Navigation


RSS : Articles / Comments


Di dalam Grand Civic

22.42, Posted by admin, One Comment

Aku mengenalnya tanpa sengaja, waktu itu hujan deras mengguyur Jakarta. Kukendarai mobilku hati-hati, karena memang pandangan amat terbatas. Sebuah metro mini mendadak memotong haluan, aku benar-benar kaget, secara reflek kuinjak rem dan tangan kiri mengubah persneling ke gigi netral sambil membanting stir ke kiri, nyaris menghantam trotoar.

Sambil bersungut kulihat metro mini yang sudah demikian penuh mengambil penumpang, aku hanya tertegun memperhatikannya. Saat hendak menjalankan mobil, perneling masuk gigi satu, kulihatseorang gadis melambaikan tangan, segera kembali rem kuinjak, gadis berpakaian putih-putih itu langsung masuk ke mobil.

“Numpang ya mas..?” katanya.
Aku tersenyum dan mengangguk, “Kehujanan..?” tanyaku sekenanya.

Akhirnya kami berkenalan, “Nama saya Putri..” ia menyebut namanya sambil kami berjabat tangan.
“Saya Harnoto..” aku pun memperkenalkan diri.
Setelah berbasa-basi sana-sini sambil menanyakan tempat tinggal dan sebagainya, ternyata diatinggal di sekitar Kranji. Sepanjang jalan kulirik gadis itu yang ternyata masih kelas tiga SMA, tubuhnya yang terbungkus baju basah agak menggigil, blouse-nya melekat memperlihatkan bra dan isinya yang ukurannya lumayan.

Sampai di Kranji, Putri turun dan melambaikan tangannya. Aku pun menggenjot pedal gas tanpa pernah memikirkannya lagi. Delapan hari setalah pertemuan itu, aku tengah berbelanja kebutuhan anak-anakku, susu, pasta gigi, sabun, dan sebagainya, maklumlah istriku telah meninggal setahun lalu karena penyakit. Kini aku adalah bapak sekaligus ibu bagi ketiga anakku yang masih kecil-kecil. Yang tertua baru kelas 1 SD.

Saat antri di kasir, tiba-tiba terdengat suara ringan memanggil namaku, “Mas Harnoto..”

Aku menoleh dan tersenyum, lupa-lupa ingat pada seorang cewek dengan t-shirt dan jeans-nya. “Aku Putri.., lupa ya..?”
Sambil berusaha keras mengingat, aku masih tersenyum, akhirnya aku ingat, ini anak SMA yangkehujanan seminggu lalu.

Singkat cerita kami kembali bersamaan, kali ini Putri lebih banyak ngobrol tentang berbagai hal, aku hanya menjadi pendengar setia.
Saat mendekati rumahnya, Putri mempersilakan mampir, tapi aku menggeleng, “Lain kali..,” ujarku basa-basi.
“Mas.. lusa aku pesta perpisahan sekolah, boleh dong Mas anterin..?” pandangannya begitu memohon.
Akhirnya aku mengiyakan.

Sore sekitar pukul 18:30, aku menunggu Putri di tempat yang dijanjikan, karena jalan ke rumahnya tidak mungkin dilalui mobil. Aku berpakaian sepantasnya dan Putri mengenakan gaun malam ungu, tampak begitu dewasa. Belahan lehernya yang agak dalam membuat dua bukit kembarnya tersembul apabila dia salah posisi. Diam-diam jantungku berdegup melihat semua itu. Pesta perpisahan berlagsung meriah, meski aku kurang bisa menimati, tapi aku duduk bertahan sampai selesai.
Sekitar pukur 23:00, acara selesai. Putri mengajakku pulang.
“Acaranya menarik nggak..?” tanya Putri lincah.
Aku hanya tersenyum menatapnya.
“Anak-anak nggak apa-apa ditinggal, maaf ya ngrepotin..” kembali Putri berkata lincah, aku masih tersenyum.
“Mas, jalan-jalan dulu yuk..!” ajak putri.
“Udah malem, mau kemana..?” aku terus-terang jadi bingung.
“Muter-muter aja..!” pintanya lagi, “Sambil ngobrol..”
Kupikir, daripada sumpek, kuiyakan ajakannya.
Kuarahkan mobil menuju jalan tol Jakarta-Cikampek.
Begitu melewati pintu gerbang, “Ke Purwakarta aja mas..!” Putri memutuskan.
Aku mengangguk. Kami berbagi cerita tentang kehidupan kami sehari-hari.
“Berat ya beban mas, ditinggali tiga anak.” ujarnya pelan, meyakinkan.
Aku hanya menarik nafas mengingat istri tercinta yang telah tiada. Putri memilih-milih CD dan akhirnya memuttar koleksi lagu-lagu kenangan Rafika Duri.

Kira-kira mendekati Cibitung, putri merebahkan kepalanya ke pundakku, kurasakan kelembutan rambutnya yang lebat. Putri memiliki paduan badan yang seimbang, dengan tinggi 165 cm dan berat 50 kg, sungguh ideal, bibirnya agak tebal dan bentuknya melengkung ke bawah. Kurasakan aroma keharuman tubuhnya. Entah darimana mulanya, tiba-tiba tangan kriku telah merengkuh pundaknya. Kubelai pipinya yang halus, sementara tangan kanan tetap memegang stir. Putri tersenyum, dalam keremangan nampak begitu indah tatapan sendu matanya. Putri semakin dalam membenamkan kepalanya ke pundakku, tangannya tersandar di paha kiriku.

