Setelah percumbuanku dengan tante Layla dan tante Dewi, aku ingin melakukannya lagi. Aku berharap kedua tante tersebut datang lagi ke rumahku pada saat sepi. Harapanku tinggal harapan sampai pada pertengahan bulan Mei tahun 2000 lalu aku melakukannya lagi, meskipun bukan dengan tante Layla dan tante Dewi. Aku melakukannya lagi dengan temanku sendiri yang bernama Chintya.
Saat itu aku, Chintya dan beberapa teman yang lain mengadakan kegiatan camping di sebuah lereng gunung. Setelah mendirikan tenda, aku dan Chintya mencari air sekalian mandi di sungai yang berada beberapa meter ke bawah dari tempat camping itu. Kami berdua sama-sama memakai celana jeans dan kaos oblong putih sambil berkalungkan handuk.
Waktu itu aku sudah lupa dengan kejadian yang kuceritakan di "AKU DAN TANTE-TANTE". Aku ingat lagi ketika Chintya terjatuh masuk ke air. Pakaiannya basah sehingga bagian dalam tubuhnya kelihatan. Dia memakai BH hitam. Aku terangsang dengan keadaannya. Aku lalu menolongnya dan pura-pura terjatuh tepat di hadapannya. Dia lalu mencipratkan air ke tubuhku. Kuajak dia mandi sekalian dan diapun mau. Dia lalu naik ke atas batu dan melepas kaos dan celananya. Kemudian dia duduk bersimpuh dan mengambil sabun yang ada di saku celananya. Posisiku waktu itu berada di belakangnya. Aku semakin terangsang melihatnya hanya memakai pakaian dalam sedang menyabuni tubuhnya.
Aku cepat-cepat melepas pakaianku dan kusisakan CD-ku, kuhampiri dia dan dari belakang aku melepas BH-nya. Dia tidak menolak ketika tanganku mengambil sabun dari tangannya. Aku lalu menyabuni kedua payudaranya yang sama besar dengan punyaku dari belakang sambil meremasnya. Dia membalikkan tubuhnya. Aku jadi leluasa menyabuni tubuhnya. Rupanya dia merasa aku tidak adil. Ketika aku meremas payudara kirinya dia mengambil busa sabun yang ada di payudara kanannya kemudian diusapnya kedua payudaraku. Aku memotong sabun itu dan kuberikan potongannya ke Chintya. Sekarang kami saling menyabuni kedua payudara. Kuberanikan diri mencium bibirnya. Dia membalasnya dengan lembut.
Perlahan-lahan sambil kucium, dia kurebahkan di atas batu dan kuratakan sabunnya ke seluruh tubuhnya bagian atas sampai busanya hilang. Demikian juga dengan apa yang dilakukan pada tubuhku. Sekarang tubuh kami berdua sudah kering dari busa dan kutindih dia sehingga kedua payudara kami saling menempel. Kami terguling dan posisi Chintya sekarang di atasku. Dia lalu berdiri dan cepat-cepat aku dari belakang memeluknya. Aku mendesah ketika kedua payudaraku menempel di punggungnya. Tanganku meremas kedua payudaranya dan turun ke bawah masuk ke dalam CD-nya. Tetapi dia kurang suka dengan sikapku ini sehingga dia menarik tanganku kembali dan melepaskan diri dari pelukanku.
Dia kemudian turun ke air dan kuikuti dia. Kuajak dia melanjutkan permainan yang tertunda di dalam air. Dia tidak mau dan mendorongku. Aku tidak memaksanya. Ketika dia mandi aku juga mandi. Sendiri-sendiri. Malamnya, dia tidur berdua setenda denganku. Kebetulan malam itu dinginnya sampai ke tulang. Meskipun kami sudah memakai pakaian hangat plus berselimutan. Ketika itu kami tidur saling berhadapan.
Aku terbangun dan pikiran gilaku muncul lagi. Kusingkirkan selimut. Kemudian perlahan-lahan kuturunkan retsliting jaketnya. Aku kaget dia ternyata hanya memakai BH di dalamnya. Dia rupanya terbangun juga dan tidak menolak ketika kulepas jaketnya. Bahkan dia melepas jaketku sehingga kedua payudaraku yang tadi kututupi jaket sekarang sudah telanjang. Dia melentangkanku dan dihisapnya kedua payudaraku bergantian. Aku merasakan kehangatan. Mulutnya kemudian naik dan mencium bibirku sambil dia melepas BH-nya. Aku lalu meremas kedua payudaranya begitu juga dengannya. Kemudian di tidur di atasku dan berpelukan.
Kami bergulingan ke atas ke bawah sampai kami tidak merasakan kedinginan lagi bahkan berkeringat. Vaginaku mulai basah sehingga ketika dia di bawahku aku lalu duduk dan melepas retsliting celananya. Dia mendorong tubuhku sehingga aku terjatuh dan langsung dipeluknya sambil dia berkata bahwa dia tidak mau bertindak lebih jauh lagi. Aku memakluminya dan kami akhirnya tidur berpelukan sampai pagi dan tidak merasakan dingin lagi. Keesokan harinya rombongan kami pulang kembali ke kota.
Beberapa hari kemudian, aku yang tidak dapat menahan nafsu untuk bercumbu lagi datang ke tempat kostnya. Kulihat di balik kaos putih tipisnya dia tidak mengenakan BH. Kutanya kenapa dia tidak memakai BH. Dia menjawab bahwa BH-nya basah semua. Kesempatan ini tidak kusia-siakan. Aku duduk mendekatinya dan kuremas kedua payudaranya. Dia mendesah yang kusambut dengan ciuman di bibirnya. Dia mendorongku dan memintaku untuk tidak kurang ajar. Aku takut dia akan menjerit dan terdengar dari luar kamar kostnya. Tapi dia kelihatanya juga kasihan padaku. Sambil dia melepas kaosnya dia mengijinkanku mencumbunya untuk yang terakhir kalinya.
Dia lalu tidur dan aku mulai melepas seluruh pakaianku. Ketika aku ingin melepas CD, dia melarangnya. Aku turuti larangannya. Kemudian kucium bibirnya sambil kuremas kedua payudaranya. Dia juga meremas kedua payudaraku dan salah satu tangannya kemudian turun ke bawah ke pantatku dan diremasnya pantatku. Aku disuruhnya berdiri dan dia dari belakang memelukku dan tangan kirinya meremas kedua payudaraku bergantian sedangkan tangan kanannya masuk ke CD-ku. Jarinya masuk ke vaginaku yang sudah basah serta mengocok vaginaku perlahan-lahan.
Dia kemudian berlutut di hadapanku dan melepas CD-ku. Dijilatinya vaginaku yang sudah basah. Salah satu tanganku menekan kepalanya dan tanganku yang satunya lagi meremas kedua payudaraku sendiri bergantian. Aku mendesah berkali-kali ketika jarinya mengocok vaginaku sambil dijilatinya cairan yang keluar dari vaginaku. Mulutnya kemudian naik ke atas dan menghisap kedua payudaraku sedangkan kedua tangannya melepas CD-nya sendiri.
Setelah itu mulutnya naik ke atas lagi dan mencium bibirku yang juga kubalas dengan jilatan lidah. Sedangkan kedua vagina kami yang basah saling menempel. Tangannya menekan pantatku sehingga kami berpelukan sambil berciuman, berjilat-jilatan, kedua payudara dan vagina saling menempel ditambah dengan jarinya yang keluar masuk ke pantatku yang kubalas dengan jariku yang juga keluar masuk ke pantatnya. Aku tidak mengira Chintya akan sejauh ini. Aku menikmatinya sampai beberapa menit sampai kami terkulai lemas.
Demikian pengalamanku bercumbu dengan Chintya meskipun kemudian dia tidak mau lagi bercumbu denganku.
Tamat
Lihat Koleksi Bugil Lengkap..
Tampilkan postingan dengan label Seks Sesama Wanita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Seks Sesama Wanita. Tampilkan semua postingan
Ibu - Ibu.....
17.57, Posted by admin, No Comment
Awal mula dari cerita ini adalah ketika saya baru saja tinggal di sebuah daerah perumahan yang relatif baru di daerah pinggiran kota - maaf, nama daerah tersebut tidak saya sebutkan mengingat untuk menjaga nama baik dan harga diri keluarga terutama suami dan kedua anak saya.
Saya tinggal di situ baru sekitar 6 bulanan. Karena daerah perumahan tersebut masih baru maka jumlah keluarga yang menempati rumah di situ masih relatif sedikit tetapi khusus untuk blok daerah rumah saya sudah lumayan banyak dan ramai. Rata-rata keluarga kecil seperti keluarga saya juga yaitu yang sudah masuk generasi Keluarga Berencana, rata-rata hanya mempunyai dua anak tetapi ada juga yang hanya satu anak saja. Sudah seperti biasanya bila kita menempati daerah perumahan baru, saya dengan sengaja berusaha untuk banyak bergaul dengan para tetangga bahkan juga dengan tetangga-tetangga di blok yang lain.
Dari hasil bergaul tersebut timbul kesepakatan di antara ibu-ibu di blok daerah rumahku untuk mengadakan arisan sekali dalam sebulan dan diadakan bergiliran di setiap rumah pesertanya. Suatu ketika sedang berlangsung acara arisan tersebut di sebuah rumah yang berada di deretan depan rumahku, pemilik rumah tersebut biasa dipanggil Bu Soni (bukan nama sebenarnya) dan sudah lebih dulu satu tahun tinggal di daerah perumahan ini daripada saya. Bu Soni bisa dibilang ramah, banyak ngomongnya dan senang bercanda dan sampai saat tulisan ini aku buat dia baru mempunyai satu anak, perempuan, berusia 8 tahun walaupun usia rumah tangganya sudah 10 tahun sedangkan aku sudah 20 tahun. Aku menikah ketika masih berusia 22 tahun. Suaminya bekerja di sebuah perusahaan swasta dan kehidupannya juga bisa dibilang kecukupan. Setelah acara arisan selesai saya masih tetap asyik ngobrol dengan Bu Soni karena tertarik dengan keramahan dan banyak omongnya itu sekalipun ibu-ibu yang lain sudah pulang semua.
Dia kemudian bertanya tentang keluargaku, "Jeng Mar. Putra-putranya itu sudah umur berapa, sih, kok sudah dewasa-dewasa, ya?" (Jeng Mar adalah nama panggilanku tetapi bukan sebenarnya) tanya Bu Soni kepadaku. "Kalau yang pertama 18 tahun dan yang paling ragil itu 14 tahun. Cuma yaitu Bu, nakalnya wah, wah, waaaaaaa.....aaah bener-bener, deh. Saya, tuh, suka capek marahinnya." "Lho, ya, namanya juga anak laki-laki. Ya, biasa lah Jeng." "Lebih enak situ, ya. Anak cuma satu dan perempuan lagi. Nggak bengal." "Ah, siapa bilang Jeng Mar. Sama kok. Cuma yaitu, saya dari dulu, ya, cuma satu aja. Sebetulnya saya ingin punya satu lagi, deh. Ya, seperti situ." "Lho, mbok ya bilang aja sama suaminya. Eeee...siapa tahu ada rejeki, si putri tunggalnya itu bisa punya adik. Situ juga sama suaminya 'kan masih sama-sama muda." "Ya, itulah Jeng. Papanya itu lho, suka susah. Dulu, ya, waktu kami mau mulai berumah tangga sepakat untuk punya dua aja. Ya, itung-itung mengikuti program pemerintah, toh, Jeng. Tapi enggak tau' lah papanya tuh. Kayaknya sekarang malah tambah asik aja sama kerjaannya. Terlalu sering capek." "O, itu toh. Ya, mbok dikasih tau aja kalau sewaktu-waktu punya perhatian sama keluarga. 'Kan yang namanya kerja itu juga butuh istirahat. Mbok dirayu lah gitu." "Wah, sudah dari dulu Jeng. Tapi, ya, tetep susah aja, tuh. Sebenernya ini, lho, Jeng Mar. Eh, maaf, ya, Jeng kalo' saya omongin. Tapi Jeng Mar tentunya juga tau donk masalah suami-istri 'kan." "Ya, memang. Ya, orang-orang yang sudah seperti kita ini masalahnya sudah macem-macem, toh, Bu. Sebenarnya Bu Soni ini ada masalah apa, toh?" "Ya, begini Jeng, suami saya itu kalo' bergaul sama saya suka cepet-cepet mau rampung aja, lho. Padahal yang namanya istri seperti kita-kita ini 'kan juga ingin membutuhkan kenikmatan yang lebih lama, toh, Jeng." "O, itu, toh. Mungkin situ kurang lama merayunya. Mungkin suaminya butuh variasi atau model yang agak macem-macem, gitu." "Ya, seperti apa ya, Jeng. Dia itu kalo' lagi mau, yang langsung aja. Saya seringnya nggak dirangsang apa-apa. Kalo' Jeng Mar, gimana, toh? Eh, maaf lho, Jeng." "Kalo' saya dan suami saya itu saling rayu-merayu dulu. Kalo' suami saya yang mulai duluan, ya, dia biasanya ngajak bercanda dulu dan akhirnya menjurus yang ke porno-porno gitulah. Sama seperti saya juga kalo' misalnya saya yang mau duluan." "Terus apa cuma gitu aja, Jeng." "O, ya tidak. Kalo' saya yang merayu, biasanya punya suami saya itu saya pegang-pegang. Ukurannya besar dan panjang, lho. Terus untuk lebih menggairahkannya, ya, punyanya itu saya enyot dengan mulut saya. Saya isep-isep." "Iiiii....iiih. Jeng Mar, ih. Apa nggak jijik, tuh? Saya aja membayangkannya juga udah geli. Hiiiii............." "Ya, dulu waktu pertama kali, ya, jijik juga, sih. Tetapi suami saya itu selalu rajin, kok, membersihkan gituannya, jadi ya lama-lama buat saya enak juga. Soalnya ukurannya itu, sih, yang lumayan besar. Saya sendiri suka gampang terangsang kalo' lagi ngeliat. Mungkin situ juga kalo' ngeliat, wah pasti kepengen, deh." "Ih, saya belon pernah, tuh, Jeng. Lalu kalo' suaminya duluan yang mulai begimana?" "Saya ditelanjangi sampai polos sama sekali. Dia paling suka merema-remas payudara saya dan juga menjilati putingnya dan kadang lagaknya seperti bayi yang sedang mengenyot susu." , kataku sambil ketawa dan tampak Bu Soni juga tertawa. "Abis itu badan saya dijilati dan dia juga paling suka menjilati kepunyaan saya. Rasanya buat saya, ya, enak juga dan biasanya saya semakin terangsang untuk begituan.
Dia juga pernah bilang sama saya kalo' punya saya itu semakin enak dan saya disuruh meliara baik-baik." "Ah, tapi untuk yang begituan itu saya dan suami saya sama sekali belum pernah, lho, Jeng. Tapi mungkin ada baiknya untuk dicoba juga, ya, Jeng. Tapi tadi itu masalah yang situ dijilatin punyanya. Rasa enaknya seperti apa, sih, Jeng." "Wah, Bu Soni ini, kok, seperti kurang pergaulan aja, toh." "Lho, terus terang Jeng. Memang saya belon pernah, kok." "Ya, geli-geli begitulah. Susah juga untuk dijelasin kalo' belum pernah merasakan sendiri." Lalu kami berdua tertawa. Setelah berhenti tertawa, aku bertanya, "Bu Soni mau tau rasanya kalau gituannya dijilati?" "Yah, nanti saya rayu, deh, suami saya. Mungkin enak juga ya." Ucapnya sambil tersenyum. "Apa perlu saya dulu yang coba?", tanyaku sambil bercanda dan tersenyum. "Hush!! Jeng Mar ini ada-ada aja, ah", sambil tertawa. "Ya, biar tidak kaget ketika dengan suaminya nanti. Kita 'kan juga sama-sama wanita." "Wah, kayak lesbian aja. Nanti saya jadi ketagihan, lho. Malah takutnya lebih senang sama situ daripada sama suami saya sendiri. Ih! Malu' akh.", sambil tertawa. "Atau kalo' nggak mau gitu, nanti saya kasih tau gimana membuat penampilan bulu gituannya biar suaminya situ tertarik. Kadang-kadang bentuk dan penataannya juga mempengaruhi rangsangan suami, lho, Bu Soni." "Ah, Jeng ini." "Ee! Betul, lho. Mungkin bentuk bulul-bulu gituannya Bu Soni penampilannya kurang merangsang. Kalo' boleh saya lihat sebentar gimana?" "Wah, ya, gimana ya. Tapiiiii.......ya boleh, deh. Eh, tapi saya juga boleh liat donk punyanya situ. Sama-sama donk, 'kan kata Jeng tadi kita ini sama-sama wanita." "Ya, 'kan saya cuma mau bantu situ supaya bisa usaha untuk punya anak lagi." "Kalo' gitu kita ke kamar aja, deh. Suami saya juga biasanya pulang malam. Yuk, Jeng." Langsung kita berdua ke kamar Bu Soni. Kamarnya cukup tertata rapi, tempat tidurnya cukup besar dan dengan kasur busa.
Di dindingnya ada tergantung beberapa foto Bu Soni dan suaminya dan ada juga foto sekeluarga dengan anaknya yang masih semata wayang. Saya kemudian ke luar sebentar untuk telepon ke rumah kalau pulangnya agak telat karena ada urusan dengan perkumpulan ibu-ibu dan kebetulan yang menerima suamiku sendiri dan ternyata dia setuju saja. Setelah kita berdua di kamar, Bu Soni bertanya kepadaku, "Bagaimana Jeng? Kira-kira siap?" "Ayolah. Apa sebaiknya kita langsung telanjang bulat aja?" "OK, deh.", jawab Bu Soni dengan agak tersenyum malu. Akhirnya kita berdua mulai melepas pakaian satu-persatu dan akhirnya polos lah semua. Bulu jembut Bu Soni cukup lebat juga hanya bentuknya keriting dan menyebar, tidak seperti miliku yang lurus dan tertata dengan bentuk segitiga ke arah bawah. Lalu aku menyentuh payudaranya yang agak bulat tetapi tidak terlalu besar, "Lumayan juga, lho, Bu." Lalu Bu Soni pun langsung memegang payudaraku juga sambil berkata, "Sama juga seperti punya Jeng." Aku pun minta ijin untuk mengulum kedua payudaranya dan dia langsung menyanggupi. Kujilati kedua putingnya yang berwarna agak kecoklat-coklatan tetapi lumayan enak juga. Lalu kujilati secara keseluruhan payudaranya. Bu Soni nampak terangsang dan napasnya mulai memburu. "Enak juga, ya, Jeng. Boleh punya Jeng saya coba juga?" "Silakan aja.", ijinku. Lalu Bu Soni pun melakukannya dan tampak sekali kalau dia masih sangat kaku dalam soal sex, jilatan dan kulumannya masih terasa kaku dan kurang begitu merangsang. Tetapi lumayanlah, dengan cara seperti ini aku secara tidak langsung sudah menolong dia untuk bisa mendapatkan anak lagi. Setelah selesai saling menjilati payudara, kami berdua duduk-duduk di atas tempat tidur berkasur busa yang cukup empuk. Aku kemudian memohon Bu Soni untuk melihat vaginanya lebih jelas, "Bu Soni. Boleh nggak saya liat gituannya? Kok bulu-bulunya agak keriting. Tidak seperti milik saya, lurus-lurus dan lembut." Dengan agak malu Bu Soni membolehkan, "Yaaa.....Silahkan aja, deh, Jeng." Aku menyuruh dia, "Rebahin aja badannya trus tolong kangkangin kakinya yang lebar." Begitu dia lakukan semuanya terlihatlah daging vagina yang memerah segar dengan bibirnya yang sudah agak keluar dikelilingi oleh jembut yang cukup lebat dan keriting. Mmmmm....cukup merangsang juga penampilannya. 'Ku dekatkan wajahku ke vaginanya lalu aku katakan kepada Bu Soni bahwa bentuk kemaluannya sudah cukup merangsang hanya saja akan lebih indah pemandangannya bila jembutnya sering disisir agar semakin lurus dan rapi seperti miliku.
