Waktu sudah larut malam saat Wiwin dan Anisya pulang jalan-jalan dari sebuah mall di kota Bandung, kota tempat mereka menuntut ilmu pada sebuah PTN terkemuka. Saat itu kampus mereka sedang liburan semester yang lumayan lama, sehingga banyak di antara teman-teman mereka yang memilih pulang kampung, namun bagi Wiwin dan Anisya lebih memilih untuk tetap tinggal di kota Bandung karena tidak banyak yang dapat mereka kerjakan untuk mengisi waktu liburan di Jakarta kota asal mereka.
Sampai di tempat kost mereka kira-kira jam 10 malam. Saat itu daerah di sekitarnya sudah sepi begitupula di dalam kost-kostan karena semua penghuninya pulang ke kampung atau kota asal mereka masing-masing untuk memanfatkan waktu liburan kuliah mereka, dan kini tinggallah mereka berdua saja yang masih bertahan di dalam areal kost yang luas dan besar itu. Walau usia mereka terpaut jauh, mereka berdua sangatlah akrab karena selain mereka tinggal sekamar dan berasal dari Jakarta, di kampus mereka juga satu fakultas.
Wiwin saat ini berusia 26 tahun, sementara Anisya baru berusia 18 tahun. Keduanya memiliki wajah yang cantik, Wiwin dengan bentuk badan yang berukuran sedang nampak anggun dengan penampilan kesehariannya, sedangkan Anisya memiliki tubuh yang mungil dan wajah yang imut-imut. Banyak pria yang tertarik kepada mereka berdua, karena bukan saja mereka cantik dan pintar, namun mereka juga pandai dalam bergaul dan ringan tangan. Akan tetapi dengan halus pula mereka menolak berbagai ajakan yang ingin menjadikan mereka sebagai kekasih atau pacar dari para pria yang mendekati mereka.
Wiwin saat ini lebih memilih berkonsentrasi untuk menghadapi sidang skripsinya, sedang Anisya yang baru menamatkan tahun pertamanya di kampus tersebut lebih memilih untuk aktif di organisasi kampus dari pada pacaran atau berhura-hura.
Sesampainya di kost, Wiwin langsung menuju ke kamar kost dan membuka pintu, sedangkan Anisya mampir dulu ke kamar mandi yang terletak agak jauh dari kamar kost mereka. Setelah membuka kamar, Wiwin begitu terkejut ketika dilihatnya kamar mereka sudah berantakan seperti habis ada pencuri. Belum lagi sempat memeriksa segalanya, tiba-tiba kepala Wiwin sudah dipukul dari belakang sampai pingsan.
Wiwin tidak tahu apa-apa sampai tubuhnya digoncang-goncang seseorang hingga tersadar dan menemukan dirinya sudah dalam keadaan terikat di kursi tempat biasanya dia duduk untuk belajar dan mulutnya disumpal kain, sehingga tidak dapat bersuara. Belum lagi lama dia siuman, matanya terbelalak ketika melihat pemandangan di sekitarnya, ia melihat dua pria di depannya. Yang menyuruhnya bangun, orangnya berbadan tinggi besar dan kepalanya berambut gondrong dia hanya mengenakan celana jeans kumal, badannya telanjang penuh dengan tatto. Dan satu orang lagi juga berbadan agak gemuk, berambut acak-acakan juga hanya mengenakan celana jeans.
Wajah mereka khas, usia mereka sekitar 40 tahunan. Sementara kamar kost mereka dalam keadaan tertutup rapat, jendela pun yang tadinya agak sedikit terbuka kini telah tertutup rapat. Tidak beberapa lama kemudian mata Wiwin kembali terbelalak dan ingin menjerit, karena kedua orang itu ternyata dikenalnya. Yang membangunkan dia bernama Asan dan satu lagi bernama Thomas atau sering dipangil Liem. Mereka berdua adalah teman dari Henry pemilik kost yang sering nongkrong di tempat itu, pekerjaan mereka tidak jelas.
Memang beberapa waktu yang lalu Wiwin dan Anisya dikenalkan oleh Henry kepada Asan dan Liem. Karena dengan setengah memaksa Henry, Asan dan Liem ingin dikenalkan dengan Wiwin dan Anisya yang waktu itu baru pulang dari kampus. Rupanya mereka berdua tertarik dengan kecantikan Wiwin dan Anisya. Akan tetapi rupanya cinta mereka bertepuk sebelah tangan, Wiwin dan Anisya lebih sering menghindar untuk bertemu dengan Asan dan Liem. Dan yang membuat hati Wiwin menjerit dan panas adalah begitu sadar sepenuhnya dan mengetahui Asan sedang duduk di pinggir ranjang mereka sambil memangku Anisya yang saat itu sudah tinggal memakai BH dan celana dalamnya saja yang berwarna putih.
Anisya sambil menangis memohon-mohon minta dilepaskan, air matanya telah membasahi wajahnya yang cantik itu. Tapi si Asan yang badannya jauh lebih besar itu tidak menghiraukannya, dia mulai meremas-remas payudara Anisya yang baru sekepalan tangan orang dewasa itu yang masih terbungkus BH itu, kemudian menjilati leher Anisya.
Pria itu lalu berkata, “Diam, jangan macam-macam atau kupatahkan lehermu, nurut saja kalau mau selamat..!â€
Setelah itu dilumatnya dengan rakus bibir indah Anisya dengan bibirnya, “Hmp.., cup.., cup..,†begitulah bunyinya saat kedua bibir mereka beradu.
Air liur pun sampai menetes-netes keluar, rupanya lidah Asan bermain di dalam rongga mulut Anisya.
Sementara itu Liem yang berada di samping Wiwin berkata kepada Wiwin, “Hei, elo sudah bangun ya, teman elo ini boleh juga, gue pake dia dulu ya, baru setelah itu giliran elo, nah sekarang elo perhatikan gue baik-baik kalo sampe elo nanti engga bisa muasin nafsu gue, mampus deh elo..!†sambil mengelus-elus kepala Wiwin.
Wiwin mau berontak tapi tidak dapat berbuat apa-apa, Wiwin pun mulai pucat.
Lalu Asan yang masih memangku Anisya menyudahi serbuan bibirnya dan berkata, “Ok Sayang, ini waktunya pesta, ayo kita bersenang-senang!â€
Dia menyuruh Anisya berlutut di depannya dan menyuruhnya membukakan celana jeans kumalnya, lalu mengulum batang kemaluannya.
Sambil menangis Wiwin memohon belas kasih, “J.. ja.. angan.. tolong jangan perkosa saya, ambil saja semua barang di sini!â€
Belum selesai berkata, tiba-tiba, “Pllaakk..!†si Asan menampar pipinya dan menjambak rambutnya.
Dengan paksa Anisya dibuat berlutut di depannya, “Masukkan ke dalam mulut elo, hisap atau gue bunuh elo..!â€
Terpaksa dengan putus asa dan wajah yang pucat dan gemetar, Anisya membuka celana Asan dan begitu dia menurunkan celana dalam Asan tampaklah kemaluan Asan yang telah membesar dan menegang. Tanpa membuang waktu Asan segera memasukkan kemaluannya itu ke mulut Anisya yang mungil itu. Batang kemaluannya tidak dapat sepenuhnya masuk karena terlalu besar, dengan kasar dia memaju-mundurkan kepala Anisya.
“Hhmpp.., emphh.. mpphh..!†begitulah suara Anisya saat mulutnya dijejali dengan kemaluan Asan.
Liem juga tidak tinggal diam, rupanya nafsu telah memenuhi otaknya, setelah dia melepas celana jeansnya dia berdiri di samping Anisya, menyuruh Anisya mengocokkan batang kemaluannya yang juga telah membesar dengan tangan. Batang kemaluan Liem tidak sebesar temannya, tapi diameternya cukup lebar sesuai dengan tubuhnya. Sekarang Anisya dalam posisi berlutut dengan mulut dijejali kemaluan Asan dan tangan kanannya mengocok batang kemaluan Liem.
“Emmhh.. benar-benar enak emutan gadis cantik ini, lain dari yang lain..!†kata Asan.
“Iya, kocokannya juga enak banget, tangannya halus nih..!†timpal Liem.
Beberapa lama kemudian nampak tubuh Asan menegang, seluruh badannya mengejang, dan, “A.. akh..!†Asan akhirnya berejakulasi di mulut Anisya.
Cairan putih kental memenuhi mulut Anisya menetes di pinggir bibirnya seperti vampire baru menghisap darah, dan Anisya terpaksa meminum semuanya karena takut ancaman mereka dan juga kuatnya pegangan tangan Asan di kepalanya.
Setelah itu mereka melepas BH dan CD Anisya, sehingga dia benar-benar telanjang bulat sekarang, tampaklah payudara dan bulu-bulu kemaluannya yang masih halus dan jarang.
“Waw cantik sekali anjing ini.†ujar Liem sambil memandangi tubuh bagian dada dan bawah Anisya yang sedang terisak-isak ketakutan.
Kali ini Liem duduk di pinggir ranjang dan menyuruh Anisya berjongkok di depannya sambil terus memijati dan mengocok batang kemaluan dengan tangannya. Anisya terpaksa menuruti kemauan Liem itu sambil sesekali dipaksa untuk menjilati ujung batang kemaluannya, sehingga Liem mendengus keenakan. Sementara itu si Asan mengambil posisi berbaring di bawah kemaluan Anisya dan menjilati liang vaginanya sambil sesekali menusuk-nusukkan jarinya ke liang kemaluan itu.
Seketika itu Anisya kaget dan, “Ehhgh.., iihh.. iih.. eggmhh..!†Anisya pun merintih-rintih jadinya, badannya menggeliat-geliat akibat tusukan jari-jari serta jilatan lidah Asan di kemaluan Anisya.
“Ayo anjing.., kocok terus barang gue..!†bentak Liem sambil menampar kepala Anisya.
Kembali Anisya mengocok kemaluan Liem sambil badannya terus meliak-liuk karena kemalunnya mendapat serangan dari tangan dan lidah Asan. Dari bibirnya pun terus terdengar suaranya merintih-tintih.
Sekitar 10 menit dikocok, Liem memuncratkan maninya dan membasahi wajah serta rongga mulut Anisya. Kali ini Anisya sudah tidak tahan dengan rasa cairan itu, sehingga dia memuntahkannya. Melihat itu Liem jadi gusar, dia lalu menjambak rambut Anisya dan menampar pipinya sampai dia jatuh ke ranjang.
“Pelacur anjing..! Kurang ajar, berani-beraninya membuang air maniku. Kalo sekali lagi begitu, kurontokkan gigi elo, dengar itu..!†bentaknya.
Asan pun terpaksa menyudahi aktifitasnya dan ikut-ikutan menampar Anisya.
“Goblok..! Gue lagi asyik nikmatin memek elo. Elo jangan macem-macem ya..!†bentak Asan.
Anisya hanya dapat menangis memegangi pipinya yang merah akibat dua kali tamparan itu. Nampak kemarahan Wiwin bangkit karena teman dekatnya diperlakukan begitu. Wiwin meronta-ronta di kursinya, tapi ikatannya terlalu kencang sehingga hanya dapat membuat kursi itu bergoyang-goyang. Melihat reaksi Wiwin si Asan berkata, “Kenapa? Elo tidak terima ya pacar elo gue pinjam, tapi sayang sekarang elo nggak bisa ngapa-ngapain, jadi jangan macem-macem ya, ha.. ha.. ha..! Abis ini giliran elo yang gue entot..! Hahaha..!â€
Mereka kembali menggerayangi tubuh Anisya, kali ini Asan merentangkan tubuh Anisya di tempat tidur dan membuka lebar kedua pahanya, dan segera mulai memasukkan batang kejantanannya ke liang kemaluan Anisya.
“J.. jangan. Aduh.., tto.. long.., Mbak Wiwin. Ampun Bang..!†pinta Anisya sambil mencoba berontak tapi dengan sigapnya Liem membantu Asan dengan memegangi kedua tangan Anisya.
Batang kemaluan yang ukurannya besar itu dimasukkannya dengan paksa ke liang kemaluan Anisya yang masih sempit, sehingga dari wajah Anisya terlihat dia menahan sakit yang amat sangat, tangisannya pun semakin keras.
Setelah hampir seluruh batang kemaluannya terbenam di dalam liang kemaluan Anisya, Asan mulai memaju-mundurkan pantatnya, mulai dengan irama pelan hingga dengan cepat. Keringat pun dengan deras membasahi kedua tubuh itu. Beberapa saat kemudian dari sela-sela kemaluan Anisya mengucur darah segar bercampur dengan cairan bening hingga warnanya berubah menjadi merah muda meleleh membasahi paha Anisya.
“Aakkh.. aahh.. aa. ouhh.. ss.. aakit. ooh. aampuun.. ohh..,†begitulah erangan dan teriakan Anisya merasakan sakitnya.
Rupanya teriakan dan erangan Anisya menambah nafsu dan semangat Asan untuk terus memompakan kemaluannya dengan keras dan cepat hingga badan Anisya pun terbanting-banting dan terguncang-guncang keras. Anisya hanya pasrah mengikuti irama Asan dan kedua tangan Anisya pun kini sudah dilepas oleh Liem.
Selama beberapa menit disetubuhi oleh Asan, tiba-tiba badan Anisya menegang sampai secara refleks dia memeluk kepala Asan yang sedang asyik menggenjotnya. Dia rupanya mengalami orgasme sampai akhirnya melemas kembali. Asan pun menyudahi gerakan memompanya namun kemaluannya masih tetap tertanam di dalam liang vagina Anisya.
“He.. he.. he.. Baru kali ini kan loe ngerasain pria cokin, gimana rasanya enak engga, jawaabb..!†bentak si Asan sambil menarik rambut Anisya.
Karena takut mereka semakin gila, terpaksa dengan berlinang air mata Anisya menjawab, “E.. e.. enak, enak sekali..!â€
“Jawab lebih keras supaya teman loe dengar pengakuan loe..!†kata Liem.
“I.. iya, s.. saya suka sekali bercinta.†jawabnya dengan suara terbata-bata.
“Tuh, kamu dengar kan, apa kata teman elo, dia suka dientot, ha.. ha.. ha..!†ejek mereka pada Wiwin yang hanya dapat meronta-ronta sambil menangis di kursinya.
Hatinya benar-benar serasa mau meledak tapi dia tidak dapat berbuat apa-apa.
Kemudian si Asan mencabut kemaluannya dan membuat posisi badan Anisya gaya posisi anjing, dia kemudian memasukkan kejantanannya yang berukuran 20 cm lebih itu ke pantatnya Anisya hingga terbenam seluruhnya.
Karena rasa perih dan sakit yang tidak terhingga, maka Anisya berteriak memilukan, “Aaakkhh..!â€
Lalu dia menariknya lagi, dan dengan tiba-tiba sepenuh tenaga dihujamkannya benda panjang itu di pantat Anisya hingga membuatnya tersentak kaget dan kesakitan sampai matanya membelalak.
“Ooughh..!†Anisya mendengus keras menahan rasa perih dari lubang duburnya, seluruh badannya kembali mengeras lolongannya pun kembali terdengan memilukan, “Aahh.. ouh.. aah..! Aa.. mpun.., ssakit. Aakhh..!â€
Kini Asan meyodomi Anisya dengan irama yang keras dan cepat hingga Anisya menggelepar-gelepar, dan badannya kini mulai melemah dan habis akibat digenjot oleh Asan.
Tidak beberapa lama Asan akhirnya mencabut kemaluannya dari lubang dubur Anisya dengan kasar. Kembali darah segar mengucur deras dari liang dubur Anisya, sementara Anisya tertelungkup jatuh ke kasur disertai rintihan panjang melemah, “Aahh..!â€
Namun Asan belum juga puas, kemalunnya masih garang. Kini ditelentangkannya Anisya dan kembali Asan meniduri Anisya dan memasukkan kembali batang kemaluannya ke lubang vagina Anisya yang telah lemas itu, dan kembali Asan menggenjot tubuh lunglai itu.
Tidak lama Asan pun berejakulasi di rahim Anisya. Lolongan kepuasan keluar dari mulut Asan disaat menyemprotkan spermanya yang jumlahnya banyak itu hingga meluber keluar dari sela-sela kemaluan Anisya. Anisya pun merintih lirih, dan akhirnya bersamaan dengan itu Anisya pun pingsan karena kehabisan tenaga dan rasa sakit yang tidak terhingga.
Dengan perasaan puas Asan pun merebahkan badannya di samping Anisya yang tergeletak tidak bergerak.
“Akhirnya gue perawanin juga elo. Dasar cewek sombong..!†ujarnya sambil mengehela napas dan melirik Anisya.
Sesudah itu kini Liem yang tadi menjadi penonton mulai mendekati Wiwin yang masih terikat lemas di kursinya.
“Hei, teman elo boleh juga tuh. Nah, sekarang giliran elo yang servise gue. Asal elo tau gue itu naksir berat ama elo, tapi elo menghindar melulu. Gue tau gue jelek dan gue beda ama yang elo bayangkan jadi pacar elo. Buat gue itu engga soal, sekarang gue cuma mau perkosa elo. Udah gitu elo bebas, tapi kalo elo berontak, Mati elo..!â€
“PLAAK..!†sebuah tamparan keras menghantam kepala Wiwin hingga Wiwin yang masih diikat di kursi itu terjatuh bersama kursinya.
“Hmmph..!†dengan mulut tersumbat Wiwin berteriak.
Kemudian dia menarik dan meletakkan tubuh Wiwin mengembalikan ke posisi semula. Dengan pisau dapur milik kedua mahasiswi itu dia merobek-robek baju kaos lengan panjang yang dikenakan oleh Wiwin. Nafas Wiwin tersentak ketika dengan cepat Liem dengan pisaunya melucuti BH dan celana panjang bahan yang dikenakannya. Sekarang Wiwin hanya memakai celana dalamnya yang berwarna putih serta sepasang kaos kaki putih setinggi lutut yang selalu dikenakannya. Payudaranya yang penuh bulat terbuka, tubuhnya putih mulus masih dalam posisi terikat di tempat duduknya.
“Hmph.., hmph..!†Wiwin meronta sambil memandang Liem dengan putus asa, matanya memerah dan air matanya mengalir deras membasahi pipinya, wajahnya pucat pasi.
Karena dia menyadari yang akan terjadi pada dirinya, yaitu sebagai pemuas nafsu bejat.
“Diem brengsek..!†kata Liem, “PLAK..!†sekali lagi tamparan kuat mendarat di pipi Wiwin, membuat kepala Wiwin tersentak.
Kemudian ia membuka ikatan Wiwin dan membantingnya ke tempat tidur dalam posisi telungkup, dan setelah itu dia merentangkan kedua tangan Wiwin serta melebarkan kedua kaki Wiwin hingga posisi Wiwin kini seperti orang merangkak. Wiwin hanya dapat pasrah mengikuti kemauan Liem. Tepat di hadapannya terdapat kaca rias, setinggi tubuh manusia. Kaca itu biasanya digunakan Wiwin dan Anisya untuk berdandan sebelum pergi kuliah.
Leim lalu merobek celana dalam Wiwin dengan kasar dan menjatuhkannya ke lantai. Sekarang Wiwin dapat melihat dirinya melalui cermin di depannya telanjang bulat, dan di belakang dilihatnya Liem sedang mengagumi dirinya.
“Gila bener! Gue suka pantat lo. Lo bener-bener oke!â€
Liem menampar pantat sekal Wiwin yang sebelah kiri yang membuat Wiwin menjerit kaget.
Lalu tanpa menunggu lagi, Liem yang mulai dirasuki nafsu sex memperlihatkan penisnya yang sudah keras. Liem hanya membiarkan topi yang masih tetap membungkus kepala Wiwin dan sepasang kaos kaki putih yang masih dikenakan Wiwin, mungkin ini dapat membuat nafsu Liem semakin menjadi. Karena memang dengan mengenakan topi, wajah Wiwin jadi nampak cantik dan lucu seperti komentar kebanyakan teman-temannya.
Kemudian Liem menyelipkan penisnya di antara kedua kaki Wiwin lewat belakang.
“Ooh.., ampun Pak Liem. Ampunn.., jangann.. jangan! Ampun, jangan..!†Wiwin mulai menangis dan rasa tegang menyeliputi hatinya.
Sambil menoleh ke belakang dan memandang Liem, Wiwin mencoba untuk meminta belas kasihan. Terlihat air mata meleleh dari matanya. Namun Liem terus mengancam dengan pisau dapur yang masih digenggamnya.
Liem tidak perduli Wiwin memohon-mohon. Kepala penisnya kemudian menyusuri belahan pantat Wiwin, terus menuju ke bawah, kemudian maju mendekati bibir vaginanya. Setelah tangan si Liem memegang pinggul Wiwin, dengan satu gerakan keras penisnya bergerak maju.
“Arrgghh.., ahh.., Ampun..!†Wiwin menjerit-jerit ketika penis Liem mulai membuka bibir vaginanya dan mulai memasuki lubang kemaluannya.
Kaki Wiwin mengejang menahan sakit ketika penis Liem terus menembus masuk tanpa ampun menusuk-nusuk selaput daranya.
Bibir tebalnya menganga membentuk huruf O dan mengeluarkan rintihan-rintihan, “Oohh.., oouugghh.., aa.. ampuun Bangg..! Aakkhh..!â€
Badannya pun tersodok-sodok. Liem terus bergerak memompa maju mundur memperkosa Wiwin. Ketika kepala Wiwin terjatuh lunglai kesakitan, dia menarik kepala Wiwin sehingga kepalanya kembali terangkat dan Wiwin kembali dapat melihat dirinya disetubuhi oleh Liem melalui cermin di depannya.
Kadang-kadang Liem menampar pantat Wiwin berulang kali, juga dilihatnya payudara Wiwin yang tersentak-sentak setiap kali Liem menyodok penisnya ke dalam vagina Wiwin dan dia hanya dapat pasrah mengerang-ngerang dan merintih. Tiba-tiba Liem mengeluarkan penisnya dari vaginanya. Wiwin langsung meronta dan berlari menuju pintu, berharap seseorang akan melihatnya minta tolong, biarpun dirinya telanjang bulat.
Tapi tiba-tiba Asan yang ternyata sudah pulih terlebih dahulu menyambar pinggangnya sebelum Wiwin sampai ke pintu depan.
“Ahh, tolong! Tolompphh..,†teriakan Wiwin dibungkam oleh tangan Asan, sementara itu Liem mendekat dan memukul Wiwin dengan keras.
Wiwin pun jatuh terjelembab ke lantai.
“Dasar Bandel ya..!†ujar Liem.
Kemudian Liem mengikat tangan Wiwin menjadi satu ke depan. Setelah itu, Wiwin didorong hingga terjatuh di atas lutut dan sikunya. Sekarang Liem memasukkan penisnya ke mulut Wiwin.
“Mmpphh..!†Wiwin mencoba berteriak dengan penis yang sudah masuk di dalam mulutnya.
Sementara itu Liem dengan tenang terus menggerakkan penisnya di mulut Wiwin. Kedua tangan Liem memegang kepala Wiwin dengan kencangnya menggerak-gerakkan maju dan mundur. Mata Wiwin tertutup dan wajahnya memerah, air matanya masih meleleh turun di pipinya, baru pertama kali dalam seumur hidupnya dia diperlakukan seperti ini.
Setelah beberapa lama mengocok kemaluannya di rongga mulut Wiwin, terlihat tanda-tanda Liem akan mencapai klimaksnya, gerakan memaju-mundurkan kepala Wiwin semakin cepat.
Dan, “Akkh.. Croot.., croot..!†Liem berejakulasi di mulut Wiwin, sperma yang keluar jumlahnya cukup banyak sehingga meluber keluar dari mulut Wiwin.
Wiwin hanya dapat mendengus-dengus dan dengan terpaksa menelan semua sperma yang dimuntahkan Liem tadi, sementara pegangan tangan Liem di kepala Wiwin semakin kencang, sehingga sulit bagi Wiwin untuk menarik kepalanya.
Setelah semprotan sperma yang terakhir, barulah Liem mencabut kemaluan dari mulut Wiwin yang kini mulutnya terlihat penuh dengan lendir memenuhi rongga mulutnya hingga ke bibirnya. Dengan napas puas Liem mencapakkan kepala Wiwin hingga telentang di kasur.
“Siap, siap Sayang. Gue musti ngerasain pantat lo yang putih mulus dan sekal ini..!†tiba-tiba terdengar suara Asan yang sudah berada di samping Wiwin.
Wiwin memandang Asan dengan wajah ketakutan. Dia tahu bagaimana Asan memperlakukan Anisya hingga pingsan.
Kemudian Asan menoleh ke Liem yang duduk di belakangnya untuk istirahat setelah klimaks tadi.
“Ja.. jangan, jangann.. Bang Asan.. saya nggak mau diperkosa di situ Bang..! Ampun Bang. Rasanya ssakit.., kasihani saya Bang..!†ujar Wiwin memelas kepada Asan.
“He Anjing. Gue tetep nggak perduli lo mau apa nggak..!â€
Asan menarik tubuh Wiwin hingga dia terjatuh di atas sikunya lagi ke lantai, dan mengangkat pinggulnya tinggi-tinggi. Kemudian dia menempatkan kepala penisnya tepat di tengah liang masuk anusnya.
Setelah itu dia membuka belahan pantat Wiwin lebar-lebar.
“Ampun, jangan..! Sakit..! Ampun Bang Asan. Ampun..! Aakkhh..!â€
Asan mulai mendorong masuk, sementara Wiwin mejerit-jerit minta ampun. Wiwin meronta-ronta tidak berdaya, matanya terbelalak, hanya semakin menambah gairah Asan untuk terus mendorong masuk penisnya. Wiwin terus menjerit, ketika perlahan seluruh penis Asan masuk ke anusnya.
“Ampun..! Sakit sekali! Ampun! Ooughh.. iihh..!†jerit Wiwin, ketika Asan mulai bergerak pelan-pelan keluar masuk anusnya.
“Buset! Pantat lo emang sempit banget! Lo emang cocok buat beginian!†kata Asan sambil mengusap-usap buah pantat Wiwin.
Sementara itu darah segar terlihat mulai mengalir menetes-netes membasahi paha dan kasur.
“Bener-bener pantat kualitas nomer satu!†omel Asan sambil terus memompa kemaluannya.
Tangisan Wiwin makin keras, “Sakit! Sakit sekali! Ampun, sakit! Sakit Pak, ampun..!â€
Sementara itu badannya mengejang-ngejang menggelepar-gelepar menahan rasa sakit yang teramat sangat, tubuhnya semakin basah oleh keringatnya.
“Gila, gue bener-bener seneng sama pantat lo!†ujar Asan sambil terus menyodomi Wiwin.
Hingga akhirnya tubuh Asan mengejan keras, kepalanya menengadah ke atas, cengkraman tangan di pinggang Wiwin pun semakin keras dan urat-uratnya pun kini terlihat pertanda sebentar lagi dia akan mencapi klimaksnya.
Asan berejakulasi di lubang pantat Wiwin yang semakin kepayahan dan tubuhnya melemah. Asan pun dengan menghela napas lega kembali menjatuhkan tubuhnya ke samping tubuh Wiwin yang juga terjatuh telungkup badannya lemas dan menahan rasa sakit yang tidak terhingga di lubang duburnya yang kini mengalami pendarahan.
Suara yang terdengar dalam kamar kost itu hanya tangisan Wiwin, tangisan yang benar-benar menyayat hati, yang membuat Liem kembali bangkit nafsunya. Liem berjongkok membalikkan tubuh Wiwin yang tadinya telungkup menjadi telentang. Kemudian menarik kaki Wiwin, lalu membukanya dan menekuk hingga kedua pahanya menyentuh buah dadanya.
Kini posisi Wiwin telah siap untuk disetubuhi, Liem meraih penisnya yang telah kembali tegang dan memeganginya, memandang ke arah Wiwin yang memalingkan wajahnya dari Liem, matanya terpejam erat-erat wajahnya yang masih mengenakan topi nampak cantik walau penuh dengan keringat dan air mata. Liem mengarahkan penisnya ke vagina Wiwin, cairan yang keluar dari penisnya membasahi vaginanya, membantu membuka bibir vagina Wiwin. Wiwin mengerang dan merintih, tubuhnya kembali meronta-ronta, giginya menggeretak, Liem nampak menikmati jeritan Wiwin ketika dia menghunjamkan penisnya ke vaginanya yang telah basah oleh darah dan cairan vaginanya.
“Aahhgghh..!†Liem mulai memperkosa Wiwin.
Kaki Wiwin terangkat karena kesakitan dan rintihan terdengar dari tenggorokannya. Tubuhnya mengejang berusaha melawan ketika Liem mulai bergerak dengan keras di vagina Wiwin. Liem menarik penisnya sampai tinggal kepalanya di vagina Wiwin sebelum didorong lagi masuk ke dalam rahimnya. Liem semakin bersemangat mompakan batang kemaluannya di dalam rahim Wiwin.
