit bibir, “Uuhh.. Ci.. udah Ci, lepasin, mau keluar ahh..!” maniku tercurah di mulutnya, namun dia tetap tidak melepasnya, dari ekspresi wajahnya tampak dia berusaha keras menelan semua cairan itu, tetapi sebelum semprotan terakhir dia sudah tidak tahan lagi karena terlalu banyak dan.. “Creet..!” semburan terakhir itu mengenai hidungnya dan sisanya menetes di pinggir bibirnya. “Oh sial, gagal deh!” katanya sambil menepuk kening. Dia berdiri dan mengelap spermaku yang menyemprot di wajahnya. Dengan penuh hasrat dia langsung melumat bibirku, lidahnya beradu dengan ganas dengan lidahku, dapat kurasakan bau spermaku di mulutnya. Kududukan dia di tepi meja dan kunaikkan baju kaosnya, tanganku mulai menyusup ke balik BH-nya. Sedang asyik-asyiknya terbuai nafsu, tiba-tiba kami dikejutkan oleh suara ketukan pintu, “Din, Din, kamu di dalam? Ini gua, Sofi.” Hampir saja lidahku tergigit, dengan panik kami cepat-cepat merapikan pakaian kami, untung belum bugil total. “Le, Cici baru ingat sekarang ada janji, jam 5 nanti kamu jangan ke mana-mana yah, masih banyak yang mau Cici omongin,” dia bergegas membukakan pintu, ternyata tamu itu Sofi, teman kuliah Diana, orangnya cukup cantik juga walau agak kurus.

“Waduh, Din kok belum dandan juga nih, ayo dong, janjinya kan kita mau kumpul-kumpul terakhir sama lu, yang lain udah nunggu nih,” kata Sofi.

“Kan lu bilang jam satu, sekarang masih jam 12-an kok, santai aja lah, gua juga lagi beres-beres barang sisa nih.”
“Wah.. wah.. bandel yah lu, mentang-mentang si Hendy jauh, lu dua-duaan sama si Leo, ngapain aja yah,” goda Sofi padanya.
“Diam ah, dia cuma bantu beres-beres aja kok, dasar, ya udah kalo mau sekarang gua ganti baju dulu,” jawab Diana mencubit Sofi.
Sofi sempat mengajakku agar ikut bergabung dengan mereka, hanya saja aku menolak, kan tidak enak nanti aku jadi yang paling kecil di antara mereka, lagi pula Diana juga sudah berjanji malam terakhir ini akan mengadakan perpisahan bersama beberapa teman kost termasuk aku.

Setelah basa-basi sebentar, aku pamitan dan kembali ke kamarku. Kucoba melupakan apa yang baru saja kualami dengan menyalakan PS meneruskan game FF8-ku yang lagi seru-serunya. Aku sempat tidur siang sampai jam 4 lebih. Kulihat ke teras, sepertinya Diana belum pulang, begitu juga Sinta belakangan ini dia sering keluar karena Andry (pacarnya yang juga temanku yang belajar di UK) sedang pulang liburan, teman-teman kost lain juga tampaknya sibuk dengan urusan masing-masing. Setelah menelepon Vivi kulanjutkan game PS-ku. Kulihat wekerku menunjukkan 17:14, sudah lewat dari waktu yang dijanjikan Diana, sepertinya dia belum pulang atau lupa, tiba-tiba pintuku diketuk, “Masuk aja, nggak dikunci kok!” Baru saja aku memikirkannya Diana sudah muncul di depan pintu, tampaknya dia baru pulang karena masih memakai kaos ketat dan celana panjang yang tadi siang.
“Sori yah Le, Cici telat, dijalan macet banget sih.. hmm.. apa Cici mengganggu, kayaknya lagi seru mainnya.”
“Ahh.. ha.. ha.. nggak kok Ci, nggak apa-apa masuk aja!”

Aku lalu mematikan PS-ku. Dia lalu mengunci pintu dan mendekatiku. Baru saja aku mau berdiri mengambilkan minum, dia sudah memeluk sambil mendorongku ke belakang sehingga terjatuh di ranjang. Aku tidak bisa apa-apa selain menikmati “French Kiss” ini karena dia menindihku sambil mengelus-elus daerah kemaluanku. Aku pun tidak mau kalah, dengan gemas kuremas-remas payudara 36B-nya. Setelah beberapa menit, kami melepas pelukan, dia berdiri di pinggir ranjang dan mulai melucuti pakaiannya satu persatu. Sungguh aku terangsang dengan pemandangan di depanku ini, sehingga aku pun ikut membuka bajuku. Kami kini sudah bugil total. Dia meraih HP-ku dan mematikannya, aku heran kenapa dia berbuat begitu.

“Leo, tolong ya, Cici minta waktu sebentar, Cici nggak mau ada gangguan, kita lupakan sebentar pacar kita,” katanya sambil melepaskan kalung pemberian cowoknya yang masih tertinggal di tubuh polosnya.
“Tapi Ci..!” belum habis kata-kataku dia menempelkan dua jarinya ke bibirku.
“Jangan panggil Ci, panggil saja Din atau Diana, sekarang saya adalah kekasihmu, bukan seniormu.”
“Ci.. eh Din, kenapa kamu mau melakukan ini, kita kan udah punya pacar.”
Dia tidak menjawab hanya tersenyum manis sambil menarik tanganku ke meja belajar dan menyuruhku duduk di kursi.

Dia sendiri naik ke meja belajarku dan membuka kedua pahanya, lalu meraih kepalaku mendekati kemaluannya. Aku sudah tahu apa maunya, kusibakkan bulu-bulu lebat hingga terlihat lubang merah merekah di tengahnya. Kuciumi kemaluannya yang berbulu lebat dan halus itu, kusapu belahan di tengahnya dengan lidahku. Dia mendesah-desah sambil meremas-remas rambutku saat kujilati klistorisnya. Sesaat kemudian dia makin keras menjambak rambutku sambil menjerit kecil, “Aaahh.. gua keluar Le.. eemmhh!” tubuhnya menggelinjang dan mengucurlah cairan bening yang beraroma khas itu. Cukup banyak cairan cintanya yang keluar sampai tepi mejaku basah jadinya. Dia menahan kepalaku sambil meremasnya sementara kedua paha jenjang yang mulus itu mengapit kepalaku sehingga aku agak gelagapan. Setelah menikmati orgasme pertamanya itu, dia turun ke pangkuanku saling berhadapan, digenggamnya batang kemaluanku untuk dimasukkan ke dalam liang senggamanya, kalau saja tidak ada cairan tadi sebagai pelumas susah sekali memasukkan batangku ke dalam liang itu karena cukup sempit. Dengan penuh kesabaran aku membantunya memasukkan senjataku ke liang itu, ketika kepalanya sudah masuk kujilat dan kupijati payudaranya yang tepat di depan wajahku untuk menambah kenikmatan.

Sambil mendesah, dia perlahan-lahan menurunkan tubuhnya dan “Bless..!” kemaluannya menelan batangku seluruhnya. Dia mulai menaik-turunkan tubuhnya di pangkuanku sementara aku menjilati lehernya dan tanganku menggerayangi payudara montoknya. Mulutnya mengeluarkan rintihan tak karuan seperti orang mengigau, sepertinya dia berusaha menahan suaranya agar tidak sampai terdengar ke luar karena jam segini masih banyak penghuni kost lalu lalang di koridor. Bagian dalam kemaluannya semakin terasa basah dan hangat dan kurasakan senjataku berdenyut-denyut pertanda ingin keluar.
“Uuhh gua udah nggak kuat Din..!”

“Sama Le.. tahan bentar, tembak aja di dalam.”
Dia semakin histeris, goyangannya pun semakin gila ditambah gerakan memutar sehingga senjataku serasa disedot dan dipilin-pilin. Dan akhirnya inilah saat yang kutunggu, secara refleks pelukanku mengencang sambil memejamkan mata kurasakan air maniku menyembur banyak sekali dalam kemaluannya, demikian juga Diana saat itu matanya membeliak-beliak merasakan nikmatnya orgasme. Tubuhnya tersentak-sentak seperti cacing disiram garam, kukunya mengores lenganku sampai aku berteriak kecil, dan untuk meredam jeritannya kukulum bibirnya, tak kuhiraukan lagi sakitnya gigi kami berbenturan saat tubuhnya terguncang hebat dikala menikmati orgasme.

Kemudian aku membaringkannya di ranjang. Kuberikan kecupan lembut di bibirnya lalu merambat turun sampai ke pangkal paha. Aku berlutut di antara kedua paha mulus itu dan mengarahkan senjataku ke liang senggamanya. Kali ini sudah tidak terlalu sulit lagi menerobos liang itu karena sudah becek dan licin oleh cairan kewanitaannya bercampur air maniku. Senjataku perlahan-lahan menghilang ditelan kemaluannya diiringi oleh desisannya. Kumulai gerakan menarik dan mendorong, rintihannya makin menjadi-jadi sambil menggigiti jarinya “Le.. akhh.. ahh.. enak.. terus.. uuhh!” nafasnya sudah kacau, tubuhnya sudah basah oleh keringat, dan rambut panjangnya meskipun masih dalam keadaan terikat namun sudah kusut. Penampilannya yang seperti ini sungguh menambah gairahku menyetubuhinya. Sesaat kemudian tubuhnya mulai mengejang dan menekuk ke atas diakhiri jeritan panjang sambil menutup mulutnya dengan bantal agar tidak terdengar keluar. Karena saat itu aku belum keluar kukocok batang kemaluanku dengan payudaranya yang montok itu. “Eeemmhh.. Din enak banget, dingin-dingin empuk nih!” Senjataku yang sudah basah dengan berbagai cairan itu kumaju-mundurkan di antara kedua bukit kembar itu sampai akhirnya memuntahkan cairan hangat di belahan dadanya, dia mengoleskan cairan itu merata di dadanya dan menjilati sisanya yang menempel di jari.

Kami tergolek lemas bersebelahan, aku mengatur nafas dan merenungkan apa yang barusan terjadi sambil memejamkan mata. Ketika aku membuka mataku kulihat Diana sedang memandangiku sambil berbaring menyamping. “Thanks ya Le, sekarang hati gua sudah agak tenang.” Ternyata dia melakukan ini padaku selain sebagai hadiah perpisahan juga sebagai pelampiasan kekesalan terhadap pacarnya. Dia bercerita bahwa mereka sedang ribut karena pacarnya itu berjanji akan datang pada acara wisudanya, tetapi ternyata orangnya tidak muncul dengan alasan urusan di kantornya sedang menumpuk dan memberi selamatnya pun besoknya setelah diwisuda, pantas saja tadi siang saat berbicara di HP nadanya terdengar tidak enak. Sebagai teman aku memberinya sedikit nasehat dan menghiburnya. Jam sudah hampir menunjukkan pukul 19:00, dia mengajakku mandi bersama, dan di kamar mandi pun kami sempat bermesraan sebentar di bawah siraman shower. Malam itu adalah makan bersama terakhir kalinya, sederhana namun mempunyai kenangan tersendiri. Malam itu antara Diana, Sinta, Vivi (pacarku), dan Lidya (teman kostku yang lain), cowoknya hanya aku dan Andry. Besok paginya, setelah menjemput ibunya Diana dari rumah saudaranya aku dan Sinta mengantarnya ke bandara dengan mobilku. Suasana haru memenuhi perpisahan hari itu, Sinta yang biasanya kocak saja meneteskan air mata.

“Le, sering-sering e-mail gua ya, sori gua nggak bisa minjemin catatan lagi ke lu, titip salam juga buat Vivi,” katanya dengan mata berkaca-kaca.
“Yah, Cici juga jaga diri.”
Aku menyalaminya sambil susah payah menahan air mata agar tidak mengalir, malu menangis di depan cewek.

“Sin, selamat jalan, jaga badan jangan kebanyakan ngerokok, jangan godain si Leo melulu yah, entar Vivi-nya cemburu,” katanya pada Sinta sambil sedikit bercanda.
Sinta memeluk Diana sambil menangis, ketika itu bel tanda keberangkatan telah berbunyi, dia segera menyusul ibunya yang telah sampai di gerbang keberangkatan. Sambil memperhatikan sosoknya makin menjauh dalam hatiku menyanyikan lagu “Zhu Fu”-nya Jacky Cheung yang salah satu liriknya bila diterjemahkan demikian artinya “Jangan melambai, jangan menoleh ketika kunyanyikan lagu ini, yang ditakutkan adalah air mata menetes membasahi muka, semoga dalam hatimu selalu tersimpan senyumku”. Kini telah 5 bulan tanpa kehadirannya, dia mengabariku bahwa dia telah ikut pacar dan kakaknya bekerja di Singapore dan berencana menikah dalam waktu dekat.

Tamat
Lihat Koleksi Bugil Lengkap..

Teman Kantorku

21.35, Posted by admin, No Comment

Semenjak SMA, aku memimpikan untuk dapat bercinta dengan perempuan yang lebih tua, sekitar 3-4 tahun lebih tua. Namun kesempatan itu tidak pernah aku dapatkan sampai aku berumur 24 tahun yaitu dua tahun lalu.
Pada waktu itu aku baru lulus dari program S1 Ekonomi Akuntansi di salah satu universitas di daerah grogol Jakarta dan aku juga baru masuk kerja di sebuah perusahaan konsultan 6 bulan sebelumnya. Di perusahaan itu aku harus keluar setiap hari untuk bertemu dengan klien dan mengerjakan tugas-tugas yang sudah seharusnya aku kerjakan. Pada waktu itu aku ditugaskan untuk menggantikan seorang kawan yang akan mundur dari perusahaan tersebut. Maka mulailah aku berkenalan dengan klien-klien yang akan menjadi tanggung jawabku.

Pada saat aku pertama aku masuk kerja aku segera di ajak kenalan dengan klien yang alamatnya paling dekat yaitu di daerah Slipi, Jakarta kemudian dengan yang jauh-jauh, yaitu di daerah cikini, tanjung priok, tangerang, jatinegara. Pengalaman di perusahaan ini membuat aku lebih memahami tentang jalan-jalan protokol di daerah Jakarta Barat, Jakarta Utara, Jakarta Pusat, dan sedikit daerah Jakarta Selatan. Perkenalan pertama berlangsung dengan biasa-biasa saja karena aku belum bertugas penuh, hanya memperhatikan dan membantu temanku disamping itu juga saat bulan-bulan pertama aku masih jarang disuruh bepergian ke klien. Sampai akhirnya kawanku itu keluar dari perusahaan dan aku diberikan tugas dan tanggung jawab penuh atas klien-klien yang menjadi tanggung jawab temanku itu.

Setelah beberapa lama bertugas akhirnya aku baru perhatikan bahwa salah satu karyawati yang bekerja di salah satu klienku itu lumayan cantik dan aku lebih sering menetap di klien yang satu ini karena bos klienku ini selalu meminta macam-macam hal yang merepotkan sehingga aku perlu untuk standby selalu di situ. Aku melakukannya dengan senang hati karena suasana kerja disitu lebih menyenangkan daripada di kantorku, karyawan-karyawan di situ lebih humoris dan lebih ramah-ramah.