Lalu kusentuh-sentuh daging vaginanya dengan tanganku, empuk dan tampak cukup terpelihara baik, bersih dan tidak ada bau apa-apa. Nampak dia agak kegelian ketika sentuhan tanganku mendarat di permukaan tititnya dan dia mengeluh lirih, "Aduh, geli, lho, Jeng." "Apa lagi kalo' dijilat, Bu Soni. Nikmat, deh. Boleh saya coba?" "Aduh, gimana, ya, Jeng. Saya masih jijik, sih." "Makanya dicoba.", kataku sambil kuelus salah satu pahanya. "Mmmmm.....ya, silakan, deh, Jeng. Tapi saya tutup mata aja, ah." Lalu kucium vaginanya sekali, chuph!! "Aaa...aah.", Bu Soni mengerang dan agak mengangkat badannya. Lalu kutanya, "Kenapa? Sakit, ya?" Dia menjawab, "Geli sekali." "Saya teruskan, ya?" Bu Soni pun hanya mengangguk sambil tersenyum. Kuciumi lagi vaginanya berkali-kali dan rasa geli yang dia rasakan membuat kedua kakinya bergerak-gerak tetapi kupegangi kedua pangkal pahanya erat-erat. Badannya bergerinjal-gerinjal, pantatnya naik turun. Uh! Pemandangan yang lucu sekali, aku pun sempat ketawa melihatnya. Saya keluarkan lidah dan saya sentuhkan ujungnya ke bibir tititnya berkali-kali. Oh! Aku semakin terbawa napsu. Kujilati keseluruhan permukaan vaginanya, gerakanku semakin cepat dan ganas. Oh, Bu Soni, vaginamu nikmaaaaa...aaat sekali. Aku sudah tak ingat apa-apa lagi. Semua terkonsentrasi pada pekerjaan menjilati titit Bu Soni. Emmmm....Enak sekali. Terus kujilati dengan penuh napsu. Pinggir ke tengah dan gerakan melingkar. Kumasukan lidahku ke dalam celah bibir vaginanya yang sudah mulai membuka. Ouw! Hangat sekali dan cairannya mulai keluar dan terasa agak asin dan baunya yang khas mulai menyengat ke dalam lubang hidungku. Tapi aku tak peduli, yang penting rasa vagina Bu Soni semakin lezat apalagi dibumbui dengan cairan yang keluar semakin banyak. Kuoleskan ke seluruh permukaan tititnya dengan lidahku. Jilatanku semakin licin dan seolah-olah semua makanan yang ku makan pada saat acara arisan tadi rasanya tidak ada apa-apanya. Badan Bu Soni bergerinjal semakin hebat begitu juga pantatnya naik-turun dengan drastis. Dia mengerang lirih, "Aaaaa.......ah, eeeee...eekh, eeee...eekh, Jeee.....eeeng, auw, oooo....ooooh. Emmmmm....mmmh. Hah, hah, hah,.....hah." Dan saat mencapai klimaks dia merintih, "Aaaaaa....... aaaaaa....... aaaaa.....aaaaa....aaaaah." Cairan vaginanya keluar agak banyak dan deras. OK, nampaknya Bu Soni sudah mencapai titik puncaknya. Tampak Bu Soni terlentang lemas dan 'ku tanya, "Bagaimana? Enak? Ada rasa puas?" "Lumayan enak, Jeng. Situ nggak jijik, ya." "'Kan sudah biasa juga sama suami." Kemudian aku bertanya sembari bercanda, "Situ mau coba punya saya juga?" "Ah, Jeng ini. Jijik 'kan.", sembari ketawa. "Yaaa....mungkin belon dicoba. Punya saya selalu bersih, kok. 'Kan suami saya selalu mengingatkan saya untuk memeliharanya." Kemudian Bu Soni agak berpikir, mungkin ragu-ragu antara mau atau tidak. Lalu, "Boleh, deh, Jeng.
Tapi saya pelan-pelan aja, ah. Nggak berani lama-lama." "Ya, ndak apa-apa. 'Kan katanya situ belum biasa. Betul? Mau coba?" tantangku sembari senyum. Lalu dia cuma mengangguk. Kemudian aku menelentangkan badanku dan langsung 'ku kangkangkan kedua kakiku agar terlihat tititku yang masih OK punya. Tampak Bu Soni mulai mendekatkan wajahnya ke vaginaku lalu berkata, "Wah, Jeng bulu-bulunya lurus, lemes dan teratur. Pantes suaminya selalu bergairah." Aku hanya tertawa. 'Tak lama kemudian 'ku rasakan sesuatu yang agak basah menyentuh tititku. Kepalaku 'ku angkat dan terlihat Bu Soni mulai berani menyentuh-nyentuhkan ujung lidahnya ke memekku. Kuberi dia semangat, "Terus, terus, Bu. Saya merasa enak, kok." Dia hanya memandangku dan tersenyum. Kurebahkan lagi seluruh tubuhku dan kurasakan semakin luas penampang lidah Bu Soni menjilati titit saya. Oh! Aku mulai terangsang. Emmm.....mmh. Bu Soni sudah mulai berani. Oooooo.....oooh nikmat sekali. Sedaaa...aap. Terasa semakin lincah gerakan lidahnya, 'ku angkat kepalaku dan kulihat Bu Soni sudah mulai tenggelam dalam kenikmatan, rupanya rasa jijik sudah mulai sirna. Gerakan lidahnya masih terasa kaku, tetapi ini sudah merupakan perkembangan. Syukurlah. Mudah-mudahan dia bisa bercumbu lebih hebat dengan suaminya nanti. Lama-kelamaan semakin enak. Aku merintih nikmat, "Emmmm....mmmh. Ouw. Aaaaa....aaaah, aaaaa......aaaah. Uuuuu......uuuuh. Te.....te....rus. Teruuuu.....uuus." Bibir memekku terasa dikulum oleh bibir mulut Bu Soni. Terasa dia menciumi tititku dengan napsu. Emmm.....mmmh, enaknya. Untuk lebih enak Bu Soni kusuruh, "Pegang dan elus-elus paha saya. Enak sekali Bu." Dengan spontan kedua tangannya langsung mengayunkan elusannya di pahaku. Dia mainkan sampai pangkal paha. Bukan main! Sudah sama layaknya aku main dengan suamiku sendiri. Terlihat Bu Soni sudah betul-betul asyik dan sibuk menjilati memekku. Gerakan ke atas-ke bawah melingkar keseluruh vaginaku.
Seolah-olah dia sudah mulai terlatih. Kemudian 'ku suruh dia untuk menyisipkan lidahnya ke dalam memekku. Dahinya agak berkerut tetapi dicobanya juga dengan menekan lidahnya ke lubang di antara bibir memek saya. Aaaaa.....aaakh! Nikmat sekali. Aku mulai naik untuk mencapai klimaks. Kedua tangannya terus mengelus kedua pahaku tanpa henti. Aku mulai naik dan terasa lubang tititku semakin hangat, mungkin lendir memekku sudah banyak yang keluar. Akhirnya aku pun mencapai klimaks dan aku merintih, "Aaaaaa.......aaaaah, uuuuuuh". Sialan Bu Soni tampaknya masih asik menjilati sedangkan badanku sudah mulai lemas dan lelah. Bu Soni pun bertanya karena gerak kaki dan badanku berhenti, "Gimana, Jeng?" Aku berkata lirih sambil senyum kepadanya, "Jempolan. Sekarang Bu Soni sudah mulai pinter." Dia hanya tersenyum. 'Ku tanya kembali, "Bagaimana? Situ masih jijik nggak?" "Sedikit, kok.", jawabnya sembari tertawa, dan akupun ikut tertawa geli. "Begitulah Bu Soni. Mudah-mudahan bisa dilanjutkan lebih mesra lagi dengan suaminya, tetapi jangan bilang, lho, dari saya." "Ooo..., ya, ndak, toh, Jeng. Saya 'kan juga malu. Nanti semua orang tahu bagaimana?" "Sekarang yang penting berusaha agar putrinya bisa punya adik. Kasihan, lho, mungkin sejak dulu dia mengharapkan seorang adik." "Ya, mudah-mudahan lah, Jeng. Rejeki akan segera datang. Eh! Ngomong-ngomong, Jeng mau nggak kalo' kapan-kapan kita bersama kayak tadi lagi?" "Naaaa........., ya, sudah mulai ketagihan, deh. Yaaaaa, itu terserah situ saja. Tapi saya nggak tanggung jawab, lho, kalo' situ lantas bisa jadi lesbian juga. Saya 'kan cuma kasih contoh aja.", jawabku sembari mengangkat bahu dan Bu Soni hanya tersenyum. Kemudian aku cepat-cepat berpakaian karena ingin segera sampai di rumah, khawatir suamiku curiga dan berprasangka yang tidak-tidak. Waktu aku pamit, Bu Soni masih dalam keadaan telanjang bulat berdiri di depan kaca menyisir rambut. Syukur kejadian ini tak pernah sampai terbuka sampai aku tulis cerita yang aneh dan lucu ini. Soal bagaimana kemesraan Bu Soni dan suaminya selanjutnya, itu bukan urusan saya tetapi yang penting kelezatan titit Bu Soni sudah pernah aku rasakan. Dari kawasan perumahan di pinggiran kota.
Tamat
Lihat Koleksi Bugil Lengkap..
Saya tinggal di situ baru sekitar 6 bulanan. Karena daerah perumahan tersebut masih baru maka jumlah keluarga yang menempati rumah di situ masih relatif sedikit tetapi khusus untuk blok daerah rumah saya sudah lumayan banyak dan ramai. Rata-rata keluarga kecil seperti keluarga saya juga yaitu yang sudah masuk generasi Keluarga Berencana, rata-rata hanya mempunyai dua anak tetapi ada juga yang hanya satu anak saja. Sudah seperti biasanya bila kita menempati daerah perumahan baru, saya dengan sengaja berusaha untuk banyak bergaul dengan para tetangga bahkan juga dengan tetangga-tetangga di blok yang lain.
Dari hasil bergaul tersebut timbul kesepakatan di antara ibu-ibu di blok daerah rumahku untuk mengadakan arisan sekali dalam sebulan dan diadakan bergiliran di setiap rumah pesertanya. Suatu ketika sedang berlangsung acara arisan tersebut di sebuah rumah yang berada di deretan depan rumahku, pemilik rumah tersebut biasa dipanggil Bu Soni (bukan nama sebenarnya) dan sudah lebih dulu satu tahun tinggal di daerah perumahan ini daripada saya. Bu Soni bisa dibilang ramah, banyak ngomongnya dan senang bercanda dan sampai saat tulisan ini aku buat dia baru mempunyai satu anak, perempuan, berusia 8 tahun walaupun usia rumah tangganya sudah 10 tahun sedangkan aku sudah 20 tahun. Aku menikah ketika masih berusia 22 tahun. Suaminya bekerja di sebuah perusahaan swasta dan kehidupannya juga bisa dibilang kecukupan. Setelah acara arisan selesai saya masih tetap asyik ngobrol dengan Bu Soni karena tertarik dengan keramahan dan banyak omongnya itu sekalipun ibu-ibu yang lain sudah pulang semua.
Dia kemudian bertanya tentang keluargaku, "Jeng Mar. Putra-putranya itu sudah umur berapa, sih, kok sudah dewasa-dewasa, ya?" (Jeng Mar adalah nama panggilanku tetapi bukan sebenarnya) tanya Bu Soni kepadaku. "Kalau yang pertama 18 tahun dan yang paling ragil itu 14 tahun. Cuma yaitu Bu, nakalnya wah, wah, waaaaaaa.....aaah bener-bener, deh. Saya, tuh, suka capek marahinnya." "Lho, ya, namanya juga anak laki-laki. Ya, biasa lah Jeng." "Lebih enak situ, ya. Anak cuma satu dan perempuan lagi. Nggak bengal." "Ah, siapa bilang Jeng Mar. Sama kok. Cuma yaitu, saya dari dulu, ya, cuma satu aja. Sebetulnya saya ingin punya satu lagi, deh. Ya, seperti situ." "Lho, mbok ya bilang aja sama suaminya. Eeee...siapa tahu ada rejeki, si putri tunggalnya itu bisa punya adik. Situ juga sama suaminya 'kan masih sama-sama muda." "Ya, itulah Jeng. Papanya itu lho, suka susah. Dulu, ya, waktu kami mau mulai berumah tangga sepakat untuk punya dua aja. Ya, itung-itung mengikuti program pemerintah, toh, Jeng. Tapi enggak tau' lah papanya tuh. Kayaknya sekarang malah tambah asik aja sama kerjaannya. Terlalu sering capek." "O, itu toh. Ya, mbok dikasih tau aja kalau sewaktu-waktu punya perhatian sama keluarga. 'Kan yang namanya kerja itu juga butuh istirahat. Mbok dirayu lah gitu." "Wah, sudah dari dulu Jeng. Tapi, ya, tetep susah aja, tuh. Sebenernya ini, lho, Jeng Mar. Eh, maaf, ya, Jeng kalo' saya omongin. Tapi Jeng Mar tentunya juga tau donk masalah suami-istri 'kan." "Ya, memang. Ya, orang-orang yang sudah seperti kita ini masalahnya sudah macem-macem, toh, Bu. Sebenarnya Bu Soni ini ada masalah apa, toh?" "Ya, begini Jeng, suami saya itu kalo' bergaul sama saya suka cepet-cepet mau rampung aja, lho. Padahal yang namanya istri seperti kita-kita ini 'kan juga ingin membutuhkan kenikmatan yang lebih lama, toh, Jeng." "O, itu, toh. Mungkin situ kurang lama merayunya. Mungkin suaminya butuh variasi atau model yang agak macem-macem, gitu." "Ya, seperti apa ya, Jeng. Dia itu kalo' lagi mau, yang langsung aja. Saya seringnya nggak dirangsang apa-apa. Kalo' Jeng Mar, gimana, toh? Eh, maaf lho, Jeng." "Kalo' saya dan suami saya itu saling rayu-merayu dulu. Kalo' suami saya yang mulai duluan, ya, dia biasanya ngajak bercanda dulu dan akhirnya menjurus yang ke porno-porno gitulah. Sama seperti saya juga kalo' misalnya saya yang mau duluan." "Terus apa cuma gitu aja, Jeng." "O, ya tidak. Kalo' saya yang merayu, biasanya punya suami saya itu saya pegang-pegang. Ukurannya besar dan panjang, lho. Terus untuk lebih menggairahkannya, ya, punyanya itu saya enyot dengan mulut saya. Saya isep-isep." "Iiiii....iiih. Jeng Mar, ih. Apa nggak jijik, tuh? Saya aja membayangkannya juga udah geli. Hiiiii............." "Ya, dulu waktu pertama kali, ya, jijik juga, sih. Tetapi suami saya itu selalu rajin, kok, membersihkan gituannya, jadi ya lama-lama buat saya enak juga. Soalnya ukurannya itu, sih, yang lumayan besar. Saya sendiri suka gampang terangsang kalo' lagi ngeliat. Mungkin situ juga kalo' ngeliat, wah pasti kepengen, deh." "Ih, saya belon pernah, tuh, Jeng. Lalu kalo' suaminya duluan yang mulai begimana?" "Saya ditelanjangi sampai polos sama sekali. Dia paling suka merema-remas payudara saya dan juga menjilati putingnya dan kadang lagaknya seperti bayi yang sedang mengenyot susu." , kataku sambil ketawa dan tampak Bu Soni juga tertawa. "Abis itu badan saya dijilati dan dia juga paling suka menjilati kepunyaan saya. Rasanya buat saya, ya, enak juga dan biasanya saya semakin terangsang untuk begituan.
Dia juga pernah bilang sama saya kalo' punya saya itu semakin enak dan saya disuruh meliara baik-baik." "Ah, tapi untuk yang begituan itu saya dan suami saya sama sekali belum pernah, lho, Jeng. Tapi mungkin ada baiknya untuk dicoba juga, ya, Jeng. Tapi tadi itu masalah yang situ dijilatin punyanya. Rasa enaknya seperti apa, sih, Jeng." "Wah, Bu Soni ini, kok, seperti kurang pergaulan aja, toh." "Lho, terus terang Jeng. Memang saya belon pernah, kok." "Ya, geli-geli begitulah. Susah juga untuk dijelasin kalo' belum pernah merasakan sendiri." Lalu kami berdua tertawa. Setelah berhenti tertawa, aku bertanya, "Bu Soni mau tau rasanya kalau gituannya dijilati?" "Yah, nanti saya rayu, deh, suami saya. Mungkin enak juga ya." Ucapnya sambil tersenyum. "Apa perlu saya dulu yang coba?", tanyaku sambil bercanda dan tersenyum. "Hush!! Jeng Mar ini ada-ada aja, ah", sambil tertawa. "Ya, biar tidak kaget ketika dengan suaminya nanti. Kita 'kan juga sama-sama wanita." "Wah, kayak lesbian aja. Nanti saya jadi ketagihan, lho. Malah takutnya lebih senang sama situ daripada sama suami saya sendiri. Ih! Malu' akh.", sambil tertawa. "Atau kalo' nggak mau gitu, nanti saya kasih tau gimana membuat penampilan bulu gituannya biar suaminya situ tertarik. Kadang-kadang bentuk dan penataannya juga mempengaruhi rangsangan suami, lho, Bu Soni." "Ah, Jeng ini." "Ee! Betul, lho. Mungkin bentuk bulul-bulu gituannya Bu Soni penampilannya kurang merangsang. Kalo' boleh saya lihat sebentar gimana?" "Wah, ya, gimana ya. Tapiiiii.......ya boleh, deh. Eh, tapi saya juga boleh liat donk punyanya situ. Sama-sama donk, 'kan kata Jeng tadi kita ini sama-sama wanita." "Ya, 'kan saya cuma mau bantu situ supaya bisa usaha untuk punya anak lagi." "Kalo' gitu kita ke kamar aja, deh. Suami saya juga biasanya pulang malam. Yuk, Jeng." Langsung kita berdua ke kamar Bu Soni. Kamarnya cukup tertata rapi, tempat tidurnya cukup besar dan dengan kasur busa.
