Aku tidak menyangka bahwa kota yang kecil seperti “M” di Jawa Timur ini bisa membuatku mengenal banyak wanita dan mereka semua rata-rata sudah mapan dan berkeluarga. Kejadiannya mulanya juga tidak kuduga. Pertama kali aku mengikuti senam pada sebuah sanggar senam yang cukup terkenal dan pada awalnya setelah selesai senam aku langsung tancap gas dan pulang.
Suatu ketika pada waktu senam usai aku merasa lapar, kusempatkan sebentar mampir di kantin depan untuk minum, di sana kulihat banyak sekali wanita dengan riang dan tertawa lepas. Sambil minum aku merasa ada sepasang mata melihatku dengan serius dan kucoba menoleh dan dia tersenyum. Kutaksir umurnya 32 tahun tetapi badannya masih sip. Kubuang pandang mataku menjauhi untuk menghindari tatapan matanya tapi tak lama kemudian aku dibuat terkejut oleh suaranya yang sudah berada di dekatku.
“Sendirian ya, boleh aku duduk disini?”, pintanya sambil meletakkan pantatnya di kursi depanku, sehingga dia sekarang jelas berada di hadapanku.
Dia memperkenalkan diri dengan nama Diana dan aku menyambut dengan memperkenalkan namaku Ade. Saat dia ngobrol kuperhatikan bodynya cukup bagus, dadanya kutaksir nomor 32 B kecil namun padat, pinggangnya ramping. Perkenalan awal ini akhirnya aku dan Diana menjadi lebih akrab. Suatu ketika saat aku pulang senam kulihat Diana sendiri, dengan baik hati aku menawarkan dia untuk aku antar ketujuannya dan dia tidak menolak.
Di dalam mobil sesekali mataku mencuri pandang ke arah dadanya, kali ini Diana memakai kaos dengan leher rendah dan ketat sehingga nampak jelas garis BH-nya. Tanpa terasa dia juga melihat ekor mataku.
“Hayo De,.. kamu lihat apa barusan.., Kalo nyetir yang bagus dong jangan lihat samping ntar kalo nabrak bagaimana”, tanyanya pura-pura marah.
“Ah.., Nggak ada cuman lihat aja kok”, jawabku bingung sambil menggaruk kepala yang tidak gatal tanda aku manyun.
“Ah.., Sudahlah,.. toh sama juga khan dengan punya istrimu dirumah”, timpalnya sambil tersenyum.
Aku jadi salah tingkah saat pertama kali berkenalan kami memang sama-sama mengaku jujur tentang kondisi masing-masing. Kendaraan memasuki halaman yang cukup luas dengan taman yang cukup bagus.
“Masuk dulu De,.. aku ada perlu pengin cerita-cerita ama kamu”, pintanya.
Tanpa persetujuan lagi aku memasuki ruang tamunya. Tak lama kemudian Diana keluar dengan memakai rok mini dan kaos tanpa lengan. Pandanganku jadi kacau melihatnya, dari sela ketiaknya kulihat jelas BH nya hitam dengan daging yang menyembul indah.
“Lho.., kok sepi nih, mana keluargamu yang lain..”, tanyaku menyelidik.
“Anakku masih sekolah sedangkan suamiku sudah 4 hari ini tidak pulang, biasa bisnis”, jawabnya.
Sambil kulihat tangannya mengutak-atik remote televisi.
“Nah terus kegiatanmu apa kalo lagi sepi begini..”, tanyaku lagi.
Sambil sesekali mataku kuarakhan pada pahanya yang mulus terlihat dibalik rok mininya.
“Yach biasanya sih abis senam aku kumpul-kumpul ama beberapa ibu-ibu dan dilanjutkan dengan santai-santai, belanja atau putar video.., e.., e.., Yah tahu sendirilah..”, senyumnya menggoda.
Gaya duduk Diana berubah ubah sehingga aku semakin bebas mengarahkan mataku pada pahanya yang terkadang menyembul banyak di sela rok mininya. Timbul niat isengku untuk menggodanya lebih jauh.
“Video apaan sih..”, tanyaku pura-pura bodoh.
Lama Diana terdiam dan akhirnya dia mengarahkan tangannya pada televisi dan tak lama kulihat adegan yang cukup mendebarkan yaitu seorang lelaki hitam dengan penis yang lumayan besar sedang dikulum oleh perempuan kulit putih. Kontras sekali nampaknya, aku terkejut sambil memandang Diana, dia tersenyum aku jadi salah tingkah. Akhirnya televisinya dimatikan.
“Yah itulah yang sering kami tonton bersama De.., Kami puas setelah menonton terus rumpi sama-sama, kebetulan hari ini mereka ada acara dan aku tidak sehingga aku sendirian saat ini”, ceritanya pasrah.
“Nonton aja apa enaknya?”, tanyaku menggoda padahal penisku sendiri sudah mulai tegak berdiri.
“Mending aku bantuin lho kalo begini”, pintaku sambil senyum
“Ah.., De paling-paling kamu juga takut.., cuman omong aja.., Mancing ya..”, dia menimpali.
Aku merasa tertantang dengan perkataannya.
“Nggak kok, bener deh coba aja nyalain televisinya..”
“Terus ngapain, berani beneran kamu”, tantangnya tak kalah ngotot.
“He em.., Lihat aja.., aku udah tadi kok geregetan lihat kamu”, balasku menantang.
Kulihat wajahnya memerah dan tanpa menunggu waktu lagi tangan Diana memijit tombol remote dan kulihat kembali bagaimana ganasnya cewek menghisap kemaluan si cowok. Diana menggeser duduknya mendekatiku.
“De terus terang aku sama teman-teman sudah lama memperhatikan dirimu”, bisiknya.
Belum sempat dia meneruskan aku sudah menyorongkan mulutku padanya, diluar dugaan dia langsung membalas dengan ganas dan buas. Hampir aku tidak bisa bernafas dan dengan sigap tanganku menjelajah seluruh tubuhnya. Tiba pada gumpalan daging yang mulai tadi kulirik kini sudah berada di genggamanku. Dengan lembut kuelus dan kuremas, Diana menggelinjang. Karena kursi yang kududuki sempit aku mencoba menggeser Diana pada tempat yang lebih lapang yaitu di karpet bawah. Dengan perlahan tanganku mulai masuk pada gading susunya lewat celah ketiaknya. Kenyal sekali, kuucek terus sampai kurasakan pentil Diana mulai mengeras sementara mulutku masih dikuasai oleh lidahnya yang panas.
Kutarik mulutku dan kuangkat kaos Diana lewat kepalanya sehingga kini Diana tinggal hanya BH dan rok mininya. Aku melihat tak berkedip betapa besar dan indahnya susu Diana walaupun sudah beranak tiga. Dengan cepat kutarik susu itu keluar dari Bhnya. Perlahan mulutku mendarat mulus pada lingkaran coklat kehitaman ditengah susunya. Kuhisap pentil Diana yang mengeras dan besar. Dia mengerang tak karuan. Kuteruskan sambil tanganku mengusap seluruh tubuhnya. Aku menindih Diana perlahan, kurasakan penisku yang mulai membesar menatap perut Diana dan Diana menarik diri keatas sehingga penisku mengarah tepat diselangkangannya. Tangan kiriku memeluk lehernya mulutku kearah susu kiri dan kanan sementara tangan kananku menjelajah tubuhnya. Kini tangan kiriku berpindah disusunya dan mulutku menciumi perut dan pusarnya sementara tangan kananku kini pada tempat yang tadi ditindih penisku yaitu memeknya. Diana terkejut dan “Enngh.., zz..”, dan suara itu tak beda dengan suara televisi yang kulirik semakin hot saja, tanganku tambah berani saja, kusibakkan rok mininya dan kuelus memeknya.
Tanganku tak sabar dengan cepat kumasukkan tanganku pada CD nya dan kurasakan betapa lebat rambut memeknya. Basah dan becak semakin terasa saat lubang memeknya tersentuk jari tengahku. Kuucek perlahan Diana semakin tak karuan tingkahnya dan jariku yang lain mempermainkan klentitnya. Aku tak bebas kutarik semua yang melekat didaerah pahanya yaitu rok dan CDnya, Diana hanya terpejam merasakan seluruh gerakanku. Kuperhatikan sekarang seorang perempuan telanjang bulat dengan susu yang besar serta rambut kemaluan lebat dan klentit yang cukup panjang keluar agak kaku. Tanganku terus mengucek lubang kemaluan Diana dan kudengar lenguhan tak karuan saat dua jariku masuk ke lubangnya.
Aku terkejut tiba-tiba Diana bangun dan menarik tanganku menjauh dari lubang kemaluannya.., dengan mendesah Diana menarik kancing bajuku dan menurunkan retsleting celanaku hingga terlepas dan kini aku tinggal memakai CD saja. Diana menelusuri tubuhku dengan mulut mungilnya. Kini aku yang merasakan gejolak nafsu yang luar biasa, kurasakan tangan Diana mengelus penisku dari luar CD-ku.
Mulut Diana semakin tak karuan arahnya leher, dada, pinggangku digigit kecil dan perutku juga tak luput dari ciumannya aku didorong sehingga posisku terlentang saat ini, tanganku hanya bisa menggapai kepala Diana yang kini berada diperutku. Kurasakan tangan mungil mulai meremas-remas keras penisku dan penisku semakin kaku saja. Kuperhatikan wajah Diana terkejut saat tanganya mulai masuk CD dan memegang penisku. Cepat-cepat disibaknya semua penghalang penisku dan kini dia nampak jelas bagaimana penisku meradang. Kepala penisku memerah dan tangan Diana tak sanggup menutup semua bagian penisku. Diremas-remas dengan gemas penisku dan memandangku mesra. Aku mengikuti matanya dan mengangguk. Diana mengerti anggukanku dan dengan perlahan mulut Diana disorongkan pada kepala penisku. Aku merasa hangat saat mulut kecil itu mendarat di penisku. Diana mulai menggila dengan menghisap dan menjilat seluruh bagian penisku. Aku merasakan penisku berdenyut keras menahan hisapan kuat mulut Diana. Diana semakin menjadi mendengar eranganku, seluruh tubuhku terasa melayang merasakan panasnya lidah yang menjilat dan mulut mungil yang menghisap, dan kuperhatikan kepala Diana naik turun dengan mulut penuh.
Tangan Diana juga tidak tinggal diam kuperhatikan tangan kirinya sibuk meggosok memeknya sendiri dan tangan kanannya memegang penisku dan mengocoknya sementara mulutnya tetap aktif menghisap dan terus menghisap.
Diana kini mulai menjauhkan mulutnya pada penisku dan tak seberapa lama dia duduk sambil menuntun penisku diarahkan pada memeknya, rupanya Diana juga tidak sabar ini terbukti dengan dipaksakan dengan keras memeknya untuk tertusuk penisku dan kurasakan penisku hangat saat menembus lubang memek Diana. Kusaksikan wajah Diana meringis menahan laju penisku di memeknya, dia tidak bergerak menyesuakan diri dengan penisku. Aku merasakan penisku berdenyut seperti dipijat, Diana perlahan mulai menggoyangkan pantatnya naik turun sambil rambutnya tergerai dan kulihat susu Diana bergerak dan brgoyang indah, cepat-cepat kuremas dan kuusap-usap susu besar itu dan tak seberapa lama kusaksikan Diana mengejang dengan memelukku erat dan kurasakan ada kuku yang menancap di punggungku.
“Ssstt, eennghh.., Aku nggak tahan De..”, lenguhnya.
Aku menjadi giat menggoyang penisku menusuk-nusuk memeknya yang semakin basah, suara kecipak memek Diana saat kutusuk membuatku semakin bergairah dan.., aku memegang pinggang Diana untuk mengarahkan semua penisku pada lubangnya, aku mulai merasakan penisku panas dan mau keluar.
“Diana.., aku mulai nggak tahan nih.., mau keluar.., ahh”, sambil terus kugoyang pantatku berputar dan meremas pinggulnya yang berisi.
Diana semakin menjadi dan bersamaan dengan keluarnya spermaku aku merasakan ketegangan yang luar biasa bahkan lebih hebat dari yang tadi, kaki Diana kaku dan melingakar pada kakiku dan erangannya semakin keras dan binal. Pagutan tangannya kurasakan sampai aku hampir tak bernafas.., Kami berdua puas dan sama-sama kelelahan.
Sejak saat itu sampai sekarang aku masih sering melakukan hubungan sex dengan Diana, bahkan secara sembunyi-sembunyi aku sempat merasakan memek lain milik sahabat Diana, karena Diana pernah berkata bahwa dia tidak suka melihat aku melayani teman-temannya, dan bahkan ada beberapa ibu-ibu yang tetap jadi tumpuan penisku. Bahkan berkat informasi dari mereka-mereka kini aku biasa melakukan hubungan sex dengan mereka yang kesepian. Aku minta maaf, jika Diana sempat membaca ini, bukan maksudku untuk membuka rahasia, tapi aku ingin membagi cerita dengan yang lain. Untuk pembaca nanti akan kutulis lagi pengalamanku dengan sahabat Diana.
Tamat
Lihat Koleksi Bugil Lengkap..
Tampilkan postingan dengan label Tante Girang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tante Girang. Tampilkan semua postingan
Play Station Plus
22.10, Posted by admin, No Comment
Aku bernama dan sekarang tinggal di sebuah kompleks perumahan yang lumayan terkenal di bilangan Jakarta Selatan karena banyak orang asing yang tinggal di sana. Hobbiku adalah bermain Play Station dan karena hobbiku ini aku dapat bercinta dengan sesama Play Station fans.
Mungkin para pembaca akan mengira bahwa hanya cowok yang bermain Play Station. Aku berani menyebutkan bahwa cewek juga gemar bermain Play Station karena aku mengenal seorang gadis penunggu arena permainan Play Station di dekat rumahku yang gemar sekali bermain Play Station. Setiap kali aku datang ke tokonya, dia selalu memainkan game favoritnya yang berjudul Final Fantasy 8.
Karena aku sering datang bermain di rumahnya yang sekaligus menjadi tokonya, aku mengenal dia lebih akrab. Dia adalah Melly, salah seorang mahasiswa dari sebuah PTS di Jakarta Barat. Aku sering datang bermain Play Station di rumahnya ketika dia tidak membuka tokonya sehingga aku tidak mendapat gangguan dari konsumennya yang biasanya tergolong anak-anak kampung yang tinggal di sekitar daerah tersebut.
Aku dan Cik Melly sudah akrab meskipun dia lebih tua dariku setahun. Cik Melly bahkan sering menceritakan kisah pribadinya di mana dia ditinggal oleh Irwan, kekasihnya karena Irwan menikah dengan cewek lain dan yang lebih gilanya, Irwan telah mengambil perawan Cik Melly dengan paksa dan mencampakkannya begitu saja.
Suatu ketika, aku datang ke rumahnya ketika dia telah menutup tokonya karena hari sudah sore dan aku melihat dia sedang asyik memencet-mencet joystick sambil berteriak-teriak kesal setiap kali karakter jagoannya kena tembakan dari musuhnya. Aku memanggil namanya dari belakang yang membuatnya kaget dan berteriak histeris. Aku cuma tersenyum ketika dia marah-marah karena permainannya telah berakhir dalam sekejap akibat gangguanku saat itu.
Melly kemudian menyuruhku untuk tidak menganggunya karena dia sedang serius untuk menamatkan game Final Fantasy 8 tersebut. Aku hanya duduk di lantai di dekat TV sambil memperhatikan TV dan gerakan-gerakan tangannya yang memencet joystick dengan lihainya. Lama-lama aku menjadi bosan karena melihat dia asyik bermain dan aku mencoba menganggunya dengan cara yang lain.
Aku mendekati dia yang sedang bermain dan aku duduk tepat di depan selangkangannya karena dia duduk di kursi sementara aku berada di bawah kursi. Aku memperhatikan celana dalam warna merah mudanya yang tertutup oleh roknya yang sangat mini. Aku mendadak menjadi terangsang dan mencoba memberikan sesuatu yang belum pernah dia rasakan. Dengan lihainya, aku memasukkan tanganku dan jari-jariku bermain di sekitar kemaluannya yang masih tertutup oleh celana dalamnya. Gerakan-gerakan jari-jariku memberikan respon yang sangat kuharapkan karena aku dapat merasakan basahnya liang kenikmatannya karena gerakan jari-jariku. Cik Melly mendesah kenikmatan sambil terus memencet joystick-nya dan karena dia tidak konsentrasi, dia akhirnya mematikan Power Play Station dan mendekatiku yang sedang duduk di depan selangkangannya.
“Joe, kamu nakal yah sama Cik Melly, sekarang Cicik mesti membalas kamuâ€, dia berkata sambil menunjukkan telunjuknya ke arahku. Aku hanya tersenyum saja dan dia tiba-tiba menciumku yang masih berada di bawah kursi di mana dia barusan duduk. Aku kaget bercampur senang dan tanpa membuang kesempatan, aku langsung menelanjanginya di dekat TV karena aku juga sudah terangsang memperhatikan dia sewaktu dia bermain Play Station barusan.
Aku mencium bibir Cik Melly dan Cik Melly juga memainkan lidahnya di dalam mulutku, sementara tanganku secara refleks bermain-main di daerah selangkangannya yang membuat nafasnya semakin memburu dan aku tahu bahwa dia menuntut lebih dari sekedar cumbuan. Aku kemudian berpindah posisi karena sekarang wajahku mendekati liang kewanitaannya dan mulai menjilatinya dengan liar sementara tanganku mulai memencet puting payudaranya dan seakan-akan aku sedang memainkan “tuts joystick†milik Cik Melly. Cik Melly menjawabnya dengan desahan-desahan kecil sehingga membuat batang kemaluanku semakin menegang dan aku semakin ingin merasakan nikmatnya liang kewanitaan seorang “Play Station†girl.
Dengan nafsu dan tanpa aba-aba dari Cik Melly, aku memasukkan batang kemaluanku yang telah menegang ke dalam liang kenikmatannya sehingga matanya yang sipit menjadi besar dari biasanya dan dia menggigit bibirnya seakan-akan sedang menahan sesuatu yang nikmat bercampur sakit karena batang kemaluanku yang termasuk besar di saat aku sedang terangsang. Aku terus menggenjot tubuh Cik Melly karena aku sangat menyukai jepitan-jepitan liang kewanitaan tubuh cewek penggemar Play Station ini. Aku merasakan nikmat sekali dan tak berapa lama, Cik Melly bergetar hebat dan melenguh dengan hebatnya dan di saat yang bersamaan, aku dapat merasakan batang kemaluanku dibanjiri oleh cairan kenikmatan Cik Melly dan tentunya aku merasakan nikmatnya cairan Cik Melly dan aku langsung mencium bibirnya yang ranum.
Aku masih belum puas dan Cik Melly nampaknya sudah kelelahan. Aku kemudian mencoba ide yang aneh di saat Cik Melly sedang kecapaian. Aku memang pernah praktikum Fisika Listrik sewaktu di SMP sehingga aku memiliki cukup pengetahuan mengenai listrik dan alirannya. Dengan ide tersebut, aku memasang kembali power plug dari Play Station yang baru saja dia matikan dan aku mencabut kabel main power dari Play Station tersebut. Dengan sedikit keahlianku di bidang listrik, aku berhasil meredam kekuatan listriknya sehingga main power yang bisa menyetrum orang sekarang menjadi tidak bahaya lagi. Kemudian, aku mendekatkan kabel tersebut ke liang kewanitaan Cik Melly. Aku melihat adanya percikan-percikan listrik yang kecil kekuatannya akibat tercampurnya kabel main power tersebut dengan cairan kewanitaan dari Cik Melly.
Setruman-setruman kecil di dalam tubuh Cik Melly membuat Cik Melly menjadi mendesah dan kadang-kadang bercampur dengan lenguhan yang terdengar erotik. Aku menyukai permainan ini dan aku semakin mencoba membesarkan voltage dari kilikan-kilikanku sehingga aku berhasil membuat Cik Melly bergetar beberapa kali karena dia pasti merasakan nikmatnya seks karena setruman-setruman listrik yang voltage-nya telah kuatur sehingga tidak membahayakan dirinya dan tentunya bisa memberikan kenikmatan yang belum pernah dia terima seumur hidupnya.