Nafsu telah membakar dirinya sehingga gerakannya pun semakin keras, sehingga semakin cepat tubuh Wiwin pun lemas tergoncang-goncang dan tersodok-sodok. Dan suatu ketika dengan kasarnya dicampakkannya topi yang menutupi kepala Wiwin oleh Liem, sehingga tergerailah rambut indah seukuran bahu milik Wiwin. Kini pada setiap hentakan membuat rambut indah Wiwin tergerai-gerai menambah erotisnya gerakan persetubuhan itu. Sambil terus menggenjot Wiwin, bibir Liem kini dengan leluasa melumat dan menjilati leher jenjang Wiwin yang tidak tertutup topi dan menyedot salah satu sisi leher Wiwin.
Gerakan dan hentakan-hentakan masih berlangsung, iramanya pun semakin cepat dan keras. Wiwin pun hanya dapat mengimbanginya dengan rintihan-rintihan lemah dan teratur, “Ahh.. ohh.., ooh.. ohh.. oohh..!†sementara tubuhnya telah lemah dan semakin kepayahan.
Akhirya badan Liem pun menegang dan tidak beberapa lama kemudian Liem berejakulasi di rahim Wiwin. Sperma yang dikeluarkannya cukup banyak. Liem nampak menikmati semburan demi semburan sperma yang dia keluarkan, sambil menikmati wajah Wiwin yang telah kepayahan dan lunglai itu.
Liem mengerang kenikmatan di atas badan Wiwin yang sudah lemah yang sementara rahimnya menerima semburan sperma yang cukup banyak.
“Aauughh.. oh..!†Wiwin pun akhirnya tersentak tidak sadarkan diri dan jatuh pingsan menyusul Anisya temannya yang terlebih dulu pingsan.
Badan Liem menggelinjang dan mengejan disaat melepaskan semburan spermanya yang terakhirnya dan merasakan kenikmatan itu. Batinnya kini puas karena telah berhasil menyetubuhi dan memperkosa serta merengut keperawanan Wiwin gadis mahasisiwi cantik yang ditaksirnya itu.
Senyum puas pun terlihat di wajahnya sambil menatap tubuh lunglai Wiwin yang tergelatak di bawahnya. Liem pun ibarat telah memenangkan suatu peperangan, akhirnya terjatuh lemas lunglai tertidur dan memeluk tubuh Wiwin yang tergolek lemah.
Begitulah malam itu Asan dan Liem telah berhasil merenggut kegadisan dua orang gadis cantik yang ditaksirnya. Waktu pun berlalu, fajar pun hampir menyingsing, kedua tubuh gadis itu masih tidak bergerak. Bekas keringat, cairan sperma kering dan darah mulai kering nampak menghiasi tubuh telanjang tidak berdaya kedua gadis cantik itu.
Pagi itu saat Asan dan Liem sudah rapih mengenakan pakaian mereka, tiba-tiba Henry sang pemilik kost mendatangi kamar kedua gadis itu. Saat itu dia bersama Acong teman Henry yang juga teman Asan dan Liem.
“Hei.., kalian disini rupanya.†ujar Henry.
Dan seketika matanya terbelalak ketika melihat ke dalam kamar kost dan melihat tubuh kedua gadis telanjang itu tergeletak tidak bergerak.
“Wah elo-elo abis pesta disini ya..?†tanya Henry.
Tanpa menjawab, Liem dan Asan dengan tersenyum hanya berlalu meninggalkan Henry dan Acong yang terbengong-bengong.
Saat Liem dan Asan berjalan meninggalkan kamar kost, mereka sempat melirik ke belakang. Rupanya Henry dan Acong sudah tidak terlihat lagi dan kamar kedua gadis itu kembali rapat terkunci. Kini rupanya giliran Henry dan Acong yang berpesta menikmati tubuh kedua gadis malang itu.
Memang rupa-rupanya Henry juga memendam cinta kepada gadis-gadis itu dan kali ini dia dibantu oleh Acong dapat leluasa menikmati tubuh gadis-gadis itu. Kembali tubuh Anisya dan Wiwin yang sudah tidak sadarkan diri menjadi bulan-bulanan. Henry dan Acong pun leluasa berejakulasi di mulut dan rahim gadis-gadis itu sepuas-puasnya.
Tamat
Lihat Koleksi Bugil Lengkap..
Tampilkan postingan dengan label Cerita Pemerkosaan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita Pemerkosaan. Tampilkan semua postingan
Akibat Berenang Bugil
18.48, Posted by admin, No Comment
Hari itu, sekitar jam 12 siang, aku baru saja tiba di vilaku di puncak. Pak Joko, penjaga vilaku membukakan pintu garasi agar aku bisa memarkirkan mobilku. Pheew.. akhirnya aku bisa melepaskan kepenatan setelah seminggu lebih menempuh UAS. Aku ingin mengambil saat tenang sejenak, tanpa ditemani siapapun, aku ingin menikmatinya sendirian di tempat yang jauh dari hiruk pikuk ibukota. Agar aku lebih menikmati privacy-ku maka kusuruh Pak Joko pulang ke rumahnya yang memang di desa sekitar sini. Pak Joko sudah bekerja di tempat ini sejak papaku membeli vila ini sekitar 7 tahun yang lalu, dengan keberadaannya, vila kami terawat baik dan belum pernah kemalingan. Usianya hampir seperti ayahku, 50-an lebih, tubuhnya tinggi kurus dengan kulit hitam terbakar matahari. Aku daridulu sebenarnya berniat mengerjainya, tapi mengingat dia cukup loyal pada ayahku dan terlalu jujur, maka kuurungkan niatku.
"Punten Neng, kalau misalnya ada perlu, Bapak pasti ada di rumah kok, tinggal dateng aja" pamitnya.
Setelah Pak Joko meninggalkanku, aku membereskan semua bawaanku. Kulempar tubuhku ke atas kasur sambil menarik nafas panjang, lega sekali rasanya lepas dari buku-buku kuliah itu. Cuaca hari itu sangat cerah, matahari bersinar dengan diiringi embusan angin sepoi-sepoi sehingga membuat suasana rileks ini lebih terasa. Aku jadi ingin berenang rasanya, apalagi setelah kulihat kolam renang di belakang airnya bersih sekali, Pak Joko memang telaten merawat vila ini. Segera kuambil perlengkapan renangku dan menuju ke kolam.
Sesampainya disana kurasakan suasanya enak sekali, begitu tenang, yang terdengar hanya kicauan burung dan desiran air ditiup angin. Tiba-tiba muncul kegilaanku, mumpung sepi-sepi begini, bagimana kalau aku berenang tanpa busana saja, toh tidak ada siapa-siapa lagi disini selain aku lagipula aku senang orang mengagumi keindahan tubuhku. Maka tanpa pikir panjang lagi, aku pun melepas satu-persatu semua yang menempel di tubuhku termasuk arloji dan segala perhiasan sampai benar-benar bugil seperti waktu baru dilahirkan. Setelah melepas anting yang terakhir menempel di tubuhku, aku langsung terjun ke kolam. Aahh.. enak sekali rasanya berenang bugil seperti ini, tubuh serasa lebih ringan. Beberapa kali aku bolak-balik dengan beberapa gaya kecuali gaya kupu-kupu (karena aku tidak bisa, hehe..)
20 menit lamanya aku berada di kolam, akupun merasa haus dan ingin istirahat sebentar dengan berjemur di pinggir kolam. Aku lalu naik dan mengeringkan tubuhku dengan handuk, setelah kuambil sekaleng coca-cola dari kulkas, aku kembali lagi ke kolam. Kurebahkan tubuhku pada kursi santai disana dan kupakai kacamata hitamku sambil menikmati minumku. Agar kulitku yang putih mulus ini tidak terbakar matahari, kuambil suntan oilku dan kuoleskan di sekujur tubuhku hingga nampak berkilauan. Saking enaknya cuaca di sini membuatku mengantuk, hingga tak terasa aku pun pelan-pelan tertidur. Di tepi kolam itu aku berbaring tanpa sesuatu apapun yang melekat di tubuhku, kecuali sebuah kacamata hitam. Kalau saja saat itu ada maling masuk dan melihat keadaanku seperti itu, tentu aku sudah diperkosanya habis-habisan.
Ditengah tidurku aku merasakan ada sesuatu yang meraba-raba tubuhku, tangan itu mengelus pahaku lalu merambat ke dadaku. Ketika tangan itu menyentuh bibir kemaluanku tiba-tiba mataku terbuka dan aku langsung terkejut karena yang kurasakan barusan ternyata bukan sekedar mimpi. Aku melihat seseorang sedang menggerayangi tubuhku dan begitu aku bangun orang itu dengan sigapnya mencengkram bahuku dan membekap mulutku dengan tangannya, mencegah agar aku tidak menjerit. Aku mulai dapat mengenali orang itu, dia adalah Taryo, si penjaga vila tetangga, usianya sekitar 30-an, wajahnya jelek sekali dengan gigi agak tonggos, pipinya yang cekung dan matanya yang lebar itu tepat di depan wajahku.
"Sstt.. mendingan Neng nurut aja, di sini udah ga ada siapa-siapa lagi, jadi jangan macam-macam!" ancamnya
Aku mengangguk saja walau masih agak terkejut, lalu dia pelan-pelan melepaskan bekapannya pada mulutku
"Hehehe.. udah lama saya pengen ngerasain ngentot sama Neng!" katanya sambil matanya menatapi dadaku
"Ngentot ya ngentot, tapi yang sopan dong mintanya, gak usah kaya maling gitu!" kataku sewot.
Ternyata tanpa kusadari sejak berenang dia sudah memperhatikanku dari loteng vila majikannya dan itu sering dia lakukan daridulu kalau ada wanita berenang di sini. Mengetahui Pak Joko sedang tidak di sini dan aku tertidur, dia nekad memanjat tembok untuk masuk ke sini. Sebenarnya aku sedang tidak mood untuk ngeseks karena masih ingin istirahat, namun elusannya pada daerah sensitifku membuatku BT (birahi tinggi).
"Heh, katanya mau merkosa gua, kok belum buka baju juga, dari tadi pegang-pegang doang beraninya!" tantangku.
"Hehe, iya Neng abis tetek Neng ini loh, montok banget sampe lupa deh" jawabnya seraya melepas baju lusuhnya.
Badannya lumayan jadi juga, walaupun agak kurus dan dekil, penisnya yang sudah tegang cukup besar, seukuran sama punyanya si Wahyu, tukang air yang pernah main denganku (baca Tukang Air, Listrik, dan Bangunan).
Dia duduk di pinggir kursi santai dan mulai menyedot payudaraku yang paling dikaguminya, sementara aku meraih penisnya dengan tanganku serta kukocok hingga kurasakan penis itu makin mengeras. Aku mendesis nikmat waktu tangannya membelai vaginaku dan menggosok-gosok bibirnya.
"Eenghh.. terus Tar.. oohh!" desahku sambil meremasi rambut Taryo yang sedang mengisap payudaraku.
Kepalanya lalu pelan-pelan merambat ke bawah dan berhenti di kemaluanku. Aku mendesah makin tidak karuan ketika lidahnya bermain-main di sana ditambah lagi dengan jarinya yang bergerak keluar masuk. Aku sampai meremas-remas payudara dan menggigit jariku sendiri karena tidak kuat menahan rasanya yang geli-geli enak itu hingga akhirnya tubuhku mengejang dan vaginaku mengeluarkan cairan hangat. Dengan merem melek aku menjambak rambut si Taryo yang sedang menyeruput vaginaku. Perasaan itu berlangsung terus sampai kurasakan cairanku tidak keluar lagi, barulah Taryo melepaskan kepalanya dari situ, nampak mulutnya basah oleh cairan cintaku.
Belum beres aku mengatur nafasku yang memburu, mulutku sudah dilumatnya dengan ganas. Kurasakan aroma cairan cintaku sendiri pada mulutnya yang belepotan cairan itu. Aku agak kewalahan dengan lidahnya yang bermain di rongga mulutku, masalahnya nafasnya agak bau, entah bau rokok atau jengkol. Setelah beberapa menit baru aku bisa beradapatasi, kubalas permainan lidahnya hingga lidah kami saling membelit dan mengisap. Cukup lama juga kami berpagutan, dia juga menjilati wajahku yang halus tanpa jerawat sampai wajahku basah oleh liurnya.
"Gua ga tahan lagi Tar, sini gua emut yang punya lu" kataku.
Si Taryo langsung bangkit dan berdiri di sampingku menyodorkan penisnya. Masih dalam posisi berbaring di kursi santai, kugenggam benda itu, kukocok dan kujilati sejenak sebelum kumasukkan ke mulut.
Mulutku terisi penuh oleh penisnya, itu pun tidak menampung seluruhnya paling cuma masuk 3/4nya saja. Aku memainkan lidahku mengitari kepala penisnya yang mirip helm itu, terkadang juga aku menjilati lubang kencingnya sehingga tubuh pemiliknya bergetar dan mendesah-desah keenakan. Satu tangannya memegangi kepalaku dan dimaju-mundurkannya pinggulnya sehingga aku gelagapan.
"Eemmpp.. emmphh.. nngg..!" aku mendesah tertahan karena nyaris kehabisan nafas, namun tidak dipedulikannya. Kepala penis itu berkali-kali menyentuh dinding kerongkonganku. Kemudian kurasakan ada cairan memenuhi mulutku. Aku berusaha menelan cairan itu, tapi karena banyaknya cairan itu meleleh di sekitar bibirku. Belum habis semburannya, dia menarik keluar penisnya, sehingga semburan berikut mendarat disekujur wajahku, kacamata hitamku juga basah kecipratan maninya.
Kulepaskan kacamata hitam itu, lalu kuseka wajahku dengan tanganku. Sisa-sisa sperma yang menempel di jariku kujilati sampai habis. Saat itu mendadak pintu terbuka dan Pak Joko muncul dari sana, dia melongo melihat kami berdua yang sedang bugil. Aku sendiri sempat kaget dengan kehadirannya, aku takut dia membocorkan semua ini pada ortuku.
"Eehh.. maaf Neng, Bapak cuma mau ngambil uang Bapak di kamar, ga tau kalo Neng lagi gituan" katanya terbata-bata.
Karena sudah tanggung, akupun nekad menawarkan diriku dan berjalan ke arahnya.
"Ah.. ga apa-apa Pak, mending Bapak ikutan aja yuk!" godaku.
Jakunnya turun naik melihat kepolosan tubuhku, meskipun agak gugup matanya terus tertuju ke payudaraku. Aku mengelus-elus batangnya dari luar membuatnya terangsang.
Akhirnya dia mulai berani memegang payudaraku, bahkan meremasnya. Aku sendiri membantu melepas kancing bajunya dan meraba-raba dadanya.
"Neng, tetek Neng gede juga yah.. enak yah diginiin sama Bapak?" Sambil tangannya terus meremasi payudaraku.
Dalam posisi memeluk itupun aku perlahan membuka celana panjangnya, setelah itu saya turunkan juga celana kolornya. Nampaklah kemaluannya yang hitam menggantung, jari-jariku pun mulai menggenggamnya. Dalam genggamanku kurasakan benda itu bergetar dan mengeras. Pelan-pelan tubuhku mulai menurun hingga berjongkok di hadapannya, tanpa basa-basi lagi kumasukkan batang di genggamanku itu ke mulut, kujilati dan kuemut-emut hingga pemiliknya mengerang keenakan
"Wah, Pak Joko sama majikan sendiri aja malu-malu!" seru si Taryo yang memperhatikan Pak Joko agak grogi menikmati oral seks-ku.
Taryo lalu mendekati kami dan meraih tanganku untuk mengocok kemaluannya. Secara bergantian mulut dan tanganku melayani kedua penis yang sudah menegang itu. Tidak puas hanya menikmati tanganku, sesaat kemudian Taryo pindah ke belakangku, tubuhku dibuatnya bertumpu pada lutut dan kedua tanganku. Aku mulai merasakan ada benda yang menyeruak masuk ke dalam vaginaku. Seperti biasa, mulutku menganga mengeluarkan desahan meresapi inci demi inci penisnya memasuki vaginaku. Aku disetubuhinya dari belakang, sambil menyodok, kepalanya merayap ke balik ketiak hingga mulutnya hinggap pada payudaraku. Aku menggelinjang tak karuan waktu puting kananku digigitnya dengan gemas, kocokanku pada penis Pak Joko makin bersemangat.
Rupanya aku telah membuat Pak Joko ketagihan, dia jadi begitu bernafsu memperkosa mulutku dengan memaju-mundurkan pinggulnya seolah sedang bersetubuh. Kepalaku pun dipeganginya dengan erat sampai kesempatan untuk menghirup udara segar pun aku tidak ada. Akhirnya aku hanya bisa pasrah saja disenggamai dari dua arah oleh mereka, sodokan dari salah satunya menyebabkan penis yang lain makin menghujam ke tubuhku. Perasaan ini sungguh sulit dilukiskan, ketika penis si Taryo menyentuh bagian terdalam dari rahimku dan ketika penis Pak Joko menyentuh kerongkonganku, belum lagi mereka terkadang memainkan payudara atau meremasi pantatku. Aku serasa terbang melayang-layang dibuatnya hingga akhirnya tubuhku mengejang dan mataku membelakak, mau menjerit tapi teredam oleh penis Pak Joko. Bersamaan dengan itu pula genjotan si Taryo terasa makin bertenaga. Kami pun mencapai orgasme bersamaan, aku dapat merasakan spermanya yang menyembur deras di dalamku, dari selangkanganku meleleh cairan hasil persenggamaan.
Setelah mencapai orgasme yang cukup panjang, tubuhku berkeringat, mereka agaknya mengerti keadaanku dan menghentikan kegiatannya.
"Neng, boleh ga Bapak masukin anu Bapak ke itunya Neng?" tanya Pak Joko lembut.
Saya cuma mengangguk, lalu dia bilang lagi, "Tapi Neng istirahat aja dulu, kayanya Neng masih cape sih".
Aku turun ke kolam, dan duduk berselonjor di daerah dangkal untuk menyegarkan diriku. Mereka berdua juga ikut turun ke kolam, Taryo duduk di sebelah kiriku dan Pak Joko di kananku. Kami mengobrol sambil memulihkan tenaga, selama itu tangan jahil mereka selalu saja meremas atau mengelus dada, paha, dan bagian sensitif lainnya. Yang satu ditepis yang lain hinggap di bagian lainnya, lama-lama ya aku biarkan saja, lagipula aku menikmatinya kok.
"Neng, Bapak masukin sekarang aja yah, udah ga tahan daritadi belum rasain itunya Neng" kata Pak Joko mengambil posisi berlutut di depanku.
Dia kemudian membuka pahaku setelah kuanggukan kepala merestuinya, dia arahkan penisnya yang panjang dan keras itu ke vaginaku, tapi dia tidak langsung menusuknya tapi menggesekannya pada bibir kemaluanku sehingga aku berkelejotan kegelian dan meremas penis Taryo yang sedang menjilati leher di bawah telingaku.
"Aahh.. Pak cepet masukin dong, udah kebelet nih!" desahku tak tertahankan.
Aku meringis saat dia mulai menekan masuk penisnya. Kini vaginaku telah terisi oleh benda hitam panjang itu dan benda itu mulai bergerak keluar masuk memberi sensasi nikmat ke seluruh tubuh.
"Wah.. seret banget memeknya Neng, kalo tau gini udah dari dulu Bapak entotin" ceracaunya.
"Brengsek juga lu, udah bercucu juga masih piktor, gua kira lu alim" kataku dalam hati.
Setelah 15 menit dia genjot aku dalam posisi itu, dia melepas penisnya lalu duduk berselonjor dan manaikkan tubuhku ke penisnya. Dengan refleks akupun menggenggam penis itu sambil menurunkan tubuhku hingga benda itu amblas ke dalamku. Dia memegangi kedua bongkahan pantatku yang padat berisi itu, secara bersamaan kami mulai menggoyangkan tubuh kami. Desahan kami bercampur baur dengan bunyi kecipak air kolam, tubuhku tersentak-sentak tak terkendali, kepalaku kugelengkan kesana-kemari, kedua payudaraku yang terguncang-guncang tidak luput dari tangan dan mulut mereka. Pak Joko memperhatikan penisnya sedang keluar masuk di vagina seorang gadis 21 tahun, anak majikannya sendiri, sepertinya dia tak habis pikir betapa untungnya berkesempatan mencicipi tubuh seorang gadis muda yang pasti sudah lama tidak dirasakannya.
Goyangan kami terhenti sejenak ketika Taryo tiba-tiba mendorong punggungku sehingga pantatku semakin menungging dan payudaraku makin tertekan ke wajah Pak Joko. Taryo membuka pantatku dan mengarahkan penisnya ke sana
"Aduuh.. pelan-pelan Tar, sakit tau.. aww!" rintihku waktu dia mendorong masuk penisnya.
Bagian bawahku rasanya sesak sekali karena dijejali dua batang penis besar. Kami kembali bergoyang, sakit yang tadi kurasakan perlahan-lahan berubah menjadi rasa nikmat yang menjalari tubuhku. Aku menjerit sejadi-jadinya ketika Taryo menyodok pantatku dengan kasar, kuomeli dia agar lebih lembut dikit. Bukannya mendengar, Taryo malah makin buas menggenjotku. Pak Joko melumat bibirku dan memainkan lidahnya di dalam mulutku agar aku tidak terlalu ribut.
Hal itu berlangsung sekitar 20 menit lamanya sampai aku merasakan tubuhku seperti mau meledak, yang dapat kulakukan hanya menjerit panjang dan memeluk Pak Joko erat-erat sampai kukuku mencakar punggungnya. Selama beberapa detik tubuhku menegang sampai akhirnya melemas kembali dalam dekapan Pak Joko. Namun mereka masih saja memompaku tanpa peduli padaku yang sudah lemas ini. Erangan yang keluar dari mulutku pun terdengar makin tak bertenaga. Tiba-tiba pelukan mereka terasa makin erat sampai membuatku sulit bernafas, serangan mereka juga makin dahsyat, putingku disedot kuat-kuat oleh Pak Joko, dan Taryo menjambak rambutku. Aku lalu merasakan cairan hangat menyembur di dalam vagina dan anusku, di air nampak sedikit cairan putih susu itu melayang-layang. Mereka berdua pun terkulai lemas diantara tubuhku dengan penis masih tertancap.
Setelah sisa-sisa kenikmatan tadi mereda, akupun mengajak mereka naik ke atas. Sambil mengelap tubuhku yang basah kuyup, aku berjalan menuju kamar mandi. Eh.. ternyata mereka mengikutiku dan memaksa ikut mandi bersama. Akhirnya kuiyakan saja deh supaya mereka senang. Disana aku cuma duduk, merekalah yang menyiram, menggosok, dan menyabuniku tentunya sambil menggerayangi. Bagian kemaluan dan payudaraku paling lama mereka sabuni sampai aku menyindir
"Lho.. kok yang disabun disitu-situ aja sih, mandinya ga beres-beres dong, dingin nih" disambut gelak tawa kami.
Setelah itu, giliran akulah yang memandikan mereka, saat itulah nafsu mereka bangkit lagi, akupun kembali digarap di kamar mandi.
Hari itu aku dikerjai terus-menerus oleh mereka sampai mereka menginap dan tidur denganku di ranjang spring bed-ku. Sejak itu kalau ada sex party di vila ini, mereka berdua selalu diajak dengan syarat jangan sampai rahasia ini bocor. Aku senang karena ada alat pemuas hasratku, mereka pun senang karena bisa merasakan tubuhku dan teman-teman kuliahku yang masih muda dan cantik. Jadi ada variasi dalam kehidupan seks kami, tidak selalu main sama teman-teman cowok di kampus. Lain hari aku akan menceritakan bagaimana jahilnya aku mengerjai teman-teman kuliahku sehingga mereka jatuh ke tangan Pak Joko dan Taryo dan juga pengalaman-pengalamanku lainnya.
Tamat
Lihat Koleksi Bugil Lengkap..
"Punten Neng, kalau misalnya ada perlu, Bapak pasti ada di rumah kok, tinggal dateng aja" pamitnya.
Setelah Pak Joko meninggalkanku, aku membereskan semua bawaanku. Kulempar tubuhku ke atas kasur sambil menarik nafas panjang, lega sekali rasanya lepas dari buku-buku kuliah itu. Cuaca hari itu sangat cerah, matahari bersinar dengan diiringi embusan angin sepoi-sepoi sehingga membuat suasana rileks ini lebih terasa. Aku jadi ingin berenang rasanya, apalagi setelah kulihat kolam renang di belakang airnya bersih sekali, Pak Joko memang telaten merawat vila ini. Segera kuambil perlengkapan renangku dan menuju ke kolam.
Sesampainya disana kurasakan suasanya enak sekali, begitu tenang, yang terdengar hanya kicauan burung dan desiran air ditiup angin. Tiba-tiba muncul kegilaanku, mumpung sepi-sepi begini, bagimana kalau aku berenang tanpa busana saja, toh tidak ada siapa-siapa lagi disini selain aku lagipula aku senang orang mengagumi keindahan tubuhku. Maka tanpa pikir panjang lagi, aku pun melepas satu-persatu semua yang menempel di tubuhku termasuk arloji dan segala perhiasan sampai benar-benar bugil seperti waktu baru dilahirkan. Setelah melepas anting yang terakhir menempel di tubuhku, aku langsung terjun ke kolam. Aahh.. enak sekali rasanya berenang bugil seperti ini, tubuh serasa lebih ringan. Beberapa kali aku bolak-balik dengan beberapa gaya kecuali gaya kupu-kupu (karena aku tidak bisa, hehe..)
20 menit lamanya aku berada di kolam, akupun merasa haus dan ingin istirahat sebentar dengan berjemur di pinggir kolam. Aku lalu naik dan mengeringkan tubuhku dengan handuk, setelah kuambil sekaleng coca-cola dari kulkas, aku kembali lagi ke kolam. Kurebahkan tubuhku pada kursi santai disana dan kupakai kacamata hitamku sambil menikmati minumku. Agar kulitku yang putih mulus ini tidak terbakar matahari, kuambil suntan oilku dan kuoleskan di sekujur tubuhku hingga nampak berkilauan. Saking enaknya cuaca di sini membuatku mengantuk, hingga tak terasa aku pun pelan-pelan tertidur. Di tepi kolam itu aku berbaring tanpa sesuatu apapun yang melekat di tubuhku, kecuali sebuah kacamata hitam. Kalau saja saat itu ada maling masuk dan melihat keadaanku seperti itu, tentu aku sudah diperkosanya habis-habisan.
Ditengah tidurku aku merasakan ada sesuatu yang meraba-raba tubuhku, tangan itu mengelus pahaku lalu merambat ke dadaku. Ketika tangan itu menyentuh bibir kemaluanku tiba-tiba mataku terbuka dan aku langsung terkejut karena yang kurasakan barusan ternyata bukan sekedar mimpi. Aku melihat seseorang sedang menggerayangi tubuhku dan begitu aku bangun orang itu dengan sigapnya mencengkram bahuku dan membekap mulutku dengan tangannya, mencegah agar aku tidak menjerit. Aku mulai dapat mengenali orang itu, dia adalah Taryo, si penjaga vila tetangga, usianya sekitar 30-an, wajahnya jelek sekali dengan gigi agak tonggos, pipinya yang cekung dan matanya yang lebar itu tepat di depan wajahku.
"Sstt.. mendingan Neng nurut aja, di sini udah ga ada siapa-siapa lagi, jadi jangan macam-macam!" ancamnya
Aku mengangguk saja walau masih agak terkejut, lalu dia pelan-pelan melepaskan bekapannya pada mulutku
"Hehehe.. udah lama saya pengen ngerasain ngentot sama Neng!" katanya sambil matanya menatapi dadaku
"Ngentot ya ngentot, tapi yang sopan dong mintanya, gak usah kaya maling gitu!" kataku sewot.
Ternyata tanpa kusadari sejak berenang dia sudah memperhatikanku dari loteng vila majikannya dan itu sering dia lakukan daridulu kalau ada wanita berenang di sini. Mengetahui Pak Joko sedang tidak di sini dan aku tertidur, dia nekad memanjat tembok untuk masuk ke sini. Sebenarnya aku sedang tidak mood untuk ngeseks karena masih ingin istirahat, namun elusannya pada daerah sensitifku membuatku BT (birahi tinggi).
"Heh, katanya mau merkosa gua, kok belum buka baju juga, dari tadi pegang-pegang doang beraninya!" tantangku.
"Hehe, iya Neng abis tetek Neng ini loh, montok banget sampe lupa deh" jawabnya seraya melepas baju lusuhnya.