Di dindingnya ada tergantung beberapa foto Bu Soni dan suaminya dan ada juga foto sekeluarga dengan anaknya yang masih semata wayang. Saya kemudian ke luar sebentar untuk telepon ke rumah kalau pulangnya agak telat karena ada urusan dengan perkumpulan ibu-ibu dan kebetulan yang menerima suamiku sendiri dan ternyata dia setuju saja. Setelah kita berdua di kamar, Bu Soni bertanya kepadaku, "Bagaimana Jeng? Kira-kira siap?" "Ayolah. Apa sebaiknya kita langsung telanjang bulat aja?" "OK, deh.", jawab Bu Soni dengan agak tersenyum malu. Akhirnya kita berdua mulai melepas pakaian satu-persatu dan akhirnya polos lah semua. Bulu jembut Bu Soni cukup lebat juga hanya bentuknya keriting dan menyebar, tidak seperti miliku yang lurus dan tertata dengan bentuk segitiga ke arah bawah. Lalu aku menyentuh payudaranya yang agak bulat tetapi tidak terlalu besar, "Lumayan juga, lho, Bu." Lalu Bu Soni pun langsung memegang payudaraku juga sambil berkata, "Sama juga seperti punya Jeng." Aku pun minta ijin untuk mengulum kedua payudaranya dan dia langsung menyanggupi. Kujilati kedua putingnya yang berwarna agak kecoklat-coklatan tetapi lumayan enak juga. Lalu kujilati secara keseluruhan payudaranya. Bu Soni nampak terangsang dan napasnya mulai memburu. "Enak juga, ya, Jeng. Boleh punya Jeng saya coba juga?" "Silakan aja.", ijinku. Lalu Bu Soni pun melakukannya dan tampak sekali kalau dia masih sangat kaku dalam soal sex, jilatan dan kulumannya masih terasa kaku dan kurang begitu merangsang. Tetapi lumayanlah, dengan cara seperti ini aku secara tidak langsung sudah menolong dia untuk bisa mendapatkan anak lagi. Setelah selesai saling menjilati payudara, kami berdua duduk-duduk di atas tempat tidur berkasur busa yang cukup empuk. Aku kemudian memohon Bu Soni untuk melihat vaginanya lebih jelas, "Bu Soni. Boleh nggak saya liat gituannya? Kok bulu-bulunya agak keriting. Tidak seperti milik saya, lurus-lurus dan lembut." Dengan agak malu Bu Soni membolehkan, "Yaaa.....Silahkan aja, deh, Jeng." Aku menyuruh dia, "Rebahin aja badannya trus tolong kangkangin kakinya yang lebar." Begitu dia lakukan semuanya terlihatlah daging vagina yang memerah segar dengan bibirnya yang sudah agak keluar dikelilingi oleh jembut yang cukup lebat dan keriting. Mmmmm....cukup merangsang juga penampilannya. 'Ku dekatkan wajahku ke vaginanya lalu aku katakan kepada Bu Soni bahwa bentuk kemaluannya sudah cukup merangsang hanya saja akan lebih indah pemandangannya bila jembutnya sering disisir agar semakin lurus dan rapi seperti miliku.
Lalu kusentuh-sentuh daging vaginanya dengan tanganku, empuk dan tampak cukup terpelihara baik, bersih dan tidak ada bau apa-apa. Nampak dia agak kegelian ketika sentuhan tanganku mendarat di permukaan tititnya dan dia mengeluh lirih, "Aduh, geli, lho, Jeng." "Apa lagi kalo' dijilat, Bu Soni. Nikmat, deh. Boleh saya coba?" "Aduh, gimana, ya, Jeng. Saya masih jijik, sih." "Makanya dicoba.", kataku sambil kuelus salah satu pahanya. "Mmmmm.....ya, silakan, deh, Jeng. Tapi saya tutup mata aja, ah." Lalu kucium vaginanya sekali, chuph!! "Aaa...aah.", Bu Soni mengerang dan agak mengangkat badannya. Lalu kutanya, "Kenapa? Sakit, ya?" Dia menjawab, "Geli sekali." "Saya teruskan, ya?" Bu Soni pun hanya mengangguk sambil tersenyum. Kuciumi lagi vaginanya berkali-kali dan rasa geli yang dia rasakan membuat kedua kakinya bergerak-gerak tetapi kupegangi kedua pangkal pahanya erat-erat. Badannya bergerinjal-gerinjal, pantatnya naik turun. Uh! Pemandangan yang lucu sekali, aku pun sempat ketawa melihatnya. Saya keluarkan lidah dan saya sentuhkan ujungnya ke bibir tititnya berkali-kali. Oh! Aku semakin terbawa napsu. Kujilati keseluruhan permukaan vaginanya, gerakanku semakin cepat dan ganas. Oh, Bu Soni, vaginamu nikmaaaaa...aaat sekali. Aku sudah tak ingat apa-apa lagi. Semua terkonsentrasi pada pekerjaan menjilati titit Bu Soni. Emmmm....Enak sekali. Terus kujilati dengan penuh napsu. Pinggir ke tengah dan gerakan melingkar. Kumasukan lidahku ke dalam celah bibir vaginanya yang sudah mulai membuka. Ouw! Hangat sekali dan cairannya mulai keluar dan terasa agak asin dan baunya yang khas mulai menyengat ke dalam lubang hidungku. Tapi aku tak peduli, yang penting rasa vagina Bu Soni semakin lezat apalagi dibumbui dengan cairan yang keluar semakin banyak. Kuoleskan ke seluruh permukaan tititnya dengan lidahku. Jilatanku semakin licin dan seolah-olah semua makanan yang ku makan pada saat acara arisan tadi rasanya tidak ada apa-apanya. Badan Bu Soni bergerinjal semakin hebat begitu juga pantatnya naik-turun dengan drastis. Dia mengerang lirih, "Aaaaa.......ah, eeeee...eekh, eeee...eekh, Jeee.....eeeng, auw, oooo....ooooh. Emmmmm....mmmh. Hah, hah, hah,.....hah." Dan saat mencapai klimaks dia merintih, "Aaaaaa....... aaaaaa....... aaaaa.....aaaaa....aaaaah." Cairan vaginanya keluar agak banyak dan deras. OK, nampaknya Bu Soni sudah mencapai titik puncaknya. Tampak Bu Soni terlentang lemas dan 'ku tanya, "Bagaimana? Enak? Ada rasa puas?" "Lumayan enak, Jeng. Situ nggak jijik, ya." "'Kan sudah biasa juga sama suami." Kemudian aku bertanya sembari bercanda, "Situ mau coba punya saya juga?" "Ah, Jeng ini. Jijik 'kan.", sembari ketawa. "Yaaa....mungkin belon dicoba. Punya saya selalu bersih, kok. 'Kan suami saya selalu mengingatkan saya untuk memeliharanya." Kemudian Bu Soni agak berpikir, mungkin ragu-ragu antara mau atau tidak. Lalu, "Boleh, deh, Jeng.
Tapi saya pelan-pelan aja, ah. Nggak berani lama-lama." "Ya, ndak apa-apa. 'Kan katanya situ belum biasa. Betul? Mau coba?" tantangku sembari senyum. Lalu dia cuma mengangguk. Kemudian aku menelentangkan badanku dan langsung 'ku kangkangkan kedua kakiku agar terlihat tititku yang masih OK punya. Tampak Bu Soni mulai mendekatkan wajahnya ke vaginaku lalu berkata, "Wah, Jeng bulu-bulunya lurus, lemes dan teratur. Pantes suaminya selalu bergairah." Aku hanya tertawa. 'Tak lama kemudian 'ku rasakan sesuatu yang agak basah menyentuh tititku. Kepalaku 'ku angkat dan terlihat Bu Soni mulai berani menyentuh-nyentuhkan ujung lidahnya ke memekku. Kuberi dia semangat, "Terus, terus, Bu. Saya merasa enak, kok." Dia hanya memandangku dan tersenyum. Kurebahkan lagi seluruh tubuhku dan kurasakan semakin luas penampang lidah Bu Soni menjilati titit saya. Oh! Aku mulai terangsang. Emmm.....mmh. Bu Soni sudah mulai berani. Oooooo.....oooh nikmat sekali. Sedaaa...aap. Terasa semakin lincah gerakan lidahnya, 'ku angkat kepalaku dan kulihat Bu Soni sudah mulai tenggelam dalam kenikmatan, rupanya rasa jijik sudah mulai sirna. Gerakan lidahnya masih terasa kaku, tetapi ini sudah merupakan perkembangan. Syukurlah. Mudah-mudahan dia bisa bercumbu lebih hebat dengan suaminya nanti. Lama-kelamaan semakin enak. Aku merintih nikmat, "Emmmm....mmmh. Ouw. Aaaaa....aaaah, aaaaa......aaaah. Uuuuu......uuuuh. Te.....te....rus. Teruuuu.....uuus." Bibir memekku terasa dikulum oleh bibir mulut Bu Soni. Terasa dia menciumi tititku dengan napsu. Emmm.....mmmh, enaknya. Untuk lebih enak Bu Soni kusuruh, "Pegang dan elus-elus paha saya. Enak sekali Bu." Dengan spontan kedua tangannya langsung mengayunkan elusannya di pahaku. Dia mainkan sampai pangkal paha. Bukan main! Sudah sama layaknya aku main dengan suamiku sendiri. Terlihat Bu Soni sudah betul-betul asyik dan sibuk menjilati memekku. Gerakan ke atas-ke bawah melingkar keseluruh vaginaku.
Seolah-olah dia sudah mulai terlatih. Kemudian 'ku suruh dia untuk menyisipkan lidahnya ke dalam memekku. Dahinya agak berkerut tetapi dicobanya juga dengan menekan lidahnya ke lubang di antara bibir memek saya. Aaaaa.....aaakh! Nikmat sekali. Aku mulai naik untuk mencapai klimaks. Kedua tangannya terus mengelus kedua pahaku tanpa henti. Aku mulai naik dan terasa lubang tititku semakin hangat, mungkin lendir memekku sudah banyak yang keluar. Akhirnya aku pun mencapai klimaks dan aku merintih, "Aaaaaa.......aaaaah, uuuuuuh". Sialan Bu Soni tampaknya masih asik menjilati sedangkan badanku sudah mulai lemas dan lelah. Bu Soni pun bertanya karena gerak kaki dan badanku berhenti, "Gimana, Jeng?" Aku berkata lirih sambil senyum kepadanya, "Jempolan. Sekarang Bu Soni sudah mulai pinter." Dia hanya tersenyum. 'Ku tanya kembali, "Bagaimana? Situ masih jijik nggak?" "Sedikit, kok.", jawabnya sembari tertawa, dan akupun ikut tertawa geli. "Begitulah Bu Soni. Mudah-mudahan bisa dilanjutkan lebih mesra lagi dengan suaminya, tetapi jangan bilang, lho, dari saya." "Ooo..., ya, ndak, toh, Jeng. Saya 'kan juga malu. Nanti semua orang tahu bagaimana?" "Sekarang yang penting berusaha agar putrinya bisa punya adik. Kasihan, lho, mungkin sejak dulu dia mengharapkan seorang adik." "Ya, mudah-mudahan lah, Jeng. Rejeki akan segera datang. Eh! Ngomong-ngomong, Jeng mau nggak kalo' kapan-kapan kita bersama kayak tadi lagi?" "Naaaa........., ya, sudah mulai ketagihan, deh. Yaaaaa, itu terserah situ saja. Tapi saya nggak tanggung jawab, lho, kalo' situ lantas bisa jadi lesbian juga. Saya 'kan cuma kasih contoh aja.", jawabku sembari mengangkat bahu dan Bu Soni hanya tersenyum. Kemudian aku cepat-cepat berpakaian karena ingin segera sampai di rumah, khawatir suamiku curiga dan berprasangka yang tidak-tidak. Waktu aku pamit, Bu Soni masih dalam keadaan telanjang bulat berdiri di depan kaca menyisir rambut. Syukur kejadian ini tak pernah sampai terbuka sampai aku tulis cerita yang aneh dan lucu ini. Soal bagaimana kemesraan Bu Soni dan suaminya selanjutnya, itu bukan urusan saya tetapi yang penting kelezatan titit Bu Soni sudah pernah aku rasakan. Dari kawasan perumahan di pinggiran kota.
Tamat
Lihat Koleksi Bugil Lengkap..
Diantara Dua Kenikmatan
17.58, Posted by admin, No Comment
Mungkin ada baiknya apabila aku memperkenalkan diriku terlebih dahulu. Namaku Ivy, aku adalah seorang gadis berusia 19 tahun yang tinggal di kota Bandung. Ini adalah untuk pertama kalinya aku menulis artikel, jadi mohon maaf apabila tulisanku disini masih kacau.
Aku akan menceritakan salah satu pengalaman pribadiku yang tidak pernah terlupakan seumur hidupku. Mungkin apabila aku dikatakan lesbi agak kurang tepat, karena selama ini aku masih tertarik dengan pria. Tapi ada satu keanehan dalam sifatku yang terkadang terangsang ketika melihat sesama jenis, apalagi apabila ia memakai baju yang ketat, atau baju yang sedikit transparan.
Aku memiliki seorang kekasih yang berinisial W. Aku menjalin hubungan dengannya sejak bangku SMA. Hubunganku dengannya sebenarnya belum terlalu jauh. Paling jauh kami hanya melakukan petting dengan masih mengenakan pakaian dalam. Tapi dalam hal yang satu ini seringkali aku tidak terpuaskan. Kekasihku selalu 'keluar' sebelum aku sempat mengalami orgasme.
Singkat cerita, aku menjadi bosan dan mulai mencari-cari pelampiasan. Pada awalnya, ketika suatu malam, kekasihku baru saja pulang dari rumahku setelah kami melakukan petting. Dan seperti biasanya, Ia sudah 'keluar' sebelum sempat aku mengalami orgasme. Malam itu aku begitu kesal. Sampai akhirnya ketika aku sedang tidur-tiduran, dan perasaan itu datang kembali. Horny yang amat sangat. Tanpa kusadari, aku memulai berfantasi tentang hubungan seksual bersama seorang pria kekar, yang begitu jantan dan dapat membuatku orgasme sampai berkali-kali.
Tanpa kusadari tanganku mulai meremas-remas buah dadaku sendiri. Aku sangat terangsang saat itu. Aku sendiri sebenarnya tidak menginginkan untuk bermasturbasi, tetapi dorongan itu sangat kuat, aku hanya merasakan sebuah kenikmatan baru. Sambil terus berfantasi, aku mulai membuka baju kaosku sampai aku hanya menggunakan BH dan celana dalam saja (aku mempunyai kebiasaan hanya memakai kaos tanpa celana apabila aku sedang berada di rumah). Aku meremas-remas, mengelus-elus lembut payudaraku, sambil sesekali memainkan puting susuku. Nafasku mulai tak teratur, tangan kananku mulai bergerak ke bawah, menelusuri perutku, lalu berhenti sebentar di daerah pusarku, lalu memainkannya sebentar, lalu kulanjutkan lagi kebawah, mengelus-elus lembut bagian kemaluanku yang masih tertutup celana dalamku yang berwarna putih dan terbuat dari katun itu. Aku merasakan rangsangan yang belum pernah kurasakan sebelumnya sekalipun dengan kekasihku sendiri.
Setelah bermain cukup lama di atas celana dalamku, aku mulai meraba-raba masuk ke dalam celana dalamku. Kuelus lembut rambut-rambut halusku yang selama ini rajin kucukur. Kumainkan klitorisku yang sejak tadi sudah menonjol. Kurasakan kelembaban kemaluanku yang sedari tadi sudah terangsang. Aku menggesek-gesekkan jariku di klitorisku. Sampai tubuhku bergetar tak karuan. Ketika aku mulai memainkan bibir kemaluanku, begitu terkejutnya aku ketika tiba-tiba pintu kamarku dibuka dengan cepat, dan ternyata sahabatku yang berinisial S. Betapa terkejut dan malunya aku saat itu karena pada saat itu aku sedang dalam posisi terlentang di tempat tidur dengan hanya menggunakan celana dalam dan bra yang sudah tersingkap, ditambah posisi tangan kananku yang berada di dalam celana dalamku sendiri. Begitu juga S, ia hanya berdiri kaku dan tak berkata sepatah kata pun.
S adalah seorang gadis bertubuh ideal, sampai kadang-kadang aku iri dengan tubuhnya itu. Pinggulnya yang besar, buah dadanya yang ideal (34B) dengan tinggi tubuh sekitar 160 cm, perut langsing. Cukup membuat iri para gadis yang melihatnya.
Setelah beberapa detik kami saling membisu, akhirnya ia memecahkan suasana dengan senyum nakalnya sambil berkata, "Lagi Ngapain Vy?"
Aku hanya dapat menjawab dengan terbata-bata, "Eng.. ngg.. ngga ngapa-ngapain kok.."
Dia hanya membalas ucapanku dengan tersenyum nakal sambil menghampiri tubuhku yang sedang terlentang dan setengah telanjang. Tanpa berkata apa-apa ia mulai mengelus-elus buah dadaku.
Aku sempat tersentak kaget tapi ia berkata, "Santai aja, tadi belom puas ya?"
Aku pada awalnya masih risih ketika ia memulainya, tapi entah mengapa aku hanya diam saja keenakan menerima elusan-elusannya itu. Ia mulai membuka BH-ku dan mulai mencium lembut kedua buah dadaku. Tidak lama kemudian aku sudah terangsang dibuatnya, nafasku mulai tak teratur.
Setelah beberapa menit ia mencium dan menjilati kedua buah dadaku, ia mulai membuka celana dalamku. Ia mulai menjilati mulai dari ibu jari kakiku, naik terus ke betis, ke paha, sampai pangkal pahaku. Menerima perlakuannya itu aku benar-benar terangsang. Badanku mulai gelisah, bergerak ke kiri-kanan mengimbangi jilatan-jilatannya. Ia berhenti sejenak, lalu ia berdiri dan mulai membuka pakaiannya. Ketika itu pula aku melihat kedua buah dadanya yang putih kencang, dan puting susunya yang berwarna coklat muda. Seketika itu juga tanpa kusadari aku jadi tambah terangsang. Terlebih-lebih ketika ia membuka celana dalamnya. Oh, yang kurasakan pada saat itu darahku berdesir dari jantungku menuju kemaluanku yang membuat kemaluanku terasa berdenyut-denyut dibuatnya.
Setelah selesai membuka seluruh pakaiannya, ia kembali naik ke atas tempat tidurku dan kembali menjilati pangkal pahaku sambil sesekali meremas payudaraku. Lalu ia mulai menjilati bibir kemaluanku yang membuatku seperti tersetrum arus listrik, badanku mulai mengejang kenikmatan. Ia menjilati bibir kemaluanku cukup lama sampai ia akhirnya mulai menjilati klitorisku sambil sesekali menggigit kecil klitorisku yang membuatku berkelonjotan.