Akhirnya jadilah aku menetap di klienku itu, maksudnya menetap ialah aku menumpang peralatan kantor klien untuk bekerja sambil juga aku mengerjakan tugas-tugas dari klienku yang lain.

Dikantor itu ada seorang karyawati yang lumayan cantik, orangnya cukup manis dan bodynya.. wow! Bagus banget! Tidak terlalu tinggi tapi benar-benar body biola. Rambutnya panjang sebahu. Meskipun kulit perempuan itu coklat muda namun aku suka tipe mukanya. Imelda, namanya. Umurnya saat itu adalah 28 tahun. Orangnya juga tipe perempuan yang suka bergaul, maksudnya adalah suka ngobrol tentang apa aja dan pasti nyambung, dan anehnya kalau aku ngobrol dengan dia terasa menyenangkan sekali. Kalau boleh dibilang, kantor itu akan sepi kalau tidak ada Imelda dan akupun juga senang disitu karena ada dia.

Sebenarnya sejak pertama kali dekat dengan dia, aku sudah merasa suka padanya dan ingin menjadikannya pacarku tapi aku urungkan niatku itu karena aku menyadari bahwa sifatnya dan sifatku tidak cocok dan banyak lagi perbedaan yang prinsip, apalagi berpikir untuk bercinta dengannya aku buang jauh-jauh. Meskipun kami akrab tapi aku merasa ada yang tidak cocok di antara kami jika kami berpacaran. Namun apa mau dikata, ternyata angan-anganku sejak waktu SMA dulu terwujud!
Suatu hari aku diundang oleh Imelda untuk datang ke rumahnya bersama 3 orang teman sekantor untuk menemani dia karena dia sedang sendirian di rumah. Pada hari yang ditentukan akupun datang ke rumahnya dengan mengendarai sepeda motor. Rumahnya lumayan jauh letaknya, sekitar daerah Ciputat, Jakarta, tapi karena diundang, maka aku relakan untuk datang karena aku pikir temen-temen kantor yang lain juga akan datang. Aku tiba di rumahnya sekitar pukul 2 siang. Ternyata ketika aku sampai ke rumahnya, Imelda mengatakan bahwa ketiga temanku itu tidak datang dengan berbagai macam sebab yang mendesak.

Rumah Imelda memang cukup besar dan memiliki halaman yang luas. Di dalam ruang tamunya terdapat kolam kecil tempat memelihara ikan dan kura-kura. Halaman rumahnya ada taman dengan sebuah pohon ditengah-tengah dan ada batu-batu tempat berpijak. Taman itu tampak cukup terawat. Disamping rumahnya juga terdapat garasi. Rumah Imelda dikelilingi oleh pagar dan tembok yang cukup tinggi. Itu merupakan sekilas gambaran rumah Imelda dari luar. Ketika aku di ajak ke dalam, aku cukup terpesona dengan tata letak rumahnya yang begitu mengagumkan. Perabotannya tidak mewah tapi mampu memberikan suasana yang elegan. Di dekat kolam ikan terdapat 2 tiang penyangga dan ruang tamunya menghadap ke kolam tersebut. Agak masuk ke dalam adalah ruangan makan dan keluarga kemudian bagian paling dalam adalah dapur serta kamar mandi. Ada 4 kamar tidur di bagian kanan rumah dan sebuah pintu tembus ke garasi di bagian kirinya.

Aku tidak henti-hentinya mengagumi rumahnya karena terlihat indah sekali, apalagi dengan adanya kolam ikan memberikan suasana alam di rumah lebih sejuk. Aku di ajak berkeliling rumahnya sambil berbincang-bincang dengan santai. Ternyata orang tua Imelda sedang pergi ke luar kota karena tugas dan adik-adiknya sedang menginap di rumah kawannya, jadi dia sendiri di rumah. Sedangkan pembantu sedang pulang kampung.

Kami mengobrol tentang apa saja dari A sampai Z sambil kadang-kadang tertawa sampai akhirnya kamipun berbicara mengenai pengalaman sex kami masing-masing. Ternyata dari pembicaraan tersebut dapat kami ketahui masing-masing bahwa kita berdua ternyata memang orang-orang yang memiliki napsu sex yang amat besar dan bersikap bebas dalam hal itu. Dari pembicaraan-pembicaraan tersebut kemudian kami sepakat untuk melakukan hubungan sex saat itu juga dengan perjanjian bahwa itu hanya merupakan hubungan sex semata.

Lalu di sofa tempat kami mengobrol itu aku mulai mendekati Imelda. Aku menciumi pipinya dengan lembut dan juga menciumi telinganya sambil mengeluarkan lidahku untuk menjilati telinga Imelda. Saat itu Imelda pasti mulai merasakan panas yang pelan-pelan hinggap di badannya apalagi tanganku mulai mengelus-elus tangannya dengan lembut terus bergerilya ke daerah payudaranya. Aku seperti sudah kehilangan kendali saat itu, aku menjamah payudara Imelda dengan berbagai macam cara, aku meremas-remasnya dengan liar dari luar bajunya itu. Dengan satu gerakan aku sudah mengelus-elus perutnya dan membuka baju kaos dan BH-nya, kemudian akupun membuka kaos yang masih aku pakai.

Dengan keadaan yang setengah bugil itu, aku menciumi leher Imelda, aku jilat, aku berikan ciuman yang mungkin akan meninggalkan bekas merah di lehernya. Mungkin rangsangan yang kuberikan sudah benar-benar dinikmati oleh Imelda sehingga saat itu badannya bergerak-gerak di bawah tindihan tubuhku dan tangannya memeluk tubuhku erat-erat sambil sesekali tangannya meremas-remas pantatku. Aku merasakan payudara Imelda menekan di dadaku begitu empuk dan menggairahkan. Tubuh kami sudah seperti menyatu saat itu kami berpelukan dengan eratnya dan bibir kami saling bersentuhan untuk mencoba menikmati sensasi yang dapat diberikan oleh bibir masing-masing. Lidah kamipun berpagutan, berusaha untuk masuk ke dalam mulut kami masing-masing.
Tidak puas hanya bermain lidah, akupun mulai beranjak turun. Aku menjilati lehernya, mencium bagian atas dada Imelda dan kemudian menciumi payudaranya. Ketika lidahku bermain di puting payudaranya, Imelda makin mengeluarkan desahan yang amat sangat membangkitkan gairahku. Akupun semakin asik tenggelam dalam kenikmatan menciumi puting susunya. Aku mempermainkan putingnya dengan jari-jariku, aku isap puting itu, aku jilat dengan lidahku. Secara bergantian aku menikmati payudara Imelda, terkadang aku menggigit kecil putingnya dan sekitar payudaranya itu. Imelda hanya bisa mendesah, berteriak tertahan, menggeliat-geliat di bawah tubuhku. Aku merasakan tangannya menekan kepalaku dengan kencang sehingga kepalaku terbenam ke belahan payudaranya, dan aku juga merasakan perut Imelda bergerak-gerak tegang.

Tidak cukup sampai disitu, akupun memainkan tanganku di belahan pahanya, aku mengelus-elus selangkangannya dengan lembut. Dan dengan perlahan namun pasti akupun membuka celananya dan celana dalamnya Imelda sambil terus meraba memeknya. Aku merasakan bahwa memeknya sudah mulai basah ketika jari tengahku masuk menyentuh klitorisnya, dan dia lebih terangsang lagi ketika aku menggerakkan jariku pada klitorisnya, ini terbukti dari teriakannya yang merangsang dan gerakan tubuhnya yang makin tidak terkendali lagi.

Aku sendiri mulai merambat turun ke selangkangannya dan memainkan lidahku di belahan memeknya. Aku makin semangat dalam melakukan aktivitasku itu karena menyadari bahwa Imelda menyukainya dan terus mendesah dan menekan-nekan kepalaku yang sedang berada di selangkangannya. Sambil melakukan kegiatan tersebut aku juga membuka celanaku yang sudah terasa tidak nyaman sebab kontolku ini ingin tegak berdiri bebas tanpa ada yang menghalangi. Setelah itu, akupun melanjutkan kegiatanku menciumi, menjilati memek Imelda dengan lebih bernapsu. Sampai akhirnya tubuh Imelda menggelinjang dengan hebat dan pinggulnya terangkat tinggi serta tangannya menekan kepalaku dengan lebih keras sambil dia berteriak sejadi-jadinya. Rupanya dia sudah mencapai klimaksnya yang pertama.

Lama sekali ia merasakan sensasi yang luar biasa itu dan aku menunggunya sampai dia kembali tenang dan aku pergi ke dapur untuk mencari minuman. Tidak berapa lama kemudian aku merasa ada yang memelukku dari belakang, ternyata Imelda, dia sepertinya sudah normal kembali dan ingin melanjutkan permainan tersebut. Sambil tersenyum ia pelan-pelan berjongkok di hadapanku dan ia mulai meraba-raba kontolku. Ohh.. perasaan itu benar-benar nikmat sekali, alat kejantananku makin kokoh saja setelah diraba seperti itu, apalagi kemudian dia mulai memasukkan ke dalam mulutnya. WAH.. begitu hangatnya.. nikmat sekali. Ini baru di mulutnya saja, apalagi di memeknya nanti, begitulah pikiranku saat itu.

Dapur Imelda terletak di bagian belakang rumah. Seperti kebanyakan dapur, berisi rak-rak tempat piring, lemari, dan wasbak yang terbuat dari tegel yang memanjang di tembok sisi kiri dapur, tegel tersebut ditempatkan disitu sebagai meja untuk menaruh barang-barang keperluan dapur. Aku bersandar di tegel itu dengan bertopang dengan kedua tanganku dibelakang ketika Imelda mengulum kontolku. Aku hanya bisa mengusap rambut Imelda dan merem menikmati sensasi yang diberikan oleh mulutnya Imelda. Mulutnya bermain-main dengan lincah di sekitar kontolku, dari biji pangkal sampai keujungnya tidak lepas dari jilatan lidahnya itu, hal ini membuat aku merasakan nikmat yang luar biasa.

Setelah dia puas memainkan kontolku, maka Imelda pun kembali berdiri dan menciumi leher dan telingaku sambil tangannya tetap memegangi kontolku. Aku sendiri menyambut ciuman tersebut dengan mendekapnya erat-erat dan menggesek-gesekkan dadaku dengan dadanya. Tidak lama kemudian aku merasakan bahwa kontolku di arahkan ke selangkangannya dan kepala kontolku di usap-usapkan di bibir memeknya kemudian pelan-pelan dia mengarahkan kontolku untuk masuk kedalam memeknya. Imelda mencoba memasukkan kontolku ke dalam memeknya pelan-pelan dan ketika aku melihat wajahnya yang begitu pasrah membuatku tambah bernapsu, sehingga ketika kontolku baru masuk pada bagian kepalanya, dengan segera saja aku mendorong pantatku kuat-kuat sehingga kontolku amblas masuk ke dalam memeknya. Hal ini membuat dia mendesah kuat dan mencengkeram bahuku erat-erat.
Gerakanku sengaja aku diamkan untuk memberikan waktu untuk pengenalan terhadap situasi yang baru terjadi. Baru kemudian aku mulai menggerak-gerakkan pantatku untuk mendapatkan hasrat yang diinginkan. Pelan-pelan aku memutar pantatku sehingga aku bisa merasakan dengan pasti dinding-dinding memeknya, putaran itu aku gerakkan pelan-pelan searah jarum jam dan kemudian dilakukan sebaliknya. Sensasi yang ditimbulkan oleh gerakan ini membuat Imelda mendesah pasrah sambil memegang pinggiran wasbak.

Wajah Imelda mendongak tegang ketika aku mulai memompa kontolku di dalam memeknya. Imelda menyenderkan pantatnya pada wasbak sambil memeluk tubuhku erat-erat. Aku perhatikan wajahnya ketika itu benar-benar membangkitkan gairahku, wajah yang pasrah, memelas, yang penuh dengan napsu birahi. Akupun kembali menciumi bibirnya, melumat dengan penuh napsu, yang disambut pula oleh lidah Imelda. Tangannya bergerak-gerak liar diseluruh punggung dan menjambak rambutku. Badannya terus bergoyang mengikuti irama goyangan pantatku. Kadang-kadang aku menggoyang dengan berirama namun kadang-kadang tidak, kadang-kadang pelan namun dilain menit aku menggoyang dengan cepat sekali. Setiap kali kontolku tusukkan dalam-dalam ke dalam liang kewanitaannya, Imelda mendesah dengan keras dan mempererat pelukannya.

Setelah sekian lama kami bergoyang, akhirnya Imelda mulai menggoyangkan badannya dengan tidak beraturan sambil mengatakan bahwa ia sudah tidak tahan dan sudah hampir mencapai klimaksnya. Akupun tambah mempercepat goyanganku sampai kemudian aku dan dia merasakan sesuatu yang keluar dari dalam tubuh kami masing-masing. Kamipun berdiri bersandar di wasbak sambil berpelukan dan saling tersenyum, saat itu kami sama-sama merasa lemas namun dengan perasaan puas.

Setelah itu Imelda mengenakan pakaiannya kembali dan mandi, disusul kemudian dengan aku membersihkan diri. Kamipun kembali duduk dan mengobrol sampai sekitar jam 9 malam kemudian aku pulang. Kami masing-masing berjanji untuk tidak membocorkan rahasia ini kepada siapapun juga.

Keesokannya kami pun bersikap seperti biasa satu sama lain. Dalam hati sebenarnya aku ingin melakukannya lagi dengannya karena keinginanku untuk bercinta dengan wanita yang lebih tua tidak dapat aku pendam. Aku hanya bisa berharap bahwa dia ingin melakukannya lagi denganku atau aku bertemu dengan wanita lain yang lebih tua, yang ingin melakukannya denganku, seperti Imelda.

Tamat
Lihat Koleksi Bugil Lengkap..

The Boss Daughter

21.31, Posted by admin, No Comment

Aku bekerja sebagai seorang sopir untuk pengusaha WNI kaya di Surabaya. Namaku Herman, umurku 25 tahun, dan berasal dari Malang. Aku sudah bekerja selama 3 tahun pada juraganku ini, dan aku sedang menabung untuk melanjutkan kuliahku yang terpaksa berhenti karena kurang biaya. Wajahku sih kata orang ganteng, ditambah dengan tubuh atletis dan kekar berkat latihan beban yang sangat aku gemari. Banyak teman SMA-ku yang dulu bilang, seandainya aku anak orang kaya, pasti sudah jadi play boy kelas berat. Memang ada beberapa teman cewekku yang dulu naksir padaku, tetapi tidak aku tanggapi. Mereka bukan tipeku. Entah mengapa, aku paling suka dengan wanita keturunan. Paling tidak tahan aku kalau melihat kulit mereka yang putih mulus, ingin rasanya merasakan kelembutannya.