Badannya lumayan jadi juga, walaupun agak kurus dan dekil, penisnya yang sudah tegang cukup besar, seukuran sama punyanya si Wahyu, tukang air yang pernah main denganku (baca Tukang Air, Listrik, dan Bangunan).
Dia duduk di pinggir kursi santai dan mulai menyedot payudaraku yang paling dikaguminya, sementara aku meraih penisnya dengan tanganku serta kukocok hingga kurasakan penis itu makin mengeras. Aku mendesis nikmat waktu tangannya membelai vaginaku dan menggosok-gosok bibirnya.
"Eenghh.. terus Tar.. oohh!" desahku sambil meremasi rambut Taryo yang sedang mengisap payudaraku.
Kepalanya lalu pelan-pelan merambat ke bawah dan berhenti di kemaluanku. Aku mendesah makin tidak karuan ketika lidahnya bermain-main di sana ditambah lagi dengan jarinya yang bergerak keluar masuk. Aku sampai meremas-remas payudara dan menggigit jariku sendiri karena tidak kuat menahan rasanya yang geli-geli enak itu hingga akhirnya tubuhku mengejang dan vaginaku mengeluarkan cairan hangat. Dengan merem melek aku menjambak rambut si Taryo yang sedang menyeruput vaginaku. Perasaan itu berlangsung terus sampai kurasakan cairanku tidak keluar lagi, barulah Taryo melepaskan kepalanya dari situ, nampak mulutnya basah oleh cairan cintaku.
Belum beres aku mengatur nafasku yang memburu, mulutku sudah dilumatnya dengan ganas. Kurasakan aroma cairan cintaku sendiri pada mulutnya yang belepotan cairan itu. Aku agak kewalahan dengan lidahnya yang bermain di rongga mulutku, masalahnya nafasnya agak bau, entah bau rokok atau jengkol. Setelah beberapa menit baru aku bisa beradapatasi, kubalas permainan lidahnya hingga lidah kami saling membelit dan mengisap. Cukup lama juga kami berpagutan, dia juga menjilati wajahku yang halus tanpa jerawat sampai wajahku basah oleh liurnya.
"Gua ga tahan lagi Tar, sini gua emut yang punya lu" kataku.
Si Taryo langsung bangkit dan berdiri di sampingku menyodorkan penisnya. Masih dalam posisi berbaring di kursi santai, kugenggam benda itu, kukocok dan kujilati sejenak sebelum kumasukkan ke mulut.
Mulutku terisi penuh oleh penisnya, itu pun tidak menampung seluruhnya paling cuma masuk 3/4nya saja. Aku memainkan lidahku mengitari kepala penisnya yang mirip helm itu, terkadang juga aku menjilati lubang kencingnya sehingga tubuh pemiliknya bergetar dan mendesah-desah keenakan. Satu tangannya memegangi kepalaku dan dimaju-mundurkannya pinggulnya sehingga aku gelagapan.
"Eemmpp.. emmphh.. nngg..!" aku mendesah tertahan karena nyaris kehabisan nafas, namun tidak dipedulikannya. Kepala penis itu berkali-kali menyentuh dinding kerongkonganku. Kemudian kurasakan ada cairan memenuhi mulutku. Aku berusaha menelan cairan itu, tapi karena banyaknya cairan itu meleleh di sekitar bibirku. Belum habis semburannya, dia menarik keluar penisnya, sehingga semburan berikut mendarat disekujur wajahku, kacamata hitamku juga basah kecipratan maninya.
Kulepaskan kacamata hitam itu, lalu kuseka wajahku dengan tanganku. Sisa-sisa sperma yang menempel di jariku kujilati sampai habis. Saat itu mendadak pintu terbuka dan Pak Joko muncul dari sana, dia melongo melihat kami berdua yang sedang bugil. Aku sendiri sempat kaget dengan kehadirannya, aku takut dia membocorkan semua ini pada ortuku.
"Eehh.. maaf Neng, Bapak cuma mau ngambil uang Bapak di kamar, ga tau kalo Neng lagi gituan" katanya terbata-bata.
Karena sudah tanggung, akupun nekad menawarkan diriku dan berjalan ke arahnya.
"Ah.. ga apa-apa Pak, mending Bapak ikutan aja yuk!" godaku.
Jakunnya turun naik melihat kepolosan tubuhku, meskipun agak gugup matanya terus tertuju ke payudaraku. Aku mengelus-elus batangnya dari luar membuatnya terangsang.
Akhirnya dia mulai berani memegang payudaraku, bahkan meremasnya. Aku sendiri membantu melepas kancing bajunya dan meraba-raba dadanya.
"Neng, tetek Neng gede juga yah.. enak yah diginiin sama Bapak?" Sambil tangannya terus meremasi payudaraku.
Dalam posisi memeluk itupun aku perlahan membuka celana panjangnya, setelah itu saya turunkan juga celana kolornya. Nampaklah kemaluannya yang hitam menggantung, jari-jariku pun mulai menggenggamnya. Dalam genggamanku kurasakan benda itu bergetar dan mengeras. Pelan-pelan tubuhku mulai menurun hingga berjongkok di hadapannya, tanpa basa-basi lagi kumasukkan batang di genggamanku itu ke mulut, kujilati dan kuemut-emut hingga pemiliknya mengerang keenakan
"Wah, Pak Joko sama majikan sendiri aja malu-malu!" seru si Taryo yang memperhatikan Pak Joko agak grogi menikmati oral seks-ku.
Taryo lalu mendekati kami dan meraih tanganku untuk mengocok kemaluannya. Secara bergantian mulut dan tanganku melayani kedua penis yang sudah menegang itu. Tidak puas hanya menikmati tanganku, sesaat kemudian Taryo pindah ke belakangku, tubuhku dibuatnya bertumpu pada lutut dan kedua tanganku. Aku mulai merasakan ada benda yang menyeruak masuk ke dalam vaginaku. Seperti biasa, mulutku menganga mengeluarkan desahan meresapi inci demi inci penisnya memasuki vaginaku. Aku disetubuhinya dari belakang, sambil menyodok, kepalanya merayap ke balik ketiak hingga mulutnya hinggap pada payudaraku. Aku menggelinjang tak karuan waktu puting kananku digigitnya dengan gemas, kocokanku pada penis Pak Joko makin bersemangat.
Rupanya aku telah membuat Pak Joko ketagihan, dia jadi begitu bernafsu memperkosa mulutku dengan memaju-mundurkan pinggulnya seolah sedang bersetubuh. Kepalaku pun dipeganginya dengan erat sampai kesempatan untuk menghirup udara segar pun aku tidak ada. Akhirnya aku hanya bisa pasrah saja disenggamai dari dua arah oleh mereka, sodokan dari salah satunya menyebabkan penis yang lain makin menghujam ke tubuhku. Perasaan ini sungguh sulit dilukiskan, ketika penis si Taryo menyentuh bagian terdalam dari rahimku dan ketika penis Pak Joko menyentuh kerongkonganku, belum lagi mereka terkadang memainkan payudara atau meremasi pantatku. Aku serasa terbang melayang-layang dibuatnya hingga akhirnya tubuhku mengejang dan mataku membelakak, mau menjerit tapi teredam oleh penis Pak Joko. Bersamaan dengan itu pula genjotan si Taryo terasa makin bertenaga. Kami pun mencapai orgasme bersamaan, aku dapat merasakan spermanya yang menyembur deras di dalamku, dari selangkanganku meleleh cairan hasil persenggamaan.
Setelah mencapai orgasme yang cukup panjang, tubuhku berkeringat, mereka agaknya mengerti keadaanku dan menghentikan kegiatannya.
"Neng, boleh ga Bapak masukin anu Bapak ke itunya Neng?" tanya Pak Joko lembut.
Saya cuma mengangguk, lalu dia bilang lagi, "Tapi Neng istirahat aja dulu, kayanya Neng masih cape sih".
Aku turun ke kolam, dan duduk berselonjor di daerah dangkal untuk menyegarkan diriku. Mereka berdua juga ikut turun ke kolam, Taryo duduk di sebelah kiriku dan Pak Joko di kananku. Kami mengobrol sambil memulihkan tenaga, selama itu tangan jahil mereka selalu saja meremas atau mengelus dada, paha, dan bagian sensitif lainnya. Yang satu ditepis yang lain hinggap di bagian lainnya, lama-lama ya aku biarkan saja, lagipula aku menikmatinya kok.
"Neng, Bapak masukin sekarang aja yah, udah ga tahan daritadi belum rasain itunya Neng" kata Pak Joko mengambil posisi berlutut di depanku.
Dia kemudian membuka pahaku setelah kuanggukan kepala merestuinya, dia arahkan penisnya yang panjang dan keras itu ke vaginaku, tapi dia tidak langsung menusuknya tapi menggesekannya pada bibir kemaluanku sehingga aku berkelejotan kegelian dan meremas penis Taryo yang sedang menjilati leher di bawah telingaku.
"Aahh.. Pak cepet masukin dong, udah kebelet nih!" desahku tak tertahankan.
Aku meringis saat dia mulai menekan masuk penisnya. Kini vaginaku telah terisi oleh benda hitam panjang itu dan benda itu mulai bergerak keluar masuk memberi sensasi nikmat ke seluruh tubuh.
"Wah.. seret banget memeknya Neng, kalo tau gini udah dari dulu Bapak entotin" ceracaunya.
"Brengsek juga lu, udah bercucu juga masih piktor, gua kira lu alim" kataku dalam hati.
Setelah 15 menit dia genjot aku dalam posisi itu, dia melepas penisnya lalu duduk berselonjor dan manaikkan tubuhku ke penisnya. Dengan refleks akupun menggenggam penis itu sambil menurunkan tubuhku hingga benda itu amblas ke dalamku. Dia memegangi kedua bongkahan pantatku yang padat berisi itu, secara bersamaan kami mulai menggoyangkan tubuh kami. Desahan kami bercampur baur dengan bunyi kecipak air kolam, tubuhku tersentak-sentak tak terkendali, kepalaku kugelengkan kesana-kemari, kedua payudaraku yang terguncang-guncang tidak luput dari tangan dan mulut mereka. Pak Joko memperhatikan penisnya sedang keluar masuk di vagina seorang gadis 21 tahun, anak majikannya sendiri, sepertinya dia tak habis pikir betapa untungnya berkesempatan mencicipi tubuh seorang gadis muda yang pasti sudah lama tidak dirasakannya.
Goyangan kami terhenti sejenak ketika Taryo tiba-tiba mendorong punggungku sehingga pantatku semakin menungging dan payudaraku makin tertekan ke wajah Pak Joko. Taryo membuka pantatku dan mengarahkan penisnya ke sana
"Aduuh.. pelan-pelan Tar, sakit tau.. aww!" rintihku waktu dia mendorong masuk penisnya.
Bagian bawahku rasanya sesak sekali karena dijejali dua batang penis besar. Kami kembali bergoyang, sakit yang tadi kurasakan perlahan-lahan berubah menjadi rasa nikmat yang menjalari tubuhku. Aku menjerit sejadi-jadinya ketika Taryo menyodok pantatku dengan kasar, kuomeli dia agar lebih lembut dikit. Bukannya mendengar, Taryo malah makin buas menggenjotku. Pak Joko melumat bibirku dan memainkan lidahnya di dalam mulutku agar aku tidak terlalu ribut.
Hal itu berlangsung sekitar 20 menit lamanya sampai aku merasakan tubuhku seperti mau meledak, yang dapat kulakukan hanya menjerit panjang dan memeluk Pak Joko erat-erat sampai kukuku mencakar punggungnya. Selama beberapa detik tubuhku menegang sampai akhirnya melemas kembali dalam dekapan Pak Joko. Namun mereka masih saja memompaku tanpa peduli padaku yang sudah lemas ini. Erangan yang keluar dari mulutku pun terdengar makin tak bertenaga. Tiba-tiba pelukan mereka terasa makin erat sampai membuatku sulit bernafas, serangan mereka juga makin dahsyat, putingku disedot kuat-kuat oleh Pak Joko, dan Taryo menjambak rambutku. Aku lalu merasakan cairan hangat menyembur di dalam vagina dan anusku, di air nampak sedikit cairan putih susu itu melayang-layang. Mereka berdua pun terkulai lemas diantara tubuhku dengan penis masih tertancap.
Setelah sisa-sisa kenikmatan tadi mereda, akupun mengajak mereka naik ke atas. Sambil mengelap tubuhku yang basah kuyup, aku berjalan menuju kamar mandi. Eh.. ternyata mereka mengikutiku dan memaksa ikut mandi bersama. Akhirnya kuiyakan saja deh supaya mereka senang. Disana aku cuma duduk, merekalah yang menyiram, menggosok, dan menyabuniku tentunya sambil menggerayangi. Bagian kemaluan dan payudaraku paling lama mereka sabuni sampai aku menyindir
"Lho.. kok yang disabun disitu-situ aja sih, mandinya ga beres-beres dong, dingin nih" disambut gelak tawa kami.
Setelah itu, giliran akulah yang memandikan mereka, saat itulah nafsu mereka bangkit lagi, akupun kembali digarap di kamar mandi.
Hari itu aku dikerjai terus-menerus oleh mereka sampai mereka menginap dan tidur denganku di ranjang spring bed-ku. Sejak itu kalau ada sex party di vila ini, mereka berdua selalu diajak dengan syarat jangan sampai rahasia ini bocor. Aku senang karena ada alat pemuas hasratku, mereka pun senang karena bisa merasakan tubuhku dan teman-teman kuliahku yang masih muda dan cantik. Jadi ada variasi dalam kehidupan seks kami, tidak selalu main sama teman-teman cowok di kampus. Lain hari aku akan menceritakan bagaimana jahilnya aku mengerjai teman-teman kuliahku sehingga mereka jatuh ke tangan Pak Joko dan Taryo dan juga pengalaman-pengalamanku lainnya.
Tamat
Lihat Koleksi Bugil Lengkap..
Adinda Yang Malang
18.35, Posted by admin, No Comment
Adinda pulang kerja jalan kaki, jalanan cukup sepi, sementara suara guruh sesekali terdengar. Awan terlihat mendung dilangit malam itu.
Cewek yang tingginya sekitar 170 cm, langsing, kakinya juga jenjang banget (Adinda waktu itu pake rok yg rada mini) mempercepat jalannya.
Pukul 20:00 jalanan diluar rumah Adinda, sepi jarang ada mobil yang lewat. Penduduk kota sudah tahu akan ada badai besar malam itu. Kelima berandal yang bertubuh kekar itu mengendap-endap memasuki pekarangan rumah. Mereka mau membalas cewek bertampang melankolis itu yang memergoki mereka mencuri minuman keras tadi,dengan melaporkan satpam. Mereka berencana berpesta memperkosa cewek itu habis-habisan sebagai balasannya.
“Sssstttt…..hati-hati jangan berisik…..ayo sini….” Bisik Poltak sambil memberi aba-aba untuk segera maju bersembunyi dikebun rumah Adinda yang penuh semak-semak.
Sementara itu Adinda tidak mengetahui kalau dirinya diikuti oleh para berandal sejak sepulang kerja tidak menaruh curiga. Cewek itu menyalakan kran air mandi, lalu menuju kekamarnya. Adinda menyalakan lagu disco, sambil melepaskan baju kerjanya.
Di kebun para berandal sudah mulai mengendap- endap sambil menyusun rencana untuk masuk ke dalam rumah. Edi dan Jamal mendapat tugas mengawasi jalanan, sedangkan Poltak membuka pintu depan, Juned dan Buyung mencari jalan masuk lewat belakang. Pada saat itu secara tidak sengaja Juned melewati jendela kamar Adinda yang lagi membuka baju kerjanya. Roknya berada diatas ranjang, sementara Adinda yang tubuhnya cuma terbungkus kemeja kerja dan celana dalam sambil berdisco membuka kancing kemejanya. Juned segera memanggil Buyung untuk melihat pemandangan itu. Mereka menelan ludah melihat Adinda yang meliuk-liuk merangsang menari disco. Ukuran dadanya yang sekitar 36B keliatan jelas banget belahannya ketika cewek itu sudah melepas kemejanya.
“Wow, Juned…LOOK AT HER TITS….aku ingin segera mencicipi tubuhnya….” Bisik Buyung tanpa melepaskan padangan matanya menatap tubuh Adinda yang hanya mengenakan baju dalam.
“He…he….he…sabar, Bill…nanti kita cicipi sama-sama, sampai pagi!” sahut Juned yang makin bernapsu melihat hal itu.
Beberapa saat kemudian Adinda beranjak menuju kekamar mandi. Sementara itu Poltak yang berhasil membuka pintu depan segera memberi aba-aba pada teman-temannya untuk masuk. Para berandal itu sudah memperhitungkan segalanya, mereka mengunci pintu dari dalam sehingga nanti mereka bebas bertindak. Kabel telpon sudah mereka putus, cewek itu tinggal sendirian dan lagi badai yang akan datang sangat menguntungkan rencana mereka. Dengan leluasa mereka masuk ke kamar cewek itu. Jamal membuka kulkas, yang lain masuk ke kamar Adinda. Edi memeriksa lemari pakaian Adinda.
“Hai….lihat apa yang kutemukan!” sambil menunjukkan barang temuannya. Juned segera menyahut celana dalam itu.
“Hmmmmm….mmmm…” Juned mencium celana dalam.
“Ingat aku yang pertama bercinta dengannya!” sahutnya sambil tersenyum penuh arti. Para berandal itu tak sabar membayangkan apa yang akan mereka nikmati. Lalu mereka mengambil posisi untuk bersembunyi.
Adinda selesai mandi menuju keruang tengah. Tubuhnya hanya terbalut oleh baju dalam dan kemeja putih, duduk menikmati acara TV kabel. Waktu itu pukul 20:30, cewek itu tidak menaruh curiga bahwa ada orang lain dalam rumahnya. Tiba-tiba dari arah belakang salah seorang berandal maju mendekap tubuhnya. Adinda terkejut dan segera berontak melepaskan diri.
“EVER BEEN GANG RAPED BABY? DON’T KNOW WHAT YOU BEEN MESSIN! YOU STILL REMEMBER US DON’T YOU……” ejek Edi.
Adinda segera mengenali wajah itu menjadi ketakutan sekali, ia tak menyangka kalau para berandal itu benar-benar melaksanakan ancamannya.
Juned maju menerkamnya tiba-tiba, cewek itu menjerit ketakutan ketika berhasil dipeluk. Ia meronta-ronta dan menendang Juned. Tanpa disadarinya tendangannya mengenai selangkangan Juned membuatnya meringis kesakitan dan melepaskan dekapannya. Adinda segera melepaskan diri dan lari menuju pintu depan. Para berandal segera mengejarnya sambil menyorakinya. Dengan sekuat tenaga pintu depan itu berusaha dibuka, tetapi usahanya sia-sia.
“Wooooo……woooooo……ha…ha…ha….ay o sayang, mau lari kemana kamu hah….ayo sini…ha…ha….ha…” Ejek para berandal yang mengejarnya dari belakang. Adinda segera dikepung oleh para berandal. Mereka menyoraki ketidak berdayaannya. Adinda didesak terus sampai merapat kedinding, Juned yang tadi meringis kesakitan mulai maju. Pada saat cewek itu hampir putus asa, ia berhasil berkelit dari kepungan berandal itu, lolos dan lari menuju ke dapur, Adinda bermaksud lari lewat pintu belakang. Para berandal segera mengejarnya lagi. Nasib sial bagi Adinda, begitu tangannya berhasil menyentuh gagang pintu, para berandal berhasil menangkapnya kembali. Rambut pirang Adinda yang panjangnya sebahu terjambak, sehingga ia tidak bisa berbuat apa-apa.
“Aaaahhhh….aammpun…aaah” hiba Adinda, sementara para berandal tersenyum sinis memandangnya.
“Sayang…. Kami akan memberimu pengalaman yang tak akan kau lupakan! kau tadi telah merusak acara pesta kami, sekarang kau harus membayarnya dengan tubuhmu yang indah itu……ha…ha..ha…, oya kau juga akan menyesal telah menendang punyaku, akan kujoblos kau sampai mampus! ” Juned maju dari kerumunan temannya.
Adinda tak berdaya, rambutnya dijambak sementara tangannya dilipat kebelakang. Dari dapur ia diseret menuju ruang tamu saat itu pukul 20:45. Disana ia dikelilingi oleh kelima berandal sambil didorong-dorong.
“Sayang, kita akan berpesta denganmu!” seru Edi tak sabar sambil mendorong ke arah Buyung.
“Ha…..ha…ha…. kau tak akan bisa lolos kali ini….” Ejek Buyung sambil mendekap tubuh Adinda. Mereka berteriak-teriak membuat Adinda makin ketakutan.
“Kemarikan dia Bill….HEY BABE, I BET MY COCK WOULD FEEL REAL GOOD WARPED UP IN YOUR PUSSY!” seru Jamal tak sabar, sambil mempraktekkan gaya bercinta penuh napsu. Adinda didorong ke arah Jamal yang segera merangkul nya dari depan. Mulutnya segera mencari dada cewek itu, sementara pinggulnya bergerak maju mundur seakan sedang bercinta dengannya.
“Wooooo…. Wooooou…..FUCK YOU GIRL, FUCK YOU…..” Jamal menggerayangi cewek itu.
“Aaaahhhh…….aaam…punnn….aahhh… ..jaa…aa ahhhh!!!” jerit Adinda ketakutan.
Tiba-tiba dengan satu sabetan, tangan salah satu berandal merobek kemeja putih Adinda, membuat cewek itu terpelanting. Poltak segera mendekap dari belakang. Sekarang tubuh Adinda hanya mengenakan BH dan celana dalam saja, membuat mereka makin menjadi-jadi.
“Ah…aahh…aahh!” jerit Adinda ketika tangan Poltak yang mendekap tubuhnya dari belakang mulai menggerayangi pahanya yang putih mulus.
“Kita akan memberimu pengalaman yang tak terlupakan, manis…ha…ha…ha…” bisik Poltak.
Para berandal lainnya ikutan beraksi. Tangan Edi meremas remas buah dada Adinda. Jamal memburu kemaluan Adinda, sementara Buyung dan Juned buka baju dan celana panjang mereka sambil tertawa sinis. Tubuh para berandal itu terlihat begitu kekar dan berotot.
“HEY, SOMEBODY GET BEHIND THE BITCH AND HOLD HER ARMS, I’M FUCKING HER FIRST!” Juned memberi aba-aba yang langsung disetujui teman-temannya. Cewek itu meronta-ronta di bopong kelima berandal itu keruang tengah.
“Jamal, Poltak, kau pegangi tangan dan kakinya, terlentangkan dia di meja ini” perintah Juned.
Lonceng berdentang menunjukkan pukul 21:00. Disana Adinda diterlentangkan di atas sebuah meja bundar. Masing-masing tangan dan kakinya dipegangi erat-erat oleh para berandal. Sinar lampu diatas meja membuat cewek itu silau, Adinda hanya bisa melihat tubuh-tubuh kekar mengerubunginya dan tangan-tangan berotot meraba-raba dadanya, wajah sinis dan suara tawa para berandal mengejek ketidak berdayaannya.
Lidah Juned menelusuri lehernya yang jenjang. Adinda berontak berusaha melepaskan diri, tetapi apa daya tenaga seorang cewek dibanding dengan lima laki-laki yang kesetanan. Jamal dan Edi memegangi kakinya, sementara tangan kanan dan kiri Adinda dipegangi erat-erat oleh Poltak dan Buyung. Juned mencumbunya dengan kasar dan penuh napsu, tangannya dengan liar meremas-remas buah dada Adinda.
“I CAN SEE THE NIPPLES POKING AT HER BRA!” kata Juned yang langsung disambut oleh tawa para berandal.
“HEY, CUT THAT BRA OFF MAN. WHAT’S WRONG WITH YOU?” sahut Poltak sudah tidak sabar lagi.
“Aaaah…..aaah….ooh…jangan…..aa hkh!” jerit Adinda ketika dengan satu hentakan kasar tangan Juned merobek BH yang dikenakannya. Para berandal makin seru menyorakinya. Mulut Juned segera melumat buah dada Adinda yang sintal, sementara tangan kirinya masih meremas-remas buah dada sebelah kanan Adinda. “Aaaaah….aaoooh…..ooooh…aahh …aaaahh…aaahhhhh….” desah Adinda mengeliat-liat. Putingnya dijilati penuh napsu oleh lidah Juned.
“Ha….ha….ha…. kau sungguh mengiurkan sayang!” tawa Buyung menelan ludah tak sabar ingin segera menikmati gilirannya. Juned sekarang membuka celana dalamnya sendiri, penisnya yang hitam besar 10 inci itu terlihat tegak siap beraksi.
“Kenyal sekali…..ha…ha…ha…”seru Juned sambil menerkam dan mulutnya menciumi buah dada cewek itu dengan buas. Tubuh Adinda mengeliat-liat membusur, sementara buah dadanya diremas-remas sampai merah. Lidah Juned menelusuri buah dada Adinda, lalu turun ke daerah perut dan menjilati pusarnya. Beberapa saat kemudian sambil tersenyum sinis, mata Juned memelirik kearah paha Adinda.
“Oooohhh….jangan…..aaahhhh….” hiba Adinda ketakutan tidak berani membayangkan diperkosa oleh kelima berandal kekar dan berotot.
Lalu tangan Juned mulai memelorot celana dalam Adinda. Cewek itu berusaha mempertahankannya,
“Ha..ha…ha…percuma kau berontak manis!” ejek Juned ketika Adinda berontak sekuat tenaga, tetapi Buyung dan Poltak makin erat memegangi tangan Adinda, perlahan- lahan celana dalamnya terlepas, rambut kemaluan Adinda terlihat ketika celana dalam berwarna pink itu dari pinggul dilorot turun kepahanya dan akhirnya terlepas.
“Cihuuuiiii……Ha…ha…ha….PARTY TIMES… ha…ha…ha….” Teriaknya sambil memutar-putar celana dalam itu, lalu dicium dalam-dalam menikmati aromanya dan dilemparkan kelantai. Mata Juned jelalatan memandangi Adinda yang telanjang bulat terlentang diatas meja. Adinda lemas karena ketakutan, ia tak berani membayangkan para berandal itu akan ‘menelan tubuhnya ramai-ramai’. Para berandal makin ramai menyorakinya, mata mereka jelalatan memandang setiap lekuk tubuh Adinda. Poltak yang tadi memegangi tangan Adinda digantikan oleh Buyung.
“Oooooh…..aaaahh….am…pun…..aaa ah…jang… an…aaahh..” hiba tangis Adinda.
“Diam!….THERE’S GOING TO BE A BIG PARTY IN YOUR PUSSY TONIGHT…..Ha…ha…ha…kita lihat siapa yang paling hebat bercinta denganmu!” ejek Poltak mendekati Adinda sambil mengeluarkan pisau lipat. Adinda ketakutan ketika Poltak memainkan pisau itu diantara buah dadanya sambil tersenyum sinis memandang tubuhnya. Pisau itu bergerak kearah puting susunya dan diputar-putar mengelilingi belahan buah dada Adinda yang naik-turun karena napasnya tak beraturan. Hal itu membuat para berandal benar-benar terangsang. Pisau itu terasa dingin di buah dada Adinda, lalu pisau itu bergerak kearah perut cewek itu dan turun ke daerah bawah pusar cewek itu. Edi menyeringai penuh arti ketika mengetahui apa yang akan dilakukan oleh Poltak dengan pisau lipatnya.
“Ayo Milo, cukur sampai habis…..ha…ha…ha…ha…” seru Edi kegirangan.
“Aaaahh…..ohhhh…jangan….aaah…. ” teriak Adinda sambil berontak, tetapi para berandal itu makin mempererat pegangannya, sementara pisau lipat itu dengan buas mulai beraksi mencukur rambut kemaluannya.
“Ha…ha….ha… kesempatan yang langka ini tak akan kami lewat begitu saja. Ayo manis berteriaklah semaumu, tak akan ada yang mendengarmu saat ini.” Ejek Juned sambil menerkam buah dada Adinda, diremasnya kuat-kuat membuat cewek itu mengerang kesakitan sementara Poltak mencukur rambut kemaluannya tanpa foam pelicin sehingga Adinda merasa perih. Buyung, Jamal dan Edi yang memegangi kaki dan kedua tangan Adinda tertawa melihat cewek itu meronta-ronta. “Aaaaaagggg….aaaaoooohh….ooooo hhh…oohh.. .” desah Adinda buah dadanya diremas-remas oleh Juned. Suara desahan itu membuat para berandal itu makin terangsang.
Dengan buas pisau Poltak beraksi, dalam beberapa menit saja rambut kemaluan Adinda telah tercukur habis. Daerah kulit bawah perut Adinda yang tadinya ada rambut kemaluannya terlihat memerah. Poltak tersenyum puas, Juned segera maju sambil mementang kaki cewek itu lebar-lebar, sekarang ia berada diantara pahanya , memandang kemaluan Adinda yang terlihat jelas karena rambut disekitar daerah itu habis tercukur.