“Joee, udah.. Joe.. gue bisa gila nih kalo elu lakuin terus-menerusâ€, katanya yang selalu diiringi dengan lenguhan dan desahan yang membuatku semakin terangsang dan ingin menyetubuhinya setelah aku puas mengerjainya. Aku melepaskan plug dan mencabut kabel dari liang kewanitaannya. Sekarang aku melihat liang surganya yang penuh dengan cairan kewanitaannya dan Cik Melly mengaku bahwa dia telah klimaks selama 10 kali sewaktu aku memasukkan kabel ke dalam liang kenikmatannya.
Aku sudah tidak sabar untuk memasukkan batang kemaluanku yang semakin menegang dan dengan nafsunya, aku langsung menghujamkan batang kemaluanku ke dalam liang senggamanya. Kugenjot tubuhnya sehingga dia nampak kewalahan karena dia telah klimaks beberapa kali sehingga aku yakin bahwa dia merasakan kelelahan yang bercampur dengan rasa kenikmatan tapi aku tetap tidak peduli karena aku terus menggenjot tubuhnya.
Selama satu jam kemudian setelah aku menggenjot tubuhnya yang putih mulus tersebut, aku menjadi tidak tahan oleh jepitan-jepitan liang kewanitaannya sehingga aku semakin semangat menggenjot tubuhnya dan di saat yang bersamaan kami sama-sama melenguh karena kami mengeluarkan sensasi klimaks tersebut secara bersamaan. Aku jatuh kelelahan di atas tubuhnya yang putih bersih itu. Tak lama kemudian, aku kembali mencium bibirnya yang mungil dan mengulum lidahnya di dalam bibirku.
Aku memang sudah puas setelah menggaulinya tetapi aku masih belum puas untuk mengerjainya. Cik Melly masih kelelahan karena kenikmatan yang baru saja diterimanya. Aku kemudian menyuruhnya untuk membentuk posisi anjing dengan tubuhnya menghadap ke arah TV sementara perutnya beralaskan kursi yang dia gunakan barusan untuk bermain Play Station. Setelah dia membentuk posisi tersebut, aku meninggalkannya dan menyalakan Play Station sampai dia siap memainkan game Final Fantasy 8 kegemarannya. Tidak berapa lama setelah dia memainkan permainannya yang telah dia save sebelumnya. Dia masih asyik bermain game favouritnya dan aku sedang asyik mengocok batang kemaluanku yang masih lemas karena baru saja memuntahkan cairan kenikmatan di dalam liang kenikmatan Cik Melly.
Aku menjadi terangsang kembali karena melihat posisi tubuh Cik Melly apalagi disertai oleh tubuhnya yang putih bersih karena tidak berbusana sama sekali. Aku kemudian mendekati Cik Melly yang sedang membelakangiku, kumasukkan batang kemaluanku ke dalam anus Cik Melly sehingga keseriusannya bermain berubah mendadak, karena dia tiba-tiba menjatuhkan joystick dan menjerit-jerit karena batang kemaluanku telah menguasai anusnya yang kecil. Aku terus menggenjot anus Cik Melly sambil mengusap-usap punggung putih Cik Melly. Cik Melly terlihat mulai menyukai permainanku karena teriakan-teriakan kesakitannya telah berubah menjadi desahan dan lenguhan panjang yang membuat batang kemaluanku menjadi semakin nikmat.
Cik Melly asyik meresapi genjotan batang kemaluanku yang berada di anusnya tanpa memperhatikan TV yang masih menyala dengan game kesukaannya. Aku terus menggenjotnya sampai suatu ketika aku merasakan sesuatu yang ingin kuledakkan ke dalam anusnya, kupercepat dan akhirnya, “Arghh..â€, aku kejang sesaat karena aku sedang melampiaskan nafsuku dan aku memeluk Cik Melly dengan erat sekali. Cik Melly kemudian membalikkan badannya dan menciumku dengan senyumannya yang cantik sekali dan penuh dengan rahasia. Sebagai tanda terima kasihnya, Cik Melly memberikanku gratis bermain Play Station selama 1 bulan bahkan ketika Customer dia telah pulang semua, aku bisa mengajak dia “main†bersamaku tentunya setelah aku bosan bermain Play Station.
Tamat
Lihat Koleksi Bugil Lengkap..
Mungkin para pembaca akan mengira bahwa hanya cowok yang bermain Play Station. Aku berani menyebutkan bahwa cewek juga gemar bermain Play Station karena aku mengenal seorang gadis penunggu arena permainan Play Station di dekat rumahku yang gemar sekali bermain Play Station. Setiap kali aku datang ke tokonya, dia selalu memainkan game favoritnya yang berjudul Final Fantasy 8.
Karena aku sering datang bermain di rumahnya yang sekaligus menjadi tokonya, aku mengenal dia lebih akrab. Dia adalah Melly, salah seorang mahasiswa dari sebuah PTS di Jakarta Barat. Aku sering datang bermain Play Station di rumahnya ketika dia tidak membuka tokonya sehingga aku tidak mendapat gangguan dari konsumennya yang biasanya tergolong anak-anak kampung yang tinggal di sekitar daerah tersebut.
Aku dan Cik Melly sudah akrab meskipun dia lebih tua dariku setahun. Cik Melly bahkan sering menceritakan kisah pribadinya di mana dia ditinggal oleh Irwan, kekasihnya karena Irwan menikah dengan cewek lain dan yang lebih gilanya, Irwan telah mengambil perawan Cik Melly dengan paksa dan mencampakkannya begitu saja.
Suatu ketika, aku datang ke rumahnya ketika dia telah menutup tokonya karena hari sudah sore dan aku melihat dia sedang asyik memencet-mencet joystick sambil berteriak-teriak kesal setiap kali karakter jagoannya kena tembakan dari musuhnya. Aku memanggil namanya dari belakang yang membuatnya kaget dan berteriak histeris. Aku cuma tersenyum ketika dia marah-marah karena permainannya telah berakhir dalam sekejap akibat gangguanku saat itu.
Melly kemudian menyuruhku untuk tidak menganggunya karena dia sedang serius untuk menamatkan game Final Fantasy 8 tersebut. Aku hanya duduk di lantai di dekat TV sambil memperhatikan TV dan gerakan-gerakan tangannya yang memencet joystick dengan lihainya. Lama-lama aku menjadi bosan karena melihat dia asyik bermain dan aku mencoba menganggunya dengan cara yang lain.
Aku mendekati dia yang sedang bermain dan aku duduk tepat di depan selangkangannya karena dia duduk di kursi sementara aku berada di bawah kursi. Aku memperhatikan celana dalam warna merah mudanya yang tertutup oleh roknya yang sangat mini. Aku mendadak menjadi terangsang dan mencoba memberikan sesuatu yang belum pernah dia rasakan. Dengan lihainya, aku memasukkan tanganku dan jari-jariku bermain di sekitar kemaluannya yang masih tertutup oleh celana dalamnya. Gerakan-gerakan jari-jariku memberikan respon yang sangat kuharapkan karena aku dapat merasakan basahnya liang kenikmatannya karena gerakan jari-jariku. Cik Melly mendesah kenikmatan sambil terus memencet joystick-nya dan karena dia tidak konsentrasi, dia akhirnya mematikan Power Play Station dan mendekatiku yang sedang duduk di depan selangkangannya.
“Joe, kamu nakal yah sama Cik Melly, sekarang Cicik mesti membalas kamuâ€, dia berkata sambil menunjukkan telunjuknya ke arahku. Aku hanya tersenyum saja dan dia tiba-tiba menciumku yang masih berada di bawah kursi di mana dia barusan duduk. Aku kaget bercampur senang dan tanpa membuang kesempatan, aku langsung menelanjanginya di dekat TV karena aku juga sudah terangsang memperhatikan dia sewaktu dia bermain Play Station barusan.
Aku mencium bibir Cik Melly dan Cik Melly juga memainkan lidahnya di dalam mulutku, sementara tanganku secara refleks bermain-main di daerah selangkangannya yang membuat nafasnya semakin memburu dan aku tahu bahwa dia menuntut lebih dari sekedar cumbuan. Aku kemudian berpindah posisi karena sekarang wajahku mendekati liang kewanitaannya dan mulai menjilatinya dengan liar sementara tanganku mulai memencet puting payudaranya dan seakan-akan aku sedang memainkan “tuts joystick†milik Cik Melly. Cik Melly menjawabnya dengan desahan-desahan kecil sehingga membuat batang kemaluanku semakin menegang dan aku semakin ingin merasakan nikmatnya liang kewanitaan seorang “Play Station†girl.
Dengan nafsu dan tanpa aba-aba dari Cik Melly, aku memasukkan batang kemaluanku yang telah menegang ke dalam liang kenikmatannya sehingga matanya yang sipit menjadi besar dari biasanya dan dia menggigit bibirnya seakan-akan sedang menahan sesuatu yang nikmat bercampur sakit karena batang kemaluanku yang termasuk besar di saat aku sedang terangsang. Aku terus menggenjot tubuh Cik Melly karena aku sangat menyukai jepitan-jepitan liang kewanitaan tubuh cewek penggemar Play Station ini. Aku merasakan nikmat sekali dan tak berapa lama, Cik Melly bergetar hebat dan melenguh dengan hebatnya dan di saat yang bersamaan, aku dapat merasakan batang kemaluanku dibanjiri oleh cairan kenikmatan Cik Melly dan tentunya aku merasakan nikmatnya cairan Cik Melly dan aku langsung mencium bibirnya yang ranum.
Aku masih belum puas dan Cik Melly nampaknya sudah kelelahan. Aku kemudian mencoba ide yang aneh di saat Cik Melly sedang kecapaian. Aku memang pernah praktikum Fisika Listrik sewaktu di SMP sehingga aku memiliki cukup pengetahuan mengenai listrik dan alirannya. Dengan ide tersebut, aku memasang kembali power plug dari Play Station yang baru saja dia matikan dan aku mencabut kabel main power dari Play Station tersebut. Dengan sedikit keahlianku di bidang listrik, aku berhasil meredam kekuatan listriknya sehingga main power yang bisa menyetrum orang sekarang menjadi tidak bahaya lagi. Kemudian, aku mendekatkan kabel tersebut ke liang kewanitaan Cik Melly. Aku melihat adanya percikan-percikan listrik yang kecil kekuatannya akibat tercampurnya kabel main power tersebut dengan cairan kewanitaan dari Cik Melly.
Setruman-setruman kecil di dalam tubuh Cik Melly membuat Cik Melly menjadi mendesah dan kadang-kadang bercampur dengan lenguhan yang terdengar erotik. Aku menyukai permainan ini dan aku semakin mencoba membesarkan voltage dari kilikan-kilikanku sehingga aku berhasil membuat Cik Melly bergetar beberapa kali karena dia pasti merasakan nikmatnya seks karena setruman-setruman listrik yang voltage-nya telah kuatur sehingga tidak membahayakan dirinya dan tentunya bisa memberikan kenikmatan yang belum pernah dia terima seumur hidupnya.
“Joee, udah.. Joe.. gue bisa gila nih kalo elu lakuin terus-menerusâ€, katanya yang selalu diiringi dengan lenguhan dan desahan yang membuatku semakin terangsang dan ingin menyetubuhinya setelah aku puas mengerjainya. Aku melepaskan plug dan mencabut kabel dari liang kewanitaannya. Sekarang aku melihat liang surganya yang penuh dengan cairan kewanitaannya dan Cik Melly mengaku bahwa dia telah klimaks selama 10 kali sewaktu aku memasukkan kabel ke dalam liang kenikmatannya.
Aku sudah tidak sabar untuk memasukkan batang kemaluanku yang semakin menegang dan dengan nafsunya, aku langsung menghujamkan batang kemaluanku ke dalam liang senggamanya. Kugenjot tubuhnya sehingga dia nampak kewalahan karena dia telah klimaks beberapa kali sehingga aku yakin bahwa dia merasakan kelelahan yang bercampur dengan rasa kenikmatan tapi aku tetap tidak peduli karena aku terus menggenjot tubuhnya.
Selama satu jam kemudian setelah aku menggenjot tubuhnya yang putih mulus tersebut, aku menjadi tidak tahan oleh jepitan-jepitan liang kewanitaannya sehingga aku semakin semangat menggenjot tubuhnya dan di saat yang bersamaan kami sama-sama melenguh karena kami mengeluarkan sensasi klimaks tersebut secara bersamaan. Aku jatuh kelelahan di atas tubuhnya yang putih bersih itu. Tak lama kemudian, aku kembali mencium bibirnya yang mungil dan mengulum lidahnya di dalam bibirku.
Aku memang sudah puas setelah menggaulinya tetapi aku masih belum puas untuk mengerjainya. Cik Melly masih kelelahan karena kenikmatan yang baru saja diterimanya. Aku kemudian menyuruhnya untuk membentuk posisi anjing dengan tubuhnya menghadap ke arah TV sementara perutnya beralaskan kursi yang dia gunakan barusan untuk bermain Play Station. Setelah dia membentuk posisi tersebut, aku meninggalkannya dan menyalakan Play Station sampai dia siap memainkan game Final Fantasy 8 kegemarannya. Tidak berapa lama setelah dia memainkan permainannya yang telah dia save sebelumnya. Dia masih asyik bermain game favouritnya dan aku sedang asyik mengocok batang kemaluanku yang masih lemas karena baru saja memuntahkan cairan kenikmatan di dalam liang kenikmatan Cik Melly.
Aku menjadi terangsang kembali karena melihat posisi tubuh Cik Melly apalagi disertai oleh tubuhnya yang putih bersih karena tidak berbusana sama sekali. Aku kemudian mendekati Cik Melly yang sedang membelakangiku, kumasukkan batang kemaluanku ke dalam anus Cik Melly sehingga keseriusannya bermain berubah mendadak, karena dia tiba-tiba menjatuhkan joystick dan menjerit-jerit karena batang kemaluanku telah menguasai anusnya yang kecil. Aku terus menggenjot anus Cik Melly sambil mengusap-usap punggung putih Cik Melly. Cik Melly terlihat mulai menyukai permainanku karena teriakan-teriakan kesakitannya telah berubah menjadi desahan dan lenguhan panjang yang membuat batang kemaluanku menjadi semakin nikmat.
Cik Melly asyik meresapi genjotan batang kemaluanku yang berada di anusnya tanpa memperhatikan TV yang masih menyala dengan game kesukaannya. Aku terus menggenjotnya sampai suatu ketika aku merasakan sesuatu yang ingin kuledakkan ke dalam anusnya, kupercepat dan akhirnya, “Arghh..â€, aku kejang sesaat karena aku sedang melampiaskan nafsuku dan aku memeluk Cik Melly dengan erat sekali. Cik Melly kemudian membalikkan badannya dan menciumku dengan senyumannya yang cantik sekali dan penuh dengan rahasia. Sebagai tanda terima kasihnya, Cik Melly memberikanku gratis bermain Play Station selama 1 bulan bahkan ketika Customer dia telah pulang semua, aku bisa mengajak dia “main†bersamaku tentunya setelah aku bosan bermain Play Station.
Tamat
Lihat Koleksi Bugil Lengkap..
Awal Menjadi Gigolo
21.48, Posted by admin, No Comment
Namaku Sony, wajahku lumayan ganteng, tubuh tinggi dan sexy. Tetapi keadaan ekonomiku kurang mencukupi. Makanya aku pergi ke kota untuk mencari pekerjaan yang dapat memenuhi masa depanku. Pada waktu aku sedang mencari pekerjaan, kulihat ada papan iklan di sudut jalan, “DICARI COWOK DAN CEWEK UNTUK JADI MODEL…” Aku tertarik dan langsung pergi ke tempat yang ditunjukkan papan iklan itu. Setelah sampai, kulihat tempatnya ramai dengan orang yang ikut mendaftar menjadi model. Aku langsung saja masuk ke tempat itu.
Setelah giliranku mendaftar, aku ditanya sama Mbak yang mengurus bagian pendaftaran. Orangnya cantik dan tubuhnya wuih…
“Namanya siapa Mas..?” katanya.
“Sony, Mbak..” kataku sambil melihat wajahnya yang ayu.
“Boleh lihat kartu identitasnya Mas..?” katanya lagi.
“Ini Mbak..” kataku sambil menyerahkan KTP.
“Ok.., sekarang Mas masuk ke ruangan test ya… Mas jalan aja lurus, terus belok kanan.., nach disitu Mas masuk aja ya..!” katanya.
Lalu aku pergi ke tempat yang ditunjukkan oleh Mbak itu.
Aku duduk menunggu giliran. Ketika aku sedang menunggu, ada beberapa cewek-cowok yang keluar dari kamar itu dengan kepala tertunduk. Pasti mereka tidak lulus test… aduh aku jadi takut dan badanku jadi gemetar tidak karuan.
Lalu.., “Mas Sony…” tiba-tiba ada suara memanggil namaku.
Langsung saja aku masuk ke ruangan test. Disitu ada 2 cewek cantik, mereka berdua memakai baju ketat, sehingga susu yang besar terlihat seperti menyembul, dan di bagian bawah mereka hanya memakai rok mini sekitar 10 cm dari ‘anu’-nya.
“Mas Sony ya..? Aduh gantengnya. Sudah pernah jadi model sebelumnya..?” katanya.
“Belum pernah Mbak… Saya baru aja datang dari desa…” kataku lugu.
“Ooo… sekarang coba buka baju dan celananya Mas ya..?” katanya.
“Lho kok pake buka baju segala sih Mbak..? Emangnya Sony mau diapain..?” kataku.
“Mas mau jadi model nggak..? Kalau mau jadi model, ya harus nurut..! Ya.., ayo cepet gih buka bajunya… sini biar kami bantu.” katanya sambil terus menuju ke arahku untuk melepaskan bajuku, sementara temannya yang satunya melepaskan celanaku.
Lalu sekarang aku sudah setengah telanjang di depan mereka berdua yang cantik itu. Gundukan batang kejantananku di balik celana dalamku terpampang dengan jelas di depan mereka.
“Wow, besar juga ya ****** Mas. Mas Sony udah pernah ngeseks sebelumnya..?” tanyanya ketika melihat gundukan senjata kemaluanku di balik celana dalamku.
“Belum pernah Mbak… Emangnya kenapa sih Mbak kok nanya yang gituan..?” kataku sambil memandang mereka yang kelihatannya tertarik dengan batang kejantananku yang lumayan besar.
“Begini Mas, kami mencari beberapa model yang masih ‘hijau’ pengalamannya…”
“Apa hubungannya Mbak jadi model sama pengalaman… khan lebih banyak pengalamannya maka semakin bagus dia nantinya…” kataku.
“Kami hanya mencari cowok dan cewek yang setengah perawan begitulah… sekarang saya mau ngetest ****** Mas… ok..?” katanya sambil terus membuka pakaiannya satu-persatu, sementara yang satunya mendekatiku.
Dia memeluk tubuhku, menciumiku dan meraba-raba tubuhku. Sementara Mbak yang satunya sudah melepas baju ketatnya, sehingga susunya yang besar tergantung bebas. Rupanya dia tidak memakai BH. Wow.., ukurannya besar sekali. Baru kali ini kulihat susu sebesar itu. Lalu dia melepas rok mininya, dan… ohhh.., terpampanglah bentuk kemaluannya yang gundul dan montok itu. Setelah itu dia mendekatiku sambil menggoyang-goyangkan pinggulnya yang bulat. Aku jadi teransang, dan akhirnya batang kejantananku menegang dan bertambah besar gundukannya di celana dalamku. Dia menggoyangkan tubuhnya sambil menempelkan kemaluannya ke gundukan batang kejantananku. Ohhh.., batang kejantananku bertambah keras saja mendapatkan perlakuan seperti itu.
“Mas Son, CD-nya dibuka ya..? Kasihan yang di dalam pengen ketemu temennya…” katanya sambil dipelorotkannya celana dalamku.
Seketika itu juga batang kejantananku berdiri dengan kokohnya bagaikan “Pedang Nagapuspa”.
“Aduh Mas.., ******nya besar sekali… eehhmmm…” katanya lagi sambil mengurut batang kemaluanku.
Akhirnya aku hanya bisa pasrah, dia terus dengan lembutnya mempermainkan kemaluanku. Lalu aku disuruh tidur telentang. Sementara aku tidur di lantai yang dingin, Mbak itu dengan agresifnya terus mengulum batang kemaluanku.