Setelah agak lama Ia mulai mencoba memasukkan jarinya ke dalam lubang kewanitaanku yang sudah basah itu. Ia memutar-mutar jari tengahnya di mulut liang kewanitaanku beberapa kali sampai akhirnya ia memasukkan jari tengahnya ke dalam liang kewanitaanku dengan perlahan. Leguhan kenikmatan pun keluar dari bibir tipisku. Ia mulai menggerak-gerakkan jari tengahnya maju-mundur dengan irama yang semakin lama semakin cepat. "Ahh.." suara desahan kenikmatan pun tak kuasa kubendung untuk keluar dari bibirku ini. Semakin dalam ia memasukkan jarinya ke liang kewanitaanku, semakin tak kuasa diriku menahan kenikmatan itu sampai akhirnya seluruh tubuhku seperti dialiri suatu hawa kenikmatan yang berpusat pada vaginaku dan menjalar ke seluruh tubuhku. Jeritan yang tertahan disertai tubuh yang menggelinjang kenikmatan hanya dapat kutahan dengan memagut bibir tipisku sambil mencengkram erat bed cover ranjangku. Sungguh suatu perasaan yang sangat luar biasa. Aku hanya terkulai lemas walaupun dalam hati kecil ini masih mengharapkan untuk yang selanjutnya.
Melihat diriku sudah mencapai orgasme, S pun mulai mengarahkan tanganku ke arah buah dadanya yang putih mulus itu. Aku pun langsung menyambutnya dengan elusan-elusan lembut di sekeliling puting susunya, secara perlahan-lahan kuusap, terus ke arah tengah buah dadanya, sampai akhirnya kuusap lembut kedua puting susunya yang sudah menegang sedari tadi. Kukulum kedua jari telunjukku, kubasahi dengan ludahku, lalu kuteruskan memberikan stimulasi di kedua puting susunya. Leguhan yang keluar dari bibirnya semakin membuatku terangsang untuk memberinya stimulasi yang lebih hebat. Lalu aku pun duduk tepat di depannya dan mulai menjilati daun telinga kirinya sambil tetap kedua tanganku memberikan stimulasi di kedua buah dadanya. Kujilat sambil sesekali kugigit-gigit kecil daun telinganya, sambil terus turun ke arah leher, pundak, lalu ke tengah-tengah antara kedua buah dadanya, lalu menuju ke arah buah dadanya yang sebelah kiri. Kujilat terus sampai menuju puting susunya. Lalu aku berhenti di sana, kujilat, kumainkan lidahku di sana sambil sesekali kuhisap dan kugigit-gigit kecil.
Tubuhnya pun mulai terlihat berkeringat, gerakan-gerakannya semakin gelisah sambil menggigit bibir bawahnya, suara leguhan dan desahan pun tak urung keluar dari bibirnya itu. Setelah itu aku menuju ke arah buah dadanya yang sebelah kanan, kulakukan persis sama seperti ketika kustimulasi buah dadanya yang sebelah kiri. Setelah cukup lama lidahku pun mulai bergerak turun ke arah perutnya yang langsing dan putih mulus, terus ke bawah sampai ke pusarnya. Lalu kujilat-jilat pusarnya yang mengakibatkan tubuhnya semakin berkeringat dan berkelonjotan. Dari pusar aku meneruskan lidahku ke bawah, ke arah kemaluannya. Kujilat lembut rambut-rambut kemaluannya, lalu lidahku kuarahkan ke pangkal pahanya. Kucium-cium lembut pangkal pahanya yang membuatnya kegelian. Kusentuh dengan jariku bibir kemaluannya yang sudah basah oleh cairan pelumas yang dikeluarkan oleh vaginanya akibat rangsangan-rangsangan yang tadi kuberikan. Kugesek-gesekkan jariku di sana. Leguhan yang keluar dari bibirnya pun semakin menjadi-jadi mengimbangi semakin banyaknya pula cairan yang keluar dari kemaluannya.
Setelah agak lama jariku kugesek-gesekkan bibir kemaluannya, dengan suaranya yang mendesah, ia pun memintaku untuk menjilati liang kewanitaannya. Tanpa berpikir panjang, aku pun mulai menjilati bibir kemaluannya walaupun saat itulah untuk pertama kalinya aku menjilat bibir kemaluan seorang wanita. Leguhan dan desah nafasnya semakin memburu. Lalu dengan kedua jariku, kutarik lipatan vaginanya ke atas sampai dapat kulihat klitorisnya yang berwarna pink itu, lalu kujilat-jilat dan kuhisap lembut. Tetesan keringatnya pun semakin membasahi tubuh indahnya itu.
Lalu ia menarik tubuhku dan mengajakku untuk membentuk posisi 69 dengan posisiku yang berada di atas. Terus terang, pada saat menstimulasinya kemaluanku pun sudah sangat basah akibat terangsang hebat, walaupun ini adalah untuk pertama kalinya aku berhubungan dengan sejenis. Sambil menjilati klitorisku ia memasukan jari tengahnya ke dalam liang kemaluanku yang sudah basah itu dan menggerak-gerakkan jarinya maju-mundur. Menerima perlakuan itu membuat diriku pun tidak mau kalah dan terus menstimulasi kemaluannya semakin hebat.
Tak lama kemudian tubuhnya terlihat mengejang menandakan orgasmenya telah tiba. Ia menghentikan kegiatannya menstimulasi kemaluanku dan mendekap pinggulku erat sambil meremas kedua pantatku disertai leguhan panjang nikmat dari bibirnya. Dengan nafas yang masih terengah-engah lalu ia menyuruhku mengganti posisi membentuk posisi menyerupai huruf X, dimana kemaluan kami bertemu di tengah-tengah. Kami pun seakan telah terbiasa dengan posisi tersebut mulai menggerak-gerakkan pinggang kami hingga kemaluan kami saling bergesekan satu sama lain. Sensasi rasa yang ditimbulkannya sangat luar biasa. Nafas kami berdua semakin memburu mengimbangi gesekan-gesekan di kemaluan kami yang semakin lama semakin cepat. Posisi ini kami lakukan sambil ia menjilat-jilat telapak kakiku, lalu ia pun mengisap-isap jari-jari kakiku yang menambah rangsangan di tubuhku.
Setelah sekitar 10 menit kami dalam posisi itu, aku pun berteriak dengan nafas yang terengah-engah dan memberitahukannya bahwa aku sebentar lagi keluar karena aku merasakan kemaluanku seperti berdenyut-denyut. Ia pun membalas dengan menjawab bahwa ia pun sebentar lagi akan keluar dan mengusulkan untuk mengeluarkannya bersama-sama. Dalam hitungan detik tubuh kami menggelinjang secara bersamaan tersengat hawa kenikmatan yang menjalar di tubuh kami berdua sampai akhirnya kami berdua terkulai lemas di atas ranjangku dengan nafas terengah-engah dan ranjang yang membasah terkena keringat kami berdua.
Setelah nafas kami mulai normal, dengan tubuh masih telanjang ia memeluk lembut tubuhku lalu mengecup bibirku dengan lembut, lalu setelah itu ia mengecup keningku sambil berkata, "Vy, kamu hebat! makasih ya.."
Cukup lama kami tiduran sambil berpelukan sampai akhirnya ia memutuskan untuk menelepon rumahnya dan memberitahukan bahwa ia akan menginap di rumahku. Malam itu kami tidur bersama di bawah satu selimut tanpa mengenakan selembar benang pun di tubuh. Sampai sekarang pun ia masih sering menginap di rumahku dan kami pun sering melakukannya dengan berbagai posisi dan variasi. Pernah juga S datang dan membawa sebuah dlido (penis mainan) yang bervibrator sepanjang 20 cm dengan diameter 3 cm dan kami pun sempat bermain-main dengan alat itu. Sekarang ini sudah sekitar 2 minggu kami tidak berkomunikasi lagi. Ia sibuk dengan kegiatannya sendiri dan begitu juga denganku.
Tamat
Lihat Koleksi Bugil Lengkap..
Aku akan menceritakan salah satu pengalaman pribadiku yang tidak pernah terlupakan seumur hidupku. Mungkin apabila aku dikatakan lesbi agak kurang tepat, karena selama ini aku masih tertarik dengan pria. Tapi ada satu keanehan dalam sifatku yang terkadang terangsang ketika melihat sesama jenis, apalagi apabila ia memakai baju yang ketat, atau baju yang sedikit transparan.
Aku memiliki seorang kekasih yang berinisial W. Aku menjalin hubungan dengannya sejak bangku SMA. Hubunganku dengannya sebenarnya belum terlalu jauh. Paling jauh kami hanya melakukan petting dengan masih mengenakan pakaian dalam. Tapi dalam hal yang satu ini seringkali aku tidak terpuaskan. Kekasihku selalu 'keluar' sebelum aku sempat mengalami orgasme.
Singkat cerita, aku menjadi bosan dan mulai mencari-cari pelampiasan. Pada awalnya, ketika suatu malam, kekasihku baru saja pulang dari rumahku setelah kami melakukan petting. Dan seperti biasanya, Ia sudah 'keluar' sebelum sempat aku mengalami orgasme. Malam itu aku begitu kesal. Sampai akhirnya ketika aku sedang tidur-tiduran, dan perasaan itu datang kembali. Horny yang amat sangat. Tanpa kusadari, aku memulai berfantasi tentang hubungan seksual bersama seorang pria kekar, yang begitu jantan dan dapat membuatku orgasme sampai berkali-kali.
Tanpa kusadari tanganku mulai meremas-remas buah dadaku sendiri. Aku sangat terangsang saat itu. Aku sendiri sebenarnya tidak menginginkan untuk bermasturbasi, tetapi dorongan itu sangat kuat, aku hanya merasakan sebuah kenikmatan baru. Sambil terus berfantasi, aku mulai membuka baju kaosku sampai aku hanya menggunakan BH dan celana dalam saja (aku mempunyai kebiasaan hanya memakai kaos tanpa celana apabila aku sedang berada di rumah). Aku meremas-remas, mengelus-elus lembut payudaraku, sambil sesekali memainkan puting susuku. Nafasku mulai tak teratur, tangan kananku mulai bergerak ke bawah, menelusuri perutku, lalu berhenti sebentar di daerah pusarku, lalu memainkannya sebentar, lalu kulanjutkan lagi kebawah, mengelus-elus lembut bagian kemaluanku yang masih tertutup celana dalamku yang berwarna putih dan terbuat dari katun itu. Aku merasakan rangsangan yang belum pernah kurasakan sebelumnya sekalipun dengan kekasihku sendiri.
Setelah bermain cukup lama di atas celana dalamku, aku mulai meraba-raba masuk ke dalam celana dalamku. Kuelus lembut rambut-rambut halusku yang selama ini rajin kucukur. Kumainkan klitorisku yang sejak tadi sudah menonjol. Kurasakan kelembaban kemaluanku yang sedari tadi sudah terangsang. Aku menggesek-gesekkan jariku di klitorisku. Sampai tubuhku bergetar tak karuan. Ketika aku mulai memainkan bibir kemaluanku, begitu terkejutnya aku ketika tiba-tiba pintu kamarku dibuka dengan cepat, dan ternyata sahabatku yang berinisial S. Betapa terkejut dan malunya aku saat itu karena pada saat itu aku sedang dalam posisi terlentang di tempat tidur dengan hanya menggunakan celana dalam dan bra yang sudah tersingkap, ditambah posisi tangan kananku yang berada di dalam celana dalamku sendiri. Begitu juga S, ia hanya berdiri kaku dan tak berkata sepatah kata pun.
S adalah seorang gadis bertubuh ideal, sampai kadang-kadang aku iri dengan tubuhnya itu. Pinggulnya yang besar, buah dadanya yang ideal (34B) dengan tinggi tubuh sekitar 160 cm, perut langsing. Cukup membuat iri para gadis yang melihatnya.
Setelah beberapa detik kami saling membisu, akhirnya ia memecahkan suasana dengan senyum nakalnya sambil berkata, "Lagi Ngapain Vy?"
Aku hanya dapat menjawab dengan terbata-bata, "Eng.. ngg.. ngga ngapa-ngapain kok.."
Dia hanya membalas ucapanku dengan tersenyum nakal sambil menghampiri tubuhku yang sedang terlentang dan setengah telanjang. Tanpa berkata apa-apa ia mulai mengelus-elus buah dadaku.
Aku sempat tersentak kaget tapi ia berkata, "Santai aja, tadi belom puas ya?"
Aku pada awalnya masih risih ketika ia memulainya, tapi entah mengapa aku hanya diam saja keenakan menerima elusan-elusannya itu. Ia mulai membuka BH-ku dan mulai mencium lembut kedua buah dadaku. Tidak lama kemudian aku sudah terangsang dibuatnya, nafasku mulai tak teratur.
Setelah beberapa menit ia mencium dan menjilati kedua buah dadaku, ia mulai membuka celana dalamku. Ia mulai menjilati mulai dari ibu jari kakiku, naik terus ke betis, ke paha, sampai pangkal pahaku. Menerima perlakuannya itu aku benar-benar terangsang. Badanku mulai gelisah, bergerak ke kiri-kanan mengimbangi jilatan-jilatannya. Ia berhenti sejenak, lalu ia berdiri dan mulai membuka pakaiannya. Ketika itu pula aku melihat kedua buah dadanya yang putih kencang, dan puting susunya yang berwarna coklat muda. Seketika itu juga tanpa kusadari aku jadi tambah terangsang. Terlebih-lebih ketika ia membuka celana dalamnya. Oh, yang kurasakan pada saat itu darahku berdesir dari jantungku menuju kemaluanku yang membuat kemaluanku terasa berdenyut-denyut dibuatnya.
Setelah selesai membuka seluruh pakaiannya, ia kembali naik ke atas tempat tidurku dan kembali menjilati pangkal pahaku sambil sesekali meremas payudaraku. Lalu ia mulai menjilati bibir kemaluanku yang membuatku seperti tersetrum arus listrik, badanku mulai mengejang kenikmatan. Ia menjilati bibir kemaluanku cukup lama sampai ia akhirnya mulai menjilati klitorisku sambil sesekali menggigit kecil klitorisku yang membuatku berkelonjotan.
Setelah agak lama Ia mulai mencoba memasukkan jarinya ke dalam lubang kewanitaanku yang sudah basah itu. Ia memutar-mutar jari tengahnya di mulut liang kewanitaanku beberapa kali sampai akhirnya ia memasukkan jari tengahnya ke dalam liang kewanitaanku dengan perlahan. Leguhan kenikmatan pun keluar dari bibir tipisku. Ia mulai menggerak-gerakkan jari tengahnya maju-mundur dengan irama yang semakin lama semakin cepat. "Ahh.." suara desahan kenikmatan pun tak kuasa kubendung untuk keluar dari bibirku ini. Semakin dalam ia memasukkan jarinya ke liang kewanitaanku, semakin tak kuasa diriku menahan kenikmatan itu sampai akhirnya seluruh tubuhku seperti dialiri suatu hawa kenikmatan yang berpusat pada vaginaku dan menjalar ke seluruh tubuhku. Jeritan yang tertahan disertai tubuh yang menggelinjang kenikmatan hanya dapat kutahan dengan memagut bibir tipisku sambil mencengkram erat bed cover ranjangku. Sungguh suatu perasaan yang sangat luar biasa. Aku hanya terkulai lemas walaupun dalam hati kecil ini masih mengharapkan untuk yang selanjutnya.
Melihat diriku sudah mencapai orgasme, S pun mulai mengarahkan tanganku ke arah buah dadanya yang putih mulus itu. Aku pun langsung menyambutnya dengan elusan-elusan lembut di sekeliling puting susunya, secara perlahan-lahan kuusap, terus ke arah tengah buah dadanya, sampai akhirnya kuusap lembut kedua puting susunya yang sudah menegang sedari tadi. Kukulum kedua jari telunjukku, kubasahi dengan ludahku, lalu kuteruskan memberikan stimulasi di kedua puting susunya. Leguhan yang keluar dari bibirnya semakin membuatku terangsang untuk memberinya stimulasi yang lebih hebat. Lalu aku pun duduk tepat di depannya dan mulai menjilati daun telinga kirinya sambil tetap kedua tanganku memberikan stimulasi di kedua buah dadanya. Kujilat sambil sesekali kugigit-gigit kecil daun telinganya, sambil terus turun ke arah leher, pundak, lalu ke tengah-tengah antara kedua buah dadanya, lalu menuju ke arah buah dadanya yang sebelah kiri. Kujilat terus sampai menuju puting susunya. Lalu aku berhenti di sana, kujilat, kumainkan lidahku di sana sambil sesekali kuhisap dan kugigit-gigit kecil.
Tubuhnya pun mulai terlihat berkeringat, gerakan-gerakannya semakin gelisah sambil menggigit bibir bawahnya, suara leguhan dan desahan pun tak urung keluar dari bibirnya itu. Setelah itu aku menuju ke arah buah dadanya yang sebelah kanan, kulakukan persis sama seperti ketika kustimulasi buah dadanya yang sebelah kiri. Setelah cukup lama lidahku pun mulai bergerak turun ke arah perutnya yang langsing dan putih mulus, terus ke bawah sampai ke pusarnya. Lalu kujilat-jilat pusarnya yang mengakibatkan tubuhnya semakin berkeringat dan berkelonjotan. Dari pusar aku meneruskan lidahku ke bawah, ke arah kemaluannya. Kujilat lembut rambut-rambut kemaluannya, lalu lidahku kuarahkan ke pangkal pahanya. Kucium-cium lembut pangkal pahanya yang membuatnya kegelian. Kusentuh dengan jariku bibir kemaluannya yang sudah basah oleh cairan pelumas yang dikeluarkan oleh vaginanya akibat rangsangan-rangsangan yang tadi kuberikan. Kugesek-gesekkan jariku di sana. Leguhan yang keluar dari bibirnya pun semakin menjadi-jadi mengimbangi semakin banyaknya pula cairan yang keluar dari kemaluannya.
Setelah agak lama jariku kugesek-gesekkan bibir kemaluannya, dengan suaranya yang mendesah, ia pun memintaku untuk menjilati liang kewanitaannya. Tanpa berpikir panjang, aku pun mulai menjilati bibir kemaluannya walaupun saat itulah untuk pertama kalinya aku menjilat bibir kemaluan seorang wanita. Leguhan dan desah nafasnya semakin memburu. Lalu dengan kedua jariku, kutarik lipatan vaginanya ke atas sampai dapat kulihat klitorisnya yang berwarna pink itu, lalu kujilat-jilat dan kuhisap lembut. Tetesan keringatnya pun semakin membasahi tubuh indahnya itu.
Lalu ia menarik tubuhku dan mengajakku untuk membentuk posisi 69 dengan posisiku yang berada di atas. Terus terang, pada saat menstimulasinya kemaluanku pun sudah sangat basah akibat terangsang hebat, walaupun ini adalah untuk pertama kalinya aku berhubungan dengan sejenis. Sambil menjilati klitorisku ia memasukan jari tengahnya ke dalam liang kemaluanku yang sudah basah itu dan menggerak-gerakkan jarinya maju-mundur. Menerima perlakuan itu membuat diriku pun tidak mau kalah dan terus menstimulasi kemaluannya semakin hebat.