Setelah setahun lebih tidak berdekatan dengan wanita, gelora dadaku tidak lagi tertahankan, jantungku berdegup amat keras tidak beraturan dan celanaku semakin terasa sesak. Putri kembali tersenyum.
Tanpa kuduga, tiba-tiba Putri mengecup pipiku, “Aku mengagumi mas.. sejak pertama ketemu.” katanya lirih, amat dekat di telingaku, sehingga dengus nafasnya begitu dekat di pipiku.

Batinku semakin tidak menentu, kembali aku dikejutkan oleh gesekan lembut tangan Putri tepat di alat vitalku yang terbungkus rapat.
Aku kaget saat Putri tertawa kecil, “Udah kelamaan ya..?”

Dia terus mengelus-elus alat vitalku yang kian mengeras. Tangan kiriku tiba-tiba punya keberanian untuk menyentuh tonjolan di dada kiri Putri, bra yang keras membuatku penasaran.
“Sebetantar..” kata Putri.
Dia merapikan duduknya, menyondongkan tubuhnya ke depan dan tangannya bergerak ke belakang. Melihat gerakan ini aku belum mengerti apa maksudnya. Saat dia melepas bra-nya dan melempar ke jok belakang, barulah aku memahami semuanya. Tanpa tunggu lebih lama lagi, aku langsung merengkuh pundaknya dan tanganku menyelusup ke dalam gaun ungunya, hatiku bergetar saat menyentuh tonjolan daging empuk di dada Putri. Kuremas pelan-pelan sambil sesekali memelintir puting yang kecil dan lembut.

Aku terkaget-kaget saat tiba-tiba Putri melepaskan ikat pinggangku, melemparnya ke jok belakang, menyingkap kemejaku dan kemudian membuka resliting celanaku. Mobil kupacu pelan dan kuarahkan ke lajur kiri, jantungku terus berdegup. Apalagi saat tangan lembut Putri menyerobot batang vitalku dan mengeluarkannya, tangan kirinya membimbing tangan kiriku agar terus ke bawah. Dengan segala ketrampilan, jemariku menyentuh bulu-bulu lebut dibalik CD Putri, mengelusnya sambil menahan nafas. Putri menggelinjang kegelian, tangan kanannya terus meremas halus batang vitalku. Mendadak sebuah gerakan tidak terduga dilakukan Putri, kepalanya menuju ke arah batang vitalku, aku kaget, kugeser tempat duduk, dan kustel agak merebah sandarankursiku, sambil terus menyetir, kuatur agar kepala Putri leluasa di pangkuanku. Aku tidak mau kepalanya yang indah tersenggol stir.

Pelan-pelan Putri mengecup, melumat dan menyedot batang vitalku, sambil kaki tetap menginjak pedal gas, pantatku bergerak seirama sedotan mulut Putri, tangan kiriku berpindah-pindah antarapayudara yang lembut namun kenyal dan selipan di kedua pahanya. Mobil masil meluncur menuju arah Purwakarta, makin lama sedotan Putri semakin liar, bajuku berantakan, gaun Putri juga tersingkap tidak karuan. Putri terus melumat, menjilat dan menyedot batang vitalku yang kian mengeras, desahan nafasnya dan degup jantungku berpacu bak kuda balap. Putri terus menyedot, sementara jemari kiriku menari-nari di selangkangan Putri. Putri mendesah, seiring mulaibasahnya selangkangan, batang vitalku pun mengeras. Aku terus memelintir klitoris, dan jemariku menyusup semakin dalam.
Putri merapatkan kedua kakinya, mulutnya terus mengulum dan menyedot. Tiba-tiba Putri mendesah dan menggigit batang vitalku, aku kaget.
“Maaf..!” ujarnya.
Rupanya dia telah orgasme. Kembali Putri mengulum batang vitalku, pinggangku pun bergerak turunnaik, mengikuti sedotan Putri. Kira-kira melewati Karawang barat, aku merasakan desakan hebat di batang vitalku, segera kutarik kepala Putri, kulumat bibirnya, sambil tetap berusaha mendapatkan pandangan arah depan, agar tidak menabrak.

Jemari lembut Putri kini mengambil alih tugas mulutnya, mengocok batang kemaluanku yang telah licin. Pantatku naik karena desakan dari dalam, isyarat ini ditangkap putri dengan respon merapatkan dadanya dan gerak tangan kanannya semakin keras berirama, namun tetap lembut. Tak lama kemudian menyemburlah cairan bahan manusia dari batang vitalku. Putri menggenggam batang vitalku erat-erat agar tidak bertaburan kemana-mana, dan aku pun lunglai. Putri tersenyum, memandangku, menyambar tissue dan mulai mengelap batang vitalku yang basah, juga perutku dantangannya.