Sementara itu Mbak yang satunya yang baru saja selesai membuka pakaiannya, langsung saja mengangkangkan kakinya di atas wajahku. Kemaluannya yang dikelilingi bulu lebat itu ditempelkannya di wajahku, lalu digeser-geserkan dengan irama lembut.
Lalu.., “Jilatin dong Mas Son… eehhmm…” katanya memelas.
Akhirnya kudekatkan juga kepalaku ke lembah kemaluannya. Tercium bau khas vagina, dan kujulurkan lidahku menjilati kemaluannya yang sudah basah itu. Dia mengerang dan menggelinjang kecil menahan nikmat. Kulihat dia meremas sendiri buah dadanya dan memuntir-muntir sendiri puting susunya.
“Oh… yesss…, jilat terus Mas.., ohhh.. yess..!” katanya sambil tangannya diangkat sebelah, sempat terlihat olehku bulu ketiaknya yang lebat sekali.
Mbak ini sungguh maniak sekali.
Beberapa saat kemudian dia meronta dengan kuat, “Aaahh… ohh.. yesss… aargghh..,” lalu dia menjepit kepalaku dengan pahanya, lalu menekan tubuhnya ke bawah agar kepalaku menempel lebih kuat lagi ke vaginanya. Aku jadi susah bernafas dibuatnya. Dia tambah mengerang, sementara Mbak yang satunya masih terus mengulum batang jenatananku yang tambah mengeras.
“Lagi Mas… arghh.. sshhh.. yah.. yah.. lagi.. oohh..” makin menggila lagi dia ketika aku mencoba mengulum klitorisnya dan memainkannya dengan lidahku di dalam mulut.
Aku memasukkan lidahku sedalam-dalamnya ke dalam lubang kemaluannya. Bau cairan kewanitaan semakin keras tercium. Vaginanya benar-benar sudah basah. Tiba-tiba dia menjambak rambutku dengan kuat, dan menggerakkan badannya naik turun dengan cepat dan kasar. Lalu dia menegang, dan tenang. Saat itu juga aku merasakan cairan hangat semakin banyak mengalir keluar dari liang kewanitaannya. Kujilati semuanya.
“Ohhh.. God… Bener-bener hebat kamu Mas Son… ahh… ngak kuat lagi deh untuk berdiri… shitt..!” dia terbujur lemas di sampingku.
Aku hanya tersenyum, lalu Mbak yang tadi mengulum batang kejantananku kini mulai mengangkangkan kakinya di atas senjataku. Dan, “Bless…” dimasukkannya batangku pada lubangnya yang hangat dan sudah basah sekali.
Dia pun mulai menggoyangkan tubuhnya perlahan-lahan. Pertama dengan gerakan naik turun, lalu disusul dengan gerakan memutar. Wah.., Mbak ini rupanya sudah profesional sekali. Lubangnya kurasakan masih sangat sempit, makanya dia juga hanya berani gerak perlahan-lahan tetapi teratur.
Dengan posisinya itu, Mbak itu terlihat sangat cantik dan seksi, buah dadanya tergantung sangat menantang. Aku dengan posisi setengah duduk berusaha untuk menghisap susunya. Dia mengerang dan gerakannya bertambah cepat, jariku berusaha mencari lubang pantatnya yang saat ini menganga karena posisinya yang sedang berjongkok di atas batang kejantananku. Dengan mudah aku memasukkan jari tengahku ke dalam lubang pantatnya. Cairan dari vaginanya dan penisku membasahi lubang pantatnya, dan terasa sangat licin dan lengket. Aku mempermainkan jariku mengikuti irama turun naik badannya, dia terlihat menikmati sambil melempar kepalanya ke belakang.
Dia kemudian mengerang, “Ooocchhh… aachhh… yesss..!”
Aku mencoba memasukkan jari kedua ke dalam lubang pantatnya, dan berhasil dengan mudah, lubangnya basah dan licin sekali. Dengan dua jari memasuki lubang pantatnya, dan batang kejantananku di vaginanya, dia setengah berteriak bilang, “Mas Son.., aku mau keluar.., ohhh… yesss..!”
Dia berhenti naik turun dan menekan vaginanya keras-keras ke pangkal batangku, dan tidak lama terasa lubang kemaluannya berdenyut dengan keras. Dia mengerang dengan keras sambil memelukku dengan kuat. Dengan pijitan vaginanya, aku tidak dapat menahan diri dan bilang ke dia kalau aku juga akan keluar.
“Please.., give it to me, I want to feel it inside me..” katanya menjawab desahanku tadi.
Semprotan spermaku terasa sangat kuat dan banyak sekali. Bersamaan dengan semprotan itu, dia bilang, “Aku keluar lagi Mas Son.., oocchh.. it so gooddd…”
Pantatnya ditekan keras-keras ke bawah, seakan-akan batang kejantananku kurang dalam memasuki liangnya. Kedua jariku kutekan dalam-dalam ke lubang pantatnya sambil digoyang-goyangkan di dalamnya. Terasa batang kemaluanku di dalam dibatasi oleh dinding pantat dan vaginanya. Dengan tetap memeluk tubuhku, dia merebahkan diri ke lantai yang dingin itu. Kakinya melingkar di pinggangku dan penisku tetap berada di dalam vaginanya.
Wajah, mata, dahi, hidung, pokoknya seluruhnya habis diciumi oleh Mbak itu sambil berkata, “Terima kasih Mas… Mas Sony memang perkasa.”
Melihat aku sudah selesai dengan temannya yang sudah tertidur itu, Mbak yang satunya mulai beraksi. Setelah selesai membersihkan batang kejantananku, Mbak yang tadi tertidur langsung menjilat batang kemaluanku lagi. Dengan tetap bersemangat, batang penisku dihisap dan dimasukkan ke dalam mulutnya.
Dengan cepat batang kejantanku menjadi keras lagi, dan dia berkata, “Mas Son, please **** me from behind.”
Dia terus membelakangiku, dan pantat serta vaginanya terlihat merekah dan basah. Sebelum aku memasukkan bnatang kemaluanku, kujilat dulu vaginanya dan lubang pantatnya. Tercium bau sabun LUX di kedua lubangnya, dan sangat bersih.
“Boleh juga nih cewek..” kupikir.
Cairan dari vaginanya mulai membasahi bibir kemaluannya, ditambah dengan ludahku.
Dari ujung penisku terlihat cairan menetes dari lubangnya. Kuarahkan penisku ke lubang vaginanya, dan menekan ke dalam dengan perlahan sambil merasakan gesekan daging kami berdua. Suara becek terdengar dari penisku dan vaginanya, dan cukup lama aku memompanya dengan posisi ini. Dia kemudian berdiri dan bersandar ke dinding sambil membuka pahanya lebar-lebar. Satu dari kakinya diangkat ke atas, dari bawah vaginanya terlihat sangat merah dan basah.
“Ayo Mas.., masukkan ******nya… please now.” katanya sudah tidak sabaran.
Aku dengan senang hati berdiri dan memasukkan penisku ke vaginanya. Dengan posisi ini aku bergerak mememasuk-keluarkan penisku.
Sambil memeluk tubuhku dan berciuman, dia bilang, “Mas Son aku mau keluar, kita sama-sama Mas… ohhh… yesss..!”
Vaginanya diperkecil dan memijat penisku, dan dengan bersamaan kami emncapai puncak kenikmatan itu. Aku masih dapat juga keluar, walaupun tadi sudah keluar banyak sekali. Dan yang kali ini sama enaknya.
Kami bertiga tertidur, aku dipeluk sama dua Mbak-Mbak yang asoy itu.
Tetapi tiba-tiba.., “Sari.. Mira.., apa-apaan ini..? Disuruh kerja kok malah tidur. Ayo bangun..!” tiba-tiba suara itu muncul.
Aku terbangun dan melihat wanita cantik yang umurnya mungkin diatas Mbak-Mbak itu. Langsung saja kedua Mbak-Mbak itu berpakaian.
Ketika aku mau berpakaian, “Kamu anak muda… cepet masuk dan jangan dipakai dulu bajunya… kamu belum selesai ditest.. ngerti..? Ayo cepet masuk ke ruanganku..!” katanya.
Setelah itu aku masuk ke ruangannya, tante cantik itu pamit ke kamar mandi.
Setelah menunggu sendirian di ruang kerjanya, aku iseng-iseng membuka album foto di depanku. Setelah kubuka, betapa terkejutnya diriku, semua foto disitu membuat batang kejantananku menjadi naik lagi. Ada foto seorang cewek dan cowok telanjang. Aku takut nanti ketahuan, maka langsung kututup album itu. Di ruangan itu terdapat rak-rak audio-video. Setelah kuperiksa, ternyata ada beberapa keping CD dan VCD. Aku curiga dengan dua keping VCD yang tidak ada sampulnya. Maka, langsung saja kumasukkan CD-nya, terus kuputar. Saat muncul opening scene, disitu tertulis, “SEX Intertainment, Ltd”
“Aduh..! Pasti film biru..” pikirku.
Dan ternyata benar, isinya film BF, judulnya “Daun Muda”. Disitu adegan antara cewek seusia tante-tante yang vaginanya dimasuki penis para perjaka muda. Terus ada juga adegan 69, tante-tante itu dengan rakusnya melahap batang kemaluan para cowok-cowok muda.
Karena teransang, aku mengelus-elus batangb kejantananku yang sudah tegang. Lalu tiba-tiba terdengar tawa kecil di belakangku. Aku kaget, malu dan salah tingkah, karena tante cantik itu sudah berada di belakangku. Langsung saja kumatikan TV-nya, lalu aku tertunduk malu sambil melihat batang kemaluanku yang mulai mengecil.
“Kamu suka juga ya rupanya. Aduh besar juga ya punyamu. Kamu benar-benar cowok yang masih hijau Sayang…”
Aku tersenyum, dan tidak berani melihat wajahnya.
“Eee… siapa namanya tadi..?” katanya.
“Sony, tante..” kataku.
“Ooo.., Sony. Sony sayang, kamu udah sering gitu juga kan..?” katanya.
“Eeee… cuman sekali Tante, dengan pacar Sony di kampung.” kataku.
“Satu apa dua.. hayooo ngaku aja dech. Tadi ama pegawai Tante kamu ngeseks juga khan..?” katanya.
“Oh… ya.. ya… Sony lupa… hee.. heee…” jawabku sambil menatapnya.
Tante itu memakai baju ketat, sehingga susunya yang lebih besar dari kedua mbak tadi seakan memanggilku untuk menyentuhnya. Bagian bawahnya hanya memakai rok super mini, sehingga kedua kaki jenjangnya terlihat begitu putih dan mulus. Kemudian tante cantik itu duduk di sebelahku. “Tante tadi lagi buang air, tapi terus terdengar suara TV masih nyala. Tapi suaranya kok ah.., uh.., ah.., uh. Terus tante intip kamu lagi ngocok punyamu. Kamu nggak tahu ya..?”
“Ya Tante..” kataku.
“Sony sayang, kamu benar-benar ingin jadi model..? Apa sih tujuanmu Sayang..?” tanyanya.
“Sony cuman butuh uang dan pekerjaan, Tante.” kataku.
“Cuman itu, nggak ada yang lain, Sayang..?” katanya.”Ya Tante… cuman itu.” kataku.
“Kamu mau kalau Tante suruh apa aja..?” katanya lebih mengorek.
“Sony akan nurut ama Tante, asalkan Sony dapat uang, Tante…” kataku.
“Kamu betul-betul cowok lugu Sony sayang… Tante akan menolong kamu. Kamu mau Tante ajarin sex tingkat tinggi, Sayang..?” katanya.
“Sony akan lakukan apa yang Tante suruh, tapi Sony ingin tahu nama Tante dulu, khan kita belum berkenalan tadi..” kataku.
“Nama lengkap Tante, Juliet atau biasa dipanggil Nyi Ringin Ireng..” katanya.
“Kok namanya aneh Tante… apa maksudnya nama itu..?” tanyaku.
“Begini Syang, ‘Nyi’ itu ‘cewek dewasa’, terus ‘Ringin’ itu ‘pohon beringin’ atau bisa dimaksudkan ‘hutan’, yang artinya bulu-bulu di tubuh Tante, di ketek, di kemaluan, dan lain-lain… terus ‘Ireng’ itu ‘hitam’. Kamu khan tahu bulu itu warnanya hitam… begicu Sony, ngerti khan..?” katanya.
“Sony ngerti Tante. Oh ya, Tante jadi nggak ngajarin Sony ilmu sex tingkat tinggi..?” kataku.
“Tentu Sony sayang. Tante akan tunjukin kebisaan Tante yang telah membuat cowok-cowok di seluruh nusantara ini ketagihan…”
Tangannya memegang kedua pipiku, “Son kamu ganteng dech…”
Lalu kupeluk dia, kucium pipinya, lalu keningnya.
“Ayo Tante.., ajarin Sony, bimbing Sony.., kasih tau Sony harus gimana saja. Tante khan juara dunia sejati. Tante khan udah punya jam terbang banyak. Tunjukin itu dong Tante..!” kataku.
“Sabar Sony sayang.., Tante akan ajarkan bagaimana ngesex dengan benar..” katanya seraya mencium bibirku.
“Ayo peluk Tante, Sony sayang..!”
Lalu aku mengangguk, terus memeluknya dan mengelus rambutnya yang indah itu. Tante Juliet berdiri, dan menghampiri rak audio, terus dia memutar CD lagu-lagu House.
Lalu tante kembali menghampiriku.
“Sony sayang..,” bisiknya.
“Mm.., beri Sony ilmu itu, Tante..!”
Lalu kupeluk Tante Juliet dengan erat.
“Apa yang harus Sony lakukan, Tante..?” kataku.
“Sony pingin merasakan sesuatu yang indah bersama Tante..? Tante juga Sony sayang, Tante ingin merasakan batangmu itu merobek punya Tante.” katanya sedikit bermanja.
“Sony sayang, menurut kamu Tante masih menarik nggak sih..?”
Aku agak bingung dan hanya dapat mengangguk memberi jawaban.
“Sony sayang, ayo cium bibir Tante sayang..!”
Lalu adegan pagutan ke bibir, leher, telinga dan tengkuk mulai kulancarkan. Tubuh Tante Juliet mulai bergetar.
Dengan instingku yang baru saja dipupuk, kuraba puting kirinya perlahan.
“Uhh, ya gitu Sayang, teruskan..!” dengusnya.
Kurasakan debar jantungnya meningkat. Lantas hidungku dan mulutku mulai mengecup bahunya yang terbuka, karena baju atasnya kubuka sedikit. Dia menggeliat.
“Nikmat sekali Sayang… kamu pinter Son..!” bisiknya sambil matanya tetap terpejam.
Kini kedua tangannya memegangi tanganku. Matanya masih terpejam. Lalu tangan Tante Juliet memegangi tanganku. Sekarang matanya terbuka. Dia tersenyum. Kukecup bibirnya lembut, lalu pipinya, telinganya, dan tengkuknya.
“Apa lagi sekarang, Tante..?” bisikku.
“Ayo ciumi leher Tante yang jenjang ini Sony sayang..!” katanya.
Lalu kucium lehernya, kurasakan debar jantungnya dan bunyi nafasnya yang mengeras. Lalu tangan kirinya diangkat untuk memegangi tengkuknya sendiri. Saat sekilas kutatap bagian ketiaknya, kulihat sesuatu yang luar biasa. Bulu ketiak Tante Juliet ternyata lebat sekali. Aku terkesiap. Wow..! seperti tidak percaya melihat bulu hitam rimbun itu menghiasi bagian bawah lengannya. Kuangkat tangan kanannya. Sama lebatnya. Wow..! Aku belum pernah melihat bulu ketiak selebat itu. Dengan lembut kuraba kedua ketiak itu.
“Nggak pernah dicukur ya Tante..?” kataku penasaran.
“Sony sayang, seorang cewek yang bulu keteknya lebat itu berarti nafsunya tinggi sekali sayang… Coba kamu rasakan nikmatnya…” katanya.
Lalu kucium ketiak berbulu lebat itu. Wow..! Enak e rek..! Bau asli tubuh aduhai itu menyergap hidungku. Bau alami itu bertambah dengan bulu lebat, sepanjang hampir 6-9 cm. Dari ketiak kanan, aku pindah ke ketiak kiri. Sama, ternyata aroma dan sensasi bulunya yang sebelah kiri dengan yang kanan tidak berbeda. Aku terangsang sekali, sehingga batang kejantananku tambah menegang. Dengan hidung dan mulut di ketiak kirinya, kedua tanganku meraba kedua puting susunya. Keras sekali. Kupegang lembut susunya yang tergantung itu. Kenyal sekali. Nafsuku semakin berkobar.
Akhirnya baju atasnya itu kulepas. Dan, wow..! Susunya besar dan kencang, dengan puting mungilnya yang mengeras. Puting itu berwarna kecoklatan.
“Ayo remas susu Tante, Son..!” katanya.
Lalu kuremes pelan kedua susunya.
“Oh yesss..! Nikmat Son.., teruskan Sayang..!”
Kuciumi lehernya, tengkuknya, telinganya, bahunya, dan ketiaknya sambil mempermainkan puting dan payudaranya.
“Tante, Sony suka ketek berbulu lebat Tante, tetek dan puting Tante juga, ehm…”
Tante Juliet tersenyum, kupandangi tubuh indah itu yang sekarang tinggal bercelana dalam tipis.
Baru kusadar, di bawah pusarnya tampak segitiga warna hitam. Bentuknya mirip celana dalam, jadi bila tante tidak pakai celana dalam, itu bukanlah masalah, karena bulu-bulu kemaluannya sudah membentuk celana dalam. Itu pasti bulu kemaluannya yang dia bilang seperti hutan beringin. Aku jadi tambah penasaran. Aku tambah begitu bernafsu ingin tahu, dan Tante Juliet rupanya tahu hal itu.
“Sony sayang, kamu pingin liat ‘hutan Kalimantan’-ku yang lain ya..?”
“Biar Sony lihat sendiri ya Tante..?” kataku.
Lalu aku menciumi pusarnya, dan turun ke bawah tanpa membuka celana dalamnya, hingga kurasakan bulu tebal tergesek ke hidungku, hingga jadi geli ingin bersin. Setelah itu kusisipkan jariku ke celana dalamnya. Kurasakan ketebalan bulu kemaluannya yang lebat. Aku tidak tahu dimana klitoris dan labia mayoranya.
“Rasakan Son, pasti kamu tahu, ayo… do it..!” katanya.
Berkat tuntunannya, jemariku mulai tahu mana yang klitoris, mana yang labia mayora. Jemariku basah sekali karena cairan dari vagina yang berbulu lebat itu. Celana dalam tante jadi basah, sehingga semakin menempel ke vulva, dan bulu lebat itu makin terlihat jelas.
“Ayo sekarang buka CD Tante… please..! Tante udah nggak tahan nich..!” katanya.
Lalu dipeganginya kepalaku yang setengah plontos, lalu digesek-gesekkan ke celana dalamnya yang basah kuyup dengan aroma yang khas dari vaginanya itu.
“Stop Son… Tante udah nggak tahan Son..!” katanya.
Tiba-tiba dia melepas celana dalamnya, dan melemparkannya ke lantai. Lalu, wow..! Luar biasa, benar dugaanku… bulu lebatnya membentuk segitiga seperti celana dalam. Lalu kunaikkan kaki kanannya ke kursi kerjanya. Wah..! Luar biasa. Kelebatan bulu kemaluannya menutupi vulva. Kusibakkan bulu kemaluannya itu, lalu tampaklah vulva yang berwarna agak gelap, kecoklatan, bukan kemerahan, bukan coklat muda. Aku terkesima. Kusibak dan belai bulu kemaluannya yang sedikit basah itu. Aku terus memandanginya. Lalu kuraba klitorisnya yang menyembul keras dan agak gelap itu.
“Ohhh… hhmmm… kamu nakal ya..!” katanya.
Batang kemaluanku kian menegang, kulihat ada tetesan maniku. Aku menghela nafas.
“Sekarang giliran batangmu ya, Sayang..?” kata Tante Juliet yang kemudian duduk di kursi kerjanya itu.
Aku yang dari tadi sudah telanjang dengan batang kejantanan yang menegak lalu mendekat ke tempat Tante Juliet duduk. Tante Juliet terkesima, terus dipandanginya batang kemaluanku. Tante Juliet langsung menggenggam batang kejantananku dengan kedua tangannya sekaligus, sepertinya dia mengukur panjang batang kemaluanku.