“Ha…ha…ha…buah dadamu sungguh lezat, NOW I’LL EAT YOUR PUSSY!” kata Juned sambil menjilatkan lidahnya sementara matanya melirik kearah kemaluan Adinda.
“Oooooh….lepas…kan….jang…an ..oooOOAAHH!” tangis Adinda terhenti ketika Juned mulai menjilatinya. Lidah itu seakan menjulur panjang menjelajahi lorong vagina Adinda. Tubuh cewek itu mengelinjang-gelinjang, sementara lidah Juned bergerak seperti cacing menggali lobang.
“Oooooohhhhh…aaaauuuuoooo…oooo uuu…aaaah. ..” Desis Adinda sementara kepalanya hanya bisa menggeleng ke kiri dan kanan. Tubuh Adinda bergetar, tangannya mengepal erat-erat, Poltak menciumi leher dan daerah sekitar ketiak, sambil tangannya mencubit puting susu cewek itu. Jamal melepaskan kaki cewek itu, dan ikutan mencumbu perut Adinda. Lidah Jamal menjilati pusar cewek itu.
“Uuuuuuhhhh….oooouuh…ooohhh…” suara desah Adinda makin keras, ketika lidah Juned masuk makin dalam divaginanya.
“Ha…ha…ha….percuma kau berontak sayang, mau tak mau kau akan menikmati pesta ini!” ejek salah satu berandal.
Buah dada Adinda memerah dan mengembang karena remasan tangan Poltak.
Juned makin bersemangat, ketika vagina Adinda mulai berlendir. Lidah itu menjelajah makin dalam bersamaan dengan pekik desah Adinda. Poltak masih mengulum buah dada cewek itu. Putingnya disedot kuat-kuat, membuat cewek itu mengeliat menahan rasa nikmat dan sakit yang bercampur menjadi satu. Tanpa disengaja dari puting buah dada Adinda keluar cairan putih seperti susu. Poltak lebih bersemangat lagi menyedoti cairan itu, sementara tangannya meremas-remas buah dada Adinda agar keluar lebih banyak.
“Uuuuggghhhh……uuuuuhhhh….uuuhh hh….aaauuuhh hhh….” desis Adinda dengan napas tersedak-sedak.
“Ha…ha…ha….ternyata tubuhmu menghianatimukan? Diam-diam kau menikmatinya……BITCH!!!!” ejek Poltak sambil menyedoti buah dada Adinda, kanan-kiri.
Lonceng berbunyi menunjukkan pukul 21:30. Rupanya para berandal itu senang bermain-main dengan tubuhnya dan berniat melakukan WARMING-UP sebelum memperkosanya. Adinda hanya bisa mengeliat-liat dikerubuti para berandal yang kekar. Lidah Juned dengan lahapnya menjilati vagina Adinda. Tidak puas hanya lidah, sekarang jari tangan Juned ikutan beraksi. Jari tengah dan telunjuk Juned masuk di lobang kemaluan cewek itu, diputar-putar seolah-olah mengaduk-aduk vagina Adinda, sementara lidahnya ikut menjilati bibir kemaluan Adinda.
“Aaaauuuuhhhhh……uuuuuhhh…..aaa hhhh” desah cewek itu makin keras, membuat para berandal itu tertawa mengejek ketidak berdayaannya. Jari tangan Juned menusuk masuk dan bermain-main dengan klitorisnya, membuat Adinda mengelinjang-gelinjang. Mata Adinda terpejam, kepalanya menggeleng ke kiri kanan, Jamal menciumi pusarnya, tangan Poltak meremas-remas buah dadanya. Setelah puas bermain-main, Juned mementang kedua kaki Adinda.
“Juned mau pakai kondom?” tanya Buyung. Juned menolak usul Buyung.
“NO WAY….Ha…ha…ha….I WANT TO FEEL SKIN TO SKIN…ok sekarang saatnya manis… NOW LETS SEE JUST HOW TIGHT YOUR CUNT IS!” Juned mengangkat pinggul Adinda tinggi-tinggi. Penisnya sekarang digesek-gesekkan disekitar bibir kemaluan Adinda berusaha menyibak belahannya. Mata cewek itu terbelalak kaget ketika merasakan kepala penis Juned yang besar dan hangat. Batang penis itu berdenyut-denyut dibibir kemaluannya.
“Ohhh…ohhhh sekarang saatnya!” pikiran Adinda melayang jauh ketika Juned mulai beraksi menindih tubuhnya.
“Ayo Juned cumbu dia sampai mampus……Cihuuui!!!” para berandal itu memberi semangat.
Juned merasakan rasa hangat yang mengalir pada kepala batang kemaluannya yang sudah menancap tepat pada pintu gua kenikmatan milik cewek itu. Juned menekan perlahan, seperempat dari bagian kepala kemaluannya mulai terbenam ….Adinda menahan napas …. ditekan lebih dalam lagi …. separuh dari bagian kepala kemaluannya melesak masuk …. dengan lebih bertenaga Juned mendesak batang kemaluannya untuk masuk lebih dalam lagi.
“Ayo Juned! sedikit lagi! Masukin saja semua! Biar dia rasain Juned!” Poltak menyoraki Juned sambil meremas-remas buah dada Adinda.
“AAAgggh!!!!” Pekik Adinda merasakan sesuatu yang menyakitkan dipangkal pahanya ketika seluruh kepala kemaluan Juned sudah terbenam kedalam liang hangat miliknya, dengan satu hentakan yang kuat, penis Juned menyeruak masuk ke dalam vagina Adinda membuatnya memekik kesakitan.
Sementara badai diluar mulai turun dengan deras dimulailah pesta perkosaan itu. Adinda terlentang diatas meja bundar diruang tengah, tangan dan kakinya dipegangi erat-erat oleh Buyung dan Edi, buah dadanya dijilati, disedoti oleh Jamal dan Poltak, sementara penis Juned mengoyak-koyak vaginanya dengan ganas.
“Aaagh…..aaahh….ooooh….ooohh…” suara rintih Adinda seiring dengan gerakan ayunan pinggul Juned yang kuat. Senti demi senti batang kemaluan Juned menelusur masuk menerobos keketatan liang kemaluan Adinda yang sudah basah berlendir itu. Setiap ayunan Juned membuat tubuhnya mengelepar kesakitan karena penis yang besar itu berusaha masuk lebih dalam. Suara desahan Adinda membuat para berandal itu makin bernapsu menikmati tubuhnya.
“Ayo Juned…..genjot terus sampai mampus….. ha…ha…ha…” seru salah satu berandal.
Juned merasakan begitu ketatnya ujung kemaluannya terjepit di dalam vagina Adinda, selang beberapa saat penis itu terhenti menerobos keluar masuk.
“CAN’T SEEM TO GET MY COCK DEEP ENOUGH INTO YOU BABY!” Juned mengatur posisi pinggulnya, “YOU SO DAMN TIGHT!.” kemudian dengan satu hentakan yang kuat membuat batang penis itu hilang tertelan kemaluan Adinda.
“AAAaaaaggggkkk!!” suara lolong histeris Adinda ketika dengan satu hentakan kuat tanpa masalah penis itu beraksi lagi di liang vagina Adinda yang berlendir, rupanya selaput perawan Adinda robek.
“Uuuugggghhhh…. SO YOU’RE STILL A VIRGIN? Ha…ha…ha….manis, kau tak akan melupakan pengalaman ini!” ejek Juned, Penis itu dengan mudah menerjang keluar masuk dengan cepat, sementara tubuhnya menghentak hentak barbar diatas Adinda yang mendesah-desah tak berdaya. Kemaluan Adinda terasa akan robek oleh desakan penis Juned yang menyeruak masuk keluar dalam-dalam seperti membor kilang minyak. Juned melengkuh-lengkuh nikmat, pinggulnya berayun-ayun memompa, penis itu keluar masuk.
Kaki Adinda terangkat tinggi diatas meja terayun-ayun seirama gerakan pinggul Juned menghujamkan keluar masuk batang penisnya yang dengan barbar beraksi divaginanya.
Adinda berharap ia dapat pingsan saat itu juga supaya tidak merasakan sakit yang tak terlukiskan itu. Para berandal itu menyanyikan lagu “ROW YOUR BOAT”.
“Aaaahhh…aaaahh….ammm….pun….aa hh…
aaahh…aaahh….sakit..ahhhhh..aa aahhh….”jerit Adinda. Pinggul Juned bergerak seperti pompa. Penis itu keluar masuk seiring desahan Adinda.
“Ayo Juned coblos terus, coblos…coblos…woooo…
wooooo BABY….” teriak Poltak sambil menciumi dada cewek itu.
“Delapan puluh delapan……delapan puluh sembilan….sembilan puluh…Ayo…” dengan semangat Edi menghitungi setiap hujaman penis Juned.
“Aaaaahhh….wahhhhaaa….aaaah….u uuuh…
uuugh….” pekik Adinda, sementara Juned berayun-ayun diatas tubuhnya. Cewek itu hanya bisa terisak-isak. Suara petir menyambar di sela-sela badai.
“YEAAAHHH. HOW’S IT FEEL, BABE, HOW’S IT FEEL WITH A REAL MAN’S BIG COCK IN YOUR BELLY? OOOOOOOOOOOOO YOU FEEL SO GOOD, SO HOT.” ejek Juned sambil memaksa Adinda yang mendesah untuk melihat penisnya mengenjot keluar masuk lorong vaginanya. Adinda bisa merasakan setiap inci dari otot dibatang penis Juned bergerak menelusuri lorong kemaluannya.
“Uuuh…uuuh….uuaah…” lengkuh Juned, sudah sekitar setengah jam dia berayun-ayun diatas cewek itu, keringat membasahi tubuh keduanya, tetapi gerakan pinggulnya tetap ganas, penisnya menyodok-sodok dikemaluan Adinda, tangannya menggerayangi pahanya dengan liar.
Sementara itu Poltak membuka celana panjang dan celana dalamnya sendiri, penisnya panjang, (tetapi tidak sebesar Juned sekitar 8.7 inci) sudah tegak menegang. Jamal masih asyik menyedoti puting buah dada Adinda. Sesekali cewek itu berusaha memberontak, tetapi Edi dan Buyung mempererat pegangannya. Juned melengkuh-lengkuh nikmat di atas tubuh Adinda yang mengeliat-liat menahan berat tubuh Juned yang menindihnya.
“Seratus enam puluh enam…… seratus enam puluh tujuh…..seratus enam puluh delapan…..ayo Juned taklukan dia….ha…ha…ha…” Edi menyemangati yang langsung diikuti oleh para berandal yang lain.
“Seratus tujuh puluh tiga….seratus tujuh puluh empat…seratus tujuh puluh lima….” Para berandal yang lain ikutan menyemangati Juned.
Tubuh dan buah dada Adinda berguncang-guncang seirama dengan hentakan genjotan Juned yang makin liar. Vaginanya terasa terbakar oleh gesekan penis Juned yang buas.
“Aaaaaaahhhh…..aaaaaa….aaaaaah h…..aahhhh…. ..ooooohhh” Adinda melolong menahan sakit.
“Ayo…….ayo….seratus delapan puluh delapan…..seratus delapan puluh sembilan….seratus sembilan puluh….ha…ha…ha…” Edi memberi semangat.
“Uuuuaah….uuuuuh….uuughh…tubuh mu nikmat sekali!” Juned mengejek Adinda yang mengigit bibirnya menahan sakit. Pinggulnya maju mundur diantara selangkangan cewek itu. Jamal dengan gemas mengigit puting buah dada Adinda, sementara tangannya yang satu meremas- remas buah dada sebelah kanan.
“Aaaaahh……uuuughhh…..uuughh…uu ukkkh….ooo uuuughh…” rintih Adinda, sementara gerakan Juned mulai pelan, tapi mantap.
“Seratus sembilan puluh enam…..seratus sembilan puluh tujuh….” Semua berandal menyemangati Juned. Batang penisnya keluar masuk dengan barbar.
“”I’M COMING, BABY!” lengkuh Juned.
“OH GOD! NO, PLEASE ! NOOOOO!! NOO! DON’T COME INSIDE ME!!! NOOO, PLEASE!!!!…..AAAKKKHHHH!” kepala Adinda terjengkang keatas, sementara terdengar suara lolong kesakitan ketika batang penis itu menghujam dalam-dalam divaginanya.
Dengan satu hentakan kuat Juned mencapai klimax, penisnya menyemburkan sperma dalam lorong kemaluan Adinda.
“Uuuuuugggh…..ha…ha…ha….bagaim ana?” ejek Juned sambil mencabut penisnya dengan perkasa.
“kau akan digilir sampai pagi!!…..ha…ha…ha…NEXT!!!” seru salah satu berandal.
Sementara itu kilat diluar menyambar-yambar, waktu itu pukul 22:25. Adinda hanya bisa terisak-isak, Poltak maju sambil menyeringai. Tanpa perlawanan yang berarti, Poltak sudah berada di antara selangkangan cewek itu.
“Ha…ha…ha…IS MY TIME TO RIDE, BABY I’M GONNA TAKE MY TIME AND FUCK YOU NICE AND SLOW. LET’S SEE HOW LONG I CAN KEEP MY DICK HARD IN THIS WONDERFULLY TIGHT CUNT OF YOURS. SEE HOW LONG I CAN KEEP YOU MOANS…..!” ejek Poltak, sementara batang penisnya dengan mudah masuk ke vagina Adinda. Poltak memulai gerakannya, pinggulnya bergerak memutar, memastikan penisnya masuk penuh, lalu bergerak maju mundur perlahan tapi dalam. Pinggulnya berayun-ayun pelan dan mantap, diantara kedua paha Adinda yang terbuka lebar, sambil meremas-remas buah dadanya. Kadang jari-jari tangan Poltak melintir-lintir puting susu cewek itu, tubuh Adinda hanya bisa mengeliat-liat, sementara dari bibirnya yang terbuka terdengar suara erangan dan desah.
Penis itu beraksi di vaginanya, pinggulnya diangkat ke antara pinggang Poltak yang maju mundur. Jamal meninggalkan kerumunan menuju kulkas diruang makan. Juned duduk disofa, sambil melihat teman-
temannya beraksi diatas tubuh Adinda. Buyung masih dengan erat memegangi tangan kanan dan kiri Adinda, juga Edi yang memegangi kedua kaki Adinda. Suara desah erangan cewek itu bagai musik merdu ditelinga mereka. Tubuh Adinda basah kuyup karena keringat, sementara Poltak melengkuh-lengkuh nikmat.
“Ooooooooohhhhhh…….uuuuuuhhhhh …..uuuhhhh…. .uuhhh…..
ha…ha…ha….” suara Poltak, penisnya yang panjang tanpa ampun terus mengenjot kemaluan Adinda. Buah dadanya dijadikan bual-bualan oleh Poltak. Giginya mengigiti putingnya dengan gemas, membuat Adinda menjerit kesakitan. Terlihat bercak-bercak merah bekas cupangan disekitar leher dan dada ditubuh Adinda.
“Aaaahhh…..aaaaoooohhh….oooooh hhhhh…ooooohhh h…..” desah Adinda merasakan penis Poltak menusuk keluar masuk divaginanya. Sudah sekitar lima belas menit Poltak beraksi, tubuh Adinda berguncang-
guncang seirama ayunan pinggul Poltak.
Pukul 23.10. Kilat dan guntur bersahutan diluar, membuat jalanan bertambah sepi.
“Hah…hah….hah……uuuggghhh…”leng kuh Poltak, sekarang ayunannya tidak perlahan seperti pertama, tetapi berirama cepat dan dalam. Vagina Adinda terasa perih terbakar oleh gesekan penis Poltak.
“Ha….ha…ha….. tunggu punyaku manis, YOU WILL LOVE IT!” seru Edi sambil mengolesi penisnya sendiri dengan selei sehingga kepala penis itu terlihat gilap dan lebih besar dari yang sebelumnya.
“Uuuuuggghhhh…….uuuuuggghh…… uuuugggghhhh……”desah Adinda pendek seirama keluar masuk penis Poltak di kemaluannya.
Edi meremas-remas penisnya sendiri, sambil memandangi setiap lekuk tubuh Adinda.
“Ha…ha…ha….Ed, kau sudah tak sabar ya?……” tanya Buyung sambil matanya terkagum melihat penis Edi yang makin besar, sehingga kepala penis itu seperti jamur.
“Oooooohhhhhh….uuugggghhh…..oo oohh……
oooohh……..HERE I CAMEEE……!!!!” jerit klimax Poltak, penisnya menghujam dalam-dalam sambil menyemprotkan cairan putih.
“Aaaaaaakkkkkhhhhhhh……oooohhh… …” pekik Adinda diantara lengkuhan nikmat Poltak.
Poltak mencium kening Adinda yang terlentang terengah-engah diatas meja.
“FUCK YOU BABE!…..ha…ha..ha….” ejek Poltak sambil mencabut penisnya.
Posisinya segera digantikan oleh Edi. Kepala penis yang besar itu digesek-gesekkan di antara paha Adinda. Edi memandangi tubuh Adinda yang sintal dan mulus basah oleh keringat.
“LET’S GO TO HEAVEN, manis…ha…ha…ha….” Bersamaan dengan kata itu Edi menciumi buah dada Adinda, sementara tangannya mengesek-gesekkan penisnya di bibir kemaluan cewek itu.
Teriakan Adinda tertelan badai yang ganas, pukul 23.45. Adinda, meronta-ronta tubuhnya membusur digumuli Edi yang penuh napsu, sementara para berandal yang lain tertawa terbahak-bahak. Tangan Adinda yang dipegangi oleh Buyung,membuatnya tak bisa melawan, sehingga dengan leluasa Edi menciumi tubuhnya. Dari leher, lidah Edi terus menelusur turun ke buah dadanya, disedotnya kuat-kuat buah dada cewek itu, membuatnya mengerang kesakitan, lidahnya menjilati dengan lahap cairan yang keluar dari puting susu Adinda. Tiba-tiba dengan hentakan yang kuat penis Edi menerobos masuk kemaluan cewek itu.
“Aaaaakkkkkkkhhhhh…….”Adinda berteriak kesakitan. Penis itu terus berusaha masuk penuh, Adinda bisa merasakan kepala penis yang besar itu berusaha masuk lebih dalam di vaginanya.
“Uuuuugggghhhhh…..sempit sekali….uuuuaahh…
hhhaaaa….”seru Edi sambil terus mendorong masuk penisnya.
“Ayo…..Ed,……ha….ha…ha….masukka n semuanya….biar mampus dia!” teriak Juned menyemangati Edi.
Sekarang kepala penis itu sudah masuk, Edi diam sebentar merasakan otot vagina Adinda yang berusaha menyesuaikan diri dengan penisnya. Dinding vagina Adinda serasa meremas-remas penisnya, membuatnya lebih tegang.
“Ha….ha…ha….kulumat kau, manis!” bisik Edi sambil mulai menggenjotkan penisnya dengan barbar. Juned menciumi leher Adinda, Jamal meremas-remas buah dadanya, Poltak meratakan olesan selai, sedangkan tangan Edi mementang pahanya agar lebih leluasa penisnya bisa maju mundur diliang kemaluan Adinda.
“Aaaahhhh……aaahhhhhh…..aaagggh hhh…
aaahhhhh…” lolongan desah Adinda digarap ramai-ramai. Suara desah dan erangan Adinda terdengar bagai musik merdu ditelinga para berandal. Tanpa menghiraukan Adinda yang sudah kelelahan, mereka terus berpesta menikmati tubuh cewek itu. Bagai menyantap hidangan lezat, mereka melahap dan menjilati tubuh Adinda yang basah, mengkilat karena olesan selai dan keringat. Penis Edi menerobos keluar masuk dengan cepat, sementara disetiap hentakan tubuhnya terdengar erangan Adinda menghiba kesakitan. Jamal yang meremas-remas buah dadanya sekarang mulai menjilatinya penuh napsu, sedangkan putingnya disedoti agar keluar cairan seperti susu, Juned terus menciumi leher Adinda yang jenjang.
“Uuugggh…….uuuuggghhh……..aauug hh…..
uuugghhh….uuuuggghhh….” rintih Adinda, sudah sekitar lima belas menit Edi berpacu dengan birahi, peluh membasahi tubuhnya. Edi melengkuh-lengkuh penuh napsu, menikmati setiap inci hujaman penisnya dilorong kemaluan Adinda.
“Haaah…..haaah….uuuggh…..bagai mana manis, asik bukan…..kau akan digilir sampai pagi…ha…ha…
ha….Haah….haaah….” seru Edi sementara pinggulnya bergerak seperti memompa diantara kedua paha Adinda. Buah dada cewek itu memerah diremas-remas dengan kasar oleh para berandal. Tubuh Adinda berguncang-guncang dengan ganas seirama ayunan Edi.
“He…he…he…..buah dadamu lezat sekali, ya…..kau akan membayarnya dengan tubuhmu sayang!” ejek Jamal sambil menjilatkan lidahnya keudara sementara tangannya meremas-remas buah dada cewek itu dengan napsu. Adinda hanya bisa terisak-isak sambil menahan sakit disekujur tubuhnya yang basah kuyup karena keringat dan selai. Penis Edi makin ganas menggenjot cewek itu.
“Aaaauuh…..aaagggh……uuuuuggggh hhh…
uuuughhhhh….” pikik desah Adinda. Vaginanya terasa panas dan perih oleh gesekan penis Edi yang barbar.
Badai masih ganas, didekat lantai meja makan, terlihat BH dan celana dalam Adinda berserakan sementara diatas meja Adinda diperkosa dengan ganas oleh lima berandal yang kekar, tubuhnya dipentang dan dijilati penuh napsu. Buah dadanya dicengkram dan diremas-remas, lehernya diciumi, puting dan pusarnya dijilati, sementara Edi melengkuh-lengkuh nikmat, cewek itu hanya bisa merintih dan mendesah karena penis besar dan hitam beraksi menghentak-hentak barbar keluar masuk diantara selangkangannya. Waktu menunjukkan 24:16 Edi sudah hampir mencapai klimax, irama ayunan pinggulnya makin cepat tanpa perduli Adinda yang terengah-engah kelelahan, Jamal menggigit puting buah dadanya, membuat Adinda mengerang kesakitan.
“aakkkh….aaahh…ooooohhhh…” rintih Adinda diantara lengkuh nikmat Edi.
“Huuuh…uuuhhh…..uuuuhhh…..uhhh h….
HUUAAAHHHH…..” jerit Edi mencapai klimax, dengan satu hujaman yang kuat, penisnya masuk hilang tertelan dilorong vagina Adinda.
“Aaaaakkkkhhhh….” jerit Adinda tertahan, tubuh cewek itu mengeliat kejang, lalu lunglai, pingsan kelelahan, sementara penis itu menyemburkan banyak sprema dalam vaginanya. Peluh menetes dari tubuh Edi yang masih menindih cewek itu.
“Ha…ha…ha….tubuhmu sungguh menggairahkan sekali…” Raut wajahnya terlihat puas, beberapa saat kemudian Edi mencabut penisnya, sambil mencium leher Adinda yang masih pingsan. Jamal siap-siap maju mengambil posisi.
“Biarkan dia istirahat dulu, nggak enak kalau nggak ada perlawanan” Cegah Juned.
“Kita beri dia obat perangsang saja!” usul Buyung sambil tersenyum penuh napsu.
“Jangan, kita simpan itu untuk yang terakhir” Juned duduk disofa.
Beberapa menit kemudian, sekitar pukul 24:40, Adinda yang baru saja siuman dibopong ramai-ramai menuju kamarnya, disana cewek itu dilempar ke ranjang dan langsung diterkam oleh para berandal yang sekarang semuanya sudah telanjang bulat. Cewek itu berusaha berontak melarikan diri, tetapi dengan cekatan para berandal itu menerentangkan tubuh Adinda. Cewek itu berteriak ketakutan ketika para berandal dengan buas menggumuli tubuhnya.
“Aaaahhhh…..aampun…..aaaahhhh… .”hiba Adinda, sementara Edi dengan kasar mulai meremas-remas buah dada kanannya. Juned berusaha mencium bibirnya yang merah merekah. Poltak menjilati dan menyedoti puting sebelah kiri.
“Aaaaduuuhh…aaaaawww…aaaahhh…. .ja….
ja….ngan…”teriakan Adinda tak digubris. Jamal maju mengambil posisi diantara kedua kakinya, tersenyum sinis sambil membungkuk menciumi leher cewek itu. Adinda mengeliat-liat tak berdaya. Lidah Jamal menelusur turun dari lehernya menuju perutnya Adinda.
“Aaaaaahhh…..le…paskan…..aaaah hh” jerit Adinda ditengah kerubutan berandal. Jamal mulai menjilati daerah pusar Adinda.
“Manis…tadi kulihat kau suka disco! bagaimana kalau sambil diputarkan lagu…hmmm?…
disco…rock…atau metal?….OK metal saja!” Buyung mengejek Adinda. Beberapa saat kemudian terdengar lagu metal, membuat para berandal itu lebih bersemangat menikmati setiap lekuk tubuh Adinda.
“Ha…ha…ha…manis, kami masih belum puas!” ejek Jamal. Buyung membaca surat yang ditemukannya dimeja rias pinggir ranjang.
“Hmmmm…..SO YOUR NAME’S Adinda McCatry….
INTERESTING….” gumam Buyung sambil melihat Adinda yang mendesah-desah tak berdaya dijilati dan diciumi teman-temannya. Beberapa saat kemudian Buyung naik keatas ranjang, berbaring disamping cewek itu.
“Nah Adinda sayang, ARE YOU READY TO LOSE YOUR VIRGINITY IN ANOTHER HOLE? kau benar-benar beruntung manis! kau pasti puas!” kata Buyung sambil menjilat muka cewek itu yang menangis ketakutan. Buyung merangkul tubuhnya dari samping dan digulingkan menghadapkan keatas terlentang sehingga posisinya sekarang dibawah Adinda.
“Hai….sayang pestanya dilanjutkan. Manis kau pikir tadi sudah yang paling sakit, tunggu yang ini kau akan rasain sakit yang sebenernya!” kata Poltak sambil menerkam gemas buah dadanya.
“Dan sekarang kau dapat kehormatan manis BECAUSE I’LL TAKE YOUR ASS VIRGINITY!!” mata Adinda terbelalak ketakutan.
“Oooohhh….jang…aan…PLEASE!!!!” hiba Adinda disela isak tangisnya.
“Adinday kau akan merasakan sesuatu yang belum pernah kau bayangkan sebelumnya sayang!” ejek Buyung.
Cewek itu berusaha berontak sekuat tenaga, tapi kerubutan dan remasan dibuah dadanya membuatnya tak bisa berkutik. Adinda didudukkan tepat diatas tubuh Buyung, berandal itu mengarahkan penisnya yang tegak di lobang anus cewek itu dan segera dihujamkan dalam anus Adinda tanpa pelumas sehingga membuatnya menjerit kesakitan.
“AAAAKKKKKKKHHHHHH!!!!” lolong Adinda, sementara penis Buyung (10 inci) masuk penuh dalam anusnya, sekarang cewek itu dipaksa tidur terlentang. Jamal diatas menindihnya sementara Adinda meronta-ronta kesakitan, anusnya terasa sakit oleh batang penis Buyung yang berada dibawahnya. Jamal yang sudah puas menjilati perut Adinda, sekarang mementang kedua paha Adinda, mengarahkan penisnya (8 inci) ke lorong vagina cewek itu. Apa daya tenaga seorang cewek yang dikeroyok lima lelaki kekar, dengan mudah masing-masing tangan Adinda diikat dengan tali BH dijeruji pilar ranjangnya agar tidak bisa berontak.
Jamal segera memasukkan penisnya ke vagina Adinda yang masih meronta-ronta, sambil tertawa terbahak-bahak. “Ha….ha…ha…. sayang sekarang kau rasakan ini!” sambil berkata seperti itu, Jamal dan Buyung mulai menggoyangkan pinggul mereka. Penis Buyung bergerak naik-turun dianus sedangkan penis Jamal menyodok keluar masuk seirama nada metal yang makin bersemangat. Teriakan cewek itu tertelan oleh bunyi halilintar yang keras. Usaha Adinda untuk berontak membuat ikatan ditangannya makin erat dan menyakitkan. Tubuh Adinda meronta-ronta kesakitan, tanpa disadarinya gerakannya itu makin membuat Jamal dan Buyung yang memperkosanya makin terangsang. Tubuhnya mulai menggelinjang kesana kemari, pinggulnya bergerak-gerak ke kanan, kiri, memutar, sementara Buyung yang dibawah mempertahankan kecepatan ritme keluar masuk batang penisnya dianus Adinda. Suara kecipak akibat gesekan kemaluan mereka berdua semakin terdengar. Sodokan batang penis Buyung dianus Adinda membuat tubuh cewek itu meliuk-liuk tak beraturan dan semakin lama semakin bergerak naik seolah menantang kejantanan Jamal.
