Begitu memasuki kamar tidur, segera kutelanjangi dia dan merebahkannya ke atas ranjang. Dia dalam keadaan setengah mabuk, tapi masih tetap dapat menjaga kesadarannya.
“Sayang, aku akan melakukan sesuatu yang sedikit berbeda malam ini. Apa kamu bersedia?†tanyaku begitu berada di atas ranjang.
“Aku bersedia†jawabnya segera.
*****
Shinta istriku, mempunyai tinggi dan berat badan yang sedang-sedang saja. Payudaranya tak bisa dikatakan besar tapi putingnya adalah sebuah puting susu terbesar dari semua wanita yang pernah kukenal saat dia sedang bergairah. Shinta seorang wanita yang pemalu, kecuali jika sedang berada di dalam kamar cinta kami.
Setelah lebih dari setahun dalam kehidupan seksual kami, aku sering berbisik di telinganya ditengah percintaan kami sambil kumainkan kelentitnya, dan mengatakan padanya tentang keinginanku untuk melihat seorang lelaki lain yang ‘bermain’ dengan tubuhnya. Dan Tuhan, ternyata hal ini membuat nafsunya semakin liar. Dan untuk beberapa bulan terakhir, aku mulai mengarang sebuah cerita dan menceritakan kisah fantasiku tersebut kepadanya saat kami sedang bercinta.
Hingga sampailah pada saat yang paling membuat jantungku berdebar… untuk menanyakan kepadanya apakah dia mau membuat semua fantasi itu menjadi nyata. Tentu saja kutanyakan hal ini saat kami sedang bercinta, dan dia menjawab ya dalam erangannya. Akhirnya minggu kemarin itu semua menjadi kenyataan.
Setelah pencarian dalam beberapa minggu dalam dunia maya, akhirnya kudapatkan seorang lelaki yang kuanggap memenuhi semua persyaratanku, kubuat janji untuk bertemu langsung dengannya di salah satu café di kotaku. Aku langsung merasa cocok dengan pilihanku begitu pertama kali melihatnya, setelah sedikit basa-basi dengannya, kami langsung ke pokok permasalahan, istriku.
Aku tawarkan tentang rencanaku untuk mengajak istriku keluar untuk dinner dan akan membuatnya mabuk dulu…
Rencananya adalah membuatnya mabuk, tapi tidak terlalu mabuk. Sebab saat istriku mengkonsumsi alkohol, bisaanya libidonya jadi melonjak tinggi. Kami mengatur dimana lelaki ini harus berada, namanya Yudi, bersembunyi di basement. Sepulangnya aku dan istriku dari dinner, kami berdua berendam dulu dengan air hangat baru setelahnya naik ke atas ranjang.
*****
Kemudian aku memakaikan penutup mata padanya agar dia tak dapat melihat.
Dan lalu kuikatkan kedua tangannya pada tiang tempat tidur. Tak usah dikatakan lagi, sebuah lenguhan lirih langsung terdengar dari mulutnya. Tapi dia tak tahu apa yang akan kulakukan terhadapnya.
â€Aku akan memijatmu dengan baby oil†Shinta selalu menyukainya. “Aku akan mengambil baby oilnya dulu di kamar mandiâ€.
Aku keluar dari kamar tidur dan langsung pergi ke basement menghampiri Yudi. Yudi dapat melihat kalau aku sudah sangat terangsang. Kami berdua kembali ke kamar setelah sebelumnya mengambil baby oilnya dulu. Yudi terkejut saat dia melihat istriku terikat pada ranjang dengan kedua matanya terrikat kain penutup.
Aku dan Yudi sudah sepakat kalau dia tidak akan bicara sebelum kuperintahkan. “Sayang, apa kamu juga mau memakai pelicin?†tanyaku.
“Oh, ya. Boleh juga†bisiknya pelan.
Dan aku membuat Yudi terkejut saat kusodorkan pelicin itu kepadanya. Kuberi dia isyarat agar melumurkannya pada payudara Shinta. Aku tak perlu memerintahkannya dua kali. Dituangkannya pelicin itu di seluruh gundukan daging payudara istriku dengan kedua tangannya dengan penuh perasaan. Segera saja puting payudara Shinta mengeras.
Dia mulai mengerang hebat “Gosok vaginaku†perintahnya.
Yudi menatapku dan aku megisyaratkan padanya agar dia melakukan apa yang diinginkan oleh istriku. Dituangkannya banyak pelicin pada vagina istriku. Saat Yudi melakukan hal itua, istriku melenguh hebat. Yudi mulai menyentuh kelentitnya dan suara erangan istriku semakin bertambah keras saja. Aku berdiri tepat di tepi ranjang dan dapat kusaksikan semua yang dilakukan Yudi terhadap istriku. Dan kemudian hal itu terjadi. Yudi menusukkan jari tengahnya masuk ke dalam vagina Shinta yang basah. Kulihat punggung Shinta terangkat dari atas kasur dan erangannya semakin keras terdengar…
Setelah sepuluh menit, dia melenguh keras “Jilat vaginaku sayangâ€.
Kembali Yudi menatapku. Kuisyaratkan padanya agar dia mengerjakan apapun yang dikehendaki istriku lagi… Yudi tak menyia-nyiakan waktu. Dia menurunkan wajahnya tepat ke vaginanya. Pelicin itu dengan rasa strawberry. Tentu saja dia jadi menjilati kelentit Shinyta seperti orang gila saja.
Dan kemudian hal itu memukulku. Yudi tidak punya kumis seperti aku. Yang dapat kuperbuat hanya mengharapkan agar Shinta tak menyadari hal tersebut. Erangan dan lenguhan Shinta semakin bertambah keras dan keras. Tak dapat kupercaya betapa terangsangnya dia. Punggung Shinta melengkung ke atas seakan dia berada di surga. Yudi berhenti beberapa saat untuk mengambil nafas.
“Kamu menikmatinya sayang? Apa kamu ingin mendengar cerita yang lainnya lagi?†tanyaku.
“Ya sayangâ€.
Yudi tahu apa rencanaku. Dimasukkannya dua jari besarnya itu ke dalam vaginanya yang basah. Begitu dia melakukan hal itu, punggung Shinta melengkung ke atas lagi. Aku jadi semakin berani.
“Apa kamu ingin agar aku bermain dengan putingmu, sayang?†kembali Shinta mengiyakan. Maka saat Yudi sedang memainkan vaginanya, kucengkeram payudaranya dan menjepit putingnya dengan keras.
“Apa kamu ingin seseorang menjilati vaginamu, sayang†dia melenguh lagi.
Aku jadi semakin berani “ Jika ada seorang lelaki lain di sini, sekarang ini, apakah kamu akan mengijinkan dia melakukannya padamu?â€.
Erangannya semakin keras “Ya. Aku pasti akan suka itu…â€.
“Apa kamu akan membiarkan jarinya bermain di vaginamu, sayang?â€.
“Yaâ€.
“Apa kamu akan menghisap penisnya?â€.
“Ya. Pastiâ€.
“Maukah kamu mencobanya sekarang? Aku akan memakai sebuah dildo baru d vaginamu dan kamu bisa menghisap penisku. Bayangkan saja kalau ini adalah batang penis lelaki lainâ€.
Ya, ya, ya†sebuah erangan keras terlepas dari bibirnya.
Tak mau membuang kesempatan itu, kuturunkan penisku ke mulutnya. Shinta membuka mulutnya lebar-lebar dan langsung menelan selurh batang penisku ke dalam mulutnya. Kurasa aku pasti akan langsung keluar. Ada seorang lelaki lain yang sedang bermain dengan vaginanya, saat istriku menghisap batang penisku yang sangat keras.
“Aku akan melepaskan ikatanmu sekarang dan menarik tubuhmu ke tepi ranjang, tapi kamu tidak boleh melepaskan penutup matamu dengan alas an apapun juga†aku tetap berbicara dengannya.
Dengan cepat kulepaskan ikatannya dan menariknya ke tepi ranjang hingga pahanya menjuntai di lantai. Dia tetap memaki penutup matanya seperti seorang istri yang baik. Kemudian aku rebah di atas ranjang dan mendekatkan penisku ke wajah istriku lagi. Shinta menggenggamnya dan membawanya masuk ke dalam mulutnya. Aku melihat ke arah Yudi. Dia sudah melucuti pakaiannya dan berdiri di tepi ranjang.
â€Sayang, apa kamu sudah siap dengan dildo yang baru?†tanyaku padanya.
“Tuhan, ya. Setubuhi aku dengan itu sayang†dia mengerang.
Yudi semakin bergerak mendekat padanya tanpa menyentuh atau naik ke atas ranjang. Aku dapat melihat semuanya. Dengan perlahan digenggamnya batang penisnya sendiri dan menggerakkannya kedepan mengarah ke vagina Shinta. Aku terhenti karena terkejut lagi. Ini adalah pertama kalinya aku melihat batang penisnya. Jauh lebih besar dan panjang dariku…
Ini membuatku takut. Aku yakin kalau Shinta akan segera tahu. Tapi sebelum aku merubah pikiranku, Yudi sudah mendorong masuk ke dalam tubuh Shinta.
Baru beberapa centi saja Shinta sudah mengerang sangat keras. Yudi mengambil hal itu sebagi perintah dan segera melesakkan seluruh batang penisnya ke dalam vagina istriku. Shinta menjadi tak terkendali… tapi kemudian dia menyadari apa yang tengah berlangsung… dia berhenti menghisapku dan mulai bergerak untuk meraih penutup matanya. Aku mengentikan tangannya tepat pada waktunya.
“Ada apa ini?†erangnya pelan.
“Kamu suka?†tanyaku tanpa mempedulikan pertanyaannya.
Dia diam beberapa saat lalu menjawab “Ya, tapi siapa yang berada di antara pahaku?â€
Yudi terus menyetubuhinya. Dia tak pernah berhenti…
“Sayang, apa kamu ingin kuhentikan ini semua?†tanyaku.
Lagi-lagi, setelah beberapa detik dia baru menjawab “Tidak. Jangan!â€
“Apa kamu ingin dia menyetubuhimu dengan keras?†tanyaku lagi.
“Tuhan, ya. Tentu saja. Dan aku ingin menghisap batang penismu juga†jawabnya.
Yudi seakan disulut. Dia mengayun semakin keras dan keras. Seluruh batang penisnya tenggelam dalam tubuh istriku. Paha Shinta mengait erat tubuh Yudi lebih merapat. Dia menggenggam batang penisku dan mulai menghisapnya dengan rakus. Dia seperti seorang wanita gila yang menjadi liar.
Dapat kurasakan spermaku akan meledak dengan hebat “Aku hampir keluar†kataku pada Shinta.
Dia melenguh dan mulai menghisap lebih cepat lagi. Tak beberapa lama kemudian kusemburkan spermaku dalam mulut Shinta dan dia menelannya secepat yang dia bisa. Kemudian kulihat ke atas dan dapat kusaksikan kalau Yudi juga sudah hampir keluar. Ini adalah saat mengambil keputusan bagiku. Apakah aku akan membiarkan orang lain menumpahkan spermanya dalam vagina istriku atau tidak.
Kupikir ini adalah hak Shinta untuk memilih “Shinta, apa kamu mau dia keluar di dalam atau kamu mau dia keluar di atas perutmu?â€
Dikeluarkannya batang penisku dari dalam hisapan mulutnya dan mengejutkanku dengan jawaban yang dia berikan “Aku mau dia keluar di dalam†erangnya.
Dan akibat ucapan itu, wajah Yudi jadi memerah dan dia mengayun semakin keras. Kemudian tiba-tiba saja dia berhenti dan tak bergerak sama sekali. Aku tahu kemudian kalau dia orgasme. Geraman hebat keluar dari mulutnya. Shinta meraih tubuhnya dan menariknya jatuh menindih tubuhnya sendiri. Begitu bibir Shinta menemukan bibir Yudi, dia langsung saja melumatnya dengan liar. Aku duduk dan menyaksikan lidah Shinta merangsak masuk jauh ke dalam mulut Yudi. Shinta sangat terbakar.
Lalu sebelah tangan Shinta bergerak ke atas dan melepaskan penutup matanya. Aku tak dapat menebak apa yang akan dilakukannya kemudian. Apakah dia tak suka dengan lelaki yang kubawa ini. Aku tak perlu menunggu lama untuk mendapatkan jawabannya. Shinta menatapnya dan menciumnya kembali. Saat dia sedang menciumnya, diraihnya batang penisku dan membuatnya keras lagi. Shinta benar-benar sedang terbakar hebat. Dia menghentikan ciumannya dan mencoba mengatur nafasnya yang tersengal.
“Aku ingin penisnya dalam mulutku dan aku mau kamu menyetubuhiku dari belakang jauh lebih keras darinya†katanya.
Aku terkejut , tapi tanpa menunggu lagi, Yudi dan aku mengambil tempat. Shinta sangat menginginkan batang penisnya. Dalam genggamannya, batang penis itu dia arahkan masuk seluruhnya kedalam mulutnya yang mendambakan. Aku berada diantara pahanya dan melesakkan penisku yang keras ke dalam lubang vaginanya yang terisi sperma.
Tak bisa kupercaya betapa panas dan basahnya vagina Shinta… Dalam setiap dorongan, dapat kudengar sperma Yudi dipaksa keluar dari dalam vagina Shinta. Aku menyetubuhi istriku sambil melihatnya menghisap batang penis Yudi. Dia terus mengerang bagaikan seorang wanita gila. Dan kemudian tanpa memberi peringatan, dia menghentikan hisapannya pada penis Yudi lalu menatapku.
â€Aku mau penisnya dalam anusku†ucapnya tegas.
Ini benar-benar membuatku sangat terkejut. Aku hanya pernah melakukan anal seks dengan istriku tiga kali dan selalu saja baru sebentar dia merasan kesakitan. Dan ukuran batang penisku lebih kecil dari Yudi. Sambil memeluk istriku, aku berguling ke samping dengan penisku masih terbenam dalam tubuhnya. Yudi mengambil pelicin dan mengoleskannya ke pantatnya. Dengan jari tengahnya dia mulai memasuki lubang anus istriku. Aku sangat yakin kalau istriku akan menjerit. Tapi kupikir Shintaa pengaruh alkohol yang diminumnya, Shintaa dapat kurasakan dia malah mendorong pantatnya ke belakang berlawanan arah dengan gerak laju jari Yudi agar jarinya semakin masuk lebih ke dalam.
Setelah kurang lebih 3 menitan, Yudi mengeluarkan jarinya dan merebahkan diri di belakang istriku. Istriku menggenggam batang penisnya dan menuntunnya tepat menuju ke lubang anusnya. Sedikit demi sedikit mulai masuk. Istriku meraih kepalaku dan menempelkan bibirku dengan bibirnya, dia menciumku seakan dia belum pernah melakukannya denganku. Yudi dan aku menyelaraskan ayunan kami. Shinta mengerang seakan gila. Pengaruh dari sebuah batang penis milik lelaki lain pernah memasuki vagina istriku dan sekarang berada di dalam lubang anusnya, sudah lebih dari cukup buatku. Aku mulai menyemburkan spermaku jauh di dalam vagina Shinta Dia tahu aku sudah keluar dan dihentikannya ciumannya terhadapku.
Yudi juga sudah berada di batas akhirnya…
“Kamu mau aku keluar di dalam?†teriaknya keras.