Tak lama kemudian tubuhnya terlihat mengejang menandakan orgasmenya telah tiba. Ia menghentikan kegiatannya menstimulasi kemaluanku dan mendekap pinggulku erat sambil meremas kedua pantatku disertai leguhan panjang nikmat dari bibirnya. Dengan nafas yang masih terengah-engah lalu ia menyuruhku mengganti posisi membentuk posisi menyerupai huruf X, dimana kemaluan kami bertemu di tengah-tengah. Kami pun seakan telah terbiasa dengan posisi tersebut mulai menggerak-gerakkan pinggang kami hingga kemaluan kami saling bergesekan satu sama lain. Sensasi rasa yang ditimbulkannya sangat luar biasa. Nafas kami berdua semakin memburu mengimbangi gesekan-gesekan di kemaluan kami yang semakin lama semakin cepat. Posisi ini kami lakukan sambil ia menjilat-jilat telapak kakiku, lalu ia pun mengisap-isap jari-jari kakiku yang menambah rangsangan di tubuhku.
Setelah sekitar 10 menit kami dalam posisi itu, aku pun berteriak dengan nafas yang terengah-engah dan memberitahukannya bahwa aku sebentar lagi keluar karena aku merasakan kemaluanku seperti berdenyut-denyut. Ia pun membalas dengan menjawab bahwa ia pun sebentar lagi akan keluar dan mengusulkan untuk mengeluarkannya bersama-sama. Dalam hitungan detik tubuh kami menggelinjang secara bersamaan tersengat hawa kenikmatan yang menjalar di tubuh kami berdua sampai akhirnya kami berdua terkulai lemas di atas ranjangku dengan nafas terengah-engah dan ranjang yang membasah terkena keringat kami berdua.
Setelah nafas kami mulai normal, dengan tubuh masih telanjang ia memeluk lembut tubuhku lalu mengecup bibirku dengan lembut, lalu setelah itu ia mengecup keningku sambil berkata, "Vy, kamu hebat! makasih ya.."
Cukup lama kami tiduran sambil berpelukan sampai akhirnya ia memutuskan untuk menelepon rumahnya dan memberitahukan bahwa ia akan menginap di rumahku. Malam itu kami tidur bersama di bawah satu selimut tanpa mengenakan selembar benang pun di tubuh. Sampai sekarang pun ia masih sering menginap di rumahku dan kami pun sering melakukannya dengan berbagai posisi dan variasi. Pernah juga S datang dan membawa sebuah dlido (penis mainan) yang bervibrator sepanjang 20 cm dengan diameter 3 cm dan kami pun sempat bermain-main dengan alat itu. Sekarang ini sudah sekitar 2 minggu kami tidak berkomunikasi lagi. Ia sibuk dengan kegiatannya sendiri dan begitu juga denganku.
Tamat
Lihat Koleksi Bugil Lengkap..
Sang Pramugari
17.54, Posted by admin, No Comment
Aku adalah mahasiswi disebuah universitas swasta di kota
Awal mula aku mengalami Making Love dengan seorang wanita yang mengubah orientasi seksualku menjadi seorang biseksual, aku mengalami percintaan sesama jenis ketika usiaku 20 tahun dengan seorang wanita berusia 45 tahun, entah mengapa semuanya terjadi begitu saja terjadi mungkin ada dorongan libidoku yang ikut menunjang semua itu dan semua ini telah kuceritakan dalam “Rahasiaku.”
Wanita itu adalah Ibu Kos-ku, ia bernama Tante Maria, suaminya seorang pedagang yang sering keluar kota. Dan akibat dari pengalaman bercinta dengannya aku mendapat pelayanan istimewa dari Ibu Kos-ku, tetapi aku tak ingin menjadi lesbian sejati, sehingga aku sering menolak bila diajak bercinta dengannya, walaupun Tante Maria sering merayuku tetapi aku dapat menolaknya dengan cara yang halus, dengan alasan ada laporan yang harus kukumpulkan besok, atau ada test esok hari sehingga aku harus konsentrasi belajar, semula aku ada niat untuk pindah kos tetapi Tante Maria memohon agar aku tidak pindah kos dengan syarat aku tidak diganggu lagi olehnya, dan ia pun setuju.
Sehingga walaupun aku pernah bercinta dengannya seperti seorang suami istri tetapi aku tak ingin jatuh cinta kepadanya, kadang aku kasihan kepadanya bila ia sangat memerlukanku tetapi aku harus seolah tidak memperdulikannya. Kadang aku heran juga dengan sikapnya ketika suaminya pulang kerumah mereka seakan tidak akur, sehingga mereka berada pada kamar yang terpisah.
Hingga suatu hari ketika aku pulang malam hari setelah menonton bioskop dengan teman priaku, waktu itu jam sudah menunjukkan pukul setengah sebelas malam, karena aku mempunyai kunci sendiri maka aku membuka pintu depan, suasana amat sepi lampu depan sudah padam, kulihat lampu menyala dari balik pintu kamar kos pramugari itu,
“Hmm.. ia sudah datang,” gumamku, aku langsung menuju kamarku yang letaknya bersebelahan dengan kamar pramugari itu. aku bersihkan wajahku dan berganti pakaian dengan baju piyamaku, lalu aku menuju ke pembaringan, tiba-tiba terdengar rintihan-rintihan yang aneh dari kamar sebelah. Aku jadi penasaran karena suara itu sempat membuatku takut, kucoba memberanikan diri untuk mengintip kamar sebelah karena kebetulan ada celah udara antara kamarku dengan kamar pramugari itu, walaupun ditutup triplek aku mencoba untuk melobanginya, kuambil meja agar aku dapat menjangkau lubang udara yang tertutup triplek itu.
Lalu pelan pelan kutusukan gunting tajam agar triplek itu berlobang, betapa terkejutnya aku ketika kulihat pemandangan di kamar sebelahku. Aku melihat Tante Maria menindih seorang wanita yang kelihatan lebih tinggi, berkulit putih, dan berambut panjang, mereka berdua dalam keadaan bugil, lampu kamarnya tidak dipadamkan sehingga aku dapat melihat jelas Tante Maria sedang berciuman bibir dengan wanita itu yang mungkin pramugari itu. Ketika Tante Maria menciumi lehernya, aku dapat melihat wajah pramugari itu, dan ia sangat cantik wajahnya bersih dan mempunyai ciri khas seorang keturunan ningrat. Ternyata pramugari itu juga terkena rayuan Tante Maria, ia memang sangat mahir membuat wanita takluk kepadanya, dengan sangat hati-hati Tante Maria menjilati leher dan turun terus ke bawah. Bibir pramugari itu menganga dan mengeluarkan desahan-desahan birahi yang khas, wajahnya memerah dan matanya tertutup sayu menikmati kebuasan Tante Maria menikmati tubuhnya itu. Tangan Tante Maria mulai memilin puting payudara pramugari itu, sementara bibirnya menggigit kecil puting payudara sebelahnya. Jantungku berdetak sangat kencang sekali menikmati adegan itu, belum pernah aku melihat adegan lesbianisme secara langsung, walaupun aku pernah merasakannya. Dan ini membuat libidiku naik tinggi sekali, aku tak tahan berdiri lama, kakiku gemetaran, lalu aku turun dari meja tempat aku berpijak, walau aku masih ingin menyaksikan adegan mereka berdua.
Dadaku masih bergemuru. Entah mengapa aku juga ingin mengalami seperti yang mereka lakukan. Kupegangi liang vaginaku, dan kuraba klitorisku, seiring erangan-erangan dari kamar sebelah aku bermasturbasi sendiri. Tangan kananku menjentik-jentikan klitorisku dan tangan kiriku memilin-milin payudaraku sendiri, kubayangkan Tante Maria mencumbuiku dan aku membayangkan juga wajah cantik pramugari itu menciumiku, dan tak terasa cairan membasahi tanganku, walaupun aku belum orgasme tapi tiba-tiba semua gelap dan ketika kubuka mataku, matahari pagi sudah bersinar sangat terang.
Aku mandi membersihkan diriku, karena tadi malam aku tidak sempat membersihkan diriku. Aku keluar kamar dan kulihat mereka berdua sedang bercanda di sofa. Ketika aku datang mereka berdua diam seolah kaget dengan kehadiranku. Tante Maria memperkenalkan pramugari itu kepadaku,
“Rus, kenalkan ini pramugari kamar sebelahmu.”
Kusorongkan tangan kepadanya untuk berjabat tangan dan ia membalasnya,
“Hai, cantik namaku Vera, namamu aku sudah tahu dari Ibu Kos, semoga kita dapat menjadi teman yang baik.”
Kulihat sinar matanya sangat agresif kepadaku, wajahnya memang sangat cantik, membuatku terpesona sekaligus iri kepadanya, ia memang sempurna. Aku menjawab dengan antusias juga,
“Hai, Kak, kamu juga cantik sekali, baru pulang tadi malam.”
Dan ia mengangguk kepala saja, aku tak tahu apa lagi yang diceritakan Tante Maria kepadanya tentang diriku, tapi aku tak peduli kami beranjak ke meja makan. Di meja makan sudah tersedia semua masakan yang dihidangkan oleh Tante Maria, kami bertiga makan bersama. Kurasakan ia sering melirikku walaupun aku juga sesekali meliriknya, entah mengapa dadaku bergetar ketika tatapanku beradu dengan tatapannya.
Tiba-tiba Tante Maria memecahkan kesunyian,
“Hari ini Tante harus menjenguk saudara Tante yang sakit, dan bila ada telpon untuk Tante atau dari suami Tante, tolong katakan Tante ke rumah Tante Diana.”
Kami berdua mengangguk tanda mengerti, dan selang beberapa menit kemudian Tante Maria pergi menuju rumah saudaranya. Dan tinggallah aku dan Vera sang pramugari itu, untuk memulai pembicaraan aku mengajukan pertanyaan kepadanya,
“Kak Vera, rupanya sudah kos lama disini.”
Dan Vera pun menjawab, “Yah, belum terlalu lama, baru setahun, tapi aku sering bepergian, asalku sendiri dari kota “Y”, aku kos disini hanya untuk beristirahat bila perusahaan mengharuskan aku untuk menunggu shift disini.”
Aku mengamati gaya bicaranya yang lemah lembut menunjukan ciri khas daerahnya, tubuhnya tinggi semampai. Dari percakapan kami, kutahu ia baru berumur 26 tahun. Tiba-tiba ia menanyakan hubunganku dengan Tante Maria. Aku sempat kaget tetapi kucoba menenangkan diriku bahwa Tante Maria sangat baik kepadaku. Tetapi rasa kagetku tidak berhenti disitu saja, karena Vera mengakui hubungannya dengan Tante Maria sudah merupakan hubungan percintaan.
Aku pura-pura kaget,
“Bagaimana mungkin kakak bercinta dengannya, apakah kakak seorang lesbian,” kataku.
Vera menjawab, “Entahlah, aku tak pernah berhasil dengan beberapa pria, aku sering dikhianati pria, untung aku berusaha kuat, dan ketika kos disini aku dapat merasakan kenyamanan dengan Tante Maria, walaupun Tante Maria bukan yang pertama bagiku, karena aku pertama kali bercinta dengan wanita yaitu dengan seniorku.”
Kini aku baru mengerti rahasianya, tetapi mengapa ia mau membocorkan rahasianya kepadaku aku masih belum mengerti, sehingga aku mencoba bertanya kepadanya,
“Mengapa kakak membocorkan rahasia kakak kepadaku.”
Dan Vera menjawab, “Karena aku mempercayaimu, aku ingin kau lebih dari seorang sahabat.”
Aku sedikit kaget walaupun aku tahu isyarat itu, aku tahu ia ingin tidur denganku, tetapi dengan Vera sangat berbeda karena aku juga ingin tidur dengannya. Aku tertunduk dan berpikir untuk menjawabnya, tetapi tiba-tiba tangan kanannya sudah menyentuh daguku.
Ia tersenyum sangat manis sekali, aku membalas senyumannya. Lalu bibirnya mendekat ke bibirku dan aku menunggu saat bibirnya menyentuhku, begitu bibirnya menyentuh bibirku aku rasakan hangat dan basah, aku membalasnya. Lidahnya menyapu bibirku yang sedkit kering, sementara bibirku juga merasakan hangatnya bibirnya. Lidahnya memasuki rongga mulutku dan kami seperti saling memakan satu sama lain. Sementara aku fokus kepada pagutan bibirku, kurasakan tangannya membuka paksa baju kaosku, bahkan ia merobek baju kaosku. Walau terkejut tapi kubiarkan ia melakukan semuanya, dan aku membalasnya kubuka baju dasternya. Ciuman bibir kami tertahan sebentar karena dasternya yang kubuka harus dibuka melewati wajahnya.
Kulihat Bra hitamnya menopang payudaranya yang lumayan besar, hampir seukuran denganku tetapi payudaranya lebih besar. Ketika ia mendongakkan kepalanya tanpa menunggu, aku cium leher jenjangnya yang sexy, sementara tanggannya melepas bra-ku seraya meremas-remas payudaraku. Aku sangat bernafsu saat itu aku ingin juga merasakan kedua puting payudaranya. Kulucuti Bra hitamnya dan tersembul putingnya merah muda tampak menegang, dengan cepat kukulum putingnya yang segar itu. Kudengar ia melenguh kencang seperti seekor sapi, tapi lenguhan itu sangat indah kudengar. Kunikmati lekuk-lekuk tubuhnya, baru kurasakan saat ini seperti seorang pria, dan aku mulai tak dapat menahan diriku lalu kurebahkan Vera di sofa itu. Kujilati semua bagian tubuhnya, kulepas celana dalamnya dan lidahku mulai memainkan perannya seperti yang diajarkan Tante Maria kepadaku. Entah karena nafsuku yang menggebu sehingga aku tidak jijik untuk menjilati semua bagian analnya. Sementara tubuh Vera menegang dan Vera menjambak rambutku, ia seperti menahan kekuatan dasyat yang melingkupinya.
Ketika sedang asyik kurasakan tubuh Vera, tiba-tiba pintu depan berderit terbuka. Spontan kami berdua mengalihkan pandangan ke kamar tamu, dan Tante Maria sudah berdiri di depan pintu. Aku agak kaget tetapi matanya terbelalak melihat kami berdua berbugil. Dijatuhkannya barang bawaannya dan tanpa basa-basi ia membuka semua baju yang dikenakannya, lalu menghampiri Vera yang terbaring disofa. Diciuminya bibirnya, lalu dijilatinya leher Vera secara membabi buta, dan tanggannya yang satu mencoba meraihku. Aku tahu maksud Tante Maria, kudekatkan wajahku kepadanya, tiba-tiba wajahnya beralih ke wajahku dan bibirnya menciumi bibirku. aku membalasnya, dan Vera mencoba berdiri kurasakan payudaraku dikulum oleh lidah Vera. Aku benar-benar merasakan sensasi yang luar biasa kami bercinta bertiga. Untung waktu itu hujan mulai datang sehingga lingkungan mulai berubah menjadi dingin, dan keadaan mulai temaram. Vera kini melampiaskan nafsunya menjarah dan menikmati tubuhku, sementara aku berciuman dengan Tante Maria. Vera menghisap klitorisku, aku tak tahu perasaan apa pada saat itu. Setelah mulut Tante Maria meluncur ke leherku aku berteriak keras seakan tak peduli ada yang mendengar suaraku. Aku sangat tergetar secara jiwa dan raga oleh kenikmatan sensasi saat itu.
Kini giliranku yang dibaringkan di sofa, dan Vera masih meng-oral klitorisku, sementara Tante Maria memutar-mutarkan lidahnya di payudaraku. Akupun menjilati payudara Tante Maria yang sedikit kusut di makan usia, kurasakan lidah-lidah mereka mulai menuruni tubuhku. Lidah Vera menjelejah pahaku dan lidah Tante Maria mulai menjelajah bagian sensitifku. Pahaku dibuka lebar oleh Vera, sementara Tante Maria mengulangi apa yang telah dilakukan Vera tadi, dan kini Vera berdiri dan kulihat ia menikmati tubuh Tante Maria. Dijilatinya punggung Tante Maria yang menindihku dengan posisi 69, dan Vera menelusuri tubuh Tante Maria. Tetapi kemudian ia menatapku dan dalam keadaan setengah terbuai oleh kenikmatan lidah Tante Maria. Vera menciumi bibirku dan aku membalasnya juga, hingga tak terasa kami berjatuhan dilantai yang dingin. Aku sangat lelah sekali dikeroyok oleh mereka berdua, sehingga aku mulai pasif. Tetapi mereka masih sangat agresif sekali, seperti tidak kehabisan akal Vera mengangkatku dan mendudukan tubuhku di kedua pahanya, aku hanya pasrah. Sementara dari belakang Tante Maria menciumi leherku yang berkeringat, dan Vera dalam posisi berhadapan denganku, ia menikmatiku, menjilati leherku, dan mengulum payudaraku. Sementara tangan mereka berdua menggerayangi seluruh tubuhku, sedangkan tanganku kulingkarkan kebelakang untuk menjangkau rambut Tante Maria yang menciumi tengkuk dan seluruh punggungku.
Entah berapa banyak rintihan dan erangan yang keluar dari mulutku, tetapi seakan mereka makin buas melahap diriku. Akhirnya aku menyerah kalah aku tak kuat lagi menahan segalanya aku jatuh tertidur, tetapi sebelum aku jatuh tertidur kudengar lirih mereka masih saling menghamburkan gairahnya. Saat aku terbangun adalah ketika kudengar dentang bel jam berbunyi dua kali, ternyata sudah jam dua malam hari. Masih kurasakan dinginnya lantai dan hangatnya kedua tubuh wanita yang tertidur disampingku. Aku mencoba untuk duduk, kulihat sekelilingku sangat gelap karena tidak ada yang menyalakan lampu, dan kucoba berdiri untuk menyalakan semua lampu. Kulihat baju berserakan dimana-mana, dan tubuh telanjang dua wanita masih terbuai lemas dan tak berdaya. Kuambilkan selimut untuk mereka berdua dan aku sendiri melanjutkan tidurku di lantai bersama mereka. Kulihat wajah cantik Vera, dan wajah anggun Tante Maria, dan aku peluk mereka berdua hingga sinar matahari datang menyelinap di kamar itu.
Pagi datang dan aku harus kembali pergi kuliah, tetapi ketika mandi seseorang mengetuk pintu kamar mandi dan ketika kubuka ternyata Vera dan Tante Maria. Mereka masuk dan di dalam kamar mandi kami melakukan lagi pesta seks ala lesbi. Kini Vera yang dijadikan pusat eksplotasi, seperti biasanya Tante Maria menggarap dari belakang dan aku menggarap Vera dari depan. Semua dilakukan dalam posisi berdiri. Tubuh Vera yang tinggi semampai membuat aku tak lama-lama untuk berciuman dengannya aku lebih memfokuskan untuk melahap buah dadanya yang besar itu. Sementara tangan Tante Maria membelai-belai daerah sensitif Vera. Dan tanganku menikmati lekuk tubuh Vera yang memang sangat aduhai. Percintaan kami dikamar mandi dilanjutkan di ranjang suami Tante Maria yang memang berukuran besar, sehingga kami bertiga bebas untuk berguling, dan melakukan semua kepuasan yang ingin kami rengkuh. Hingga pada hari itu aku benar-benar membolos masuk kuliah.