Mungkin memang sudah normal bila seseorang tertarik dengan ras yang lain. Juraganku punya seorang anak tunggal, gadis berumur 17 tahun, kelas 2 SMA favorit di Surabaya. Namanya Inge. Tiap hari aku mengantarnya ke sekolah. Aku kadang hampir tidak tahan melihat tubuh Inge yang seksi sekali. Tingginya kira-kira 170 cm, dan payudaranya besar dan kelihatannya kencang sekali. Ukurannya kira-kira 36C. Ditambah dengan penampilannya dengan rok mini dan baju seragamnya yang tipis, membuatku ingin sekali menyetubuhinya. Setiap kali mengantarnya ke sekolah, ia duduk di bangku depan di sampingku, dan kadang-kadang aku melirik melihat pahanya yang putih mulus dengan bulu-bulu halus atau pada belahan payudaranya yang terlihat dari balik seragam tipisnya itu.

Tapi aku selalu ingat, bahwa dia adalah anak juraganku. Bila aku macam-macam bisa dipecatnya aku nanti, dan angan-anganku untuk melanjutkan kuliah bisa berantakan. Siang itu seperti biasa aku jemput dia di sekolahnya. Mobil BMW biru metalik aku parkir di dekat kantin, dan seperti biasa aku menunggu Non-ku di gerbang sekolahnya.
Tak lama dia muncul bersama teman-temannya.
“Siang, Non.., mari saya bawakan tasnya”.

“Eh.., Pak, udah lama nunggu?”, katanya sambil mengulurkan tasnya padaku.
“Barusan kok Non..”, jawabku.
“Nge.., ini toh supirmu yang kamu bicarain itu. Lumayan ganteng juga sih.., ha.., ha..”, salah satu temannya berkomentar. Aku jadi rikuh dibuatnya.
“Hus..”, sahut Non-ku sambil tersenyum. “Jadi malu dia nanti..”.
Segera aku bukakan pintu mobil bagi Non-ku, dan temannya ternyata juga ikut dan duduk di kursi belakang.
“Kenalin nih Pak, temanku”, Non-ku berkata sambil tersenyum. Aku segera mengulurkan tangan dan berkenalan.
“Herman”, kataku sambil merasakan tangan temannya yang lembut.
“Mei-Ling”, balasnya sambil menatap dadaku yang bidang dan berbulu.
“Pak, antar kita dulu ke rumah Mei-Ling di Darmo Permai”, instruksi Non Inge sambil menyilangkan kakinya sehingga rok mininya tersingkap ke atas memperlihatkan pahanya yang putih mulus.

“Baik Non”, jawabku. Tak terasa penisku sudah mengeras menyaksikan pemandangan itu. Ingin rasanya aku menjilati paha itu, dan kemudian mengulum payudaranya yang padat berisi, kemudian menyetubuhinya sampai dia meronta-ronta.., ahh.

Tak lama kitapun sampai di rumah Mei-Ling yang sepi. Rupanya orang tuanya sedangke luar kota, dan merekapun segera masuk ke dalam. Tak lama Non Inge ke luar dan menyuruhku ikut masuk.
“Saya di luar saja Non”.
“Masuk saja Pak.., sambil minum dulu.., baru kita pulang”.
Akupun mengikuti perintah Non-ku dan masuk ke dalam rumah. Ternyata mereka berdua sedang menonton VCD di ruang keluarga.
“Duduk di sini aja Pak”, kata Mei-Ling menunjuk tempat duduk di sofa di sebelahnya.
“Ayo jangan ragu-ragu..”, perintah Non Inge melihat aku agak ragu.
“Mulai disetel aja Mei”, Non Inge kemudian mengambil tempat duduk di sebelahku.
Tak lama kemudian.., film pun dimulai.., Wowww.., ternyata film porno. Di layar tampak seorang pria negro sedang menyetubuhi dua perempuan bule secara bergantian. Napas Non Inge di sampingku terdengar memberat, kemudian tangannya meremas tanganku. Akupun sudah tidak tahan lagi dengan segala macam cobaan ini. Aku meremas tangannya dan kemudian membelai pahanya. Tak berapa lama kemudian kamipun berciuman. Aku tarik rambutnya, dan kemudian dengan gemas aku cium bibirnya yang mungil itu.
“Hmm.. Eh”, Suara itu yang terdengar dari mulutnya, dan tangankupun tak mau diam beralih meremas-remas payudaranya.
Kubuka kancing seragamnya satu persatu sehingga tampak bongkahan daging kenyal yang putih mulus punya Non-ku itu. Aku singkap BH-nya ke bawah sehingga tampaklah putingnya yang merah muda dan kelihatan sudah menegang.

“Ayo.., hisap Pak.., ahh”. Tak perlu dikomando lagi, langsung aku jilat putingnya, sambil tanganku meremas-remas payudaranya yang sebelah kiri. Aku tidak memperhatikan apa yang dilakukan temannya di sebelah, karena aku sedang berkonsentrasi untuk memuaskan nafsu birahi Non Inge. Setelah puas menikmati payudaranya, akupun berpindah posisi sehingga aku jongkok tepat di depan selangkangannya. Langsung aku singkap rok seragam SMA-nya, dan aku jilat CD-nya yang berwarna pink. Tampak bulu vaginanya yang masih jarang menerawang di balik CD-nya itu.

“Ayo, jilatin memekku Pak”, Non Inge mendesah sambil mendorong kepalaku. Langsung aku sibak CD-nya yang berenda itu, dan kujilati kemaluannya.
“Ohh.., nikmat sekali..”, erangan demi erangan terdengardari mulut Non-ku yang sedang aku kerjai. Benar-benar beruntung aku bisa menjilati kemaluan seorang gadis kecil anak konglomerat. Tanganku tak henti mengelus, meremas payudaranya yang besar dan kenyal itu.

“Aduh, cepetan dong, yang keras.., aku mau keluar.., ehhmm ohh..”. Tangan Non Inge meremas rambutku sambil badannya menegang. Bersamaan dengan itu keluarlah cairan dari lubang vaginanya yang langsung aku jilat habis. Akupun berdiri dan membuka ritsluiting celanaku. Tapi sebelum sempat aku buka celanaku, Non Inge telah ambil alih.

“Biar saya yang buka Pak”, katanya.
Tangannya yang mungil melepas kancing celana jeansku, dan membantuku membukanya. Kemudian tangannya meremas-remas penisku dari luar CD-ku. Dijilatinya CD-ku sambil tangannya meremas-remas pantatku. Akupun sudah tak tahan lagi, langsung aku buka CD-ku sehingga penisku yang berukuran 20 cm dan sudah tegak, bergelantung ke luar.

“Ih, besar sekali”, desis Non Inge, sambil tangannya mengelus-elus penisku. Tak lama kemudian dijilatinya buah pelirku terus menyusuri batang kemaluanku. Dijilatinya pula kepala penisku sebelum dimasukkannya ke dalam mulutnya. Aku remas rambutnya yang berbando itu, dan aku gerakkan pantatku maju mundur, sehingga aku seperti menyetubuhi mulut anak juraganku ini. Rasanya luar biasa.., bayangkan.., penisku yang berukuran 20 cm itu dan berwarna hitam legam sedang dikulum oleh mulut seorang gadis manis. Pipinya yang putih tampak menggelembung terkena batang kemaluanku.
“Punyamu besar sekali Pak.., saya suka.., ehmm..”, katanya sambil kemudian kembali mengulum kemaluanku.

Setelah kurang lebih 10 menit Non Inge menikmati penisku, dia suruh aku duduk di sofa. Kemudian dia menghampiriku sambil membuka seluruh pakaiannya sehingga dia tampak telanjang bulat. Dinaikinya pahaku, dan diarahkannya penisku ke liang vaginanya.
“Ayo.., setubuhi saya..”, katanya memberi instruksi, aku tahu dia ingin merasakan nikmatnya penisku yang besar itu. Diturunkannya pantatnya, dan peniskupun masuk perlahan ke dalam liang vaginanya.

Kemaluannya masih sempit sekali sehingga masih agak sulit bagi penisku untuk menembusnya. Tapi tak lama masuk juga separuh dari penisku ke dalam lubang kemaluan anak juraganku ini.

“Ahh.., yeah.., sekarang masukin deh penis bapak yang besar itu di memekku”, katanya sambil naik turun di atas pahaku. Tangannya meremas dadanya sendiri, dan kemudian disodorkannya putingnya untukku.
“Yah, begitu dong Pak”, Tak perlu aku tunggu lebih lama lagi langsung aku lahap payudaranya yang montok itu. Sementara itu Non Inge masih terus naik turun sambil kadang-kadang memutar-mutar pantatnya, menikmati penis besar sopirnya ini.
“Sekarang setubuhi saya dalam posisi nungging..”, instruksinya. Diapun turun dan menungging menghadap ke sofa.
“Ayo Pak.., setubuhi saya dari belakang”, Non Inge menjelaskan maksudnya padaku. Akupun segera berdiri di belakangnya, dan mengelus-elus pantatnya yang padat.

Kemudian kuarahkan penisku ke lubang vaginanya, tetapi agak sulit masuknya. Tiba-tiba tak kusangka ada tangan lembut yang mengelus penisku dan membantu memasukkannya ke liang vagina Non Inge. Aku lihat ke samping, ternyata Mei Ling, yang membantuku menyetubuhi temannya. Dia tersenyum sambil mengelus-elus pantat dan pahaku.

Aku langsung menyetubuhi Non Inge dari belakang. Kugerakkan pantatku maju mundur, sambil memegang pinggul Nonku.
“Ahh.., Pak.., Pak.., Terus.., nikmat sekali”, Non Inge mengerang nikmat. Tubuhnya tampak berayun-ayun, dan segera kuremas dari belakang. Kupilin-pilin puting susunya, dan erangan Non Inge makin hebat.
Mei Ling sekarang telah berdiri di sampingku dan tangannya sibuk menelusuri tubuhku. Ditariknya rambutku dan diciumnya bibirku dengan penuh nafsu. Lidahnya menerobos masuk ke dalam mulutku. Sambil berciuman dibukanya kancing baju seragamnya sehingga tampak buah dadanya yang tidak terlalu besar, tetapi tampak padat.
“Ohh.., terus dong Pak yang cepat”, Non Inge mengerang makin hebat. Tak berapa lama terasa cairan hangat membasahi penisku.
“Non.., saya juga hampir keluar..”, kataku.
“Tahan sebentar Pak.., keluarin dimulutku..”, kata Non Inge.

Non Inge dan Mei Ling berlutut di depanku, dan Mei-Ling yang sejak tadi tampak tak tahan melihat kami bersetubuh di depannya, langsung mengulum penisku di mulutnya. Sementara itu Non Inge menjilat-jilat buah pelirku. Mereka berdua bergantian mengulum dan menjilat penisku dengan penuh nafsu. Akupun sibuk membelai rambut kedua remaja ini, yang sedang memuaskan nafsu birahi mereka.
“Ayo, goyang yang keras Pak..”, Non Inge memberiku instruksi sambil menelentangkan tubuhnya di atas karpet ruang keluarga.
“Ayo penisnya taruh di sini Pak”, kata Non Inge lagi. Akupun segera menaruh berlutut di atas dada Non-ku dan menjepit penisku di antara dua bukit kembarnya. Segera aku maju mundurkan pantatku, sambil tanganku mengapitkan buah dadanya.
“Oh, nikmat sekali..”.
Sementara Mei Ling sibuk mengelap tubuhku yang basah karena keringat. Tak berapa lama kemudian, akupun tak tahan lagi. Kuarahkan penisku ke dalam mulut Non Inge, dan dikulumnya sambil meremas-remas buah pelirku.
“Ahh.., Non.., ahh”, jeritku dan air manikupun menyembur ke dalam mulut mungil Non Inge. Akupun tidur menggelepar kecapaian di atas karpet, sementara Non Inge dan Mei Ling sibuk menjilati bersih batang kemaluanku.

Setelah itu kamipun sibuk berpakaian, karena jam sudah menunjukkan pukul 15.00. Orang tua Inge termasuk orang tua yang strict pada anaknya, sehingga bila dia pulang telat pasti kena marah. Di mobil dalam perjalanan pulang, Inge memberiku uang Rp 100.000,-.
“Ambil Pak, buat uang rokok, Tapi janji jangan bilang siapa-siapa tentang yang tadi ya”, katanya sambil tersenyum. Akupun mengangguk senang.
“Besok kita ulangi lagi ya Pak.., soalnya Mei-Ling minta bagian”.

Demikian kejadian ini terus berlanjut. Hampir setiap pulang sekolah, Non Inge akan pura-pura belajar bersama temannya. Tetapi yang terjadi adalah dia menyuruhku untuk memuaskan nafsu birahinya dan juga teman-temannya, Mei-Ling, Linda, Nini, dll.
Tapi akupun senang karena selain mendapat penghasilan tambahan dari Non Inge, akupun dapat menikmati tubuh remaja mereka yang putih mulus.

Tamat
Lihat Koleksi Bugil Lengkap..

Linda Tetanggaku

20.05, Posted by admin, No Comment

Perkenalkan namaku Rendi, umurku saat ini 19 tahun. Kuliah dikota S yang terkenal dengan sopan santunnya. Aku anak kedua setelah kakakku Ana. Ibuku bekerja sebagai pegawai negeri sipil dan ayahku juga bekerja di kantor. Tinggi badanku biasa saja layaknya anak seusiaku yakni 169 kg. Di situs ini aku akan menceritakan kisah unikku. Pengalaman pertama dengan apa yang namanya sex. Kisah ini masih aku ingat selamanya karena pengalaman pertama memang tak terlupakan. Saat itu usiaku masih 10 tahun pada waktu itu aku masih kelas 4 SD. Kisah ini benar benar aku alami tanpa aku rubah sedikit pun.

Aku punya teman sebayaku namanya Putri, dia juga duduk di bangku SD. Aku dan dia sering main bersama. Dia anak yang sangat manis dan manja. Dia mempunyai dua kakak. Kakak pertama namanya Rio di sudah bekerja di Jakarta. Dan kakaknya yang satu lagi namanya Linda. Saat itu dia kuliah semester 4 jurusan akuntansi salah satu perguruan tinggi di kota kelahiranku. Dia lebih cantik dari pada adiknya Putri. Tingginya kira kira 160 cm dan ukuran payudaranya cukup seusianya tidak besar banget tapi kenceng.

Waktu itu hari sangat panas, aku dan Putri sedang main dirumahnya. Maklum rumahku dan rumahnya bersebelahan. Saat itu ortu dari Putri sedang pergi ke Bandung untuk beli kain. Putri ditinggal bersama kakaknya Linda.

“Main dokter dokter yuk, aku bosen nich mainan ini terus”ajak Putri

Segera aku siapkan mainannya. Aku jadi dokter dan dia jadi pasiennya. Waktu aku periksa dia buka baju. Kami pun melakukan seperti itu biasa karena belum ada naluri seperti orang dewasa, kami menganggap itu mainan dan hal itu biasa karena masih kecil. Waktu aku pegang stetoskop dan menyentuhkannya didadanya. Aku tidak tahu perasaanya. Tapi aku menganggapnya mainan. Waktu itu pintu tiba tiba terbuka. Linda pulang dari kampusnya. Dengan masih telanjang dada Putri menghampiri kakaknya di depan pintu masuk.