Putri terus sibuk mengelap dengan tissue seraya tersenyum padaku.
“Terima kasih.. Putri..,” desahku sambil mengecup keningnya.
Putri tersenyum, mengecup batang kemaluanku sekali dan membereskan celana serta bajuku. Saat melihat gerbang tol Cikampek, Putri segera membenahi gaunnya dan duduk manis di jok kiri. Keluar pintu gerbang, aku memutar arah untuk masuk gerbang lagi. Putri tersenyum, melihat keheranannya penjaga gerbang tol, aku pun tersenyum sambil berpandangan.
Melewati jalan tol, kembali Putri merebahkan kepalanya ke pundakku. Sejak itu, kami seringmelakukan petualangan kenikmatan sepanjang jalan tol, di atas Grand Civic-ku. Indah sekali.

Tamat
Lihat Koleksi Bugil Lengkap..

Ohhh Diana

22.41, Posted by admin, One Comment

Aku tidak menyangka bahwa kota yang kecil seperti “M” di Jawa Timur ini bisa membuatku mengenal banyak wanita dan mereka semua rata-rata sudah mapan dan berkeluarga. Kejadiannya mulanya juga tidak kuduga. Pertama kali aku mengikuti senam pada sebuah sanggar senam yang cukup terkenal dan pada awalnya setelah selesai senam aku langsung tancap gas dan pulang.

Suatu ketika pada waktu senam usai aku merasa lapar, kusempatkan sebentar mampir di kantin depan untuk minum, di sana kulihat banyak sekali wanita dengan riang dan tertawa lepas. Sambil minum aku merasa ada sepasang mata melihatku dengan serius dan kucoba menoleh dan dia tersenyum. Kutaksir umurnya 32 tahun tetapi badannya masih sip. Kubuang pandang mataku menjauhi untuk menghindari tatapan matanya tapi tak lama kemudian aku dibuat terkejut oleh suaranya yang sudah berada di dekatku.

“Sendirian ya, boleh aku duduk disini?”, pintanya sambil meletakkan pantatnya di kursi depanku, sehingga dia sekarang jelas berada di hadapanku.

Dia memperkenalkan diri dengan nama Diana dan aku menyambut dengan memperkenalkan namaku Ade. Saat dia ngobrol kuperhatikan bodynya cukup bagus, dadanya kutaksir nomor 32 B kecil namun padat, pinggangnya ramping. Perkenalan awal ini akhirnya aku dan Diana menjadi lebih akrab. Suatu ketika saat aku pulang senam kulihat Diana sendiri, dengan baik hati aku menawarkan dia untuk aku antar ketujuannya dan dia tidak menolak.

Di dalam mobil sesekali mataku mencuri pandang ke arah dadanya, kali ini Diana memakai kaos dengan leher rendah dan ketat sehingga nampak jelas garis BH-nya. Tanpa terasa dia juga melihat ekor mataku.
“Hayo De,.. kamu lihat apa barusan.., Kalo nyetir yang bagus dong jangan lihat samping ntar kalo nabrak bagaimana”, tanyanya pura-pura marah.
“Ah.., Nggak ada cuman lihat aja kok”, jawabku bingung sambil menggaruk kepala yang tidak gatal tanda aku manyun.
“Ah.., Sudahlah,.. toh sama juga khan dengan punya istrimu dirumah”, timpalnya sambil tersenyum.
Aku jadi salah tingkah saat pertama kali berkenalan kami memang sama-sama mengaku jujur tentang kondisi masing-masing. Kendaraan memasuki halaman yang cukup luas dengan taman yang cukup bagus.

“Masuk dulu De,.. aku ada perlu pengin cerita-cerita ama kamu”, pintanya.
Tanpa persetujuan lagi aku memasuki ruang tamunya. Tak lama kemudian Diana keluar dengan memakai rok mini dan kaos tanpa lengan. Pandanganku jadi kacau melihatnya, dari sela ketiaknya kulihat jelas BH nya hitam dengan daging yang menyembul indah.