“Ya, ya, lakukan, keluarlah di dalam anuskuâ€
Sekali lagi aku dikejutkan, Shintaa istriku tak pernah mengijinkanku keluar dalam lubang anusnya. Beberapa detik kemudian aku menyaksikan Yudi berejakulasi di dalam lubang anusnya. Aku sudah merasa kelelahan. Kuraih selimut dan menariknya menutupi tubuh kami semua. Shinta berbaring dan memandangku “ Oh Tuhan, aku tak pernah membayangkan kalau kamu akan melakukan ini padakuâ€.
Dia menghabiskan malam bersama kami. Batang penisku masih tenggelam di dalam vaginanya dan penis Yudi berada dalam lubang anusnya. Kukatakan pada Yudi kalau sudah cukup untuk malam ini, dia tersenyum dan menyarankan agar beristirahat untuk beberapa menit. Setelah beberapa menit kukeluarkan penisku dari dalam vagina istriku dan Yudi juga mengeluarkan penisnya dari lubang anusnya. Shinta berbalik dan mengucapakan terimakasih padanya. Beberapa waktu kemudian akhirnya kami semua jatuh tertidur.
*****
Seusai sesi dari seks yang dahsyat, aku langsung jatuh terlelap. Shinta berada diantara aku dan Yudi. Pastinya ini sudah beberap jam ketika kupikir aku sedang bermimpi. Mataku tetap terpejam, tapi aku yakin kalau aku merasakan ranjang bergerak.
Aku terjaga sekarang, kucermati suara yang terdengar. Dapat kudengar suara bibir yang saling melumat dan lenguhan pelan dari Shinta. Lalu dapat kurasakan berguling dan pantatnya menekan salah satu pahaku. Aku pura-pura tak merasakannya, tapi dengan hati-hati kutengokkan kepalaku sedikit dan mengintip apa yang tengah terjadi.
Pastilah sudah kalau Shinta sudah beraksi kembali. Dengan bantuan sinar lampu yang redup, dapat kusaksikan kepala Shinta bergerak naik turun pada batang penis Yudi yang keras. Tuhan, dia sangat menyukai benda tersebut. Ditelannya keseluruhan batang itu dan terus melenguh seakan tidak akan ada lagi hari esok. Yudi hanya terbaring di sana dengan mata terpejam. Dapat kulihat kalau dia sangat menikmati apa yang dilakukan istriku terhadapnya.
Keduanya tak tahu kalau aku menyaksikan mereka. Aku hanya berbaring dan melihat. Setelah beberapa saat lamanya, lalu Yudi memegang kepala Shinta, menjauhkannya dari batang penisnya dan mendekatkannya ke arah mulutnya. Aku belum pernah merasakan ciuman seperti cara istriku mencium Yudi. Kedua lidah mereka saling masuk sedalamnya dalam rongga mulut yang lainnya. Dengan sebuah gerakan cepat, istriku telah berada di atas tubuh Yudi.
Shinta menggenggam batang penis Yudi dan menuntunnya masuk ke dalam tubuhnya. Dalam setiap dorongan yang teramat pelan, batang penis Yudi semakin masuk ke dalam dan lebih ke dalam lagi sampai akhirnya Shinta mendapatkan keseluruhan batang penis itu dalam tubuhnya. Sekarang pelan-pelan Shinta bergerak naik turun pada batang itu dan Yudi menjepit kedua putting payudara Shinta semakin keras dalam setiap ayunan tubuh Shinta. Shinta sangat senang jika putingnya di beri perhatian…
Tak dapat kupercaya istriku menyetubuhi lelaki ini lagi. Dan kali ini Shinta pikir kalau aku masih tertidur. Awalnya aku ingin menyentuhnya agar dia tahu kalau aku menyaksikan mereka. Tapi aku tak melakukannya. Aku tetap diam tak bersuara dan melihat. Sekarang Shinta menunggangi penisnya dengan keras dan cepat. Dia benar-benar sedang terbakar. Dengan sebelah tangannya istriku mulai memainkan kelentitnya sendiri. Hal ini memberitahukanku kalau dia ingin meraih orgasmenya, orgasme dengan segera. Jari lentiknya bergerak dengan gila di kelentitnya. Dan hal ini kelihatannya membuat Yudi semakin terangsang. Dia mulai bergerak mendorong keatas untuk menjemput setiap hentakan kebawah yang dilakukan Shinta.
Seakan berjam-jam rasanya Shinta menunggangi batang penis Yudi yang keras. Paling tidak sedikitnya dia mendapatkan orgasme lebih dari tiga kali. Dan kemudian kudengar suara erangan Yudi.
“Aku hampir keluar Shinta†katanya dengan suara yang bergetar.
“Lakukan Yud, keluarlah di dalam vaginaku, berikan padaku sekarang†sekarang Shinta memohon padanya.
Dan tiba-tiba Yudi mendorong ke atas dengan sangat keras dan menahan tubuhnya dalam posisi tersebut untuk beberapa menit. Aku tahu kalau dia sedang orgasme dengan hebat sekarang. Shinta juga menahan gerakannya dan sebuah senyuman lebar terkembang di wajahnya. Kembali dia mendekatkan wajahnya dan mencium Yudi dengan liar dan penuh gairah.
Ketika meraka berhenti berciuman, Shinta berkata pada Yudi dengan suara pelan “Kita harus berhati-hati agar tak membangunkan suamikuâ€. Yudi hanya tersenyum saja dan menganggukkan kepalanya.
Perlahan Shinta bangkit dari batang penis Yudi dan sperma lelaki itu meleleh keluar dari vaginanya yang basah. Yudi memberinya sebuah ciuman singkat dan turun dari ranjang. Dia mengenakan pakaiannya dan kenudia dia keluar dari kamar. Kupikir dia pergi meninggalkan rumahku. Shinta memelukku dan aku masih tetap diam, berharap kalau dia tak merasakan ereksiku.
Pagi harinya aku dibangunkan oleh ciuman shinta di pipiku. Shinta sudah bangun terlebih dulu dan menyiapkan sebuah sarapan untukku. Dia rebah di sisiku dalam keadaan telanjang saat aku menyantap sarapan pagi ini dia atas ranjang bagaikan seorang raja saja. Kupandang dia dan tersenyum.
“Ada yang salah?†tanyanya.
“Tidak ada. Tak ada yang salah sedikitpun. Tapi jika aku tahu jauh lebih awal caranya untuk mendapatkan layanan sarapan pagi di atas ranjang seperti ini, adalah dengan mengatur agar istriku disetubuhi sampai gila, pasti aku sudah melakukannya dari dulu†dia hanya tertawa saja sambil melihatku menyantap sarapan yang dihidangkannya
Setelah aku selesaikan sarapanku, dia bertanya “Tentang semalam, bagaimana menurutmu? Kamu suka?â€.
“Semalam sangat hebat. Kulakukan semua itu hanya untukmu, sayang. Semua wanita bermimpi untuk bercinta dengan dua orang lelaki sekaligus†jawabku.
Shinta memotongku dengan cepat “ Jadi sama juga denagn lelaki, semaua lelaki mempunyai mimpi untuk menyetubuhi dua orang wanita dalam waktu yang samaâ€.
“Tentu. Lelaki mana yang tak akan suka bercinta dengan dua orang wanita diatas ranjang dan waktu yang samaâ€.
Lalu dia mengajukan sebuah pertanyaan besar padaku “Kalau kamu disuruh memilih seorang wanita untuk bergabung dengan kita di atas ranjang, siapa yang akan kamu pilih?†tanyanya.
Ini adalah sebuah pertanyaan yang menjebak, pikirku dan aku harus sangat berhati-hati dengan jawaban pilihanku. Aku hanya tersenyum dan berkata padanya “ Siapa yang akan kamu pilihkan untukku…â€.
“Tidak adil. Semalam kamu sudah memilihkan untukku dan aku menyukainya. Nah, katakana padaku siapa yang kamu pilih dan mungkin aku dapat memberikannya untuk kamu setubuhi malam iniâ€.
Kutunggu beberapa detik. Aku sangat ingin melakukannya, jadi aku harus berpikir keras. Tapi aku sudah tahu siapa yang aku inginkan. Dia adalah adik kandung Shinta sendiri, Rully. Dia punya penampilan yang dapat membuat semua lelaki akan berlutut dan memohon agar dapat bercinta dengannya. Tapi yang paling membuatku tergila-gila padanya adalah saat dia memakai rok. Rully memilki sepasang paha yang mematikan…
Tapi Rully selalu terkesan dingin padaku setiap keluarga besar kami berkumpul. Tapi setiap kali aku memandangnya, hasrat untuk menyetubuhinya selalu membakar benakku.
Cukup sudah, kupikir kenapa aku tidak memberitahu istriku. Ku tatap langsung di matanya “Jika aku disuruh memilih seorang wanita yang akan ikut bergabung di ranjang kita, dia adalah Rully, adikmu†jawabku. Aku yakin kalau dia akan marah dengan jawaban yang kuberikan.
Tapi dia malah hanya tersenyum dan mulai tertawa “Aku tahu itu. Bisa kulihat kalau kamu suka padanya karena kamu selalu memandangnya saat keluarga kita berkumpul. Kamu suka padanyaâ€.
“Tentu saja aku suka padanya†sekarang adalah waktu untuk menentukan. “Apa yang membuatku tertarik dengan adikmu adlah pahanya. Kamu tahu kan, kalau aku sangat suka dengan paha yang indah†kataku padanya.
â€Dan kamu ingin agar aku membawa dia ke ranjang kita agar kamu dapat menyetubuhinya, benar kan?†tanyanya.
“Kamu kan bertanya padaku siapa yang aku inginkan†belaku.
Dia kembali tertawa “Apa kamu menginginkan Rully nanti malam?’
“Ya…†jawabku. Dia kembali tersenyum.
Kami berdua turun dari ranjang dan mandi. Setelah itu dia menyuruhku untuk pergi keluar dan jangan kembali hingga nanti malam “Aku akan mempersiapkan kejutan untukmu…â€
Aku menuruti permintaannya. Kunyalakan mobilku dan pergi ke pusat kota. Pertanyaan besar menghantuiku, apakah dia bersungguh-sungguh dengan ucapannya itu…
Akhirnya setelah melewati waktu yang seakan berabad-abad lamanya aku kembali ke rumah. Kubuka pintu depan dengan jantung yang berdetak keras dan masuk ke dalam rumah. Tak kujumpai seorangpun di ruang depan. Begitu aku memasuki ruang keluarga, suara musik dari stereo set terdengar lembut, Rully dan Shinta duduk di Sofa dan aku duduk di kursi di depannya. Mereka berdua beristirahat di atas sofa sambil mendengarkan suara musik yang mengalun pelan. Kuperhatikan mata Rully terpejam dan dia hanya diam saja.
“Selamat datang sayang. Kejutan untukmu sudah siap†sambut istriku
Shinta memegang paha Rully dan bertanya padanya “Rully, kamu mau tidur di mana?†tak ada jawaban dari Rully.
“Kamu mau tidur di kamar yang mana malam ini?†Shinta kembali bertanya dan lagi-lagi tak ada jawaban dari adiknya.
“Kukira dia pingsan†Shinta meberitahuku. Aku hanya tertawa.
“Nah, kurasa lebih baik dia tidur di kamar kitaâ€. Sambungnya lagi.
Aku tersenyum lagi “Kita tidak bisa melakukannya pada adikmu, sayangâ€.
“Percaya padaku saja. Rully tak akan cepat bangun. Aku sudah memberinya enam butir obat tidur dosis tinggi†kata Shinta meyakinkanku.
“Kamu tak seharusnya melakukan itu, sayang†kataku padanya.
“Oh, diamlah dan bantu aku mengangkatnya ke kamarâ€. Jawabnya memotong.
Dengan berhati-hati kuangkat tubuh Rully yang ramping ke kamar kami. Dia masih tetap terlelap saat kurebahkan dia ke atas ranjang. Shinta mendudukkannya lagi dan melepaskan kaos yang dikenakannya tepat di depanku. Tak ada bra di sana. Ini pertama kalinya kulihat payudaranya yang kencang secara langsung dan begitu dekat. Bukit daging itu sangat sempurna, putingnya mencuat keras menghiasi puncaknya.
“Bantu aku melepaskan roknya†kata Shinta pelan sambil merebahkan kembali tubuh Rully. Begiru Shinta sudah melepaskan rok itu dari kaki adiknya, kembali aku mendapatkan sebuah kejutan lain. Rully kecil, di usianya yang tiga puluh dua, dia membuat vaginanya tercukur bersih tanpa rambut.
Istriku melihatku memandangi vagina adiknya “Aku tahu kalau kamu akan menyukainya†katanya dengan nada menggoda
Setelah kami selesai menelanjangi Rully dan merebahkannya dengan baik, istriku melucuti semua pakaiannya dan rebah disamping tubuh telanjang adiknya lalu menatapku. “Nah, apa kamu mau naik ke atas ranjang sekarang?†tanyanya makin menggoda.
Layaknya orang gila saja, kutelanjangi diriku dengan cepat dan segera meloncat naik ke samping tubuh Rully yang sebelahnya. Kuberi sebuah pandangan penuh Tanya pada istriku “Sekarang apa?â€.
“Lakukanlah, sentuh dia†jawab istriku.
“Mana mungkin? Nanti dia akan terbangun†kataku ragu.
Shinta tertawa keras “Lihat. Rully mulai kedinginan dan dia tak akan terbangun sampai besokâ€.
“Tentu†.
Shinta membuatku terkejut dan menaruh tangannya tepat di vagina adiknya yang dicukur bersih “Iya kan. Jika dia bangun, apa bisa aku melakukan ini?â€
“Terserahlah†jawabku.
Dan kembali aku dibuatnya terkejut ketika dibentangkannya lebar-lebar paha Rully dengan tangannya lalu menusukkan dua jarinya ke dalam lubang vagina adiknya. Rully hanya berbaring dan tak bergerak sama sekali. Shinta mengeluarkan kedua jarinya lalu menyodorkannya ke mulutku.
“Ini kesempatanmu untuk mencicipi bagaimana rasanya vagina adikku. Bagaimana, mau mencobanya?†dengan cepat kutarik kedua jari istriku dan memasukkannya ke dalam mulutku dan menghisapnya dengan rakus.
â€Mau menjilat yang nyata?†tanya Shinta
Dia tak perlu bertanya padaku dua kali. Dengan cepat aku bangkit dan mengatur posisi diantara paha Rully dan menyelam ke vaginanya serta mulai memberinya jilatan lidahku. Begitu aku menjilati vaginanya, tanganku bekerja pada payudaranya. Tuhanku, payudaranya terasa sangat kencang dan lembut. Putingnya smekin bertambah keras dan panjang. Rully kedinginan tapi tubuhnya kelihatannya mulai terangsang. Shinta mulai bergerak ke selangkanganku dan mengocok batang penisku yang keras.
“Wah, kamu senang ya menjilat adikku? Aku mau menghisap penismu saat kamu menjilat vaginanya†katanya menggoda. Aku berputar dan memberikan batang penisku pada mulutnya. Dia menghisapnya dengan hebat.
Lalu aku mulai perhatikan kalau pinggul Rully bergerak sedikit. Aku pikir kalau Rully mengira jika ini adalah mimpi. Tapi kemudian kurasakan tangannya berada di atas kepalaku, mendorongkan wajahku dengan kuat ke vagina tak berambutnya. Aku jadi semakin cepat menjilati. Kupandang ke atas pada wajah Rully dan sekarang kedua matanya sudah terbuka lebar.
“Oh Tuhan, kamu bilang jilatannya hebat†kata Rully dengan suara keras. Ini sangat mengejutkanku. Shinta menghentikan hisapannya dan tertawa dengan keras.
â€Apakah dia pasangan bercinta yang hebat?†tanya Rully pada kakaknya.