“Hai kak baru pulang dari kampus”
“Ngapain kamu buka baju segala” Kak Linda memandangi adiknya.
“Kita lagi main dokter dokteran, aku pasiennya sedangkan Rendi jadi dokternya, tapi sepi kak masa pasiennya cuma satu. Kakak lelah nggak. Ikutan main ya kak?”
“Oh mainan toh… Ya sudah aku nyusul, aku mau ganti pakaian dulu gerah banget nih”

Kami bertiga pun segera masuk ke kamar lagi, aku dan Putri asyik main dan Kak Linda merebahkan tubuhnya ditempat tidur disamping kami. Aku melihat Kak Linda sangat cantik ketika berbaring. Setelah beberapa menit kemudian dia memperhatikan kami bermain dan dia terbengong memikirkan sesuatu.

“Ayo Kak cepetan, malah bengong” ajak Putri pada kakaknya.

Lalu dia berdiri membuka lemari. Dia kepanasan karena udaranya. Biasanya dia menyuruh kami tunggu di luar ketika dia ganti baju

“Ayo tutup mata kalian, aku mau ganti nih soalnya panas banget” Kak Linda menyuruh kami.

Dia melepaskan pakaian satu persatu dari mulai celana panjangnya, dia memakai cd warna putih berenda dengan model g-string. Saat itu dia masih dihadapan kami. Tertampang paha putih bersih tanpa cacat. Setelah itu dia melepas kemejanya dicopotnya kancing stu perstu. Setelah terbuka seluruh kancingnya, aku dapat melihat bra yang dipakainya. Lalu dia membelakangi kami, dia juga melepas branya setelah kemejanya ditanggalkan. Aku pun terbengong melihatnya karena belum pernah aku melihat wanita dewasa telanjang apa lagi ketika aku melihat pantatnya yang uuuhhh. Dia memilih baju agak lama, otomatis aku melihat punggungnya yang mulus dan akhirnya dia memakai baby doll dengan potongan leher rendah sekali tanpa bra dan bahannya super tipis kelihatan putingnya yang berwarna coklat muda. Kulitnya sangat putih dan mulus lebih putih dari Putri. Putri melihatku.

“Rendi koq bengong belum lihat kakakku buka baju ya? Lagian kakak buka baju nggak nyuruh kita pergi.”
Kak Linda ngomel,”Idih kalian masih kecil belum tahu apa apa lagian juga aku nggak ngelihatin kalian langsung. Mau lihat ya Ren?”dia bercanda.
Akupun menundukan mukaku karena malu.”Tapikan kak, susunya kakak sudah gede segitu apa nggak malu ama Rendi.”
Putri menjawab ketus.”Kamu aja telanjang kayak itu apa kamu juga nggak malu sudah ayo main lagi.” Linda menjawab adiknya. Kami pun bermain kembali.

Giliran Kak Linda aku periksa. Dia menyuruh aku memeriksanya, dia agak melongarkan bajunya. Ketika stetoskop aku masukkan di dalam bajunya lewat lubang lehernya, tepat kena putingnya. Dia memekik. Aku pun kaget tapi aku pun tidak melihatnya karena malu. Dia menyuruhku untuk untuk lama lama didaerah itu. Dia merem melek kayak nahan sesuatu, dipegangnya tanganku lalu ditekan tekan daerah putingnya. Aku merasa sesuatu mengeras.

“Kak ngapain… Emang enak banget diperiksa… Kayak orang sakit beneran banget.” Putri Tanya ama kakaknya.
Kak Linda pun berhenti.”Yuk kita mandi soalnya sudah sore lagikan kamu Putri ada les lho nanti kamu ketinggalan.” Ajak Kak Linda pada kami berdua. Dia menyuruh bawa handuk ama baju ganti.

Setelah mengisi air, aku pun membuka bajuku tanpa ada beban yang ada dan telanjang bulat begitu juga ama Putri. Kamipun bermain air di bathup. Kamar mandi disini amat mewah ada shower bathup dan lain lain lah, maklum dia anak terkaya dikampungku. Setelah itu pintu digedor ama kakaknya dia suruh buka pintu kamar mandinya. Aku pun membukanya. Kak Linda melihatku penuh kagum sambil menatap bagian bawahku yang sudah tanpa pelindung sedikitpun, aku baru tahu itu namanya lagi horny. Lalu dia masuk segera di membuka piyama mandinya. Jreng… Hatiku langsung berdetak kencang, dia menggunakan bra tranparan ama cd yang tadi dia pake dihadapan kami.

“Bolehkan mandi bersama kalian lagian kalian kan masih anak kecil.”
“Ihh… Kakak… Punya kakak itu menonjol” ledek adiknya.

Dia hanya tersenyum menggoda kami terutama aku.”biarin”sambil dia pegang sendiri putting dia menjawab lalu dia membasahi badannya ama air di shower. Makin jelas apa yang nama payudara cewek lagi berkembang. Beitu kena air dari shower bra Kak Linda agak melorot kebawah. Lucu banget bentuknya pikirku. Payudaranya hendak seakan melompat keluar.

“Ayo cepat turun dulu, aku kasih busa di bathupnya…”.

Putri bergegas keluar tapi aku tidak, aku takut kalau ketahuan anuku mengeras, aku malu banget. Baru kali ini aku mengeras gede banget. Lalu Kak Linda mendekat dan melihatku serta menyuruhku untuk turun. Aku turun dengan tertunduk muka Kak Linda melihat bagian bawahku yang sudah mengeras sama pada waktu aku bermain tapi bedanya sekarang langsung dihadapan mata. Dia hanya tersenyum padaku. Aku kira dia marah. Dia kayak sengaja menyenggol senjataku dengan paha mulusnya.

“Ooohh… Apa itu…” (pura pura dia tidak tahu) Putripun tertawa melihatnya.
“Itu yang dinamakan senjatanya laki laki yang lagi mengeras tapi culun ya kalau belum disunat” Kak Linda memberitahukan pada adiknya.

Setelah busanya melimpah di air kami pun nyebur bareng.

“Adik adik, Kakak boleh nggak membuka bra kakak” pinta Kak Linda pada kami.
“Buka aja to Kak lagian kalau mandi pakai pakaian kayak orang desa.” adiknya menjawab.

Tapi aku nggak bisa jawab. Dengan pelan pelan kancing dibelakang punggung dibukanya lalu lepas sudah pengaman dan pelindung susunya. Dengan telapak tangannya dia menutupi payudaranya.

“Sudah buka aja sekalian cd nya nanti kotor kena bau cd kakak,” ujar Putri kepada kakaknya.

Segera dia berdiri diatas bathup melorotkan cdnya dengan hati hati(kayaknya dia sangat menunggu ekspresiku ketika melihat wanita telanjang bulat dihadapannya). Ketika dia berdiri membetulkan shower diatas kami, aku melihat seluruh tubuhnya yang sudah telanjang bulat.

“Kak anu… anu… Susu kakak besarnya, ama bawahan kakak ada rambutnya dikit,” aku memujinya.

dia hanya tersenyum dan memberitahu kalau aslinya bawahan nya lebat hanya saja rajin dicukur. Dia agak berlama lama berdiri kayaknya makin deket aja bagian sensitivenya dengan wajahku, ada sesuatu harum yang berbeda dari daerah sekitar itu. Kak Linda terus berdiri sambil melirikku.

Sambil membilasi payudaranya dengan air hangat serta digoyang dikit dikit bokong bahenolnya. Dia menghadap kami sambil mnyiram bagian sensitifnya. Aku pun tak berani langsung menatapnya. Sambil memainkan payudaranya sendiri dia punya saran plus ide gila.

“Mainan yuk. Aku jadi ibunya, kamu jadi anaknya.”

Lalu Kak Linda menyuruh mainan ibu ibuan, dia menyuruh kami jadi bayi. Lalu dia menyodorkan susunya pada kami.

“Anakku kasihan, sini ibu beri kamu minum” dia berkata pada kami.

Putri pun langsung mengenyot puting susu kakaknya, tapi aku pun tak bergerak sama sekali, lalu dia langsung menyambar kepalaku ditarik ke arah payudaranya.

“Ayo sedot yang kuat… Ahhh… Cepet… Gigit pelan pelan… Acchhh,” kata itu keluar.

Tapi koq nggak keluar airnya. Punya Mama keluar air susunya. Tiba tiba Putri berhenti.

“Uhh.. Ini kan namanya mainan jadi nggak beneran. Kamu udahan aja sudah jamnya kamu les” Putri pun bergegas turun dan berganti pakaian sejak saat itu aku tak memdengar langkah dia lagi.

Aku pun masih disuruh mainan dengan putingnya tangan kiriku dikomando supaya meremas susu kirinya. Tiba tiba ada sesuatu yang bikin aku bergetar, ada sesuatu yang berambat dan memegangi anuku. Dengan kanan kanan memegangi tangan kiriku untuk meremas payudaranya ternyata tangan kanannya memainkan penisku.

Segera dia memerintahkan untuk turun dari situ. Kami pun turun dari situ. Lalu. Dia duduk di pingiran sambil membuka selakangannya. Aku baru melihat rahasia cewe.

“Rendi ini yang dinamakan vagina, punya cewek. Tadi waktu kakak berdiri aku tahu kalau kamu memperhatikan bagian kakak yang ini. Ayo aku ajarin gimana mainan ama vagina” akupun hanya mengangguk.

Dia menyuruh menjilatinya setelah dia mengeringkannya dengan handuk. Aku pun menjulurkan lidahku kesana tapi bagian luarnya. Dia hanya tersenyum melihatku. Dengan jari tangan nya dia membuka bagian kewanitaan itu. Aku benar benar takjub melihat pemandangan kayak itu. Warnanya merah muda seperti sebuah bibir mungil. Setelah dia buka kemaluannya, lalu dia suruh aku supaya menjilatinya. Ada cairan sedikit yang keluar dari bagian itu rasanya asin tapi enak. Disuruh aku menyodok dengan kedua jariku, terasa sangat becek. Dia menyuruhku berhenti sejenak. Ketika dia menggosok gosok sendiri dengan tangannya dengan cepat lalu dia menyambar kepalaku dengan tangannya ditempelkan mukaku dihadapannya.

Seeerrr… Serr.. bunyi air yang keluar dari vaginanya banyak sekali. Sambil berteriak plus mendesis lagi merem melek. Setelah itu dia jongkok, aku kaget ketika dia langsung menjilati kepala penisku. Di buka bagian kulup hingga kelihatan kepalanya.

“Kakak enggak jijik ya kan buat kencing” aku bertanya pada dia tapi dia terus mengulumnya maju mundur.

Sakit dan geli itu yang kurasakan tapi lama lama enak aku langsung rasanya seperti kencing tapi tidak jadi. Dia menggunakan sabun cair katanya biar agak licin jadi nggak sakit. Saking enaknya aku bagai melayang badanku bergetar semua. Setelah dibilas dia mengkulum penisku, semua masuk didalam mulutnya.

“Kak aku mau kencing dulu” aku menyela.

Setelah itu dia berbaring dilantai dia menyuruh bermain dengan kacang didalam vaginanya. Pertama aku tidak tahu, dia memberi tahu setelah dia sendiri membukanya. Aku sentuh bagian itu dengan kasar dia langsung menjerit dia mengajari bagaimana seharusnya melakukannya. Diputar putar jariku disana tiba tiba kacanga itu menjadi sangat keras.

Sekitar 5 menit aku bermain dengan jariku kadang dengan lidahku. Keluar lagi air dari vaginanya. Aku disuruh terus menyedotnya. Dia kayaknya sangat lemas lunglai. Setelah beberapa saat dia memegang penisku dan menuntunnya di vagina.

“Coba masukan anumu ke dalam sana pasti aku jamin enak banget rasanya” dia menyuruhku.

Dengan hati-hati aku masukkan setelah masuk aku diam saja. Dia menyuruh aku untuk menekan keras. Dan blesss masuk semuanya dia memberi saran kayak orang memompa. Masuk-keluar.

“Acchc terus… yang cepet… ah… ah… ah…” dia mendesis, dia menggoyangkan pantatnya yang besar kesana kemari.

Tapi sekitar 3 menit rasanya penisku kayak diremas oleh kedua daging itu lalu aku ingin sekali pipis. Saat itu penisku kayak ada yang air mengalir. Dan serrr… seeerrrs air kencingku membanjiri bagian dalamnya. Setelah kelelahan kami pun keluar dia langsung pergi ke kamar masih keadaan bugil. Kemudian dia berbaring karena lelah, aku mendekatinya dan dia memelukku seperti adiknya, payudaranya nempel di mukaku. Setelah aku melihat wajahnya dia menangis. Lalu dia menyuruh aku pulang. Aku mengenakan pakaian dan pulang. Dia menyuruh merahasiakan kalau aku berbicara ama orang lain aku nggak boleh bermain ama adiknya.

Kami pun terus melakukannya sekitar 1 tahun tanpa ada siapa yang tahu. Sekitar aku kelas 1 SMP dia kawin ama temannya karena dia hamil. Ketika 2 minggu lalu (saat ini) aku bertemu dia bertanya masih suka main seperti dulu. Akupun hanya tertawa ketika aku tahu itu yang namanya sex dan aku ngucapin terima kasih buat kakak, itu adalah pengalamanku yang pertama.

Tamat
Lihat Koleksi Bugil Lengkap..

Daun Daun Muda

21.50, Posted by admin, No Comment

Hai, kenalkan nama saya Andra (nggak nama sebenarnya). Umur 24 tahun dan sekarang lagi kuliah di sebuah PTS di Kediri. Aku termasuk cowok yang populer di kampus (sekeren namaku). Tapi aku punya kelemahan, saat ini aku udah nggak perjaka lagi (emang sekarang udah nggak jamannya keperjakaan diutamakan). Nah, hilangnya perjakaku ini yang pengin aku ceritakan.

Aku punya banyak cewek. Diantaranya banyak cewek itu yang paling aku sukai adalah Rere. Tapi dalam kisah ini bukan Rere tokoh utamanya. sebab hilangnya perjakaku nggak ada sangkut pautnya sama Rere. Malah waktu itu aku aku lagi marahan sama doski.

Waktu itu aku nganggap Rere nggak bener-bener sayang sama aku. Aku lagi jutek banget sama dia. Habisnya udah lima bulan pacaran, masak Rere hanya ngasih sun pipi doang. Ceritanya pas aku ngapel ke tempat kostnya, aku ngajakin dia ML. Habis aku pengin banget sih. (keseringan mantengin VCD parto kali yee..). Tapi si Rere menolak mentah-mentah. Malahan aku diceramahin, busyet dah!

Makanya malam minggu itu aku nggak ngapel (ceritanya ngambek). Aku cuman duduk-duduk sambil gitaran di teras kamar kostku. Semua teman kostku pada ngapel atau entah nglayap kemana. Rumah induk yang kebetulan bersebelahan dengan rumah kost agak sepi. Sebab sejak tadi sore ibu kost dan bapak pergi ke kondangan. Putri tertua mereka, Murni sudah dijemput pacarnya sejam yang lalu. Sedang Maidy, adiknya Murni entah nglayap kemana. Yang ada tinggal Maya, si bungsu dan Ersa, sepupunya yang kebetulan lagi berkunjung ke rumah oomnya. Terdengar irama lagu India dari dalam rumah induk, pasti mereka lagi asyik menonton Gala Bollywood.