“Lho.., kok sepi nih, mana keluargamu yang lain..”, tanyaku menyelidik.
“Anakku masih sekolah sedangkan suamiku sudah 4 hari ini tidak pulang, biasa bisnis”, jawabnya.
Sambil kulihat tangannya mengutak-atik remote televisi.
“Nah terus kegiatanmu apa kalo lagi sepi begini..”, tanyaku lagi.
Sambil sesekali mataku kuarakhan pada pahanya yang mulus terlihat dibalik rok mininya.
“Yach biasanya sih abis senam aku kumpul-kumpul ama beberapa ibu-ibu dan dilanjutkan dengan santai-santai, belanja atau putar video.., e.., e.., Yah tahu sendirilah..”, senyumnya menggoda.
Gaya duduk Diana berubah ubah sehingga aku semakin bebas mengarahkan mataku pada pahanya yang terkadang menyembul banyak di sela rok mininya. Timbul niat isengku untuk menggodanya lebih jauh.
“Video apaan sih..”, tanyaku pura-pura bodoh.
Lama Diana terdiam dan akhirnya dia mengarahkan tangannya pada televisi dan tak lama kulihat adegan yang cukup mendebarkan yaitu seorang lelaki hitam dengan penis yang lumayan besar sedang dikulum oleh perempuan kulit putih. Kontras sekali nampaknya, aku terkejut sambil memandang Diana, dia tersenyum aku jadi salah tingkah. Akhirnya televisinya dimatikan.
“Yah itulah yang sering kami tonton bersama De.., Kami puas setelah menonton terus rumpi sama-sama, kebetulan hari ini mereka ada acara dan aku tidak sehingga aku sendirian saat ini”, ceritanya pasrah.
“Nonton aja apa enaknya?”, tanyaku menggoda padahal penisku sendiri sudah mulai tegak berdiri.
“Mending aku bantuin lho kalo begini”, pintaku sambil senyum
“Ah.., De paling-paling kamu juga takut.., cuman omong aja.., Mancing ya..”, dia menimpali.
Aku merasa tertantang dengan perkataannya.
“Nggak kok, bener deh coba aja nyalain televisinya..”
“Terus ngapain, berani beneran kamu”, tantangnya tak kalah ngotot.
“He em.., Lihat aja.., aku udah tadi kok geregetan lihat kamu”, balasku menantang.
Kulihat wajahnya memerah dan tanpa menunggu waktu lagi tangan Diana memijit tombol remote dan kulihat kembali bagaimana ganasnya cewek menghisap kemaluan si cowok. Diana menggeser duduknya mendekatiku.
“De terus terang aku sama teman-teman sudah lama memperhatikan dirimu”, bisiknya.
Belum sempat dia meneruskan aku sudah menyorongkan mulutku padanya, diluar dugaan dia langsung membalas dengan ganas dan buas. Hampir aku tidak bisa bernafas dan dengan sigap tanganku menjelajah seluruh tubuhnya. Tiba pada gumpalan daging yang mulai tadi kulirik kini sudah berada di genggamanku. Dengan lembut kuelus dan kuremas, Diana menggelinjang. Karena kursi yang kududuki sempit aku mencoba menggeser Diana pada tempat yang lebih lapang yaitu di karpet bawah. Dengan perlahan tanganku mulai masuk pada gading susunya lewat celah ketiaknya. Kenyal sekali, kuucek terus sampai kurasakan pentil Diana mulai mengeras sementara mulutku masih dikuasai oleh lidahnya yang panas.

Kutarik mulutku dan kuangkat kaos Diana lewat kepalanya sehingga kini Diana tinggal hanya BH dan rok mininya. Aku melihat tak berkedip betapa besar dan indahnya susu Diana walaupun sudah beranak tiga. Dengan cepat kutarik susu itu keluar dari Bhnya. Perlahan mulutku mendarat mulus pada lingkaran coklat kehitaman ditengah susunya. Kuhisap pentil Diana yang mengeras dan besar. Dia mengerang tak karuan. Kuteruskan sambil tanganku mengusap seluruh tubuhnya. Aku menindih Diana perlahan, kurasakan penisku yang mulai membesar menatap perut Diana dan Diana menarik diri keatas sehingga penisku mengarah tepat diselangkangannya. Tangan kiriku memeluk lehernya mulutku kearah susu kiri dan kanan sementara tangan kananku menjelajah tubuhnya. Kini tangan kiriku berpindah disusunya dan mulutku menciumi perut dan pusarnya sementara tangan kananku kini pada tempat yang tadi ditindih penisku yaitu memeknya. Diana terkejut dan “Enngh.., zz..”, dan suara itu tak beda dengan suara televisi yang kulirik semakin hot saja, tanganku tambah berani saja, kusibakkan rok mininya dan kuelus memeknya.

Tanganku tak sabar dengan cepat kumasukkan tanganku pada CD nya dan kurasakan betapa lebat rambut memeknya. Basah dan becak semakin terasa saat lubang memeknya tersentuk jari tengahku. Kuucek perlahan Diana semakin tak karuan tingkahnya dan jariku yang lain mempermainkan klentitnya. Aku tak bebas kutarik semua yang melekat didaerah pahanya yaitu rok dan CDnya, Diana hanya terpejam merasakan seluruh gerakanku. Kuperhatikan sekarang seorang perempuan telanjang bulat dengan susu yang besar serta rambut kemaluan lebat dan klentit yang cukup panjang keluar agak kaku. Tanganku terus mengucek lubang kemaluan Diana dan kudengar lenguhan tak karuan saat dua jariku masuk ke lubangnya.
Aku terkejut tiba-tiba Diana bangun dan menarik tanganku menjauh dari lubang kemaluannya.., dengan mendesah Diana menarik kancing bajuku dan menurunkan retsleting celanaku hingga terlepas dan kini aku tinggal memakai CD saja. Diana menelusuri tubuhku dengan mulut mungilnya. Kini aku yang merasakan gejolak nafsu yang luar biasa, kurasakan tangan Diana mengelus penisku dari luar CD-ku.