“Oh, ya. Tentu saja… Apa kamu mau mencobanya sekarang?†balas istriku.
“Ya. Itu pasti†pinta Rully sambil mendorongku menjauh dari vagina tak berambutnya yang basah dan menarikku menaiki tubuh seksi rampingnya.
Sepertinya penisku tahu kemana harus pergi dengan tepat. Tepat ke vaginanya yang basah. Dengan dua-tiga kali dorongan, aku sudah berada jauh di dalam vaginanya. Sekarang Shinta berbaring di sebelah Rully menyaksikanku menyetubuhi adiknya dengan liar “Pelan sedikit, sayang. Ingat kalau Rully menginap dan kamu punya kita berdua untuk dipuaskan malam iniâ€.
Kudorong batang penisku sedalam-dalamnya. Rully mengerang keras. Aku bisa memastikan kalau dia sudah dekat dengan orgasmenya.
“Apa ini yang kamu inginkan, sayang?†tanya istriku.
“Yaâ€.
“Ada yang lainnya agar aku dapat mewujudkan fantasimu, sayang?†tanyanya lagi.
“Ya. Hisap putting Rully saat aku menyetubuhinya, sayang… kumohon†Shinta memegang salah satu payudara Rully dan mulai menghisapnya dengan liar.
Rully mengerang semakin keras sekarang. Istriku menghentikan hisapannya sejenak untuk mengambil nafas. Saat dia melakukan hal ini, sebuah cairan putih bening menetes keluar dari mulut Shinta. Itu adalah air susu… Tuhan, tak mungkin pikirku. Rully habis melahirkan bayinya tiga tahun yang lalu dan kupikir mungkin suaminya telah menyuruhnya agar dia tetap menjaga agar air susu itu tersimpan dalam payudaranya. Kudekatkan mulutku pada putting yang satunya dan mulai menyusu seperti seorang bayi yang baru lahir. Ini adalah pertama kalinya aku merasakan air susu ibu dan Tuhanku, rasanya sangat manis.
Aku tahu kalau aku tak akan mampu bertahan lebih lama lagi sekarang. Da beberapa menit kemudian, spermaku menyembur jauh di dalam vagina adiknya yang panas. Rully juga mendapatkannya, punggungnya melengkung terangkat dari atas kasur dan mendorongkan pinggulnya ke penisku dengan kerasnya. Pelan-pelan orgasme kami mereda. Shinta masih menghisap putting payudara Rully. Aku bergerak turun dari atas tubuh Rully agar dia dapat bernafas dengan lega. Rully mencengkeram rambut Shinta.
“Ada apa?†tanya Shinta dengan suara keras.
“Kamu bilang kalau kamu akan membersihkan vaginaku sehabis dia keluar di dalamkuâ€. jawab Rully. Shinta turun diantara paha Rully dan mulai menjilat dan menghisapi spermaku di vagina adiknya. Andaikan aku memegang kamera…
Cukup sudah, pemandangan dari Shinta yang menjilati vagina adiknya sendiri membuat penisku mengeras kembali. Aku bangkit dan bergerak ke belakang Shinta. Hanya dengan satu dorongan saja, seluruh batang penisku sudah terbenam dalam cengkeraman vagina Shinta yang panas. Semakin keras aku mengocok vaginanya, semakin bertambah cepat pula jilatannya pada vagina Rully. Setelah kurang lebih selama sepuluh menitan menyodok vaginanya dengan keras, kusemburkan lagi spermaku untuk yang kedua kalinya kurang dalam tiga puluh menit ini. Astaga, kuraskan vagina Shinta mencengkeram batang penisku dengan sangat erat dan dia mengerang keras tapi tak pernah menghentikan kegiatan menjilatnya. Aku tahu kalau dia mendapatkan sebuah orgasmeyang hebat juga. Dan Rully juga meraih orgasmenya tak lama berselang. Kami bertiga dalam waktu yang bersamaan. Ini adalah sebuah mimpi yang jadi nyata bagiku…
Aku rebah ke ranjang diantara Rully dan istriku. Mereka berdua memelukku. Sekarang sudah jam 3 pagi. Kami semua libur keesokan harinya, tapi Rully harus tidur dulu sebelum dia pulang. Maka kami memutuskan beristirahat saja sekarang.
Istriku berbisik di telinga Rully, “Mungkin lain kali kalau kamu menginap, Bob dapat menelpon Yudi, temannya dan memintanya untuk menginap agar kita dapat melakukannya berempat” itu membuatku berkhayal. Aku tahu Shinta tak begitu menginginkan Yudi. Tapi sekarang dia sangat ingin membagi adiknya dengan lelaki itu.
Ya tentu saja kukabulkan keinginannya, “Minggu depan kita akan melakukannya jika Rully dapat kabur dari suaminya†kataku.
“Kamu yang atur dan aku tak akan pergi kemanapun selama akhir pekanâ€.
Tamat
Lihat Koleksi Bugil Lengkap..
Tampilkan postingan dengan label Tukar Pasangan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tukar Pasangan. Tampilkan semua postingan
Demi Sahabat
19.29, Posted by admin, No Comment
Pada suatu pagi aku menerima sepucuk surat. Ternyata surat itu dari sahabatku Nasem yang tinggal di Manado. Isinya dia mengundangku datang ke sana untuk berkangen-kangenan. Maklum telah puluhan tahun kami terpisah jauh. Nasem di Minahasa, Sulawesi Utara dan aku tetap di Malang, Jawa Timur.
Dalam suratnya, Nasem menceritakan pula tentang keadaan Hamid (samaran, sahabat kami pula) di Tewah. Katanya, ia juga kangen padaku.
Yah, sesungguhnya aku pun juga kangen pada mereka. Kami adalah tiga sahabat karib, yang dulu tak terpisahkan. Lahir di kampung yang sama, tahun yang sama pula. Tak heran orang kampung menjuluki “Three Brothers”. Cuma bedanya, Nasem dan Hamid sukses di kariernya. Kini Nasem menjadi Kepala Cabang Dealer Mobil/Motor di Minahasa dan Hamid menjadi pedagang antar pulau dan tinggal di Tewah. Sedang aku tidak. Tak banyak yang bisa dilakukan anak petani macam aku ini.
Sayangnya, setelah 10 tahun menikahi gadis Minahasa, Nasem belum juga dikaruniai anak. Beda denganku yang harus pontang-panting menghidupi isteri dan keempat anakku. Kalau saja Nasem tidak membantu, mungkin aku sudah tidak sanggup. Itulah yang membuatku terharu. Meski sudah makmur dan terpisah oleh lautan, mereka masih memperhatikanku.
Kembali ke surat Nasem. Ada satu hal penting yang disampaikannya, yaitu minta bantuanku. Tanpa menjelaskan apa yang dimaksudkannya. Aku pun bingung, apa yang bisa kuperbuat untuk membantu orang sekaya Nasem?
Dengan uang yang dikirimkannya, aku pun berangkat memenuhi undangannya. Istriku harus tinggal, untuk menjaga rumah dan anak-anak yang harus sekolah. Kepadanya aku pamit untuk waktu barang satu dua minggu.
Lalu, setelah 5 hari 5 malam berlayar, aku pun sampai di tujuan. Di situ aku sudah dijemput oleh Nasem dan istrinya. Begitu kapal bersandar, mataku menangkap sepasang tuan dan nyonya melambai-lambaikan tangan. “Nduuuttt.., Genduuuttt..!!” Teriak mereka. Nasem masih tetap memanggil dengan julukanku dan bukan namaku. Dulu semasa kecil, aku memang paling gendut dibanding Nasem Dan Hamid.
Begitu turun dari kapal, kami saling berpelukan tanpa canggung. Kurasakan mereka memang rindu sekali padaku. Acara kangen-kangenan berlanjut sampai di rumah. Rumah Nasem besar, sedang dipugar dan mirip rumah pejabat. Apakah karena hal ini ia memanggilku ke sini? Entahlah. Praktis seharian kami tak menyinggung soal kedatanganku, karena keasyikan saling berkisah selama kami berpisah.
Maka pada malam kedua itulah, sehabis makan malam, Nasem dengan istrinya Sari memanggilku ke ruang tamu. Mulailah mereka membicarakan soal “bantuan” itu.
“Kira-kira apa yang bisa kubantu, apakah mengerjakan rumahmu ini?” tanyaku.
Kulirik, Nasem menggelengkan kepala.
“Begini Ndut, kamu kan tahu kami sudah 10 tahun menikah, tapi belum juga diberi momongan. Masalahnya, menurut dokter, aku ini memang mandul. Jadi kami sepakat untuk minta tolong kamu. Itu sebabnya kami mengundangmu datang kemari,” tutur Nasem, panjang-lebar. Tapi aku masih bingung dengan ucapannya itu, hingga kuminta ia menjelaskan lagi.
“Jelasnya, kami ingin sekali punya anak walau seorang. Tapi kutahu pasti dari dokter bahwa aku tidak bisa membuahi istriku karena aku mandul. Maka kuminta bantuanmu untuk menggantikan diriku agar kami bisa punya anak,” tuturnya lagi dengan jelas.
“Hah.. apa? Aku harus menggantikan dirimu agar bisa memberikan anak kepadamu,” tanyaku, penasaran.
“Yah.. begitulah maksudku,” jawabnya, membuat aku kian tak mengerti.
“Lalu dengan cara bagaimana aku menggantikanmu? Kamu kan tahu bahwa aku ini bukan ‘Deddy Coubuzier’ atau dukun. Apakah aku bisa melaksanakan permintaanmu itu Sem?” ucapku.
“Ah kamu ini memang nggak tahu atau pura-pura nggak tahu. Begini, kamu ini memang bukan seorang dukun dan permintaanku ini tidak ada kaitannya dengan perdukunan. Yang kuminta adalah, kesediaanmu menggantikan diriku sebagai suami dari istriku, untuk membuahi rahim istriku agar kami bisa punya anak. Sudah? Jelas tidak?” ucap Nasem merinci, dan nampak agak kesal juga melihat kebodohanku.
“Oh begitu maksudmu. Tapi benarkah ucapanmu itu? Dan apakah Sari menyetujuinya?” tanyaku meyakinkan, seraya memberi pertimbangan agar Nasem mengadopsi anak saja.
Menurut mereka, semula memang berniat untuk mengadopsi anak.
“Tapi sebaik-baiknya mengadopsi anak, masih lebih baik punya anak dari rahim istriku sendiri. Dan ini kalau bisa.. ya kan sayang?” ucap Nasem.
“Ya Mas Ndut, kami sudah berunding sebelumnya. Dan demi keinginan kami, aku rela menyerahkan tubuhku untuk dibuahi Mas Ndut..” ucap Sari pelan.
Kini aku paham maksud mereka. Tapi aku tak segera menjawab, mendadak terpampang buah simalakama di mataku. Bila kuterima, ah.. itu berarti aku harus melanggar pagar ayu. Apalagi ini istri sahabat sendiri. Dan bila kutolak, Nasem pasti kecewa. Itu yang pertama. Yang kedua, aku terlanjur datang jauh-jauh dari Jawa. Dan ketiga mengingat budi dan jasanya yang kuterima selama ini, kapan lagi aku bisa membalasnya.
Tapi Nasem terus mendesakku.
“Yah.. bagaimana ini ya. Sem, kuterima atau tidak permintaanmu ini?” kataku.
“Sudahlah Ndut, kuharap kamu bersedia membantuku. Nggak usah risau, kami pun tak ada perasaan apa-apa atas bantuanmu,” ucap Nasem meyakinkan.
Aku pun tanpa sadar berucap, “Yah baiklah. Tapi bagaimana nanti kalau gagal?” tanyaku.
“Seandainya gagal, itu bukan kesalahanmu. Nanti kami akan senantiasa berdoa semoga keinginan kami ini dikabulkan,” ucap Nasem dengan arif.
Selanjutnya dengan kesepakatan dan restu bersama, aku diminta untuk memulai malam itu juga. Begitu mendengar kesediaanku mereka permisi hendak mempersiapkan kamar tengah. Nasem sendiri nampaknya pindah ke kamar depan. Bantal dan perlengkapan tidur lainnya dibawanya ke depan.
Tepat pukul 22:00 WITA, aku dipersilakan Sari masuk ke kamar tengah yang sudah bersih, indah dan harum. Terasa berat kakiku melangkah, hingga Nasem dan Sari membimbingku masuk. Habis itu, Nasem pun keluar, meninggalkan aku dan Sari berdua di kamar.
“Sari, apakah kamu yakin aku bakal bisa memberi anak nantinya..?” tanyaku.
“Mas Ndut, secara pribadi aku yakin kamu bakal bisa memberi anak untukku nantinya.” ucapnya manja.
“Aku tidak tega tubuhku yang kotor ini nantinya akan ‘mengobok-obok’ tubuhmu yang mulus itu.”
“Mas Ndut, aku kan sudah bilang ini demi keinginan kami berdua. Jadi tubuhku yang mulus ini kuserahkan padamu Mas. Ayo dekatlah kemari Mas Ndut. Tak usah malu-malu, aku siap bertempur Mas..” ucapnya lagi sambil menarik tanganku ke pembaringan.
Sayup-sayup kudengar pintu jendela depan ditutup dan dikunci.
“Lho siapa yang menutup pintu dan jendela di luar sana itu Sar?” tanyaku, sembari duduk di bibir ranjang.
“Oh itu pasti Mas Nasem sendiri kok Mas Ndut,” jawabnya, seraya menjelaskan bahwa 2 pembantunya terpaksa dipulangkan agar rencana ini berjalan mulus.
“Oh begitu!” ucapku.
“Mas Ndut aku sudah nggak tahan nich?” ucapnya sambil membuka seluruh pakaian yang melekat di tubuhnya yang mulus itu. Tubuhnya yang mulus dengan susunya yang begitu montok dan vaginanya yang menantang. Panas dingin aku memandangnya. Lutut ini gemetar dan tubuhku meriang bak kena setrum listrik 1000 watt. Aku yang biasa melihat istriku bugil, kini jadi lain.
Di rumah aku biasa tidur dengan beralaskan tikar. Kini aku berhadapan dengan ranjang mewah beraroma wangi, plus tubuh mulus tergolek di atasnya. Tapi badanku terus menggigil seperti terjangkit malaria berat. Eh, Sari tiba-tiba bangun menghampiriku dan melepaskan seluruh pakaianku yang sejak tadi belum kubuka. Aku cuma terbengong-bengong saja. Lalu…
“Sekarang.. coba Mas Ndut berbaring..” ucapnya sambil mendorong tubuh telanjangku. Aku menurut saja. Penisku segera menegang ketika merasakan tangan lembut Sari mulai beraksi.
“Wah.. wahh.. besar sekali penismu, Mas Ndut.” tangan Sari segera mengusap-usap penis yang telah mengeras tersebut. Segera saja penisku yang sudah berdenyut-denyut itu masuk ke mulut Sari. Ia segera menjilati penisku itu dengan penuh semangat. Kepala penisku dihisapnya keras-keras, hingga membuatku merintih keenakan.