“Wow.., Son punya kamu dua kali genggaman tanganku…” katanya.
Kemudian dia menggenggamnya, tidak terlalu keras, sesaat saja, lalu dilepas.
“Panas sekali punyamu Son..” bisiknya mesra.
Tidak lama kemudian, batang kejantananku mulai dilahap oleh Tante Juliet. Mulutnya yang sensual itu seperti karet, mampu mengulum hampir seluruh batangku, membuatku seakan-akan terlempar ke langit ke-7 merasakan kenikmatan yang tiada taranya. Dengan ganasnya, mulut Tante Juliet menyedoti penisku, seakan-akan ingin menelan habis seluruh isi batangku. Tubuhku terguncang-guncang dibuatnya. Dan Tante Juliet nan rupawan itu masih menyedot dan menghisap batang kejantananku tersebut. Belum puas dengan yang itu, Tante Juliet mulai menaik-turunkan kepalanya, membuat penisku hampir keluar setengahnya dari dalam mulutnya, tetapi kemudian masuk lagi. Begitu terus berulang-ulang dan bertambah cepat. Gesekan-gesekan yang terjadi antara permukaan penisku dengan dinding mulut Tante Juliet membuatku hampir mencapai klimaks untuk kedua kalinya. Apalagi ditambah dengan permainan mulut Tante Juliet yang semakin bertambah ganasnya. Beberapa kali aku mendesah-desah.
“Ohhh… yesss… Tante sungguh hebattt… ohhh… Tante udah ya… Sony nggak tahan nich..!” kataku.
Kami menuju sofa, terus duduk berdua berhadapan telanjang. Terus kucium bibirnya, pipinya, dan keningnya. Terus dia berdiri.
“Mau kemana Tante..?” tanyaku.
“Ambil minuman Sayang.., tenggorokanku kering habis ngemut punyamu..”
Tante Juliet berjalan menuju kulkas, mengambil botol besar Coca-Cola. Aku sangat teransang sekali sewaktu dia berjalan membelakangiku. Dia berjalan dengan menggoyangkan pinggulnya sambil kedua tangannya diangkat ke atas, sehingga kedua ketiaknya yang lebat itu terlihat samar. Ohhh… pantatnya yang bulat dan besar itu seakan membuatku jadi salah tingkah, sehingga kemaluanku bangun lagi. Lalu saat dia kembali ke sofa, terlihatlah sekarang dengan jelas bulu ketiaknya dan bulu kemaluannya yang lebat itu, dan lagi susunya yang besar itu, ohhh…
Lalu kami minum bergantian dari botol yang sama. Kemudian bersandar ke sofa, sama-sama diam.
“Gimana Tante, udah segar sekarang..?” tanyaku.
“Ya dong Sayang… aduhhh… punya kamu koq kecil lagi..?” katanya sambil mengelus kemaluanku, dan aku hanya tersenyum.
“Sony sayang, jilatin punya Tante dong Sayang..!” katanya sambil terus berdiri di depanku.
Lalu kucium paha kanannya, lalu kiri, lalu kanan, lalu kiri lagi, lalu pusarnya.
“Ohhh.. yeesss… teruskan Sayang… ohhh… sedeppp.. ahhh..!” katanya.
Karena nafsunya, akhirnya Tante dengan tidak sabar langsung menarik kepalaku dan wajahku ditempelkannya ke bibir kemaluannya yang penuh dengan bulu lebat itu. Kunaik-turunkan lidahku di vagina yang lebat bulu itu. Lantas dia mengangkat satu kakinya di sofa.
“Ayo jilat lebih dalam Sony sayang..!” katanya.
Dengan lembut kugesekkan lidahku ke klitorisnya, lalu labia mayoranya. Aku merasakan begitu banyak cairan yang keluar.
“Ayo sayang sedot cairan Tante… ohhh.. yeess..!” katanya sambil mendesis.
Lalu langsung saja aku menyedotnya, “Slurping.., lumayan juga ya Tante… segar juga..”
Mungkin inilah jamunya seorang pria, cairan vagina wanita lajang yang masih virgin. Tante Juliet tidak tahan dengan perlakuanku, badannya terutama kakinya sampai gemetar bagai terkena setrum, lalu dia duduk di sofa dengan kakinya dibukanya lebar-lebar.
“Ayo sayang, bikin Tante keluar… ohhh… yesss..!” katanya.
Kepalaku menyeruak masuk ke dalam, terus kedua kakinya kuangkat, sehingga terkuaklah bagian bibir kemaluannya. Kujulurkan lidahku ke liang senggamanya yang basah itu. Kujilat.., lepas.., jilat.., lepas.., kudiamkan, berulang-ulang, Tante Juliet jadi gemas dibuatnya.
“Ayo dong Sayang. Kamu jahat deh.., Son. Tante udah nggak tahan nich..!” katanya.
“Ya Tante, maafkan Sony…” kataku.
“Ayo Son, tunggu apa lagi… cepet bikin Tante keluar..!” katanya sambil mendesis lagi.
Dengan kedua jempolnya, tante merentangkan bibir vaginanya agar lebih terbuka. Merah tua kecoklatan dan mengkilat basah terlihat jelas warna vaginanya. Klitorisnya mengeras, seperti biji kacang garing cap “Garuda”.. ini kacangku.
Lalu dengan lembut kutempelkan ujung lidahku ke klitorisnya yang mulai keras itu. Terus kulanjutkan dengan ilmu jilatan ala Shaolin seperti yang diajarkan Tante Juliet.
“Ahhh… yesss.., nikmat.., terus dong Sayang..!” katanya.
Sekarang lidahku mulai bermain dengan kecepatan 350 km/jam… Klitoris itu kujilati terus… terus… dan terus… Hingga tubuh tante bergetar hebat. Lidahku terus menjelajah ke labia mayora, sampai banjir permukaan vaginanya.
“Ouhh… yesss… Son… kamu pintar deh…” katanya.
Lalu aku sekarang duduk di sofa dan tante langsung jongkok di depanku dan menyuruhku membuka kaki lebar-lebar. Batang kejantananku yang sudah tegang itu tepat berada di depan wajahnya. Lalu dia mulai menjilati kakiku, mulai dari jempol kakiku dan yang lainnya. Dia naik ke betisku yang berbulu lebat, persis hutan di Kalimantan. Ohhh… lalu naik lagi ke pahaku, dielusnya dan dijilatinya, ohhh… setelah itu dia berpindah ke lubang anusku. Diciumnya, dijilatinya dan ohhhh… dimasukkannya jari tengahnya ke lubang anusku. Ohhhh… nikmatnya. Lalu dia mulai mengelus-elus batang kemaluanku dan tangan satunya memijit-mijit ‘my twins egg’-ku. Aahhh… aku mengerang kenikmatan.
Kemudian dia memasukkan batang kejantananku ke mulutnya, dia hisap batang penisku, terus diemut-emutnya. Dia gerakkan kepalanya naik-turun dengan batang kemaluanku masih berada di dalam mulutnya. Terasa ujung kepala kemaluanku menyentuh tenggorokannya dan masih terus dia tekan. Semua batang kejantananku ditelan oleh Tante Juliet, lidahnya menjilat bagian bawah penisku dan bibirnya dibesar-kecilkan. Sebuah rasa yang tidak pernah kubayangkan. Batang kemaluanku kemudian dikeluar-masukkan, tetapi tetap masuk seluruhnya ke tenggorokannya.
Setelah beberapa lama dihisap dan dikeluar-masukkan sambil tangan yang satu memeras biji kemaluanku dan tangan yang satu lagi dimasukkannya ke dalam lubang pantatku, terasa aku sudah mau keluar, dan kubilang sama Tante Juliet, “Tante… Sony mau keluar… ohhh…”
Dikeluarkannya batang penisku dan bilang, “Go on come in my mouth. I want to taste and drink your cum, Sony… hhhmm..!”
Batangku dimasukkannya lagi, dan sekarang dia memasukkan dengan lebih dalam dan dihisap lebih keras lagi.
Setelah beberapa kali keluar masuk, cairanku keluar di dalam mulut tante, dan langsung ke dalam tenggorokannya, terasa tengorokannya mengecil dan jari di lubang pantatku lebih ditekan ke dalam lagi, sampai semuanya masuk. Aku benar-benar merasakan enak yang sulit dikatakan. Perlahan-lahan dikeluarkannya batang kemaluanku.
“Punya kamu enak Sony sayang… Tante suka..!” katanya.
Lalu kuangkat tubuh Tante Juliet ke lantai, dan kubaringkan. Perlahan kubuka pahanya lebar-lebar. Liang senggamanya yang tertutup bulu lebat itu mungkin sudah terbuka agak lebar, habis pandanganku tertutup bulu yang lebat itu.
“Tante, Sony udah nggak tahan nich..!” kataku memohon.
“Sabar dong Sayang… biar Tante yang memasukkan batangmu, ya..?” katanya.
Lalu tangan tante memegang penisku, dan membimbingnya ke lubang kenikmatannya.
“Tekan disini Son… pelan-pelan yaaa..!”
Lalu dengan hati-hati dia membantuku memasukkan penisku ke dalam liang senggamanya. Belum sampai setengah bagian yang masuk, dia sudah menjerit kesakitan.
“Aaa.. sabar Sayang… oohhh… pelan-pelan Son..!” tangan kirinya masih menggenggam batang kejantananku, menahan laju masuknya agar tidak terlalu keras, sementara tangan kanannya meremas-remas rambutku.
Aku merasakan batang kejantananku diurut-urut di dalam liang kewanitaannya. Aku berusaha untuk memasukkan lebih dalam lagi, tetapi tangan tante membuat panisku susah untuk memasukkan lebih dalam lagi. Aku menarik tangannya dari batang penisku, lalu kupegang erat-erat pinggulnya.
Kemudian kudorong batang kejantananku masuk sedikit lagi, “Ohhh.. yeess.. ohhh… ssshhh.. aachh… ohhh.. Sayang..!” kembali tante mengerang dan meronta.
Aku juga merasakan kenikmatan yang luar biasa, tidak sabar lagi kupegang erat-erat pinggulnya supaya dia berhenti meronta. Lalu kudorong sekuatnya batangku ke dalam lagi. Kembali tante menjerit dan meronta dengan buasnya.
Aku berhenti sejenak, menunggunya tenang dulu, lalu, “Lho koq berhenti.., ayo goyang lagi donk Son..!” katanya.
Lalu aku menggoyangkan penisku keluar masuk di dalam vaginanya. Tante terus membimbingku dengan menggerakkan pinggulnya seirama dengan goyanganku. Lama juga kami bertahan diposisi seperti itu. Kulihat dia hanya mendesis sambil memejamkan mata, menikmati irama permainan kami.
Tiba-tiba kurasakan bibir kemaluannya menjepit penisku dengan sangat kuat, tubuh tante mulai menggelinjang, nafasnya mulai tidak karuan, dan tangannya meremas-remas payudaranya sendiri.
“Ohhh… ohhh… Sayang.., Tante udah mo keluar nich… sshh… aaahhh..” katanya dengan goyangan pinggulnya sekarang sudah semakin tidak beraturan, “Kamu kuat sekali Sayang..!” sambungnya.
Aku semakin mempercepat goyanganku.
“Aaahh… Tante… keluar Son.., ohhh… endanggg..!” dia mengelinjang dengan hebat, kurasakan cairan hangat keluar membasahi pahaku.Aku semakin bersemangat menggenjot.
Aku juga merasakan bahwa aku akan keluar tidak lama lagi, dan akhirnya, “Ahhh… sshhh… ohhh..!” kusemprotkan cairanku ke dalam liang kenikmatannya.
Lalu kucabut batang kemaluanku dan terduduk lemas di lantai.
“Kamu hebat Sayang… udah lama Tante nggak pernah klimaks… oohhh..!” katanya girang.
“Ohhh… Sony cape’ Tante.., udah tiga kali baginian… uhhh..!”
Tante kemudian ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Sehabis tante dari kamar mandi, dia menuju ke arahku lagi dan membersihkan batang kejantananku dengan lap.
Sambil membersihkan penisku, dia berkata, “Son.., kamu belum selesai ditest… sekarang kamu kerjain Tante dari belakang ya..?” katanya.
Dia terus membelakangiku dan pantat serta vaginanya terlihat merekah dan basah, tetapi bekas-bekas spermaku sudah tidak ada.
Sebelum kumasukkan batang kejantananku, kujilat dulu kemaluannya dan lubang pantatnya. Tercium bau sabun di kedua lubangnya, dan sangat bersih. Cairan dari vaginanya mulai membasahi bibir kemaluannya, ditambah dengan ludahku. Dari ujung penisku terlihat cairan menetes dari lubangnya. Kuarahkan batang penisku ke lubang vaginanya, dan menekan ke dalam dengan pelan sambil merasakan gesekan daging kami berdua. Suara becek terdengar dari kemaluan kami berdua, dan cukup lama aku memompanya dengan posisi ini.
Tante kemudian berdiri dan bersandar ke dinding sambil membuka pahanya lebar-lebar. Satu dari kakinya diangkat ke atas. Dari bawah, vaginanya terlihat sangat merah dan basah.
“Ayo.., masukin lagi sekarang, Son..!”
Aku dengan senang hati berdiri dan memasukkan batang penisku ke lubang vaginanya. Dengan posisi ini aku mengeluar-masukkan kejantananku lebih bersemangat. Setiap kali aku mendorong batang kejantananku ke liang senggamanya, badan tante membentur dinding.
Sambil memeluk tubuhku dan berciuman, dia berkata, “Son.., Tante mo keluar nich..!”
Lalu bibir vaginanya diperkecil dan memijat batang penisku. Kami keluar bersamaan, aku masih bisa juga keluar walaupun tadi sudah keluar dua kali. Dan yang kali ini sama enaknya dengan yang sebelumnya.
“Sony.., kamu benar-benar hebat… kamu lulus Sayang..!” katanya sambil memeluk dan mencium bibirku.
Terus kami berdua mandi untuk membersihkan badan kami.
Nah.., mulai sejak itu, aku menjadi seorang gigolo yang kerjanya hanya memuaskan cewek-cewek kaya yang butuh kepuasan.
Tamat
Lihat Koleksi Bugil Lengkap..
Setelah giliranku mendaftar, aku ditanya sama Mbak yang mengurus bagian pendaftaran. Orangnya cantik dan tubuhnya wuih…
“Namanya siapa Mas..?” katanya.
“Sony, Mbak..” kataku sambil melihat wajahnya yang ayu.
“Boleh lihat kartu identitasnya Mas..?” katanya lagi.
“Ini Mbak..” kataku sambil menyerahkan KTP.
“Ok.., sekarang Mas masuk ke ruangan test ya… Mas jalan aja lurus, terus belok kanan.., nach disitu Mas masuk aja ya..!” katanya.
Lalu aku pergi ke tempat yang ditunjukkan oleh Mbak itu.
Aku duduk menunggu giliran. Ketika aku sedang menunggu, ada beberapa cewek-cowok yang keluar dari kamar itu dengan kepala tertunduk. Pasti mereka tidak lulus test… aduh aku jadi takut dan badanku jadi gemetar tidak karuan.
Lalu.., “Mas Sony…” tiba-tiba ada suara memanggil namaku.
Langsung saja aku masuk ke ruangan test. Disitu ada 2 cewek cantik, mereka berdua memakai baju ketat, sehingga susu yang besar terlihat seperti menyembul, dan di bagian bawah mereka hanya memakai rok mini sekitar 10 cm dari ‘anu’-nya.
“Mas Sony ya..? Aduh gantengnya. Sudah pernah jadi model sebelumnya..?” katanya.
“Belum pernah Mbak… Saya baru aja datang dari desa…” kataku lugu.
“Ooo… sekarang coba buka baju dan celananya Mas ya..?” katanya.
“Lho kok pake buka baju segala sih Mbak..? Emangnya Sony mau diapain..?” kataku.
“Mas mau jadi model nggak..? Kalau mau jadi model, ya harus nurut..! Ya.., ayo cepet gih buka bajunya… sini biar kami bantu.” katanya sambil terus menuju ke arahku untuk melepaskan bajuku, sementara temannya yang satunya melepaskan celanaku.
Lalu sekarang aku sudah setengah telanjang di depan mereka berdua yang cantik itu. Gundukan batang kejantananku di balik celana dalamku terpampang dengan jelas di depan mereka.
“Wow, besar juga ya ****** Mas. Mas Sony udah pernah ngeseks sebelumnya..?” tanyanya ketika melihat gundukan senjata kemaluanku di balik celana dalamku.
“Belum pernah Mbak… Emangnya kenapa sih Mbak kok nanya yang gituan..?” kataku sambil memandang mereka yang kelihatannya tertarik dengan batang kejantananku yang lumayan besar.
“Begini Mas, kami mencari beberapa model yang masih ‘hijau’ pengalamannya…”
“Apa hubungannya Mbak jadi model sama pengalaman… khan lebih banyak pengalamannya maka semakin bagus dia nantinya…” kataku.
“Kami hanya mencari cowok dan cewek yang setengah perawan begitulah… sekarang saya mau ngetest ****** Mas… ok..?” katanya sambil terus membuka pakaiannya satu-persatu, sementara yang satunya mendekatiku.
Dia memeluk tubuhku, menciumiku dan meraba-raba tubuhku. Sementara Mbak yang satunya sudah melepas baju ketatnya, sehingga susunya yang besar tergantung bebas. Rupanya dia tidak memakai BH. Wow.., ukurannya besar sekali. Baru kali ini kulihat susu sebesar itu. Lalu dia melepas rok mininya, dan… ohhh.., terpampanglah bentuk kemaluannya yang gundul dan montok itu. Setelah itu dia mendekatiku sambil menggoyang-goyangkan pinggulnya yang bulat. Aku jadi teransang, dan akhirnya batang kejantananku menegang dan bertambah besar gundukannya di celana dalamku. Dia menggoyangkan tubuhnya sambil menempelkan kemaluannya ke gundukan batang kejantananku. Ohhh.., batang kejantananku bertambah keras saja mendapatkan perlakuan seperti itu.
“Mas Son, CD-nya dibuka ya..? Kasihan yang di dalam pengen ketemu temennya…” katanya sambil dipelorotkannya celana dalamku.
Seketika itu juga batang kejantananku berdiri dengan kokohnya bagaikan “Pedang Nagapuspa”.
“Aduh Mas.., ******nya besar sekali… eehhmmm…” katanya lagi sambil mengurut batang kemaluanku.
Akhirnya aku hanya bisa pasrah, dia terus dengan lembutnya mempermainkan kemaluanku. Lalu aku disuruh tidur telentang. Sementara aku tidur di lantai yang dingin, Mbak itu dengan agresifnya terus mengulum batang kemaluanku.
Sementara itu Mbak yang satunya yang baru saja selesai membuka pakaiannya, langsung saja mengangkangkan kakinya di atas wajahku. Kemaluannya yang dikelilingi bulu lebat itu ditempelkannya di wajahku, lalu digeser-geserkan dengan irama lembut.
Lalu.., “Jilatin dong Mas Son… eehhmm…” katanya memelas.
Akhirnya kudekatkan juga kepalaku ke lembah kemaluannya. Tercium bau khas vagina, dan kujulurkan lidahku menjilati kemaluannya yang sudah basah itu. Dia mengerang dan menggelinjang kecil menahan nikmat. Kulihat dia meremas sendiri buah dadanya dan memuntir-muntir sendiri puting susunya.
“Oh… yesss…, jilat terus Mas.., ohhh.. yess..!” katanya sambil tangannya diangkat sebelah, sempat terlihat olehku bulu ketiaknya yang lebat sekali.
Mbak ini sungguh maniak sekali.
Beberapa saat kemudian dia meronta dengan kuat, “Aaahh… ohh.. yesss… aargghh..,” lalu dia menjepit kepalaku dengan pahanya, lalu menekan tubuhnya ke bawah agar kepalaku menempel lebih kuat lagi ke vaginanya. Aku jadi susah bernafas dibuatnya. Dia tambah mengerang, sementara Mbak yang satunya masih terus mengulum batang jenatananku yang tambah mengeras.
“Lagi Mas… arghh.. sshhh.. yah.. yah.. lagi.. oohh..” makin menggila lagi dia ketika aku mencoba mengulum klitorisnya dan memainkannya dengan lidahku di dalam mulut.