Mulut Diana semakin tak karuan arahnya leher, dada, pinggangku digigit kecil dan perutku juga tak luput dari ciumannya aku didorong sehingga posisku terlentang saat ini, tanganku hanya bisa menggapai kepala Diana yang kini berada diperutku. Kurasakan tangan mungil mulai meremas-remas keras penisku dan penisku semakin kaku saja. Kuperhatikan wajah Diana terkejut saat tanganya mulai masuk CD dan memegang penisku. Cepat-cepat disibaknya semua penghalang penisku dan kini dia nampak jelas bagaimana penisku meradang. Kepala penisku memerah dan tangan Diana tak sanggup menutup semua bagian penisku. Diremas-remas dengan gemas penisku dan memandangku mesra. Aku mengikuti matanya dan mengangguk. Diana mengerti anggukanku dan dengan perlahan mulut Diana disorongkan pada kepala penisku. Aku merasa hangat saat mulut kecil itu mendarat di penisku. Diana mulai menggila dengan menghisap dan menjilat seluruh bagian penisku. Aku merasakan penisku berdenyut keras menahan hisapan kuat mulut Diana. Diana semakin menjadi mendengar eranganku, seluruh tubuhku terasa melayang merasakan panasnya lidah yang menjilat dan mulut mungil yang menghisap, dan kuperhatikan kepala Diana naik turun dengan mulut penuh.
Tangan Diana juga tidak tinggal diam kuperhatikan tangan kirinya sibuk meggosok memeknya sendiri dan tangan kanannya memegang penisku dan mengocoknya sementara mulutnya tetap aktif menghisap dan terus menghisap.
Diana kini mulai menjauhkan mulutnya pada penisku dan tak seberapa lama dia duduk sambil menuntun penisku diarahkan pada memeknya, rupanya Diana juga tidak sabar ini terbukti dengan dipaksakan dengan keras memeknya untuk tertusuk penisku dan kurasakan penisku hangat saat menembus lubang memek Diana. Kusaksikan wajah Diana meringis menahan laju penisku di memeknya, dia tidak bergerak menyesuakan diri dengan penisku. Aku merasakan penisku berdenyut seperti dipijat, Diana perlahan mulai menggoyangkan pantatnya naik turun sambil rambutnya tergerai dan kulihat susu Diana bergerak dan brgoyang indah, cepat-cepat kuremas dan kuusap-usap susu besar itu dan tak seberapa lama kusaksikan Diana mengejang dengan memelukku erat dan kurasakan ada kuku yang menancap di punggungku.
“Ssstt, eennghh.., Aku nggak tahan De..”, lenguhnya.
Aku menjadi giat menggoyang penisku menusuk-nusuk memeknya yang semakin basah, suara kecipak memek Diana saat kutusuk membuatku semakin bergairah dan.., aku memegang pinggang Diana untuk mengarahkan semua penisku pada lubangnya, aku mulai merasakan penisku panas dan mau keluar.
“Diana.., aku mulai nggak tahan nih.., mau keluar.., ahh”, sambil terus kugoyang pantatku berputar dan meremas pinggulnya yang berisi.
Diana semakin menjadi dan bersamaan dengan keluarnya spermaku aku merasakan ketegangan yang luar biasa bahkan lebih hebat dari yang tadi, kaki Diana kaku dan melingakar pada kakiku dan erangannya semakin keras dan binal. Pagutan tangannya kurasakan sampai aku hampir tak bernafas.., Kami berdua puas dan sama-sama kelelahan.

Sejak saat itu sampai sekarang aku masih sering melakukan hubungan sex dengan Diana, bahkan secara sembunyi-sembunyi aku sempat merasakan memek lain milik sahabat Diana, karena Diana pernah berkata bahwa dia tidak suka melihat aku melayani teman-temannya, dan bahkan ada beberapa ibu-ibu yang tetap jadi tumpuan penisku. Bahkan berkat informasi dari mereka-mereka kini aku biasa melakukan hubungan sex dengan mereka yang kesepian. Aku minta maaf, jika Diana sempat membaca ini, bukan maksudku untuk membuka rahasia, tapi aku ingin membagi cerita dengan yang lain. Untuk pembaca nanti akan kutulis lagi pengalamanku dengan sahabat Diana.

Tamat
Lihat Koleksi Bugil Lengkap..

Farewell to Diana

22.34, Posted by admin, One Comment

Setengah tahun berlalu setelah malam nikmat bersama Diana dan Sinta, seiring dengan waktu dan kesibukan kuliah, perasaanku berangsur-angsur mulai normal kembali. Tak terasa akhirnya tiba saatnya berpisah dengan Diana, gadis yang kuanggap kakakku sendiri, dia telah diwisuda dan bersiap-siap akan kembali ke kota asalnya di Pontianak. Dua tahun lebih aku telah dekat dengannya sehingga perpisahan ini terasa cukup berat bagiku. Sebenarnya nasib Diana ini agak menyedihkan, ketika SMA kelas 2 ayahnya meninggal dunia, dia hidup bersama ibunya yang membuka restoran di kotanya, untunglah kakaknya sudah mendapat pekerjaan bagus di Singapore sehingga kehidupan mereka sekarang cukup baik dan cukup baginya untuk biaya kuliah di salah satu PTS favorit di Jakarta.

Setelah pacarnya lulus dan ke luar negeri, tinggal dia sendirian, sifatnya yang dingin membuatnya kurang banyak teman selain aku, Sinta, Vivi, dan beberapa orang lainnya. Siang itu itu, aku ke kamarnya ingin memberikan bingkisan kecil sebagai kenang-kenangan. Pintu kamarnya sedikit terbuka dan dia sedang bicara melalui HP-nya, setelah aku masuk dia mengisyaratkan agar aku menutup kembali pintu kamar. Kutunggu hingga dia selesai berbicara, nada pembicaraannya agak tidak enak, kupikir pasti dia sedang ribut dengan pacarnya.