“Ahhh… ahhh… ohhh..” aku tanpa sadar merintih merasakan nikmat sesaat. Menyadari keringatku yang mengucur dengan deras sehingga menimbulkan bau badanku yang kurang sedap, buru-buru aku mendorong kepala Sari yang masih mengulum penisku itu untuk pamit mau mandi dulu. Lalu, kuguyur badanku dengan segala macam sabun dan parfum yang ada di situ kugosokkan agar badanku harum. Tiga kran yang ada di situ kubuka semua dan kurasakan mana yang berbau sedap, kupakai untuk menyegarkan badan. Bukankah sebentar lagi aku mesti melayani sang putri bak bidadari?! Mungkin sudah terlalu lama aku di kamar mandi, terdengar Sari mengetuknya. Begitu pintu kubuka, ah. Sari berdiri dengan tubuh montoknya. Ohhh.. Seandainya yang pamer aurat di depanku itu istriku aku tak akan menanti lama-lama pasti langsung kudekap dia. Tapi dia adalah istri sahabatku.”Malaria”-ku yang sempat sembuh waktu mandi tadi, kini kumat lagi. Cepat-cepat aku masuk lagi dan menguncinya. Di dalam kamar mandi aku bimbang bagaimana sebaiknya, kulaksanakan atau kubatalkan saja?
Akhirnya malam itu terpaksa gagal. Hingga pukul lima pagi aku masih belum berani melakukannya. Melihat Sari bak bidadari turun dari kahyangan, memang membuatku tergiur. Tapi ketika berhadapan dengannya nyaliku jadi ciut.
Esoknya rupanya Sari melapor pada suaminya. Dan aku ditegur Nasem.
“Ndut, kenapa tidak kamu laksanakan? Bukankah sudah kami katakan.” ucapnya.
Aku cuma diam saja. Agar tidak kecewa lagi, malam ini tekadku akan kulipatgandakan untuk melakukannya.
Pukul 22.00 WITA, Nasem meninggalkan kami berdua di ruang tamu. Sejurus kemudian, “Ayo Mas Ndut kita tidur yuk,” ucap Sari manja sembari meraih tanganku dan ditariknya ke kamar. Setelah mengunci pintu kamar, dia menyuruhku duduk di tepi ranjang dan jari-jarinya yang lentik mulai memijat pundakku. Aneh, setelah dipijat aku menjadi lebih rileks. Dia sorongkan wajahnya dekat sekali dengan wajahku dan tiba-tiba bibir kami sudah merapat dan saling menghisap. Lama juga kami berciuman dan juga saling memilin lidah sementara tangan kami saling membelai dan mengusap.
Kami masih duduk berhadapan. Lalu Sarilah yang mulai membuka semua pakaianku. Dia kecup leherku turun ke bawah ke dada dan ke puting dadaku. Sampai disini, dia menjulurkan lidahnya dan putingku dijilat-jilat. penisku langsung menegang, sangat keras dan semakin keras karena diremas-remas olehnya.
Singkat kata, kami pun sudah bertelanjang bulat dan aku pun segera menindih badannya yang kenyal dan padat. Karena ada sisa kegugupan, maka aku langsung coba memasukkan penisku ke dalam vaginanya.
“Tunggu, pelan-pelan saja Mas Ndut,” bisiknya sambil mengelus kepala kemaluanku di depan lubangnya. Pelan-pelan sekali. Lalu tugasnya kuambil alih dan kulanjutkan menyentuh dan menggosokkan kepala penisku itu. Pelan dan pelan sekali. Terasa olehku lubangnya semakin basah dan licin. Tiba-tiba… “Sleppp..” masuklah penisku ke dalam sangkarnya.
Aku mulai menggenjot perlahan-lahan. Naik turun, naik turun. Sementara itu bibir kami berdua tetap bertaut. Saling kecup, saling hisap. Tangan Sari mengusap-usap punggungku terkadang turun ke bawah ke pantat dan jarinya mempermainkan lubang pantatku, geli campur enak. Tanganku sibuk mengelus kepalanya dan rambutnya. Semua kami lakukan dengan pelan dan lembut.
Setiap aku hampir sampai ke puncak, Sari selalu memelukku erat-erat sehingga aku tidak bisa bergerak. Tepatnya, kami berdua diam tak bergerak sambil saling peluk dan penisku tertanam dalam di kemaluannya. Setelah agak reda kembali aku memompa naik turun.
Selang beberapa saat, Sari ganti di atas. Rupanya dia amat menyenangi posisi ini. Ganti sekarang dia yang memeluk dan menciumiku sementara pantatnya bergoyang dan berputar dengan penisku tertancap di dalam kemaluannya. Semakin lama semakin semangat. Sampai akhirnya ia pun mengejang dan mulutnya berdesis-desis dan kepalanya bergoyang-goyang liar ke kiri dan ke kanan, kupeluk dia dan kutekan pantatnya sehingga sampailah ia pada puncak kepuasannya. Lemaslah tubuh Sari dan dia menciumi seluruh wajahku sambil mengucapkan, “Terima kasih ya Mas? Mas telah melakukan tugas dengan baik.. aku sungguh tidak menyangka Mas bisa membuatku melayang sampai ke langit yang ke-tujuh.. (ucapnya sambil mengecup bibirku, terus tangannya memegang penisku yang menurut dia jauh lebih besar dan panjang dari punya Nasem)”.
Selesai tugasku maka aku pun membalikkan badannya dan ganti aku di atas. Kuangkat kedua kakinya dan kubelitkan di kedua pahaku lalu kumasukkan penisku dan kukocok perlahan-perlahan untuk makin lama makin cepat dan akhirnya menyemburlah air maniku ke dalam lubang vagina Sari. Sari memeluk tubuhku erat-erat dan kami pun berciuman lama. Sempat sekitar sepuluh menit kami diam tak bergerak dalam posisi aku di atas badannya dan tubuh kami tetap jadi satu bersambung dari bawah.
Tak terasa ‘pekerjaan’ yang kulaksanakan ini sudah menginjak malam ke dua belas.
“Mas Ndut, sebenarnya menurut perhitungan saya, haid saya sudah lewat 7 hari yang lalu,” kata Sari pada suatu malam setelah kami kelelahan. Tapi Nasem masih belum yakin istrinya hamil. Aku dimintanya ‘bersabar’ barang sepuluh hari atau dua minggu lagi. Bersamaan dengan itu, ia mengirimkan uang belanja untuk istriku dan anak-anakku.
Hingga pada suatu hari, terhitung hampir sebulan aku di sana. Nasem membawa istrinya ke dokter ahli kandungan. Tak berapa lama mereka pun pulang dengan wajah yang cerah. Berhasil!
“Oh Ndut, istriku hamil!” katanya gembira.
Kiranya ‘pekerjaanku’ tak sia-sia. Kusarankan pada mereka untuk menjaga kandungan Sari, hingga kelak si jabang bayi lahir. Aku sendiri, sudah kangen pada keluargaku di kampung. Maklum, hampir sebulan aku meninggalkan mereka. Tapi aku berjanji kepada Nasem, bersedia diundang lagi seandainya hasilnya gagal. Nasem pun tak keberatan melepaskanku pulang. Kebetulan dua hari lagi ada kapal berangkat ke Surabaya. Sorenya mereka belanja oleh-oleh untuk keluargaku di rumah. Aduh bukan main senangnya hati mereka. Setelah itu aku pun berangkat naik kapal pulang ke kampung.
Singkat cerita, sesampainya di rumah kukatakan pada istriku bahwa aku diminta menyelesaikan bangunan rumahnya. Dan istriku percaya saja. Tapi dalam hati, aku merasa berdosa kepadanya.
Delapan bulan kemudian aku menerima surat dari Nasem bahwa ‘anaknya’ telah lahir, wanita, cantik lagi, dan diberinya nama Ratih. “Ah syukurlah,” gumamku.
Begitulah yang terjadi. Rahasia ini masih kusimpan demi ketenangan keluargaku. Tapi satu hal yang tak dapat kupungkiri, bahwa darah dagingku pun terpisah di sana. Disatu sisi aku bangga dapat membahagiakan sahabatku dan membalas budinya. Tapi disisi lain soal akibat dosanya, kuserahkan kepada Yang Di Atas. Aku hanya dapat berucap, mohon ampun pada-Nya.
Tamat
Lihat Koleksi Bugil Lengkap..
Dalam suratnya, Nasem menceritakan pula tentang keadaan Hamid (samaran, sahabat kami pula) di Tewah. Katanya, ia juga kangen padaku.
Yah, sesungguhnya aku pun juga kangen pada mereka. Kami adalah tiga sahabat karib, yang dulu tak terpisahkan. Lahir di kampung yang sama, tahun yang sama pula. Tak heran orang kampung menjuluki “Three Brothers”. Cuma bedanya, Nasem dan Hamid sukses di kariernya. Kini Nasem menjadi Kepala Cabang Dealer Mobil/Motor di Minahasa dan Hamid menjadi pedagang antar pulau dan tinggal di Tewah. Sedang aku tidak. Tak banyak yang bisa dilakukan anak petani macam aku ini.
Sayangnya, setelah 10 tahun menikahi gadis Minahasa, Nasem belum juga dikaruniai anak. Beda denganku yang harus pontang-panting menghidupi isteri dan keempat anakku. Kalau saja Nasem tidak membantu, mungkin aku sudah tidak sanggup. Itulah yang membuatku terharu. Meski sudah makmur dan terpisah oleh lautan, mereka masih memperhatikanku.
Kembali ke surat Nasem. Ada satu hal penting yang disampaikannya, yaitu minta bantuanku. Tanpa menjelaskan apa yang dimaksudkannya. Aku pun bingung, apa yang bisa kuperbuat untuk membantu orang sekaya Nasem?
Dengan uang yang dikirimkannya, aku pun berangkat memenuhi undangannya. Istriku harus tinggal, untuk menjaga rumah dan anak-anak yang harus sekolah. Kepadanya aku pamit untuk waktu barang satu dua minggu.
Lalu, setelah 5 hari 5 malam berlayar, aku pun sampai di tujuan. Di situ aku sudah dijemput oleh Nasem dan istrinya. Begitu kapal bersandar, mataku menangkap sepasang tuan dan nyonya melambai-lambaikan tangan. “Nduuuttt.., Genduuuttt..!!” Teriak mereka. Nasem masih tetap memanggil dengan julukanku dan bukan namaku. Dulu semasa kecil, aku memang paling gendut dibanding Nasem Dan Hamid.
Begitu turun dari kapal, kami saling berpelukan tanpa canggung. Kurasakan mereka memang rindu sekali padaku. Acara kangen-kangenan berlanjut sampai di rumah. Rumah Nasem besar, sedang dipugar dan mirip rumah pejabat. Apakah karena hal ini ia memanggilku ke sini? Entahlah. Praktis seharian kami tak menyinggung soal kedatanganku, karena keasyikan saling berkisah selama kami berpisah.
Maka pada malam kedua itulah, sehabis makan malam, Nasem dengan istrinya Sari memanggilku ke ruang tamu. Mulailah mereka membicarakan soal “bantuan” itu.
“Kira-kira apa yang bisa kubantu, apakah mengerjakan rumahmu ini?” tanyaku.
Kulirik, Nasem menggelengkan kepala.
“Begini Ndut, kamu kan tahu kami sudah 10 tahun menikah, tapi belum juga diberi momongan. Masalahnya, menurut dokter, aku ini memang mandul. Jadi kami sepakat untuk minta tolong kamu. Itu sebabnya kami mengundangmu datang kemari,” tutur Nasem, panjang-lebar. Tapi aku masih bingung dengan ucapannya itu, hingga kuminta ia menjelaskan lagi.
“Jelasnya, kami ingin sekali punya anak walau seorang. Tapi kutahu pasti dari dokter bahwa aku tidak bisa membuahi istriku karena aku mandul. Maka kuminta bantuanmu untuk menggantikan diriku agar kami bisa punya anak,” tuturnya lagi dengan jelas.
“Hah.. apa? Aku harus menggantikan dirimu agar bisa memberikan anak kepadamu,” tanyaku, penasaran.
“Yah.. begitulah maksudku,” jawabnya, membuat aku kian tak mengerti.
“Lalu dengan cara bagaimana aku menggantikanmu? Kamu kan tahu bahwa aku ini bukan ‘Deddy Coubuzier’ atau dukun. Apakah aku bisa melaksanakan permintaanmu itu Sem?” ucapku.
“Ah kamu ini memang nggak tahu atau pura-pura nggak tahu. Begini, kamu ini memang bukan seorang dukun dan permintaanku ini tidak ada kaitannya dengan perdukunan. Yang kuminta adalah, kesediaanmu menggantikan diriku sebagai suami dari istriku, untuk membuahi rahim istriku agar kami bisa punya anak. Sudah? Jelas tidak?” ucap Nasem merinci, dan nampak agak kesal juga melihat kebodohanku.
“Oh begitu maksudmu. Tapi benarkah ucapanmu itu? Dan apakah Sari menyetujuinya?” tanyaku meyakinkan, seraya memberi pertimbangan agar Nasem mengadopsi anak saja.
Menurut mereka, semula memang berniat untuk mengadopsi anak.
“Tapi sebaik-baiknya mengadopsi anak, masih lebih baik punya anak dari rahim istriku sendiri. Dan ini kalau bisa.. ya kan sayang?” ucap Nasem.
“Ya Mas Ndut, kami sudah berunding sebelumnya. Dan demi keinginan kami, aku rela menyerahkan tubuhku untuk dibuahi Mas Ndut..” ucap Sari pelan.
Kini aku paham maksud mereka. Tapi aku tak segera menjawab, mendadak terpampang buah simalakama di mataku. Bila kuterima, ah.. itu berarti aku harus melanggar pagar ayu. Apalagi ini istri sahabat sendiri. Dan bila kutolak, Nasem pasti kecewa. Itu yang pertama. Yang kedua, aku terlanjur datang jauh-jauh dari Jawa. Dan ketiga mengingat budi dan jasanya yang kuterima selama ini, kapan lagi aku bisa membalasnya.
Tapi Nasem terus mendesakku.
“Yah.. bagaimana ini ya. Sem, kuterima atau tidak permintaanmu ini?” kataku.
“Sudahlah Ndut, kuharap kamu bersedia membantuku. Nggak usah risau, kami pun tak ada perasaan apa-apa atas bantuanmu,” ucap Nasem meyakinkan.
Aku pun tanpa sadar berucap, “Yah baiklah. Tapi bagaimana nanti kalau gagal?” tanyaku.
“Seandainya gagal, itu bukan kesalahanmu. Nanti kami akan senantiasa berdoa semoga keinginan kami ini dikabulkan,” ucap Nasem dengan arif.
Selanjutnya dengan kesepakatan dan restu bersama, aku diminta untuk memulai malam itu juga. Begitu mendengar kesediaanku mereka permisi hendak mempersiapkan kamar tengah. Nasem sendiri nampaknya pindah ke kamar depan. Bantal dan perlengkapan tidur lainnya dibawanya ke depan.
Tepat pukul 22:00 WITA, aku dipersilakan Sari masuk ke kamar tengah yang sudah bersih, indah dan harum. Terasa berat kakiku melangkah, hingga Nasem dan Sari membimbingku masuk. Habis itu, Nasem pun keluar, meninggalkan aku dan Sari berdua di kamar.
“Sari, apakah kamu yakin aku bakal bisa memberi anak nantinya..?” tanyaku.
“Mas Ndut, secara pribadi aku yakin kamu bakal bisa memberi anak untukku nantinya.” ucapnya manja.
“Aku tidak tega tubuhku yang kotor ini nantinya akan ‘mengobok-obok’ tubuhmu yang mulus itu.”
“Mas Ndut, aku kan sudah bilang ini demi keinginan kami berdua. Jadi tubuhku yang mulus ini kuserahkan padamu Mas. Ayo dekatlah kemari Mas Ndut. Tak usah malu-malu, aku siap bertempur Mas..” ucapnya lagi sambil menarik tanganku ke pembaringan.
Sayup-sayup kudengar pintu jendela depan ditutup dan dikunci.