Hari-hari berlalu dan kami bertiga melakukan secara berganti-ganti. Ketika Vera belum bertugas aku lebih banyak bercinta dengan Vera, tetapi setelah seminggu Vera kembali bertugas ada ketakutan kehilangan akan dia. Mungkin aku sudah jatuh cinta dengan Vera, dan ia pun merasa begitu. Malam sebelum Vera bertugas aku dan Vera menyewa kamar hotel berbintang dan kami melampiaskan perasaan kami dan benar-benar tanpa nafsu. Aku dan Vera telah menjadi kekasih sesama jenis. Malam itu seperti malam pertama bagiku dan bagi Vera, tanpa ada gangguan dari Tante Maria. Kami bercinta seperti perkelahian macan yang lapar akan kasih sayang, dan setelah malam itu Vera bertugas di perusahaan maskapai penerbangannya ke bangkok.
Entah mengapa kepergiannya ke bandara sempat membuatku menitikan air mata, dan mungkin aku telah menjadi lesbian. Karena Vera membuat hatiku dipenuhi kerinduan akan dirinya, dan aku masih menunggu Vera di kos Tante Maria. Walaupun aku selalu menolak untuk bercinta dengan Tante Maria, tetapi saat pembayaran kos, Tante Maria tak ingin dibayar dengan uang tetapi dengan kehangatan tubuhku di ranjang. Sehingga setiap satu bulan sekali aku melayaninya dengan senang hati walaupun kini aku mulai melirik wanita lainnya, dan untuk pengalamanku selanjutnya kuceritakan dalam kesempatan yang lain.
Tamat
Lihat Koleksi Bugil Lengkap..
Awal mula aku mengalami Making Love dengan seorang wanita yang mengubah orientasi seksualku menjadi seorang biseksual, aku mengalami percintaan sesama jenis ketika usiaku 20 tahun dengan seorang wanita berusia 45 tahun, entah mengapa semuanya terjadi begitu saja terjadi mungkin ada dorongan libidoku yang ikut menunjang semua itu dan semua ini telah kuceritakan dalam “Rahasiaku.”
Wanita itu adalah Ibu Kos-ku, ia bernama Tante Maria, suaminya seorang pedagang yang sering keluar kota. Dan akibat dari pengalaman bercinta dengannya aku mendapat pelayanan istimewa dari Ibu Kos-ku, tetapi aku tak ingin menjadi lesbian sejati, sehingga aku sering menolak bila diajak bercinta dengannya, walaupun Tante Maria sering merayuku tetapi aku dapat menolaknya dengan cara yang halus, dengan alasan ada laporan yang harus kukumpulkan besok, atau ada test esok hari sehingga aku harus konsentrasi belajar, semula aku ada niat untuk pindah kos tetapi Tante Maria memohon agar aku tidak pindah kos dengan syarat aku tidak diganggu lagi olehnya, dan ia pun setuju.
Sehingga walaupun aku pernah bercinta dengannya seperti seorang suami istri tetapi aku tak ingin jatuh cinta kepadanya, kadang aku kasihan kepadanya bila ia sangat memerlukanku tetapi aku harus seolah tidak memperdulikannya. Kadang aku heran juga dengan sikapnya ketika suaminya pulang kerumah mereka seakan tidak akur, sehingga mereka berada pada kamar yang terpisah.
Hingga suatu hari ketika aku pulang malam hari setelah menonton bioskop dengan teman priaku, waktu itu jam sudah menunjukkan pukul setengah sebelas malam, karena aku mempunyai kunci sendiri maka aku membuka pintu depan, suasana amat sepi lampu depan sudah padam, kulihat lampu menyala dari balik pintu kamar kos pramugari itu,
“Hmm.. ia sudah datang,” gumamku, aku langsung menuju kamarku yang letaknya bersebelahan dengan kamar pramugari itu. aku bersihkan wajahku dan berganti pakaian dengan baju piyamaku, lalu aku menuju ke pembaringan, tiba-tiba terdengar rintihan-rintihan yang aneh dari kamar sebelah. Aku jadi penasaran karena suara itu sempat membuatku takut, kucoba memberanikan diri untuk mengintip kamar sebelah karena kebetulan ada celah udara antara kamarku dengan kamar pramugari itu, walaupun ditutup triplek aku mencoba untuk melobanginya, kuambil meja agar aku dapat menjangkau lubang udara yang tertutup triplek itu.
Lalu pelan pelan kutusukan gunting tajam agar triplek itu berlobang, betapa terkejutnya aku ketika kulihat pemandangan di kamar sebelahku. Aku melihat Tante Maria menindih seorang wanita yang kelihatan lebih tinggi, berkulit putih, dan berambut panjang, mereka berdua dalam keadaan bugil, lampu kamarnya tidak dipadamkan sehingga aku dapat melihat jelas Tante Maria sedang berciuman bibir dengan wanita itu yang mungkin pramugari itu. Ketika Tante Maria menciumi lehernya, aku dapat melihat wajah pramugari itu, dan ia sangat cantik wajahnya bersih dan mempunyai ciri khas seorang keturunan ningrat. Ternyata pramugari itu juga terkena rayuan Tante Maria, ia memang sangat mahir membuat wanita takluk kepadanya, dengan sangat hati-hati Tante Maria menjilati leher dan turun terus ke bawah. Bibir pramugari itu menganga dan mengeluarkan desahan-desahan birahi yang khas, wajahnya memerah dan matanya tertutup sayu menikmati kebuasan Tante Maria menikmati tubuhnya itu. Tangan Tante Maria mulai memilin puting payudara pramugari itu, sementara bibirnya menggigit kecil puting payudara sebelahnya. Jantungku berdetak sangat kencang sekali menikmati adegan itu, belum pernah aku melihat adegan lesbianisme secara langsung, walaupun aku pernah merasakannya. Dan ini membuat libidiku naik tinggi sekali, aku tak tahan berdiri lama, kakiku gemetaran, lalu aku turun dari meja tempat aku berpijak, walau aku masih ingin menyaksikan adegan mereka berdua.
Dadaku masih bergemuru. Entah mengapa aku juga ingin mengalami seperti yang mereka lakukan. Kupegangi liang vaginaku, dan kuraba klitorisku, seiring erangan-erangan dari kamar sebelah aku bermasturbasi sendiri. Tangan kananku menjentik-jentikan klitorisku dan tangan kiriku memilin-milin payudaraku sendiri, kubayangkan Tante Maria mencumbuiku dan aku membayangkan juga wajah cantik pramugari itu menciumiku, dan tak terasa cairan membasahi tanganku, walaupun aku belum orgasme tapi tiba-tiba semua gelap dan ketika kubuka mataku, matahari pagi sudah bersinar sangat terang.
Aku mandi membersihkan diriku, karena tadi malam aku tidak sempat membersihkan diriku. Aku keluar kamar dan kulihat mereka berdua sedang bercanda di sofa. Ketika aku datang mereka berdua diam seolah kaget dengan kehadiranku. Tante Maria memperkenalkan pramugari itu kepadaku,
“Rus, kenalkan ini pramugari kamar sebelahmu.”
Kusorongkan tangan kepadanya untuk berjabat tangan dan ia membalasnya,
“Hai, cantik namaku Vera, namamu aku sudah tahu dari Ibu Kos, semoga kita dapat menjadi teman yang baik.”
Kulihat sinar matanya sangat agresif kepadaku, wajahnya memang sangat cantik, membuatku terpesona sekaligus iri kepadanya, ia memang sempurna. Aku menjawab dengan antusias juga,
“Hai, Kak, kamu juga cantik sekali, baru pulang tadi malam.”
Dan ia mengangguk kepala saja, aku tak tahu apa lagi yang diceritakan Tante Maria kepadanya tentang diriku, tapi aku tak peduli kami beranjak ke meja makan. Di meja makan sudah tersedia semua masakan yang dihidangkan oleh Tante Maria, kami bertiga makan bersama. Kurasakan ia sering melirikku walaupun aku juga sesekali meliriknya, entah mengapa dadaku bergetar ketika tatapanku beradu dengan tatapannya.
Tiba-tiba Tante Maria memecahkan kesunyian,
“Hari ini Tante harus menjenguk saudara Tante yang sakit, dan bila ada telpon untuk Tante atau dari suami Tante, tolong katakan Tante ke rumah Tante Diana.”
Kami berdua mengangguk tanda mengerti, dan selang beberapa menit kemudian Tante Maria pergi menuju rumah saudaranya. Dan tinggallah aku dan Vera sang pramugari itu, untuk memulai pembicaraan aku mengajukan pertanyaan kepadanya,
“Kak Vera, rupanya sudah kos lama disini.”
Dan Vera pun menjawab, “Yah, belum terlalu lama, baru setahun, tapi aku sering bepergian, asalku sendiri dari kota “Y”, aku kos disini hanya untuk beristirahat bila perusahaan mengharuskan aku untuk menunggu shift disini.”
Aku mengamati gaya bicaranya yang lemah lembut menunjukan ciri khas daerahnya, tubuhnya tinggi semampai. Dari percakapan kami, kutahu ia baru berumur 26 tahun. Tiba-tiba ia menanyakan hubunganku dengan Tante Maria. Aku sempat kaget tetapi kucoba menenangkan diriku bahwa Tante Maria sangat baik kepadaku. Tetapi rasa kagetku tidak berhenti disitu saja, karena Vera mengakui hubungannya dengan Tante Maria sudah merupakan hubungan percintaan.
Aku pura-pura kaget,
“Bagaimana mungkin kakak bercinta dengannya, apakah kakak seorang lesbian,” kataku.
Vera menjawab, “Entahlah, aku tak pernah berhasil dengan beberapa pria, aku sering dikhianati pria, untung aku berusaha kuat, dan ketika kos disini aku dapat merasakan kenyamanan dengan Tante Maria, walaupun Tante Maria bukan yang pertama bagiku, karena aku pertama kali bercinta dengan wanita yaitu dengan seniorku.”
Kini aku baru mengerti rahasianya, tetapi mengapa ia mau membocorkan rahasianya kepadaku aku masih belum mengerti, sehingga aku mencoba bertanya kepadanya,
“Mengapa kakak membocorkan rahasia kakak kepadaku.”
Dan Vera menjawab, “Karena aku mempercayaimu, aku ingin kau lebih dari seorang sahabat.”
Aku sedikit kaget walaupun aku tahu isyarat itu, aku tahu ia ingin tidur denganku, tetapi dengan Vera sangat berbeda karena aku juga ingin tidur dengannya. Aku tertunduk dan berpikir untuk menjawabnya, tetapi tiba-tiba tangan kanannya sudah menyentuh daguku.
Ia tersenyum sangat manis sekali, aku membalas senyumannya. Lalu bibirnya mendekat ke bibirku dan aku menunggu saat bibirnya menyentuhku, begitu bibirnya menyentuh bibirku aku rasakan hangat dan basah, aku membalasnya. Lidahnya menyapu bibirku yang sedkit kering, sementara bibirku juga merasakan hangatnya bibirnya. Lidahnya memasuki rongga mulutku dan kami seperti saling memakan satu sama lain. Sementara aku fokus kepada pagutan bibirku, kurasakan tangannya membuka paksa baju kaosku, bahkan ia merobek baju kaosku. Walau terkejut tapi kubiarkan ia melakukan semuanya, dan aku membalasnya kubuka baju dasternya. Ciuman bibir kami tertahan sebentar karena dasternya yang kubuka harus dibuka melewati wajahnya.
Kulihat Bra hitamnya menopang payudaranya yang lumayan besar, hampir seukuran denganku tetapi payudaranya lebih besar. Ketika ia mendongakkan kepalanya tanpa menunggu, aku cium leher jenjangnya yang sexy, sementara tanggannya melepas bra-ku seraya meremas-remas payudaraku. Aku sangat bernafsu saat itu aku ingin juga merasakan kedua puting payudaranya. Kulucuti Bra hitamnya dan tersembul putingnya merah muda tampak menegang, dengan cepat kukulum putingnya yang segar itu. Kudengar ia melenguh kencang seperti seekor sapi, tapi lenguhan itu sangat indah kudengar. Kunikmati lekuk-lekuk tubuhnya, baru kurasakan saat ini seperti seorang pria, dan aku mulai tak dapat menahan diriku lalu kurebahkan Vera di sofa itu. Kujilati semua bagian tubuhnya, kulepas celana dalamnya dan lidahku mulai memainkan perannya seperti yang diajarkan Tante Maria kepadaku. Entah karena nafsuku yang menggebu sehingga aku tidak jijik untuk menjilati semua bagian analnya. Sementara tubuh Vera menegang dan Vera menjambak rambutku, ia seperti menahan kekuatan dasyat yang melingkupinya.
Ketika sedang asyik kurasakan tubuh Vera, tiba-tiba pintu depan berderit terbuka. Spontan kami berdua mengalihkan pandangan ke kamar tamu, dan Tante Maria sudah berdiri di depan pintu. Aku agak kaget tetapi matanya terbelalak melihat kami berdua berbugil. Dijatuhkannya barang bawaannya dan tanpa basa-basi ia membuka semua baju yang dikenakannya, lalu menghampiri Vera yang terbaring disofa. Diciuminya bibirnya, lalu dijilatinya leher Vera secara membabi buta, dan tanggannya yang satu mencoba meraihku. Aku tahu maksud Tante Maria, kudekatkan wajahku kepadanya, tiba-tiba wajahnya beralih ke wajahku dan bibirnya menciumi bibirku. aku membalasnya, dan Vera mencoba berdiri kurasakan payudaraku dikulum oleh lidah Vera. Aku benar-benar merasakan sensasi yang luar biasa kami bercinta bertiga. Untung waktu itu hujan mulai datang sehingga lingkungan mulai berubah menjadi dingin, dan keadaan mulai temaram. Vera kini melampiaskan nafsunya menjarah dan menikmati tubuhku, sementara aku berciuman dengan Tante Maria. Vera menghisap klitorisku, aku tak tahu perasaan apa pada saat itu. Setelah mulut Tante Maria meluncur ke leherku aku berteriak keras seakan tak peduli ada yang mendengar suaraku. Aku sangat tergetar secara jiwa dan raga oleh kenikmatan sensasi saat itu.
Kini giliranku yang dibaringkan di sofa, dan Vera masih meng-oral klitorisku, sementara Tante Maria memutar-mutarkan lidahnya di payudaraku. Akupun menjilati payudara Tante Maria yang sedikit kusut di makan usia, kurasakan lidah-lidah mereka mulai menuruni tubuhku. Lidah Vera menjelejah pahaku dan lidah Tante Maria mulai menjelajah bagian sensitifku. Pahaku dibuka lebar oleh Vera, sementara Tante Maria mengulangi apa yang telah dilakukan Vera tadi, dan kini Vera berdiri dan kulihat ia menikmati tubuh Tante Maria. Dijilatinya punggung Tante Maria yang menindihku dengan posisi 69, dan Vera menelusuri tubuh Tante Maria. Tetapi kemudian ia menatapku dan dalam keadaan setengah terbuai oleh kenikmatan lidah Tante Maria. Vera menciumi bibirku dan aku membalasnya juga, hingga tak terasa kami berjatuhan dilantai yang dingin. Aku sangat lelah sekali dikeroyok oleh mereka berdua, sehingga aku mulai pasif. Tetapi mereka masih sangat agresif sekali, seperti tidak kehabisan akal Vera mengangkatku dan mendudukan tubuhku di kedua pahanya, aku hanya pasrah. Sementara dari belakang Tante Maria menciumi leherku yang berkeringat, dan Vera dalam posisi berhadapan denganku, ia menikmatiku, menjilati leherku, dan mengulum payudaraku. Sementara tangan mereka berdua menggerayangi seluruh tubuhku, sedangkan tanganku kulingkarkan kebelakang untuk menjangkau rambut Tante Maria yang menciumi tengkuk dan seluruh punggungku.
Entah berapa banyak rintihan dan erangan yang keluar dari mulutku, tetapi seakan mereka makin buas melahap diriku. Akhirnya aku menyerah kalah aku tak kuat lagi menahan segalanya aku jatuh tertidur, tetapi sebelum aku jatuh tertidur kudengar lirih mereka masih saling menghamburkan gairahnya. Saat aku terbangun adalah ketika kudengar dentang bel jam berbunyi dua kali, ternyata sudah jam dua malam hari. Masih kurasakan dinginnya lantai dan hangatnya kedua tubuh wanita yang tertidur disampingku. Aku mencoba untuk duduk, kulihat sekelilingku sangat gelap karena tidak ada yang menyalakan lampu, dan kucoba berdiri untuk menyalakan semua lampu. Kulihat baju berserakan dimana-mana, dan tubuh telanjang dua wanita masih terbuai lemas dan tak berdaya. Kuambilkan selimut untuk mereka berdua dan aku sendiri melanjutkan tidurku di lantai bersama mereka. Kulihat wajah cantik Vera, dan wajah anggun Tante Maria, dan aku peluk mereka berdua hingga sinar matahari datang menyelinap di kamar itu.
Pagi datang dan aku harus kembali pergi kuliah, tetapi ketika mandi seseorang mengetuk pintu kamar mandi dan ketika kubuka ternyata Vera dan Tante Maria. Mereka masuk dan di dalam kamar mandi kami melakukan lagi pesta seks ala lesbi. Kini Vera yang dijadikan pusat eksplotasi, seperti biasanya Tante Maria menggarap dari belakang dan aku menggarap Vera dari depan. Semua dilakukan dalam posisi berdiri. Tubuh Vera yang tinggi semampai membuat aku tak lama-lama untuk berciuman dengannya aku lebih memfokuskan untuk melahap buah dadanya yang besar itu. Sementara tangan Tante Maria membelai-belai daerah sensitif Vera. Dan tanganku menikmati lekuk tubuh Vera yang memang sangat aduhai. Percintaan kami dikamar mandi dilanjutkan di ranjang suami Tante Maria yang memang berukuran besar, sehingga kami bertiga bebas untuk berguling, dan melakukan semua kepuasan yang ingin kami rengkuh. Hingga pada hari itu aku benar-benar membolos masuk kuliah.
Hari-hari berlalu dan kami bertiga melakukan secara berganti-ganti. Ketika Vera belum bertugas aku lebih banyak bercinta dengan Vera, tetapi setelah seminggu Vera kembali bertugas ada ketakutan kehilangan akan dia. Mungkin aku sudah jatuh cinta dengan Vera, dan ia pun merasa begitu. Malam sebelum Vera bertugas aku dan Vera menyewa kamar hotel berbintang dan kami melampiaskan perasaan kami dan benar-benar tanpa nafsu. Aku dan Vera telah menjadi kekasih sesama jenis. Malam itu seperti malam pertama bagiku dan bagi Vera, tanpa ada gangguan dari Tante Maria. Kami bercinta seperti perkelahian macan yang lapar akan kasih sayang, dan setelah malam itu Vera bertugas di perusahaan maskapai penerbangannya ke bangkok.