“Eh Le, nggak kuliah kamu?” tanyanya begitu mematikan HP.
“Udah kok Ci, baru aja pulang hari ini kuliah cuma sampai jam 10 kok, yah sekalian pulang kuliah beliin ini buat Cici, terima yah Ci, ini dari gua dan Vivi,” jawabku sambil menyerahkan bungkusan kecil padanya.
“Aduh, thanks banget Le, jadi ngerepotin nih, boleh dibuka sekarang nggak?”
“Jangan Ci, mending entar aja di pesawat atau di rumah Cici, biar penasaran gitu.”
“Le, Cici juga ada permintaan terakhir, kamu mau bantu Cici kan,” katanya.
“Kita kan sudah seperti saudara gini Ci, kalau ada apa-apa ngomong aja, gua pasti sebisa mungkin ngebantu!”
“Eh, tapi itu pintunya tolong ditutup rapat dulu dong anginnya masuk nih, kalau perlu kunci saja dulu!”

Entah mengapa meskipun agak heran kuturuti juga perkataannya. Begitu pintu kukunci, kurasakan dia memelukku dari belakang dan mengelus dadaku.

“Leo, kamu ingat kan malam ketika menyelamatkan Cici dari bajingan?” tanyanya mesra.
“Inget.. inget dong.. eh.. apa, jadi maksud Cici, Cici mau melakukan itu lagi?”
Belum habis rasa kagetku elusannya di dada merambat turun ke bagian vitalku yang masih tertutup celana.
“Ci jangan gitu, gua kan nggak enak nih!” kataku malu-malu mau.
Lalu dia menggandengku ke meja belajarnya, sebenarnya dalam hati aku sudah tidak enak, namun apa daya nafsu berkata lain, dia duduk di kursi dan menyuruhku tetap berdiri. Tanpa omong apa-apa lagi langsung dipelorotkannya celana pendekku sehingga benda dibaliknya yang sudah mengeras menyembul di hadapan wajahnya.
“Le, tolong ya, ini kan hari terakhir Cici di sini, Cici cuma minta ini saja sebagai kenangan, kamu mau kan?” sebelum aku mengiyakan dia langsung menjilati buah kemaluanku kemudian dimasukkannya batang kemaluanku ke mulut mungilnya dan diemut-emut. Aku hanya bisa merem melek saja menikmati permainan mulutnya. Senjataku tidak dapat seluruhnya masuk ke mulut mungilnya, karena cukup besar (17 cm ketika menegang). Dia sepertinya lebih lihai daripada saat pertama “ML” denganku dulu. Sentuhan bibir dan lidahnya, serta ludahnya yang hangat sungguh mendatangkan kenikmatan tersendiri, apalagi ketika kurasakan ujung kemaluanku yang sensitif menyentuh tenggorokannya.

Selama lebih dari 15 menit lebih benda itu tidak dilepaskan dari mulutnya, kini aku mulai mencapai klimaks, aku mengerang sambil menggigit bibir, “Uuhh.. Ci.. udah Ci, lepasin, mau keluar ahh..!” maniku tercurah di mulutnya, namun dia tetap tidak melepasnya, dari ekspresi wajahnya tampak dia berusaha keras menelan semua cairan itu, tetapi sebelum semprotan terakhir dia sudah tidak tahan lagi karena terlalu banyak dan.. “Creet..!” semburan terakhir itu mengenai hidungnya dan sisanya menetes di pinggir bibirnya. “Oh sial, gagal deh!” katanya sambil menepuk kening. Dia berdiri dan mengelap spermaku yang menyemprot di wajahnya. Dengan penuh hasrat dia langsung melumat bibirku, lidahnya beradu dengan ganas dengan lidahku, dapat kurasakan bau spermaku di mulutnya. Kududukan dia di tepi meja dan kunaikkan baju kaosnya, tanganku mulai menyusup ke balik BH-nya. Sedang asyik-asyiknya terbuai nafsu, tiba-tiba kami dikejutkan oleh suara ketukan pintu, “Din, Din, kamu di dalam? Ini gua, Sofi.” Hampir saja lidahku tergigit, dengan panik kami cepat-cepat merapikan pakaian kami, untung belum bugil total. “Le, Cici baru ingat sekarang ada janji, jam 5 nanti kamu jangan ke mana-mana yah, masih banyak yang mau Cici omongin,” dia bergegas membukakan pintu, ternyata tamu itu Sofi, teman kuliah Diana, orangnya cukup cantik juga walau agak kurus.

“Waduh, Din kok belum dandan juga nih, ayo dong, janjinya kan kita mau kumpul-kumpul terakhir sama lu, yang lain udah nunggu nih,” kata Sofi.

“Kan lu bilang jam satu, sekarang masih jam 12-an kok, santai aja lah, gua juga lagi beres-beres barang sisa nih.”
“Wah.. wah.. bandel yah lu, mentang-mentang si Hendy jauh, lu dua-duaan sama si Leo, ngapain aja yah,” goda Sofi padanya.
“Diam ah, dia cuma bantu beres-beres aja kok, dasar, ya udah kalo mau sekarang gua ganti baju dulu,” jawab Diana mencubit Sofi.
Sofi sempat mengajakku agar ikut bergabung dengan mereka, hanya saja aku menolak, kan tidak enak nanti aku jadi yang paling kecil di antara mereka, lagi pula Diana juga sudah berjanji malam terakhir ini akan mengadakan perpisahan bersama beberapa teman kost termasuk aku.