“Lho siapa yang menutup pintu dan jendela di luar sana itu Sar?” tanyaku, sembari duduk di bibir ranjang.
“Oh itu pasti Mas Nasem sendiri kok Mas Ndut,” jawabnya, seraya menjelaskan bahwa 2 pembantunya terpaksa dipulangkan agar rencana ini berjalan mulus.
“Oh begitu!” ucapku.
“Mas Ndut aku sudah nggak tahan nich?” ucapnya sambil membuka seluruh pakaian yang melekat di tubuhnya yang mulus itu. Tubuhnya yang mulus dengan susunya yang begitu montok dan vaginanya yang menantang. Panas dingin aku memandangnya. Lutut ini gemetar dan tubuhku meriang bak kena setrum listrik 1000 watt. Aku yang biasa melihat istriku bugil, kini jadi lain.
Di rumah aku biasa tidur dengan beralaskan tikar. Kini aku berhadapan dengan ranjang mewah beraroma wangi, plus tubuh mulus tergolek di atasnya. Tapi badanku terus menggigil seperti terjangkit malaria berat. Eh, Sari tiba-tiba bangun menghampiriku dan melepaskan seluruh pakaianku yang sejak tadi belum kubuka. Aku cuma terbengong-bengong saja. Lalu…
“Sekarang.. coba Mas Ndut berbaring..” ucapnya sambil mendorong tubuh telanjangku. Aku menurut saja. Penisku segera menegang ketika merasakan tangan lembut Sari mulai beraksi.
“Wah.. wahh.. besar sekali penismu, Mas Ndut.” tangan Sari segera mengusap-usap penis yang telah mengeras tersebut. Segera saja penisku yang sudah berdenyut-denyut itu masuk ke mulut Sari. Ia segera menjilati penisku itu dengan penuh semangat. Kepala penisku dihisapnya keras-keras, hingga membuatku merintih keenakan.
“Ahhh… ahhh… ohhh..” aku tanpa sadar merintih merasakan nikmat sesaat. Menyadari keringatku yang mengucur dengan deras sehingga menimbulkan bau badanku yang kurang sedap, buru-buru aku mendorong kepala Sari yang masih mengulum penisku itu untuk pamit mau mandi dulu. Lalu, kuguyur badanku dengan segala macam sabun dan parfum yang ada di situ kugosokkan agar badanku harum. Tiga kran yang ada di situ kubuka semua dan kurasakan mana yang berbau sedap, kupakai untuk menyegarkan badan. Bukankah sebentar lagi aku mesti melayani sang putri bak bidadari?! Mungkin sudah terlalu lama aku di kamar mandi, terdengar Sari mengetuknya. Begitu pintu kubuka, ah. Sari berdiri dengan tubuh montoknya. Ohhh.. Seandainya yang pamer aurat di depanku itu istriku aku tak akan menanti lama-lama pasti langsung kudekap dia. Tapi dia adalah istri sahabatku.”Malaria”-ku yang sempat sembuh waktu mandi tadi, kini kumat lagi. Cepat-cepat aku masuk lagi dan menguncinya. Di dalam kamar mandi aku bimbang bagaimana sebaiknya, kulaksanakan atau kubatalkan saja?
Akhirnya malam itu terpaksa gagal. Hingga pukul lima pagi aku masih belum berani melakukannya. Melihat Sari bak bidadari turun dari kahyangan, memang membuatku tergiur. Tapi ketika berhadapan dengannya nyaliku jadi ciut.
Esoknya rupanya Sari melapor pada suaminya. Dan aku ditegur Nasem.
“Ndut, kenapa tidak kamu laksanakan? Bukankah sudah kami katakan.” ucapnya.
Aku cuma diam saja. Agar tidak kecewa lagi, malam ini tekadku akan kulipatgandakan untuk melakukannya.
Pukul 22.00 WITA, Nasem meninggalkan kami berdua di ruang tamu. Sejurus kemudian, “Ayo Mas Ndut kita tidur yuk,” ucap Sari manja sembari meraih tanganku dan ditariknya ke kamar. Setelah mengunci pintu kamar, dia menyuruhku duduk di tepi ranjang dan jari-jarinya yang lentik mulai memijat pundakku. Aneh, setelah dipijat aku menjadi lebih rileks. Dia sorongkan wajahnya dekat sekali dengan wajahku dan tiba-tiba bibir kami sudah merapat dan saling menghisap. Lama juga kami berciuman dan juga saling memilin lidah sementara tangan kami saling membelai dan mengusap.
Kami masih duduk berhadapan. Lalu Sarilah yang mulai membuka semua pakaianku. Dia kecup leherku turun ke bawah ke dada dan ke puting dadaku. Sampai disini, dia menjulurkan lidahnya dan putingku dijilat-jilat. penisku langsung menegang, sangat keras dan semakin keras karena diremas-remas olehnya.
Singkat kata, kami pun sudah bertelanjang bulat dan aku pun segera menindih badannya yang kenyal dan padat. Karena ada sisa kegugupan, maka aku langsung coba memasukkan penisku ke dalam vaginanya.
“Tunggu, pelan-pelan saja Mas Ndut,” bisiknya sambil mengelus kepala kemaluanku di depan lubangnya. Pelan-pelan sekali. Lalu tugasnya kuambil alih dan kulanjutkan menyentuh dan menggosokkan kepala penisku itu. Pelan dan pelan sekali. Terasa olehku lubangnya semakin basah dan licin. Tiba-tiba… “Sleppp..” masuklah penisku ke dalam sangkarnya.
Aku mulai menggenjot perlahan-lahan. Naik turun, naik turun. Sementara itu bibir kami berdua tetap bertaut. Saling kecup, saling hisap. Tangan Sari mengusap-usap punggungku terkadang turun ke bawah ke pantat dan jarinya mempermainkan lubang pantatku, geli campur enak. Tanganku sibuk mengelus kepalanya dan rambutnya. Semua kami lakukan dengan pelan dan lembut.
Setiap aku hampir sampai ke puncak, Sari selalu memelukku erat-erat sehingga aku tidak bisa bergerak. Tepatnya, kami berdua diam tak bergerak sambil saling peluk dan penisku tertanam dalam di kemaluannya. Setelah agak reda kembali aku memompa naik turun.
Selang beberapa saat, Sari ganti di atas. Rupanya dia amat menyenangi posisi ini. Ganti sekarang dia yang memeluk dan menciumiku sementara pantatnya bergoyang dan berputar dengan penisku tertancap di dalam kemaluannya. Semakin lama semakin semangat. Sampai akhirnya ia pun mengejang dan mulutnya berdesis-desis dan kepalanya bergoyang-goyang liar ke kiri dan ke kanan, kupeluk dia dan kutekan pantatnya sehingga sampailah ia pada puncak kepuasannya. Lemaslah tubuh Sari dan dia menciumi seluruh wajahku sambil mengucapkan, “Terima kasih ya Mas? Mas telah melakukan tugas dengan baik.. aku sungguh tidak menyangka Mas bisa membuatku melayang sampai ke langit yang ke-tujuh.. (ucapnya sambil mengecup bibirku, terus tangannya memegang penisku yang menurut dia jauh lebih besar dan panjang dari punya Nasem)”.
Selesai tugasku maka aku pun membalikkan badannya dan ganti aku di atas. Kuangkat kedua kakinya dan kubelitkan di kedua pahaku lalu kumasukkan penisku dan kukocok perlahan-perlahan untuk makin lama makin cepat dan akhirnya menyemburlah air maniku ke dalam lubang vagina Sari. Sari memeluk tubuhku erat-erat dan kami pun berciuman lama. Sempat sekitar sepuluh menit kami diam tak bergerak dalam posisi aku di atas badannya dan tubuh kami tetap jadi satu bersambung dari bawah.
Tak terasa ‘pekerjaan’ yang kulaksanakan ini sudah menginjak malam ke dua belas.
“Mas Ndut, sebenarnya menurut perhitungan saya, haid saya sudah lewat 7 hari yang lalu,” kata Sari pada suatu malam setelah kami kelelahan. Tapi Nasem masih belum yakin istrinya hamil. Aku dimintanya ‘bersabar’ barang sepuluh hari atau dua minggu lagi. Bersamaan dengan itu, ia mengirimkan uang belanja untuk istriku dan anak-anakku.
Hingga pada suatu hari, terhitung hampir sebulan aku di sana. Nasem membawa istrinya ke dokter ahli kandungan. Tak berapa lama mereka pun pulang dengan wajah yang cerah. Berhasil!
“Oh Ndut, istriku hamil!” katanya gembira.
Kiranya ‘pekerjaanku’ tak sia-sia. Kusarankan pada mereka untuk menjaga kandungan Sari, hingga kelak si jabang bayi lahir. Aku sendiri, sudah kangen pada keluargaku di kampung. Maklum, hampir sebulan aku meninggalkan mereka. Tapi aku berjanji kepada Nasem, bersedia diundang lagi seandainya hasilnya gagal. Nasem pun tak keberatan melepaskanku pulang. Kebetulan dua hari lagi ada kapal berangkat ke Surabaya. Sorenya mereka belanja oleh-oleh untuk keluargaku di rumah. Aduh bukan main senangnya hati mereka. Setelah itu aku pun berangkat naik kapal pulang ke kampung.
Singkat cerita, sesampainya di rumah kukatakan pada istriku bahwa aku diminta menyelesaikan bangunan rumahnya. Dan istriku percaya saja. Tapi dalam hati, aku merasa berdosa kepadanya.
Delapan bulan kemudian aku menerima surat dari Nasem bahwa ‘anaknya’ telah lahir, wanita, cantik lagi, dan diberinya nama Ratih. “Ah syukurlah,” gumamku.
Begitulah yang terjadi. Rahasia ini masih kusimpan demi ketenangan keluargaku. Tapi satu hal yang tak dapat kupungkiri, bahwa darah dagingku pun terpisah di sana. Disatu sisi aku bangga dapat membahagiakan sahabatku dan membalas budinya. Tapi disisi lain soal akibat dosanya, kuserahkan kepada Yang Di Atas. Aku hanya dapat berucap, mohon ampun pada-Nya.
Tamat
Lihat Koleksi Bugil Lengkap..
Tukar Guling
18.26, Posted by admin, No Comment
Sesampainya di rumah setelah terbang sana terbang sini di beberapa kota masih di Pulau Jawa maupun di Pulau Kalimantan dan Sulawesi selama 7 minggu ini untuk urusan bisnis kayu dan hasil-hasil bumi lainnya, tubuhku mulai dilanda letih dan penat luar biasa. Namun secara psikologis justru sebaliknya, aku mulai dapat merasakan suasana rileks dan tentram. Merasa at home dan ingin selekasnya menemui mantan kekasihku, sang isteri tercinta. Hal ini cukup membantu keseimbangan diriku sehingga tidak membuatku dilanda senewen.
Karena penerbangan yang kuambil adalah sore jam 6 dari Surabaya, maka masih sore pula sekitar jam 7.30 aku sudah mendarat dan lalu setengah jam kemudian dengan menggunakan jasa taksi aku sudah menginjakkan kaki di halaman rumahku di bilangan Slipi. Lalu lintas tidak macet karena ini hari Minggu.
Dari luar ruang tamu nampak terang disinari lampu, berarti isteriku ada di rumah. Di rumah kami tinggal 4 orang saja. Aku yang berusia 38, isteriku 31, pembantu laki-laki 52, dan pembantu wanita 44. Oh ya, setelah 9 tahun menikah kami belum dikarunia anak. Jadi semakin menjadi-jadilah diriku menghabiskan waktu mengurus bisnis karena belum ada urusan lain yang memerlukan perhatianku. Syukurlah selama ini bisnisku lancar-lancar saja demikian pula perkawinan kami.
Ketika hendak kupencet bel kuurungkan siapa tahu pintu tidak dikunci. Tadi gerbang depan dibukakan oleh pembantu wanitaku karena kebetulan dia pas lagi mau keluar untuk membuang sampah. Setelahnya dia kembali ke kamarnya yang terletak di samping kiri bangunan utama. Pembantu-pembantuku kubuatkan kamar di luar. Ukuran rumahku cukup besar dengan masih ditambah tanah yang lumayan luas yang kubuat menjadi taman hampir mengelilingi bangunan rumah kecuali sisi kiri karena kepotong kamar-kamar pembantu dan jalan samping. Dari gerbang depan ke pintu kira-kira mencapai 25 meter.
Benar, pintu tidak dikunci dan aku masuk dengan senyap demi membikin isteriku kaget. Aku suka sekali dengan permainan kaget-kagetan begini. Biasanya isteriku suka terpekik lalu menghambur ke pelukanku dan dibarengi dengan ciuman bertubi-tubi. Itulah santapan rohaniku. Dan itu sering terjadi karena aku sering bepergian dalam waktu lama pula, rekorku pernah sampai 3 bulan baru pulang. Pada awal perkawinan kami tidaklah demikian, namun 5 tahun belakangan ini yah begitulah. Dampaknya adalah kehidupan seks kami mulai menurun drastis frekuensinya maupun kualitasnya.
Kali ini aku menangkap suasana lain. Memang biasanya sebelum pulang aku memberitahukan isteriku bahwa dalam 2 sampai 5 hari bakal pulang. Sengaja kali ini aku tidak memberitahu agar lebih dahsyat pekikan-pekikan kangen isteriku itu. Di ruang tamu TV menyala agak keras. Lalu aku menuju dapur mengendap-endap siapa tahu isteriku di sana dan sekalian mau mengambil air putih. Tidak ada. Ah mungkin lagi tidur barangkali di kamar pikirku. Kuletakkan tas koperku di atas meja makan lalu aku mengambil sebotol air dingin di kulkas. Kuletakkan pantatku di atas kursi sambil minum. Kuambil sebatang rokok lalu kunyalakan. Ada sekitar 5 menit kunikmati asap-asap racun itu sebelum akhirnya kuputuskan untuk naik ke lantai 2 di mana kamar tidur kami berada.
Pelan-pelan kunaiki tangga. Pelan sekali kubuka pintu, namun hanya seukuran setengah kepala. Aku ingin mengintip kegiatan isteriku di kamar spesial kami. Apakah lagi lelap dengan pose yang aduhai. Ataukah lagi mematut diri di cermin. Ataukah lagi.. Upss!! Berdebar jantungku.
Dalam keremangan lampu kamar (kamar lampuku bisa disetel tingkat keterangannya sedemikian rupa) kulihat ada 2 manusia. Jelas salah satu sosoknya adalah isteriku, mana mungkin aku pangling. Dia lagi mengangkangi seseorang. Posisi kepalanya nampak seperti di sekitar kemaluan lawannya. Perasaanku mulai dilanda kekacauan. Sulit kudefinisikan. Marah. Kaget. Bingung. Bahkan penasaran. Apa yang sedang berlangsung di depan mataku ini? Kepala isteriku nampak naik turun dengan teratur dengan ditingkahi suara-suara lenguhan tertahan seorang pria yang menjemput kenikmatan seksual. Mungkin saking asiknya mereka berolah asmara terkuaknya pintu tidak mereka sadari.
Tiba-tiba perasaan aneh menjalari diriku. Darahku berdesir pelan dan makin kencang. Rasa penasaranku sudah mulai dicampuraduki dengan gairah kelelakianku yang membangkit. Ini lebih dahsyat ketimbang menonton film-film bokep terpanas sekalipun. Kesadaran diriku juga lenyap entah kemana bahwa yang di depan mataku adalah isteriku dengan pria yang pasti bukan diriku. Sekarang aku lebih ingin menyaksikan adegan ini sampai tuntas. Kontolku mulai mengejang. Posisi mereka mulai berbalik. Isteriku mengambil posisi di bawah sementara lawannya ganti di atasnya. Persis sama seperti tadi hanya saja sekarang kelihatannya memek isteriku yang dijadikan sasaran. Aku semakin ngaceng.