Entah mengapa kepergiannya ke bandara sempat membuatku menitikan air mata, dan mungkin aku telah menjadi lesbian. Karena Vera membuat hatiku dipenuhi kerinduan akan dirinya, dan aku masih menunggu Vera di kos Tante Maria. Walaupun aku selalu menolak untuk bercinta dengan Tante Maria, tetapi saat pembayaran kos, Tante Maria tak ingin dibayar dengan uang tetapi dengan kehangatan tubuhku di ranjang. Sehingga setiap satu bulan sekali aku melayaninya dengan senang hati walaupun kini aku mulai melirik wanita lainnya, dan untuk pengalamanku selanjutnya kuceritakan dalam kesempatan yang lain.
Tamat
Lihat Koleksi Bugil Lengkap..
Temanku, Kekasihku, Saudaraku
17.05, Posted by admin, No Comment
Perkenalkan namaku Maya aku punya teman bernama Jenny. Kami sudah berteman sejak SMA kalau dihitung2 sekarang sekitar 15 tahun. Dan kami selalu terbuka dalam segala hal. Persahabatan kami boleh dibilang sangat dekat bahkan kami sudah begitu akrab dengan saudara dan orang tua masing2 sudah seperti saudara selayaknya. Begitupun dengan kedua orang tua kami dan saudara2 kami sangat akrab satu sama lain.
Setelah kami lulus kami tinggal di kota yang berbeda. Dia melanjutkan kuliah sedangkan aku lebih memilih bekerja secara langsung karena kemampuan ekonomi keluarga yang tidak mendukung.
Tapi pekerjaan aku banyak berurusan ke kota tempat tinggal dia sehingga kami kerap ketemu walaupun hanya untuk makan siang dan sekali2 aku menginap di kostnya karena letih menempuh perjalan yang agak jauh dengan sepeda motor ataupun hanya untuk sekedar tidur2 an melapas lelah. Dia sampai memberikan aku kunci cadangan kalau2 dia tidak ada di tempat dan aku mau kesana.
Kerap kalau aku gajian aku membeli sesuatu untuk dia sekedar hadiah atau kadang kami makan ketempat yang agak lumayanlah untuk ukuran anak kost.
Suatu hari ketika aku ke tempat dia aku lihat dia sedang tiduran, berselimut.
"Lho jam segini kok tiduran? Kamu sakit ya?" sambil aku raba keningnya agak panas.
"Kamu sudah makan belum?" Tanya aku lagi
"Ga kepingin masih mual2?
"Kok mual kamu ngidam toh? He..he" aku candain dia sambil aku raba badannya basah semua.
"Baju kamu basah. Ganti dulu gih" sambil aku ambilin baju di almari dia.
Ini pertama kali aku liat dia telanjang di depan aku walaupun kami sudah temanan cukup lama. Memang badannya putih mulus beda sama aku yang kulitnya asia banget. (Kata orang kopi lebih mahal dari gula …tapi ga nyombong bule banyak yang suka boo sering muji katanya badanku seksi dengan payudara yang bisa dibilang lumayan lah…)
Habis itu dia tiduran lagi dan aku selimutin dia.
"Aku keluar dulu beli bubur ayam ya? Kamu minta apa lagi?" dia Cuma senyum dan menggeleng sambil bilang "Hati-hati !!".
aku suapin dia sambil memberikan minum teh hangat. Baru aku makan.
"Kamu hari ini jangan pulang ya, tidur disini saja!" pintanya.
"Ya liat kamu begini ga mungkinlah aku pulang. Tapi aku pinjam baju kamu biar ini besok bisa dipake kerja lagi".
Malam ini tidak seperti biasanya aku tidur disini, aku berbaring di sebelah dia sambil membaca buku dan dia tertidur lebih awal. Biasanya kami ngobrol sampe larut.
Tiba-tiba aku liat dia agak gelisah tidurnya dengan keringat mengalir di kening. Tanpa tersadar aku elus2 kepala dia untuk menenangkan. Dan dia terbangun.
"Kamu kok tidurnya gelisah banget ada apa?" sambil aku ambil tissue dan mengelap keringat dia. Dia hanya memandang aku sebentar kemudian melanjutkan tidurnya. Dan akupun ikut berbaring di sebelahnya. Dan tanganku masing mengelus elus rambutnya.
Aku tidak tau ada suatu perasaan aneh yang blm pernah aku rasakan walaupun kami sudah dekat begitu lama. Tiba2 dia terbangun lagi. Dan secara spontan dia meletakkan kepalanya di dada aku.
Dengan sedikit bingung aku Tanya lagi "Kamu ada apa kok tidurnya begini?"
"Ya pingin aja, biar lebih tenangan kamu ga suka ya"
Aku cuman tersenyum sambil tangan aku yang satunya pegang tangan dia dan yang satunya tetap mengelus2 rambut dia.
Tanpa sadar aku kecup kening dia. Mungkin terbawa suasana. Dia hanya melihat dan tersenyum. Senyum termanis yang pernah aku lihat.
Tiba-tiba dia bilang "Aku sayang banget sama kamu. Kamu gimana?"
Deg….aku agak kaget dan aku jawab "Ya sayang lah".
Tangannya sedikit bergerak mengelus2 payudara aku, aku jadi agak terangsang karena tidak pakai bra. Tapi aku biarkan saja. Lama-lama nafasku agak cepat dan diapun begitu. Lalu aku turun dan mengecup bibirnya.
Tidak aku sangka dia membalas. Kami berpagutan lama sekali saling mempermainkan lidah kami berdua.
Dengan secepat kilat aku ubah posisi agar dia di bawah aku bergerak menciumi lehernya dia terus mendesah. Ssshhhhhhhhh……tanganku yang kiri bergrilya menuju payudaranya untuk meremas-remas sedangkan yang kanan tetap mengelus rambutnya. Lalu aku naik, aku gigit2 kecil kupingnya ku kecup dan kupermainkan lidah disana dia semakin menggelora ougghhhhh….sambil tanganku tetap memilin putingnya. Kecupanku pindah lagi ke lehernya dan kemudian satu persatu aku lepas pakainnya dan juga pakaiannku.
Aku turun lagi menuju ke payudaranya yang kanan sambil aku cium-cium aku tarik2 putingnya dan tanganku yang kiri memilin putingnya sambil sesekali meremas.
Dia mendesah ooouuughhhhhh sayang…..aku suka ini terus…oughhhh aku sayang kamu
Mendengar kata-kata itu aku menjadi lebih bernafsu. Aku ciumi payudaranya bergantian, aku kulum, aku tarik2 seperti bayi netek tangan yang satunya tetap meremas dan dia tambah mengigau kepalakupun makin di tekan ke teteknya. Terusin sayang oughhhhh…..ooooughhhhh shhhhhh…….
Akhirnya tanganku yang kiri aku turunkan dan menjalar ke bawah bermain2 di permukaan V nya. Dia semakin menggelinjang dan aku semakin bernafsu melihat rona mukanya akupun semakin liar menghisap, menarik, meremas dan kadang mempermainkan lidahku di putingnya sambil tanganku yang dibawah meraba area V nya. Ouugghhhhhh sayang……ooughhhh aku ga tahan dan tiba2 dia mendapatkan orgasmenya yang pertama.
Kemudian sasaranku turun. Aku ciumi dari perutrnya kemudian aku permainkan lidah di pusarnya, dia sedikit kegelian sambil tanganku yang satu tetap meremas tetenya.
Aku semakin ke bawah dan sampilah di selangkangannya. Aku ciumin pahanya kiri kanan, terus makin ke bawah ke daerah V nya aku permainkan dengan lidah dia semakin menggeliat, memohon, dan pandangan matanya membuat aku semakin bernafsu melihat dia begitu memohon.
Oooughhhhh sayang masukin jari kamu plssss aku pingin……
Aku masih mempermainkan lidah di sekeliling V nya dan tanganku yang satu mempermainkan tetenya meremas, menarik putingnya kadang aku pilin2. tangan yang satu tetap bermain di permukaan V nya.
Oughhhh sayang….masukin jari kamu dong plsssss!!!
Aku suka sekali melihat dia memohon dan akhirnya aku tidak tega. Aku masukin 2 jari sambil aku permainkan lidah aku di klentitnya. Aku tusuk2 permukaannya pakai lidah sedangkan tanganku bermain di area dalam. Keluar masuk seirama dengan lidah aku.
Dia mengerang, menjerit pantatnya sesekali mengangkat dan kadang bergoyang dengan liarnya.
Kepala aku ditekan dengan ganasnya sampai aku sulit bernafas. Aku gerakkan kepalaku naik turun sambil menusukkan lidah aku di area Vnya dan mengocoknya dengan jari.
Oughhhhhh…aaaaggghhhh sayang jarinya jangan dilepasin, kocok aku pls…aku suka ini….akkkhhhhhh
Pantanya semakin liar naik turun kadang memutar dan tangannya kadang menjambak kadang menekan kepala.
Tiba tiba dia aughhhh sayang…badannya bergetar dan dia orgasme dia menyiram aku dengan cairan kepuasannya.
Ini tidak aku hentikan sekarang aku isap kuat2 semua cairannya dan aku tarik2 kelentitnya. Dia meronta, kadang2 kepalanya mengangkat melihat aksi yang aku lakukan dan tanganya tetap menekan2 kepalaku seolah2 tidak mau dilepaskan.
"Oughhh sayang ini milik kamu semua" dan jariku tetap di dalam bermain2 dan kadang dia menjepit dengan kuatnya. Aku permainkan lagi lidah aku. Aku tusuk dengan sekuatnya bersamaan dengan jari dia merontah oooughhhhh…..
Berikutnya aku meminta dia menungging…
"Sayang kamu nungging ya????"
Dan dia pun menungging dalam keadaan dia begitu aku isap seluruh daerah Vnya dari belakang dan aku sedot cairan kepuasan yang masih tersisa. Kemudian aku permainkan lidah aku dari belakang. Dia menggelinjang dan berteriak oughhhhh sayang….
Kemudian aku masukkan lagi 2 jari dari belakang sambil terus aku ciumi dia jariku dengan kuat menyodoknya dari belakang dia semakin liar pinggulnya, badannya semua bergerak, dan tangaku yang satunya mempermainkan teteknya.
Dia mengigau menjepit sayang….kocok yang dalam ouughhh aku suka
akupun memenuhi keinginannya sambil lidah tetap bermain2 dari belakang. Tiba2 dia meremas bantal dan dia menempelkan wajahnya di bantal dia berusaha menjerit aaaauuugggggggghhhhhhhh……saaaa aa…..yyyaaaangggg aaaaggghhhhhh cairannya keluar banyak sekali sampai meleleh di tanganku. Akhirnya aku masukkan lagi kepala aku keselangkangannya.
Kemudian kami sama2 berbaring kelelahan. Dia tersenyum dan aku cium keningnya.
Kamu suka? Aku Tanya dia. "Iya..tks sayang" dan dia mengecup bibir aku
Akhirnya kamipun tertidur sambil berpelukan.
Besoknya aku bangun pagi2 sekali setelah membersihkan badan aku langsung keluar mencari sarapan untuk kami berdua dan sambil membeli obat penurun panas.
Kami sarapan bersama dan sebelum aku berangkat kerja aku cium keningnya tapi ternyata dia lebih ganas dengan mencium bibirku. Trus dia memberikan senyum "Tks untuk yang semalam". Akupun tersenyum sambil menyuruhnya meminum obat.
Hubungan kami berlanjut begitu lama dan bersukur tanpa pernah ada masalah. Aku kasi dia kebebasan untuk bergaul dan dia juga begitu kami sangat menghargai dan menikmati hubungan ini dan kami tetap keept agar jangan sampai orang lain tahu. Aku menjadi lebih sering tinggal di kostnya secara tidak langsung pekerjaan aku yang bertambah banyak jadi aku pulang kadang 2 atau tiga hari sekali.
Hampir setiap malam kami berekspresi mewujudkan kasih sayang kami.
Pernah suatu hari aku ambil cuti 2 hari yang bertepatan dengan libur dia kuliah. Kami pergi ke tempat yang kami sudah idam2kan sejak SMA karena keindahannya. Kami menyawa hotel.
Aku berendam di kamar mandi tiba-tiba dia datang. Dia menyabuni seluruh badan aku dan yang paling lama dia menyabuni tetekku. Kadang ditekan, kadang di remas membuat aku tidak tahan. Aku tarik dia ke bathtub, kami berciuman sangat lama kemudian aku raba kebawah, dia mulai mendesah…ssshhhhh oughhhh
Aku permainkan permukaan V nya sebelum aku masukkan 2 jari sambil bibir kami tetap berpagutan dan tetek kami beradu membuat sensasi yang berbeda.
Kemudian dia menjerit dan dia orgasme.
Aku begitu bahagia bila melihat dia puas.
Dan kamipun melanjutkan mandi.
Malamnya kami bertempur agak sedikit gila dengan inspirasi yang baru.
Aku senderkan dia ke tembok, aku mencium dia dengan agak ganas karena permintaan dia mau sedikit liar malam ini.
Aku mencium bibirnya, lehernya, kupingnya sambil tete kami tetap beradu dan saling menekan.
Kemudian aku angkat satu kakinya aku masukkan jari kesana aku permainkan maju mundur ternyata rasanya lebih menekan dia menjerit, dan menarik kepala aku sambil mencium dengan lebih ganas
Terkadang dia melepaskan pagutan kami hanya untuk mendesah aooughhhh…oooughhh….
Lalu aku dorong dia ke pinggir tempat tidur sambil kakinya tetap menggelantung
Aku buka pahanya lebar-lebar. Aku masukkan 2 jari kanan ke Vnya dan 1 jari telunjuk ke anusnya sambil aku tusuk dengan lidah area V nya
Dia kaget dan menjerit, tapi aku diamkan jariku sebentar untuk membuat dia rileks sambil terus kucium V nya akhirnya aku gerakkan kedua jariku pelan2
Dia mulai merontah tidak karuan, mendesah oooughhh sayanggg pantatnya naik turun makin lama kocokanku makin cepat bibirku tidak berhenti melumat V nyadia berteriak, mengerang, menekan kepalaku ssshhhhh ouuggghhhh sayang jangan tinggalin aku…oouughhhh
Akhirnya sampai pada suatu titik dia tutup wajahnya dengan bantal dia gigit dan berteriak sambil pantatnya bergoyang naik turun tidak teratur.
Dia orgasme..orgasme paling dalam karena mendapakan serangan dari dua arah.
Aku cium keningnya. Sambil tersenyum. "Kamu suka?" aku Tanya
Dia langsung memeluk aku sambil bilang "I LOVE U"
"I LOVE U TOO ….." sambil aku peluk dia
Setelah dia lulus kuliah dia mendapat pekerjaan di hotel dan aku kebetulan mendapat tugas belajar 1thn keluar daerah. Jadi kami agak jarang bertemu tapi kami tetap melakukan komunikasi via telp. Kadang kalau sama2 pingin kami melakukan Phone Sex dan herannya kami bisa sama2 puas.
Sampai pada suatu saat dia mengatakan bahwa dia mencintai seseorang. Pertama ada rasa takut kehilangan.. sedih…sampai aku tutup telpnya tanpa mengatakan sepatah katapun. Dia telpon berkali2 aku tidak mau menjawab. Fikiranku tidak karuan. Ada rasa marah
Lama aku berfikir tentang hal ini. Aku mencintai dia bukan berati bisa memiliki dalam keadaan begini. Dia berhak memiliki masa depan yang lebih baik dan aku harus support itu.
Kemudian aku telpon dia dan menjelaskan semuanya. Dia sangat bahagia.
Dan aku berjanji kalau pulang nanti mau bertemu mereka berdua.
Saat bertemu ada sedikit rasa cemburu tapi aku berusaha untuk tidak menampakkan itu. Kami hanya bercanda sambil menikmati makan malam.
3 thn mereka pacaran akhirnya mereka menikah juga. Aku sangat bahagia bahkan aku turut sibuk mempersiapkan segala sesuatunya untuk pernikahan mereka. Dan sebagai hadiah aku memberikan mereka voucer hotel utk bulan madu.
6 bln setelah pernikahan mereka suaminya berangkat ke negaranya dia orang binis jadi kadang 2 bulan disini 3 bln di negaranya. Lama2 dia goyah juga menghadapi situasi begini.
Dia sering curhat, sampai masalah sedetilnya.
Suatu hari dia menelpon aku saat itu aku libur. Dia bilang mau curhat dan akupun datang ke tempatnya.
Dia menceritakan permasalahannya melihat mukanya sangat sedih aku reflek memeluknya dan mencium keningnya.
Lama sekali aku memeluknya dan aku merasa sangat rindu memperlakukan dia begini. Hanya ingin memeluknya dan mengecup keningnya.
Dia melarang aku pulang malam itu, katanya sudah kangen tidak pernah tidur bareng. Dan akupun memenuhi permintaannya.
Malamnya kami nonton TV berdua dan dia duduk di sampingku. Tiba2 dia meletakkan kepalanya di pangkuanku. Aku elus2kepalanya rasanya agak canggung tapi aku rindu. Dan dia membimbing tanganku ke teteknya. Dia bilang "Aku kangen seperti dulu"
Tanpa aku sadari aku meremas, aku mencium kupingnya aku lumat kemudian aku kebibirnya lidah akmi beradu dengan ganasnya dan tanganku beralih keperutnya aku elus2
Dia mendesah dan kamipun membuka pakaian aku tatap dia lama aku cium keningnya kemudian matanya bibirnya dan terus sampai dia bilang ouughhhhhhh
Aku permainkan tanganku di bawah kemudian akupun turun menuju ke area V nya
Aku permainkan disana sangat lama aku pagut, aku hisap aku tusukkan lidahku, dan jariku bermain2 di permukaan. Dia merintih…memohon …puasin aku plsss kayak dulu…
Aku naik lagi aku ciumin tetenya, aku remas dengan ganasnya, aku cium, aku tarik, aku sedot dan dia tetap merintih…memohon
Aku turn kembali ke Vnya yang sudah basah aku masukkan 2 jari dan dia mendengus oooughhhhhh……kemudian aku masukkan lidah aku bersamaan dengan jari aku permainkan aku kocok, sambil tangan yang satunya meremas tetenya. Aku kocok makin keras ..makin cepat dan dia semakin liar pantatnya naik turun tanganya menekan aku sodok dia semakin keras. Sampai akhirnya dia menjerit panjang. Sayaaaaaangggg akkkkkk …..u dappp…pat aoughhhh
Aku tidak berhenti, aku mau bikin dia benar2 puas. Bibirku tetap di Vnya tanganku tetap mengocok dan telunjuk kiriku ikut masuk ke anusnya, dia kaget ouuughhhhhhh sayanggggggg…..aku diamkan sesaat sambil tetap mencium Vnya
Kemudian aku kocok bersamaan anus,v dan lidah aku, aku lihat dia makin menggelepar dia menikmati sekali dan aku suka itu.
Matanya memandang sayu terkadang kepalanya diangkat ouughhh terusin…terusin…
Kemudian diapun menjerit dan mengeluarkan cairan yang menyemprot mukaku.
Lama tidak merasakan ini dan kamipun berpelukan.
Saat suaminya datang tidak ada rasa cemburu sedikitpun dihati ini. Aku ikut senang. Terkadang kami jalan bertiga bahkan akhirnya suaminya menjadi salah satu costumer bisnis aku.