Aku memasukkan lidahku sedalam-dalamnya ke dalam lubang kemaluannya. Bau cairan kewanitaan semakin keras tercium. Vaginanya benar-benar sudah basah. Tiba-tiba dia menjambak rambutku dengan kuat, dan menggerakkan badannya naik turun dengan cepat dan kasar. Lalu dia menegang, dan tenang. Saat itu juga aku merasakan cairan hangat semakin banyak mengalir keluar dari liang kewanitaannya. Kujilati semuanya.
“Ohhh.. God… Bener-bener hebat kamu Mas Son… ahh… ngak kuat lagi deh untuk berdiri… shitt..!” dia terbujur lemas di sampingku.
Aku hanya tersenyum, lalu Mbak yang tadi mengulum batang kejantananku kini mulai mengangkangkan kakinya di atas senjataku. Dan, “Bless…” dimasukkannya batangku pada lubangnya yang hangat dan sudah basah sekali.
Dia pun mulai menggoyangkan tubuhnya perlahan-lahan. Pertama dengan gerakan naik turun, lalu disusul dengan gerakan memutar. Wah.., Mbak ini rupanya sudah profesional sekali. Lubangnya kurasakan masih sangat sempit, makanya dia juga hanya berani gerak perlahan-lahan tetapi teratur.
Dengan posisinya itu, Mbak itu terlihat sangat cantik dan seksi, buah dadanya tergantung sangat menantang. Aku dengan posisi setengah duduk berusaha untuk menghisap susunya. Dia mengerang dan gerakannya bertambah cepat, jariku berusaha mencari lubang pantatnya yang saat ini menganga karena posisinya yang sedang berjongkok di atas batang kejantananku. Dengan mudah aku memasukkan jari tengahku ke dalam lubang pantatnya. Cairan dari vaginanya dan penisku membasahi lubang pantatnya, dan terasa sangat licin dan lengket. Aku mempermainkan jariku mengikuti irama turun naik badannya, dia terlihat menikmati sambil melempar kepalanya ke belakang.
Dia kemudian mengerang, “Ooocchhh… aachhh… yesss..!”
Aku mencoba memasukkan jari kedua ke dalam lubang pantatnya, dan berhasil dengan mudah, lubangnya basah dan licin sekali. Dengan dua jari memasuki lubang pantatnya, dan batang kejantananku di vaginanya, dia setengah berteriak bilang, “Mas Son.., aku mau keluar.., ohhh… yesss..!”
Dia berhenti naik turun dan menekan vaginanya keras-keras ke pangkal batangku, dan tidak lama terasa lubang kemaluannya berdenyut dengan keras. Dia mengerang dengan keras sambil memelukku dengan kuat. Dengan pijitan vaginanya, aku tidak dapat menahan diri dan bilang ke dia kalau aku juga akan keluar.
“Please.., give it to me, I want to feel it inside me..” katanya menjawab desahanku tadi.
Semprotan spermaku terasa sangat kuat dan banyak sekali. Bersamaan dengan semprotan itu, dia bilang, “Aku keluar lagi Mas Son.., oocchh.. it so gooddd…”
Pantatnya ditekan keras-keras ke bawah, seakan-akan batang kejantananku kurang dalam memasuki liangnya. Kedua jariku kutekan dalam-dalam ke lubang pantatnya sambil digoyang-goyangkan di dalamnya. Terasa batang kemaluanku di dalam dibatasi oleh dinding pantat dan vaginanya. Dengan tetap memeluk tubuhku, dia merebahkan diri ke lantai yang dingin itu. Kakinya melingkar di pinggangku dan penisku tetap berada di dalam vaginanya.
Wajah, mata, dahi, hidung, pokoknya seluruhnya habis diciumi oleh Mbak itu sambil berkata, “Terima kasih Mas… Mas Sony memang perkasa.”
Melihat aku sudah selesai dengan temannya yang sudah tertidur itu, Mbak yang satunya mulai beraksi. Setelah selesai membersihkan batang kejantananku, Mbak yang tadi tertidur langsung menjilat batang kemaluanku lagi. Dengan tetap bersemangat, batang penisku dihisap dan dimasukkan ke dalam mulutnya.
Dengan cepat batang kejantanku menjadi keras lagi, dan dia berkata, “Mas Son, please **** me from behind.”
Dia terus membelakangiku, dan pantat serta vaginanya terlihat merekah dan basah. Sebelum aku memasukkan bnatang kemaluanku, kujilat dulu vaginanya dan lubang pantatnya. Tercium bau sabun LUX di kedua lubangnya, dan sangat bersih.
“Boleh juga nih cewek..” kupikir.
Cairan dari vaginanya mulai membasahi bibir kemaluannya, ditambah dengan ludahku.
Dari ujung penisku terlihat cairan menetes dari lubangnya. Kuarahkan penisku ke lubang vaginanya, dan menekan ke dalam dengan perlahan sambil merasakan gesekan daging kami berdua. Suara becek terdengar dari penisku dan vaginanya, dan cukup lama aku memompanya dengan posisi ini. Dia kemudian berdiri dan bersandar ke dinding sambil membuka pahanya lebar-lebar. Satu dari kakinya diangkat ke atas, dari bawah vaginanya terlihat sangat merah dan basah.
“Ayo Mas.., masukkan ******nya… please now.” katanya sudah tidak sabaran.
Aku dengan senang hati berdiri dan memasukkan penisku ke vaginanya. Dengan posisi ini aku bergerak mememasuk-keluarkan penisku.
Sambil memeluk tubuhku dan berciuman, dia bilang, “Mas Son aku mau keluar, kita sama-sama Mas… ohhh… yesss..!”
Vaginanya diperkecil dan memijat penisku, dan dengan bersamaan kami emncapai puncak kenikmatan itu. Aku masih dapat juga keluar, walaupun tadi sudah keluar banyak sekali. Dan yang kali ini sama enaknya.
Kami bertiga tertidur, aku dipeluk sama dua Mbak-Mbak yang asoy itu.
Tetapi tiba-tiba.., “Sari.. Mira.., apa-apaan ini..? Disuruh kerja kok malah tidur. Ayo bangun..!” tiba-tiba suara itu muncul.
Aku terbangun dan melihat wanita cantik yang umurnya mungkin diatas Mbak-Mbak itu. Langsung saja kedua Mbak-Mbak itu berpakaian.
Ketika aku mau berpakaian, “Kamu anak muda… cepet masuk dan jangan dipakai dulu bajunya… kamu belum selesai ditest.. ngerti..? Ayo cepet masuk ke ruanganku..!” katanya.
Setelah itu aku masuk ke ruangannya, tante cantik itu pamit ke kamar mandi.
Setelah menunggu sendirian di ruang kerjanya, aku iseng-iseng membuka album foto di depanku. Setelah kubuka, betapa terkejutnya diriku, semua foto disitu membuat batang kejantananku menjadi naik lagi. Ada foto seorang cewek dan cowok telanjang. Aku takut nanti ketahuan, maka langsung kututup album itu. Di ruangan itu terdapat rak-rak audio-video. Setelah kuperiksa, ternyata ada beberapa keping CD dan VCD. Aku curiga dengan dua keping VCD yang tidak ada sampulnya. Maka, langsung saja kumasukkan CD-nya, terus kuputar. Saat muncul opening scene, disitu tertulis, “SEX Intertainment, Ltd”
“Aduh..! Pasti film biru..” pikirku.
Dan ternyata benar, isinya film BF, judulnya “Daun Muda”. Disitu adegan antara cewek seusia tante-tante yang vaginanya dimasuki penis para perjaka muda. Terus ada juga adegan 69, tante-tante itu dengan rakusnya melahap batang kemaluan para cowok-cowok muda.
Karena teransang, aku mengelus-elus batangb kejantananku yang sudah tegang. Lalu tiba-tiba terdengar tawa kecil di belakangku. Aku kaget, malu dan salah tingkah, karena tante cantik itu sudah berada di belakangku. Langsung saja kumatikan TV-nya, lalu aku tertunduk malu sambil melihat batang kemaluanku yang mulai mengecil.
“Kamu suka juga ya rupanya. Aduh besar juga ya punyamu. Kamu benar-benar cowok yang masih hijau Sayang…”
Aku tersenyum, dan tidak berani melihat wajahnya.
“Eee… siapa namanya tadi..?” katanya.
“Sony, tante..” kataku.
“Ooo.., Sony. Sony sayang, kamu udah sering gitu juga kan..?” katanya.
“Eeee… cuman sekali Tante, dengan pacar Sony di kampung.” kataku.
“Satu apa dua.. hayooo ngaku aja dech. Tadi ama pegawai Tante kamu ngeseks juga khan..?” katanya.
“Oh… ya.. ya… Sony lupa… hee.. heee…” jawabku sambil menatapnya.
Tante itu memakai baju ketat, sehingga susunya yang lebih besar dari kedua mbak tadi seakan memanggilku untuk menyentuhnya. Bagian bawahnya hanya memakai rok super mini, sehingga kedua kaki jenjangnya terlihat begitu putih dan mulus. Kemudian tante cantik itu duduk di sebelahku. “Tante tadi lagi buang air, tapi terus terdengar suara TV masih nyala. Tapi suaranya kok ah.., uh.., ah.., uh. Terus tante intip kamu lagi ngocok punyamu. Kamu nggak tahu ya..?”
“Ya Tante..” kataku.
“Sony sayang, kamu benar-benar ingin jadi model..? Apa sih tujuanmu Sayang..?” tanyanya.
“Sony cuman butuh uang dan pekerjaan, Tante.” kataku.
“Cuman itu, nggak ada yang lain, Sayang..?” katanya.”Ya Tante… cuman itu.” kataku.
“Kamu mau kalau Tante suruh apa aja..?” katanya lebih mengorek.
“Sony akan nurut ama Tante, asalkan Sony dapat uang, Tante…” kataku.
“Kamu betul-betul cowok lugu Sony sayang… Tante akan menolong kamu. Kamu mau Tante ajarin sex tingkat tinggi, Sayang..?” katanya.
“Sony akan lakukan apa yang Tante suruh, tapi Sony ingin tahu nama Tante dulu, khan kita belum berkenalan tadi..” kataku.
“Nama lengkap Tante, Juliet atau biasa dipanggil Nyi Ringin Ireng..” katanya.
“Kok namanya aneh Tante… apa maksudnya nama itu..?” tanyaku.
“Begini Syang, ‘Nyi’ itu ‘cewek dewasa’, terus ‘Ringin’ itu ‘pohon beringin’ atau bisa dimaksudkan ‘hutan’, yang artinya bulu-bulu di tubuh Tante, di ketek, di kemaluan, dan lain-lain… terus ‘Ireng’ itu ‘hitam’. Kamu khan tahu bulu itu warnanya hitam… begicu Sony, ngerti khan..?” katanya.
“Sony ngerti Tante. Oh ya, Tante jadi nggak ngajarin Sony ilmu sex tingkat tinggi..?” kataku.
“Tentu Sony sayang. Tante akan tunjukin kebisaan Tante yang telah membuat cowok-cowok di seluruh nusantara ini ketagihan…”
Tangannya memegang kedua pipiku, “Son kamu ganteng dech…”
Lalu kupeluk dia, kucium pipinya, lalu keningnya.
“Ayo Tante.., ajarin Sony, bimbing Sony.., kasih tau Sony harus gimana saja. Tante khan juara dunia sejati. Tante khan udah punya jam terbang banyak. Tunjukin itu dong Tante..!” kataku.
“Sabar Sony sayang.., Tante akan ajarkan bagaimana ngesex dengan benar..” katanya seraya mencium bibirku.
“Ayo peluk Tante, Sony sayang..!”
Lalu aku mengangguk, terus memeluknya dan mengelus rambutnya yang indah itu. Tante Juliet berdiri, dan menghampiri rak audio, terus dia memutar CD lagu-lagu House.
Lalu tante kembali menghampiriku.
“Sony sayang..,” bisiknya.
“Mm.., beri Sony ilmu itu, Tante..!”
Lalu kupeluk Tante Juliet dengan erat.
“Apa yang harus Sony lakukan, Tante..?” kataku.
“Sony pingin merasakan sesuatu yang indah bersama Tante..? Tante juga Sony sayang, Tante ingin merasakan batangmu itu merobek punya Tante.” katanya sedikit bermanja.
“Sony sayang, menurut kamu Tante masih menarik nggak sih..?”
Aku agak bingung dan hanya dapat mengangguk memberi jawaban.
“Sony sayang, ayo cium bibir Tante sayang..!”
Lalu adegan pagutan ke bibir, leher, telinga dan tengkuk mulai kulancarkan. Tubuh Tante Juliet mulai bergetar.
Dengan instingku yang baru saja dipupuk, kuraba puting kirinya perlahan.
“Uhh, ya gitu Sayang, teruskan..!” dengusnya.
Kurasakan debar jantungnya meningkat. Lantas hidungku dan mulutku mulai mengecup bahunya yang terbuka, karena baju atasnya kubuka sedikit. Dia menggeliat.
“Nikmat sekali Sayang… kamu pinter Son..!” bisiknya sambil matanya tetap terpejam.
Kini kedua tangannya memegangi tanganku. Matanya masih terpejam. Lalu tangan Tante Juliet memegangi tanganku. Sekarang matanya terbuka. Dia tersenyum. Kukecup bibirnya lembut, lalu pipinya, telinganya, dan tengkuknya.
“Apa lagi sekarang, Tante..?” bisikku.
“Ayo ciumi leher Tante yang jenjang ini Sony sayang..!” katanya.
Lalu kucium lehernya, kurasakan debar jantungnya dan bunyi nafasnya yang mengeras. Lalu tangan kirinya diangkat untuk memegangi tengkuknya sendiri. Saat sekilas kutatap bagian ketiaknya, kulihat sesuatu yang luar biasa. Bulu ketiak Tante Juliet ternyata lebat sekali. Aku terkesiap. Wow..! seperti tidak percaya melihat bulu hitam rimbun itu menghiasi bagian bawah lengannya. Kuangkat tangan kanannya. Sama lebatnya. Wow..! Aku belum pernah melihat bulu ketiak selebat itu. Dengan lembut kuraba kedua ketiak itu.
“Nggak pernah dicukur ya Tante..?” kataku penasaran.
“Sony sayang, seorang cewek yang bulu keteknya lebat itu berarti nafsunya tinggi sekali sayang… Coba kamu rasakan nikmatnya…” katanya.
Lalu kucium ketiak berbulu lebat itu. Wow..! Enak e rek..! Bau asli tubuh aduhai itu menyergap hidungku. Bau alami itu bertambah dengan bulu lebat, sepanjang hampir 6-9 cm. Dari ketiak kanan, aku pindah ke ketiak kiri. Sama, ternyata aroma dan sensasi bulunya yang sebelah kiri dengan yang kanan tidak berbeda. Aku terangsang sekali, sehingga batang kejantananku tambah menegang. Dengan hidung dan mulut di ketiak kirinya, kedua tanganku meraba kedua puting susunya. Keras sekali. Kupegang lembut susunya yang tergantung itu. Kenyal sekali. Nafsuku semakin berkobar.
Akhirnya baju atasnya itu kulepas. Dan, wow..! Susunya besar dan kencang, dengan puting mungilnya yang mengeras. Puting itu berwarna kecoklatan.
“Ayo remas susu Tante, Son..!” katanya.
Lalu kuremes pelan kedua susunya.
“Oh yesss..! Nikmat Son.., teruskan Sayang..!”
Kuciumi lehernya, tengkuknya, telinganya, bahunya, dan ketiaknya sambil mempermainkan puting dan payudaranya.
“Tante, Sony suka ketek berbulu lebat Tante, tetek dan puting Tante juga, ehm…”
Tante Juliet tersenyum, kupandangi tubuh indah itu yang sekarang tinggal bercelana dalam tipis.
Baru kusadar, di bawah pusarnya tampak segitiga warna hitam. Bentuknya mirip celana dalam, jadi bila tante tidak pakai celana dalam, itu bukanlah masalah, karena bulu-bulu kemaluannya sudah membentuk celana dalam. Itu pasti bulu kemaluannya yang dia bilang seperti hutan beringin. Aku jadi tambah penasaran. Aku tambah begitu bernafsu ingin tahu, dan Tante Juliet rupanya tahu hal itu.
“Sony sayang, kamu pingin liat ‘hutan Kalimantan’-ku yang lain ya..?”
“Biar Sony lihat sendiri ya Tante..?” kataku.
Lalu aku menciumi pusarnya, dan turun ke bawah tanpa membuka celana dalamnya, hingga kurasakan bulu tebal tergesek ke hidungku, hingga jadi geli ingin bersin. Setelah itu kusisipkan jariku ke celana dalamnya. Kurasakan ketebalan bulu kemaluannya yang lebat. Aku tidak tahu dimana klitoris dan labia mayoranya.
“Rasakan Son, pasti kamu tahu, ayo… do it..!” katanya.
Berkat tuntunannya, jemariku mulai tahu mana yang klitoris, mana yang labia mayora. Jemariku basah sekali karena cairan dari vagina yang berbulu lebat itu. Celana dalam tante jadi basah, sehingga semakin menempel ke vulva, dan bulu lebat itu makin terlihat jelas.
“Ayo sekarang buka CD Tante… please..! Tante udah nggak tahan nich..!” katanya.
Lalu dipeganginya kepalaku yang setengah plontos, lalu digesek-gesekkan ke celana dalamnya yang basah kuyup dengan aroma yang khas dari vaginanya itu.
“Stop Son… Tante udah nggak tahan Son..!” katanya.
Tiba-tiba dia melepas celana dalamnya, dan melemparkannya ke lantai. Lalu, wow..! Luar biasa, benar dugaanku… bulu lebatnya membentuk segitiga seperti celana dalam. Lalu kunaikkan kaki kanannya ke kursi kerjanya. Wah..! Luar biasa. Kelebatan bulu kemaluannya menutupi vulva. Kusibakkan bulu kemaluannya itu, lalu tampaklah vulva yang berwarna agak gelap, kecoklatan, bukan kemerahan, bukan coklat muda. Aku terkesima. Kusibak dan belai bulu kemaluannya yang sedikit basah itu. Aku terus memandanginya. Lalu kuraba klitorisnya yang menyembul keras dan agak gelap itu.
“Ohhh… hhmmm… kamu nakal ya..!” katanya.
Batang kemaluanku kian menegang, kulihat ada tetesan maniku. Aku menghela nafas.
“Sekarang giliran batangmu ya, Sayang..?” kata Tante Juliet yang kemudian duduk di kursi kerjanya itu.
Aku yang dari tadi sudah telanjang dengan batang kejantanan yang menegak lalu mendekat ke tempat Tante Juliet duduk. Tante Juliet terkesima, terus dipandanginya batang kemaluanku. Tante Juliet langsung menggenggam batang kejantananku dengan kedua tangannya sekaligus, sepertinya dia mengukur panjang batang kemaluanku.
“Wow.., Son punya kamu dua kali genggaman tanganku…” katanya.
Kemudian dia menggenggamnya, tidak terlalu keras, sesaat saja, lalu dilepas.
“Panas sekali punyamu Son..” bisiknya mesra.
Tidak lama kemudian, batang kejantananku mulai dilahap oleh Tante Juliet. Mulutnya yang sensual itu seperti karet, mampu mengulum hampir seluruh batangku, membuatku seakan-akan terlempar ke langit ke-7 merasakan kenikmatan yang tiada taranya. Dengan ganasnya, mulut Tante Juliet menyedoti penisku, seakan-akan ingin menelan habis seluruh isi batangku. Tubuhku terguncang-guncang dibuatnya. Dan Tante Juliet nan rupawan itu masih menyedot dan menghisap batang kejantananku tersebut. Belum puas dengan yang itu, Tante Juliet mulai menaik-turunkan kepalanya, membuat penisku hampir keluar setengahnya dari dalam mulutnya, tetapi kemudian masuk lagi. Begitu terus berulang-ulang dan bertambah cepat. Gesekan-gesekan yang terjadi antara permukaan penisku dengan dinding mulut Tante Juliet membuatku hampir mencapai klimaks untuk kedua kalinya. Apalagi ditambah dengan permainan mulut Tante Juliet yang semakin bertambah ganasnya. Beberapa kali aku mendesah-desah.