"Ohh.. Sshh..." suara desisan isteriku berulang-ulang.
Telaten sekali si pria (aku sudah menangkap sosok lawannya dengan jelas adalah pria) sehingga isteriku mulai bergerak meliuk-liuk dan menengadahkan kepalanya berkali-kali.
"Uuhh.. Eehhss.. Teruss jilatthh.. Pak Minnh.. Ahh.. Uffh..".
Plong rasa dadaku demi akhirnya menemukan identitas sang pelaku pria. Mr. Karmin pembantu priaku yang tua itu. Wah.. Wah.. Pantesan tadi aku agak mengenali sosoknya. Belum sempat aku banyak berpikir kesadaranku disedot kembali oleh suara-suara kesetanan isteriku dari hasil kerja persetubuhan itu.
"Yyaahh.. Teruss.. Teruss.. Aahh.. Tusukk.. Tuussuukkhin liidaahhmu Pak.. Yaahh beegittu.. Oohh.."
Semakin binal kepala isteriku tergolek sana sini. Nampaknya dia sudah berada di awang-awang kenikmatan. Aku juga semakin dilanda gairah sehingga tanpa sadar tanganku mulai meremas-remas burungku sendiri.
"Ahh..."
Ah isteriku akhirnya jebol juga. Aku tahu itu. Tapi nampaknya Pak Karmin masih meneruskan aktivitasnya. Sebentar kemudian kaki isteriku diangkatnya ke kedua bahunya yang bidang dan kekar itu (meskipun sudah tua tapi tubuh pembantuku masih gagah akibat pekerjaannya yang secara fisik membutuhkan kekuatan). Dimainkan jari-jarinya di liang memek isteriku. Lenguhan-lenguhan isteriku kembali terdengar. Semakin kencang kocokan jari Pak Karmin pada memek isteriku. Dengan menggelinjang mengangkat-ngangkat paha isteriku kembali dibuat mabuk kepayang. Akhirnya kulihat batang kemaluan Mr. Karmin sudah diarahkan ke lobang kemaluan isteriku. Busseett gede juga nih punya si tua bangka. Semakin menggelegak gairahku ketika membayangkan bagaimana memek isteriku akan dihujami oleh benda sebesar itu.
Bless. Masuk. Gleg ludahku tertelan.
"Oohh.. Eyaahh.. Eenaakk.. Paakk..".
Pelan-pelan dipompanya memek isteriku dengan godam si Mr. Karmin. Mulai menggila kembali goyangan pantat isteriku melayani rangsekan-rangsekan si batang besar itu.
"Geennjoott.. Yaahh.. Genjoott.. Oohh.. Ennakk Banngeett.. Oohh.."
Aku menyaksikkan tubuh isteriku terhentak-hentak naik turun akibat sodokan-sodokan yang bertenaga itu. Tangan Mr. Karmin tak tinggal diam menyenggamai buah dada isteriku yang telah menjulang tegak. Wuuhh gila, dahsyat sekali pemandangan yang kusaksikan ini. Setelah hampir 10 menit diangkatlah tubuh isteriku dan dibalikkannya menjadi posisi menungging.
Gaya anjing rupanya dikenal juga oleh Si Tua ini. Kembali liang memek isteriku dihunjam dari arah belakang. Konsistensi gerakan kontol yang maju mundur itu beserta lenguhan-lenguhan isteriku semakin mengobarkan hasratku.
"Ahh.. Aahh.. Ssooddooghh.. Kuaatt.. Kuat.. Paakkhh, oohh.. Giillaa.."
Pompaan Mr. Karmin semakin lama dibuat semakin bertenaga dan semakin cepat.
"Oo hh.. Yaa.. Beggiittuu.. Teruss.. Paakkhh.."
Kupikir bakalan selesai eh ternyata isteriku sekarang disuruh berdiri, Mr. Karmin menyetubuhinya sambil berdiri. Tanpa sadar aku menoleh ke lantai bawah ternyata si Pembantu Wanita memergokiku sedang mengintip. Karena jengah atau bagaimana Mrs. Karmin merona mukanya lalu menyingkir ke belakang dengan tergesa. Pembantuku adalah suami isteri.
"Yaahh.. Terruuss.. Mauuhh.. Keelluaarr.. Nihh Paakkh.."
"Aku sebentar laggii.. Juuggaa.. Ibbuu.."
"Baarrenng.. Yaahh.. Paakkh.. Ohh.. Ohh.. Yaahh.. Uuddaahh"
Sambil mengejang-ngejang keduanya melepas energi terakhir dan terbesar yang disertai ledakan kenikmatan luar biasa. Mr. Karmin akhirnya jebol juga pertahanannya. Begitu adegan selesai aku dengan perlahan sekali menutup pintunya. Kuturuni perlahan tangga menuju dapur kembali. Celanaku masih padat mnggembung tak terkira. Aku senewen ingin menuntaskan hasratku.
Ketika sampai dapur kulihat Mrs. Karmin sedang duduk termangu. Kami saling menatap dalam keadaan bingung dan resah. Kudekati dia ketika mulai terisak-isak meneteskan air mata, ingin kutenangkan hatinya. Mungkin kejadian tadi telah berulang kali berlangsung selama aku tidak di rumah.
"Sudah sering kejadianya Mbok?" tanyaku. Dia mengangguk.
"Maafkan isteriku yah"
Entah kenapa tiba-tiba mata kami bertatapan kembali. Selama ini dia tidak berani menatapku. Kali ini mungkin dia sedang kesepian dan masygul hatinya.
"Ayo ke kamarmu Mbok."
Hasratku masih tinggi dan harus dituntaskan. Kami saat ini sedang masuk dalam situasi kejiwaan yang membutuhkan pertolongan satu sama lain. Plus gairah buatku. Ketika sampai kamarnya yang agak sempit itu, kusuruh dia duduk di ranjang. Kupegang tangannya dan kuelus. Sosok wanita ini sebenarnya tidak terlalu buruk. Kulit terang meskipun tidak semulus isteriku tapi lumayan bersih. Tinggi sedang dan hebatnya perut tidak terlalu melambung. Tetek cukup besar setelah kusadari saat ini. Dia selalu memakai kebaya dan kain.
Kepalanya ditimpakan di dadaku. Meskipun dia lebih tua dari aku namun dalam kondisi begini dia memerlukan kekuatan dari dada laki-laki. Kubiarkan meskipun dibarengi aroma bumbu dapur. Tapi tidak terlalu menyengat. Rambutnya otomatis megenai hidungku. Bau minyak rambut Pomade menyergap hidungku. Kucium-kucium dan kuendus-kuendus. Kujalari menuju ke telinga. Diam saja. Ke lehernya. Malah terdengar ketawa kegelian. Mulai kuusap lengannya. Semakin erat dia mendesakkan tubuhnya ke diriku. Sambil mengusap lengan kanannya naik turun sengaja kurenggangkan jariku sehingga menyentuh tipis teteknya. Terus kuulang sampai akhirnya kepalanya mulai bergoyang. Lalu kuelus langsung teteknya. Gemas aku. Dia mulai mendesah. Kuremas-remas lembut. Mulai melenguh. Kubaringkan. Menurut saja. Kubuka bagian dada dari kebayanya. Memang besar miliknya. Kuning agak pucat warnanya. Kuhisap-hisap. Menegak-negak kepalanya.
"Ehhmm.. Eehhf.."
Kusingkap kainnya dan kuelus pahanya.
"Ehh.. Ehhshs.."
Kuselusupkan tanganku jauh menuju pangkal pahanya. Kuusap-usap gundukannya.
"Ehhss.. Ehhss.. Oohh..." tergolek kanan kiri kepalanya.
Kutindih dia dengan mengangkangkan kakinya. Mulai kuselusuri dari tetek sampai leher kanan kiri dengan lidahku.
"Oohh.. Paakk.. Oohh.."
Kurenggut bibirnya yang tebal dengan bibirku. Kumasukkan lidahku menjangkau lidahnya. Pada mulanya pasif. Lalu dia mulai mengerti dan kami saling beradu lidah dan ludah. Berkecipak suara kuluman kami. Kutekan-tekan bagian bawah diriku sehingga tonjolan burungku menggesek wilayah memeknya. Mengerinjal pantatnya.
"Esshh.. Ehhss.. Oohh..." desahnya berulang-ulang.
Kami berdiri untuk melepas baju masing-masing setelah kubisikkan keinginanku. Kuamati dari ujung rambut sampai kaki. Keteknya dibiarkan berbulu, ah sensasional sekali. Baru kali ini kulihat wanita membiarkan keteknya berbulu. Isteriku licin sekali. Jembut mememknya lebat sekali dan cenderung tidak rapi. Luar biasa. Karena hasratku yang sudah tinggi sejak tadi langsung kugumul
Dia dan menjatuhkannya di ranjang. Kujilati kembali mulai dari kening, leher, pipi, tetek, ketek (di sini aku berlama-lama karena penasaran sekali dengan rasa bulunya), perut dan memeknya. Kumainkan lidahku memutari labia mayoranya.
"Oohh.. Paakk.. Ohh.."
Dipegangi kepalaku dan ditekan-tekannya sesuai keinginannya. Kumasuki klitorisnya dengan lidahku. Aku tidak jijik kali ini. Hasratku yang menggila telah mengalahkan kebiasaanku selama ini.
"Esshh.. Ahhss.. Esshh.. Oohh.. Mmass.."
Dia memanggilku Mas berarti kesadarannya mulai kaca balau. Kuremas pantatnya sebelum akhirnya kujebloskan kontolku ke memeknya yang telah banjir bandang itu. Kupompa maju mundur tanpa tergesa. Yang penting bertenaga dan merangsek ke dalam. Menggeliat-geliat kayak cacing kepanasan si Mrs. Karmin ini. Semakin dikangkangkan pahanya. Kupegang ujung telapak kakinya sambil aku terus menyodokinya.
"Yaahh.. Teruss.. Yangg dalaam .. Masshh.. Ohh.. Ennaakk banngeetts.. Shh."
Kubaringkin miring lalu kulipat kaki kanannya ke depan dan kuhujami memeknya dari belakang. Kami bersetubuh dalam posisi berbaring miring (kebayangkan?). Kuubah posisi menjadi dog-style. Namun dia telungkup sehingga tingkat penetrasinya lebih maksimal. Benturan-benturan dengan pantatnya yang bulat membuatku gemas. Kugenjot sedalam-dalamnya memeknya yang rimbun itu.
"Yaahhss.. Ehhssh.. Oohhs..." begitu terus erangnya sambil membeliak-beliak.
Akhirnya setelah 23 menit kami menegang bersama dan mencurahkan cairan masing-masing berleleran di dalam memeknya. Cairan miliknya sampai tumpah ruang merembes keluar memeknya, punyaku juga demikian saking tidak tertampungya semprotan maniku.
Kubiarkan kontolku masih terbenam sambil aku tetap menindihnya. Aku jilatin lagi leher dan pipinya sampai kontolku sudah lemas tak berdaya. Tanganku masih aktif bergerilya mengusapi buah kembarnya yang masih mengencang. Kujilat-jilat dan kuhisap-hisap. Keringat kami campur aduk membanjiri spreinya yang sudah agak kusam itu.
****
Sejak saat itu bila aku pulang dari bepergian maka aku mengunjungi Mrs. Karmin terlebih dahulu untuk bersetubuh di kamarnya baru masuk rumah setelah maniku terhambur ke memeknya yang mudah basah itu. Malah boleh dikata sudah tidak pernah lagi menggauli isteriku sendiri.
Suatu kali Mr. Karmin memergokinya ketika mau ambil rokok, namun aku cuek saja kepalang lagi hot, tapi dia mafhum saja. Toh ibaratnya kami seperti tukar pasangan. Pernah terbersit di kepalaku untuk melakukan sex party berempat. Tapi gagasan itu belum terlaksana, karena aku masih merasa risih kalau rame-rame begitu.
Tamat
Lihat Koleksi Bugil Lengkap..
Karena penerbangan yang kuambil adalah sore jam 6 dari Surabaya, maka masih sore pula sekitar jam 7.30 aku sudah mendarat dan lalu setengah jam kemudian dengan menggunakan jasa taksi aku sudah menginjakkan kaki di halaman rumahku di bilangan Slipi. Lalu lintas tidak macet karena ini hari Minggu.
Dari luar ruang tamu nampak terang disinari lampu, berarti isteriku ada di rumah. Di rumah kami tinggal 4 orang saja. Aku yang berusia 38, isteriku 31, pembantu laki-laki 52, dan pembantu wanita 44. Oh ya, setelah 9 tahun menikah kami belum dikarunia anak. Jadi semakin menjadi-jadilah diriku menghabiskan waktu mengurus bisnis karena belum ada urusan lain yang memerlukan perhatianku. Syukurlah selama ini bisnisku lancar-lancar saja demikian pula perkawinan kami.
Ketika hendak kupencet bel kuurungkan siapa tahu pintu tidak dikunci. Tadi gerbang depan dibukakan oleh pembantu wanitaku karena kebetulan dia pas lagi mau keluar untuk membuang sampah. Setelahnya dia kembali ke kamarnya yang terletak di samping kiri bangunan utama. Pembantu-pembantuku kubuatkan kamar di luar. Ukuran rumahku cukup besar dengan masih ditambah tanah yang lumayan luas yang kubuat menjadi taman hampir mengelilingi bangunan rumah kecuali sisi kiri karena kepotong kamar-kamar pembantu dan jalan samping. Dari gerbang depan ke pintu kira-kira mencapai 25 meter.
Benar, pintu tidak dikunci dan aku masuk dengan senyap demi membikin isteriku kaget. Aku suka sekali dengan permainan kaget-kagetan begini. Biasanya isteriku suka terpekik lalu menghambur ke pelukanku dan dibarengi dengan ciuman bertubi-tubi. Itulah santapan rohaniku. Dan itu sering terjadi karena aku sering bepergian dalam waktu lama pula, rekorku pernah sampai 3 bulan baru pulang. Pada awal perkawinan kami tidaklah demikian, namun 5 tahun belakangan ini yah begitulah. Dampaknya adalah kehidupan seks kami mulai menurun drastis frekuensinya maupun kualitasnya.
Kali ini aku menangkap suasana lain. Memang biasanya sebelum pulang aku memberitahukan isteriku bahwa dalam 2 sampai 5 hari bakal pulang. Sengaja kali ini aku tidak memberitahu agar lebih dahsyat pekikan-pekikan kangen isteriku itu. Di ruang tamu TV menyala agak keras. Lalu aku menuju dapur mengendap-endap siapa tahu isteriku di sana dan sekalian mau mengambil air putih. Tidak ada. Ah mungkin lagi tidur barangkali di kamar pikirku. Kuletakkan tas koperku di atas meja makan lalu aku mengambil sebotol air dingin di kulkas. Kuletakkan pantatku di atas kursi sambil minum. Kuambil sebatang rokok lalu kunyalakan. Ada sekitar 5 menit kunikmati asap-asap racun itu sebelum akhirnya kuputuskan untuk naik ke lantai 2 di mana kamar tidur kami berada.
Pelan-pelan kunaiki tangga. Pelan sekali kubuka pintu, namun hanya seukuran setengah kepala. Aku ingin mengintip kegiatan isteriku di kamar spesial kami. Apakah lagi lelap dengan pose yang aduhai. Ataukah lagi mematut diri di cermin. Ataukah lagi.. Upss!! Berdebar jantungku.