Nggak tahu, entah karena suaraku merdu atau mungkin karena suaraku fals plus berisik, Maya datang menghampiriku.
“Lagi nggak ngapel nih, Mas Andra?” sapanya ramah (perlu diketahui kalau Maya memang orangnya ramah banget)
“Ngapel sama siapa, May?” jawabku sambil terus memainkan Sialannya Cokelat.
“Ah.. Mas Andra ini pura-pura lupa sama pacarnya.”
Gadis itu duduk di sampingku (ketika dia duduk sebagian paha mulusnya terlihat sebab Maya cuman pakai kulot sebatas lutut). Aku cuman tersenyum kecut.
“Udah putus aku sama dia.” jawabku kemudian.
Nggak tahu deh, tapi aku menangkap ada yang aneh dari gelagat Maya. Gadis 14 tahun itu nampaknya senang mendengar aku putus. Tapi dia berusaha menutup-nutupinya.
“Yah, kacian deh.. habis putus sama pacar ya?” godanya. “Kayaknya bete banget lagunya.”
Aku menghentikan petikan gitarku.
“Yah, gimana ya.. kayaknya aku lebih suka sama Maya deh ketimbang sama dia.”

Nah lo! Kentara benar perubahan wajahnya. Gadis berkulit langsep agak gelap itu merah mukanya. aku segera berpikir, apa bener ya gosip yang beredar di tempat kost ini kalo si Maya ada mau sama aku.
“May, kok diam aja? Malu yah..”

Maya melirik ke arahku dengan manja. Tiba-tiba saja batinku ngrasani, gadis yang duduk di sampingku ini manis juga yah. Masih duduk di kelas dua smp tapi kok perawakannya udah kayak anak sma aja. Tinggi langsing semampai, bodinya bibit-bibit peragawati, payudaranya.. waduh kok besar juga ya. Tiba-tiba saja jantungku berdebar memandangi tubuh Maya yang cuman pakai kaos ketat tanpa lengan itu. Belahan dadanya sedikit tampak diantara kancing-kancing manisnya. Ih, ereksiku naik waktu melirik pahanya yang makin kelihatan. Kulit paha itu ditumbuhi bulu-bulu halus tapi cukup lebat seukuran cewek.

“Mas, daripada nganggur gimana kalo Mas Andra bantu aku ngerjain peer bahasa inggris?”
“Yah Maya, malam minggu kok ngerjain peer? Mendingan pacaran sama Mas Andra, iya nggak?” pancingku.
“Ah, Mas Andra ini bisa aja godain Maya..”
Maya mencubit pahaku sekilas. Siir.. Wuih, kok rasanya begini. Gimana nih, aku kok kayak-kayak nafsu sama ini bocah. Waduh, penisku kok bangun yah?
“Mau nggak Mas, tolongin Maya?”
“Ada upahnya nggak?”
“Iiih, dimintai tolong kok minta upah sih..”
Cubitan kecil Maya kembali memburu di pahaku. Siir.. kok malah tambah merinding begini ya?
“Kalau diupah sun sih Mas Andra mau loh.” pancingku sekali lagi.
“Aah.. Mas Andra nakal deh..”

Sekali lagi Maya mencubit pahaku. Kali ini aku menahan tangan Maya biar tetap di pahaku. Busyet, gadis itu nggak nolak loh. Dia cuman diam sambil menahan malu.
“Ya udah, Maya ambil bukunya trus ngerjain peernya di kamar Mas Andra aja. Nanti tak bantu ngerjain peer, tak kasih bonus pelajaran pacaran mau?”

Gadis itu cuman senyum saja kemudian masuk rumah induk. Asyik.. pasti deh dia mau. Benar saja, nggak sampai dua menit aku sudah bisa menggiringnya ke kamar kostku.

Kami terpaksa duduk di ranjang yang cuman satu-satunya di kamar itu. Pintu sudah aku tutup, tapi nggak aku kunci. Aku sengaja nggak segera membantunya ngerjain peer, aku ajak aja dia ngobrol.
“Sudah bilang sama Ersa kalo kamu kemari?”
“Iya sudah, aku bilang ke tempat Mas Andra.”
“Trus si Ersa gimana? Nggak marah?”
“Ya enggak, ngapain marah.”
“Sendirian dong dia?”
“Mas Andra kok nanyain Ersa mulu sih? Sukanya sama Ersa ya?” ujar Maya merajuk.
“Yee.. Maya marah. Cemburu ya?”
Maya merengut, tapi sebentar sudah tidak lagi. Dibuka-bukanya buku yang dia bawa dari rumah induk.

“Maya udah punya pacar belum?”tanyaku memancing.
“Belum tuh.”
“Pacaran juga belum pernah?”
“Katanya Mas Andra mau ngajarin Maya pacaran.” balas Maya.
“Maya bener mau?” Gayung bersambut nih, pikirku.
“Pacaran itu dasarnya harus ada suka.” lanjutku ketika kulihar Maya tertunduk malu. “Maya suka sama Mas Andra?”

Maya memandangku penuh arti. Matanya seakan ingin bersorak mengiyakan pertanyaanku. tapi aku butuh jawaban yang bisa didengar. Aku duduk merapat pada Maya.
“Maya suka sama Mas Andra?” ulangku.
“Iya.” gumamnya lirih.
Bener!! Dia suka sama aku. Kalau gitu aku boleh..
“Mas Andra mau ngesun Maya, Maya nurut aja yah..” bisikku ke telinga Maya

Tanganku mengusap rambutnya dan wajah kami makin dekat. Maya menutup matanya lalu membasahi bibirnya (aku bener-bener bersorak sorai). Kemudian bibirku menyentuh bibirnya yang seksi itu, lembut banget. Kulumat bibir bawahnya perlahan tapi penuh dengan hasrat, nafasnya mulai berat. Lumatanku semakin cepat sambil sekali-sekali kugigit bibirnya.
Mmm..muah.. kuhisap bibir ranum itu.

“Engh.. emmh..” Maya mulai melenguh.
Nafasnya mulai tak beraturan. Matanya terpejam rapat seakan diantara hitam terbayang lidah-lidah kami yang saling bertarung, dan saling menggigit. Tanganku tanpa harus diperintah sudah menyusup masuk ke balik kaos ketatnya. Kuperas-peras payudara Maya penuh perasaan. ereksiku semakin menyala ketika gundukan hangat itu terasa kenyal di ujung jari-jariku.

Bibirku merayap menyapu leher jenjang Maya. Aku cumbui leher wangi itu. Kupagut sambil kusedot perlahan sambil kutahan beberapa saat. Gigitan kecilku merajang-rajang birahi Maya.
“Engh.. Mass.. jangan.. aku uuh..”
Ketika kulepaskan maka nampaklah bekasnya memerah menghias di leher Maya.

“May.. kaosnya dilepas ya sayang..”
Gadis itu hanya menggangguk. Matanya masih terpejam rapat tapi bibirnya menyunggingkan senyum. Nafasnya memburu. Sambil menahan birahi, kubuka keempat kancing kaos Maya satu persatu dengan tangan kananku. Sedang tangan kiriku masih terus meremas payudara Maya bergantian dari balik kaos. Tak tega rasanya membiarkan Maya kehilangan kenikmatannya. Jemari Maya menggelitik di dada dan perutku, membuka paksa hem lusuh yang aku kenakan. Aku menggeliat-geliat menahan amukan asmara yang Maya ciptakan.

Kaos pink Maya terjatuh di ranjang. Mataku melebar memandangi dua gundukan manis tertutup kain pink tipis. Kupeluk tubuh Maya dan kembali kuciumi leher jenjang gadis manis itu, aroma wangi dan keringatnya berbaur membuatku semakin bergairah untuk membuat hiasan-hiasan merah di lehernya.Perlahan-lahan kutarik pengait BH-nya, hingga sekali tarik saja BH itupun telah gugur ke ranjang. Dua gundukan daging itupun menghangat di ulu hatiku.

Kubaringkan perlahan-lahan tubuh semampai itu di ranjang. Wow.. payudara Maya (yang kira-kira ukuran 34) membengkak. Ujungnya yang merah kecoklatan menggairahkan banget. Beberapa kali aku menelan ludah memandangi payudara Maya. Ketika merasakan tak ada yang kuperbuat, Maya memicingkan mata.

“May.. adekmu udah gede banget May..”
“Udah waktunya dipetik ya mass..”
“Ehem, biar aku yang metik ya May..”
Aku berada di atas Maya. Tanganku segera bekerja menciptakan kenikmatan demi kenikmatan di dada Maya.
Putar.. putar.. kuusap memutar pentel bengkak itu.
“Auh..Mass.. Aku nggak tahan Mass.. kayak kebelet pipis mas..” rintih Maya.

Tak aku hiraukan rintihan itu. Aku segera menyomot payudara Maya dengan mulutku.
“Mmm.. suup.. mm..” kukenyot-kenyot lalu aku sedot putingnya.
“Mass.. sakiit..” rintih Maya sambil memegangi vaginanya.
Sekali lagi tak aku hiraukan rintihan itu. Bagiku menggilir payudara Maya sangat menyenangkan. Justru rintihan-rintihan itu menambah rasa nikmat yang tercipta.

Tapi lama kelamaan aku tak tega juga membuat Maya menahan kencing. Jadi aku lorot saja celananya. Dan ternyata CD pink yang dikenakan Maya telah basah.
“Maya kencing di celana ya Mass?”
“Bukan sayang, ini bukan kencing. Cuman lendir vaginamu yang cantik ini.”
Maya tertawa mengikik ketika telapak tanganku kugosok-gogokkan di permukaan vaginanya yang telah basah. Karena geli selakangnya membuka lebar. Vaginanya ditumbuhi bulu lebat yang terawat. Lubang kawin itu mengkilap oleh lendir-lendir kenikmatan Maya. Merah merona, vagina yang masih perawan.

Tak tahan aku melihat ayunya lubang kawin itu. Segera aku keluarkan penisku dari sangkarnya. Kemudian aku jejalkan ke pangkal selakangan yang membuka itu.
“Tahan ya sayang..engh..”
“Aduh.. sakiit mass..”
“Egh.. rileks aja..”
“Mas.. aah!!” Maya menjambak rambutku dengan liar.
Slup.. batang penisku yang perkasa menembus goa perawan Maya yang masih sempit. Untung saja vagina itu berair jadi nggak terlalu sulit memasukkannya. Perlahan-lahan, dua centi lima centi masih sempit sekali.
“Aduuh Mass.. sakiit..” rintih Maya.

Aku hentakkan batang penisku sekuat tenaga.
“Jruub..”
Langsung amblas seketika sampai ujungnya menyentuh dinding rahim Maya. Batang penisku berdenyut-denyut sedikit sakit bagai digencet dua tembok tebal. Ujungnya tersentuh sesuatu cairan yang hangat. Aku tarik kembali penisku. Lalu masukkan lagi, keluar lagi begitu berkali-kali. Rasa sakitnya berangsur-angsur hilang.

Aku tuntun penisku bergoyang-goyang.
“Sakit sayang..” kataku.
“Enakk..eungh..” Maya menyukainya.
Ia pun ikut menggoyang-goyangkan pantatnya. Makin lama makin keras sampai-sampai ranjang itu berdecit-decit. Sampai-sampai tubuh Maya berayun-ayun. Sampai-sampai kedua gunung kembar Maya melonjak-lonjak. Segera aku tangkap kedua gunung itu dengan tanganku.

“Enggh.. ahh..” desis Maya ketika tanganku mulai meremas-remasnya.
“Mass aku mau pipis..”
“Pipis aja May.. nggak papa kok.”
“Aaach..!!”
“Hegh..engh..”
“Suur.. crot.. crot.. ”
Lendir kawin Maya keluar, spermaku juga ikut-ikutan muncrat. Kami telah sama-sama mencapai orgasme.

“Ah..” lega. Kutarik kembali penisku nan perkasa. Darah perawan Maya menempel di ujungnya berbaur dengan maniku dan cairan kawinnya. Kupeluk dan kuciumi gadis yang baru memberiku kepuasan itu. Mayapun terlelap kecapaian.

Kreek.. Pintu kamarku dibuka. Aku segera menengok ke arah pintu dengan blingsatan. Ersa terpaku di depan pintu memandangi tubuh Maya yang tergeletak bugil di ranjang kemudian ganti memandangi penisku yang sudah mulai melemas. Tapi aku juga ikut terpaku kala melihat Ersa yang sudah bugil abis. Aku tidak tahu tahu kalau sejak Maya masuk tadi Ersa mengintip di depan kamar.

“Ersa? Ng.. anu..” antara takut dan nafsu aku pandangi Ersa.
Gadis ini lebih tua dua tahun diatas Maya. Pantas saja kalau dia lebih matang dari maya. Walau wajahnya tak bisa menandingi keayuan Maya, tapi tubuhnya tak kalah menarik dibanding Maya, apalagi dalam keadaan full naked kayak gitu.

“Aku nggak akan bilang ke oom dan tante asal..”
“Asal apaan?”
Mata Ersa sayu memandang ke arah Maya dan penisku bergantian. Lalu dia membelai-belai payudara dan vaginanya sendiri. Tangan kirinya bermain-main di belahan vaginanya yang telah basah. Ersa sengaja memancing birahiku. Melihat adegan itu, gairahku bangkit kembali, penisku ereksi lagi. Tapi aku masih ingin Ersa membarakan gairahku lebih jauh.

Ersa duduk di atas meja belajarku. Posisi kakinya mekangkang sehingga vaginanya membuka merekah merah. Tangannya masih terus meremas-remas susunya sendiri. Mengangkatnya tinggi seakan menawarkan segumpal daging itu kepadaku.
“Mas Andra.. sini.. ay..”
Aku tak peduli dia mengikik bagai perek. Aku berdiri di depan gadis itu.
“Ayo.. Mas mainin aku lebih hot lagi..” pintanya penuh hasrat.

Aku gantiin Ersa meremas-remas payudaranya yang ukuran 36 itu. Puting diujungnya sudah bengkak dan keras, tanda Ersa sudah nafsu banget.
“Eahh.. mmhh..” rintihannya sexy sekali membuatku semakin memperkencang remasanku.
“Eahh.. mas.. sakit.. enak..”

Ersa memainkan jarinya di penisku. Mempermainkan buah jakarku membuatku melenguh keasyikan. “Ers.. tanganmu nakal banget..”
Gadis itu cuman tertawa mengikik tapi terus mempermainkan senjataku itu. Karena gemas aku caplok susu-susu Ersa bergantian. Kukenyot sambil aku tiup-tiup.
“Auh..”
Ersa menekan batang penisku.
“Ers.. sakit sayang” keluhku diantara payudara Ersa.
“Habis dingin kan mas..” balasnya.