Setelah basa-basi sebentar, aku pamitan dan kembali ke kamarku. Kucoba melupakan apa yang baru saja kualami dengan menyalakan PS meneruskan game FF8-ku yang lagi seru-serunya. Aku sempat tidur siang sampai jam 4 lebih. Kulihat ke teras, sepertinya Diana belum pulang, begitu juga Sinta belakangan ini dia sering keluar karena Andry (pacarnya yang juga temanku yang belajar di UK) sedang pulang liburan, teman-teman kost lain juga tampaknya sibuk dengan urusan masing-masing. Setelah menelepon Vivi kulanjutkan game PS-ku. Kulihat wekerku menunjukkan 17:14, sudah lewat dari waktu yang dijanjikan Diana, sepertinya dia belum pulang atau lupa, tiba-tiba pintuku diketuk, “Masuk aja, nggak dikunci kok!” Baru saja aku memikirkannya Diana sudah muncul di depan pintu, tampaknya dia baru pulang karena masih memakai kaos ketat dan celana panjang yang tadi siang.
“Sori yah Le, Cici telat, dijalan macet banget sih.. hmm.. apa Cici mengganggu, kayaknya lagi seru mainnya.”
“Ahh.. ha.. ha.. nggak kok Ci, nggak apa-apa masuk aja!”

Aku lalu mematikan PS-ku. Dia lalu mengunci pintu dan mendekatiku. Baru saja aku mau berdiri mengambilkan minum, dia sudah memeluk sambil mendorongku ke belakang sehingga terjatuh di ranjang. Aku tidak bisa apa-apa selain menikmati “French Kiss” ini karena dia menindihku sambil mengelus-elus daerah kemaluanku. Aku pun tidak mau kalah, dengan gemas kuremas-remas payudara 36B-nya. Setelah beberapa menit, kami melepas pelukan, dia berdiri di pinggir ranjang dan mulai melucuti pakaiannya satu persatu. Sungguh aku terangsang dengan pemandangan di depanku ini, sehingga aku pun ikut membuka bajuku. Kami kini sudah bugil total. Dia meraih HP-ku dan mematikannya, aku heran kenapa dia berbuat begitu.

“Leo, tolong ya, Cici minta waktu sebentar, Cici nggak mau ada gangguan, kita lupakan sebentar pacar kita,” katanya sambil melepaskan kalung pemberian cowoknya yang masih tertinggal di tubuh polosnya.
“Tapi Ci..!” belum habis kata-kataku dia menempelkan dua jarinya ke bibirku.
“Jangan panggil Ci, panggil saja Din atau Diana, sekarang saya adalah kekasihmu, bukan seniormu.”
“Ci.. eh Din, kenapa kamu mau melakukan ini, kita kan udah punya pacar.”
Dia tidak menjawab hanya tersenyum manis sambil menarik tanganku ke meja belajar dan menyuruhku duduk di kursi.

Dia sendiri naik ke meja belajarku dan membuka kedua pahanya, lalu meraih kepalaku mendekati kemaluannya. Aku sudah tahu apa maunya, kusibakkan bulu-bulu lebat hingga terlihat lubang merah merekah di tengahnya. Kuciumi kemaluannya yang berbulu lebat dan halus itu, kusapu belahan di tengahnya dengan lidahku. Dia mendesah-desah sambil meremas-remas rambutku saat kujilati klistorisnya. Sesaat kemudian dia makin keras menjambak rambutku sambil menjerit kecil, “Aaahh.. gua keluar Le.. eemmhh!” tubuhnya menggelinjang dan mengucurlah cairan bening yang beraroma khas itu. Cukup banyak cairan cintanya yang keluar sampai tepi mejaku basah jadinya. Dia menahan kepalaku sambil meremasnya sementara kedua paha jenjang yang mulus itu mengapit kepalaku sehingga aku agak gelagapan. Setelah menikmati orgasme pertamanya itu, dia turun ke pangkuanku saling berhadapan, digenggamnya batang kemaluanku untuk dimasukkan ke dalam liang senggamanya, kalau saja tidak ada cairan tadi sebagai pelumas susah sekali memasukkan batangku ke dalam liang itu karena cukup sempit. Dengan penuh kesabaran aku membantunya memasukkan senjataku ke liang itu, ketika kepalanya sudah masuk kujilat dan kupijati payudaranya yang tepat di depan wajahku untuk menambah kenikmatan.

Sambil mendesah, dia perlahan-lahan menurunkan tubuhnya dan “Bless..!” kemaluannya menelan batangku seluruhnya. Dia mulai menaik-turunkan tubuhnya di pangkuanku sementara aku menjilati lehernya dan tanganku menggerayangi payudara montoknya. Mulutnya mengeluarkan rintihan tak karuan seperti orang mengigau, sepertinya dia berusaha menahan suaranya agar tidak sampai terdengar ke luar karena jam segini masih banyak penghuni kost lalu lalang di koridor. Bagian dalam kemaluannya semakin terasa basah dan hangat dan kurasakan senjataku berdenyut-denyut pertanda ingin keluar.
“Uuhh gua udah nggak kuat Din..!”