Dalam keremangan lampu kamar (kamar lampuku bisa disetel tingkat keterangannya sedemikian rupa) kulihat ada 2 manusia. Jelas salah satu sosoknya adalah isteriku, mana mungkin aku pangling. Dia lagi mengangkangi seseorang. Posisi kepalanya nampak seperti di sekitar kemaluan lawannya. Perasaanku mulai dilanda kekacauan. Sulit kudefinisikan. Marah. Kaget. Bingung. Bahkan penasaran. Apa yang sedang berlangsung di depan mataku ini? Kepala isteriku nampak naik turun dengan teratur dengan ditingkahi suara-suara lenguhan tertahan seorang pria yang menjemput kenikmatan seksual. Mungkin saking asiknya mereka berolah asmara terkuaknya pintu tidak mereka sadari.
Tiba-tiba perasaan aneh menjalari diriku. Darahku berdesir pelan dan makin kencang. Rasa penasaranku sudah mulai dicampuraduki dengan gairah kelelakianku yang membangkit. Ini lebih dahsyat ketimbang menonton film-film bokep terpanas sekalipun. Kesadaran diriku juga lenyap entah kemana bahwa yang di depan mataku adalah isteriku dengan pria yang pasti bukan diriku. Sekarang aku lebih ingin menyaksikan adegan ini sampai tuntas. Kontolku mulai mengejang. Posisi mereka mulai berbalik. Isteriku mengambil posisi di bawah sementara lawannya ganti di atasnya. Persis sama seperti tadi hanya saja sekarang kelihatannya memek isteriku yang dijadikan sasaran. Aku semakin ngaceng.
"Ohh.. Sshh..." suara desisan isteriku berulang-ulang.
Telaten sekali si pria (aku sudah menangkap sosok lawannya dengan jelas adalah pria) sehingga isteriku mulai bergerak meliuk-liuk dan menengadahkan kepalanya berkali-kali.
"Uuhh.. Eehhss.. Teruss jilatthh.. Pak Minnh.. Ahh.. Uffh..".
Plong rasa dadaku demi akhirnya menemukan identitas sang pelaku pria. Mr. Karmin pembantu priaku yang tua itu. Wah.. Wah.. Pantesan tadi aku agak mengenali sosoknya. Belum sempat aku banyak berpikir kesadaranku disedot kembali oleh suara-suara kesetanan isteriku dari hasil kerja persetubuhan itu.
"Yyaahh.. Teruss.. Teruss.. Aahh.. Tusukk.. Tuussuukkhin liidaahhmu Pak.. Yaahh beegittu.. Oohh.."
Semakin binal kepala isteriku tergolek sana sini. Nampaknya dia sudah berada di awang-awang kenikmatan. Aku juga semakin dilanda gairah sehingga tanpa sadar tanganku mulai meremas-remas burungku sendiri.
"Ahh..."
Ah isteriku akhirnya jebol juga. Aku tahu itu. Tapi nampaknya Pak Karmin masih meneruskan aktivitasnya. Sebentar kemudian kaki isteriku diangkatnya ke kedua bahunya yang bidang dan kekar itu (meskipun sudah tua tapi tubuh pembantuku masih gagah akibat pekerjaannya yang secara fisik membutuhkan kekuatan). Dimainkan jari-jarinya di liang memek isteriku. Lenguhan-lenguhan isteriku kembali terdengar. Semakin kencang kocokan jari Pak Karmin pada memek isteriku. Dengan menggelinjang mengangkat-ngangkat paha isteriku kembali dibuat mabuk kepayang. Akhirnya kulihat batang kemaluan Mr. Karmin sudah diarahkan ke lobang kemaluan isteriku. Busseett gede juga nih punya si tua bangka. Semakin menggelegak gairahku ketika membayangkan bagaimana memek isteriku akan dihujami oleh benda sebesar itu.
Bless. Masuk. Gleg ludahku tertelan.
"Oohh.. Eyaahh.. Eenaakk.. Paakk..".
Pelan-pelan dipompanya memek isteriku dengan godam si Mr. Karmin. Mulai menggila kembali goyangan pantat isteriku melayani rangsekan-rangsekan si batang besar itu.
"Geennjoott.. Yaahh.. Genjoott.. Oohh.. Ennakk Banngeett.. Oohh.."
Aku menyaksikkan tubuh isteriku terhentak-hentak naik turun akibat sodokan-sodokan yang bertenaga itu. Tangan Mr. Karmin tak tinggal diam menyenggamai buah dada isteriku yang telah menjulang tegak. Wuuhh gila, dahsyat sekali pemandangan yang kusaksikan ini. Setelah hampir 10 menit diangkatlah tubuh isteriku dan dibalikkannya menjadi posisi menungging.
Gaya anjing rupanya dikenal juga oleh Si Tua ini. Kembali liang memek isteriku dihunjam dari arah belakang. Konsistensi gerakan kontol yang maju mundur itu beserta lenguhan-lenguhan isteriku semakin mengobarkan hasratku.
"Ahh.. Aahh.. Ssooddooghh.. Kuaatt.. Kuat.. Paakkhh, oohh.. Giillaa.."
Pompaan Mr. Karmin semakin lama dibuat semakin bertenaga dan semakin cepat.
"Oo hh.. Yaa.. Beggiittuu.. Teruss.. Paakkhh.."
Kupikir bakalan selesai eh ternyata isteriku sekarang disuruh berdiri, Mr. Karmin menyetubuhinya sambil berdiri. Tanpa sadar aku menoleh ke lantai bawah ternyata si Pembantu Wanita memergokiku sedang mengintip. Karena jengah atau bagaimana Mrs. Karmin merona mukanya lalu menyingkir ke belakang dengan tergesa. Pembantuku adalah suami isteri.
"Yaahh.. Terruuss.. Mauuhh.. Keelluaarr.. Nihh Paakkh.."
"Aku sebentar laggii.. Juuggaa.. Ibbuu.."
"Baarrenng.. Yaahh.. Paakkh.. Ohh.. Ohh.. Yaahh.. Uuddaahh"
Sambil mengejang-ngejang keduanya melepas energi terakhir dan terbesar yang disertai ledakan kenikmatan luar biasa. Mr. Karmin akhirnya jebol juga pertahanannya. Begitu adegan selesai aku dengan perlahan sekali menutup pintunya. Kuturuni perlahan tangga menuju dapur kembali. Celanaku masih padat mnggembung tak terkira. Aku senewen ingin menuntaskan hasratku.
Ketika sampai dapur kulihat Mrs. Karmin sedang duduk termangu. Kami saling menatap dalam keadaan bingung dan resah. Kudekati dia ketika mulai terisak-isak meneteskan air mata, ingin kutenangkan hatinya. Mungkin kejadian tadi telah berulang kali berlangsung selama aku tidak di rumah.
"Sudah sering kejadianya Mbok?" tanyaku. Dia mengangguk.
"Maafkan isteriku yah"
Entah kenapa tiba-tiba mata kami bertatapan kembali. Selama ini dia tidak berani menatapku. Kali ini mungkin dia sedang kesepian dan masygul hatinya.
"Ayo ke kamarmu Mbok."
Hasratku masih tinggi dan harus dituntaskan. Kami saat ini sedang masuk dalam situasi kejiwaan yang membutuhkan pertolongan satu sama lain. Plus gairah buatku. Ketika sampai kamarnya yang agak sempit itu, kusuruh dia duduk di ranjang. Kupegang tangannya dan kuelus. Sosok wanita ini sebenarnya tidak terlalu buruk. Kulit terang meskipun tidak semulus isteriku tapi lumayan bersih. Tinggi sedang dan hebatnya perut tidak terlalu melambung. Tetek cukup besar setelah kusadari saat ini. Dia selalu memakai kebaya dan kain.
Kepalanya ditimpakan di dadaku. Meskipun dia lebih tua dari aku namun dalam kondisi begini dia memerlukan kekuatan dari dada laki-laki. Kubiarkan meskipun dibarengi aroma bumbu dapur. Tapi tidak terlalu menyengat. Rambutnya otomatis megenai hidungku. Bau minyak rambut Pomade menyergap hidungku. Kucium-kucium dan kuendus-kuendus. Kujalari menuju ke telinga. Diam saja. Ke lehernya. Malah terdengar ketawa kegelian. Mulai kuusap lengannya. Semakin erat dia mendesakkan tubuhnya ke diriku. Sambil mengusap lengan kanannya naik turun sengaja kurenggangkan jariku sehingga menyentuh tipis teteknya. Terus kuulang sampai akhirnya kepalanya mulai bergoyang. Lalu kuelus langsung teteknya. Gemas aku. Dia mulai mendesah. Kuremas-remas lembut. Mulai melenguh. Kubaringkan. Menurut saja. Kubuka bagian dada dari kebayanya. Memang besar miliknya. Kuning agak pucat warnanya. Kuhisap-hisap. Menegak-negak kepalanya.
"Ehhmm.. Eehhf.."
Kusingkap kainnya dan kuelus pahanya.
"Ehh.. Ehhshs.."
Kuselusupkan tanganku jauh menuju pangkal pahanya. Kuusap-usap gundukannya.
"Ehhss.. Ehhss.. Oohh..." tergolek kanan kiri kepalanya.
Kutindih dia dengan mengangkangkan kakinya. Mulai kuselusuri dari tetek sampai leher kanan kiri dengan lidahku.
"Oohh.. Paakk.. Oohh.."
Kurenggut bibirnya yang tebal dengan bibirku. Kumasukkan lidahku menjangkau lidahnya. Pada mulanya pasif. Lalu dia mulai mengerti dan kami saling beradu lidah dan ludah. Berkecipak suara kuluman kami. Kutekan-tekan bagian bawah diriku sehingga tonjolan burungku menggesek wilayah memeknya. Mengerinjal pantatnya.
"Esshh.. Ehhss.. Oohh..." desahnya berulang-ulang.
Kami berdiri untuk melepas baju masing-masing setelah kubisikkan keinginanku. Kuamati dari ujung rambut sampai kaki. Keteknya dibiarkan berbulu, ah sensasional sekali. Baru kali ini kulihat wanita membiarkan keteknya berbulu. Isteriku licin sekali. Jembut mememknya lebat sekali dan cenderung tidak rapi. Luar biasa. Karena hasratku yang sudah tinggi sejak tadi langsung kugumul
Dia dan menjatuhkannya di ranjang. Kujilati kembali mulai dari kening, leher, pipi, tetek, ketek (di sini aku berlama-lama karena penasaran sekali dengan rasa bulunya), perut dan memeknya. Kumainkan lidahku memutari labia mayoranya.
"Oohh.. Paakk.. Ohh.."
Dipegangi kepalaku dan ditekan-tekannya sesuai keinginannya. Kumasuki klitorisnya dengan lidahku. Aku tidak jijik kali ini. Hasratku yang menggila telah mengalahkan kebiasaanku selama ini.
"Esshh.. Ahhss.. Esshh.. Oohh.. Mmass.."
Dia memanggilku Mas berarti kesadarannya mulai kaca balau. Kuremas pantatnya sebelum akhirnya kujebloskan kontolku ke memeknya yang telah banjir bandang itu. Kupompa maju mundur tanpa tergesa. Yang penting bertenaga dan merangsek ke dalam. Menggeliat-geliat kayak cacing kepanasan si Mrs. Karmin ini. Semakin dikangkangkan pahanya. Kupegang ujung telapak kakinya sambil aku terus menyodokinya.
"Yaahh.. Teruss.. Yangg dalaam .. Masshh.. Ohh.. Ennaakk banngeetts.. Shh."
Kubaringkin miring lalu kulipat kaki kanannya ke depan dan kuhujami memeknya dari belakang. Kami bersetubuh dalam posisi berbaring miring (kebayangkan?). Kuubah posisi menjadi dog-style. Namun dia telungkup sehingga tingkat penetrasinya lebih maksimal. Benturan-benturan dengan pantatnya yang bulat membuatku gemas. Kugenjot sedalam-dalamnya memeknya yang rimbun itu.
"Yaahhss.. Ehhssh.. Oohhs..." begitu terus erangnya sambil membeliak-beliak.
Akhirnya setelah 23 menit kami menegang bersama dan mencurahkan cairan masing-masing berleleran di dalam memeknya. Cairan miliknya sampai tumpah ruang merembes keluar memeknya, punyaku juga demikian saking tidak tertampungya semprotan maniku.
Kubiarkan kontolku masih terbenam sambil aku tetap menindihnya. Aku jilatin lagi leher dan pipinya sampai kontolku sudah lemas tak berdaya. Tanganku masih aktif bergerilya mengusapi buah kembarnya yang masih mengencang. Kujilat-jilat dan kuhisap-hisap. Keringat kami campur aduk membanjiri spreinya yang sudah agak kusam itu.
****
Sejak saat itu bila aku pulang dari bepergian maka aku mengunjungi Mrs. Karmin terlebih dahulu untuk bersetubuh di kamarnya baru masuk rumah setelah maniku terhambur ke memeknya yang mudah basah itu. Malah boleh dikata sudah tidak pernah lagi menggauli isteriku sendiri.
Suatu kali Mr. Karmin memergokinya ketika mau ambil rokok, namun aku cuek saja kepalang lagi hot, tapi dia mafhum saja. Toh ibaratnya kami seperti tukar pasangan. Pernah terbersit di kepalaku untuk melakukan sex party berempat. Tapi gagasan itu belum terlaksana, karena aku masih merasa risih kalau rame-rame begitu.
Tamat
Lihat Koleksi Bugil Lengkap..
Pengalaman Pertama yang Indah
18.23, Posted by admin, No Comment
Hari Kamis kira2 pukul 22.00 kami masih di tengah perjalanan setelah mengunjungi beberapa obyek wisata, karena sudah sama-sama lelah akhirnya ketika tiba di sebuah kota kami memutuskan untuk check in. Sebenarnya kami sudah reservasi di kota lain yang jaraknya kira2 masih 1 jam lagi tapi berhubung sudah kelelahan akhrnya kami memutuskan malam ini tinggal di hotel ini dulu. Berhubung belum reservasi kami juga ngga terlalu yakin janga-jangan udah full tapi setelah sampai ke resepsionis yang menyambut kami dengan sangat ramah baru kami tahu kalo masih ada kamar-kamar yang kosong. Tanpa banyak kejadian malam itu berlalu begitu saja kami sama-sama kelelahan jadi langsung mandi dan tidur.
Keesokan paginya aku merasa segar setelah beristirahat jadi aku minta ijin suami untuk berenang di lokasi itu juga sementara suamiku memilih fitness. Setelah berenang beberapa lama kolam mulai ramai pengunjung meski tidak terlalu padat. Awalnya aku tidak terlalu memperhatikan satu per satu pengunjung lain, maklum tujuanku memang cuman mau berenang. Tapi waktu aku berhenti sejenak untuk beristirahat di tepi kolam aku lihat dua orang cowok yang menarik perhatianku. Setelah kuamati wajah mereka mirip2 meski nggak bener2 sama, jadi tebakanku mereka kakak-beradik atau setidaknya masih berhubungan darah. Usianya kira-kira 27-29 yah paling tua 30-lah tebakanku, wajah keduanya keliatan ramah, badannya atletis (tapi ngga terlalu berotot kayak binaragawan lho), kulitnya bersih terawat...pokoknya tipe2 yang bikin aku tertarik lah singkatnya.