Setelah puas aku pandangi wajah Ersa.
“Ersa, mau jurus baru Mas Andra?”
Gadis itu mengangguk penuh semangat.
“Kalau gitu Ersa tiduran di lantai gih!”
Ersa menurut saja ketika aku baringkan di lantai. Ketika aku hendak berbalik, Ersa mencekal lenganku. Gadis yang sudah gugur rasa malunya itu segera merengkuhku untuk melumat bibirnya. Serangan lidahnya menggila di ronga mulutku sehingga aku harus mengeluarkan tenaga ekstra untuk mengimbanginya. Tanganku dituntunnya mengusap-usap lubang kelaminnya. Tentu saja aku langsung tanggap. Jari-jariku bermain diantara belantara hitam nan lebat diatas bukit berkawah itu. “Mmm.. enghh..”
Kami saling melenguh merasakan sejuta nikmat yang tercipta.

Aku ikut-ikutan merebah di lantai. Aku arahkan Ersa untuk mengambil posisi 69, tapi kali ini aku yang berada di bawah. Setelah siap, tanpa harus diperintah Ersa segera membenamkan penisku ke dalam mulutnya (aku jadi berpikiran kalau bocah ini sudah berpengalaman).
Ersa bersemangat sekali melumat penisku yang sejak tadi berdenyut-denyut nikmat. Demikian juga aku, begitu nikmatnya menjilati lendir-lendir di setiap jengkal vagina Ersa, sedang jariku bermain-main di kedua payudaranya. Srup srup, demikian bunyinya ketika kusedot lendir itu dari lubang vagina Ersa. Ukuran vagina Ersa sedikit lebih besar dibanding milik Maya, bulu-bulunya juga lebih lebat milik Ersa. Dan klitorisnya.. mm.. mungil merah kenyal dan mengasyikkan. Jadi jangan ngiri kalo aku bener-bener melumatnya dengan lahap.

“Ngngehh..uuhh..” lenguh Ersa sambil terus melumat senjataku.
Sedang lendir kawinnya keluar terus.
“Erss.. isep sayang, isepp..” kataku ketika aku merasa mau keluar.
Ersa menghisap kuat-kuat penisku dan croott.. cairan putih kental sudah penuh di lubang mulut Ersa. Ersa berhenti melumat penisku, kemudian dia terlentang dilantai (tidak lagi menunggangiku). Aku heran dan memandangnya.
“Aha..” ternyata dia menikmati rasa spermaku yang juga belepotan di wajahnya, dasar bocah gemblung.

Beberapa saat kemudian dia kembali menyerang penisku. Mendapat serangan seperti itu, aku malah ganti menyerangnya. Aku tumbruk dia, kulumat bibirnya dengan buas. Tapi tak lama Ersa berbisik, “Mas.. aku udah nggak tahan..”
Sambil berbisik Ersa memegangi penisku dengan maksud menusukannya ke dalam vaginanya.

Aku minta Ersa menungging, dan aku siap menusukkan penisku yang perkasa. penisku itu makin tegang ketika menyentuh bibir vagina. Kutusuk masuk senjataku melewati liang sempit itu.
“Sakit Mas..”
Sulitnya masuk liang kawin Ersa, untung saja dindingnya sudah basah sejak tadi jadi aku tak terlalu ngoyo.

“Nggeh.. dikit lagi Ers..”
“Eeehh.. waa!!”
“Jlub..” 15 centi batang penisku amblas sudah dikenyot liang kawin Ersa. Aku diamkan sebentar lalu aku kocok-kocok seirama desah nafas.
“Eeehh.. terus mass.. uhh..”
Gadis itu menggeliat-geliat nikmat. Darah merembes di selakangnya. Entah sadar atau tidak tangan Ersa meremas-remas payudaranya sendiri.

Lima belas menit penisku bermain petak umpet di vagina Ersa. Rupaya gadis itu enggan melepaskan penisku. Berulang-ulang kali spermaku muncrat di liang rahimnya. Merulang-ulang kali Ersa menjerit menandakan bahwa ia berada dipucuk-pucuk kepuasan tertinggi. Hingga akhirnya Ersa kelelahan dan memilih tidur terlentang di samping Maya.

Capek sekali rasanya menggarap dua daun muda ini. Aku tak tahu apa mereka menyesal dengan kejadian malam ini. Yang pasti aku tak menyesal perjakaku hilang di vagina-vagina mereka. Habisnya puas banget. Setidaknya aku bisa mengobati kekecewaanku kepada Rere.

Malam makin sepi. Sebelum yang lain pada pulang, aku segera memindahkan tubuh Maya ke kamarnya lengkap dengan pakaiannya. Begitu juga dengan Ersa. Dan malam ini aku sibuk bergaya berpura-pura tak tahu-menahu dengan kejadian barusan. Lagipula tak ada bukti, bekas cipokan di leher Maya sudah memudar.
He.. he.. he.. mereka akan mengira ini hanya mimpi.

Tamat
Lihat Koleksi Bugil Lengkap..

Maniak Seks

21.44, Posted by admin, No Comment

Belum lama ini aku kembali bertemu Nana (bukan nama sebenarnya). Ia kini sudah berkeluarga dan sejak menikah tinggal di Palembang. Untuk suatu urusan keluarga, ia bersama anaknya yang masih berusia 6 tahun pulang ke Yogya tanpa disertai suaminya. Nana masih seperti dulu, kulitnya yang putih, bibirnya yang merah merekah, rambutnya yang lebat tumbuh terjaga selalu di atas bahu. Meski rambutnya agak kemerahan namun karena kulitnya yang putih bersih, selalu saja menarikdipandang, apalagi kalau berada dalam pelukan dan dielus-elus. Perjumpaan di Yogya ini mengingatkan peristiwa sepuluh tahun lalu ketika ia masih kuliah di sebuah perguruan tinggi ternama di Yogya. Selama kuliah, ia tinggal di rumah bude, kakak ibunya yang juga kakak ibuku. Rumahku dan rumah bude agak jauh dan waktu itu kami jarang ketemu Nana.

Aku mengenalnya sejak kanak-kanak. Ia memang gadis yang lincah, terbuka dan tergolong berotak encer. Setahun setelah aku menikah, isteriku melahirkan anak kami yang pertama. Hubungan kami rukun dan saling mencintai. Kami tinggal di rumah sendiri, agak di luar kota. Sewaktu melahirkan, isteriku mengalami pendarahan hebat dan harus dirawat di rumah sakit lebih lama ketimbang anak kami. Sungguh repot harus merawat bayi di rumah. Karena itu, ibu mertua, ibuku sendiri, tante (ibunya Nana) serta Nana dengan suka rela bergiliran membantu kerepotan kami. Semua berlalu selamat sampai isteriku diperbolehkan pulang dan langsung bisa merawat dan menyusui anak kami.

Hari-hari berikutnya, Nana masih sering datang menengok anak kami yang katanya cantik dan lucu. Bahkan, heran kenapa, bayi kami sangat lekat dengan Nana. Kalau sedang rewel, menangis, meronta-ronta kalau digendong Nana menjadi diam dan tertidur dalam pangkuan atau gendongan Nana. Sepulang kuliah, kalau ada waktu, Nana selalu mampir dan membantu isteriku merawat si kecil. Lama-lama Nana sering tinggal di rumah kami. Isteriku sangat senang atas bantuan Nana. Tampaknya Nana tulus dan ikhlas membantu kami. Apalagi aku harus kerja sepenuh hari dan sering pulang malam. Bertambah besar, bayi kami berkurang nakalnya. Nana mulai tidak banyak mampirke rumah. Isteriku juga semakin sehat dan bisa mengurus seluruh keperluannya. Namun suatu malam ketika aku masih asyik menyelesaikan pekerjaan di kantor, Nana tiba-tiba muncul.

“Ada apa Na, malam-malam begini.”
“Mas Danu, tinggal sendiri di kantor?”
“Ya, Dari mana kamu?”
“Sengaja kemari.”
Nana mendekat ke arahku. Berdiri di samping kursi kerja. Nana terlihat mengenakan rok dan T-shirt warna kesukaannya, pink. Tercium olehku bau parfum khas remaja.

“Ada apa, Nana?”
“Mas.. aku pengin seperti Mbak Tari.”
“Pengin? Pengin apanya?” Nana tidak menjawab tetapi malah melangkah kakinya yang putih mulus hingga berdiri persis di depanku. Dalam sekejap ia sudah duduk di pangkuanku.
“Nana, apa-apaan kamu ini..” Tanpa menungguku selesai bicara, Nana sudah menyambarkan bibirnya di bibirku dan menyedotnya kuat-kuat. Bibir yang selama ini hanya dapat kupandangi dan bayangkan, kini benar-benar mendarat keras. Kulumanya penuh nafsu dan nafas halusnya menyeruak. Lidahnya dipermainkan cepat dan menari lincah dalam rongga mulutku. Ia mencari lidahku dan menyedotnya kuat-kuat. Aku berusaha melepaskannya namun sandaran kursi menghalangi. Lebih dari itu, terus terang ada rasa nikmat setelah berbulan-bulan tidak berhubungan intim dengan isteriku. Nana merenggangkan pagutannya dan katanya, “Mas, aku selalu ketagihan Mas. Aku suka berhubungan dengan laki-laki, bahkan beberapa dosen telah kuajak beginian. Tidak bercumbu beberapa hari saja rasanya badan panas dingin. Aku belum pernah menemukan laki-laki yang pas.”

Kuangkat tubuh Nana dan kududukkan di atas kertas yang masih berserakan di atas meja kerja. Aku bangkit dari duduk dan melangkah ke arah pintu ruang kerjaku. Aku mengunci dan menutup kelambu ruangan.
“Na.. Kuakui, aku pun kelaparan. Sudah empat bulan tidak bercumbu dengan Tari.”
“Jadikan aku Mbak Tari, Mas. Ayo,” kata Nana sambil turun dari meja dan menyongsong langkahku.
Ia memelukku kuat-kuat sehingga dadanya yang empuk sepenuhnya menempel di dadaku. Terasa pula penisku yang telah mengeras berbenturan dengan perut bawah pusarnya yang lembut. Nana merapatkan pula perutnya ke arah kemaluanku yang masih terbungkus celana tebal. Nana kembali menyambar leherku dengan kuluman bibirnnya yang merekah bak bibir artis terkenal. Aliran listrik seakan menjalar ke seluruh tubuh. Aku semula ragu menyambut keliaran Nana. Namun ketika kenikmatan tiba-tiba menjalar ke seluruh tubuh, menjadi mubazir belaka melepas kesempatanini.

“Kamu amat bergairah, Nana..” bisikku lirih di telinganya.
“Hmm.. iya.. Sayang..” balasnya lirih sembari mendesah.
“Aku sebenarnya menginginkan Mas sejak lama.. ukh..” serunya sembari menelan ludahnya.
“Ayo, Mas.. teruskan..”
“Ya Sayang. Apa yang kamu inginkan dari Mas?”
“Semuanya,” kata Nana sembari tangannya menjelajah dan mengelus batang kemaluanku. Bibirnya terus menyapu permukaan kulitku di leher, dada dan tengkuk. Perlahan kusingkap T-Shirt yang dikenakannya. Kutarik perlahan ke arah atas dan serta merta tangan Nana telah diangkat tanda meminta T-Shirt langsung dibuka saja. Kaos itu kulempar ke atas meja. Kedua jemariku langsung memeluknya kuat-kuat hingga badan Nana lekat ke dadaku. Kedua bukitnya menempel kembali, terasa hangat dan lembut. Jemariku mencari kancing BH yang terletak di punggungnya. Kulepas perlahan, talinya, kuturunkan melalui tangannya. BH itu akhirnya jatuh ke lantai dan kini ujung payudaranya menempel lekat ke arahku. Aku melorot perlahan ke arah dadanya dan kujilati penuh gairah. Permukaan dan tepi putingnya terasa sedikit asin oleh keringat Nana, namun menambah nikmat aroma gadis muda.

Tangan Nana mengusap-usap rambutku dan menggiring kepalaku agar mulutku segera menyedot putingnya. “Sedot kuat-kuat Mas, sedoott..” bisiknya. Aku memenuhi permintaannya dan Nana tak kuasa menahan kedua kakinya. Ia seakan lemas dan menjatuhkan badan ke lantai berkarpet tebal. Ruang ber-AC itu terasa makin hangat. “Mas lepas..” katanya sambil telentang di lantai. Nana meminta aku melepas pakaian. Nana sendiri pun melepas rok dan celana dalamnya. Aku pun berbuat demikian namun masih kusisakan celana dalam. Nana melihat dengan pandangan mata sayu seperti tak sabar menunggu. Segera aku menyusulnya, tiduran di lantai. Kudekap tubuhnya dari arah samping sembari kugosokkan telapak tanganku ke arah putingnya. Nana melenguh sedikit kemudian sedikit memiringkan tubuhnya ke arahku. Sengaja ia segera mengarahkan putingnya ke mulutku.

“Mas sedot Mas.. teruskan, enak sekali Mas.. enak..” Kupenuhi permintaannya sembari kupijat-pijat pantatnya. Tanganku mulai nakal mencari selangkangan Nana. Rambutnya tidak terlalu tebal namun datarannya cukup mantap untuk mendaratkan pesawat “cocorde” milikku. Kumainkan jemariku di sana dan Nana tampak sedikit tersentak. “Ukh.. khmem.. hss.. terus.. terus,” lenguhnya tak jelas. Sementara sedotan di putingnya kugencarkan, jemari tanganku bagaikan memetik dawai gitar di pusat kenikmatannya. Terasa jemari kanan tengahku telah mencapai gumpalan kecil daging di dinding atas depan vaginanya, ujungnya kuraba-raba lembut berirama. Lidahku memainkan puting sembari sesekali menyedot dan menghembusnya. Jemariku memilin klitoris Nana dengan teknik petik melodi.

Nana menggelinjang-gelinjang, melenguh-lenguh penuh nikmat. “Mas.. Mas.. ampun.. terus, ampun.. terus ukhh..” Sebentar kemudian Nana lemas. Namun itu tidak berlangsung lama karena Nana kembali bernafsu dan berbalik mengambil inisitif. Tangannya mencari-cari arah kejantananku. Kudekatkan agar gampang dijangkau, dengan serta merta Nana menarik celana dalamku. Bersamaan dengan itu melesat keluar pusaka kesayangan Tari. Akibatnya, memukul ke arah wajah Nana. “Uh.. Mas.. apaan ini,” kata Nana kaget. Tanpa menunggu jawabanku, tangan Nana langsung meraihnya. Kedua telapak tangannya menggenggam dan mengelus penisku.

“Mas.. ini asli?”
“Asli, 100 persen,” jawabku.
Nana geleng-geleng kepala. Lalu lidahnya menyambar cepat ke arah permukaan penisku yang berdiameter 6 cm dan panjang 19 cm itu, sedikit agak bengkok ke kanan. Di bagian samping kanan terlihat menonjol aliran otot keras. Bagian bawah kepalanya, masih tersisa sedikit kulit yang menggelambir. Otot dan gelambiran kulit itulah yang membuat perempuan bertambah nikmat merasakan tusukan senjata andalanku.