Hubungan kami makin erat, dan kami tetap mencintai tetapi cinta yang lain.
Sampai kemudian dia memutuskan untuk ikut suaminya.
Itulah akhir dari cerita aku. Walaupun sudah lama berlalu tetapi aku tetap keep dia di hati as my best friend, as my sister, as my lovely u are the best for me.
Aku senang kamu bahagia.
Dan semoga aku segera menemukan kebahagiaan aku juga.
Tamat
Lihat Koleksi Bugil Lengkap..
Setelah kami lulus kami tinggal di kota yang berbeda. Dia melanjutkan kuliah sedangkan aku lebih memilih bekerja secara langsung karena kemampuan ekonomi keluarga yang tidak mendukung.
Tapi pekerjaan aku banyak berurusan ke kota tempat tinggal dia sehingga kami kerap ketemu walaupun hanya untuk makan siang dan sekali2 aku menginap di kostnya karena letih menempuh perjalan yang agak jauh dengan sepeda motor ataupun hanya untuk sekedar tidur2 an melapas lelah. Dia sampai memberikan aku kunci cadangan kalau2 dia tidak ada di tempat dan aku mau kesana.
Kerap kalau aku gajian aku membeli sesuatu untuk dia sekedar hadiah atau kadang kami makan ketempat yang agak lumayanlah untuk ukuran anak kost.
Suatu hari ketika aku ke tempat dia aku lihat dia sedang tiduran, berselimut.
"Lho jam segini kok tiduran? Kamu sakit ya?" sambil aku raba keningnya agak panas.
"Kamu sudah makan belum?" Tanya aku lagi
"Ga kepingin masih mual2?
"Kok mual kamu ngidam toh? He..he" aku candain dia sambil aku raba badannya basah semua.
"Baju kamu basah. Ganti dulu gih" sambil aku ambilin baju di almari dia.
Ini pertama kali aku liat dia telanjang di depan aku walaupun kami sudah temanan cukup lama. Memang badannya putih mulus beda sama aku yang kulitnya asia banget. (Kata orang kopi lebih mahal dari gula …tapi ga nyombong bule banyak yang suka boo sering muji katanya badanku seksi dengan payudara yang bisa dibilang lumayan lah…)
Habis itu dia tiduran lagi dan aku selimutin dia.
"Aku keluar dulu beli bubur ayam ya? Kamu minta apa lagi?" dia Cuma senyum dan menggeleng sambil bilang "Hati-hati !!".
aku suapin dia sambil memberikan minum teh hangat. Baru aku makan.
"Kamu hari ini jangan pulang ya, tidur disini saja!" pintanya.
"Ya liat kamu begini ga mungkinlah aku pulang. Tapi aku pinjam baju kamu biar ini besok bisa dipake kerja lagi".
Malam ini tidak seperti biasanya aku tidur disini, aku berbaring di sebelah dia sambil membaca buku dan dia tertidur lebih awal. Biasanya kami ngobrol sampe larut.
Tiba-tiba aku liat dia agak gelisah tidurnya dengan keringat mengalir di kening. Tanpa tersadar aku elus2 kepala dia untuk menenangkan. Dan dia terbangun.
"Kamu kok tidurnya gelisah banget ada apa?" sambil aku ambil tissue dan mengelap keringat dia. Dia hanya memandang aku sebentar kemudian melanjutkan tidurnya. Dan akupun ikut berbaring di sebelahnya. Dan tanganku masing mengelus elus rambutnya.
Aku tidak tau ada suatu perasaan aneh yang blm pernah aku rasakan walaupun kami sudah dekat begitu lama. Tiba2 dia terbangun lagi. Dan secara spontan dia meletakkan kepalanya di dada aku.
Dengan sedikit bingung aku Tanya lagi "Kamu ada apa kok tidurnya begini?"
"Ya pingin aja, biar lebih tenangan kamu ga suka ya"
Aku cuman tersenyum sambil tangan aku yang satunya pegang tangan dia dan yang satunya tetap mengelus2 rambut dia.
Tanpa sadar aku kecup kening dia. Mungkin terbawa suasana. Dia hanya melihat dan tersenyum. Senyum termanis yang pernah aku lihat.
Tiba-tiba dia bilang "Aku sayang banget sama kamu. Kamu gimana?"
Deg….aku agak kaget dan aku jawab "Ya sayang lah".
Tangannya sedikit bergerak mengelus2 payudara aku, aku jadi agak terangsang karena tidak pakai bra. Tapi aku biarkan saja. Lama-lama nafasku agak cepat dan diapun begitu. Lalu aku turun dan mengecup bibirnya.
Tidak aku sangka dia membalas. Kami berpagutan lama sekali saling mempermainkan lidah kami berdua.
Dengan secepat kilat aku ubah posisi agar dia di bawah aku bergerak menciumi lehernya dia terus mendesah. Ssshhhhhhhhh……tanganku yang kiri bergrilya menuju payudaranya untuk meremas-remas sedangkan yang kanan tetap mengelus rambutnya. Lalu aku naik, aku gigit2 kecil kupingnya ku kecup dan kupermainkan lidah disana dia semakin menggelora ougghhhhh….sambil tanganku tetap memilin putingnya. Kecupanku pindah lagi ke lehernya dan kemudian satu persatu aku lepas pakainnya dan juga pakaiannku.
Aku turun lagi menuju ke payudaranya yang kanan sambil aku cium-cium aku tarik2 putingnya dan tanganku yang kiri memilin putingnya sambil sesekali meremas.
Dia mendesah ooouuughhhhhh sayang…..aku suka ini terus…oughhhh aku sayang kamu
Mendengar kata-kata itu aku menjadi lebih bernafsu. Aku ciumi payudaranya bergantian, aku kulum, aku tarik2 seperti bayi netek tangan yang satunya tetap meremas dan dia tambah mengigau kepalakupun makin di tekan ke teteknya. Terusin sayang oughhhhh…..ooooughhhhh shhhhhh…….
Akhirnya tanganku yang kiri aku turunkan dan menjalar ke bawah bermain2 di permukaan V nya. Dia semakin menggelinjang dan aku semakin bernafsu melihat rona mukanya akupun semakin liar menghisap, menarik, meremas dan kadang mempermainkan lidahku di putingnya sambil tanganku yang dibawah meraba area V nya. Ouugghhhhhh sayang……ooughhhh aku ga tahan dan tiba2 dia mendapatkan orgasmenya yang pertama.
Kemudian sasaranku turun. Aku ciumi dari perutrnya kemudian aku permainkan lidah di pusarnya, dia sedikit kegelian sambil tanganku yang satu tetap meremas tetenya.
Aku semakin ke bawah dan sampilah di selangkangannya. Aku ciumin pahanya kiri kanan, terus makin ke bawah ke daerah V nya aku permainkan dengan lidah dia semakin menggeliat, memohon, dan pandangan matanya membuat aku semakin bernafsu melihat dia begitu memohon.
Oooughhhhh sayang masukin jari kamu plssss aku pingin……
Aku masih mempermainkan lidah di sekeliling V nya dan tanganku yang satu mempermainkan tetenya meremas, menarik putingnya kadang aku pilin2. tangan yang satu tetap bermain di permukaan V nya.
Oughhhh sayang….masukin jari kamu dong plsssss!!!
Aku suka sekali melihat dia memohon dan akhirnya aku tidak tega. Aku masukin 2 jari sambil aku permainkan lidah aku di klentitnya. Aku tusuk2 permukaannya pakai lidah sedangkan tanganku bermain di area dalam. Keluar masuk seirama dengan lidah aku.
Dia mengerang, menjerit pantatnya sesekali mengangkat dan kadang bergoyang dengan liarnya.
Kepala aku ditekan dengan ganasnya sampai aku sulit bernafas. Aku gerakkan kepalaku naik turun sambil menusukkan lidah aku di area Vnya dan mengocoknya dengan jari.
Oughhhhhh…aaaaggghhhh sayang jarinya jangan dilepasin, kocok aku pls…aku suka ini….akkkhhhhhh
Pantanya semakin liar naik turun kadang memutar dan tangannya kadang menjambak kadang menekan kepala.
Tiba tiba dia aughhhh sayang…badannya bergetar dan dia orgasme dia menyiram aku dengan cairan kepuasannya.
Ini tidak aku hentikan sekarang aku isap kuat2 semua cairannya dan aku tarik2 kelentitnya. Dia meronta, kadang2 kepalanya mengangkat melihat aksi yang aku lakukan dan tanganya tetap menekan2 kepalaku seolah2 tidak mau dilepaskan.
"Oughhh sayang ini milik kamu semua" dan jariku tetap di dalam bermain2 dan kadang dia menjepit dengan kuatnya. Aku permainkan lagi lidah aku. Aku tusuk dengan sekuatnya bersamaan dengan jari dia merontah oooughhhhh…..
Berikutnya aku meminta dia menungging…
"Sayang kamu nungging ya????"
Dan dia pun menungging dalam keadaan dia begitu aku isap seluruh daerah Vnya dari belakang dan aku sedot cairan kepuasan yang masih tersisa. Kemudian aku permainkan lidah aku dari belakang. Dia menggelinjang dan berteriak oughhhhh sayang….
Kemudian aku masukkan lagi 2 jari dari belakang sambil terus aku ciumi dia jariku dengan kuat menyodoknya dari belakang dia semakin liar pinggulnya, badannya semua bergerak, dan tangaku yang satunya mempermainkan teteknya.
Dia mengigau menjepit sayang….kocok yang dalam ouughhh aku suka
akupun memenuhi keinginannya sambil lidah tetap bermain2 dari belakang. Tiba2 dia meremas bantal dan dia menempelkan wajahnya di bantal dia berusaha menjerit aaaauuugggggggghhhhhhhh……saaaa aa…..yyyaaaangggg aaaaggghhhhhh cairannya keluar banyak sekali sampai meleleh di tanganku. Akhirnya aku masukkan lagi kepala aku keselangkangannya.
Kemudian kami sama2 berbaring kelelahan. Dia tersenyum dan aku cium keningnya.
Kamu suka? Aku Tanya dia. "Iya..tks sayang" dan dia mengecup bibir aku
Akhirnya kamipun tertidur sambil berpelukan.
Besoknya aku bangun pagi2 sekali setelah membersihkan badan aku langsung keluar mencari sarapan untuk kami berdua dan sambil membeli obat penurun panas.
Kami sarapan bersama dan sebelum aku berangkat kerja aku cium keningnya tapi ternyata dia lebih ganas dengan mencium bibirku. Trus dia memberikan senyum "Tks untuk yang semalam". Akupun tersenyum sambil menyuruhnya meminum obat.
Hubungan kami berlanjut begitu lama dan bersukur tanpa pernah ada masalah. Aku kasi dia kebebasan untuk bergaul dan dia juga begitu kami sangat menghargai dan menikmati hubungan ini dan kami tetap keept agar jangan sampai orang lain tahu. Aku menjadi lebih sering tinggal di kostnya secara tidak langsung pekerjaan aku yang bertambah banyak jadi aku pulang kadang 2 atau tiga hari sekali.
Hampir setiap malam kami berekspresi mewujudkan kasih sayang kami.
Pernah suatu hari aku ambil cuti 2 hari yang bertepatan dengan libur dia kuliah. Kami pergi ke tempat yang kami sudah idam2kan sejak SMA karena keindahannya. Kami menyawa hotel.
Aku berendam di kamar mandi tiba-tiba dia datang. Dia menyabuni seluruh badan aku dan yang paling lama dia menyabuni tetekku. Kadang ditekan, kadang di remas membuat aku tidak tahan. Aku tarik dia ke bathtub, kami berciuman sangat lama kemudian aku raba kebawah, dia mulai mendesah…ssshhhhh oughhhh
Aku permainkan permukaan V nya sebelum aku masukkan 2 jari sambil bibir kami tetap berpagutan dan tetek kami beradu membuat sensasi yang berbeda.
Kemudian dia menjerit dan dia orgasme.
Aku begitu bahagia bila melihat dia puas.
Dan kamipun melanjutkan mandi.
Malamnya kami bertempur agak sedikit gila dengan inspirasi yang baru.
Aku senderkan dia ke tembok, aku mencium dia dengan agak ganas karena permintaan dia mau sedikit liar malam ini.
Aku mencium bibirnya, lehernya, kupingnya sambil tete kami tetap beradu dan saling menekan.
Kemudian aku angkat satu kakinya aku masukkan jari kesana aku permainkan maju mundur ternyata rasanya lebih menekan dia menjerit, dan menarik kepala aku sambil mencium dengan lebih ganas
Terkadang dia melepaskan pagutan kami hanya untuk mendesah aooughhhh…oooughhh….
Lalu aku dorong dia ke pinggir tempat tidur sambil kakinya tetap menggelantung
Aku buka pahanya lebar-lebar. Aku masukkan 2 jari kanan ke Vnya dan 1 jari telunjuk ke anusnya sambil aku tusuk dengan lidah area V nya
Dia kaget dan menjerit, tapi aku diamkan jariku sebentar untuk membuat dia rileks sambil terus kucium V nya akhirnya aku gerakkan kedua jariku pelan2
Dia mulai merontah tidak karuan, mendesah oooughhh sayanggg pantatnya naik turun makin lama kocokanku makin cepat bibirku tidak berhenti melumat V nyadia berteriak, mengerang, menekan kepalaku ssshhhhh ouuggghhhh sayang jangan tinggalin aku…oouughhhh
Akhirnya sampai pada suatu titik dia tutup wajahnya dengan bantal dia gigit dan berteriak sambil pantatnya bergoyang naik turun tidak teratur.
Dia orgasme..orgasme paling dalam karena mendapakan serangan dari dua arah.
Aku cium keningnya. Sambil tersenyum. "Kamu suka?" aku Tanya
Dia langsung memeluk aku sambil bilang "I LOVE U"
"I LOVE U TOO ….." sambil aku peluk dia
Setelah dia lulus kuliah dia mendapat pekerjaan di hotel dan aku kebetulan mendapat tugas belajar 1thn keluar daerah. Jadi kami agak jarang bertemu tapi kami tetap melakukan komunikasi via telp. Kadang kalau sama2 pingin kami melakukan Phone Sex dan herannya kami bisa sama2 puas.
Sampai pada suatu saat dia mengatakan bahwa dia mencintai seseorang. Pertama ada rasa takut kehilangan.. sedih…sampai aku tutup telpnya tanpa mengatakan sepatah katapun. Dia telpon berkali2 aku tidak mau menjawab. Fikiranku tidak karuan. Ada rasa marah
Lama aku berfikir tentang hal ini. Aku mencintai dia bukan berati bisa memiliki dalam keadaan begini. Dia berhak memiliki masa depan yang lebih baik dan aku harus support itu.
Kemudian aku telpon dia dan menjelaskan semuanya. Dia sangat bahagia.
Dan aku berjanji kalau pulang nanti mau bertemu mereka berdua.
Saat bertemu ada sedikit rasa cemburu tapi aku berusaha untuk tidak menampakkan itu. Kami hanya bercanda sambil menikmati makan malam.
3 thn mereka pacaran akhirnya mereka menikah juga. Aku sangat bahagia bahkan aku turut sibuk mempersiapkan segala sesuatunya untuk pernikahan mereka. Dan sebagai hadiah aku memberikan mereka voucer hotel utk bulan madu.
6 bln setelah pernikahan mereka suaminya berangkat ke negaranya dia orang binis jadi kadang 2 bulan disini 3 bln di negaranya. Lama2 dia goyah juga menghadapi situasi begini.
Dia sering curhat, sampai masalah sedetilnya.
Suatu hari dia menelpon aku saat itu aku libur. Dia bilang mau curhat dan akupun datang ke tempatnya.
Dia menceritakan permasalahannya melihat mukanya sangat sedih aku reflek memeluknya dan mencium keningnya.
Lama sekali aku memeluknya dan aku merasa sangat rindu memperlakukan dia begini. Hanya ingin memeluknya dan mengecup keningnya.
Dia melarang aku pulang malam itu, katanya sudah kangen tidak pernah tidur bareng. Dan akupun memenuhi permintaannya.
Malamnya kami nonton TV berdua dan dia duduk di sampingku. Tiba2 dia meletakkan kepalanya di pangkuanku. Aku elus2kepalanya rasanya agak canggung tapi aku rindu. Dan dia membimbing tanganku ke teteknya. Dia bilang "Aku kangen seperti dulu"
Tanpa aku sadari aku meremas, aku mencium kupingnya aku lumat kemudian aku kebibirnya lidah akmi beradu dengan ganasnya dan tanganku beralih keperutnya aku elus2
Dia mendesah dan kamipun membuka pakaian aku tatap dia lama aku cium keningnya kemudian matanya bibirnya dan terus sampai dia bilang ouughhhhhhh
Aku permainkan tanganku di bawah kemudian akupun turun menuju ke area V nya
Aku permainkan disana sangat lama aku pagut, aku hisap aku tusukkan lidahku, dan jariku bermain2 di permukaan. Dia merintih…memohon …puasin aku plsss kayak dulu…
Aku naik lagi aku ciumin tetenya, aku remas dengan ganasnya, aku cium, aku tarik, aku sedot dan dia tetap merintih…memohon
Aku turn kembali ke Vnya yang sudah basah aku masukkan 2 jari dan dia mendengus oooughhhhhh……kemudian aku masukkan lidah aku bersamaan dengan jari aku permainkan aku kocok, sambil tangan yang satunya meremas tetenya. Aku kocok makin keras ..makin cepat dan dia semakin liar pantatnya naik turun tanganya menekan aku sodok dia semakin keras. Sampai akhirnya dia menjerit panjang. Sayaaaaaangggg akkkkkk …..u dappp…pat aoughhhh
Aku tidak berhenti, aku mau bikin dia benar2 puas. Bibirku tetap di Vnya tanganku tetap mengocok dan telunjuk kiriku ikut masuk ke anusnya, dia kaget ouuughhhhhhh sayanggggggg…..aku diamkan sesaat sambil tetap mencium Vnya
Kemudian aku kocok bersamaan anus,v dan lidah aku, aku lihat dia makin menggelepar dia menikmati sekali dan aku suka itu.
Matanya memandang sayu terkadang kepalanya diangkat ouughhh terusin…terusin…
Kemudian diapun menjerit dan mengeluarkan cairan yang menyemprot mukaku.
Lama tidak merasakan ini dan kamipun berpelukan.
Saat suaminya datang tidak ada rasa cemburu sedikitpun dihati ini. Aku ikut senang. Terkadang kami jalan bertiga bahkan akhirnya suaminya menjadi salah satu costumer bisnis aku.
Hubungan kami makin erat, dan kami tetap mencintai tetapi cinta yang lain.
Sampai kemudian dia memutuskan untuk ikut suaminya.
Itulah akhir dari cerita aku. Walaupun sudah lama berlalu tetapi aku tetap keep dia di hati as my best friend, as my sister, as my lovely u are the best for me.
Aku senang kamu bahagia.
Dan semoga aku segera menemukan kebahagiaan aku juga.
Tamat
Lihat Koleksi Bugil Lengkap..