“Ohhh… yesss… Tante sungguh hebattt… ohhh… Tante udah ya… Sony nggak tahan nich..!” kataku.
Kami menuju sofa, terus duduk berdua berhadapan telanjang. Terus kucium bibirnya, pipinya, dan keningnya. Terus dia berdiri.
“Mau kemana Tante..?” tanyaku.
“Ambil minuman Sayang.., tenggorokanku kering habis ngemut punyamu..”
Tante Juliet berjalan menuju kulkas, mengambil botol besar Coca-Cola. Aku sangat teransang sekali sewaktu dia berjalan membelakangiku. Dia berjalan dengan menggoyangkan pinggulnya sambil kedua tangannya diangkat ke atas, sehingga kedua ketiaknya yang lebat itu terlihat samar. Ohhh… pantatnya yang bulat dan besar itu seakan membuatku jadi salah tingkah, sehingga kemaluanku bangun lagi. Lalu saat dia kembali ke sofa, terlihatlah sekarang dengan jelas bulu ketiaknya dan bulu kemaluannya yang lebat itu, dan lagi susunya yang besar itu, ohhh…
Lalu kami minum bergantian dari botol yang sama. Kemudian bersandar ke sofa, sama-sama diam.
“Gimana Tante, udah segar sekarang..?” tanyaku.
“Ya dong Sayang… aduhhh… punya kamu koq kecil lagi..?” katanya sambil mengelus kemaluanku, dan aku hanya tersenyum.
“Sony sayang, jilatin punya Tante dong Sayang..!” katanya sambil terus berdiri di depanku.
Lalu kucium paha kanannya, lalu kiri, lalu kanan, lalu kiri lagi, lalu pusarnya.
“Ohhh.. yeesss… teruskan Sayang… ohhh… sedeppp.. ahhh..!” katanya.
Karena nafsunya, akhirnya Tante dengan tidak sabar langsung menarik kepalaku dan wajahku ditempelkannya ke bibir kemaluannya yang penuh dengan bulu lebat itu. Kunaik-turunkan lidahku di vagina yang lebat bulu itu. Lantas dia mengangkat satu kakinya di sofa.
“Ayo jilat lebih dalam Sony sayang..!” katanya.
Dengan lembut kugesekkan lidahku ke klitorisnya, lalu labia mayoranya. Aku merasakan begitu banyak cairan yang keluar.
“Ayo sayang sedot cairan Tante… ohhh.. yeess..!” katanya sambil mendesis.
Lalu langsung saja aku menyedotnya, “Slurping.., lumayan juga ya Tante… segar juga..”
Mungkin inilah jamunya seorang pria, cairan vagina wanita lajang yang masih virgin. Tante Juliet tidak tahan dengan perlakuanku, badannya terutama kakinya sampai gemetar bagai terkena setrum, lalu dia duduk di sofa dengan kakinya dibukanya lebar-lebar.
“Ayo sayang, bikin Tante keluar… ohhh… yesss..!” katanya.
Kepalaku menyeruak masuk ke dalam, terus kedua kakinya kuangkat, sehingga terkuaklah bagian bibir kemaluannya. Kujulurkan lidahku ke liang senggamanya yang basah itu. Kujilat.., lepas.., jilat.., lepas.., kudiamkan, berulang-ulang, Tante Juliet jadi gemas dibuatnya.
“Ayo dong Sayang. Kamu jahat deh.., Son. Tante udah nggak tahan nich..!” katanya.
“Ya Tante, maafkan Sony…” kataku.
“Ayo Son, tunggu apa lagi… cepet bikin Tante keluar..!” katanya sambil mendesis lagi.
Dengan kedua jempolnya, tante merentangkan bibir vaginanya agar lebih terbuka. Merah tua kecoklatan dan mengkilat basah terlihat jelas warna vaginanya. Klitorisnya mengeras, seperti biji kacang garing cap “Garuda”.. ini kacangku.
Lalu dengan lembut kutempelkan ujung lidahku ke klitorisnya yang mulai keras itu. Terus kulanjutkan dengan ilmu jilatan ala Shaolin seperti yang diajarkan Tante Juliet.
“Ahhh… yesss.., nikmat.., terus dong Sayang..!” katanya.
Sekarang lidahku mulai bermain dengan kecepatan 350 km/jam… Klitoris itu kujilati terus… terus… dan terus… Hingga tubuh tante bergetar hebat. Lidahku terus menjelajah ke labia mayora, sampai banjir permukaan vaginanya.
“Ouhh… yesss… Son… kamu pintar deh…” katanya.
Lalu aku sekarang duduk di sofa dan tante langsung jongkok di depanku dan menyuruhku membuka kaki lebar-lebar. Batang kejantananku yang sudah tegang itu tepat berada di depan wajahnya. Lalu dia mulai menjilati kakiku, mulai dari jempol kakiku dan yang lainnya. Dia naik ke betisku yang berbulu lebat, persis hutan di Kalimantan. Ohhh… lalu naik lagi ke pahaku, dielusnya dan dijilatinya, ohhh… setelah itu dia berpindah ke lubang anusku. Diciumnya, dijilatinya dan ohhhh… dimasukkannya jari tengahnya ke lubang anusku. Ohhhh… nikmatnya. Lalu dia mulai mengelus-elus batang kemaluanku dan tangan satunya memijit-mijit ‘my twins egg’-ku. Aahhh… aku mengerang kenikmatan.
Kemudian dia memasukkan batang kejantananku ke mulutnya, dia hisap batang penisku, terus diemut-emutnya. Dia gerakkan kepalanya naik-turun dengan batang kemaluanku masih berada di dalam mulutnya. Terasa ujung kepala kemaluanku menyentuh tenggorokannya dan masih terus dia tekan. Semua batang kejantananku ditelan oleh Tante Juliet, lidahnya menjilat bagian bawah penisku dan bibirnya dibesar-kecilkan. Sebuah rasa yang tidak pernah kubayangkan. Batang kemaluanku kemudian dikeluar-masukkan, tetapi tetap masuk seluruhnya ke tenggorokannya.
Setelah beberapa lama dihisap dan dikeluar-masukkan sambil tangan yang satu memeras biji kemaluanku dan tangan yang satu lagi dimasukkannya ke dalam lubang pantatku, terasa aku sudah mau keluar, dan kubilang sama Tante Juliet, “Tante… Sony mau keluar… ohhh…”
Dikeluarkannya batang penisku dan bilang, “Go on come in my mouth. I want to taste and drink your cum, Sony… hhhmm..!”
Batangku dimasukkannya lagi, dan sekarang dia memasukkan dengan lebih dalam dan dihisap lebih keras lagi.
Setelah beberapa kali keluar masuk, cairanku keluar di dalam mulut tante, dan langsung ke dalam tenggorokannya, terasa tengorokannya mengecil dan jari di lubang pantatku lebih ditekan ke dalam lagi, sampai semuanya masuk. Aku benar-benar merasakan enak yang sulit dikatakan. Perlahan-lahan dikeluarkannya batang kemaluanku.
“Punya kamu enak Sony sayang… Tante suka..!” katanya.
Lalu kuangkat tubuh Tante Juliet ke lantai, dan kubaringkan. Perlahan kubuka pahanya lebar-lebar. Liang senggamanya yang tertutup bulu lebat itu mungkin sudah terbuka agak lebar, habis pandanganku tertutup bulu yang lebat itu.
“Tante, Sony udah nggak tahan nich..!” kataku memohon.
“Sabar dong Sayang… biar Tante yang memasukkan batangmu, ya..?” katanya.
Lalu tangan tante memegang penisku, dan membimbingnya ke lubang kenikmatannya.
“Tekan disini Son… pelan-pelan yaaa..!”
Lalu dengan hati-hati dia membantuku memasukkan penisku ke dalam liang senggamanya. Belum sampai setengah bagian yang masuk, dia sudah menjerit kesakitan.
“Aaa.. sabar Sayang… oohhh… pelan-pelan Son..!” tangan kirinya masih menggenggam batang kejantananku, menahan laju masuknya agar tidak terlalu keras, sementara tangan kanannya meremas-remas rambutku.
Aku merasakan batang kejantananku diurut-urut di dalam liang kewanitaannya. Aku berusaha untuk memasukkan lebih dalam lagi, tetapi tangan tante membuat panisku susah untuk memasukkan lebih dalam lagi. Aku menarik tangannya dari batang penisku, lalu kupegang erat-erat pinggulnya.
Kemudian kudorong batang kejantananku masuk sedikit lagi, “Ohhh.. yeess.. ohhh… ssshhh.. aachh… ohhh.. Sayang..!” kembali tante mengerang dan meronta.
Aku juga merasakan kenikmatan yang luar biasa, tidak sabar lagi kupegang erat-erat pinggulnya supaya dia berhenti meronta. Lalu kudorong sekuatnya batangku ke dalam lagi. Kembali tante menjerit dan meronta dengan buasnya.
Aku berhenti sejenak, menunggunya tenang dulu, lalu, “Lho koq berhenti.., ayo goyang lagi donk Son..!” katanya.
Lalu aku menggoyangkan penisku keluar masuk di dalam vaginanya. Tante terus membimbingku dengan menggerakkan pinggulnya seirama dengan goyanganku. Lama juga kami bertahan diposisi seperti itu. Kulihat dia hanya mendesis sambil memejamkan mata, menikmati irama permainan kami.
Tiba-tiba kurasakan bibir kemaluannya menjepit penisku dengan sangat kuat, tubuh tante mulai menggelinjang, nafasnya mulai tidak karuan, dan tangannya meremas-remas payudaranya sendiri.
“Ohhh… ohhh… Sayang.., Tante udah mo keluar nich… sshh… aaahhh..” katanya dengan goyangan pinggulnya sekarang sudah semakin tidak beraturan, “Kamu kuat sekali Sayang..!” sambungnya.
Aku semakin mempercepat goyanganku.
“Aaahh… Tante… keluar Son.., ohhh… endanggg..!” dia mengelinjang dengan hebat, kurasakan cairan hangat keluar membasahi pahaku.Aku semakin bersemangat menggenjot.
Aku juga merasakan bahwa aku akan keluar tidak lama lagi, dan akhirnya, “Ahhh… sshhh… ohhh..!” kusemprotkan cairanku ke dalam liang kenikmatannya.
Lalu kucabut batang kemaluanku dan terduduk lemas di lantai.
“Kamu hebat Sayang… udah lama Tante nggak pernah klimaks… oohhh..!” katanya girang.
“Ohhh… Sony cape’ Tante.., udah tiga kali baginian… uhhh..!”
Tante kemudian ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Sehabis tante dari kamar mandi, dia menuju ke arahku lagi dan membersihkan batang kejantananku dengan lap.
Sambil membersihkan penisku, dia berkata, “Son.., kamu belum selesai ditest… sekarang kamu kerjain Tante dari belakang ya..?” katanya.
Dia terus membelakangiku dan pantat serta vaginanya terlihat merekah dan basah, tetapi bekas-bekas spermaku sudah tidak ada.
Sebelum kumasukkan batang kejantananku, kujilat dulu kemaluannya dan lubang pantatnya. Tercium bau sabun di kedua lubangnya, dan sangat bersih. Cairan dari vaginanya mulai membasahi bibir kemaluannya, ditambah dengan ludahku. Dari ujung penisku terlihat cairan menetes dari lubangnya. Kuarahkan batang penisku ke lubang vaginanya, dan menekan ke dalam dengan pelan sambil merasakan gesekan daging kami berdua. Suara becek terdengar dari kemaluan kami berdua, dan cukup lama aku memompanya dengan posisi ini.
Tante kemudian berdiri dan bersandar ke dinding sambil membuka pahanya lebar-lebar. Satu dari kakinya diangkat ke atas. Dari bawah, vaginanya terlihat sangat merah dan basah.
“Ayo.., masukin lagi sekarang, Son..!”
Aku dengan senang hati berdiri dan memasukkan batang penisku ke lubang vaginanya. Dengan posisi ini aku mengeluar-masukkan kejantananku lebih bersemangat. Setiap kali aku mendorong batang kejantananku ke liang senggamanya, badan tante membentur dinding.
Sambil memeluk tubuhku dan berciuman, dia berkata, “Son.., Tante mo keluar nich..!”
Lalu bibir vaginanya diperkecil dan memijat batang penisku. Kami keluar bersamaan, aku masih bisa juga keluar walaupun tadi sudah keluar dua kali. Dan yang kali ini sama enaknya dengan yang sebelumnya.
“Sony.., kamu benar-benar hebat… kamu lulus Sayang..!” katanya sambil memeluk dan mencium bibirku.
Terus kami berdua mandi untuk membersihkan badan kami.
Nah.., mulai sejak itu, aku menjadi seorang gigolo yang kerjanya hanya memuaskan cewek-cewek kaya yang butuh kepuasan.
Tamat
Lihat Koleksi Bugil Lengkap..
Boss Lajang
19.31, Posted by admin, No Comment
Ayohh tutup pintunya, bisik Liza, dengan terengah dan mendesah. Aku segera bergegas, menutup pintu dengan tangan kanan, sementara jemari tangan kiriku sibuk mencoba mengeluarkan dua lembar bulu bawah Liza dari rongga mulutku, sebagai hasil pemanasan berupa cunnilingus.
Gila juga. Kami bercumbu di kantor. Liza, tepatnya Ibu Liza Permatasari (nama samaran), yang oleh kalangan dekatnya dipanggil sebagai Sari, adalah bossku. Di kantor kecil ini lelaki cuma aku dan pesuruh. Satpam cukup dari pengelola kompleks ruko. Lima belas staf lainnya adalah cewek, lajang semua.
Malam telah merambat. Saat ini sudah pukul 20.45. Liza membatalkan kepulangannya.
“Kamu gila. Udah basah dan nikmat gini masa harus pulang. Belum tuntas nih”, katanya, ketika aku menggodanya, sambil memainkan clit-nya, dan berpura-pura mengingatkan bahwa hari sudah malam, kemacetan sudah berkurang.
Maka kalimat susulan yang terlontar dari mulut mungilnya adalah permintaan untuk menutup pintu. Artinya, sekalian mengunci pintu. Para staff sudah pulang. Office boy sudah pulang. Pintu front office di lantai bawah sudah dikunci. Lampu yang menyala cuma dikurangi.
Kini kuhampiri Liza (tanpa panggilan “Ibu”, karena ini acara intim, bukan dinas) yang masih mengangkangkan kedua kakinya di sofa dekat meja kerjanya. Pakaiannya masih utuh. Blazernya masih terpakai, tapi seluruh kancing blus sudah terbuka, dan bra pembungkus bukit kembar 36B sudah tidak menyangga isi, hanya menggantung di atas bukit. Rok mini sudah tersingkap paling atas, melingkar tergulung di pinggangnya.
Celana dalam? Oh, segitiga mungil berenda itu berada di lutut kanan Liza. Liza yang mengangkang, alangkah seksi-nya! Paha dan perut putih mulus itu melingkungi segitiga lebat keriting, yang memayungi labia majora dan minora merah basah. Basah karena lelehan kelenjar bertholin dari vaginanya, dan juga karena cairan salivaku. Clit-nya yang berdiameter 1 cm dan panjang 3 cm tampak mengeras. Inilah pesona lajang kesepian, seorang wanita karir berusia 35 tahun.
Mungkin ini peristiwa ke-15 dalam hubungan kami, yakni percumbuan di kantornya. Aku bisa bisa bilang begitu, karena seminggu dua kali kami petting, Rabu dan Jumat, dan hal itu sudah berlangsung hampir 3 bulan, tentu saja tersela oleh kalender palang merah, bukan?
Aku kembali membungkuk, atau mungkin bersila. Mulutku tanpa permisi langsung menyergap vagina segar dan clitoris menegang itu. Labianya kurentangkan dengan jari, lalu lidahku kutembuskan ke liang, bergerak kanan-kiri-atas-bawah, memutar-mutar.
“Auuwww…”, desah Liza tertahan. Aku semakin nakal. Satu jariku masuk ke liang, maju-mundur, berputar-putar. “Kamu gilaa…”, desahnya.
Itu tak cukup. Kini jempolku ganti masuk liang vaginanya, sementara ujung jempolku melesak ke lubang duburnya, yang sebelumnya sudah aku olesi dengan cairan vagina agar sedikit licin. “Gilaa!” teriaknya. Semoga satpam tak mendengar. Liza segera meraih kepalaku, untuk dia benamkan ke pusat kewanitaannya. Aku gelagapan, susah bernafas. Tapi dia tak peduli. Pinggulnya bergerak liar, agar vulva lajangnya bisa mengerjai seluruh mukaku. Akhirnya aku kehabisan nafas. “Lizaa aahh….”, desahku, sambil mundur menjauhkan kepala dan mukaku yang basah oleh hajaran vaginanya.
“Jangan panggil aku Liza. Saat ini aku bukan bossmu. Panggil aku Sari saja”, desisnya. Muka, leher, dan dadanya mulai berkilat oleh peluh. Ternyata AC tak mampu membendung keringat si lajang yang sedang direbus oleh birahi. Aku sendiri merasa gerah. Lalu aku raih remote control AC di meja, aku turunin suhunya. Sari terpejam-pejam, terengah-engah. Tidak seperti biasanya, kali ini dia belum orgasme oleh oral dan jariku. Selama ini kami bercumbu tanpa penetrasi penis. Setelah dia klimaks, biasanya giliranku untuk menguras muatanku, dengan mengocok sendiri, yang kemudian aku tumpahkan ke lembaran tissu yang aku ambil dari meja Sari.
“Terserah kamu, pokoknya aku mau puas total”, desah Sari, masih dengan mengangkang di sofa. Aku berdiri di depannya. Dengan terburu kulepas bajuku. Dasi sudah sejak tadi tercampakan ke karpet. Lalu kulepas pantalonku. Dengan kilat celana dalamku pun lepas. Tapi ah…, masih ada yang mengganjal. Maka sepatu pantofelku itu seperti aku tendangkan, tergeletak ke bawah mejanya. Kaos kakiku pun dengan segera terlepas, dan tercampak entah ke mana. Kini aku bugil di depanya dengan penis teracung ke atas. Liza melihat penisku terus. Selama ini dia hanya memandang. Belum pernah memegang. Maka ketika aku mengocok penisku pada setiap akhir percumbuan dia seperti menikmati pria telanjang dari jarak dekat.
Sebuah pemandangan yang kontras. Aku sudah bugil, dia masih tergolek mengangkang di sofa dengan pakaian yang lengkap, meski acak-acakan. Aku semakin mendekatinya. Dia terbelalak, ketika sadar penisku sudah sekian cm dari mukanya. Sudah kepalang tanggung. Birahiku sudah mendidih. Sekian lama hanya menahan diri. Lantas kusorongkan penisku ke wajahnya, mengenai pipi. Lalu kena hidungnya, matanya, keningnya, lalu bibirnya yang kini terkatup rapat. “Sari, gantian dong”, bisikku meminta.
Dia buka sedikit mulutnya. Ujung penisku melesak masuk sekitar dua cm. Terasa mulut yang hangat. Ketika mulut ternganga sedikit, penisku kudorongkan. “Blep!” masuklah separuh penis ke mulut si cantik langsing yang mirip artis Yenny Farida di masa mudanya itu. Dengan cepat dia menyesuaikan diri agar tak tersedak. Lantas naluri kewanitaannya pun bekerja. Dia menjilati penisku. Mulanya dengan posisi menyamping, penisku terpalang horizontal di mulutnya, seperti sate yang akan disantap. Kemudian posisi menjulur, ’senjata terkokang’ itu dijilat dan dihisap seperti es lolly. Oh nikmat dan bahagianya.
Ternyata sambil melakukan jilatan di vaginanya, tangan kiri Sari mengusap-usap vaginanya sendiri. Ketika dia berhenti sejenak dalam meng-oral, jemari kiri yang mengkilat oleh cairan vagina itu dia hisap dan jilat. Begitu berulangkali. Akhirnya aku tidak tahan. Kalau menuruti nafsu, keinginku sih biar muncrat dan tumpah sekalian seluruh maniku ke mulut dan wajahnya. Akan tetapi dia kan belum puas. Kasihan.