“Mas, belum pernah aku melihat penis sebesar dan sepanjang ini.”
“Sekarang kamu melihatnya, memegangnya dan menikmatinya.”
“Alangkah bahagianya MBak Tari.”
“Makanya kamu pengin seperti dia, kan?”
Nana langsung menarik penisku. “Mas, aku ingin cepat menikmatinya. Masukkan, cepat masukkan.”
Nana menelentangkan tubuhnya. Pahanya direntangkannya. Terlihat betapa mulus putih dan bersih. Diantara bulu halus di selangkangannya, terlihat lubang vagina yang mungil. Aku telah berada di antara pahanya. Exocet-ku telah siap meluncur. Nana memandangiku penuh harap.

“Cepat Mas, cepat..”
“Sabar Nana. Kamu harus benar-benar terangsang, Sayang..”
Namun tampaknya Nana tak sabar. Belum pernah kulihat perempuan sekasar Nana. Dia tak ingin dicumbui dulu sebelum dirasuki penis pasangannya. “Cepat Mas..” ajaknya lagi. Kupenuhi permintaannya, kutempelkan ujung penisku di permukaan lubang vaginanya, kutekan perlahan tapi sungguh amat sulit masuk, kuangkat kembali namun Nana justru mendorongkan pantatku dengan kedua belah tangannya. Pantatnya sendiri didorong ke arah atas. Tak terhindarkan, batang penisku bagai membentur dinding tebal. Namun Nana tampaknya ingin main kasar. Aku pun, meski belum terangsang benar, kumasukkan penisku sekuat dan sekencangnya. Meski perlahan dapat memasukirongga vaginanya, namun terasa sangat sesak, seret, panas, perih dan sulit. Nana tidak gentar, malah menyongsongnya penuh gairah.

“Jangan paksakan, Sayang..” pintaku.
“Terus. Paksa, siksa aku. Siksa.. tusuk aku. Keras.. keras jangan takut Mas, terus..” Dan aku tak bisa menghindar. Kulesakkan keras hingga separuh penisku telah masuk. Nana menjerit, “Aouwww.. sedikit lagi..” Dan aku menekannya kuat-kuat. Bersamaan dengan itu terasa ada yang mengalir dari dalam vagina Nana, meleleh keluar. Aku melirik, darah.. darah segar. Nana diam. Nafasnya terengah-engah. Matanya memejam. Aku menahan penisku tetap menancap. Tidak turun, tidak juga naik. Untuk mengurangi ketegangannya, kucari ujung puting Nana dengan mulutku. Meski agak membungkuk, aku dapat mencapainya. Nana sedikit berkurang ketegangannya.

Beberapa saat kemudian ia memintaku memulai aktivitas. Kugerakkan penisku yang hanya separuh jalan, turun naik dan Nana mulai tampak menikmatinya. Pergerakan konstan itu kupertahankan cukup lama. Makin lama tusukanku makin dalam. Nana pasrah dan tidak sebuas tadi. Ia menikmati irama keluar masuk di liang kemaluannya yang mulai basah dan mengalirkan cairan pelicin. Nana mulai bangkit gairahnya menggelinjang dan melenguh dan pada akhirnya menjerit lirih, “Uuuhh.. Mas.. uhh.. enaakk.. enaakk.. Terus.. aduh.. ya ampun enaknya..” Nana melemas dan terkulai. Kucabut penisku yang masih keras, kubersihkan dengan bajuku. Aku duduk di samping Nana yang terkulai.

“Nana, kenapa kamu?”
“Lemas, Mas. Kamu amat perkasa.”
“Kamu juga liar.”

Nana memang sering berhubungan dengan laki-laki. Namun belum ada yang berhasil menembus keperawanannya karena selaput daranya amat tebal. Namun perkiraanku, para lelaki akan takluk oleh garangnya Nana mengajak senggama tanpa pemanasan yang cukup. Gila memang anak itu, cepat panas.

Sejak kejadian itu, Nana selalu ingin mengulanginya. Namun aku selalu menghindar. Hanya sekali peristiwa itu kami ulangi di sebuah hotel sepanjang hari. Nana waktu itu kesetanan dan kuladeni kemauannya dengan segala gaya. Nana mengaku puas.

Setelah lulus, Nana menikah dan tinggal di Palembang. Sejak itu tidak ada kabarnya. Dan, ketika pulang ke Yogya bersama anaknya, aku berjumpa di rumah bude.
“Mas Danu, mau nyoba lagi?” bisiknya lirih.
Aku hanya mengangguk.
“Masih gede juga?” tanyanya menggoda.
“Ya, tambah gede dong.”
Dan malamnya, aku menyambangi di hotel tempatnya menginap. Pertarungan pun kembali terjadi dalam posisi sama-sama telah matang.
“Mas Danu, Mbak Tari sudah bisa dipakai belum?” tanyanya.
“Belum, dokter melarangnya,” kataku berbohong.
Dan, Nana pun malam itu mencoba melayaniku hingga kami sama-sama terpuaskan.

Tamat
Lihat Koleksi Bugil Lengkap..

Rekan Kerja

22.14, Posted by admin, No Comment

Kejadian ini saat aku belum menikah dan masih bekerja diperusahaan ditribusi makanan, Aku saat itu menjadi Chirf Account Officer dan salah seorang staff ku yg baru bekerja 4 bulan namanya Inge, dia seorang sarjana ekonomi yg baru setahun lalusnya umurnya masih 23 th.

Dulu saat pertama kali masuk kantor kulihat sering diantar dan dijemput pakai motor oleh pacarnya, tetapi sudah ada seminggu terakhir inge selalu mengendarai motor sendiri. Memang Inge berwajah manis, hanya sayang kurang tinggi sedikit. Yang menarik buat lelaki semacam saya adalah bibirnya yg selalu kelihatan basah terus karena lidahnya sering dipakai membasahi bibirnya dan selain itu model rambutnya yg pakai gaya sedit yg terurai didekat telinga dan diberi jelly hingga kelihatan basah. Juga yg kelihatan sensual adalah cara berpakainnya karena Inge selalu pakai baju atau kaos yg agak ketat sehingga perutnya kelihatan ramping dan buah dadanya terlihaat agak menonjol.

Memang buah dadanya sendiri tak terlalu besar tetapi cukup bagus bila pakai baju/kaos yg ketat. Suatu saat aku tegur dia:”Inge, kenapa sekarang kamu naik motor sendiri?” Yaaahh, yg antarin sudah nggak ada “sahutnya. “masak iya,kemana pacarmu itu?” tanyaku. “Aaach, nggak tahu pergi kemana dia, biarin saja “jawabnya dgn nada kesal. Beberapa hari kemudian, saat makan siang , aku lewat kamarnya dia, kebetulan cuma Inge seorang diri dan lagi makan, rupanya yg lain makan keluar segera aku masuk dan duduk depan mejanya. “Makan sendirian saja?”.

“Iya pak, sahutnya. Sambil makan, Inge lihat2 iklan bioskop dikoran. Tiba2 Inge ngomong:”Waah film Mandarin ini bagus pak, Inge kepingin nonton tapi nggak ada teman sekarang”. “Kalau memang nggak ada teman nanti saya temani” kataku. “Aaaaah…bapak bisa aja nanti pacarnya bapak mara lho!” sahutnya. “Yaaaa, jangan sampai ketahuan dong, sekali2 kan ngak apa2″ kataku.

“Kalau sungguh, kapak bapak bisanya?., asal jangan yg malam2 paling lambat yg pk. 7″ jelas Inge. “Besok malam ?. Pokoknya jangan Saptu dan Minggu malam itu acara bapak sdh patent” kataku. “Kalau gitu besok malam ya pak?”. “Boleh, bapak jemput jam berapa?” “Inge sampai kost jam 5 sore, lalu mandi dulu jadi kira2 pk 6 sore ya” “Oke” sahutku.
Besok sore nya setelah saya pulang kekost dan mandi lalu siap kekostnya Inge. Sampai disana ternyata Inge blm selesai hingga aku tunggu beberapa menit, kemudian kita langsung berangkat. Karena baru pk 6.10 padahal filmnya mulai pk 7, maka kita putar2 kota dulu. Dalam mobil aku bilang dgn Inge kalau lagi nggak dinas begini jangan panggil aku pak, sebab umur kita paling beda 7 tahun, aku jadi nggak enak dong. Akhirnya setelah putar2 kita langsung ke bioskop dan beli tiket lalu masuk, aku memang sengaja minta tempat duduk yg dipinggir. Rupanya filmya kurang bagus, sebab sampai saat mulai penontonnya hanya sedikit.

Memang artis2 yg main sexy2, apalgi film Mandarin terhitung banyak yg berani juga actionnya. Kalau pas adegan yg hot Inge tiba2 memegang tanganku, suatu saat kalau adegan panas sebelum tangannya Inge yg beraksi aku pegang dulu telapak tangannya erat2.
Walaupun adegan panas sdh berlalu tangannya tetap kupegang terus dan per-lahan2 tangannya kuletakkan diatas pahanya. Ketika Inge masih diam saja atas aksi ini, maka jari2 ku kupakai utk meng-utik2 pahanya yg sdh terbuka karena roknya yg agak pendek itu naik kalau buat duduk. Beberapa menit hal itu kulakukan dan Inge pun masih diam, lalu tangannya dia kutarik kepaha lebih atas sekaligus utk menyingkap roknya supaya naik kepangkal paha. Setelah kulihat roknya menyingkap sampai hampir pangkal pahanya sehingga paha yg mulus itu terlihat remang2 dgn penerangan cahaya dr film saja. Aku pura2 diam sebentar . kebetulan ada adegan panas lagi dan tanganku segera memegang pahanya dan tangannya Inge memegan bagian atas tanganku.Kupikir Inge akan melarang kegiatan tanganku itu, tetapi tangannya hanya ditumpangkan saja ditanganku. Kuberanikan lagi operasi ini, tanganku ku-usapkan kepahanya dr atas lutut sampai keatas dekat pangka pahanya. Sudah ada 5 menit aku melakukan ini bergatian paha kanan dan kiri, tapi Inge tetap diam hingga nafasku yg mulai memburu.

Akhirnya kuberanikan tanganku utk mengusap pahanya sampai ke selakangannya hingga menyentuh CD nya dan bagian kemaluannya kugelitik dgn 2 jariku. Saat itu Inge kelihatan mendesah sambil membetulkan duduknya. Kugelitik terus itilnya dgn jari dan kadang2 jariku kumasukkan kedalam lubang vaginanya, ternyata lubangnya sdh basah juga. Belum beberapa lama, Inge menggeliat duduknya dan bilang:”Oom, jangan digitukan nanti basah semua vagina Unge juga CD nya, sebab Inge punya banyak keluarnya”. Lalu tanganku kutarik dan kupindahkan le paha nya saja. Aku bisiki:”Nanti lain kali saja sambil santai dihotel ya ?”. Inge mengangguk dan berkata:”Kira2 minggu depan saja sebab kalau sering pergi malam nanti nggak enak dgn tante kost” Setelah film selesai sambil jalan keluar, kurangkul pundaknya dan Ingepun memegang pinggangku sambil kepalanya disandarkan kebahuku. Aku ajak Inge makan malam sekalian sambil ngobrol macam2, Aku tanya: Inge, biasanya kamu diajak pacarmu santai dimana?”.

“Yaaah,kadang2 dihotel P atau hotel NP diatas Candi kadang2 juga dihotel R dibawah kalau malas jauh2″. Dengan jawaban Inge itu, aku sudah dpt mengambil kesimpulan bahwa Inge saat ini sdh bukan perawan lagi, jadi aku berani utk mengajaknya kehotel minggu depan. Selesai makan aku antarkan Inge pulang, sebelum turun mobil kupeluknya dan diapun membalasnya dgn merangkul leherku kuat2 untuk menerima ciuman dan kecupan2 pd bibirnya dan selesai itu dgn sedikit tehnik tanganku menyambar dan memijit buah dadanya. “Acch.. nakal ya oom?, katanya. dan “Bye…bye…. Pd keesokan harinya saya bertemu Inge dikantor dan kita bersikap biasa2 saja sehingga tak ada teman yg curiga kalau kita telah pacaran semalam. Saat aku tanya kenapa sang pacar tak mengantar lagi, Inge bilang kalau pacarnya sekarang lagi renggang walaupun belum ptus 100 % karena pacarnya yg SH itu dan bekerja sbg salesman electronic itu belakangan suka tersinggung tanpa sebab yg jelas. Mungkin iri atau malu karena Inge dpt kerjaan dgn gajih yg semetara ini lebih besar dr pdnya.

Suatu siang dihari Rabu seminggu setelah kita nonton, kebetulan Inge datang kekamarku dgn membawa laporan2 yg aku harus tanda tangani. Inge bertanya:”Pak, nanti malam bapak ada waktu?”. “Kenapa” tanyaku pura2 sebab dlm hatiku saat2 inilah yg kunantikan. “Kalau bapak ada waktu, Inge kepingin makan diluar tapi kok nggak ada teman” sahutnya. “Oke. kalau Inge yg ngajak saya bersedia. Jam 6 sore seperti minggu lalu saya datang kekost ya Inge?”. kataku. “Terima kasih ya pak”. Sore itu aku cepat2 pulang dan segera mandi. Jam 5.30 sore aku siap berangkat ke kostnya Inge, karena terlalu pagi Inge belum siap dan aku tunggu diruang tamu. Baru kira2 10 menit kemudian Inge keluar. Aku sempat terpesona beberapa saat, karean Inge yg saya tahu biasanya memakai rok agak mini dgn baju atau kaos pendek perutnya dan agak ketat. Kali ini tampil dgn memakai gaun panjang warna ungu dgn belahan yg agak tinggi dibagian paha sebelah kirinya, sehingga kalau jalan pahanya yg kiri nan putih bersih itu kelihatan dgn jelas dan bagian dalam pahanya kanan juga nampak samar2. “Ceeek….ceeekkk….ceeekkkk” komentarku. Inge bahkan tersenyum manis dan kemudian memutar tubuhnya dan ……bagian punggungnya terbuka lebar sampai kebawah dgn model huruf V sampai diatas pinggulnya.

Aku yakin sekali kalau Inge pasti no bra sekarang. Tanpa duduk, Inge langsung mengajak berangkat. Aku rangkul pinggangnya, Inge jadi agak kikuk taku kalau tante kostnya tahu. Begitu masuk mobil aku minta untuk mengecup dulu bibirnya yg merah merekah dan basah terus itu, sambil punggungnya yg terbuka itu ku-usap2 dan ternyata dugaan benar saat dadanya kutekan erat2 kedadaku terasa gumpalan daging yg kenyal dgn nama payu dara tanpa terlindungi spons BH menempel didadaku. Denyut jantungku langsung berdetak cepat. Kemudian mobil mulai kujalankan dan tangannya Inge diletakkan diatas paha kiriku sambil kadang2 memijit pahaku. Mau makan mana Inge ?. Terserah bapak” katanya. Memang Inge tetap tak mau panggil aku dgn sebutan lain, ia pilih dgn “pak” karena takut salah ngomong kalau dikantor nanti. “Kalau makan sate kambing apakah Inge suka?” tanyaku. “Mau pak, malah sebenarnya Inge sudah lama tak pernah makan itu karena pacar Inge tak suka daging kambing” katanya. Akhirnya kita rumah makan sate kambing. Saat turun dari mobil dan masuk kerumah makan sekarang ganti Inge yg selalu merangkul pingganku. Inge duduk disebelah kananku. memang kuatur demikan supaya tangan kananku bisa dekat dgn paha kirinya yg terbuka sampai keatas utk ku-raba2. Memang kali ini Inge berbeda dgn waktu nonton film, kali ini Inge tampak ceria dan manja.