“Ha…ha…ha….Adinday kau suka ya? Nih akan kumasukkan lebih dalam lagi! HAAAHHHH!!!!” teriak Jamal sambil bertumpu pada remasan tangannya dibuah dada cewek itu ia menyodokkan penisnya lebih dalam ke vagina Adinda.
“Oooooohhhh……aaahhh….aaahhhh…a ahh…
ampun…amp..aaaaahhh…aaahh!!!!” erang Adinda kesakitan. Sementara kedua penis berandal itu mengkoyak-koyak vagina dan anusnya, begitu penuh nafsu, ganas dan liar. Melihat pemandangan itu dan terbakar oleh api birahi, para berandal lainnya sambil tertawa terbahak-bahak melihat ketidak berdayaan Adinda, mereka meremas-remas penis mereka sendiri.
“Ohhh….ha…ha…ha….bagaimana sayang, bagaimana rasanya….puas nggak? tenang pestanya masih lama….tunggu giliran kita…ha…ha…ha..” seru para berandal lainnya.
Beberapa menit saja penis mereka sudah tegak tegang siap beraksi kembali. Ranjang berderit-derit seirama musik metal dan gerakan mereka yang barbar, Adinda ditindih ditengah-tengah mereka yang menghentak-hentak berpacu dalam birahi. Gerakan Buyung bagaikan dongkrak memaksa tubuh Adinda mengelinjang keatas mengundang penis Jamal masuk ke lorong vaginanya, sedangkan gerakan Jamal yang seperti memompa dari atas menekan kebawah sehingga penis Buyung masuk penuh, begitu seterusnya, membuat cewek itu terengah-engah menahan rasa sakit di anus dan vaginanya sekaligus. Buyung menciumi leher, tengkuk, telinganya penuh napsu.
“Uuuggh…uuggh…uuuughhh….” rintih Adinda seirama ayunan kedua penis itu. Cewek itu bisa merasakan seakan-akan kedua penis itu saling bertemu dan bergesekan didalam perutnya, hanya berbeda lorong saja.
Jamal dan Buyung melengkuh-lengkuh nikmat. Buah dadanya diremas-remas dengan kasar sekali oleh Jamal. Adinda merasakan kesakitan, tapi remasan dibuah dadanya membuatnya tetap tersadar. Para berandal yang lainnya bersorak-sorak menyemangati keduanya melahap tubuh Adinda , Penis-penis mereka digesek-gesekkan di tubuh cewek itu. Waktu menunjukkan Pukul 01:20 sementara pesta perkosaan itu makin brutal terbawa napsu birahi para berandal, sementara itu badai diluar makin ganas dan guntur sesekali menggelegar menelan teriakan Adinda.
Mereka mengerjai tubuh mulus adinda sampai jam 05.00 pagi, dan meninggalkan Adinda dengan tubuh bugil yang sudah tak berdaya itu sembari tertawa penuh kepuasan.
Tamat
Lihat Koleksi Bugil Lengkap..
Cewek yang tingginya sekitar 170 cm, langsing, kakinya juga jenjang banget (Adinda waktu itu pake rok yg rada mini) mempercepat jalannya.
Pukul 20:00 jalanan diluar rumah Adinda, sepi jarang ada mobil yang lewat. Penduduk kota sudah tahu akan ada badai besar malam itu. Kelima berandal yang bertubuh kekar itu mengendap-endap memasuki pekarangan rumah. Mereka mau membalas cewek bertampang melankolis itu yang memergoki mereka mencuri minuman keras tadi,dengan melaporkan satpam. Mereka berencana berpesta memperkosa cewek itu habis-habisan sebagai balasannya.
“Sssstttt…..hati-hati jangan berisik…..ayo sini….” Bisik Poltak sambil memberi aba-aba untuk segera maju bersembunyi dikebun rumah Adinda yang penuh semak-semak.
Sementara itu Adinda tidak mengetahui kalau dirinya diikuti oleh para berandal sejak sepulang kerja tidak menaruh curiga. Cewek itu menyalakan kran air mandi, lalu menuju kekamarnya. Adinda menyalakan lagu disco, sambil melepaskan baju kerjanya.
Di kebun para berandal sudah mulai mengendap- endap sambil menyusun rencana untuk masuk ke dalam rumah. Edi dan Jamal mendapat tugas mengawasi jalanan, sedangkan Poltak membuka pintu depan, Juned dan Buyung mencari jalan masuk lewat belakang. Pada saat itu secara tidak sengaja Juned melewati jendela kamar Adinda yang lagi membuka baju kerjanya. Roknya berada diatas ranjang, sementara Adinda yang tubuhnya cuma terbungkus kemeja kerja dan celana dalam sambil berdisco membuka kancing kemejanya. Juned segera memanggil Buyung untuk melihat pemandangan itu. Mereka menelan ludah melihat Adinda yang meliuk-liuk merangsang menari disco. Ukuran dadanya yang sekitar 36B keliatan jelas banget belahannya ketika cewek itu sudah melepas kemejanya.
“Wow, Juned…LOOK AT HER TITS….aku ingin segera mencicipi tubuhnya….” Bisik Buyung tanpa melepaskan padangan matanya menatap tubuh Adinda yang hanya mengenakan baju dalam.
“He…he….he…sabar, Bill…nanti kita cicipi sama-sama, sampai pagi!” sahut Juned yang makin bernapsu melihat hal itu.
Beberapa saat kemudian Adinda beranjak menuju kekamar mandi. Sementara itu Poltak yang berhasil membuka pintu depan segera memberi aba-aba pada teman-temannya untuk masuk. Para berandal itu sudah memperhitungkan segalanya, mereka mengunci pintu dari dalam sehingga nanti mereka bebas bertindak. Kabel telpon sudah mereka putus, cewek itu tinggal sendirian dan lagi badai yang akan datang sangat menguntungkan rencana mereka. Dengan leluasa mereka masuk ke kamar cewek itu. Jamal membuka kulkas, yang lain masuk ke kamar Adinda. Edi memeriksa lemari pakaian Adinda.
“Hai….lihat apa yang kutemukan!” sambil menunjukkan barang temuannya. Juned segera menyahut celana dalam itu.
“Hmmmmm….mmmm…” Juned mencium celana dalam.
“Ingat aku yang pertama bercinta dengannya!” sahutnya sambil tersenyum penuh arti. Para berandal itu tak sabar membayangkan apa yang akan mereka nikmati. Lalu mereka mengambil posisi untuk bersembunyi.
Adinda selesai mandi menuju keruang tengah. Tubuhnya hanya terbalut oleh baju dalam dan kemeja putih, duduk menikmati acara TV kabel. Waktu itu pukul 20:30, cewek itu tidak menaruh curiga bahwa ada orang lain dalam rumahnya. Tiba-tiba dari arah belakang salah seorang berandal maju mendekap tubuhnya. Adinda terkejut dan segera berontak melepaskan diri.
“EVER BEEN GANG RAPED BABY? DON’T KNOW WHAT YOU BEEN MESSIN! YOU STILL REMEMBER US DON’T YOU……” ejek Edi.
Adinda segera mengenali wajah itu menjadi ketakutan sekali, ia tak menyangka kalau para berandal itu benar-benar melaksanakan ancamannya.
Juned maju menerkamnya tiba-tiba, cewek itu menjerit ketakutan ketika berhasil dipeluk. Ia meronta-ronta dan menendang Juned. Tanpa disadarinya tendangannya mengenai selangkangan Juned membuatnya meringis kesakitan dan melepaskan dekapannya. Adinda segera melepaskan diri dan lari menuju pintu depan. Para berandal segera mengejarnya sambil menyorakinya. Dengan sekuat tenaga pintu depan itu berusaha dibuka, tetapi usahanya sia-sia.
“Wooooo……woooooo……ha…ha…ha….ay o sayang, mau lari kemana kamu hah….ayo sini…ha…ha….ha…” Ejek para berandal yang mengejarnya dari belakang. Adinda segera dikepung oleh para berandal. Mereka menyoraki ketidak berdayaannya. Adinda didesak terus sampai merapat kedinding, Juned yang tadi meringis kesakitan mulai maju. Pada saat cewek itu hampir putus asa, ia berhasil berkelit dari kepungan berandal itu, lolos dan lari menuju ke dapur, Adinda bermaksud lari lewat pintu belakang. Para berandal segera mengejarnya lagi. Nasib sial bagi Adinda, begitu tangannya berhasil menyentuh gagang pintu, para berandal berhasil menangkapnya kembali. Rambut pirang Adinda yang panjangnya sebahu terjambak, sehingga ia tidak bisa berbuat apa-apa.
“Aaaahhhh….aammpun…aaah” hiba Adinda, sementara para berandal tersenyum sinis memandangnya.
“Sayang…. Kami akan memberimu pengalaman yang tak akan kau lupakan! kau tadi telah merusak acara pesta kami, sekarang kau harus membayarnya dengan tubuhmu yang indah itu……ha…ha..ha…, oya kau juga akan menyesal telah menendang punyaku, akan kujoblos kau sampai mampus! ” Juned maju dari kerumunan temannya.
Adinda tak berdaya, rambutnya dijambak sementara tangannya dilipat kebelakang. Dari dapur ia diseret menuju ruang tamu saat itu pukul 20:45. Disana ia dikelilingi oleh kelima berandal sambil didorong-dorong.
“Sayang, kita akan berpesta denganmu!” seru Edi tak sabar sambil mendorong ke arah Buyung.
“Ha…..ha…ha…. kau tak akan bisa lolos kali ini….” Ejek Buyung sambil mendekap tubuh Adinda. Mereka berteriak-teriak membuat Adinda makin ketakutan.
“Kemarikan dia Bill….HEY BABE, I BET MY COCK WOULD FEEL REAL GOOD WARPED UP IN YOUR PUSSY!” seru Jamal tak sabar, sambil mempraktekkan gaya bercinta penuh napsu. Adinda didorong ke arah Jamal yang segera merangkul nya dari depan. Mulutnya segera mencari dada cewek itu, sementara pinggulnya bergerak maju mundur seakan sedang bercinta dengannya.
“Wooooo…. Wooooou…..FUCK YOU GIRL, FUCK YOU…..” Jamal menggerayangi cewek itu.
“Aaaahhhh…….aaam…punnn….aahhh… ..jaa…aa ahhhh!!!” jerit Adinda ketakutan.
Tiba-tiba dengan satu sabetan, tangan salah satu berandal merobek kemeja putih Adinda, membuat cewek itu terpelanting. Poltak segera mendekap dari belakang. Sekarang tubuh Adinda hanya mengenakan BH dan celana dalam saja, membuat mereka makin menjadi-jadi.
“Ah…aahh…aahh!” jerit Adinda ketika tangan Poltak yang mendekap tubuhnya dari belakang mulai menggerayangi pahanya yang putih mulus.
“Kita akan memberimu pengalaman yang tak terlupakan, manis…ha…ha…ha…” bisik Poltak.
Para berandal lainnya ikutan beraksi. Tangan Edi meremas remas buah dada Adinda. Jamal memburu kemaluan Adinda, sementara Buyung dan Juned buka baju dan celana panjang mereka sambil tertawa sinis. Tubuh para berandal itu terlihat begitu kekar dan berotot.
“HEY, SOMEBODY GET BEHIND THE BITCH AND HOLD HER ARMS, I’M FUCKING HER FIRST!” Juned memberi aba-aba yang langsung disetujui teman-temannya. Cewek itu meronta-ronta di bopong kelima berandal itu keruang tengah.
“Jamal, Poltak, kau pegangi tangan dan kakinya, terlentangkan dia di meja ini” perintah Juned.
Lonceng berdentang menunjukkan pukul 21:00. Disana Adinda diterlentangkan di atas sebuah meja bundar. Masing-masing tangan dan kakinya dipegangi erat-erat oleh para berandal. Sinar lampu diatas meja membuat cewek itu silau, Adinda hanya bisa melihat tubuh-tubuh kekar mengerubunginya dan tangan-tangan berotot meraba-raba dadanya, wajah sinis dan suara tawa para berandal mengejek ketidak berdayaannya.
Lidah Juned menelusuri lehernya yang jenjang. Adinda berontak berusaha melepaskan diri, tetapi apa daya tenaga seorang cewek dibanding dengan lima laki-laki yang kesetanan. Jamal dan Edi memegangi kakinya, sementara tangan kanan dan kiri Adinda dipegangi erat-erat oleh Poltak dan Buyung. Juned mencumbunya dengan kasar dan penuh napsu, tangannya dengan liar meremas-remas buah dada Adinda.
“I CAN SEE THE NIPPLES POKING AT HER BRA!” kata Juned yang langsung disambut oleh tawa para berandal.
“HEY, CUT THAT BRA OFF MAN. WHAT’S WRONG WITH YOU?” sahut Poltak sudah tidak sabar lagi.
“Aaaah…..aaah….ooh…jangan…..aa hkh!” jerit Adinda ketika dengan satu hentakan kasar tangan Juned merobek BH yang dikenakannya. Para berandal makin seru menyorakinya. Mulut Juned segera melumat buah dada Adinda yang sintal, sementara tangan kirinya masih meremas-remas buah dada sebelah kanan Adinda. “Aaaaah….aaoooh…..ooooh…aahh …aaaahh…aaahhhhh….” desah Adinda mengeliat-liat. Putingnya dijilati penuh napsu oleh lidah Juned.
“Ha….ha….ha…. kau sungguh mengiurkan sayang!” tawa Buyung menelan ludah tak sabar ingin segera menikmati gilirannya. Juned sekarang membuka celana dalamnya sendiri, penisnya yang hitam besar 10 inci itu terlihat tegak siap beraksi.
“Kenyal sekali…..ha…ha…ha…”seru Juned sambil menerkam dan mulutnya menciumi buah dada cewek itu dengan buas. Tubuh Adinda mengeliat-liat membusur, sementara buah dadanya diremas-remas sampai merah. Lidah Juned menelusuri buah dada Adinda, lalu turun ke daerah perut dan menjilati pusarnya. Beberapa saat kemudian sambil tersenyum sinis, mata Juned memelirik kearah paha Adinda.
“Oooohhh….jangan…..aaahhhh….” hiba Adinda ketakutan tidak berani membayangkan diperkosa oleh kelima berandal kekar dan berotot.
Lalu tangan Juned mulai memelorot celana dalam Adinda. Cewek itu berusaha mempertahankannya,
“Ha..ha…ha…percuma kau berontak manis!” ejek Juned ketika Adinda berontak sekuat tenaga, tetapi Buyung dan Poltak makin erat memegangi tangan Adinda, perlahan- lahan celana dalamnya terlepas, rambut kemaluan Adinda terlihat ketika celana dalam berwarna pink itu dari pinggul dilorot turun kepahanya dan akhirnya terlepas.
“Cihuuuiiii……Ha…ha…ha….PARTY TIMES… ha…ha…ha….” Teriaknya sambil memutar-putar celana dalam itu, lalu dicium dalam-dalam menikmati aromanya dan dilemparkan kelantai. Mata Juned jelalatan memandangi Adinda yang telanjang bulat terlentang diatas meja. Adinda lemas karena ketakutan, ia tak berani membayangkan para berandal itu akan ‘menelan tubuhnya ramai-ramai’. Para berandal makin ramai menyorakinya, mata mereka jelalatan memandang setiap lekuk tubuh Adinda. Poltak yang tadi memegangi tangan Adinda digantikan oleh Buyung.
“Oooooh…..aaaahh….am…pun…..aaa ah…jang… an…aaahh..” hiba tangis Adinda.
“Diam!….THERE’S GOING TO BE A BIG PARTY IN YOUR PUSSY TONIGHT…..Ha…ha…ha…kita lihat siapa yang paling hebat bercinta denganmu!” ejek Poltak mendekati Adinda sambil mengeluarkan pisau lipat. Adinda ketakutan ketika Poltak memainkan pisau itu diantara buah dadanya sambil tersenyum sinis memandang tubuhnya. Pisau itu bergerak kearah puting susunya dan diputar-putar mengelilingi belahan buah dada Adinda yang naik-turun karena napasnya tak beraturan. Hal itu membuat para berandal benar-benar terangsang. Pisau itu terasa dingin di buah dada Adinda, lalu pisau itu bergerak kearah perut cewek itu dan turun ke daerah bawah pusar cewek itu. Edi menyeringai penuh arti ketika mengetahui apa yang akan dilakukan oleh Poltak dengan pisau lipatnya.
“Ayo Milo, cukur sampai habis…..ha…ha…ha…ha…” seru Edi kegirangan.
“Aaaahh…..ohhhh…jangan….aaah…. ” teriak Adinda sambil berontak, tetapi para berandal itu makin mempererat pegangannya, sementara pisau lipat itu dengan buas mulai beraksi mencukur rambut kemaluannya.
“Ha…ha….ha… kesempatan yang langka ini tak akan kami lewat begitu saja. Ayo manis berteriaklah semaumu, tak akan ada yang mendengarmu saat ini.” Ejek Juned sambil menerkam buah dada Adinda, diremasnya kuat-kuat membuat cewek itu mengerang kesakitan sementara Poltak mencukur rambut kemaluannya tanpa foam pelicin sehingga Adinda merasa perih. Buyung, Jamal dan Edi yang memegangi kaki dan kedua tangan Adinda tertawa melihat cewek itu meronta-ronta. “Aaaaaagggg….aaaaoooohh….ooooo hhh…oohh.. .” desah Adinda buah dadanya diremas-remas oleh Juned. Suara desahan itu membuat para berandal itu makin terangsang.
Dengan buas pisau Poltak beraksi, dalam beberapa menit saja rambut kemaluan Adinda telah tercukur habis. Daerah kulit bawah perut Adinda yang tadinya ada rambut kemaluannya terlihat memerah. Poltak tersenyum puas, Juned segera maju sambil mementang kaki cewek itu lebar-lebar, sekarang ia berada diantara pahanya , memandang kemaluan Adinda yang terlihat jelas karena rambut disekitar daerah itu habis tercukur.
“Ha…ha…ha…buah dadamu sungguh lezat, NOW I’LL EAT YOUR PUSSY!” kata Juned sambil menjilatkan lidahnya sementara matanya melirik kearah kemaluan Adinda.
“Oooooh….lepas…kan….jang…an ..oooOOAAHH!” tangis Adinda terhenti ketika Juned mulai menjilatinya. Lidah itu seakan menjulur panjang menjelajahi lorong vagina Adinda. Tubuh cewek itu mengelinjang-gelinjang, sementara lidah Juned bergerak seperti cacing menggali lobang.
“Oooooohhhhh…aaaauuuuoooo…oooo uuu…aaaah. ..” Desis Adinda sementara kepalanya hanya bisa menggeleng ke kiri dan kanan. Tubuh Adinda bergetar, tangannya mengepal erat-erat, Poltak menciumi leher dan daerah sekitar ketiak, sambil tangannya mencubit puting susu cewek itu. Jamal melepaskan kaki cewek itu, dan ikutan mencumbu perut Adinda. Lidah Jamal menjilati pusar cewek itu.
“Uuuuuuhhhh….oooouuh…ooohhh…” suara desah Adinda makin keras, ketika lidah Juned masuk makin dalam divaginanya.
“Ha…ha…ha….percuma kau berontak sayang, mau tak mau kau akan menikmati pesta ini!” ejek salah satu berandal.
Buah dada Adinda memerah dan mengembang karena remasan tangan Poltak.
Juned makin bersemangat, ketika vagina Adinda mulai berlendir. Lidah itu menjelajah makin dalam bersamaan dengan pekik desah Adinda. Poltak masih mengulum buah dada cewek itu. Putingnya disedot kuat-kuat, membuat cewek itu mengeliat menahan rasa nikmat dan sakit yang bercampur menjadi satu. Tanpa disengaja dari puting buah dada Adinda keluar cairan putih seperti susu. Poltak lebih bersemangat lagi menyedoti cairan itu, sementara tangannya meremas-remas buah dada Adinda agar keluar lebih banyak.
“Uuuuggghhhh……uuuuuhhhh….uuuhh hh….aaauuuhh hhh….” desis Adinda dengan napas tersedak-sedak.
“Ha…ha…ha….ternyata tubuhmu menghianatimukan? Diam-diam kau menikmatinya……BITCH!!!!” ejek Poltak sambil menyedoti buah dada Adinda, kanan-kiri.
Lonceng berbunyi menunjukkan pukul 21:30. Rupanya para berandal itu senang bermain-main dengan tubuhnya dan berniat melakukan WARMING-UP sebelum memperkosanya. Adinda hanya bisa mengeliat-liat dikerubuti para berandal yang kekar. Lidah Juned dengan lahapnya menjilati vagina Adinda. Tidak puas hanya lidah, sekarang jari tangan Juned ikutan beraksi. Jari tengah dan telunjuk Juned masuk di lobang kemaluan cewek itu, diputar-putar seolah-olah mengaduk-aduk vagina Adinda, sementara lidahnya ikut menjilati bibir kemaluan Adinda.
“Aaaauuuuhhhhh……uuuuuhhh…..aaa hhhh” desah cewek itu makin keras, membuat para berandal itu tertawa mengejek ketidak berdayaannya. Jari tangan Juned menusuk masuk dan bermain-main dengan klitorisnya, membuat Adinda mengelinjang-gelinjang. Mata Adinda terpejam, kepalanya menggeleng ke kiri kanan, Jamal menciumi pusarnya, tangan Poltak meremas-remas buah dadanya. Setelah puas bermain-main, Juned mementang kedua kaki Adinda.
“Juned mau pakai kondom?” tanya Buyung. Juned menolak usul Buyung.
“NO WAY….Ha…ha…ha….I WANT TO FEEL SKIN TO SKIN…ok sekarang saatnya manis… NOW LETS SEE JUST HOW TIGHT YOUR CUNT IS!” Juned mengangkat pinggul Adinda tinggi-tinggi. Penisnya sekarang digesek-gesekkan disekitar bibir kemaluan Adinda berusaha menyibak belahannya. Mata cewek itu terbelalak kaget ketika merasakan kepala penis Juned yang besar dan hangat. Batang penis itu berdenyut-denyut dibibir kemaluannya.
“Ohhh…ohhhh sekarang saatnya!” pikiran Adinda melayang jauh ketika Juned mulai beraksi menindih tubuhnya.
“Ayo Juned cumbu dia sampai mampus……Cihuuui!!!” para berandal itu memberi semangat.
Juned merasakan rasa hangat yang mengalir pada kepala batang kemaluannya yang sudah menancap tepat pada pintu gua kenikmatan milik cewek itu. Juned menekan perlahan, seperempat dari bagian kepala kemaluannya mulai terbenam ….Adinda menahan napas …. ditekan lebih dalam lagi …. separuh dari bagian kepala kemaluannya melesak masuk …. dengan lebih bertenaga Juned mendesak batang kemaluannya untuk masuk lebih dalam lagi.
“Ayo Juned! sedikit lagi! Masukin saja semua! Biar dia rasain Juned!” Poltak menyoraki Juned sambil meremas-remas buah dada Adinda.
“AAAgggh!!!!” Pekik Adinda merasakan sesuatu yang menyakitkan dipangkal pahanya ketika seluruh kepala kemaluan Juned sudah terbenam kedalam liang hangat miliknya, dengan satu hentakan yang kuat, penis Juned menyeruak masuk ke dalam vagina Adinda membuatnya memekik kesakitan.
Sementara badai diluar mulai turun dengan deras dimulailah pesta perkosaan itu. Adinda terlentang diatas meja bundar diruang tengah, tangan dan kakinya dipegangi erat-erat oleh Buyung dan Edi, buah dadanya dijilati, disedoti oleh Jamal dan Poltak, sementara penis Juned mengoyak-koyak vaginanya dengan ganas.
“Aaagh…..aaahh….ooooh….ooohh…” suara rintih Adinda seiring dengan gerakan ayunan pinggul Juned yang kuat. Senti demi senti batang kemaluan Juned menelusur masuk menerobos keketatan liang kemaluan Adinda yang sudah basah berlendir itu. Setiap ayunan Juned membuat tubuhnya mengelepar kesakitan karena penis yang besar itu berusaha masuk lebih dalam. Suara desahan Adinda membuat para berandal itu makin bernapsu menikmati tubuhnya.
“Ayo Juned…..genjot terus sampai mampus….. ha…ha…ha…” seru salah satu berandal.
Juned merasakan begitu ketatnya ujung kemaluannya terjepit di dalam vagina Adinda, selang beberapa saat penis itu terhenti menerobos keluar masuk.
“CAN’T SEEM TO GET MY COCK DEEP ENOUGH INTO YOU BABY!” Juned mengatur posisi pinggulnya, “YOU SO DAMN TIGHT!.” kemudian dengan satu hentakan yang kuat membuat batang penis itu hilang tertelan kemaluan Adinda.
“AAAaaaaggggkkk!!” suara lolong histeris Adinda ketika dengan satu hentakan kuat tanpa masalah penis itu beraksi lagi di liang vagina Adinda yang berlendir, rupanya selaput perawan Adinda robek.
“Uuuugggghhhh…. SO YOU’RE STILL A VIRGIN? Ha…ha…ha….manis, kau tak akan melupakan pengalaman ini!” ejek Juned, Penis itu dengan mudah menerjang keluar masuk dengan cepat, sementara tubuhnya menghentak hentak barbar diatas Adinda yang mendesah-desah tak berdaya. Kemaluan Adinda terasa akan robek oleh desakan penis Juned yang menyeruak masuk keluar dalam-dalam seperti membor kilang minyak. Juned melengkuh-lengkuh nikmat, pinggulnya berayun-ayun memompa, penis itu keluar masuk.
Kaki Adinda terangkat tinggi diatas meja terayun-ayun seirama gerakan pinggul Juned menghujamkan keluar masuk batang penisnya yang dengan barbar beraksi divaginanya.
Adinda berharap ia dapat pingsan saat itu juga supaya tidak merasakan sakit yang tak terlukiskan itu. Para berandal itu menyanyikan lagu “ROW YOUR BOAT”.
“Aaaahhh…aaaahh….ammm….pun….aa hh…
aaahh…aaahh….sakit..ahhhhh..aa aahhh….”jerit Adinda. Pinggul Juned bergerak seperti pompa. Penis itu keluar masuk seiring desahan Adinda.
“Ayo Juned coblos terus, coblos…coblos…woooo…
wooooo BABY….” teriak Poltak sambil menciumi dada cewek itu.
“Delapan puluh delapan……delapan puluh sembilan….sembilan puluh…Ayo…” dengan semangat Edi menghitungi setiap hujaman penis Juned.
“Aaaaahhh….wahhhhaaa….aaaah….u uuuh…
uuugh….” pekik Adinda, sementara Juned berayun-ayun diatas tubuhnya. Cewek itu hanya bisa terisak-isak. Suara petir menyambar di sela-sela badai.
“YEAAAHHH. HOW’S IT FEEL, BABE, HOW’S IT FEEL WITH A REAL MAN’S BIG COCK IN YOUR BELLY? OOOOOOOOOOOOO YOU FEEL SO GOOD, SO HOT.” ejek Juned sambil memaksa Adinda yang mendesah untuk melihat penisnya mengenjot keluar masuk lorong vaginanya. Adinda bisa merasakan setiap inci dari otot dibatang penis Juned bergerak menelusuri lorong kemaluannya.
“Uuuh…uuuh….uuaah…” lengkuh Juned, sudah sekitar setengah jam dia berayun-ayun diatas cewek itu, keringat membasahi tubuh keduanya, tetapi gerakan pinggulnya tetap ganas, penisnya menyodok-sodok dikemaluan Adinda, tangannya menggerayangi pahanya dengan liar.
Sementara itu Poltak membuka celana panjang dan celana dalamnya sendiri, penisnya panjang, (tetapi tidak sebesar Juned sekitar 8.7 inci) sudah tegak menegang. Jamal masih asyik menyedoti puting buah dada Adinda. Sesekali cewek itu berusaha memberontak, tetapi Edi dan Buyung mempererat pegangannya. Juned melengkuh-lengkuh nikmat di atas tubuh Adinda yang mengeliat-liat menahan berat tubuh Juned yang menindihnya.
“Seratus enam puluh enam…… seratus enam puluh tujuh…..seratus enam puluh delapan…..ayo Juned taklukan dia….ha…ha…ha…” Edi menyemangati yang langsung diikuti oleh para berandal yang lain.
“Seratus tujuh puluh tiga….seratus tujuh puluh empat…seratus tujuh puluh lima….” Para berandal yang lain ikutan menyemangati Juned.
Tubuh dan buah dada Adinda berguncang-guncang seirama dengan hentakan genjotan Juned yang makin liar. Vaginanya terasa terbakar oleh gesekan penis Juned yang buas.
“Aaaaaaahhhh…..aaaaaa….aaaaaah h…..aahhhh…. ..ooooohhh” Adinda melolong menahan sakit.