Dengan sedikit nakal aku tetap duduk di tepi kolam sambil melihat mereka diam-diam sampai akhirnya timbul pikiran untuk berfantasi. Hasilnya luar biasa...ngga perlu waktu lama aku horny berat n miss V mulai basah...hi...hi... Seperti yang sebelumnya pernah aku ceritakan di posting sebelumnya kalo aku n suami tertarik swinger tapi belum berani mewujudkan. Hari itu entah kenapa (mungkin krn sdh horny berat J) akhirnya aku beranikan diri temui suami yang lagi fitness, kebetulan jarak antara kolam renang dan tempat fitness ngga terlalu jauh. Waktu aku ceritakan kejadian di kolam eh..suamiku malah tersenyum nakal. Trus dia tanya: “kalo memang tertarik ya coba aja..” Aku ngga yakin dia serius ato menggoda setelah aku tanyakan lagi dia bilang intinya terserah aku yang penting jangan sampai nyesel n dia boleh gabung atau nonton. Berhubung aku udah terangsang berat akhirnya aku kembali ke kolam renang.
Kali ini niatku bukan renang lagi J aku mulai melepas handuk yang tadi aku pakai untuk menutup badanku n aku kembali berenang. Aku sengaja berenang di area yang berdekatan dengan kedua cowok tadi. Setelah beberapa saat mereka mulai menyadari kehadiranku, beberapa kali kulihat dari sudut mata mereka memperhatikan aku. Akhirnya kuberanikan diri untuk bertatapan mata dengan salah satunya (waktu itu yang satunya lagi lagi berenang). Waktu pandangan kami bertemu dia tersenyum dan kubalas juga dengan senyum. Akhirnya dia mendekati aku dan berkenalan namanya sebut saja M dan benar dugaanku yang satu lagi namanya H dan keduanya memang kakak beradik. Sama seperti aku mereka bukan orang asli kota itu tapi hanya sekedar berlibur. Kami mulai akrab karena mereka sama-sama ramah dan easy going akhirnya sama-sama lupa berenang tapi justru asyiki ngobrol. Obrolan mereka mulai sedikit “nakal” tapi ngga murahan...bener-bener cowok yang bikin aku on. Aku pengen mulai menganggapi tapi masih deg-degan (maklum biasanya cuma godain cowok di forum DS, e-mail ato YM hi..hi..). Setelah semakin akrab aku mulai mencoba ke tingkat berikutnya J . Aku berpura-pura berenang sedikit trus langsung brenti sambil pura-pura kram kaki (emang cuma cowok yang bisa nge-gombal he..he..). Mereka langsung bereaksi n menawarkan mijit kakiku...sambil masih berdebar-debar dan sedikit keringat dingin aku mengijinkan mereka. Akhirnya si H mulai memijit kaki ku... setelah beberapa saat aku menyadari dia mulai mengagumi kaki dan pahaku yang waktu itu memang terllihat karena pake pakaian renang. M yang cuman duduk pun beberapa kali ketangkap matanya juga mencuri-curi pandang. “Gimana udah enakan?” tanya H. “Yah udah lebih baik tapi kalo mau dipijitin terus juga boleh kok” kataku sambil tertawa. Mereka pun juga tertawa tapi H tetep ngga berhenti mijitin kakiku. Waktu itu posisinya aku di duduk tepi kolam sementara kakiku masih di air sedang M dan H tetap berdiri di dalam air. Pijitan H lama-kelamaan terasa beda, remasannya kali ini mulai sedikit nakal jadi aku mulai horny lagi...semakin lama rasanya semakin ngga ketahan sementara M kayaknya masih canggung dan mencari celah untuk menyentuh aku. Aku membuka pembicaraan dengan M memuji badannya yang atletis, trus...aku sentuh dadanya yang bidang dengan jari ku sedikit mendorong...”Wah keras ya dadamu...”. Dia keliatan terkejut (tapi menikmati dong pastinya).....
------sebenarnya kejadiannya masih panjang tapi capek tulisnya jadi disingkat aja ya J-----------------
Singkat cerita akhirnya kami menuju ke kamarku dan kami mandi bersama di shower. Bener-bener luar biasa pengalaman pertamaku mandi sama cowok lain selain suamiku dan langsung dua orang...... Selama mandi kami saling menyentuh dan meremas, pokoknya saling memberi n menerima rangsangan. Setelah itu kami sama-sama menuju ke ranjang. Pintu kamar sengaja ngga aku kunci biar suami bisa masuk sewaktu-waktu.
M dan H mulai menjilati dan menciumi kakiku, meremas-remas pahaku sesekali bergantian mencium bibirku. Amazing...!!! Wow....!!! (jadi horny lagi nih inget kejadiannya). Setelah puas menikmati bagian depan tubuhku mereka menyuruhku membalikkan tubuh, kini punggung, tengkuk dan pantat-ku bergantian dicium dan dijilat kedua cowok seksi ini. Akhirnya aku bener-bener terangsang aku balikin badan dan menarik H (dia yang lebih dekat posisinya saat itu) dan mulai kujilat dada, puting dan perutnya yang seksi sementara M meremas-remas dadaku dari belakang. Sementara kami lagi asyik tiba-tiba suamiku masuk kamar dan langsung mengunci pintu. M dan H tampak terkejut dan bengong. Aku yang masih horny berat cuma bilang “itu suamiku” trus aku terusin mencium dada H. Meski keliatan canggung dan bingung H melanjutkan permainannya sementara M yang agak lama baru bereaksi kembali menciumi punggung ku. Seklias kulihat suamiku duduk di sofa yang jaraknya ngga terlalu jauh dari ranjang sambil menikmati permainan kami.
Satelah aku semakin terangsang aku minta mereka masukkin P-nya ke V-ku tapi sebelumnya aku suruh mereka pake kondom (untung aku dan suami memang selalu sedia he...he...), jujur aja saat ini aku ngga terlalu perduli siapa yang mau masukin. Waktu itu yang kutahu ada satu P di dalamku dan yang lain kumasukkan ke dalam mulutku.
----aduh sori capek bener ceritanya---------
Intinya setelah aku O beberapa kali (ngga keinget pastinya) H dan M bergantian (ngga inget juga siapa duluan) akhirnya menumpahkan spermanya masing-masing di perut dan pantatku. Terus mereka masukkin lagi beberapa kali ke V-ku bergantian. Akhirnya kami menuju kamar mandi. Selesai mandi ternyata suamiku sudah ngga ada di dalam kamar. Mereka berdua berpamitan. Setelah keduanya keluar dari kamar aku telp Hp suamiku ngga lama kemudian dia sudah kembali ke kamar. Katanya canggung kalo harus bicara sama mereka berdua jadi mendingan ngga ketemu. Siang itu akhirnya kami memutuskan chek-out cepat-cepat dan menuju ke hotel di kota lain yang sudah kami pesan sebelumnya karena baik aku maupun suami sama-sama malu kalau bertemu sama mereka he..he.. maklum baru pengalaman pertama jadi masih canggung.
Yang jelas hari itu kami (aku dan suami) sama-sama menikmati kejadian siang itu beberapa kali kami membahas di jalan sambil tertawa. Akhirnya setelah sampai di Hotel yang kami tuju kami langsung bercinta meski belum sempat makan siang dan berlangsung cukup lama. Berkali-kali dia bilang kalo aku bener-bener seksi....(jadi malu nih dengernya..)
Lihat Koleksi Bugil Lengkap..
Keesokan paginya aku merasa segar setelah beristirahat jadi aku minta ijin suami untuk berenang di lokasi itu juga sementara suamiku memilih fitness. Setelah berenang beberapa lama kolam mulai ramai pengunjung meski tidak terlalu padat. Awalnya aku tidak terlalu memperhatikan satu per satu pengunjung lain, maklum tujuanku memang cuman mau berenang. Tapi waktu aku berhenti sejenak untuk beristirahat di tepi kolam aku lihat dua orang cowok yang menarik perhatianku. Setelah kuamati wajah mereka mirip2 meski nggak bener2 sama, jadi tebakanku mereka kakak-beradik atau setidaknya masih berhubungan darah. Usianya kira-kira 27-29 yah paling tua 30-lah tebakanku, wajah keduanya keliatan ramah, badannya atletis (tapi ngga terlalu berotot kayak binaragawan lho), kulitnya bersih terawat...pokoknya tipe2 yang bikin aku tertarik lah singkatnya.
Dengan sedikit nakal aku tetap duduk di tepi kolam sambil melihat mereka diam-diam sampai akhirnya timbul pikiran untuk berfantasi. Hasilnya luar biasa...ngga perlu waktu lama aku horny berat n miss V mulai basah...hi...hi... Seperti yang sebelumnya pernah aku ceritakan di posting sebelumnya kalo aku n suami tertarik swinger tapi belum berani mewujudkan. Hari itu entah kenapa (mungkin krn sdh horny berat J) akhirnya aku beranikan diri temui suami yang lagi fitness, kebetulan jarak antara kolam renang dan tempat fitness ngga terlalu jauh. Waktu aku ceritakan kejadian di kolam eh..suamiku malah tersenyum nakal. Trus dia tanya: “kalo memang tertarik ya coba aja..” Aku ngga yakin dia serius ato menggoda setelah aku tanyakan lagi dia bilang intinya terserah aku yang penting jangan sampai nyesel n dia boleh gabung atau nonton. Berhubung aku udah terangsang berat akhirnya aku kembali ke kolam renang.
Kali ini niatku bukan renang lagi J aku mulai melepas handuk yang tadi aku pakai untuk menutup badanku n aku kembali berenang. Aku sengaja berenang di area yang berdekatan dengan kedua cowok tadi. Setelah beberapa saat mereka mulai menyadari kehadiranku, beberapa kali kulihat dari sudut mata mereka memperhatikan aku. Akhirnya kuberanikan diri untuk bertatapan mata dengan salah satunya (waktu itu yang satunya lagi lagi berenang). Waktu pandangan kami bertemu dia tersenyum dan kubalas juga dengan senyum. Akhirnya dia mendekati aku dan berkenalan namanya sebut saja M dan benar dugaanku yang satu lagi namanya H dan keduanya memang kakak beradik. Sama seperti aku mereka bukan orang asli kota itu tapi hanya sekedar berlibur. Kami mulai akrab karena mereka sama-sama ramah dan easy going akhirnya sama-sama lupa berenang tapi justru asyiki ngobrol. Obrolan mereka mulai sedikit “nakal” tapi ngga murahan...bener-bener cowok yang bikin aku on. Aku pengen mulai menganggapi tapi masih deg-degan (maklum biasanya cuma godain cowok di forum DS, e-mail ato YM hi..hi..). Setelah semakin akrab aku mulai mencoba ke tingkat berikutnya J . Aku berpura-pura berenang sedikit trus langsung brenti sambil pura-pura kram kaki (emang cuma cowok yang bisa nge-gombal he..he..). Mereka langsung bereaksi n menawarkan mijit kakiku...sambil masih berdebar-debar dan sedikit keringat dingin aku mengijinkan mereka. Akhirnya si H mulai memijit kaki ku... setelah beberapa saat aku menyadari dia mulai mengagumi kaki dan pahaku yang waktu itu memang terllihat karena pake pakaian renang. M yang cuman duduk pun beberapa kali ketangkap matanya juga mencuri-curi pandang. “Gimana udah enakan?” tanya H. “Yah udah lebih baik tapi kalo mau dipijitin terus juga boleh kok” kataku sambil tertawa. Mereka pun juga tertawa tapi H tetep ngga berhenti mijitin kakiku. Waktu itu posisinya aku di duduk tepi kolam sementara kakiku masih di air sedang M dan H tetap berdiri di dalam air. Pijitan H lama-kelamaan terasa beda, remasannya kali ini mulai sedikit nakal jadi aku mulai horny lagi...semakin lama rasanya semakin ngga ketahan sementara M kayaknya masih canggung dan mencari celah untuk menyentuh aku. Aku membuka pembicaraan dengan M memuji badannya yang atletis, trus...aku sentuh dadanya yang bidang dengan jari ku sedikit mendorong...”Wah keras ya dadamu...”. Dia keliatan terkejut (tapi menikmati dong pastinya).....
------sebenarnya kejadiannya masih panjang tapi capek tulisnya jadi disingkat aja ya J-----------------
Singkat cerita akhirnya kami menuju ke kamarku dan kami mandi bersama di shower. Bener-bener luar biasa pengalaman pertamaku mandi sama cowok lain selain suamiku dan langsung dua orang...... Selama mandi kami saling menyentuh dan meremas, pokoknya saling memberi n menerima rangsangan. Setelah itu kami sama-sama menuju ke ranjang. Pintu kamar sengaja ngga aku kunci biar suami bisa masuk sewaktu-waktu.
M dan H mulai menjilati dan menciumi kakiku, meremas-remas pahaku sesekali bergantian mencium bibirku. Amazing...!!! Wow....!!! (jadi horny lagi nih inget kejadiannya). Setelah puas menikmati bagian depan tubuhku mereka menyuruhku membalikkan tubuh, kini punggung, tengkuk dan pantat-ku bergantian dicium dan dijilat kedua cowok seksi ini. Akhirnya aku bener-bener terangsang aku balikin badan dan menarik H (dia yang lebih dekat posisinya saat itu) dan mulai kujilat dada, puting dan perutnya yang seksi sementara M meremas-remas dadaku dari belakang. Sementara kami lagi asyik tiba-tiba suamiku masuk kamar dan langsung mengunci pintu. M dan H tampak terkejut dan bengong. Aku yang masih horny berat cuma bilang “itu suamiku” trus aku terusin mencium dada H. Meski keliatan canggung dan bingung H melanjutkan permainannya sementara M yang agak lama baru bereaksi kembali menciumi punggung ku. Seklias kulihat suamiku duduk di sofa yang jaraknya ngga terlalu jauh dari ranjang sambil menikmati permainan kami.
Satelah aku semakin terangsang aku minta mereka masukkin P-nya ke V-ku tapi sebelumnya aku suruh mereka pake kondom (untung aku dan suami memang selalu sedia he...he...), jujur aja saat ini aku ngga terlalu perduli siapa yang mau masukin. Waktu itu yang kutahu ada satu P di dalamku dan yang lain kumasukkan ke dalam mulutku.
----aduh sori capek bener ceritanya---------
Intinya setelah aku O beberapa kali (ngga keinget pastinya) H dan M bergantian (ngga inget juga siapa duluan) akhirnya menumpahkan spermanya masing-masing di perut dan pantatku. Terus mereka masukkin lagi beberapa kali ke V-ku bergantian. Akhirnya kami menuju kamar mandi. Selesai mandi ternyata suamiku sudah ngga ada di dalam kamar. Mereka berdua berpamitan. Setelah keduanya keluar dari kamar aku telp Hp suamiku ngga lama kemudian dia sudah kembali ke kamar. Katanya canggung kalo harus bicara sama mereka berdua jadi mendingan ngga ketemu. Siang itu akhirnya kami memutuskan chek-out cepat-cepat dan menuju ke hotel di kota lain yang sudah kami pesan sebelumnya karena baik aku maupun suami sama-sama malu kalau bertemu sama mereka he..he.. maklum baru pengalaman pertama jadi masih canggung.
Yang jelas hari itu kami (aku dan suami) sama-sama menikmati kejadian siang itu beberapa kali kami membahas di jalan sambil tertawa. Akhirnya setelah sampai di Hotel yang kami tuju kami langsung bercinta meski belum sempat makan siang dan berlangsung cukup lama. Berkali-kali dia bilang kalo aku bener-bener seksi....(jadi malu nih dengernya..)
Lihat Koleksi Bugil Lengkap..