Saat duduk makan Inge duduknya merapatkan tubuhnya ketubuhku serta tangannya memegang pahaku. Tanganku sebelum beraksi dipahanya kupakai utk meng-usap2 punggungnya yg terbuka. Untuk saat itu rumah makan masih sepi pengunjung,jadi aku agak bebas berkarya. Setelah puas meraba punggungnya tanganku kususupkan kedalam roknya kedaerah pinggang dan turun disana tanganku meraba CD nya. Kemudian tanganku bergerak keatas dan menyusup kebawah ketiaknya dan menuju kesamping depan sehingga ujung jari3ku dpt menyentuh samping payu daranya yg benar2 masih kenyal. Pekerjaaan tanganku berhenti saat pelayan membawa makanan kemeja kita. Saat makan tanganku kadang mulai meraba pahanya kiri yg terbuka itu. Inge betul2 penuh pengertian saat2 tangan kananku sibuk meraba pahanya, ia yg menyuapkan nasi kemulutku hingga tanganku diberi keleluasaan utk bermain dipahanya dan sampai vaginanyapun ku-raba2 dgn penuh kemesraan. Kadang2 tangan kananku kupakai utk menyendok makanan lagi, tapi lebih sering kupakai utk berkarya dipaha dan lubang vaginanya sedang Inge yg terus dgn kasih sayangnya menyuapi aku dgn makanan sampai suatu saat Inge mendesah dan memegang tanganku yg berkarya erat2 searya berkata:”Pak, karya tangan bapak benar2 hebat bisa membuat Inge basah”. Lalu kuraba vaginanya ternyata CD nya juga sdh basah apalagi lubang vaginanya, ujung jari2 ku kumasukkan kelubangnya utk bisa mengkait lendir yg menempel dibibir vaginanya ternyata usahaku itu berhasil juga.

Kulihat ada lendir kental mirip cendol menempel diujung telunjukku, segera kujilati lendir itu dan kutelan bersama makanan yg disuapkan oleh Inge. Aku betul2 merasa “hot” makan daging kambing dicampur lendirnya Inge, aku rebahkan kepalaku kekepalanya Inge sambil berbisik:”Inge sayang, saya menyayangimu”. Inge menjawab:”Pak, sebentar lagi Inge menjadi kepunyaan bapak seluruhnya, Inge akan memberikan segalanya yg terbaik utk bapak nanti. Percayalah” sambil mencium pipiku. Selesai makan, kita langsung menuju hotel CB dikota atas yg banyak pemandangannya walaupun itu hotel kuno.

Kita langsung check in, Inge tetap manjanya jalan merangkul pinggangku dgn badannya disandarkan ketubuhku. Pintu kamar segera kukunci setelah pelayan menyiapkan air minum, sabun dan handuk. Inge ganti kupeluk dan iapun merangkul leherku erat2 hingga permainan ciuman mulu, bibir dan lidah berlangsung dgn hangatnya dan penuh kemesraan, Karena saat aku menciumnya, kukecup dalam2 bibirnya dgn penuh perasaan hingga Inge bukan merasakan kenikmatan saja tetapi juga merasakan kasih sayangku. Setelah berciuman dgn mesranya untuk beberapa saat, maka tanganku kupakai utk meraba punggungnya yg terbuka, kurasakan tubuhnya Inge cukup hangat lalu kupegang rok bagian kedua pundaknya dan kutarik kedepan, Inge pun membantu dgn meluruskan tangannya kedepan sehingga roknya bagian atas langsung lepas dan payu daranya yg masih kenyal dan hangat kalau diraba itu terlihat dgn jelas didepan mataku ditambah putingnya yg kelihatan mulai membesar dan tegang dgn warna merah padma membuat aku terpesona.

Walaupun aku sudah sering menelanjangi dan meniduri pacarku dihotel, tetapi bentuk tubuhnya yg berbeda itu mempunyai daya rangsang yg tersendiri. Hanya karena kebiasaan yg sudah sering lihat pacarku dlm keadaan telanjang bulat itu yang bisa membuat aku mengendalikan emosi dan gelora nafsu mudaku. Roknya terus kutarik kebawah hingga terlepas semua kemudian kuambil dan kutaruh diatas meja dan Inge kuangkat utk kutidurkan diranjang dgn masih memakai CD saja. Tapi CD nya pun kulorot utk dilepas dan vaginanya yg spt bukit kecil itu tertutup oleh rambut yg cukup lebat.

Aku kemudian melepas T shirtku dan celana panjang serta CD ku sambil memandangi tubuhnya Inge yg telentang diranjang dgn pose yg menggiurkan ditambah lidahnya yg sering membasahi bibirnya itu. Aku dekati Inge kemudian kuciumi seluruh wajahnya dgn tangan menjelajahi seluruh daerah dadanya termasuk lembah dan bukit maupun puncak payu daranya sampai kepusarnya dan perut bagian bawah. Setelah ciumanku berpindah kebagian dadanya terutama bukit2 payu daranya tanganku mulai beraksi disekitar vaginanya serta pahanya serta sekali2 rambut bawahnya ku-tarik2 pelan2 sambil jari tengahku menggelitik itilnya yg mulai nongol.

Lalu kuciumi terus perutnya bawah sampai jembut dan daerah sekitar vaginanya dan paha2 nya serta tanganku terus mengusap dan memijit betis serta telapak kakinya. Ciumanku terus kelututnya , kemudian kebetis, tumit kaki lalu telapak kakinya sampai jari2 kakinyapun ku-hisap satu persatu semua baru aku balik naik mengisap dareha selakangnya Inge dgn membuka lebar2 pahanya lalu daerah antara anus dan vagina itu kucium dan kukecup serta kujilati sehingga Inge mendesah kenikmatan dan terasa ada cairan lendir yg nyemprot keluar dr lubang vaginanya. Setelah kulihat benar terlihat dr lubangnya vagina mengalir keluar cairan lendir dgn bau khusus. Langsung kucucup lubangnya dan kusedot kuat2 hingga sruuuuttt… lendirnya masuk kedalam mulutku dan kugelitik terus selangkangannya spy cairan nya keluar lagi lebih banyak dan kusedot terus dan ternyata benar Inge masih mengeluarkan lendirnya yg masuk kemulutku. Rasanya asin2, asem dgn bau khas seperti juga milik pacarku, aku memang jadi semangat dgn minum lendirnya. Langsung saja Inge kuajak main dgn pose 69, aku segera naik keatas tubuhnya dan kontolku kupaskan dihadapan mulut Inge spy mudah ia utk mempermainkan kontolku dgn lidah dan mulutnya sedang aku sendiri segera menyingkap jembutnya yg rimbun itu utk menjilati itilnya lalu ku-gigit2 dan ku-tarik2 juga itilnya dgn bibirku. Inge tampak terangsang sekali dgn permainan mulutku di darah vaginanya, apalagi pahanya sekarang kubuka lebar2 dan selangkangannya antara anus dan vaginanya kugosok terus dgn jari2-ku dan kadang2 kujilati. Begitu itilnya kugetarkan dgn ujung lidahku yg bergerak begitu cepat (spt lidah cecak katanya pacarku) hanya semenit saja Inge sudah berontak dgn kakinya dan pantatnya digerakan kesana kemari kemudian mengaduh:”Aduuuu…pak, Inge nggak tahan….sudah keluar dan lemas pak”.

Saat itu terasa lendirnya nyemprot dan mengenai hidungku, segera kucucup lagi lubang vaginanya utk kusedot semua lendirnya yg sudah keluar dilubang vaginanya. Aku merasakan kenikmatan juga dari semprotan lendirnya itu dan vaginanya jadi basah semua. Aku sekarang membelai rambutnya dan mengusap keringat yg banyak dikeningnya serta bertanya:”Inge sayang, apakah Inge sdh capai?”. “Belum pak, Inge cuma lemas saja karena tak kuat menahan kenikmatan yg luar biasa dari permainan lidah bapak tadi, rasanya sampai ujung rambut dan ujung kaki pak” sahutnya. “Kalau begitu kita main lagi ya?” kataku.

Inge mengganggukan kepala. Lalu aku naik lagi ketubuhnya dan kumasukkan kontolku pelan2 kelubang vaginanya, kemudian kutarik keluar lagi pelan2 setelah masuk keluar ini lancar ber-ulang2 lalu kontolku langsungkubenamkan seluruhnya kedlm vaginanya, sampai Inge menghela napas panjang menahan sakit dan nikmatnya karena katanya masunya terlalu dalam. Setelah itu kugerakan pantatku memutar searah jarum jam sehingga Inge menjerit kenikmatan terus karena itilnya tergesek oleh jembutku dan dindidng dlm vaginya tergesek oleh batang kontolku yang mengeras sehingga ia berbisik:”Aduuuh pak, nikmat rasanya luar biasa.

Aku mau orgasme pak”. Mendengar itu aku langsung menciumi payu daranya yg sebelah kiri, karena Inge bilang lebih sensitive dr pd yg kanan dan puting nya langsung kugetarkan lagi dgn ujung lidahku. Tanpa basa basi lagi hanya beberapa detik terasa vaginanya mencengkeram kontolku dan ber-denyut2 serta ada lendir hangat yg menyiram kontolku. Inge sudah klimaks, ia tampak terkulai lemas. “Capai Inge, sayang?” tanyaku. “Iya…pak” sahutnya lirih manja. “Tolong Inge diberi air maninya pak” pintanya. “Sekarang ?”tanyaku. “Iya pak” . “Tahan sebentar lagi iya, nanti aku semprotkan”. Lalu aku mengkonsentrasikan segenap pikiranku pada segala keindahan tubuh Inge yg sedang kunaiki ini dan tingkah polahnya yg merangsang sambil memandang bibirnya yg erah basah merangsang kugenjot terus gerakan kontolku naik turun dan makin lama makin cepat sampai Inge menggeliat, menggelinjang tak keruan sambil menarik lepas sprei dan meremas-remasnya dan akhirnya…crruuuutttt…cruuuuuttttt…..crrruuuutt, maniku nyemprot kedlam vaginanya sambil kutakan terus kontolku dalam2 kevaginanya. “”"Sssseeetttt….aaaaacccchhhh, Inge merasakan kehangatan yg luar biasa dari air maninya bapak” Dan Inge pun orgasme lagi karena kontolku merasakan vaginanya ber-denyut2 lagi. Setelah beberapa menit kita istirahat dgn tidur bertindihan sambil berpelukan, kita bangun tidak terasa jam telah menunjukkan pk 9.30. Karena sdh agak malam Inge cepat2 bangun dan mengambil handuk yg dibasahi lalu memebrsihkan kontolku dan kemudian vaginanya.Kita tak cuci karena makan waktu lama. Segera Inge memakai ronya lagi demikian aku juga. Sedang CD nya dilipat dan dimasukkan do,pet karena masih basah kena lendir saat kugosok itilnya dirumah makan tadi.Dalam perjalanan pulang Inge sempat tanya:”Bapak jadi kawin kapan?” “Iya masih 2-3 th lagi tunggu pacarku selesai kuliah”sahutku. “Kenapa?” tanyaku.

Inge merebahkan kepalanya kebahuku sambil berkata:”Inge tak akan kawin dulu kok tunggu kalau mungkin ada mujijat”. “Maksud Inge ?” tanyaku. “Siapa tahu suatu saat Inge dpt kabar gembira dari bapak. Sebab Inge malam ini benar2 meraskan kenikmatan yg hebat dari bapak dan lebih dari itu Inge merasakan bapak meniduri Inge dengan penuh kasih dan kemesraan yg layaknya suami istri yg dipenuhi rasa cinta. Kapan2 Inge boleh merasakan lagi ya pak?” “Kapan saja Inge kangen saya bersedia, tapi Inge harus benar2 atur waktunya jangan sampai Inge hamil yaa!”pesanku. Saat mobil sampai dirumah kost, Inge tak segera turun ia malah merangkul leherku dan ditariknya aku lalu diciuminya seleuruh wajahku dgn penuh perasaan hatinya dan terlihat matanya memerah dan ber-kaca2. Aku jadi trenyuh dibuatnya, kubelai rambutnya dan kuusap matanya yg berair lalu kubisiki:”Inge jangan sedih kan tiap hari kita masih bertemu.

Inge malam ini capai nanti langsung istirahat ya, jangan melamun macam2 ya sayang?” pesanku sambil kubelai sayang dari rambutnya pipinya terus payu daranya sampai pahanya yg terbuka itu, baru Inge mau turun dgn senyum kecil. Esok harinya dikantor pagi2 saat aku panggil Inge utk memberikan tugas, ia masuk kekamarku dgn senyum2 manja, setelah kujelaskan tugas2 yg hrs dikerjakan kutanya kenapa kok senyum2. Inge menjawab sambil mendekat kesisiku :”Pak, air maninya semalam baru keluar tadi saat Inge duduk dikantor sekarang CD nya Inge jadi basah”. Karena Inge sudah mendekat tandanya minta utk dibuktikan, maka kuraba melalui bawah roknya dan benar CD bagian vaginanya basah juga sela2 pahanya basah agak licin dan ternyata baunya memang spt maniku.

Aku bilang:”Inge kamu cuci dulu sana ya”. Inge menggelengkan kepalanya dan berkata:”Biarin saja pak, Inge toch nggak punya CD lagi dikantor malah nggak enak kalau dilepas CD nya, sampai nanti sore juga tak apa2 malah nanti siang mungkin sudah kering sendiri.” Lalu tangan digenggam erat2 dan memandang tajam penuh arti dan berkata:”Kapan bapak mau memberikan kemesraan dan kepuasan lagi pd Inge?. “Kapan saja terserah Inge” kataku. Semenjak itu aku sering diajak kencan hampir tiap minggu sekali dan setelah pacarnya baik kembali hubungannya hubungan sex tetap berlangsung terus kira2 tiap bulan sekali sambil cerita2 apa2 saja yg dilakukan suaminya pdnya. Sampai sekarang sudah hampir sepuluh tahun berlalu dan aku sdh pindah kerja di bank, sedang Inge menggantikan jabatanku dan kami masing2 telah berkelarga dan punya anak, tapi hubungan intim itu masih tetap berlangsung disiang hari saat jam makan siang, hanya frekwensinya jauh berkurang kira2 3-4 bln sekali. Tapi justru karena waktu yg lama itu menyebabkan tiap kali hubungan intim itu tambah mesra saja dan bukan menjadi kebosanan.Sekian.

Tamat
Lihat Koleksi Bugil Lengkap..