“Ayo…….ayo….seratus delapan puluh delapan…..seratus delapan puluh sembilan….seratus sembilan puluh….ha…ha…ha…” Edi memberi semangat.
“Uuuuaah….uuuuuh….uuughh…tubuh mu nikmat sekali!” Juned mengejek Adinda yang mengigit bibirnya menahan sakit. Pinggulnya maju mundur diantara selangkangan cewek itu. Jamal dengan gemas mengigit puting buah dada Adinda, sementara tangannya yang satu meremas- remas buah dada sebelah kanan.
“Aaaaahh……uuuughhh…..uuughh…uu ukkkh….ooo uuuughh…” rintih Adinda, sementara gerakan Juned mulai pelan, tapi mantap.
“Seratus sembilan puluh enam…..seratus sembilan puluh tujuh….” Semua berandal menyemangati Juned. Batang penisnya keluar masuk dengan barbar.
“”I’M COMING, BABY!” lengkuh Juned.
“OH GOD! NO, PLEASE ! NOOOOO!! NOO! DON’T COME INSIDE ME!!! NOOO, PLEASE!!!!…..AAAKKKHHHH!” kepala Adinda terjengkang keatas, sementara terdengar suara lolong kesakitan ketika batang penis itu menghujam dalam-dalam divaginanya.
Dengan satu hentakan kuat Juned mencapai klimax, penisnya menyemburkan sperma dalam lorong kemaluan Adinda.
“Uuuuuugggh…..ha…ha…ha….bagaim ana?” ejek Juned sambil mencabut penisnya dengan perkasa.
“kau akan digilir sampai pagi!!…..ha…ha…ha…NEXT!!!” seru salah satu berandal.
Sementara itu kilat diluar menyambar-yambar, waktu itu pukul 22:25. Adinda hanya bisa terisak-isak, Poltak maju sambil menyeringai. Tanpa perlawanan yang berarti, Poltak sudah berada di antara selangkangan cewek itu.
“Ha…ha…ha…IS MY TIME TO RIDE, BABY I’M GONNA TAKE MY TIME AND FUCK YOU NICE AND SLOW. LET’S SEE HOW LONG I CAN KEEP MY DICK HARD IN THIS WONDERFULLY TIGHT CUNT OF YOURS. SEE HOW LONG I CAN KEEP YOU MOANS…..!” ejek Poltak, sementara batang penisnya dengan mudah masuk ke vagina Adinda. Poltak memulai gerakannya, pinggulnya bergerak memutar, memastikan penisnya masuk penuh, lalu bergerak maju mundur perlahan tapi dalam. Pinggulnya berayun-ayun pelan dan mantap, diantara kedua paha Adinda yang terbuka lebar, sambil meremas-remas buah dadanya. Kadang jari-jari tangan Poltak melintir-lintir puting susu cewek itu, tubuh Adinda hanya bisa mengeliat-liat, sementara dari bibirnya yang terbuka terdengar suara erangan dan desah.
Penis itu beraksi di vaginanya, pinggulnya diangkat ke antara pinggang Poltak yang maju mundur. Jamal meninggalkan kerumunan menuju kulkas diruang makan. Juned duduk disofa, sambil melihat teman-
temannya beraksi diatas tubuh Adinda. Buyung masih dengan erat memegangi tangan kanan dan kiri Adinda, juga Edi yang memegangi kedua kaki Adinda. Suara desah erangan cewek itu bagai musik merdu ditelinga mereka. Tubuh Adinda basah kuyup karena keringat, sementara Poltak melengkuh-lengkuh nikmat.
“Ooooooooohhhhhh…….uuuuuuhhhhh …..uuuhhhh…. .uuhhh…..
ha…ha…ha….” suara Poltak, penisnya yang panjang tanpa ampun terus mengenjot kemaluan Adinda. Buah dadanya dijadikan bual-bualan oleh Poltak. Giginya mengigiti putingnya dengan gemas, membuat Adinda menjerit kesakitan. Terlihat bercak-bercak merah bekas cupangan disekitar leher dan dada ditubuh Adinda.
“Aaaahhh…..aaaaoooohhh….oooooh hhhhh…ooooohhh h…..” desah Adinda merasakan penis Poltak menusuk keluar masuk divaginanya. Sudah sekitar lima belas menit Poltak beraksi, tubuh Adinda berguncang-
guncang seirama ayunan pinggul Poltak.
Pukul 23.10. Kilat dan guntur bersahutan diluar, membuat jalanan bertambah sepi.
“Hah…hah….hah……uuuggghhh…”leng kuh Poltak, sekarang ayunannya tidak perlahan seperti pertama, tetapi berirama cepat dan dalam. Vagina Adinda terasa perih terbakar oleh gesekan penis Poltak.
“Ha….ha…ha….. tunggu punyaku manis, YOU WILL LOVE IT!” seru Edi sambil mengolesi penisnya sendiri dengan selei sehingga kepala penis itu terlihat gilap dan lebih besar dari yang sebelumnya.
“Uuuuuggghhhh…….uuuuuggghh…… uuuugggghhhh……”desah Adinda pendek seirama keluar masuk penis Poltak di kemaluannya.
Edi meremas-remas penisnya sendiri, sambil memandangi setiap lekuk tubuh Adinda.
“Ha…ha…ha….Ed, kau sudah tak sabar ya?……” tanya Buyung sambil matanya terkagum melihat penis Edi yang makin besar, sehingga kepala penis itu seperti jamur.
“Oooooohhhhhh….uuugggghhh…..oo oohh……
oooohh……..HERE I CAMEEE……!!!!” jerit klimax Poltak, penisnya menghujam dalam-dalam sambil menyemprotkan cairan putih.
“Aaaaaaakkkkkhhhhhhh……oooohhh… …” pekik Adinda diantara lengkuhan nikmat Poltak.
Poltak mencium kening Adinda yang terlentang terengah-engah diatas meja.
“FUCK YOU BABE!…..ha…ha..ha….” ejek Poltak sambil mencabut penisnya.
Posisinya segera digantikan oleh Edi. Kepala penis yang besar itu digesek-gesekkan di antara paha Adinda. Edi memandangi tubuh Adinda yang sintal dan mulus basah oleh keringat.
“LET’S GO TO HEAVEN, manis…ha…ha…ha….” Bersamaan dengan kata itu Edi menciumi buah dada Adinda, sementara tangannya mengesek-gesekkan penisnya di bibir kemaluan cewek itu.
Teriakan Adinda tertelan badai yang ganas, pukul 23.45. Adinda, meronta-ronta tubuhnya membusur digumuli Edi yang penuh napsu, sementara para berandal yang lain tertawa terbahak-bahak. Tangan Adinda yang dipegangi oleh Buyung,membuatnya tak bisa melawan, sehingga dengan leluasa Edi menciumi tubuhnya. Dari leher, lidah Edi terus menelusur turun ke buah dadanya, disedotnya kuat-kuat buah dada cewek itu, membuatnya mengerang kesakitan, lidahnya menjilati dengan lahap cairan yang keluar dari puting susu Adinda. Tiba-tiba dengan hentakan yang kuat penis Edi menerobos masuk kemaluan cewek itu.
“Aaaaakkkkkkkhhhhh…….”Adinda berteriak kesakitan. Penis itu terus berusaha masuk penuh, Adinda bisa merasakan kepala penis yang besar itu berusaha masuk lebih dalam di vaginanya.
“Uuuuugggghhhhh…..sempit sekali….uuuuaahh…
hhhaaaa….”seru Edi sambil terus mendorong masuk penisnya.
“Ayo…..Ed,……ha….ha…ha….masukka n semuanya….biar mampus dia!” teriak Juned menyemangati Edi.
Sekarang kepala penis itu sudah masuk, Edi diam sebentar merasakan otot vagina Adinda yang berusaha menyesuaikan diri dengan penisnya. Dinding vagina Adinda serasa meremas-remas penisnya, membuatnya lebih tegang.
“Ha….ha…ha….kulumat kau, manis!” bisik Edi sambil mulai menggenjotkan penisnya dengan barbar. Juned menciumi leher Adinda, Jamal meremas-remas buah dadanya, Poltak meratakan olesan selai, sedangkan tangan Edi mementang pahanya agar lebih leluasa penisnya bisa maju mundur diliang kemaluan Adinda.
“Aaaahhhh……aaahhhhhh…..aaagggh hhh…
aaahhhhh…” lolongan desah Adinda digarap ramai-ramai. Suara desah dan erangan Adinda terdengar bagai musik merdu ditelinga para berandal. Tanpa menghiraukan Adinda yang sudah kelelahan, mereka terus berpesta menikmati tubuh cewek itu. Bagai menyantap hidangan lezat, mereka melahap dan menjilati tubuh Adinda yang basah, mengkilat karena olesan selai dan keringat. Penis Edi menerobos keluar masuk dengan cepat, sementara disetiap hentakan tubuhnya terdengar erangan Adinda menghiba kesakitan. Jamal yang meremas-remas buah dadanya sekarang mulai menjilatinya penuh napsu, sedangkan putingnya disedoti agar keluar cairan seperti susu, Juned terus menciumi leher Adinda yang jenjang.
“Uuugggh…….uuuuggghhh……..aauug hh…..
uuugghhh….uuuuggghhh….” rintih Adinda, sudah sekitar lima belas menit Edi berpacu dengan birahi, peluh membasahi tubuhnya. Edi melengkuh-lengkuh penuh napsu, menikmati setiap inci hujaman penisnya dilorong kemaluan Adinda.
“Haaah…..haaah….uuuggh…..bagai mana manis, asik bukan…..kau akan digilir sampai pagi…ha…ha…
ha….Haah….haaah….” seru Edi sementara pinggulnya bergerak seperti memompa diantara kedua paha Adinda. Buah dada cewek itu memerah diremas-remas dengan kasar oleh para berandal. Tubuh Adinda berguncang-guncang dengan ganas seirama ayunan Edi.
“He…he…he…..buah dadamu lezat sekali, ya…..kau akan membayarnya dengan tubuhmu sayang!” ejek Jamal sambil menjilatkan lidahnya keudara sementara tangannya meremas-remas buah dada cewek itu dengan napsu. Adinda hanya bisa terisak-isak sambil menahan sakit disekujur tubuhnya yang basah kuyup karena keringat dan selai. Penis Edi makin ganas menggenjot cewek itu.
“Aaaauuh…..aaagggh……uuuuuggggh hhh…
uuuughhhhh….” pikik desah Adinda. Vaginanya terasa panas dan perih oleh gesekan penis Edi yang barbar.
Badai masih ganas, didekat lantai meja makan, terlihat BH dan celana dalam Adinda berserakan sementara diatas meja Adinda diperkosa dengan ganas oleh lima berandal yang kekar, tubuhnya dipentang dan dijilati penuh napsu. Buah dadanya dicengkram dan diremas-remas, lehernya diciumi, puting dan pusarnya dijilati, sementara Edi melengkuh-lengkuh nikmat, cewek itu hanya bisa merintih dan mendesah karena penis besar dan hitam beraksi menghentak-hentak barbar keluar masuk diantara selangkangannya. Waktu menunjukkan 24:16 Edi sudah hampir mencapai klimax, irama ayunan pinggulnya makin cepat tanpa perduli Adinda yang terengah-engah kelelahan, Jamal menggigit puting buah dadanya, membuat Adinda mengerang kesakitan.
“aakkkh….aaahh…ooooohhhh…” rintih Adinda diantara lengkuh nikmat Edi.
“Huuuh…uuuhhh…..uuuuhhh…..uhhh h….
HUUAAAHHHH…..” jerit Edi mencapai klimax, dengan satu hujaman yang kuat, penisnya masuk hilang tertelan dilorong vagina Adinda.
“Aaaaakkkkhhhh….” jerit Adinda tertahan, tubuh cewek itu mengeliat kejang, lalu lunglai, pingsan kelelahan, sementara penis itu menyemburkan banyak sprema dalam vaginanya. Peluh menetes dari tubuh Edi yang masih menindih cewek itu.
“Ha…ha…ha….tubuhmu sungguh menggairahkan sekali…” Raut wajahnya terlihat puas, beberapa saat kemudian Edi mencabut penisnya, sambil mencium leher Adinda yang masih pingsan. Jamal siap-siap maju mengambil posisi.
“Biarkan dia istirahat dulu, nggak enak kalau nggak ada perlawanan” Cegah Juned.
“Kita beri dia obat perangsang saja!” usul Buyung sambil tersenyum penuh napsu.
“Jangan, kita simpan itu untuk yang terakhir” Juned duduk disofa.
Beberapa menit kemudian, sekitar pukul 24:40, Adinda yang baru saja siuman dibopong ramai-ramai menuju kamarnya, disana cewek itu dilempar ke ranjang dan langsung diterkam oleh para berandal yang sekarang semuanya sudah telanjang bulat. Cewek itu berusaha berontak melarikan diri, tetapi dengan cekatan para berandal itu menerentangkan tubuh Adinda. Cewek itu berteriak ketakutan ketika para berandal dengan buas menggumuli tubuhnya.
“Aaaahhhh…..aampun…..aaaahhhh… .”hiba Adinda, sementara Edi dengan kasar mulai meremas-remas buah dada kanannya. Juned berusaha mencium bibirnya yang merah merekah. Poltak menjilati dan menyedoti puting sebelah kiri.
“Aaaaduuuhh…aaaaawww…aaaahhh…. .ja….
ja….ngan…”teriakan Adinda tak digubris. Jamal maju mengambil posisi diantara kedua kakinya, tersenyum sinis sambil membungkuk menciumi leher cewek itu. Adinda mengeliat-liat tak berdaya. Lidah Jamal menelusur turun dari lehernya menuju perutnya Adinda.
“Aaaaaahhh…..le…paskan…..aaaah hh” jerit Adinda ditengah kerubutan berandal. Jamal mulai menjilati daerah pusar Adinda.
“Manis…tadi kulihat kau suka disco! bagaimana kalau sambil diputarkan lagu…hmmm?…
disco…rock…atau metal?….OK metal saja!” Buyung mengejek Adinda. Beberapa saat kemudian terdengar lagu metal, membuat para berandal itu lebih bersemangat menikmati setiap lekuk tubuh Adinda.
“Ha…ha…ha…manis, kami masih belum puas!” ejek Jamal. Buyung membaca surat yang ditemukannya dimeja rias pinggir ranjang.
“Hmmmm…..SO YOUR NAME’S Adinda McCatry….
INTERESTING….” gumam Buyung sambil melihat Adinda yang mendesah-desah tak berdaya dijilati dan diciumi teman-temannya. Beberapa saat kemudian Buyung naik keatas ranjang, berbaring disamping cewek itu.
“Nah Adinda sayang, ARE YOU READY TO LOSE YOUR VIRGINITY IN ANOTHER HOLE? kau benar-benar beruntung manis! kau pasti puas!” kata Buyung sambil menjilat muka cewek itu yang menangis ketakutan. Buyung merangkul tubuhnya dari samping dan digulingkan menghadapkan keatas terlentang sehingga posisinya sekarang dibawah Adinda.
“Hai….sayang pestanya dilanjutkan. Manis kau pikir tadi sudah yang paling sakit, tunggu yang ini kau akan rasain sakit yang sebenernya!” kata Poltak sambil menerkam gemas buah dadanya.
“Dan sekarang kau dapat kehormatan manis BECAUSE I’LL TAKE YOUR ASS VIRGINITY!!” mata Adinda terbelalak ketakutan.
“Oooohhh….jang…aan…PLEASE!!!!” hiba Adinda disela isak tangisnya.
“Adinday kau akan merasakan sesuatu yang belum pernah kau bayangkan sebelumnya sayang!” ejek Buyung.
Cewek itu berusaha berontak sekuat tenaga, tapi kerubutan dan remasan dibuah dadanya membuatnya tak bisa berkutik. Adinda didudukkan tepat diatas tubuh Buyung, berandal itu mengarahkan penisnya yang tegak di lobang anus cewek itu dan segera dihujamkan dalam anus Adinda tanpa pelumas sehingga membuatnya menjerit kesakitan.
“AAAAKKKKKKKHHHHHH!!!!” lolong Adinda, sementara penis Buyung (10 inci) masuk penuh dalam anusnya, sekarang cewek itu dipaksa tidur terlentang. Jamal diatas menindihnya sementara Adinda meronta-ronta kesakitan, anusnya terasa sakit oleh batang penis Buyung yang berada dibawahnya. Jamal yang sudah puas menjilati perut Adinda, sekarang mementang kedua paha Adinda, mengarahkan penisnya (8 inci) ke lorong vagina cewek itu. Apa daya tenaga seorang cewek yang dikeroyok lima lelaki kekar, dengan mudah masing-masing tangan Adinda diikat dengan tali BH dijeruji pilar ranjangnya agar tidak bisa berontak.
Jamal segera memasukkan penisnya ke vagina Adinda yang masih meronta-ronta, sambil tertawa terbahak-bahak. “Ha….ha…ha…. sayang sekarang kau rasakan ini!” sambil berkata seperti itu, Jamal dan Buyung mulai menggoyangkan pinggul mereka. Penis Buyung bergerak naik-turun dianus sedangkan penis Jamal menyodok keluar masuk seirama nada metal yang makin bersemangat. Teriakan cewek itu tertelan oleh bunyi halilintar yang keras. Usaha Adinda untuk berontak membuat ikatan ditangannya makin erat dan menyakitkan. Tubuh Adinda meronta-ronta kesakitan, tanpa disadarinya gerakannya itu makin membuat Jamal dan Buyung yang memperkosanya makin terangsang. Tubuhnya mulai menggelinjang kesana kemari, pinggulnya bergerak-gerak ke kanan, kiri, memutar, sementara Buyung yang dibawah mempertahankan kecepatan ritme keluar masuk batang penisnya dianus Adinda. Suara kecipak akibat gesekan kemaluan mereka berdua semakin terdengar. Sodokan batang penis Buyung dianus Adinda membuat tubuh cewek itu meliuk-liuk tak beraturan dan semakin lama semakin bergerak naik seolah menantang kejantanan Jamal.
“Ha…ha…ha….Adinday kau suka ya? Nih akan kumasukkan lebih dalam lagi! HAAAHHHH!!!!” teriak Jamal sambil bertumpu pada remasan tangannya dibuah dada cewek itu ia menyodokkan penisnya lebih dalam ke vagina Adinda.
“Oooooohhhh……aaahhh….aaahhhh…a ahh…
ampun…amp..aaaaahhh…aaahh!!!!” erang Adinda kesakitan. Sementara kedua penis berandal itu mengkoyak-koyak vagina dan anusnya, begitu penuh nafsu, ganas dan liar. Melihat pemandangan itu dan terbakar oleh api birahi, para berandal lainnya sambil tertawa terbahak-bahak melihat ketidak berdayaan Adinda, mereka meremas-remas penis mereka sendiri.
“Ohhh….ha…ha…ha….bagaimana sayang, bagaimana rasanya….puas nggak? tenang pestanya masih lama….tunggu giliran kita…ha…ha…ha..” seru para berandal lainnya.
Beberapa menit saja penis mereka sudah tegak tegang siap beraksi kembali. Ranjang berderit-derit seirama musik metal dan gerakan mereka yang barbar, Adinda ditindih ditengah-tengah mereka yang menghentak-hentak berpacu dalam birahi. Gerakan Buyung bagaikan dongkrak memaksa tubuh Adinda mengelinjang keatas mengundang penis Jamal masuk ke lorong vaginanya, sedangkan gerakan Jamal yang seperti memompa dari atas menekan kebawah sehingga penis Buyung masuk penuh, begitu seterusnya, membuat cewek itu terengah-engah menahan rasa sakit di anus dan vaginanya sekaligus. Buyung menciumi leher, tengkuk, telinganya penuh napsu.
“Uuuggh…uuggh…uuuughhh….” rintih Adinda seirama ayunan kedua penis itu. Cewek itu bisa merasakan seakan-akan kedua penis itu saling bertemu dan bergesekan didalam perutnya, hanya berbeda lorong saja.
Jamal dan Buyung melengkuh-lengkuh nikmat. Buah dadanya diremas-remas dengan kasar sekali oleh Jamal. Adinda merasakan kesakitan, tapi remasan dibuah dadanya membuatnya tetap tersadar. Para berandal yang lainnya bersorak-sorak menyemangati keduanya melahap tubuh Adinda , Penis-penis mereka digesek-gesekkan di tubuh cewek itu. Waktu menunjukkan Pukul 01:20 sementara pesta perkosaan itu makin brutal terbawa napsu birahi para berandal, sementara itu badai diluar makin ganas dan guntur sesekali menggelegar menelan teriakan Adinda.
Mereka mengerjai tubuh mulus adinda sampai jam 05.00 pagi, dan meninggalkan Adinda dengan tubuh bugil yang sudah tak berdaya itu sembari tertawa penuh kepuasan.
Tamat
Lihat Koleksi Bugil Lengkap..
Nikmatnya Jadi Polisi Gadungan
18.31, Posted by admin, One Comment
Tiap pagi, gue lewat depan rumah itu. Makanya, gue tahu penghuninya keluarga muda dengan anak balita satu. Nyonya rumah namanya Yani. Doi lulusan IKIP Seni Tari. Udah lama juga sih gue perhatiin doi. Tapi gue baru kenal ama perempuan Klaten itu lewat lakinya yang pelukis.
Doi orangnya nggak cakep-cakep banget. Tapi tampangnya yang khas Jawa, lembut dan pasrah itu bikin gue betah ngelihatin mukanya kalo pas bertamu ke rumahnya. Apalagi dia enak juga diajak ngomong, suaranya itu senada dengan wajah pasrahnya. Gue jadi suka bayangin dia merintih-rintih di bawah siksaan gue.
Nah, suatu hari lakinya jadi kaya mendadak karena ada order lukisan dalam jumlah besar. Terus, dia ngontrak rumah sebelah buat Yani sama anaknya. Rumah yang sekarang dijadiin galeri lukis.
Doi yang sebelumnya sering cerita kalo lakinya sibuk banget, sekarang cerita repotnya ngurus rumah dan anaknya yang umur 3 tahun sendirian. Itu sebabnya dia ngajak adiknya Poppy dan ponakannya Umi untuk tinggal serumah. Tampang dua cewek itu mirip banget sama Yani, cuma dua-duanya lebih seger dan imut-imut. Akhirnya gue tahu juga kalo di rumah itu, sering cuma ada tiga cewek tadi sama satu anak balita.
Nafsu juga gue waktu temen gue ngasih usul yang menarik. Langsung saja gue telepon Yani malem itu. Gue rubah suara gue biar nggak dikenal.
"Choirun ada?"
"Nggak ada, lagi mancing. Ini siapa ya?"
Huh bego, pikirku. Dia kagak tahu kalo lakinya lagi maen sama Linda, tante Chinese yang gatal !
"Mbak Yani sendiri ya?"
"Nggak, sama Poppy dan Umi,"
"Ya sudah, besok saja,"
Tiga temen gue langsung bersorak begitu pasti malam itu lakinya Yani nggak di rumah. Kami berempat pun segera berjalan ke rumah dekat gerbang perumahan itu. Tiga temen gue sudah siap dengan 'peralatan'nya, lalu mengetuk pintu.
Seorang perempuan mengintip dari balik korden.
"Siapa ya?"
"Kami dari Polres bu, ada yang ingin kami sampaikan," sahut teman gue yang badannya memang mirip polisi.
Tak lama kemudian pintu terbuka, tiga temen gue masuk. Dari jauh gue lihat Poppy dan Umi ikut menemui mereka.
"Maaf bu, suami ibu kami tangkap satu jam lalu,"
"Lho, kenapa?" Yani terlonjak.
"Ia kedapatan menghisap ganja..."
"Nggak mungkin!" perempuan itu memekik.
"Tapi begitulah kenyataannya. Kami juga dapat perintah menggeledah rumah ini. Ini suratnya,"
Yani tak dapat menolak, dibiarkannya ketiga 'polisi' itu menggeledah rumahnya. Dasar nakal, seorang temen gue sudah menyiapkan seplastik ganja dan kemudian ia teriak, "Ada di bawah kasur sini, komandan!"
Temenku yang paling besar memandang Yani dengan tajam. "Sekarang kalian bertiga ikut ke kantor polisi!" tegasnya.
"Tapi...tapi...saya nggak tahu bagaimana barang itu ada di situ..." kata Yani terbata-bata.
"Sekarang ibu bantu kami, ikut saja ke kantor polisi, juga dua adik ini,"
Akhirnya ketiga cewek itu mau juga ikut, setelah sebelumnya Yani menitipkan anaknya ke Bu Tukiran. Temen gue pinter juga, dia pinjam mobil Feroza Yani dengan alasan mereka cuma bawa motor. Lewat handphone, salah satu temen gue ngasih tahu.
"Beres Dan, siap cabut," katanya. Gue segera pakai topeng ski, ambil kunci mobil dan duduk di belakang stir.
Sebelum masuk, kaget juga tiga cewek itu karena tangan mereka diborgol di belakang punggung. "Kami nggak ingin repot nantinya," alasan temen gue.
Hanya beberapa saat saja, mobil pun berjalan. Yani duduk di tengah dengan satu temen gue menjaga pintu. Sedang Poppy dan Umi di belakang dijaga dua lagi temen gue.
Baru jalan 100 meteran di jalan menurun ke arah Kasongan, tiga temen gue itu ketawa ngakak. "Gampang banget..." kata mereka. Tentu saja tiga cewek itu bingung. Apalagi Yani kini terpaksa duduk merapat jendela karena dipepet lelaki besar di sebelahnya.
"Kalian tidak akan kami bawa ke kantor polisi, seneng kan nggak perlu lihat pistol? Tapi jangan khawatir, nanti kita tunjukin pistol yang lain," desisnya.
"Eh...eh...apa-apaan ini?" Yani ketakutan. "Eiiiiii....awwwhhhh...kuranga jj...awwwhhhh..." Yani menjerit dan meronta, sebab tiba-tiba kedua payudaranya ditangkap dua telapak tangan yang besar, lalu diremas-remas keras seenaknya. Dua gadis di belakang juga menjerit-jerit ketika payudara mereka pun diperlakukan sama.
Lelaki itu lalu menyingkapkan jilbab Yani dan dengan nafsu kembali mencengkeram payudara montok itu. Yani makin keras menjerit. Lalu tiba-tiba...breetttt....bagian muka jubah tipisnya koyak sehingga memperlihatkan tonjolan buah dadanya yang berbungkus BH coklat muda.
"Wah, susu yang segar," kata temen gue.
"Jangannn...tolong...jangaann. .." Yani menangis.
"Jangan cerewet, kalian bertiga tidak usah bawel, nurut saja atau tempik kalian kuculek pake belati ini!" kali ini temen gue mulai mengancam dengan menyentuhkan ujung belati ke permukaan payudara Yani yang menyembul dari BH-nya.
Di belakang, Poppy dan Umi terisak-isak. Blus keduanya sudah lepas, tinggal rok yang menutupi bagian bawah tubuh muda dan mulus itu. Keduanya pun memekik berbarengan ketika penutup dada mereka direnggut hingga putus.
"Wah...wah...ini susu yang indah..." kata kedua temen gue di belakang. "Coba lihat punya Nyonya ini..." lanjut mereka.
Temen gue di depan pun bertindak cepat, memutus tali antara dua cup BH Yani. Yani terisak, buah dadanya kini telanjang dan....."Awwwwww...." ia menjerit agak keras ketika kedua putingnya dijepit dan ditarik serta diguncang-guncangkan. Kedua temen gue di belakang ketawa dan ikut-ikutan melakukan hal yang sama pada puting Umi dan Poppy.
Yani meronta-ronta tapi sia-sia saja ketika tubuhnya dibaringkan di jok mobil, lalu temen gue duduk di atas perutnya, memunggungi dan menyingkapkan bagian bawah jubahnya. Kedua kaki telanjangnya menendang-nendang, tapi ia kesakitan juga waktu kedua bagian dalam paha mulusnya dicengkeram keras. Ia menjerit lagi waktu selangkangannya yang ditutupi celana dalam putih digebuk sampai bunyi berdebuk. Dengan kasar, jari-jari temen gue menyingkapkan kain segitiga itu hingga memeknya yang berjembut agak lebat terbuka. Tanpa ba bi bu, ditusukkannya telunjuknya ke lubang memek Yani.
"Aaaaakhhhh...." Yani menjerit kesakitan. Memeknya yang kering membuat tusukan itu jadi amat menyakitkan. Tapi temen gue itu nekad terus nyodok-nyodok memek yang legit itu. Malah waktu telunjuknya sudah terasa agak licin, dia tambah jari tengah. Lagi-lagi Yani menjerit kesakitan. Tapi nggak kapok juga temen gue itu. Sebentar saja sudah tiga jari yang nyodok-nyodok memek perempuan manja itu.