Maka kucabut penisku dari genggaman tangan serta hisapan dan jilatan mulutnya. Tapi ah…, dua atau tiga tetes maniku telanjur keluar, langsung menetes di lidahnya. Dengan sigap dia tarik lidah itu, dan tampaknya dia mencicipi rasa benda yang baru dikenal dalam hidupnya, cairan sperma. Untunglah aku bisa menahan diri. Kucekik penisku dengan jempol dan telunjukku, agar mani tak membanjir, sekaligus agar batangku tetap ereksi.
Kami sama-sama mengambil nafas. Lantas kuhampiri Sari, kupeluk, kugendong, lalu kurebahkan di meja kerjanya yang luas. Dengan lembut dan pelan kuciumi lehernya, sementara tanganku melepas blazer, blus, dan branya. Payudara putih bersih nan kenyal, dengan puting kemerahan yang mengeras, alangkah indahnya. Kucium dan jilati kedua bukit itu berikut puncaknya. Kunikmati aroma khas yang memancar dari lipatan bawah payudaranya agak kecut tapi merangsang.
Bossku itu seolah tak merasakan kerasnya meja kerjanya yang berkaca. Dia terus merem-melek, meleguh, terengah, mendesis. Apalagi ketika aku menciumi dan menjilati ketiaknya yang licin bersih. Ketiak wangi yang mulai bercampur keringat. Oh.., indahnya. Oh…, merangsangnya. Sementara itu tangan kananku merenggut rok mini itu, sehingga dia kini telanjang bulat, sedikit kedinginan oleh semburan hawa AC. Kuraba vulva itu. Bulu kemaluan yang lebat, rimbun, dan hangat itu rupanya telah sedikit mengering oleh hembusan AC. Begitupun bibir vaginanya. Namun clitorisnya masih mengeras. Ketika kupijat lembut clitorisnya, Sari melenguh, “Aouhh…”
Kini mulutku menjelajahi pusar dan perutnya. Sari mengaduh-aduh. Tanganku mengambil buku telepon, kuganjalkan ke pantatnya. Dengan lidah terjulur kudekatkan mulutku ke vaginanya, tanpa menempel, lalu berhenti. Aku diam saja. Sari tak sabar. “Terlalu! Kamu terlalu. Ayoh aku udah kebelet nih”, dia seperti berteriak. Kedua tangannya merenggangkan vulva selebar-lebarnya, sementara kakinya mengangkang lurus menyamping seperti gadis plastik sirkus.
Aku melihat sebuah demonstrasi otot vagina yang dahsyat! Tangan Sari sudah tidak menjereng vaginanya. Tapi kakinya masih kangkang lurus menyamping. Astaga! Vagina itu bergerak-gerak, kembang kempis, menggembung mengerut. Dinding vagina nan merah seolah mau melotot keluar, untuk kemudian mengerut sehingga dinding merah mengkilat itu tersembunyi sebagian.
Sedangkan clitorisnya tetap mengeras seperti teracung, menagih jilatan. Aku jadi semakin gila. Kusosor vagina itu. Kumainkan mulut dan lidahku, menggarap bibir vagina dan clitoris. Kujejalkan lidahku ke liang hangat saat membuka diri. Wuhh…, banjir cairan vagina menyembur, aku jilati liang vaginanya yang merupakan sumber dari cairan itu. Rasanya asin. Aku ingin menguras cairan lajang yang 7 tahun lebih tua dariku itu. Kedua tanganku merentangkan kakinya, lalu aku meng-oral vaginanya habis-habisan. Akhirnya Sari berteriak tertahan, “Aku sampe puncak!”. Dia menjambak rambutku, membenamkan wajahku ke vaginanya, sehingga aku gelagapan dan hampir tersedak oleh banjirnya cairan vaginanya.
Aku pun kian bernafsu. Kugendong Sari, kupindahkan ke selembar karpet tambahan yang menyerupai bulu kambing, di atas karpet dasar, di pinggir sofa.
“Ibu Liz, Liza, Sari…, aku nggak tahan. Kalo aku memperkosa kamu gimana?”, tanyaku, menahan nafsu sambil berposisi seperti menindih, tapi tubuhku tak menempel di tubuhnya karena tanganku masih menyangga badanku.
“Nggak usah memperkosa segala. Malam ini kita bisa bersetubuh, sayang”, katanya sambil meraih bahuku.
Oh pucuk di cinta, vagina mendamba, clitoris menagih. Kucium keningnya, matanya, hidungnya. Tapi pantatku masih seperti mengambang di atas tubuhnya, sehingga penisku pun menggantung menganggur, belum menyentuh kewanitaannya. Akhirnya aku pun capai. Pantatku turun. Sari langsung mengangkang. Tapi ah, tidak, tidak. Aku mau main-main dulu. Ini kan persetubuhan pertama kami. Maka penisku kini cuma kugesek-gesekan ke bulu kemaluan, clitoris, dan vaginanya. Dia terpejam nikmat. “Gilaa, aku sukaa”, bisiknya. Lama-kelamaan kurasakan gesekan penisku seperti mengenai bidang licin. Rupanya cairan vaginanya belum habis, terus membanjir. Hilang sudah rasa permukaan bibir vagina yang merangsang penisku. Sementara gesekan bulu kemaluan pun semakin licin karena bulu superlebat yang membentuk segitiga, menyerupai celana dalam, itupun sudah basah.
Aku beringsut. Kuambil blus silk Sari. Kuusapkan ke vaginanya untuk mengeringkan cairan. Dia sendiri pun tak peduli blus bagus itu buat mengepel vagina. Kini vagina itu mengering. Aku menindihnya tapi masih bertumpu pada tangan kananku. Sementara tangan kiriku memegang penis, untuk dimainkan di vaginanya. Dia melenguh nikmat. Tapi lama-lama aku capai juga. Oh Sari yang cantik. Dia akhirnya punya inisiatif. Dibiarkannya aku menindihnya, tapi kini giliran tangannya yang memegang penisku.
“Pakai buat masturbasi Liza Sari sayang”, bisikku.
Wow! Nikmatnya penis dipegang jemari lentik dan dipakai untuk onani vagina. Aku merasa terbang menumpang concorde. Hampir tak ingat apa-apa, ketika tiba-tiba kurasakan “Blessszzhh…” Penisku sudahg masuk. Lancar sekali, meski dalam jepitan, karena vaginanya memang licin.
“Kamu pikir aku tahan? Nggak. Aku udah birahi banget. Lima tahun nggak bersetubuh setelah putus pacaran. Tiga bulan cuma petting. Sekarang kepalang basah. Kita bersetubuh saja”, bisiknya.
Kubenamkan penisku dalam vagina yang menjepit itu. Aku diam saja. Pinggul Sari di bawah berputar-putar, naik turun, maju mundur, geser kanan-kiri. Aku merasa termanjakan. Sampai akhirnya kurasakan maniku mulai mendidih, seperti ruap soda dalam botol yang dikocok. Aku beringas. Kupompa vaginanya dengan penisku. Kutekan selangkangannya dengan bagian bawah tubuhku. Kuputar pinggulku.
“Sari, kita hitung yuk. Kita hitung sampe 10 lalu puncak bareng ya?”, bisikku.
“Sepuluh, seratus, seribu, sama saja. Aku sudah memasuki pintu klimaks…”
“Satu, dua, tigaa…”, aku menghitung.
“Empaattt, Limaa burung, enam spermaa….”, lanjutnya dengan terengah.
“Tujuh itil, delapan jembut….”, aku menimpali.
“Sembilann… Auwwwwww! Aku climaks! Gila! Mana manimu! Ayo dong cepetan! Udah lima tahun vaginaku nganggur nggak ngerasain sosokan burung dan semprotan mani!”.
Inilah keajaiban. Tiba-tiba maniku seperti tertahan, tapi penisku kian mengeras, sampai kulit penis ini agak perih, mungkin lecet sedikit. Kupompa vagina Sari dalam orgasmenya. Kurasakan vaginanya menyempit sementara cairan hangat kurasakan menyembur dari celah liang yang terjejali oleh penis. Terdengar suara “prepettt…” Aku tidak tahu, cairan ini dari vagina atau dari lubang kencingnya.
Akhirnya, tubuhnya mengejang. Matanya terbelalak, lalu terpejam, dan dia pun memelukku erat. Kudengar isak tertahan. “Aku nikmat. Aku lega. Aku bahagia”, bisiknya. Air mata membasahi kelopaknya. Kucabut penisku. Masih tegang. Aku juga ingin orgasme. Tapi aku kasihan kalau harus menyetubuhi dia terus. Pasti vaginanya capai. Atau malah lecet. Karena barusan tadi kurasakan bulu kemaluan ikut masuk ke liangnya, bersama penisku. Mungkin bulu kemaluannya. Karena setiap kali kami bercumbu, bulu kemaluannya banyak yang rontok.
Aku berdiri di sampingnya. Kukocok penisku. Pelan, pelan, lalu cepat, cepat, cepat, akhirnya ah…, tak tahan. Aku pejamkan mataku, sambil mengocok penis. “Blap!” kurasakan penisku masuk lubang, yang ada giginya. Ya! Kubuka mataku. Penisku masuk ke mulutnya. Kulepaskan genggamanku. Dia sudah bersimpuh di depanku, mengulum penis, tangannya mulai mengocok penisku, terkadang lidahnya menjilati.
“Awas Sari, nanti muncrat ke mulut lho!”, aku memperingatkan.
“Biarin. Ini untuk pertama kalinya aku minum isi burung”, katanya menantang.
“Oh ya?”, tanyaku.
“Iya. Ayo, kuras manimu, pejantanku!”, ajaknya.
Kini aku kocok sendiri penisku. Ketika titik didih sudah mendekat, genggamanku aku lepas. Tangan Sari segera menyambar. Dengan lima kocokan maniku pun muncrat. Crat! Crat! Crat! Craatt! Mulutnya telat mengantisipasi, mungkin karena belum pengalaman. Dalam sepersekian detik maniku menyembur pipinya, hidungnya, keningnya, lehernya, lalu, “Slep!”, penisku masuk ke mulutnya dengan mani terus membanjir. Dalam kulumannya penisku terus dia kocok. Lama-lama aku gemetar dalam lautan nikmat. Aku terduduk. Penisku tercabut dari mulutnya. Kulihat si cantik ini mukanya berlepotan cairan putih kental. Bibirnya berleleran sperma. Dia belum terampil menelan semua sperma, sehingga ada sisa yang tumpah keluar. Yang pasti dia tampak semakin cantik. Mungkin aku pun jadi mencintainya.
“Terima kasih bossku sayang. Ini bukan yang terakhir kan?”, tanyaku sambil mengusap rambutnya.
“Tentu…, Kamu mau sama aku meski aku lebih tua?”, jawabnya dengan mesra.
“Iya. Aku menyayangimu. Aku pingin mengeksplorasi semua pesona kewanitaanmu”, kataku.
“Masih banyak waktu. Lain kali kamu ke studio apartemenku. Apa yang akan kamu lakukan kepadaku Sabtu malam besok?”.
“Aku ingin mencoba anusmu, bossku sayang…”
Aduh! Diam mencubit lenganku, lalu pahaku, lalu penisku.
“Sakittttt boss!” kataku.
Dia tak mempedulikan. Setelah cubitannya lepas, dia pun bangkit, lalu membungkuk dengan menghadapkan pantat ke wajahku, yang masih terduduk di karpet dengan kaki terjulur, sambil kedua tanganku menyangga tubuhku. Jemarinya merentang anus yang merah dan dikitari bulu halus lurus yang panjang.
“Anusku masih perawan. Boleh juga sih kita coba Sabtu besok”, katanya.
Tiba-tiba pemandangan gelap. Kurasakan bau aneh, khas, tapi sedap. Astaga! Anus yang terentang jari itu sudah menempel ke hidungku. Awas, anus itu nanti menerima pembalasanku, dengan elusan penis dan tetesan maniku, sementara jariku bermain di clitoris dan vulvanya. Tunggu saatnya tiba, boss cantikku!
Tamat
Lihat Koleksi Bugil Lengkap..
Gila juga. Kami bercumbu di kantor. Liza, tepatnya Ibu Liza Permatasari (nama samaran), yang oleh kalangan dekatnya dipanggil sebagai Sari, adalah bossku. Di kantor kecil ini lelaki cuma aku dan pesuruh. Satpam cukup dari pengelola kompleks ruko. Lima belas staf lainnya adalah cewek, lajang semua.
Malam telah merambat. Saat ini sudah pukul 20.45. Liza membatalkan kepulangannya.
“Kamu gila. Udah basah dan nikmat gini masa harus pulang. Belum tuntas nih”, katanya, ketika aku menggodanya, sambil memainkan clit-nya, dan berpura-pura mengingatkan bahwa hari sudah malam, kemacetan sudah berkurang.
Maka kalimat susulan yang terlontar dari mulut mungilnya adalah permintaan untuk menutup pintu. Artinya, sekalian mengunci pintu. Para staff sudah pulang. Office boy sudah pulang. Pintu front office di lantai bawah sudah dikunci. Lampu yang menyala cuma dikurangi.
Kini kuhampiri Liza (tanpa panggilan “Ibu”, karena ini acara intim, bukan dinas) yang masih mengangkangkan kedua kakinya di sofa dekat meja kerjanya. Pakaiannya masih utuh. Blazernya masih terpakai, tapi seluruh kancing blus sudah terbuka, dan bra pembungkus bukit kembar 36B sudah tidak menyangga isi, hanya menggantung di atas bukit. Rok mini sudah tersingkap paling atas, melingkar tergulung di pinggangnya.
Celana dalam? Oh, segitiga mungil berenda itu berada di lutut kanan Liza. Liza yang mengangkang, alangkah seksi-nya! Paha dan perut putih mulus itu melingkungi segitiga lebat keriting, yang memayungi labia majora dan minora merah basah. Basah karena lelehan kelenjar bertholin dari vaginanya, dan juga karena cairan salivaku. Clit-nya yang berdiameter 1 cm dan panjang 3 cm tampak mengeras. Inilah pesona lajang kesepian, seorang wanita karir berusia 35 tahun.
Mungkin ini peristiwa ke-15 dalam hubungan kami, yakni percumbuan di kantornya. Aku bisa bisa bilang begitu, karena seminggu dua kali kami petting, Rabu dan Jumat, dan hal itu sudah berlangsung hampir 3 bulan, tentu saja tersela oleh kalender palang merah, bukan?
Aku kembali membungkuk, atau mungkin bersila. Mulutku tanpa permisi langsung menyergap vagina segar dan clitoris menegang itu. Labianya kurentangkan dengan jari, lalu lidahku kutembuskan ke liang, bergerak kanan-kiri-atas-bawah, memutar-mutar.
“Auuwww…”, desah Liza tertahan. Aku semakin nakal. Satu jariku masuk ke liang, maju-mundur, berputar-putar. “Kamu gilaa…”, desahnya.
Itu tak cukup. Kini jempolku ganti masuk liang vaginanya, sementara ujung jempolku melesak ke lubang duburnya, yang sebelumnya sudah aku olesi dengan cairan vagina agar sedikit licin. “Gilaa!” teriaknya. Semoga satpam tak mendengar. Liza segera meraih kepalaku, untuk dia benamkan ke pusat kewanitaannya. Aku gelagapan, susah bernafas. Tapi dia tak peduli. Pinggulnya bergerak liar, agar vulva lajangnya bisa mengerjai seluruh mukaku. Akhirnya aku kehabisan nafas. “Lizaa aahh….”, desahku, sambil mundur menjauhkan kepala dan mukaku yang basah oleh hajaran vaginanya.
“Jangan panggil aku Liza. Saat ini aku bukan bossmu. Panggil aku Sari saja”, desisnya. Muka, leher, dan dadanya mulai berkilat oleh peluh. Ternyata AC tak mampu membendung keringat si lajang yang sedang direbus oleh birahi. Aku sendiri merasa gerah. Lalu aku raih remote control AC di meja, aku turunin suhunya. Sari terpejam-pejam, terengah-engah. Tidak seperti biasanya, kali ini dia belum orgasme oleh oral dan jariku. Selama ini kami bercumbu tanpa penetrasi penis. Setelah dia klimaks, biasanya giliranku untuk menguras muatanku, dengan mengocok sendiri, yang kemudian aku tumpahkan ke lembaran tissu yang aku ambil dari meja Sari.
“Terserah kamu, pokoknya aku mau puas total”, desah Sari, masih dengan mengangkang di sofa. Aku berdiri di depannya. Dengan terburu kulepas bajuku. Dasi sudah sejak tadi tercampakan ke karpet. Lalu kulepas pantalonku. Dengan kilat celana dalamku pun lepas. Tapi ah…, masih ada yang mengganjal. Maka sepatu pantofelku itu seperti aku tendangkan, tergeletak ke bawah mejanya. Kaos kakiku pun dengan segera terlepas, dan tercampak entah ke mana. Kini aku bugil di depanya dengan penis teracung ke atas. Liza melihat penisku terus. Selama ini dia hanya memandang. Belum pernah memegang. Maka ketika aku mengocok penisku pada setiap akhir percumbuan dia seperti menikmati pria telanjang dari jarak dekat.
Sebuah pemandangan yang kontras. Aku sudah bugil, dia masih tergolek mengangkang di sofa dengan pakaian yang lengkap, meski acak-acakan. Aku semakin mendekatinya. Dia terbelalak, ketika sadar penisku sudah sekian cm dari mukanya. Sudah kepalang tanggung. Birahiku sudah mendidih. Sekian lama hanya menahan diri. Lantas kusorongkan penisku ke wajahnya, mengenai pipi. Lalu kena hidungnya, matanya, keningnya, lalu bibirnya yang kini terkatup rapat. “Sari, gantian dong”, bisikku meminta.
Dia buka sedikit mulutnya. Ujung penisku melesak masuk sekitar dua cm. Terasa mulut yang hangat. Ketika mulut ternganga sedikit, penisku kudorongkan. “Blep!” masuklah separuh penis ke mulut si cantik langsing yang mirip artis Yenny Farida di masa mudanya itu. Dengan cepat dia menyesuaikan diri agar tak tersedak. Lantas naluri kewanitaannya pun bekerja. Dia menjilati penisku. Mulanya dengan posisi menyamping, penisku terpalang horizontal di mulutnya, seperti sate yang akan disantap. Kemudian posisi menjulur, ’senjata terkokang’ itu dijilat dan dihisap seperti es lolly. Oh nikmat dan bahagianya.
Ternyata sambil melakukan jilatan di vaginanya, tangan kiri Sari mengusap-usap vaginanya sendiri. Ketika dia berhenti sejenak dalam meng-oral, jemari kiri yang mengkilat oleh cairan vagina itu dia hisap dan jilat. Begitu berulangkali. Akhirnya aku tidak tahan. Kalau menuruti nafsu, keinginku sih biar muncrat dan tumpah sekalian seluruh maniku ke mulut dan wajahnya. Akan tetapi dia kan belum puas. Kasihan.
Maka kucabut penisku dari genggaman tangan serta hisapan dan jilatan mulutnya. Tapi ah…, dua atau tiga tetes maniku telanjur keluar, langsung menetes di lidahnya. Dengan sigap dia tarik lidah itu, dan tampaknya dia mencicipi rasa benda yang baru dikenal dalam hidupnya, cairan sperma. Untunglah aku bisa menahan diri. Kucekik penisku dengan jempol dan telunjukku, agar mani tak membanjir, sekaligus agar batangku tetap ereksi.
Kami sama-sama mengambil nafas. Lantas kuhampiri Sari, kupeluk, kugendong, lalu kurebahkan di meja kerjanya yang luas. Dengan lembut dan pelan kuciumi lehernya, sementara tanganku melepas blazer, blus, dan branya. Payudara putih bersih nan kenyal, dengan puting kemerahan yang mengeras, alangkah indahnya. Kucium dan jilati kedua bukit itu berikut puncaknya. Kunikmati aroma khas yang memancar dari lipatan bawah payudaranya agak kecut tapi merangsang.