“Sama Le.. tahan bentar, tembak aja di dalam.”
Dia semakin histeris, goyangannya pun semakin gila ditambah gerakan memutar sehingga senjataku serasa disedot dan dipilin-pilin. Dan akhirnya inilah saat yang kutunggu, secara refleks pelukanku mengencang sambil memejamkan mata kurasakan air maniku menyembur banyak sekali dalam kemaluannya, demikian juga Diana saat itu matanya membeliak-beliak merasakan nikmatnya orgasme. Tubuhnya tersentak-sentak seperti cacing disiram garam, kukunya mengores lenganku sampai aku berteriak kecil, dan untuk meredam jeritannya kukulum bibirnya, tak kuhiraukan lagi sakitnya gigi kami berbenturan saat tubuhnya terguncang hebat dikala menikmati orgasme.

Kemudian aku membaringkannya di ranjang. Kuberikan kecupan lembut di bibirnya lalu merambat turun sampai ke pangkal paha. Aku berlutut di antara kedua paha mulus itu dan mengarahkan senjataku ke liang senggamanya. Kali ini sudah tidak terlalu sulit lagi menerobos liang itu karena sudah becek dan licin oleh cairan kewanitaannya bercampur air maniku. Senjataku perlahan-lahan menghilang ditelan kemaluannya diiringi oleh desisannya. Kumulai gerakan menarik dan mendorong, rintihannya makin menjadi-jadi sambil menggigiti jarinya “Le.. akhh.. ahh.. enak.. terus.. uuhh!” nafasnya sudah kacau, tubuhnya sudah basah oleh keringat, dan rambut panjangnya meskipun masih dalam keadaan terikat namun sudah kusut. Penampilannya yang seperti ini sungguh menambah gairahku menyetubuhinya. Sesaat kemudian tubuhnya mulai mengejang dan menekuk ke atas diakhiri jeritan panjang sambil menutup mulutnya dengan bantal agar tidak terdengar keluar. Karena saat itu aku belum keluar kukocok batang kemaluanku dengan payudaranya yang montok itu. “Eeemmhh.. Din enak banget, dingin-dingin empuk nih!” Senjataku yang sudah basah dengan berbagai cairan itu kumaju-mundurkan di antara kedua bukit kembar itu sampai akhirnya memuntahkan cairan hangat di belahan dadanya, dia mengoleskan cairan itu merata di dadanya dan menjilati sisanya yang menempel di jari.

Kami tergolek lemas bersebelahan, aku mengatur nafas dan merenungkan apa yang barusan terjadi sambil memejamkan mata. Ketika aku membuka mataku kulihat Diana sedang memandangiku sambil berbaring menyamping. “Thanks ya Le, sekarang hati gua sudah agak tenang.” Ternyata dia melakukan ini padaku selain sebagai hadiah perpisahan juga sebagai pelampiasan kekesalan terhadap pacarnya. Dia bercerita bahwa mereka sedang ribut karena pacarnya itu berjanji akan datang pada acara wisudanya, tetapi ternyata orangnya tidak muncul dengan alasan urusan di kantornya sedang menumpuk dan memberi selamatnya pun besoknya setelah diwisuda, pantas saja tadi siang saat berbicara di HP nadanya terdengar tidak enak. Sebagai teman aku memberinya sedikit nasehat dan menghiburnya. Jam sudah hampir menunjukkan pukul 19:00, dia mengajakku mandi bersama, dan di kamar mandi pun kami sempat bermesraan sebentar di bawah siraman shower. Malam itu adalah makan bersama terakhir kalinya, sederhana namun mempunyai kenangan tersendiri. Malam itu antara Diana, Sinta, Vivi (pacarku), dan Lidya (teman kostku yang lain), cowoknya hanya aku dan Andry. Besok paginya, setelah menjemput ibunya Diana dari rumah saudaranya aku dan Sinta mengantarnya ke bandara dengan mobilku. Suasana haru memenuhi perpisahan hari itu, Sinta yang biasanya kocak saja meneteskan air mata.

“Le, sering-sering e-mail gua ya, sori gua nggak bisa minjemin catatan lagi ke lu, titip salam juga buat Vivi,” katanya dengan mata berkaca-kaca.
“Yah, Cici juga jaga diri.”
Aku menyalaminya sambil susah payah menahan air mata agar tidak mengalir, malu menangis di depan cewek.

“Sin, selamat jalan, jaga badan jangan kebanyakan ngerokok, jangan godain si Leo melulu yah, entar Vivi-nya cemburu,” katanya pada Sinta sambil sedikit bercanda.
Sinta memeluk Diana sambil menangis, ketika itu bel tanda keberangkatan telah berbunyi, dia segera menyusul ibunya yang telah sampai di gerbang keberangkatan. Sambil memperhatikan sosoknya makin menjauh dalam hatiku menyanyikan lagu “Zhu Fu”-nya Jacky Cheung yang salah satu liriknya bila diterjemahkan demikian artinya “Jangan melambai, jangan menoleh ketika kunyanyikan lagu ini, yang ditakutkan adalah air mata menetes membasahi muka, semoga dalam hatimu selalu tersimpan senyumku”. Kini telah 5 bulan tanpa kehadirannya, dia mengabariku bahwa dia telah ikut pacar dan kakaknya bekerja di Singapore dan berencana menikah dalam waktu dekat.

Tamat
Lihat Koleksi Bugil Lengkap..