Di belakang, Poppy dan Umi juga merintih-rintih, sebab dua lelaki yang bersama mereka kini mengisap-isap pentil susu mereka sambil terus meremas-remas teteknya yang kenyal. Poppy pertama kali memekik waktu tangan temen gue menelusup sampai ke balik celdamnya dan meremas-remas memeknya sambil sesekali mencabuti jembutnya.
Umi akhirnya juga mendapat penghinaan yang sama, bahkan ia merasa klentitnya lecet karena terus diuyel-uyel dengan kasar.
***
Mobil akhirnya sampai ke rumah besar punya temen gue yang asyik ngobok-obok memek Yani. Gue buka pintu belakang mobil. Di dalam, gue liat Poppy dan Umi yang topless, cuman pake rok doank! Dan yang lebih bikin gue kaget lagi, ternyata kontol dua temen gue lagi dijilatin ama dua perawan itu.
Toket kedua anak itu kelihatan mulai memerah karena terus diremet-remet. Terang aja gue tersentak, tapi gue sendiri gak bisa berbuat apa-apa lagi! Soalnya gue sendiri nggak tahan, terus ikut mencet pentil kanan Poppy dan pentil kiri Umi.
"Nggghhhhh...." dua cewek itu cuma bisa mengerang karena dua kontol ada di mulut mereka. Terus gue buka pintu tengah. Buset, di dalam, temen gue masih asyik menjilati memek Yani dan menyodok-nyodok lubangnya dengan tiga jari. Yani sudah tidak menjerit-jerit lagi. Yang terdengar sekarang cuma rintihannya, persis seperti bayangan gue.
Nggak tahan, gue naik, terus gue pegangin kepala perempuan berjilbab itu.
"Emut kontol gue, kalau nggak, gue potong tetek lu!" kata gue sambil nyodorin kontol yang udah ngaceng sejak tadi. Tangan kiri gue mencengkeram tetek kanan Yani yang montok sampai ke pangkalnya. Tangan kanan gue menahan kepala Yani biar tetep menghadap kontol.
Yani nyerah, dia buka mulutnya. Cepet gue masukin kontol gue sampe ke pangkalnya.
"Diemut!" bentak gue sambil menambah tenaga remasan di buah dadanya.
Gue ngerasain kenikmatan yang luar bisa banget waktu kontol gue diemut-emutnya sambil merintih-rintih.
Biar gampang, sama temen gue tadi, gue gotong cewek itu dan gue lempar ke lantai garasi. Yani menjerit kesakitan dan makin keras jeritannya waktu jubahnya gue lucuti, begitu juga rok dalam dan celdamnya. Terlihatlah memeknya yang terpelihara rapi, dengan bulu-bulu halus yang diatur dengan indahnya. Gue mainkan itilnya yang ada di dalam bibir memeknya sampai dia berkelojotan ke kanan-ke kiri.
Sekarang temen gue yang jongkok di depan muka cewek itu dan memaksanya berkaraoke. Dari belakangnya, tanpa banyak bicara, gue langsung ngentot cewek itu.
"Aunghhhhhh..." Yani mengerang panjang waktu kontol gue nyodok memeknya sampai mentok. Memeknya lumayan rapet dan legit biarpun dia sudah punya anak satu.
Ada seperempat jam gue kocok memeknya pake kontol, terus gue suruh dia nungging. Dari depan, temen gue masih ngentot mulutnya sambil memegangi kepala cewek berjilbab itu.
Dari belakang, pemandangan itu bikin gue makin nafsu. Gue remet keras-keras memeknya pake tangan kiri, terus telunjuk kanan gue tusukin ke pantatnya. Yani mengerang lagi waktu gue gerakin telunjuk gue berputar-putar supaya lobang kecil itu jadi lebar. Begitu mulai lebar, gue masukin kontol ke dalamnya.
Tubuh Yani mengejang hebat, erangannya juga terdengar amat heboh. Tapi tetep gue paksa kontol gue biar susahnya bukan main. Sampe akhirnya kontol gue masuk sampai ke pangkal, gue tarik lagi sampai tinggal kepalanya yang kejepit. Terus dengan tiba-tiba gue dorong sekuat tenaga.
"Aaaaaakhhhhh....." Yani melepas kontol temen gue dan menjerit keras. Tapi rupanya pas temen gue sampai puncak kenikmatannya. Akibatnya air maninya nyemprot muka Yani sampai belepotan.
Cuek, gue genjot terus pantat perempuan montok itu biar dia menangis-nangis kesakitan. Malah sekarang gue peluk dia sambil kedua teteknya gue remes-remes. Temen gue yang barusan nyemprot sekarang malah masukin dua jarinya ke lubang memek Yani dan diputar-putar. Ini bikin Yani makin kesakitan.
Gue ngerasa kontol gue udah peka banget. Jadi makin cepet gue genjot dan langsung gue banting cewek itu. Yani nggak sempet mengelak, waktu kontol gue tempelkan ke mulutnya dan gue paksa dia mengulumnya.
"Crooottt...crottt...crottt... " air mani gue nyemprot sampai tiga kali ke dalam mulutnya. Yani sudah mau menumpahkannya, jadi gue pencet pentilnya dan gue tarik ke atas.
"Telen!" bentak gue. Sambil merem, Yani menelannya semua, lalu menekuk tubuhnya sambil menangis. Dengan ujung jilbabnya gue dan temen gue mengelap kontol yang berlendir. Dari celah pantat bundar Yani gue lihat ada darah keluar.
Lagi asyik ngelihatin tubuh bugil Yani, gue dengar ketawa ngakak dua temen gue. Lalu terlihat Poppy dan Umi turun dari mobil dan jalan sempoyongan. Gue melotot. Dua cewek itu nyaris bugil. Jilbab mereka disampirkan ke belakang sehingga teteknya yang kemerahan bekas diremas-remas bebas terlihat, dengan pentilnya yang kecoklat-coklatan. Dua-duanya terisak-isak, di sekitar bibir dua cewek hitam manis itu belepotan lendir putih.
Yang menarik, rok mereka sudah lepas, tinggal celdam putih milik Poppy dan kuning muda Umi. Malah celdam Poppy dibikin temen gue terangkat tinggi sampai nyelip di bibir memeknya. Akibatnya, bibir memeknya kanan dan kiri kelihatan gemuk dan jembutnya menyembul ke kanan dan kiri. Nggak tahan, gue pepet anak itu ke mobil, terus tangan gue mulai merayapi selangkangannya. Tangan gue mulai bermain-main di bibir vaginanya yang njepit celananya.
"Jangaann...ampun oommm..." rintihnya. "Adduhhhh..." pekik mahasiswi UAD itu, karena gue cabut beberapa helai jembutnya.
Dari bawah gue cengkeram tetek kanan Poppy yang nggak seberapa gede tapi kenyal itu, terus gue dorong ke atas sampai putingnya ngacung, lalu gue sedot kuat-kuat. Poppy meronta kesakitan, apalagi kemudian gue tarik celdamnya ke atas. Poppy memekik waktu celdamnya akhirnya putus.
Gue terus melorot dan gue paksa cewek itu nyodorin memeknya buat gue hisap. Gue mainin itilnya dengan lidah gue, bahkan sampai gue sedot pakai mulut gue! Poppy makin kelojotan dan mendesah.
Sementara itu, gue lihat Umi lagi dipaksa menyepong kontol temen gue. Sedang Yani sudah mulai disodomi lagi. Malah, dia dipaksa telentang dengan kontol menusuk pantatnya, lalu memeknya disodok dari depan. Kedengeran Yani menjerit-jerit kesakitan.
"Aihhh..." Poppy memekik waktu telunjuk gue masuk satu ruas ke lubang pantatnya, terus gue dorong ke depan sampai lubang memeknya merekah dan kelihatan lorong yang merah dan basah, gue jilatin sampai cewek 21 tahun itu menggeliat-geliat.
"Aduhh...jangaann..." Poppy menjerit waktu gue tiba-tiba berdiri sambil mengangkat kaki kirinya.
Tapi gue nggak peduli, kontol gue pas banget nunjuk memeknya. Terus gue kucek-kucek memek anak itu, sampai mulai terasa basah. Terus gue pegang kontol gue dan gue paksa masuk kepalanya ke celah bibir memeknya. Kepala kontol gue terasa seperti direndam di air hangat. Poppy menjerit makin nggak karuan waktu tangan kiri gue mencengkeram tetek kanannya sampai ke pangkalnya sekuat tenaga. Malah, daging kenyal itu sampai terasa seperti remuk.
"Aaaakkhh....auhhhhh....ouchhh ...aiiiii....sakkkiiittt....ad duhhhhh...." Poppy menjerit histeris waktu gue dorong pinggang ke depan dengan tiba-tiba dan sekuat tenaga.
Kontol gue masuk sampai ke pangkalnya. Malah kerasa kepalanya sampai mentok ke dasar memeknya. Begitu mentok gue berhenti sebentar. Gadis itu sesenggukan, nafasnya tersengal-sengal. Tapi yang paling asyik, gue merasa kontol gue di dalam memeknya seperti dibasahi cairan hangat. Belakangan gue tahu yang hangat itu darah keperawanannya.
Dengan gerakan kasar dan tiba-tiba, gue kocok kontol gue di dalam memek Poppy. Terasa sempit banget dan kering. Gue sih enak, tapi akibatnya Poppy menjerit-jerit kesakitan dan minta ampun. Poppy masih merintih-rintih waktu kontol gue tarik keluar, terus gue jongkok di depan selangkangannya. Langsung gue masukin empat jari ke dalam lubang memeknya yang masih menganga.
"Aucchhhhh...sakkkiiittt...aaa hhhh..." Poppy menjerit lagi waktu empat jari gue puter-puter di dalam memeknya. Waktu gue tarik keluar empat jari gue yang basah lendir dan darah, cewek itu jatuh melorot sambil terus menangis.
"Hey, bawa sini perawan satu itu, lu ambil memek yang ini. Pantatnya buat gue ya!" teriak gue ke teman yang lagi asyik ngucek-ngucek memek Umi.
Temen gue cepat bangun lalu menyeret kedua kaki Umi dan menggeletakkan cewek imut-imut itu di dekat kaki gue. Tanpa banyak bicara, dia terus mendorong Poppy yang menangis sambil duduk bersimpuh sehingga jatuh terlentang.
Gue tarik Umi sampai kepalanya berbantalkan paha gue, menghadap Poppy yang lagi digarap ulang. Gue remas-remas pelan kedua payudaranya yang kenyal. Cewek itu menangis.
"Kamu paling muda, jadi memekmu pasti paling enak. Kamu mau kontolku masuk memekmu?" kata gue sambil memilin-milin putingnya yang hitam dan mungil tetapi tebal.
"Huuu...jangaaannn...huuu. .." ABG itu menangis lagi.
"Lihat Bu Lik Yani dan Bu Lik Poppy itu...memeknya sudah jebol...kalau kamu nggak mau seperti mereka, kamu harus nurutin apa kata gue, ngerti? Sekarang lihat ini,"
Gue lalu menghampiri Yani yang sedang dientot dan disodomi berbarengan. Gue pegang kepala Yani yang lagi menjerit-jerit kesakitan. Lalu gue paksa dia mengulum kontol gue lagi sampai kontol gue basah. Terus gue suruh temen gue yang lagi nyodok memek Yani bangun, gantian dia memasukkan kontolnya ke mulut Yani. Terus gue suruh pindah kontol temen gue satunya dari pantat ke memek.
Badan Yani kelojotan dan gemeteran waktu gue paksa kontol gue ikut masuk memeknya. Temen gue yang dari tadi menyodomi dia rupanya nggak tahan lama lagi. Dia cepat-cepat menggerakkan kontolnya maju mundur. Yani menjerit histeris, sebab dua kontol di dalam memeknya bikin memeknya seperti mau sobek.
Temen gue rupanya nggak tahan. Nggak lama dia ngecrot di dalam memek Yani. Yang di atas juga gitu, dia ngecrot lumayan banyak di dalam mulut Yani. Yani ambruk, lemes di lantai.
Sekarang gue balik ke Poppy yang lagi menjerit-jerit karena dipaksa duduk di atas kontol temen gue. Kedua teteknya dicengkeram sehingga dia terpaksa bergerak-gerak naik turun. Dari belakang, gue dorong punggung Poppy yang mulus sampai dia ambruk di atas dada temen gue.
"Kamu nggak mau disodomi juga kan. Lihat nih," kata gue lagi kepada Umi yang makin kenceng nangisnya.
Poppy menjerit melengking waktu telunjuk gue paksa masuk ke lubang anusnya. Rapet banget, jadi gue paksa satu telunjuk lagi masuk dan gue gerak-gerakin, bikin lubangnya makin lebar. Sampai cukupan buat masuknya kepala kontol, gue sodok aja.
Kepala kontol gue sekarang kejepit pantat Poppy. Gue dorong dua senti, Poppy menjerit lagi. Mundur satu senti lalu maju tiga senti. Poppy makin keras menjerit. Lalu mundur lagi satu senti dan dengan tenaga penuh....
"Aaaaaachhhhh...aauuhhhhh....s aakkkiiitt....nggghhhhh...." Poppy menjerit histeris. Kontol gue masuk sampai pangkalnya ke dalam lubang pantatnya. Sempit banget, sampai kerasa kontol gue seperti remuk di dalam. Tapi terus gue genjot agak lama.
Lima menitan, gue lepas dan dua temen gue yang tadi ngerjain Yani udah siap di belakang Poppy, mau gantiin. Gue balik ke Umi, sementara Poppy mulai menjerit lagi waktu pantatnya disodomi lagi. Tapi jeritannya hilang waktu mulutnya juga diperkosa.
"Gimana? Kamu mau nurut?" kata gue sambil jongkok di sebelah Umi dan mengucek-ucek memeknya yang berjembut tipis.
"I...iya...iya..." katanya terbata-bata.
"Bagus, sekarang bersihin kontolku," kata gue sambil berdiri, menyodorkan kontol gue yang basah air mani temen gue dan darah dari pantat Poppy. Umi menelan ludahnya, tampangnya tampak jijik. Tapi karena takut, dia jilat juga kontol gue.
Gila, gue kayak di awang-awang, apalagi dia terus mulai menyedot-nyedot kontol gue. Setelah lama dia nyepong gue, gue liat tiga temen gue udah selesai. Poppy kayaknya pingsan. Memek, pantat dan mulutnya belepotan air mani.
"Gue juga bersihin dong," kata temen-temen gue berbarengan.
Umi nggak punya pilihan lain. Akhirnya gadis imut-imut itu berjongkok di depan empat lelaki, menjilati dan menyepong kontol-kontol berlendir. Tidak cuma itu, dia juga gue suruh jilat seluruh air mani di badan Yani dan Poppy. Malah, dari memek Yani gue sendokin air mani dan gue suapin ke mulut Umi yang berbibir mungil itu.
"Huuu...huuu...sudahh...sa ya mau pulang..." Umi terisak sambil duduk bersimpuh.
"Boleh, tapi kamu harus joget dulu," kata gue sambil melepas ikatan di tangannya.
Umi seperti kebingungan. Tapi tiba-tiba ia menjerit karena temen gue tahu-tahu menyabetkan ikat pinggangnya, kena payudara kirinya. "Ayo cepet joget!" bentaknya.
Takut-takut Umi berdiri, tapi kali ini temen gue yang lain menampar pantatnya dari belakang. "Joget yang hot!" bentaknya.
Akhirnya Umi mulai meliuk-liukkan tubuhnya. Merangsang banget, gadis berjilbab tapi bugil, joget di depan gue. Gue tunjuk selangkangannya. "Ayo, gerakin pinggulmu maju mundur sampai memekmu kena telunjukku ini," kata gue.
Umi nurut. Pinggulnya maju mundur sampai memeknya yang berjembut tipis nyenggol telunjuk gue. Pas mau nyenggol kelima kalinya, sengaja gue sodok agak kenceng sampai seperti menusuk klentitnya. Umi menjerit kesakitan.
Sekarang dia malah ketakutan waktu tiga temen gue ikut joget di sekelilingnya sambil memegang-megang buah dada, pantat dan memeknya.
"Jogetmu bikin aku ngaceng nih!" kata gue sambil mengacungkan kontol gue yang emang udah tegang banget.
Temen-temen gue ketawa ngakak lalu memegangi kedua tangan Umi dan menelentangkannya di lantai.
"Aaahhh....janngaaaannnn....ka lian jahaaaattt...aaahhhh..." Umi menjerit dan meronta-ronta. Satu kakinya dipegangi temen gue, satu lagi gue pegangin, ngangkang lebar banget.
Umi nangis lagi, waktu ngerasa memeknya mulai kesenggol kepala kontol gue. Cewek mungil ini menjerit keras waktu jari gue dan temen gue menarik bibir memeknya ke kanan dan kiri. Terus, kontol gue mulai masuk 4 senti dan tarikan langsung dilepas. Sekarang kontol gue kejepit memek perawan yang sempit.
Gue ambil posisi, pegangan dua buah dadanya yang mulus sambil jempol dan telunjuk gue menjepit pentilnya.
"Aku harus adil dong, masak saudaramu dapat kontol, kamu nggak?" kata gue sambil dengan tiba-tiba mendorong kontol gue maju dengan kekuatan penuh. Akibatnya luar biasa. Umi menjerit sangat keras. Gue sendiri merasa kontol gue merobek sesuatu yang sangat liat. Begitu kontol gue mentok ke dasar memeknya, gue berhenti sebentar. Kerasa memeknya berdenyut-denyut meremas-remas kontol gue. Pelan-pelan gue merasa ada cairan hangat membasahi kontol gue. Itu pasti darah perawannya.
Akhirnya, ABG imut-imut itu menjerit-jerit tak berhenti waktu kontol gue kocok dengan gerak cepat di dalam memeknya. Apalagi temen-temen gue asyik meremas-remas teteknya. Malah, kerasa ada yang mulai nusuk pantatnya pakai jari. Ada lagi yang memaksanya ngemut kontolnya.
Nggak lama, gue pindah kontol ke pantatnya setelah Umi dibikin nungging. Lagi-lagi Umi menjerit histeris, sebab pantatnya yang lebih sempit dari memeknya itu tetap bisa gue jebol pakai kontol gue. Seperti dua cewek lainnya, sekarang Umi telentang di atas dada gue, terus memeknya yang berdarah disodok kontol temen gue dari depan. Mulutnya sekarang malah dipaksa ngemut dua kontol sekaligus.
Sekarang Umi gue paksa nungging di atas dada temen gue sambil kontolnya tetap di dalam memek cewek yang baru lulus SMU itu. Dua kontol masih berebut masuk mulutnya. Dari belakang, sekarang gue coba masukin kontol gue, bareng kontol temen gue yang sudah masuk duluan.
Umi merintih kesakitan, waktu kontol gue bisa masuk. Pas kontol temen gue masuk sampai pangkalnya, gue sodok keras-keras sampai kontol gue juga masuk sampai pangkal. Umi memekik keras, sebab terasa ada yang 'krekk' di dalam memeknya. Selaput daranya mungkin sobek lebih lebar lagi.
Gue ambil kontol karet punya temen gue, terus gue tusukin jauh-jauh ke dalam anusnya. Memeknya jadi terasa tambah sempit aja. Umi mengerang panjang waktu gue nggak tahan lagi, ngocokkan kontol beneran dan kontol karet makin cepat.
"Minggir...minggir..." kata gue ke dua temen gue yang lagi memperkosa mulut Umi. Cepet gue masukin kontol gue ke dalam mulut berbibir mungil itu dan, sedetik kemudian, air mani gue tumpah banyak banget di dalam mulutnya.
Umi sudah lemas waktu dia ditelentangin dan tiga temen gue antri ngocok cepat-cepat lalu nembak di dalam mulutnya.
Cewek itu betul-betul tak berdaya. Saat temen gue yang terakhir nyemprot ke dalam mulutnya, dia malah sudah pingsan. Mulutnya yang terbuka betul-betul putih, penuh air mani. Malah, wajah imut-imutnya juga ikut basah.
***
Tiga cewek itu sekarang sudah di mobil lagi. Mulut-mulut mereka yang penuh air mani sudah dilakban, sedang tangan diikat di belakang punggung. Tiga cewek bugil itu digeletakkan begitu saja di lantai tengah mobil. Yani yang pertama siuman, merintih dan menggeliat. Dua temen gue yang jaga di jok tengah lalu mengangkatnya hingga duduk di tengah-tengah. Lagi-lagi payudara montoknya diremas-remas dan putingnya disedot-sedot. Yani cuma bisa merintih.
Tapi ia mengerang kesakitan waktu dua ujung gagang kuas lukis yang runcing didorong di atas dua putingnya sampai tak bisa maju lagi.
"Ini bagus dan menarik," kata temen gue lalu mengikat empat kuas dengan karet gelang di dua ujung gagang kuas, masing-masing dua kuas. Ia lalu merenggangkan kedua kuas dan menyelipkan payudara Yani di antaranya. Selanjutnya, tarikan dilepas sehingga kuas kembali merapat dan menjepit erat gumpalan daging montok itu di pangkalnya. Dua buah dada Yani diperlakukan seperti itu, sehingga menggelembung dan makin lama makin terlihat merah kehitaman. Yani merintih dan menggeliat-geliat kesakitan.
Lalu Poppy yang menyusul siuman juga diperlakukan sama. Terakhir, begitu sampai Kasongan, Umi siuman. Perlakuan yang diterimanya nyaris sama. Bedanya, cuma dua kuas yang menjepit di payudaranya. Tapi, pasti sakit sekali karena yang dijepit adalah dua putingnya sekaligus.
Rumah Yani dini hari itu sepi sekali. Maka mobil langsung masuk garasi yang memiliki pintu tembus ke kamar Yani. Tiga pigura besar langsung disiapkan temen-temen gue. Lalu cewek-cewek yang masih menggeliat kesakitan itu, kita 'pigura' dengan tangan terikat di frame atas, kaki di frame bawah.
"Ini pasti lucu," kata temen gue sambil bawa masuk dongkrak mobil. Diputarnya dongkrak sehingga bagian pengangkat turun merapat dan ulirnya yang berdiameter tiga senti menonjol tiga senti. Lalu dibuatnya Umi duduk di atas dongkrak. Otomatis besi berulir menusuk memeknya. Lalu diputarnya lagi dongkrak sehingga turun dan besi berulir naik. Umi mengerang kesakitan, sebab begitu besi pengangkat rapat, besi berulir itu mencuat ke dalam memeknya sedalam 10 senti lebih.
Darah perawannya bercampur air manipun menetes ke dongkrak dan lantai keramik putih. Sedang Yani dan Poppy dipigura pada posisi berdiri. Dua puting Yani dan Poppy lalu disentuh dengan raket nyamuk. Sekejap tapi dua cewek itu langsung melonjak dan mengerang kesakitan. Lalu gagang raket ditusukkan ke dalam memek Poppy. Lubang pantatnya dimasuki lima kuas dengan bulu di dalam. Di memek Yani gue masukin dua baterai besar dan satu di pantatnya.
Tiga buah pancing lalu gue ikat di pigura Yani. Lalu, tiga kail gue tancapkan di pentil dan klitorisnya. Yani mengerang hebat waktu tali pancing gue gulung sampai menarik tiga titik peka itu. Sampai akhirnya, Yani pingsan lagi.
"Kamu berdua harus pingsan lagi ya?" kata gue kepada Poppy dan Umi yang ketakutan waktu ngelihat enam tusuk gigi lancip di tangan gue.
Pertama-tama Poppy yang mengerang hebat waktu dua tusuk gigi gue tancepin di dua pentilnya sampai lima senti. Darah lalu mengalir dan menetes lewat ujung tusuk gigi. Waktu klentitnya yang gue tusuk dari bawah sampai tembus ke atas, Poppy mengerang lagi dan tubuhnya kejang sampai akhirnya lemas, pingsan.
Sekarang Umi yang ketakutan. Gue tarik satu persatu putingnya, gue tusuk tembus melintang sehingga nyangkut di gagang kuas. Darah juga menitik lewat ujung tusuk gigi. Seperti Poppy, dia juga pingsan waktu klentitnya juga gue tusuk tembus melintang.
***
Keadaan sepi, gue dan temen-temen membuka lebar korden ruang tamu, lalu menyalakan lampu. Cepat kami cabut dari situ sambil melihat pemandangan indah di ruang tamu...
***
Seminggu kemudian, gue mampir ke rumahnya. Berlagak nggak tahu, toh Yani, Poppy dan Umi juga nggak tahu kalo gue yang merkosa mereka. Tapi gue kaget juga waktu yang membuka pintu bukan mereka, tapi seorang gadis berjilbab putih panjang dan jubah ungu.
"Saya Kantuningsih. Saya kos di sini," kata gadis berwajah khas Jawa itu.
"Bu Yani kemana?"
"Bu Yani sekarang tinggal di Klaten..." sahutnya.
Ow... ow... gue kecewa. Tapi entar dulu, kapan-kapan si Kantun ini perlu disodok juga memeknya. Temen-temen gue harus dikasih tau !
Tamat
Lihat Koleksi Bugil Lengkap..
Doi orangnya nggak cakep-cakep banget. Tapi tampangnya yang khas Jawa, lembut dan pasrah itu bikin gue betah ngelihatin mukanya kalo pas bertamu ke rumahnya. Apalagi dia enak juga diajak ngomong, suaranya itu senada dengan wajah pasrahnya. Gue jadi suka bayangin dia merintih-rintih di bawah siksaan gue.
Nah, suatu hari lakinya jadi kaya mendadak karena ada order lukisan dalam jumlah besar. Terus, dia ngontrak rumah sebelah buat Yani sama anaknya. Rumah yang sekarang dijadiin galeri lukis.
Doi yang sebelumnya sering cerita kalo lakinya sibuk banget, sekarang cerita repotnya ngurus rumah dan anaknya yang umur 3 tahun sendirian. Itu sebabnya dia ngajak adiknya Poppy dan ponakannya Umi untuk tinggal serumah. Tampang dua cewek itu mirip banget sama Yani, cuma dua-duanya lebih seger dan imut-imut. Akhirnya gue tahu juga kalo di rumah itu, sering cuma ada tiga cewek tadi sama satu anak balita.
Nafsu juga gue waktu temen gue ngasih usul yang menarik. Langsung saja gue telepon Yani malem itu. Gue rubah suara gue biar nggak dikenal.
"Choirun ada?"
"Nggak ada, lagi mancing. Ini siapa ya?"
Huh bego, pikirku. Dia kagak tahu kalo lakinya lagi maen sama Linda, tante Chinese yang gatal !
"Mbak Yani sendiri ya?"
"Nggak, sama Poppy dan Umi,"
"Ya sudah, besok saja,"
Tiga temen gue langsung bersorak begitu pasti malam itu lakinya Yani nggak di rumah. Kami berempat pun segera berjalan ke rumah dekat gerbang perumahan itu. Tiga temen gue sudah siap dengan 'peralatan'nya, lalu mengetuk pintu.
Seorang perempuan mengintip dari balik korden.
"Siapa ya?"
"Kami dari Polres bu, ada yang ingin kami sampaikan," sahut teman gue yang badannya memang mirip polisi.
Tak lama kemudian pintu terbuka, tiga temen gue masuk. Dari jauh gue lihat Poppy dan Umi ikut menemui mereka.
"Maaf bu, suami ibu kami tangkap satu jam lalu,"
"Lho, kenapa?" Yani terlonjak.
"Ia kedapatan menghisap ganja..."
"Nggak mungkin!" perempuan itu memekik.
"Tapi begitulah kenyataannya. Kami juga dapat perintah menggeledah rumah ini. Ini suratnya,"
Yani tak dapat menolak, dibiarkannya ketiga 'polisi' itu menggeledah rumahnya. Dasar nakal, seorang temen gue sudah menyiapkan seplastik ganja dan kemudian ia teriak, "Ada di bawah kasur sini, komandan!"
Temenku yang paling besar memandang Yani dengan tajam. "Sekarang kalian bertiga ikut ke kantor polisi!" tegasnya.
"Tapi...tapi...saya nggak tahu bagaimana barang itu ada di situ..." kata Yani terbata-bata.
"Sekarang ibu bantu kami, ikut saja ke kantor polisi, juga dua adik ini,"
Akhirnya ketiga cewek itu mau juga ikut, setelah sebelumnya Yani menitipkan anaknya ke Bu Tukiran. Temen gue pinter juga, dia pinjam mobil Feroza Yani dengan alasan mereka cuma bawa motor. Lewat handphone, salah satu temen gue ngasih tahu.
"Beres Dan, siap cabut," katanya. Gue segera pakai topeng ski, ambil kunci mobil dan duduk di belakang stir.
Sebelum masuk, kaget juga tiga cewek itu karena tangan mereka diborgol di belakang punggung. "Kami nggak ingin repot nantinya," alasan temen gue.