Bossku itu seolah tak merasakan kerasnya meja kerjanya yang berkaca. Dia terus merem-melek, meleguh, terengah, mendesis. Apalagi ketika aku menciumi dan menjilati ketiaknya yang licin bersih. Ketiak wangi yang mulai bercampur keringat. Oh.., indahnya. Oh…, merangsangnya. Sementara itu tangan kananku merenggut rok mini itu, sehingga dia kini telanjang bulat, sedikit kedinginan oleh semburan hawa AC. Kuraba vulva itu. Bulu kemaluan yang lebat, rimbun, dan hangat itu rupanya telah sedikit mengering oleh hembusan AC. Begitupun bibir vaginanya. Namun clitorisnya masih mengeras. Ketika kupijat lembut clitorisnya, Sari melenguh, “Aouhh…”
Kini mulutku menjelajahi pusar dan perutnya. Sari mengaduh-aduh. Tanganku mengambil buku telepon, kuganjalkan ke pantatnya. Dengan lidah terjulur kudekatkan mulutku ke vaginanya, tanpa menempel, lalu berhenti. Aku diam saja. Sari tak sabar. “Terlalu! Kamu terlalu. Ayoh aku udah kebelet nih”, dia seperti berteriak. Kedua tangannya merenggangkan vulva selebar-lebarnya, sementara kakinya mengangkang lurus menyamping seperti gadis plastik sirkus.
Aku melihat sebuah demonstrasi otot vagina yang dahsyat! Tangan Sari sudah tidak menjereng vaginanya. Tapi kakinya masih kangkang lurus menyamping. Astaga! Vagina itu bergerak-gerak, kembang kempis, menggembung mengerut. Dinding vagina nan merah seolah mau melotot keluar, untuk kemudian mengerut sehingga dinding merah mengkilat itu tersembunyi sebagian.
Sedangkan clitorisnya tetap mengeras seperti teracung, menagih jilatan. Aku jadi semakin gila. Kusosor vagina itu. Kumainkan mulut dan lidahku, menggarap bibir vagina dan clitoris. Kujejalkan lidahku ke liang hangat saat membuka diri. Wuhh…, banjir cairan vagina menyembur, aku jilati liang vaginanya yang merupakan sumber dari cairan itu. Rasanya asin. Aku ingin menguras cairan lajang yang 7 tahun lebih tua dariku itu. Kedua tanganku merentangkan kakinya, lalu aku meng-oral vaginanya habis-habisan. Akhirnya Sari berteriak tertahan, “Aku sampe puncak!”. Dia menjambak rambutku, membenamkan wajahku ke vaginanya, sehingga aku gelagapan dan hampir tersedak oleh banjirnya cairan vaginanya.
Aku pun kian bernafsu. Kugendong Sari, kupindahkan ke selembar karpet tambahan yang menyerupai bulu kambing, di atas karpet dasar, di pinggir sofa.
“Ibu Liz, Liza, Sari…, aku nggak tahan. Kalo aku memperkosa kamu gimana?”, tanyaku, menahan nafsu sambil berposisi seperti menindih, tapi tubuhku tak menempel di tubuhnya karena tanganku masih menyangga badanku.
“Nggak usah memperkosa segala. Malam ini kita bisa bersetubuh, sayang”, katanya sambil meraih bahuku.
Oh pucuk di cinta, vagina mendamba, clitoris menagih. Kucium keningnya, matanya, hidungnya. Tapi pantatku masih seperti mengambang di atas tubuhnya, sehingga penisku pun menggantung menganggur, belum menyentuh kewanitaannya. Akhirnya aku pun capai. Pantatku turun. Sari langsung mengangkang. Tapi ah, tidak, tidak. Aku mau main-main dulu. Ini kan persetubuhan pertama kami. Maka penisku kini cuma kugesek-gesekan ke bulu kemaluan, clitoris, dan vaginanya. Dia terpejam nikmat. “Gilaa, aku sukaa”, bisiknya. Lama-kelamaan kurasakan gesekan penisku seperti mengenai bidang licin. Rupanya cairan vaginanya belum habis, terus membanjir. Hilang sudah rasa permukaan bibir vagina yang merangsang penisku. Sementara gesekan bulu kemaluan pun semakin licin karena bulu superlebat yang membentuk segitiga, menyerupai celana dalam, itupun sudah basah.
Aku beringsut. Kuambil blus silk Sari. Kuusapkan ke vaginanya untuk mengeringkan cairan. Dia sendiri pun tak peduli blus bagus itu buat mengepel vagina. Kini vagina itu mengering. Aku menindihnya tapi masih bertumpu pada tangan kananku. Sementara tangan kiriku memegang penis, untuk dimainkan di vaginanya. Dia melenguh nikmat. Tapi lama-lama aku capai juga. Oh Sari yang cantik. Dia akhirnya punya inisiatif. Dibiarkannya aku menindihnya, tapi kini giliran tangannya yang memegang penisku.
“Pakai buat masturbasi Liza Sari sayang”, bisikku.
Wow! Nikmatnya penis dipegang jemari lentik dan dipakai untuk onani vagina. Aku merasa terbang menumpang concorde. Hampir tak ingat apa-apa, ketika tiba-tiba kurasakan “Blessszzhh…” Penisku sudahg masuk. Lancar sekali, meski dalam jepitan, karena vaginanya memang licin.
“Kamu pikir aku tahan? Nggak. Aku udah birahi banget. Lima tahun nggak bersetubuh setelah putus pacaran. Tiga bulan cuma petting. Sekarang kepalang basah. Kita bersetubuh saja”, bisiknya.
Kubenamkan penisku dalam vagina yang menjepit itu. Aku diam saja. Pinggul Sari di bawah berputar-putar, naik turun, maju mundur, geser kanan-kiri. Aku merasa termanjakan. Sampai akhirnya kurasakan maniku mulai mendidih, seperti ruap soda dalam botol yang dikocok. Aku beringas. Kupompa vaginanya dengan penisku. Kutekan selangkangannya dengan bagian bawah tubuhku. Kuputar pinggulku.
“Sari, kita hitung yuk. Kita hitung sampe 10 lalu puncak bareng ya?”, bisikku.
“Sepuluh, seratus, seribu, sama saja. Aku sudah memasuki pintu klimaks…”
“Satu, dua, tigaa…”, aku menghitung.
“Empaattt, Limaa burung, enam spermaa….”, lanjutnya dengan terengah.
“Tujuh itil, delapan jembut….”, aku menimpali.
“Sembilann… Auwwwwww! Aku climaks! Gila! Mana manimu! Ayo dong cepetan! Udah lima tahun vaginaku nganggur nggak ngerasain sosokan burung dan semprotan mani!”.
Inilah keajaiban. Tiba-tiba maniku seperti tertahan, tapi penisku kian mengeras, sampai kulit penis ini agak perih, mungkin lecet sedikit. Kupompa vagina Sari dalam orgasmenya. Kurasakan vaginanya menyempit sementara cairan hangat kurasakan menyembur dari celah liang yang terjejali oleh penis. Terdengar suara “prepettt…” Aku tidak tahu, cairan ini dari vagina atau dari lubang kencingnya.
Akhirnya, tubuhnya mengejang. Matanya terbelalak, lalu terpejam, dan dia pun memelukku erat. Kudengar isak tertahan. “Aku nikmat. Aku lega. Aku bahagia”, bisiknya. Air mata membasahi kelopaknya. Kucabut penisku. Masih tegang. Aku juga ingin orgasme. Tapi aku kasihan kalau harus menyetubuhi dia terus. Pasti vaginanya capai. Atau malah lecet. Karena barusan tadi kurasakan bulu kemaluan ikut masuk ke liangnya, bersama penisku. Mungkin bulu kemaluannya. Karena setiap kali kami bercumbu, bulu kemaluannya banyak yang rontok.
Aku berdiri di sampingnya. Kukocok penisku. Pelan, pelan, lalu cepat, cepat, cepat, akhirnya ah…, tak tahan. Aku pejamkan mataku, sambil mengocok penis. “Blap!” kurasakan penisku masuk lubang, yang ada giginya. Ya! Kubuka mataku. Penisku masuk ke mulutnya. Kulepaskan genggamanku. Dia sudah bersimpuh di depanku, mengulum penis, tangannya mulai mengocok penisku, terkadang lidahnya menjilati.
“Awas Sari, nanti muncrat ke mulut lho!”, aku memperingatkan.
“Biarin. Ini untuk pertama kalinya aku minum isi burung”, katanya menantang.
“Oh ya?”, tanyaku.
“Iya. Ayo, kuras manimu, pejantanku!”, ajaknya.
Kini aku kocok sendiri penisku. Ketika titik didih sudah mendekat, genggamanku aku lepas. Tangan Sari segera menyambar. Dengan lima kocokan maniku pun muncrat. Crat! Crat! Crat! Craatt! Mulutnya telat mengantisipasi, mungkin karena belum pengalaman. Dalam sepersekian detik maniku menyembur pipinya, hidungnya, keningnya, lehernya, lalu, “Slep!”, penisku masuk ke mulutnya dengan mani terus membanjir. Dalam kulumannya penisku terus dia kocok. Lama-lama aku gemetar dalam lautan nikmat. Aku terduduk. Penisku tercabut dari mulutnya. Kulihat si cantik ini mukanya berlepotan cairan putih kental. Bibirnya berleleran sperma. Dia belum terampil menelan semua sperma, sehingga ada sisa yang tumpah keluar. Yang pasti dia tampak semakin cantik. Mungkin aku pun jadi mencintainya.
“Terima kasih bossku sayang. Ini bukan yang terakhir kan?”, tanyaku sambil mengusap rambutnya.
“Tentu…, Kamu mau sama aku meski aku lebih tua?”, jawabnya dengan mesra.
“Iya. Aku menyayangimu. Aku pingin mengeksplorasi semua pesona kewanitaanmu”, kataku.
“Masih banyak waktu. Lain kali kamu ke studio apartemenku. Apa yang akan kamu lakukan kepadaku Sabtu malam besok?”.
“Aku ingin mencoba anusmu, bossku sayang…”
Aduh! Diam mencubit lenganku, lalu pahaku, lalu penisku.
“Sakittttt boss!” kataku.
Dia tak mempedulikan. Setelah cubitannya lepas, dia pun bangkit, lalu membungkuk dengan menghadapkan pantat ke wajahku, yang masih terduduk di karpet dengan kaki terjulur, sambil kedua tanganku menyangga tubuhku. Jemarinya merentang anus yang merah dan dikitari bulu halus lurus yang panjang.
“Anusku masih perawan. Boleh juga sih kita coba Sabtu besok”, katanya.
Tiba-tiba pemandangan gelap. Kurasakan bau aneh, khas, tapi sedap. Astaga! Anus yang terentang jari itu sudah menempel ke hidungku. Awas, anus itu nanti menerima pembalasanku, dengan elusan penis dan tetesan maniku, sementara jariku bermain di clitoris dan vulvanya. Tunggu saatnya tiba, boss cantikku!
Tamat
Lihat Koleksi Bugil Lengkap..
Tante Vida yang Sintal
19.20, Posted by admin, No Comment
Nama saya Dodi. Sekarang saya masih kuliah di Universitas dan Fakultas paling favorit di Yogyakarta. Saya ingin menceritakan pengalaman saya pertama kali berkenalan dengan permainan seks yang mungkin membuat saya sekarang haus akan seks.
Waktu itu saya masih sekolah di salah satu SMP favorit di Yogyakarta. Hari itu saya sakit sehingga saya tidak bisa berangkat sekolah, setelah surat ijin saya titipkan ke teman terus saya pulang. Ketika sampai di rumah Papa dan Mama sudah pergi ke kantor dan Mama pesan supaya saya istirahat saja di rumah dan Mama sudah memanggil Tante Vida untuk menjaga saya. Tante Vida waktu itu masih sekolah di sekolah perawat. Sehabis minum obat, mata saya terasa mengantuk. Ketika mau terlelap Tante Vida mengetuk kamarku.
Dia bilang, “Dod, sudah tidur?”
Saya jawab dari dalam, “Belum, tante!”
Tante Vida bertanya, “Kalau belum boleh tante masuk.”
Terus saya bukakan pintu, waktu itu saya sempat kaget juga melihat Tante Vida. Dia baru saja pulang dari aerobik, masih dengan pakaian senam dia masuk ke kamar. Walau masih SMP kelas 2 lihat Tante Vida dengan pakaian gitu merasa keder juga. Payudaranya yang montok seperti tak kuasa pakaian senam itu menahannya. Kemudian dia duduk di samping. Dia bilang, “Dod, kamu mau saya ajari permainan nggak Dod?” Tanpa pikir panjang, saya jawab, “Mau tante, tapi permainan apa lha wong Dodi baru sakit gini kok!”
Tante Vida berkata, “Namanya permainan kenikmatan, tapi mainnya harus di kamar mandi. Yuk” Sambil Tante Vida menggandeng tanganku masuk ke kamar mandi saya. Saya sih mau-mau saja. Kemudian mulai dia melorotkan celana saya sambil berkata, “Wah, burungmu untuk anak SMP tergolong besar Dod.” Tante Vida terkagum-kagum. Waktu itu saya cuma cengengesan saja, lha wong hati saya deg-degan sekali waktu itu.
Terus dia mulai membasahi kemaluan saya dengan air, kemudian dia beri shampo, terus digosok. Lama-lama saya merasa kemaluan saya semakin lama semakin keras. Setelah terasa kemudian dia melucuti pakaiannya satu demi satu. Ya, tuhan ternyata tubuhnya sintal banget. Payudaranya yang montok, dengan pentil yang tegang, pantat yang berisi dan sintal kemudian vaginanya yang merah muda dengan rambut kemaluan yang lebat. Kemudian dia berjongkok, setelah itu dia mengulum penis saya, dadanya yang montok ikut bergoyang. Dada dan nafasku semakin memburu. Saya cuma bisa memejamkan mata, aduh nikmatnya yang namanya permainan seks. Kemudian, saya nggak tahu tiba-tiba saja naluri saya bergerak. Tangan saya mulai meremas-remas dadanya, sementara tangan saya yang satu turun mencari liang vaginanya. Kemudian saya masukkkan jari saya, dia meritih, “Akhh, Dodi!” Saya semakin panas, saya kulum bibirnya yang ranum, saya nggak peduli lagi. Setelah bibir, kemudian turun saya ciumi leher dan akhir saya kulum punting susunya. Dia semakin merintih, “Aakhh, Dodi terus Dod!” Saya nggak tahu berapa lama kami di kamar mandi, terus tahu-tahu dia sudah di atas saya. “Dodi sekarang tante kasih akhir permaianan yang manis, ya?” Dia meraih kemaluan saya yang sudah tegang sekali waktu itu. Kemudian dimasukkan ke dalam vaginanya. Kami berdua sama-sama merintih, “Akhh! Lagi tante… lagi tanteee.” Terus dia mulai naik turun, sampai saya merasa ada yang meletus dari penis saya dan kami sama-sama lemas. Setelah itu kami mandi bersama-sama. Waktu mandi pun kami sempat mengulangi beberapa kali.
Setelah itu kami berdua sama-sama ketagihan. Kami bermain mulai dari kamar saya, pernah di sebuah hotel di kaliurang malah pernah cuma di dalam mobil. Rata-rata dalam satu minggu kami bisa 2-3 kali bermain dan pasti berakhir dengan kepuasan karena Tante Vida pintar membuat variasi permainan sehingga kami tidak bosan. Setelah Tante Vida menikah saya jadi kesepian. Kadang kalau baru kepingin saya cuma bisa dengan pacar saya, Nanda. Untung kami sama-sama tegangan tinggi, tapi dari segi kepuasan saya kurang puas mungkin karena saya sudah jadi “*********” atau mungkin Tante Vida yang begitu mahirnya sehingga bisa mengimbangi apa yang saya mau. Nah, buat cewek-cewek atau tante-tante bermukim di Yogya yang sama-sama tegangan tinggi, kapan-kapan kita bisa saling berkenalan dan berhubungan. Mungkin kita bisa bermain seperti Tante Vida.
Tamat
Lihat Koleksi Bugil Lengkap..
Waktu itu saya masih sekolah di salah satu SMP favorit di Yogyakarta. Hari itu saya sakit sehingga saya tidak bisa berangkat sekolah, setelah surat ijin saya titipkan ke teman terus saya pulang. Ketika sampai di rumah Papa dan Mama sudah pergi ke kantor dan Mama pesan supaya saya istirahat saja di rumah dan Mama sudah memanggil Tante Vida untuk menjaga saya. Tante Vida waktu itu masih sekolah di sekolah perawat. Sehabis minum obat, mata saya terasa mengantuk. Ketika mau terlelap Tante Vida mengetuk kamarku.
Dia bilang, “Dod, sudah tidur?”
Saya jawab dari dalam, “Belum, tante!”
Tante Vida bertanya, “Kalau belum boleh tante masuk.”
Terus saya bukakan pintu, waktu itu saya sempat kaget juga melihat Tante Vida. Dia baru saja pulang dari aerobik, masih dengan pakaian senam dia masuk ke kamar. Walau masih SMP kelas 2 lihat Tante Vida dengan pakaian gitu merasa keder juga. Payudaranya yang montok seperti tak kuasa pakaian senam itu menahannya. Kemudian dia duduk di samping. Dia bilang, “Dod, kamu mau saya ajari permainan nggak Dod?” Tanpa pikir panjang, saya jawab, “Mau tante, tapi permainan apa lha wong Dodi baru sakit gini kok!”
Tante Vida berkata, “Namanya permainan kenikmatan, tapi mainnya harus di kamar mandi. Yuk” Sambil Tante Vida menggandeng tanganku masuk ke kamar mandi saya. Saya sih mau-mau saja. Kemudian mulai dia melorotkan celana saya sambil berkata, “Wah, burungmu untuk anak SMP tergolong besar Dod.” Tante Vida terkagum-kagum. Waktu itu saya cuma cengengesan saja, lha wong hati saya deg-degan sekali waktu itu.
Terus dia mulai membasahi kemaluan saya dengan air, kemudian dia beri shampo, terus digosok. Lama-lama saya merasa kemaluan saya semakin lama semakin keras. Setelah terasa kemudian dia melucuti pakaiannya satu demi satu. Ya, tuhan ternyata tubuhnya sintal banget. Payudaranya yang montok, dengan pentil yang tegang, pantat yang berisi dan sintal kemudian vaginanya yang merah muda dengan rambut kemaluan yang lebat. Kemudian dia berjongkok, setelah itu dia mengulum penis saya, dadanya yang montok ikut bergoyang. Dada dan nafasku semakin memburu. Saya cuma bisa memejamkan mata, aduh nikmatnya yang namanya permainan seks. Kemudian, saya nggak tahu tiba-tiba saja naluri saya bergerak. Tangan saya mulai meremas-remas dadanya, sementara tangan saya yang satu turun mencari liang vaginanya. Kemudian saya masukkkan jari saya, dia meritih, “Akhh, Dodi!” Saya semakin panas, saya kulum bibirnya yang ranum, saya nggak peduli lagi. Setelah bibir, kemudian turun saya ciumi leher dan akhir saya kulum punting susunya. Dia semakin merintih, “Aakhh, Dodi terus Dod!” Saya nggak tahu berapa lama kami di kamar mandi, terus tahu-tahu dia sudah di atas saya. “Dodi sekarang tante kasih akhir permaianan yang manis, ya?” Dia meraih kemaluan saya yang sudah tegang sekali waktu itu. Kemudian dimasukkan ke dalam vaginanya. Kami berdua sama-sama merintih, “Akhh! Lagi tante… lagi tanteee.” Terus dia mulai naik turun, sampai saya merasa ada yang meletus dari penis saya dan kami sama-sama lemas. Setelah itu kami mandi bersama-sama. Waktu mandi pun kami sempat mengulangi beberapa kali.
Setelah itu kami berdua sama-sama ketagihan. Kami bermain mulai dari kamar saya, pernah di sebuah hotel di kaliurang malah pernah cuma di dalam mobil. Rata-rata dalam satu minggu kami bisa 2-3 kali bermain dan pasti berakhir dengan kepuasan karena Tante Vida pintar membuat variasi permainan sehingga kami tidak bosan. Setelah Tante Vida menikah saya jadi kesepian. Kadang kalau baru kepingin saya cuma bisa dengan pacar saya, Nanda. Untung kami sama-sama tegangan tinggi, tapi dari segi kepuasan saya kurang puas mungkin karena saya sudah jadi “*********” atau mungkin Tante Vida yang begitu mahirnya sehingga bisa mengimbangi apa yang saya mau. Nah, buat cewek-cewek atau tante-tante bermukim di Yogya yang sama-sama tegangan tinggi, kapan-kapan kita bisa saling berkenalan dan berhubungan. Mungkin kita bisa bermain seperti Tante Vida.
Tamat
Lihat Koleksi Bugil Lengkap..