Hanya beberapa saat saja, mobil pun berjalan. Yani duduk di tengah dengan satu temen gue menjaga pintu. Sedang Poppy dan Umi di belakang dijaga dua lagi temen gue.
Baru jalan 100 meteran di jalan menurun ke arah Kasongan, tiga temen gue itu ketawa ngakak. "Gampang banget..." kata mereka. Tentu saja tiga cewek itu bingung. Apalagi Yani kini terpaksa duduk merapat jendela karena dipepet lelaki besar di sebelahnya.
"Kalian tidak akan kami bawa ke kantor polisi, seneng kan nggak perlu lihat pistol? Tapi jangan khawatir, nanti kita tunjukin pistol yang lain," desisnya.
"Eh...eh...apa-apaan ini?" Yani ketakutan. "Eiiiiii....awwwhhhh...kuranga jj...awwwhhhh..." Yani menjerit dan meronta, sebab tiba-tiba kedua payudaranya ditangkap dua telapak tangan yang besar, lalu diremas-remas keras seenaknya. Dua gadis di belakang juga menjerit-jerit ketika payudara mereka pun diperlakukan sama.
Lelaki itu lalu menyingkapkan jilbab Yani dan dengan nafsu kembali mencengkeram payudara montok itu. Yani makin keras menjerit. Lalu tiba-tiba...breetttt....bagian muka jubah tipisnya koyak sehingga memperlihatkan tonjolan buah dadanya yang berbungkus BH coklat muda.
"Wah, susu yang segar," kata temen gue.
"Jangannn...tolong...jangaann. .." Yani menangis.
"Jangan cerewet, kalian bertiga tidak usah bawel, nurut saja atau tempik kalian kuculek pake belati ini!" kali ini temen gue mulai mengancam dengan menyentuhkan ujung belati ke permukaan payudara Yani yang menyembul dari BH-nya.
Di belakang, Poppy dan Umi terisak-isak. Blus keduanya sudah lepas, tinggal rok yang menutupi bagian bawah tubuh muda dan mulus itu. Keduanya pun memekik berbarengan ketika penutup dada mereka direnggut hingga putus.
"Wah...wah...ini susu yang indah..." kata kedua temen gue di belakang. "Coba lihat punya Nyonya ini..." lanjut mereka.
Temen gue di depan pun bertindak cepat, memutus tali antara dua cup BH Yani. Yani terisak, buah dadanya kini telanjang dan....."Awwwwww...." ia menjerit agak keras ketika kedua putingnya dijepit dan ditarik serta diguncang-guncangkan. Kedua temen gue di belakang ketawa dan ikut-ikutan melakukan hal yang sama pada puting Umi dan Poppy.
Yani meronta-ronta tapi sia-sia saja ketika tubuhnya dibaringkan di jok mobil, lalu temen gue duduk di atas perutnya, memunggungi dan menyingkapkan bagian bawah jubahnya. Kedua kaki telanjangnya menendang-nendang, tapi ia kesakitan juga waktu kedua bagian dalam paha mulusnya dicengkeram keras. Ia menjerit lagi waktu selangkangannya yang ditutupi celana dalam putih digebuk sampai bunyi berdebuk. Dengan kasar, jari-jari temen gue menyingkapkan kain segitiga itu hingga memeknya yang berjembut agak lebat terbuka. Tanpa ba bi bu, ditusukkannya telunjuknya ke lubang memek Yani.
"Aaaaakhhhh...." Yani menjerit kesakitan. Memeknya yang kering membuat tusukan itu jadi amat menyakitkan. Tapi temen gue itu nekad terus nyodok-nyodok memek yang legit itu. Malah waktu telunjuknya sudah terasa agak licin, dia tambah jari tengah. Lagi-lagi Yani menjerit kesakitan. Tapi nggak kapok juga temen gue itu. Sebentar saja sudah tiga jari yang nyodok-nyodok memek perempuan manja itu.
Di belakang, Poppy dan Umi juga merintih-rintih, sebab dua lelaki yang bersama mereka kini mengisap-isap pentil susu mereka sambil terus meremas-remas teteknya yang kenyal. Poppy pertama kali memekik waktu tangan temen gue menelusup sampai ke balik celdamnya dan meremas-remas memeknya sambil sesekali mencabuti jembutnya.
Umi akhirnya juga mendapat penghinaan yang sama, bahkan ia merasa klentitnya lecet karena terus diuyel-uyel dengan kasar.
***
Mobil akhirnya sampai ke rumah besar punya temen gue yang asyik ngobok-obok memek Yani. Gue buka pintu belakang mobil. Di dalam, gue liat Poppy dan Umi yang topless, cuman pake rok doank! Dan yang lebih bikin gue kaget lagi, ternyata kontol dua temen gue lagi dijilatin ama dua perawan itu.
Toket kedua anak itu kelihatan mulai memerah karena terus diremet-remet. Terang aja gue tersentak, tapi gue sendiri gak bisa berbuat apa-apa lagi! Soalnya gue sendiri nggak tahan, terus ikut mencet pentil kanan Poppy dan pentil kiri Umi.
"Nggghhhhh...." dua cewek itu cuma bisa mengerang karena dua kontol ada di mulut mereka. Terus gue buka pintu tengah. Buset, di dalam, temen gue masih asyik menjilati memek Yani dan menyodok-nyodok lubangnya dengan tiga jari. Yani sudah tidak menjerit-jerit lagi. Yang terdengar sekarang cuma rintihannya, persis seperti bayangan gue.
Nggak tahan, gue naik, terus gue pegangin kepala perempuan berjilbab itu.
"Emut kontol gue, kalau nggak, gue potong tetek lu!" kata gue sambil nyodorin kontol yang udah ngaceng sejak tadi. Tangan kiri gue mencengkeram tetek kanan Yani yang montok sampai ke pangkalnya. Tangan kanan gue menahan kepala Yani biar tetep menghadap kontol.
Yani nyerah, dia buka mulutnya. Cepet gue masukin kontol gue sampe ke pangkalnya.
"Diemut!" bentak gue sambil menambah tenaga remasan di buah dadanya.
Gue ngerasain kenikmatan yang luar bisa banget waktu kontol gue diemut-emutnya sambil merintih-rintih.
Biar gampang, sama temen gue tadi, gue gotong cewek itu dan gue lempar ke lantai garasi. Yani menjerit kesakitan dan makin keras jeritannya waktu jubahnya gue lucuti, begitu juga rok dalam dan celdamnya. Terlihatlah memeknya yang terpelihara rapi, dengan bulu-bulu halus yang diatur dengan indahnya. Gue mainkan itilnya yang ada di dalam bibir memeknya sampai dia berkelojotan ke kanan-ke kiri.
Sekarang temen gue yang jongkok di depan muka cewek itu dan memaksanya berkaraoke. Dari belakangnya, tanpa banyak bicara, gue langsung ngentot cewek itu.
"Aunghhhhhh..." Yani mengerang panjang waktu kontol gue nyodok memeknya sampai mentok. Memeknya lumayan rapet dan legit biarpun dia sudah punya anak satu.
Ada seperempat jam gue kocok memeknya pake kontol, terus gue suruh dia nungging. Dari depan, temen gue masih ngentot mulutnya sambil memegangi kepala cewek berjilbab itu.
Dari belakang, pemandangan itu bikin gue makin nafsu. Gue remet keras-keras memeknya pake tangan kiri, terus telunjuk kanan gue tusukin ke pantatnya. Yani mengerang lagi waktu gue gerakin telunjuk gue berputar-putar supaya lobang kecil itu jadi lebar. Begitu mulai lebar, gue masukin kontol ke dalamnya.
Tubuh Yani mengejang hebat, erangannya juga terdengar amat heboh. Tapi tetep gue paksa kontol gue biar susahnya bukan main. Sampe akhirnya kontol gue masuk sampai ke pangkal, gue tarik lagi sampai tinggal kepalanya yang kejepit. Terus dengan tiba-tiba gue dorong sekuat tenaga.
"Aaaaaakhhhhh....." Yani melepas kontol temen gue dan menjerit keras. Tapi rupanya pas temen gue sampai puncak kenikmatannya. Akibatnya air maninya nyemprot muka Yani sampai belepotan.
Cuek, gue genjot terus pantat perempuan montok itu biar dia menangis-nangis kesakitan. Malah sekarang gue peluk dia sambil kedua teteknya gue remes-remes. Temen gue yang barusan nyemprot sekarang malah masukin dua jarinya ke lubang memek Yani dan diputar-putar. Ini bikin Yani makin kesakitan.
Gue ngerasa kontol gue udah peka banget. Jadi makin cepet gue genjot dan langsung gue banting cewek itu. Yani nggak sempet mengelak, waktu kontol gue tempelkan ke mulutnya dan gue paksa dia mengulumnya.
"Crooottt...crottt...crottt... " air mani gue nyemprot sampai tiga kali ke dalam mulutnya. Yani sudah mau menumpahkannya, jadi gue pencet pentilnya dan gue tarik ke atas.
"Telen!" bentak gue. Sambil merem, Yani menelannya semua, lalu menekuk tubuhnya sambil menangis. Dengan ujung jilbabnya gue dan temen gue mengelap kontol yang berlendir. Dari celah pantat bundar Yani gue lihat ada darah keluar.
Lagi asyik ngelihatin tubuh bugil Yani, gue dengar ketawa ngakak dua temen gue. Lalu terlihat Poppy dan Umi turun dari mobil dan jalan sempoyongan. Gue melotot. Dua cewek itu nyaris bugil. Jilbab mereka disampirkan ke belakang sehingga teteknya yang kemerahan bekas diremas-remas bebas terlihat, dengan pentilnya yang kecoklat-coklatan. Dua-duanya terisak-isak, di sekitar bibir dua cewek hitam manis itu belepotan lendir putih.
Yang menarik, rok mereka sudah lepas, tinggal celdam putih milik Poppy dan kuning muda Umi. Malah celdam Poppy dibikin temen gue terangkat tinggi sampai nyelip di bibir memeknya. Akibatnya, bibir memeknya kanan dan kiri kelihatan gemuk dan jembutnya menyembul ke kanan dan kiri. Nggak tahan, gue pepet anak itu ke mobil, terus tangan gue mulai merayapi selangkangannya. Tangan gue mulai bermain-main di bibir vaginanya yang njepit celananya.
"Jangaann...ampun oommm..." rintihnya. "Adduhhhh..." pekik mahasiswi UAD itu, karena gue cabut beberapa helai jembutnya.
Dari bawah gue cengkeram tetek kanan Poppy yang nggak seberapa gede tapi kenyal itu, terus gue dorong ke atas sampai putingnya ngacung, lalu gue sedot kuat-kuat. Poppy meronta kesakitan, apalagi kemudian gue tarik celdamnya ke atas. Poppy memekik waktu celdamnya akhirnya putus.
Gue terus melorot dan gue paksa cewek itu nyodorin memeknya buat gue hisap. Gue mainin itilnya dengan lidah gue, bahkan sampai gue sedot pakai mulut gue! Poppy makin kelojotan dan mendesah.
Sementara itu, gue lihat Umi lagi dipaksa menyepong kontol temen gue. Sedang Yani sudah mulai disodomi lagi. Malah, dia dipaksa telentang dengan kontol menusuk pantatnya, lalu memeknya disodok dari depan. Kedengeran Yani menjerit-jerit kesakitan.
"Aihhh..." Poppy memekik waktu telunjuk gue masuk satu ruas ke lubang pantatnya, terus gue dorong ke depan sampai lubang memeknya merekah dan kelihatan lorong yang merah dan basah, gue jilatin sampai cewek 21 tahun itu menggeliat-geliat.
"Aduhh...jangaann..." Poppy menjerit waktu gue tiba-tiba berdiri sambil mengangkat kaki kirinya.
Tapi gue nggak peduli, kontol gue pas banget nunjuk memeknya. Terus gue kucek-kucek memek anak itu, sampai mulai terasa basah. Terus gue pegang kontol gue dan gue paksa masuk kepalanya ke celah bibir memeknya. Kepala kontol gue terasa seperti direndam di air hangat. Poppy menjerit makin nggak karuan waktu tangan kiri gue mencengkeram tetek kanannya sampai ke pangkalnya sekuat tenaga. Malah, daging kenyal itu sampai terasa seperti remuk.
"Aaaakkhh....auhhhhh....ouchhh ...aiiiii....sakkkiiittt....ad duhhhhh...." Poppy menjerit histeris waktu gue dorong pinggang ke depan dengan tiba-tiba dan sekuat tenaga.
Kontol gue masuk sampai ke pangkalnya. Malah kerasa kepalanya sampai mentok ke dasar memeknya. Begitu mentok gue berhenti sebentar. Gadis itu sesenggukan, nafasnya tersengal-sengal. Tapi yang paling asyik, gue merasa kontol gue di dalam memeknya seperti dibasahi cairan hangat. Belakangan gue tahu yang hangat itu darah keperawanannya.
Dengan gerakan kasar dan tiba-tiba, gue kocok kontol gue di dalam memek Poppy. Terasa sempit banget dan kering. Gue sih enak, tapi akibatnya Poppy menjerit-jerit kesakitan dan minta ampun. Poppy masih merintih-rintih waktu kontol gue tarik keluar, terus gue jongkok di depan selangkangannya. Langsung gue masukin empat jari ke dalam lubang memeknya yang masih menganga.
"Aucchhhhh...sakkkiiittt...aaa hhhh..." Poppy menjerit lagi waktu empat jari gue puter-puter di dalam memeknya. Waktu gue tarik keluar empat jari gue yang basah lendir dan darah, cewek itu jatuh melorot sambil terus menangis.
"Hey, bawa sini perawan satu itu, lu ambil memek yang ini. Pantatnya buat gue ya!" teriak gue ke teman yang lagi asyik ngucek-ngucek memek Umi.
Temen gue cepat bangun lalu menyeret kedua kaki Umi dan menggeletakkan cewek imut-imut itu di dekat kaki gue. Tanpa banyak bicara, dia terus mendorong Poppy yang menangis sambil duduk bersimpuh sehingga jatuh terlentang.
Gue tarik Umi sampai kepalanya berbantalkan paha gue, menghadap Poppy yang lagi digarap ulang. Gue remas-remas pelan kedua payudaranya yang kenyal. Cewek itu menangis.
"Kamu paling muda, jadi memekmu pasti paling enak. Kamu mau kontolku masuk memekmu?" kata gue sambil memilin-milin putingnya yang hitam dan mungil tetapi tebal.
"Huuu...jangaaannn...huuu. .." ABG itu menangis lagi.
"Lihat Bu Lik Yani dan Bu Lik Poppy itu...memeknya sudah jebol...kalau kamu nggak mau seperti mereka, kamu harus nurutin apa kata gue, ngerti? Sekarang lihat ini,"
Gue lalu menghampiri Yani yang sedang dientot dan disodomi berbarengan. Gue pegang kepala Yani yang lagi menjerit-jerit kesakitan. Lalu gue paksa dia mengulum kontol gue lagi sampai kontol gue basah. Terus gue suruh temen gue yang lagi nyodok memek Yani bangun, gantian dia memasukkan kontolnya ke mulut Yani. Terus gue suruh pindah kontol temen gue satunya dari pantat ke memek.
Badan Yani kelojotan dan gemeteran waktu gue paksa kontol gue ikut masuk memeknya. Temen gue yang dari tadi menyodomi dia rupanya nggak tahan lama lagi. Dia cepat-cepat menggerakkan kontolnya maju mundur. Yani menjerit histeris, sebab dua kontol di dalam memeknya bikin memeknya seperti mau sobek.
Temen gue rupanya nggak tahan. Nggak lama dia ngecrot di dalam memek Yani. Yang di atas juga gitu, dia ngecrot lumayan banyak di dalam mulut Yani. Yani ambruk, lemes di lantai.
Sekarang gue balik ke Poppy yang lagi menjerit-jerit karena dipaksa duduk di atas kontol temen gue. Kedua teteknya dicengkeram sehingga dia terpaksa bergerak-gerak naik turun. Dari belakang, gue dorong punggung Poppy yang mulus sampai dia ambruk di atas dada temen gue.
"Kamu nggak mau disodomi juga kan. Lihat nih," kata gue lagi kepada Umi yang makin kenceng nangisnya.
Poppy menjerit melengking waktu telunjuk gue paksa masuk ke lubang anusnya. Rapet banget, jadi gue paksa satu telunjuk lagi masuk dan gue gerak-gerakin, bikin lubangnya makin lebar. Sampai cukupan buat masuknya kepala kontol, gue sodok aja.
Kepala kontol gue sekarang kejepit pantat Poppy. Gue dorong dua senti, Poppy menjerit lagi. Mundur satu senti lalu maju tiga senti. Poppy makin keras menjerit. Lalu mundur lagi satu senti dan dengan tenaga penuh....
"Aaaaaachhhhh...aauuhhhhh....s aakkkiiitt....nggghhhhh...." Poppy menjerit histeris. Kontol gue masuk sampai pangkalnya ke dalam lubang pantatnya. Sempit banget, sampai kerasa kontol gue seperti remuk di dalam. Tapi terus gue genjot agak lama.
Lima menitan, gue lepas dan dua temen gue yang tadi ngerjain Yani udah siap di belakang Poppy, mau gantiin. Gue balik ke Umi, sementara Poppy mulai menjerit lagi waktu pantatnya disodomi lagi. Tapi jeritannya hilang waktu mulutnya juga diperkosa.
"Gimana? Kamu mau nurut?" kata gue sambil jongkok di sebelah Umi dan mengucek-ucek memeknya yang berjembut tipis.
"I...iya...iya..." katanya terbata-bata.
"Bagus, sekarang bersihin kontolku," kata gue sambil berdiri, menyodorkan kontol gue yang basah air mani temen gue dan darah dari pantat Poppy. Umi menelan ludahnya, tampangnya tampak jijik. Tapi karena takut, dia jilat juga kontol gue.
Gila, gue kayak di awang-awang, apalagi dia terus mulai menyedot-nyedot kontol gue. Setelah lama dia nyepong gue, gue liat tiga temen gue udah selesai. Poppy kayaknya pingsan. Memek, pantat dan mulutnya belepotan air mani.
"Gue juga bersihin dong," kata temen-temen gue berbarengan.
Umi nggak punya pilihan lain. Akhirnya gadis imut-imut itu berjongkok di depan empat lelaki, menjilati dan menyepong kontol-kontol berlendir. Tidak cuma itu, dia juga gue suruh jilat seluruh air mani di badan Yani dan Poppy. Malah, dari memek Yani gue sendokin air mani dan gue suapin ke mulut Umi yang berbibir mungil itu.
"Huuu...huuu...sudahh...sa ya mau pulang..." Umi terisak sambil duduk bersimpuh.
"Boleh, tapi kamu harus joget dulu," kata gue sambil melepas ikatan di tangannya.
Umi seperti kebingungan. Tapi tiba-tiba ia menjerit karena temen gue tahu-tahu menyabetkan ikat pinggangnya, kena payudara kirinya. "Ayo cepet joget!" bentaknya.
Takut-takut Umi berdiri, tapi kali ini temen gue yang lain menampar pantatnya dari belakang. "Joget yang hot!" bentaknya.
Akhirnya Umi mulai meliuk-liukkan tubuhnya. Merangsang banget, gadis berjilbab tapi bugil, joget di depan gue. Gue tunjuk selangkangannya. "Ayo, gerakin pinggulmu maju mundur sampai memekmu kena telunjukku ini," kata gue.
Umi nurut. Pinggulnya maju mundur sampai memeknya yang berjembut tipis nyenggol telunjuk gue. Pas mau nyenggol kelima kalinya, sengaja gue sodok agak kenceng sampai seperti menusuk klentitnya. Umi menjerit kesakitan.
Sekarang dia malah ketakutan waktu tiga temen gue ikut joget di sekelilingnya sambil memegang-megang buah dada, pantat dan memeknya.
"Jogetmu bikin aku ngaceng nih!" kata gue sambil mengacungkan kontol gue yang emang udah tegang banget.
Temen-temen gue ketawa ngakak lalu memegangi kedua tangan Umi dan menelentangkannya di lantai.
"Aaahhh....janngaaaannnn....ka lian jahaaaattt...aaahhhh..." Umi menjerit dan meronta-ronta. Satu kakinya dipegangi temen gue, satu lagi gue pegangin, ngangkang lebar banget.
Umi nangis lagi, waktu ngerasa memeknya mulai kesenggol kepala kontol gue. Cewek mungil ini menjerit keras waktu jari gue dan temen gue menarik bibir memeknya ke kanan dan kiri. Terus, kontol gue mulai masuk 4 senti dan tarikan langsung dilepas. Sekarang kontol gue kejepit memek perawan yang sempit.
Gue ambil posisi, pegangan dua buah dadanya yang mulus sambil jempol dan telunjuk gue menjepit pentilnya.
"Aku harus adil dong, masak saudaramu dapat kontol, kamu nggak?" kata gue sambil dengan tiba-tiba mendorong kontol gue maju dengan kekuatan penuh. Akibatnya luar biasa. Umi menjerit sangat keras. Gue sendiri merasa kontol gue merobek sesuatu yang sangat liat. Begitu kontol gue mentok ke dasar memeknya, gue berhenti sebentar. Kerasa memeknya berdenyut-denyut meremas-remas kontol gue. Pelan-pelan gue merasa ada cairan hangat membasahi kontol gue. Itu pasti darah perawannya.
Akhirnya, ABG imut-imut itu menjerit-jerit tak berhenti waktu kontol gue kocok dengan gerak cepat di dalam memeknya. Apalagi temen-temen gue asyik meremas-remas teteknya. Malah, kerasa ada yang mulai nusuk pantatnya pakai jari. Ada lagi yang memaksanya ngemut kontolnya.
Nggak lama, gue pindah kontol ke pantatnya setelah Umi dibikin nungging. Lagi-lagi Umi menjerit histeris, sebab pantatnya yang lebih sempit dari memeknya itu tetap bisa gue jebol pakai kontol gue. Seperti dua cewek lainnya, sekarang Umi telentang di atas dada gue, terus memeknya yang berdarah disodok kontol temen gue dari depan. Mulutnya sekarang malah dipaksa ngemut dua kontol sekaligus.
Sekarang Umi gue paksa nungging di atas dada temen gue sambil kontolnya tetap di dalam memek cewek yang baru lulus SMU itu. Dua kontol masih berebut masuk mulutnya. Dari belakang, sekarang gue coba masukin kontol gue, bareng kontol temen gue yang sudah masuk duluan.
Umi merintih kesakitan, waktu kontol gue bisa masuk. Pas kontol temen gue masuk sampai pangkalnya, gue sodok keras-keras sampai kontol gue juga masuk sampai pangkal. Umi memekik keras, sebab terasa ada yang 'krekk' di dalam memeknya. Selaput daranya mungkin sobek lebih lebar lagi.
Gue ambil kontol karet punya temen gue, terus gue tusukin jauh-jauh ke dalam anusnya. Memeknya jadi terasa tambah sempit aja. Umi mengerang panjang waktu gue nggak tahan lagi, ngocokkan kontol beneran dan kontol karet makin cepat.
"Minggir...minggir..." kata gue ke dua temen gue yang lagi memperkosa mulut Umi. Cepet gue masukin kontol gue ke dalam mulut berbibir mungil itu dan, sedetik kemudian, air mani gue tumpah banyak banget di dalam mulutnya.
Umi sudah lemas waktu dia ditelentangin dan tiga temen gue antri ngocok cepat-cepat lalu nembak di dalam mulutnya.
Cewek itu betul-betul tak berdaya. Saat temen gue yang terakhir nyemprot ke dalam mulutnya, dia malah sudah pingsan. Mulutnya yang terbuka betul-betul putih, penuh air mani. Malah, wajah imut-imutnya juga ikut basah.
***
Tiga cewek itu sekarang sudah di mobil lagi. Mulut-mulut mereka yang penuh air mani sudah dilakban, sedang tangan diikat di belakang punggung. Tiga cewek bugil itu digeletakkan begitu saja di lantai tengah mobil. Yani yang pertama siuman, merintih dan menggeliat. Dua temen gue yang jaga di jok tengah lalu mengangkatnya hingga duduk di tengah-tengah. Lagi-lagi payudara montoknya diremas-remas dan putingnya disedot-sedot. Yani cuma bisa merintih.
Tapi ia mengerang kesakitan waktu dua ujung gagang kuas lukis yang runcing didorong di atas dua putingnya sampai tak bisa maju lagi.
"Ini bagus dan menarik," kata temen gue lalu mengikat empat kuas dengan karet gelang di dua ujung gagang kuas, masing-masing dua kuas. Ia lalu merenggangkan kedua kuas dan menyelipkan payudara Yani di antaranya. Selanjutnya, tarikan dilepas sehingga kuas kembali merapat dan menjepit erat gumpalan daging montok itu di pangkalnya. Dua buah dada Yani diperlakukan seperti itu, sehingga menggelembung dan makin lama makin terlihat merah kehitaman. Yani merintih dan menggeliat-geliat kesakitan.
Lalu Poppy yang menyusul siuman juga diperlakukan sama. Terakhir, begitu sampai Kasongan, Umi siuman. Perlakuan yang diterimanya nyaris sama. Bedanya, cuma dua kuas yang menjepit di payudaranya. Tapi, pasti sakit sekali karena yang dijepit adalah dua putingnya sekaligus.
Rumah Yani dini hari itu sepi sekali. Maka mobil langsung masuk garasi yang memiliki pintu tembus ke kamar Yani. Tiga pigura besar langsung disiapkan temen-temen gue. Lalu cewek-cewek yang masih menggeliat kesakitan itu, kita 'pigura' dengan tangan terikat di frame atas, kaki di frame bawah.
"Ini pasti lucu," kata temen gue sambil bawa masuk dongkrak mobil. Diputarnya dongkrak sehingga bagian pengangkat turun merapat dan ulirnya yang berdiameter tiga senti menonjol tiga senti. Lalu dibuatnya Umi duduk di atas dongkrak. Otomatis besi berulir menusuk memeknya. Lalu diputarnya lagi dongkrak sehingga turun dan besi berulir naik. Umi mengerang kesakitan, sebab begitu besi pengangkat rapat, besi berulir itu mencuat ke dalam memeknya sedalam 10 senti lebih.
Darah perawannya bercampur air manipun menetes ke dongkrak dan lantai keramik putih. Sedang Yani dan Poppy dipigura pada posisi berdiri. Dua puting Yani dan Poppy lalu disentuh dengan raket nyamuk. Sekejap tapi dua cewek itu langsung melonjak dan mengerang kesakitan. Lalu gagang raket ditusukkan ke dalam memek Poppy. Lubang pantatnya dimasuki lima kuas dengan bulu di dalam. Di memek Yani gue masukin dua baterai besar dan satu di pantatnya.
Tiga buah pancing lalu gue ikat di pigura Yani. Lalu, tiga kail gue tancapkan di pentil dan klitorisnya. Yani mengerang hebat waktu tali pancing gue gulung sampai menarik tiga titik peka itu. Sampai akhirnya, Yani pingsan lagi.
"Kamu berdua harus pingsan lagi ya?" kata gue kepada Poppy dan Umi yang ketakutan waktu ngelihat enam tusuk gigi lancip di tangan gue.
Pertama-tama Poppy yang mengerang hebat waktu dua tusuk gigi gue tancepin di dua pentilnya sampai lima senti. Darah lalu mengalir dan menetes lewat ujung tusuk gigi. Waktu klentitnya yang gue tusuk dari bawah sampai tembus ke atas, Poppy mengerang lagi dan tubuhnya kejang sampai akhirnya lemas, pingsan.
Sekarang Umi yang ketakutan. Gue tarik satu persatu putingnya, gue tusuk tembus melintang sehingga nyangkut di gagang kuas. Darah juga menitik lewat ujung tusuk gigi. Seperti Poppy, dia juga pingsan waktu klentitnya juga gue tusuk tembus melintang.
***
Keadaan sepi, gue dan temen-temen membuka lebar korden ruang tamu, lalu menyalakan lampu. Cepat kami cabut dari situ sambil melihat pemandangan indah di ruang tamu...
***
Seminggu kemudian, gue mampir ke rumahnya. Berlagak nggak tahu, toh Yani, Poppy dan Umi juga nggak tahu kalo gue yang merkosa mereka. Tapi gue kaget juga waktu yang membuka pintu bukan mereka, tapi seorang gadis berjilbab putih panjang dan jubah ungu.
"Saya Kantuningsih. Saya kos di sini," kata gadis berwajah khas Jawa itu.
"Bu Yani kemana?"
"Bu Yani sekarang tinggal di Klaten..." sahutnya.
Ow... ow... gue kecewa. Tapi entar dulu, kapan-kapan si Kantun ini perlu disodok juga memeknya. Temen-temen gue harus dikasih tau !
Tamat
Lihat Koleksi Bugil Lengkap..